LAPORAN
PEMBESARAN IKAN LELE
Clarias
sp.
Disusun oleh: Alfi Amalia C14140003
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akuakultur berasal dari bahasa Inggris yaitu aqua (perairan) dan culture
(budidaya). Menurut Hakim RR (2010), akuakultur adalah kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik dalam lingkungan terkontrol dalam rangka meningkatkan profit. Pembudidayaan ikan menurut UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan, dan atau membiakkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol.
Ikan Lele Dumbo adalah jenis ikan hibrida hasil silangan antara Clarias gariepinus dengan C. fuscus dan merupakan ikan introduksi yang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1985. Secara biologis ikan Lele Dumbo memiliki kelebihan dibandingkan dengan jenis lele lainnya. Diantaranya ialah lebih mudah dibudidayakan serta dapat dipijahkan sepanjang tahun. Karena itu, fekunditas telur ikan ini tergolong besar, dan memunyai kecepatan tumbuh dan efisiensi pakan yang tinggi. Selain itu, ikan Lele Dumbo dapat dibudidayakan dalam tingkat kepadatan yang tinggi, dapat mengkonsumsi banyak jenis produk samping agrikultur serta dapat mentolerir kualitas air yang buruk ( Aquarista F et al 2012). Dilihat dari segi kandungan gizi yang terdapat dalam ikan Lele ini memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Protein yang terdapat dalam ikan merupakan protein yang amat penting dan istimewa karena bukan hanya berfungsi sebagai penambah jumlah protein konsumsi tetapi juga sebagai pelengkap mutu protein dalam pola makan. Ikan Lele selain mengandung gizi yang penting seperti protein juga mengandung 11 asam amino esensial. Jika dibandingkan dengan bahan pangan dari daging merah (red meat) seperti daging sapi dan ayam, kandungan gizi dalam ikan Lele lebih sehat karena selain berprotein tinggi juga rendah akan lemak dan kolesterol. Sebagai contoh dalam 100 gram, ikan Lele mempunyai kandungan protein 20% sedangkan kandungan lemaknya hanya 2 gram, jauh lebih rendah dibandingkan daging sapi sebesar 14 gram apalagi daging ayam 25 gram. (Warta Pasar Ikan 2009).
persen. Pada tahun 2010. Produksi ikan Lele meningkat drastis dari 144.755 ton pada tahun 2009 menjadi 242.811 ton pada tahun 2010 atau naik sebesar 67,74%. Adapun provinsi yang menjadi sentra produksi lele di Indonesia antara lain Jawa Barat (Kabupaten Bogor dan Indramayu), Jawa Tengah (Kabupaten Banyumas, Sukoharjo, Boyolali, dan Purbalingga), Jawa Timur (Kabupaten Tulungagung dan Jombang) dan D.I Yogyakarta (Kabupaten Sleman dan Kulonprogo) (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2010 dalam Fauzi S 2011).
Hampir di setiap sisi jalan perkotaan bahkan di pelosok-pelosok dijumpai warung tenda pecel lele. Hidangan pecel lele tersebut digemari banyak konsumen karena murah meriah. Satu porsi lengkap dengan nasi dan lalapan harganya hanya sekitar Rp. 10.000,00. Tidak heran jika bisnis ikan Lele sangat menjanjikan dan perkembangannya begitu cepat. Dengan jumlah penduduk Indonesia berkisar 220 juta jiwa dengan konsumsi ikan perkapita 22 kg/kapita/tahun, berarti peluang yang besar bagi pengembangan budidaya ikan, khususnya ikan Lele. Tren konsumsi ikan murah dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Namun produksi ikan Lele secara nasional belum dapat mencukupi tingginya permintaan pasar. Pasar dalam negeri akan ikan Lele sebagian besar masih digunakan untuk konsumsi sehari-hari (Administrator 2013).
1.2 Tujuan
II. METODOLOGI
2.1 Waktu dan tempat praktikum
Pemeliharaan pembesaran ikan Lele dimulai dari tanggal 23 November 2015 sampai dengan 31 Desember 2015 bertempat di kolam percobaan Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Insitut Pertanian Bogor.
