• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI SEKTOR UNGGULAN DAN LEADING SECTOR DI KABUPATEN TTU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VI SEKTOR UNGGULAN DAN LEADING SECTOR DI KABUPATEN TTU"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

VI

SEKTOR UNGGULAN DAN LEADING SECTOR DI KABUPATEN TTU

6.1. Sektor Unggulan

Hasil analisis terhadap persepsi stakeholder menyatakan bahwa sektor pertanian menjadi prioritas pengembangan dalam peningkatan kapasitas produksi aktivitas ekonomi sehingga kawasan perbatasan Kabupaten TTU dengan district enclave Oekusi dapat dikembangkan menjadi kawasan agropolitan yang dapat mendorong tumbuhkembangnya usaha lainnya di Kabupaten TTU. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilengkapi dengan analisis kuantitatif untuk menentukan sektor unggulan dan leading sector di Kabupaten TTU.

Sektor unggulan merupakan sektor yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dibanding wilayah lainnya di NTT. Sektor yang memiliki keunggulan komparatif merupakan sektor basis yang dianalisis dengan menggunakan analisis LQ (locationt quotient), selanjutnya keunggulan kompetitif dianalisis dengan SSA (shift share analysis). Sedangkan leading sector merupakan sektor yang memiliki keterkaitan yang erat dengan sektor-sektor ekonomi lainnya di Kabupaten TTU serta memberikan nilai tambah bruto yang besar terhadap suatu wilayah. Analisis yang digunakan adalah analisis I-O (input-output). Analisis-analisis kuantitatif tersebut dilengkapi dengan analisis kuadran.

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan data PDRB tahun 2006 berdasarkan harga kostan tahun 2000 dengan klasifikasi sektor sebanyak 24 sektor menunjukkan bahwa sektor yang memiliki keunggulan komparatif adalah sektor tanaman pangan dan palawija karena topografi wilayah Kabupaten TTU yang berbukit-bukit dengan curah hujan yang relatif rendah dan masyarakat yang secara turun–temurun lebih banyak membudidayakan tanaman pangan dan palawija demi memenuhi kebutuhan pangan bagi rumahtangga petani, selain itu masyarakat di Kabupaten TTU juga membudidayakan tanaman palawija secara bersamaan pada sebuah lahan dengan maksud untuk menghindari resiko kegagalan panen komoditas tertentu. Hal ini ditunjang dengan

(2)

harga palawija yang semakin tinggi sehingga tanaman palawija dan pangan menjadi sektor basis di Kabupaten TTU.

Selain sebagai petani lahan kering yang mengandalkan komoditas tanaman pangan dan palawija, masyarakat TTU juga merupakan masyarakat peternak mewarisi gudang ternak yang pernah dilabelkan untuk Kabupaten TTU. Ternak besar seperti sapi memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga biasanya dipelihara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendadak dengan nilai yang besar. Selain itu, ternak memiliki nilai sosial yang tinggi bagi masyarakat, umumnya masyarakat TTU yang memiliki banyak ternak memiliki prestise tersendiri di hadapan masyarakat lain dibanding memiliki harta dalam bentuk lainnya. Ternak juga memiliki nilai budaya yang tinggi karena setiap melakukan acara adat (perkawinan, kematian, pembuatan rumah adat, dll) biasanya selalu ada korbanan berupa ternak besar dan ternak kecil serta unggas. Hal-hal tersebut yang mendorong masyarakat Kabupaten TTU untuk terus memelihara ternak sehingga menjadikan peternakan sebagai sektor basis di Kabupaten TTU dibanding kabupaten lainnya di Provinsi NTT dan sektor lainnya di Kabupaten TTU.

Kehutanan juga menjadi sektor basis di Kabupaten TTU karena luas hutan mencapai 47,3% dari luas wilayah darat Kabupaten TTU dengan variasi hasil hutan yang cukup beragam, seperti: kayu gelondongan (jati), madu dan biji asam. Oleh karena itu, seyogyanya pelestarian hutan tetap dilakukan dengan memperhatikan fungsi hutan dan kegunaannya bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan serta sebagai penjaga keseimbangan ekosistem.

Selain sektor pertanian tersebut, terdapat sektor lain yang memiliki keunggulan komparatif di Kabupaten TTU yakni sektor penggalian karena Kabupaten TTU memiliki potensi bahan galian yang cukup banyak, meskipun hingga saat ini yang dieksploitasi hanya bahan galian golongan C seperti: pasir, batu kali, batu aji dan marmer. Namun produksinya cukup untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten TTU, sedangkan marmer selalu dikirim ke Pulau Jawa untuk diolah lebih lanjut.

Sektor-sektor lain yang menjadi sektor basis di Kabupaten TTU adalah listrik, restoran, angkutan darat, keuangan dan jasa perusahaan serta jasa-jasa (pemerintah dan rekreasi). Sektor-sektor tersebut memiliki nilai LQ > 1. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor tersebut memiliki potensi yang cukup untuk dikembangkan menjadi sektor yang

(3)

memiliki keunggulan dibanding sektor lainnya di wilayah Kabupaten TTU ataupun dengan sektor yang sama di kabupaten lainnya.

Sedangkan sektor lainnya yang memiliki nilai LQ < 1 kurang berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten TTU. Sektor tersebut adalah perkebunan, perikanan, industri, air bersih, konstruksi, perdagangan (pedagang besar dan eceran, hotel), jasa penunjang angkutan, komunikasi, jasa – jasa (sosial kemasyarakatan, perorangan dan rumahtangga). Hal ini terjadi karena sektor-sektor tersebut baru dikembangkan di Kabupaten TTU dibanding dengan pengembangannya di wilayah lain di Provinsi NTT ataupun dibanding sektor lain di Kabupaten TTU sehingga produksinya relatif masih rendah.

Masyarakat Kabupaten TTU sebagai petani lahan kering umumnya masih mengandalkan tanaman umur pendek sehingga belum banyak membudidayakan tanaman umur panjang. Namun akhir-akhir ini telah digalakkan budidaya tanaman perkebunan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta dapat berfungsi untuk konservasi lahan dan air. Oleh karena itu, bila lahan-lahan tidur dimanfaatkan untuk budidaya tanaman perkebunan, tentunya akan memperoleh produksi yang tinggi sehingga mampu bersaing dengan wilayah lainnya.

Sektor perikanan juga bukan merupakan sektor basis karena masyarakat Kabupaten TTU umumnya masih mengandalkan daratan untuk mencari nafkah sehingga sektor perikanan masih menjadi anak tiri bagi masyarakat dalam upaya peningkatan kesejahteraan. Walau demikian, potensi perikanan yang cukup besar di pantai utara bila dimanfaatkan dengan memperhatikan aspek carrying capacity akan menjadi sektor yang unggul di Kabupaten TTU.

Masyarakat Kabupaten TTU yang umumnya adalah petani tradisional belum berorientasi pada pemasaran sehingga sektor perdagangan belum memberikan kontribusi yang besar, namun dengan perubahan orientasi budidaya pertanian menjadi pertanian komersil, sektor perdagangan akan turut menjadi sektor unggulan karena akan berfungsi untuk menyediakan input dan mendistribusikan hasil pertanian. Hal ini, tentunya akan membutuhkan dukungan dari sektor angkutan dan komunikasi. Hasil analisis LQ (locationt quotient) selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 45.

(4)

Analisis LQ merupakan analisis perekonomian wilayah yang bersifat statis sehingga diperlukan analisis lainnya yang bersifat dinamis agar dapat juga mengetahui perubahan suatu sektor ekonomi. Oleh karena itu, dilakukan shift share analysis (SSA) dengan menggunakan data PDRB tahun 2004 dan tahun 2006 berdasarkan harga konstan tahun 2000 yang lebih menggambarkan produksi suatu wilayah yang sudah tidak terpengaruh oleh gejolak ekonomi pada tahun 1998 atau kalaupun ada pengaruhnya telah berkurang, selain itu sebagai kajian terhadap Kabupaten TTU sebagai wilayah perbatasan dengan district enclave Oekusi, tahun 2004 dipilih dengan pertimbangan Timor Leste resmi merdeka pada tanggal 20 Mei 2002.