2.2 Alat dan bahan
III. TEKNIK PEMBESARAN IKAN LELE Clarias sp.
3.1 Prasarana dan Sarana Pembesaran Ikan Lele
3.1.1 Prasarana Pembesaran Ikan Lele
3.1.1.1 Penyediaan Air
Sumber air yang digunakan selama pratikum berasal dari air danau LSI. Air danau tersebut dimasukkan menggunakan mesin pompa dan dihubungkan melalui pipa paralon hingga ke kolam percobaan. Kolam percobaan ini disediakan dan dimiliki oleh pihak Departemen Budidaya Perairan IPB. Selanjutnya air dialirkan dan dikeluarkan melalui pipa paralon yang terhubung dengan selokan FPIK.
3.1.2 Sarana Pembesaran Ikan Lele
3.1.2.1 Benih
Benih ikan Lele Dumbo ini berasal dari Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Benih tersebut diangkut dengan transportasi darat menggunakan mobil box. Benih ikan Lele diangkut dalam keadaan hidup. Transportasi dalam keadaan sadar yaitu transportasi ikan dimana ikan dalam keadaan masih bergerak. Metode pengangkutan yang digunakan yaitu metode basah terbuka. Ciri-ciri benih ikan Lele yang baik yaitu pergerakan benih aktif, nafsu makan bagus, sungut dan ekor normal, bentuk tubuhnya proporsional.
3.1.2.2 Pakan
Jenis pakan yang digunakan adalah pakan berupa pelet terapung. Beberapa kelebihan pelet terapung ialah efisiensi penggunaan pakan dapat terlihat, stabilitas di air baik, dan sisa pelet yang tidak dimakan ikan akan terperangkap dalam lumpur (di dasar kolam). Pelet tersebut memiliki merk Hi-Pro Vit 781 yang memiliki kandungan protein 33%, lemak 5%, serat 6,87%, abu 7%, dan kadar air 12% (Ahmadi et al 2012).
3.2 Kegiatan Pembesaran
3.2.1 Persiapan Wadah (Kolam) Pembesaran
mematikan mikroorganisme jahat. Setelah itu, kolam diberi air dengan bantuan pompa hingga ¾ dari tinggi kolam. Kolam yang digunakan merupakan kolam percobaan milik Departemen Budidaya Perairan IPB dengan ukuran 20 x 10 x 1,7 meter.
3.2.2 Pemeliharaan Benih
Sebelum benih dimasukkan ke kolam,pembesaran, terlebih dahulu benih disampling agar dapat diketahui bobot awal dan panjang awal. Pemeliharaan benih dilakukan dengan pemberian pakan secara rutin 3 kali sehari, sampling secara rutin, dan pengontrolan kualitas air. Sampling dilakukan setiap minggu. Sampling bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan ikan Lele dari minggu ke minggu. Saat pemberian pakan, dilakukan juga pengecekan ikan mati. Apabila terdapat ikan mati, ikan tersebut akan diambil menggunakan serok lalu dihitung bobot keseluruhan. Setelah itu, bangkai ikan Lele dibuang. Hal ini bertujuan agar bangkai ikan tidak tertimbun di dasar kolam sehingga kualitas air tidak terpengaruh.
3.2.3 Pengelolahan Pakan
Pakan yang telah dibeli, disimpan di Laboratorium Sistem dan Teknologi BDP. Feeding kind yang digunakan yaitu pelet terapung. Proses pemberian pakan dilakukan feeding frequency sebanyak 3, yaitu pagi, siang, dan malam. Pada pagi hari, ikan diberikan pakan jam 07.00-08.00 WIB. Pada siang hari, ikan diberi pakan pukul 13.00-14.00 WIB, sedangkan pada malam hari biasanya diberi pakan pukul 18.00-19.30 WIB. Metode pemberian pakan dilakukan dengan metode
restrictic (sekenyang-kenyangnya) dengan FR 5-6%. FR (Feeding Rate) yang dimaksud yaitu pemberian pakan sebanyak 5-6% dari proporsi bobot ikan. Pemberian pakan akan diberikan lebih sedikit jika kebanyakan ikan Lele terlihat tidak muncul lagi di permukaan air apabila diberikan pakan. Begitu seterusnya hingga pemberi pakan merasa cukup karena ikan-ikan sudah tidak mau menangkap pakan yang mengapung.