Tabel 45. Hasil analisis LQ dan SSA

No SEKTOR LQ PS DS

1 Pangan 1,1731 -0,0676 0,0122

2 Perkebunan 0,5262 -0,0290 -0,1018

3 Peternakan 1,3741 -0,0574 -0,0594

4 Kehutanan 6,9079 0,0078 0,0202

5 Perikanan 0,1571 0,1866 0,1967

6 Penggalian 1,2370 -0,0271 0,0173

7 Industri pengolahan 0,9756 -0,0754 -0,0575

8 Listrik 1,9753 -0,0147 -0,0706

9 Air Bersih 0,8169 -0,0255 0,1229

10 Konstruksi 0,9899 -0,0113 0,0457

11 Pedagang besar dan eceran 0,4289 0,0771 0,0575

12 Hotel 0,3794 0,0271 0,0748

13 Restoran 4,3475 -0,0509 -0,0112

14 Angkutan darat 1,6508 0,0666 0,0639 15 Jasa penunjang angkutan 0,2206 -0,0371 -0,1298

16 Komunikasi 0,6000 0,0424 -0,2712

17 Bank 1,0103 0,1480 -0,0467

18 Nirbank 1,0026 0,1171 0,1654

19 Sewa bangunan 1,2940 -0,0016 0,0608

20 Jasa perusahaan 1,1084 0,1799 0,2594

21 Pemerintah 1,1354 0,0120 -0,0255

22 Jasa sosial kemasyarakatan 0,9075 -0,0487 -0,0244 23 Rekreasi dan hiburan 5,5877 1,3898 1,3566 24 Perorangan dan rumahtangga 0,7725 -0,0117 -0,0260

Sumber : Data PDRB NTT dan TTU tahun 2004 dan 2006, diolah

*) Keterangan : LQ=location quotient; PS=Proportional shift; DS=Differential shift

Hasil analisa menunjukkan bahwa Kabupaten TTU sebagai kabupaten yang memiliki keunggulan kompetitif karena memiliki perubahan relatif yang lebih tinggi dari Provinsi NTT pada sektor kehutanan dan perikanan. Sektor perikanan intensif

(5)

dikembangkan karena belum banyak diminati oleh masyarakat TTU sehingga dilakukan berbagai program baik pelatihan bagi petani-nelayan maupun penyediaan sarana penangkapan ikan. Demikian pula dengan sektor kehutanan yang terus dikembangkan dengan tanaman-tanaman yang produktif, sesuai dengan kategori hutan.

Setelah pisahnya Timor Leste, masyarakat yang memiliki lahan yang sempit berusaha mencari sumber alternatif tambahan pendapatan dengan membuka usaha-usaha di sektor perdagangan (terutama sebagai pengecer) dan sektor angkutan darat (ojek) dengan memanfaatkan kemudahan modal yang disediakan oleh lembaga keuangan baik bank maupun nonbank. Hal ini ditunjang oleh pelayanan pemerintah yang lebih baik setelah adanya otonomi daerah sehingga sektor-sektor tersebut mengalami pergeseran yang positif yang berarti pergeserannya (laju pertumbuhannya) lebih tinggi dibanding Provinsi NTT.

Sektor-sektor yang memiliki keunggulan untuk dikembangkan karena memiliki kondisi lingkungan di Kabupaten TTU yang lebih mendukung adalah sektor pangan karena lahan kering yang dimiliki cukup luas serta ditunjang dengan sumber mata pencaharian utama masyarakat yang umumnya adalah petani. Demikian pula dengan sektor kehutanan yang memiliki luas 47,3% dari luas daratan di Kabupaten TTU masih potensial dikembangkan untuk memperoleh peningkatan pendapatan yang lebih besar karena umumnya lahan kosong yang berada di antara hutan juga dikategorikan sebagai hutan sehingga sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Sedangkan sektor perikanan memiliki keunggulan karena ada pengusaha-pengusaha yang melakukan investasi tambak yang selanjutnya menjadi motivasi bagi masyarakat untuk memandang laut sebagai lokasi yang menjanjikan untuk mencari nafkah.

Selanjutnya nilai differential shift (DS) yang positif (+) terdapat pada sektor pangan, kehutanan, perikanan, penggalian, air bersih, konstruksi, pedagang besar dan eceran, hotel, angkutan darat, keuangan, rekreasi dan hiburan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor–sektor tersebut memiliki keunggulan untuk dikembangkan di Kabupaten TTU. Namun demikian analisis ini perlu dikolaborasi dengan analisis LQ sehingga kebijakan yang diambil akan lebih tepat.