3.2.4 Pengelolaan Kualitas Air
kali pemberian pakan. Selain itu, dilakukan proses sirkulasi air agar adanya keseimbangan antara air masuk dengan air yang harus keluar. Pergantian air dilakukan seminggu sekali.
3.2.5 Manajemen Kesehatan Ikan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Survival Rate
Survival rate (SR) menunjukkan tingkat kelulushidupan ikan. Keberhasilan suatu produksi dapat dilihat dari nilai kelangsungan hidupnya. Kelangsungan hidup suatu populasi merupakan nilai presentase jumlah ikan yang hidup (Nt) dari jumlah yang ditebar (No) dalam suatu wadah selama masa pemeliharaan tertentu. Sehingga SR dapat dihitung menggunakan rumus : Kelangsungan Hidup (KH) = ��
�� x 100% (Effendi 1979 dalam Hidayatulloh S et al
2015).
Tingkat kelangsungan hidup ikan Lele kolam percobaan 4 pada sampling ke-1,2, dan 3 yaitu 100%. Penebaran awal ikan lele setelah pendederan sebanyak 10.523 ekor dan jumlah ikan lele setelah sampling 3 sebanyak 10.523 ekor. Namun, pada sampling ke-4 terdapat ikan mati sebanyak 526 ekor. Sehingga populasi ikan lele menurun menjadi 9.997 ekor dengan tingkat SR 95%.
4.1.2 Pertambahan Bobot
Berikut merupakan grafik pertambahan bobot ikan Lele pada hari ke 10, 20, 30, dan ke 40.
menjadi 10,56 cm. Pada hari ke-30 (sampling ke-4), bobot ikan meningkat tajam menjadi 21,65 cm dan pada hari ke-40 32,76 cm.
4.1.3 Growth Rate
Berikut merupakan grafik pertumbuhan per hari ikan Lele.
Growth rate merupakan laju pertumbuhan harian ikan. Ikan yang dibudidayakan akan mengalami pertumbuhan bobot karena mendapat asupan pakan pelet setiap harinya. Berdasarkan grafik di atas, growth rate pada hari ke-7 sebesar 0,302857143 gram per hari dengan bobot awal 6,51 gram dan bobot akhir 8,63 gram. Pada hari ke-17, bobot ikan meningkat hingga mencapai 10,55513 gram dengan GR sebesar 0,192512821 gram/hari. Pada hari ke-28, GR yang diperoleh sebesar 1,008624709 gram per hari dengan bobot mencapai 21,65 gram. Pada hari ke-35, bobot terus bertambah menjadi 32,76111 gram dengan GR sebesar 1,587301587 gram per hari.
4.1.4 Spesific Growth Rate
Berikut merupakan grafik hasil Spesific Growth Rate (SGR) yang diperoleh pada pratikum pembesaran ikan Lele Dumbo.
Spesific growth rate (SGR) atau tingkat pertumbuhan spesifik merupakan perhitungan kenaikan pertumbuhan pada batas tertentu atau pada periode waktu tertentu. Grafik di atas menunjukkan bahwa pada hari ke-7 SGR yang diperoleh sebesar 4,109406922 % dengan penambahan bobot sebesar 2,12 gram. Pada hari ke-17, SGR yang diperoleh menurun sebesar 2,883571238% dengan pertumbuhan bobot mencapai 10,55513 gram. Pada hari ke-28 dan ke-35, SGR yang diperoleh meningkat kembali dengan kenaikan yang hampir sama yaitu sebesar 4,385087873% dan 4,385087873% dengan bobot terakhir yang dicapai sebesar 32,76111 gram.
4.1.5 Pertambahan Panjang
Berikut merupakan grafik pertambahan panjang ikan Lele.
Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa ikan yang dibdidayakan mengalami pertumbuhan atau pertambahan panjang dari setiap samplingnya. Pertambahan panjang tubuh ikan terus-menerus mengalami peningkatan walaupun tingkat pertumbuhannya berbeda. Dari grafik tersebut diperoleh bahwa pada sampling pertama pada hari ke-7 diperoleh panjang tubuh ikan sebesar 7,665 cm. Pada sampling hari ke-17, panjang tubuh ikan Lele meningkat 3 cm menjadi 10,7 cm. Pada sampling hari ke-28 pertambahan panjang tubuh ikan tidak terlalu signifikan yaitu sebesar 11,60897436 cm. Sampling hari ke-28 dan 35 diperoleh pertambahan panjang tubuh ikan Lele sebesar 14,36 cm dan 16,13222222 cm. 4.1.6 Jumlah Konsumsi Pakan
Pada tahapan pembesaran ikan Lele, metode pemberian pakan yaitu dengan metode restrictict atau sekenyang-kenyangnya. Jumlah konsumsi pakan hingga hari ke-35 pembesaran dapat dihitung berdasarkan perkalian antara variabel biomassa dan FR. Pada pembesaran, FR yang dipakai sebanyak 6%. Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa total jumlah pakan yang dikonsumsi sebanyak 245,59 kg pakan pelet. Pada sampling kedua, jumlah pakan yang dikonsumsi sebanyak 28,77 kg. Jumlah pakan yang telah dikonsumsi meningkat dari hari ke hari hingga 95,685639 kg.
4.1.7 Feed Convertion Ratio
Feed Convertion Ratio(FCR) merupakan perbandingan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging. Semakin besar FCR maka tidak efisien dalam kegiatan budidaya. Hal ini disebabkan banyak pakan yang dimakan tetapi hanya sedikit yang dimanfaatkan atau diserap oleh tubuh ikan (Ratnasari 2011). Berikut merupakan grafik FCR yang diperoleh selama pembesaran ikan Lele.
Jumlah konsumsi pakan 0 28,77 54,49 73,31 95,69
Ju
FCR 0 1,289717 2,68975 0,627892 0,839348
FC
R
Sampling ke
Food Convertion Ratio
Berdasarkan grafik di atas, FCR yang diperoleh pada sampling pertama hingga ke-5 pada hari ke-35 berbeda-beda. Pada sampling pertama hari ke-7, FCR yang diperoleh sebesar 1,29 dan pada sampling hari ke-17 diperoleh FCR sebesar 2,69. Pada sampling hari ke-28 FCR mengalami penurunan sehingga FCR yang dihasilkan sebesar 0,63. Pada sampling hari ke-35, FCR mengalami kenaikan kembali menjadi 0,84.
4.1.8 Efisiensi Pemberian Pakan
Efisiensi pemberian pakan merupakan seberapa besar ikan memanfaatkan pakan. Efisiensi pemberian pakan berbanding terbalik dengan Feed Convertion Ratio(FCR) . Semakin besar FCR maka semakin tidak efisien pemberian pakan. Berikut merupakan grafik EPP pada pembesaran ikan Lele.
Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa pada sampling ke-3, EPP mengalami penurunan menjadi 37,17818%. Pada sampling ke-2, EPP diperoleh sebesar 77,536391%. Pada sampling ke-4 terjadi kenaikan kembali menjadi 159,26298%. Namun, pada sampling ke-5 terjadi penurunan kedua kalinya menjadi 119,14014%.
4.2 Pembahasan
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wijaya O et al (2014), pada tingkat padat penebaran 300 ekor/m3 survival rate yang dihasilkan sebesar 85,33%. Tingkat kelangsungan hidup ikan Lele dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya tingkat kepadatan penebaran dan kondisi lingkungan. Menurut Nurhamidah (2007) dalam Almaniar et al (2012), menyatakan bahwa pada tingkat
0
EPP 0 77,536391 37,17818 159,26298 119,14014
kepadatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan kompetisi ruang gerak, sehingga menjadi terbatas dikarenakan ikan semakin berdesakan. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan individu, pemanfaatan pakan dan kelangsungan hidup ikan akan menurun. Sehingga dampak ke depannya dapat menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis ikan sehingga pemanfaatan makanan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup mengalami penurunan.