Analisis lebih lanjut adalah menggabungkan antara LQ dan SSA dengan menggunakan analisis kuadran untuk mengetahui sektor-sektor yang potensial untuk

(6)

dikembangkan berdasarkan kedua kriteria tersebut sebagaimana ditampilkan pada Gambar 9. Kuadran I menunjukkan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki keunggulan untuk dikembangkan di Kabupaten TTU namun belum merupakan sektor basis di Kabupaten TTU. Sektor-sektor yang tergolong dalam kategori ini adalah perikanan, konstruksi, perdagangan, hotel, air bersih. Sektor-sektor tersebut umumnya baru dikembangkan karena masyarakat TTU umumnya belum memandang laut sebagai sumber mata pencaharian yang menjanjikan dan lebih memilih untuk bertani, walaupun pertanian yang diusahakan masih semikomersil sehingga sektor perdagangan juga belum berkembang dengan baik. Sektor-sektor tersebut bila dikembangkan dengan baik akan menjadi sektor basis di Kabupaten TTU. Demikian pula dengan hotel, konstruksi dan air bersih karena letak Kabupaten TTU yang berada di pusat Pulau Timor sehingga dapat dijadikan tempat transit dan memiliki sumber air yang besar di Gunung Mutis yang airnya juga dimanfaatkan oleh masyarakat Timor Leste (district enclave Oekusi).

Kuadran II berisi sektor-sektor yang merupakan sektor basis dan memiliki keunggulan untuk dikembangkan di Kabupaten TTU. Sektor–sektor tersebut adalah sektor pangan, kehutanan, angkutan darat, jasa keuangan bukan bank, jasa hiburan dan rekreasi. Pengembangan sektor pangan dapat dilakukan secara ekstensif dengan memanfaatkan lahan pertanian seluas 37.344,5 ha yang belum diolah, apabila lahan tersebut diolah akan mendatangkan pendapatan yang tinggi bagi masyarakat sehingga lebih memacu sektor lainnya untuk berkembang baik. Selain itu, pengembangan secara lebih intensif dengan menggunakan teknologi yang lebih tepat dan manajemen yang baik serta permodalan yang memadai karena banyaknya alternatif dari lembaga permodalan lain yang semakin dipercaya masyarakat misalnya koperasi, LSM, credit union.

Pengembangan sektor pangan menjadi lebih komersil ditunjang dengan angkutan darat yang semakin baik di Kabupaten TTU.

Selanjutnya sektor-sektor yang menempati kuadran III merupakan sektor basis, namun pergeserannya lambat adalah sektor peternakan, restoran, bank, pemerintah dan listrik. Peternakan yang telah ditetapkan sebagai sektor unggulan di Kabupaten TTU semakin tergeser karena adanya konversi lahan peternakan (padang savana) yang cukup tinggi untuk dijadikan sebagai lahan pertanian maupun usaha lainnya. Oleh karena itu, sektor peternakan perlu digerakkan dengan mengusahakan pertanian terpadu yang

(7)

mengintegrasikan peternakan, misalnya dengan agrosilvopastoral. Oleh karena peternakan yang berkembang di Kabupaten TTU adalah peternakan sapi maka budidaya pakan ternak dapat dipadukan dengan tanaman lainnya dengan sistem multicrop ataupun pergiliran tanaman. Sektor restoran juga memiliki pergeseran yang lambat karena pendapatan masyarakat yang rendah sehingga permintaan masyarakat terhadap produk dari restoran tidak bertambah dalam jumlah yang besar. Sedangkan bank, akhir-akhir ini mengalami degradasi kepercayaan dari masyarakat karena banyaknya alternatif bagi masyarakat untuk memperoleh modal melalui lembaga keuangan lainnya.

Sektor-sektor yang belum berkembang di Kabupaten TTU sesuai analisis LQ dan SSA (kuadran IV) adalah sektor perkebunan, industri pengolahan, jasa penunjang angkutan, jasa sosial kemasyarakatan dan jasa perorangan dan rumahtangga. Sektor- sektor tersebut terutama perkebunan, industri pengolahan untuk saat ini belum berkembang karena kegiatan tersebut baru dilakukan sehingga belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Akan tetapi bila diberi sentuhan kebijakan oleh pemerintah akan dapat memberikan efek yang lebih besar karena nilai jual hasil perkebunan seperti jambu mete, kemiri dan pinang yang semakin meningkat akan memotivasi masyarakat untuk membudidayakan tanaman perkebunan. Demikian pula usaha-usaha agroindustri yang selama ini belum berkembang karena kurang terampilnya masyarakat sehingga nilai tambah produk pertanian lebih banyak dinikmati oleh wilayah lainnya. Kebijakan yang dimaksud adalah berupa pengembangan sumberdaya manusia melalui pendidikan dan pelatihan sehingga masyarakat melakukan usaha agroindustri dengan memperhatikan kaidah-kaidah entrepreneur dan menggunakan teknologi yang tepat.

Gambar 9. Hasil analisis kuadran LQ dan DS Kabupaten TTU

Kuadran I : Perikanan, perdagangan, konsutruksi, hotel, air bersih

LQ

Kuadran II :

Kehutanan, pangan, penggalian, angkutan darat, lembaga keuanagan nirbank, jasa perusahaan, rekreasi dan hiburan

Kuadran III : Peternakan, restoran, bank, listrik, pemerintah Kuadran IV :

Perkebunan, industri pengolahan, jasa sosial kemasyarakatan

DS

1

0

(8)

6.2. Leading Sector

Penentuan sektor unggulan dengan menggunakan analisis LQ dan SSA hanya menjawab keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif suatu sektor di Kabupaten TTU tanpa memperhatikan keterkaitan sektor tersebut dengan sektor lainnya sehingga pengembangan sektor-sektor tersebut belum tentu memberikan manfaat yang besar bagi Kabupaten TTU. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis untuk mengetahui keterkaitan suatu sektor dengan sektor ekonomi lainnya di Kabupaten TTU sekaligus mengetahui sektor yang memberikan nilai tambah bruto terbesar serta mengetahui sektor yang memberikan multiplier effect tertinggi yang merupakan indikasi bahwa suatu sektor ekonomi merupakan leading sector di Kabupaten TTU dilakukan dengan analisis input- output (I-O).

Analisis I-O dapat dilakukan bila Tabel I-O suatu kabupaten tersedia. Namun karena Tabel I–O Kabupaten TTU tahun 2006 belum tersedia, maka Tabel I-O Kabupaten TTU tahun 2006 diturunkan dari Tabel I-O Provinsi NTT tahun 2006 dengan menggunakan metode RAS. Hasil analisa selengkapnya dapat diuraikan pada bagian- bagian berikut.

6.2.1. Struktur Perekonomian Kabupaten TTU

Table I-O terdiri dari 4 kuadran dimana kuadran I berisi transaksi antar berbagai sektor ekonomi di Kabupaten TTU atau biasa dikenal juga dengan input antara karena output dari suatu sektor ekonomi di Kabupaten TTU digunakan sebagai input oleh sektor lainnya di Kabupaten TTU; kuadran II berisi permintaan akhir dari rumahtangga (C), pemerintah (G), pembentukan modal dan perubahan stok yang digunakan untuk konsumsi akhir. Permintaan akhir tersebut dapat dipenuhi dari output seluruh sektor ekonomi di Kabupaten TTU ataupun berasal dari impor. Kuadran III merupakan balas jasa terhadap input primer yang digunakan untuk aktifitas setiap sektor ekonomi. Input tenaga kerja memperoleh upah dan gaji, input modal memperoleh surplus usaha, input lahan memperoleh sewa lahan dan input primer lainnya. Sedangkan kuadran IV biasanya diabaikan (tidak dianalisa) dalam Tabel I-O karena datanya kurang tersedia, tetapi dapat diupayakan bila ingin melakukan analisa dengan menggunakan SAM (Sosial Accounting Matrix).

(9)

a. Struktur Permintaan Kabupaten TTU

Komponen permintaan terdiri atas permintaan antara dan permintaan akhir.

Komponen permintaan masih didominasi oleh permintaan akhir sebesar 67,22%

dibanding permintaan antara sebanyak 32,78%. Kondisi ini menunjukkan bahwa output sektor-sektor ekonomi di Kabupaten TTU belum banyak digunakan untuk memperoleh nilai tambah melalui aktivitas ekonomi sektor lainnya di Kabupaten TTU, tetapi langsung dikonsumsi.