Kondisi lingkungan budidaya tidak terlepas dari limbah yang dihasilkan, terutama dari sisa pakan, feses, hasil aktivitas metabolisme ikan, serta konsentrasi limbah Pada sistem budidaya tanpa pergantian air (zero water exchange) seperti pada kolam air tenang budidaya, amonia (NH3), nitrit (NO2), dan karbon dioksida
CO2 akan meningkat sangat cepat dan bersifat toksik bagi organisme budidaya.
Adanya amoniak yang melimpah dapat memicu tingkat stres pada ikan (Surawidjaja 2006).
Menurut Effendi (1979) dalam Hidayatulloh S et al (2015), pengukuran pertumbuhan bobot mutlak dilakukan secara periodik dari awal hingga akhir penelitian dengan menimbang bobot biomassa ikan. Pengukuran ini dapat diperoleh dari pengurangan antara bobot massa rata-rata pada akhir penelitian dengan awal penelitian dalam satuan gram. Pertumbuhan bobot dipengaruhi oleh jenis pakan yang diberikan dan padat penebaran. Berdasarkan penelitian Madinawati et al (2011), benih ikan Lele Dumbo mengalami pertumbuhan bobot terbaik secara berurutan yaitu pakan Tubivex sp., jentik nyamuk, dan pelet butir. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan nutrisi tiap pakan. Sedangkan menurut penelitian Wijaya O et al (2014) pertumbuhan bobot terbaik terjadi pada padat penebaran yang tidak padat (ekstensif). Hal ini dikarenakan ikan Lele memiliki ruang gerak yang cukup bebas.
Pakan yang diberikan dengan metode sekenyang-kenyangnya. Perbedaan nilai FCR dari tiap sampling memperlihatkan bahwa adanya pengaruh perbedaan kualitas pakan yang digunakan. Pakan yang banyak mengandung protein akan menjadi salah satu pemacu pertumbuhan ikan. Keadaan lingkungan, kualitas dan kuantitas pakan serta kondisi ikan itu sendiri juga mempengaruhi pertumbuhan ikan, dan memiliki kaitan dengan tinggi rendahnya konversi pakan yang dihasilkan Semakin rendah nilai konversi pakan, semakin sedikit yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan. Artinya, semakin efisien pakan tersebut diubah menjadi daging, (Effendie 1979 dalam Hidayatulloh S et al 2015).
EPP berbanding terbalik dengan FCR. EPP menunjukkan tingkat efisiensi pakan atau seberapa besar ikan memanfaatkan pakan. Menurut Mulyadi et al
(2011) nilai efesiensi penggunaan pakan yang sering dijumpai pada ikan budidaya yaitu sebesar 30 - 40% dan nilai terbaik mencapai 60%. Pemberian pakan dalam jumlah yang cukup untuk ikan, lebih baik daripada pemberian pakan dengan jumlah yang berlebih. Ghufran et al (2010) menyatakan bahwa pemberian pakan yang berlebihan juga akan menurunkan efesiensi konversi pakan. Karena sisa–sisa pakan yang tidak habis dimakan mengendap dan menjadi limbah. FCR yang dihasilkan belum termasuk kategori baik. hal ini dikarenakan belum baiknya manajemen pemberian pakan yang diterapkan. Pakan yang telah dikonsumsi ikan Lele selama 35 hari masa pembesaran sebanyak 245,59 kg. Namun, pertumbuhan panjang hanya mencapai 16,132 cm dengan bobot rata-rata sampling terakhir sebesar 32,76 gram.