Komponen permintaan akhir suatu wilayah dengan perekonomian terbuka terdiri atas permintaan untuk konsumsi rumahtangga (C), pemerintah(G), investasi (I) dan ekspor (X). Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:

Y = C + G + I + X

581.786,12 = 363.278,14 + 74.830,50 + 67.904,65 + 73.893,51

Selanjutnya bila ingin mengetahui net ekspor di Kabupaten TTU maka dapat dilakukan pengurangan antara ekspor dan impor di Kabupaten TTU yakni 73.893,51 –18.950,05 = 54.943,46 yang berarti terjadi net ekspor di Kabupaten TTU. Meskipun demikian, permintaan akhir tertinggi masih didominasi oleh rumahtangga (41,97%) karena umumnya kegiatan-kegiatan sektor ekonomi di Kabupaten TTU masih dalam skala kecil sehingga output yang dihasilkan hanya cukup untuk dikonsumsi dalam skala rumahtangga.

Dengan demikian, perhatian dalam peningkatan produksi menjadi prioritas baik melalui peningkatan skala usaha maupun melalui penerapan teknologi yang lebih memadai. Selanjutnya kebijakan untuk meningkatkan pemanfaatan output produk tersebut untuk digunakan sebagai input bagi sektor lainnya di Kabupaten TTU sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bruto di Kabupaten TTU. Untuk itu, diperlukan perincian permintaan akhir per sektor untuk mengetahui kontribusi per sektor ekonomi sehingga memudahkan dalam pengambilan kebijakan. Adapun perincian kontribusi masing-masing komponen penyusun struktur permintaan di Kabupaten TTU dapat dilihat pada Tabel 46. berikut ini.

(10)

Tabel 46. Struktur permintaan akhir menurut komponennya di Kabupaten TTU tahun 2006

NO Komponen permintaan Nilai Kontribusi

1 Permintaan antara 283.702,36 32,78

2 Jumlah permintaan akhir 581.786,12 67,22

a. Konsumsi rumahtangga 363.278,14 41,97

b. KonsumsipPemerintah 74.830,50 8,65

c. Pembentukan modal tetap bruto 66.273,16 7,66

d. Perubahan stock 1.631,49 0,19

e. Ekspor luar negeri 1.879,31 0,22

f. Ekspor antar daerah 73.893,51 8,54

Jumlah permintaan 865.488,48 100,00 Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

Perekonomian suatu wilayah akan mengalami perkembangan yang tinggi bila permintaan akhir didominasi oleh pembentukan modal sehingga diharapkan dapat diinvestasikan lagi di Kabupaten TTU dan selanjutnya dapat meningkatkan produksi di Kabupaten TTU baik melalui kebutuhan akan input langsung maupun keterkaitannya dengan sektor lainnya di Kabupaten TTU secara tidak langsung. Namun permintaan akhir tertinggi di Kabupaten TTU terdapat pada sektor pemerintahan yang menunjukkan ketergantungan terhadap pendanaan dari pemerintah dalam menggerakkan perekonomian di Kabupaten TTU. Sebagaimana terlihat dari total penerimaan daerah pada tahun 2006 sebesar: Rp 301.445.002.000,- umumnya (66,94%) merupakan belanja aparatur dan belanja modal daerah padahal anggaran pemerintah yang berasal dari PAD hanya sebesar 3,07% dan 90,34% merupakan dana perimbangan.

Walaupun demikian, terdapat beberapa sektor ekonomi riil yang memiliki kontribusi besar terhadap permintaan akhir seperti jagung, peternakan dan hasilnya, sayur dan buah yang menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten TTU umumnya masih berorientasi pada konsumsi untuk memenuhi kebutuhan primer. Selain itu, kebutuhan sekunder berupa bangunan juga cukup tinggi karena masyarakat TTU masih membangun perumahan. Acara-acara sosial juga masih sering dilakukan oleh masyarakat Kabupaten TTU terutama untuk ritual adat dan acara keagamaan serta untuk kepentingan mempererat kekerabatan sehingga konsumsi terhadap sektor jasa sosial kemasyarakatan juga tinggi. Adapun rincian kontribusi per sektor ekonomi terhadap permintaan akhir dapat dilihat pada Tabel 47. berikut ini.