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Parameter yang diamati selama kegiatan praktikum menunjukkan tingkat keberhasilan kegiatan budidaya.nilai survival rate hingga hari ke-35 pembesaran menunjukkan hasil yang memuaskan yaitu berkisar 95-100%. Pertumbuhan bobot mencapai 32,76 gram dengan GR berkisar 0,3-1,6 gram dan SGR tertinggi mencapai 4,7%. Pertambahan ukuran panjang tubuh ikan mencapai 16,1 cm. sedangkan jumlah pakan yang telah dikonsumsi sebanyak 245,59 kg pakan pelet. FCR yang diperoleh berikisar 0,63-1,29 dengan efisiensi pakan terendah yaitu 37,9%.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Administrator. 2013. Peluang Usaha melalui Budidaya Ikan Lele. Diunduh pada 2015 Desember 21. Tersedia pada : http://dkp.kaltimprov.go.id/berita-144-peluang-usaha-melalui-budidaya-ikan-lele.html.
Ahmadi H, Iskandar N, Kurniawati. 2012. Pemberian Probiotik dalam Pakan terhadap Pertumbuhan Lele Sangkuriang (Clarias sp.) pada Pendederan II.
Jurnal Perikanan dan Kelautan. 3 (4) : 99-107.
Almaniar S, Taqwa FH, Jubaedah D. 2012. Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan Gabus (Channa striata) pada Pemeliharaan dengan Padat Tebar Berbeda. Majalah Ilmiah Sriwijaya. 21 (15): 46-55. Aquarista F, Iskandar, Subhan U. 2012. Pemberian Probiotik dengan Carrier
Zeolit pada Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Jurnal Perikanan dan Kelautan. 3 (4): 133-140.
Fauzi, S. 2011. Analisis Efisiensi Pemasaran Ikan Lele di Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Ghufran H, Kordi K, Tancung AB. 2010. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budi Daya Perairan. Jakarta (ID): Rineka Cipta.
Hakim RR. 2010. Perikanan Budidaya (Akuakultur). Diunduh pada 2016 Januari
3. Tersedia pada :
http://rizarahman.staff.umm.ac.id/files/2010/01/Perikanan-budidaya.pdf. Hidayatullah S, Muslim, Taqwa FH. 2015. Pendederan Larva Ikan Gabus
(Channa striata) di Kolam Terpal dengan Padat Tebar Berbeda. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 8(20): 61-70.
Mulyadi AE. 2011. Pengaruh Pemberian Probiotik pada Pakan Komersil terhadap Laju Pertumbuhan Benih Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalamus) [skripsi]. Bandung (ID): UNPAD.
Mulyadi MT, Usman, Suryani. 2010. Pengaruh Frekuensi Pemberian Pakan Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Selais (Ompok hypophthalamus). Berkala Perikanan Terubuk. 38 (2).
Ratnasari D. 2011. Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)
[Skripsi]. Surabaya (ID): Unversitas Airlangga.
Warta Pasar. 2009. Warta Pasar Edisi Juli 2009 Volume 71. Jakarta (ID) : Departemen Kelautan dan Perikanan.
LAMPIRAN
Tabel 1. Survival Rate Pembesaran Ikan Lele
Sampling Ke- No (ekor) Nt (ekor) SR (%)
1 10.523 10.523 100
2 10.523 10.523 100
3 10.523 10.523 100
4 10.523 9.997 95
Tabel 2. Pertumbuhan Bobot Ikan Lele
Hari Ke- Bobot Ikan (gram)
Tabel 3. Growth Rate pada Pembesaran Ikan Lele
sampling (hari) GR (gram/hari) Wo (gram) Wt (gram)
0 0 0 6,51
7 0,302857143 6,51 8,63
17 0,192512821 8,63 10,55513
28 1,008624709 10,55512821 21,65
35 1,587301587 21,65 32,76111
Tabel 4. Spesific Growth Rate pada Pembesaran Ikan Lele
Waktu (hari) SGR (%) Wo (gram) Wt (gram)
Tabel 5. Pertumbuhan Panjang Ikan Lele pada Pembesaran
Sampling (hari) Panjang (cm)
0 7,665
7 10,7
17 11,60897436
28 14,36
Foto kegiatan pendederan dan pembesaran
Gambar 1. Sampling pendederan Gambar 2. Pengukuran panjang
Gambar 3. Penimbangan bobot Gambar 4. Sampling pembesaran