(11)

Tabel 47. Struktur permintaan akhir per sektor Kabupaten TTU tahun 2006

No Sektor D Akhir

(Rp Juta)

Kontribusi (%)

Ranking

1 Padi 0,00 0,00 37

2 Jagung 66.555,18 11,44 3

3 Kacang-kacangan 8.305,99 1,43 15

4 Umbi-umbian 17.662,61 3,04 11

5 Sayur dan buah-buahan 33.226,64 5,71 6

6 Tanaman bahan makan lainnya 102,42 0,02 34

7 Jambu mete 6.140,72 1,06 19

8 Kelapa 3.711,86 0,64 23

9 Kopi dan kakao 466,61 0,08 32

10 Kapuk/kapas 53,53 0,01 36

11 Kemiri 858,41 0,15 31

12 Pinang 4.079,01 0,70 21

13 Perkebunan lainnya 1.157,55 0,20 30

14 Peternakan dan hasilnya 80.664,80 13,87 2 15 Unggas dan hasil-hasilnya 24.095,27 4,14 8

16 Kayu hasil hutan 282,49 0,05 33

17 Hasil hutan lainnya 1.604,27 0,28 27

18 Perikanan 7.952,36 1,37 17

19 Pertambangan dan pengalian 62,43 0,01 35 20 Ind makanan dan minuman 15.896,46 2,73 12

21 Ind tenun ikat 1.743,02 0,30 25

22 Industri lainnya 1.249,12 0,21 29

23 Listrik dan air bersih 6.031,91 1,04 20

24 Bangunan 47.339,15 8,14 5

25 Perdagangan 20.090,19 3,45 10

26 H o t e l 1.615,83 0,28 26

27 Restoran 23.572,31 4,05 9

28 Angkutan darat 25.671,92 4,41 7

29 Angkutan laut 3.761,71 0,65 22

30 Jasa penunjang angkutan 3.363,90 0,58 24

31 Komunikasi 6.883,48 1,18 18

32 Bank dan lembaga keuangan

lainnya 8.586,88 1,48 14

33 Real estat dan jasa perusahaan 8.111,37 1,39 16

34 Pemerintahan 83.821,44 14,41 1 35 Jasa sosial kemasyarakatan 51.194,81 8,80 4

36 Jasa hiburan dan rekreasi 1.429,40 0,25 28 37 Jasa perorangan rumahtangga dan

lainnya 14.441,05 2,48 13

Total 581.786,12

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

(12)

b. Struktur Input Kabupaten TTU

Komponen penyusun input terdiri dari tiga kelompok yakni input antara, input primer (nilai tambah bruto), dan impor. Input antara merupakan output dari suatu sektor ekonomi di Kabupaten TTU yang digunakan oleh sektor ekonomi lain di wilayah yang sama dalam proses produksi. Input primer adalah balas jasa yang diberikan kepada faktor produksi yang berperan dalam proses produksi. Balas jasa tersebut berupa upah/gaji untuk faktor produksi tenaga kerja, surplus usaha untuk modal yang ditanamkan, dll.

Sedangkan impor adalah barang dan jasa yang didatangkan dari daerah lain baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten TTU. Berdasarkan prinsip keseimbangan bahwa total input sama dengan total output dimana nilai keseimbangannya adalah Rp 865.488.240.000,-. Selanjutnya dapat dikaji lebih mendalam peranan masing-masing input primer terhadap total output wilayah dimana rinciannya dapat dilihat pada Tabel 48. berikut ini.

Tabel 48. Kontribusi penyusun input total Kabupaten TTU tahun 2006

No Komponen Input Nilai (Rp Juta) Kontribusi 1 Jumlah input antara 283.702,36 32,78

2 Input primer 562.835,83 65,03

a. Upah dan gaji 199.985,97 23,11 b. Surplus usaha 328.699,27 37,98

c. Penyusutan 26.016,84 3,01

d. Pajak tak langsung 8.133,75 0,94

3 Impor 18.950,05 2,19

Jumlah Input 865.488,24 100,00

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU, diolah

Tabel di atas menunjukkan bahwa input primer masih mendominasi struktur input dari setiap sektor ekonomi di Kabupaten TTU yakni 65,03% sedangkan input antara hanya sebesar 32,78%. Meskipun 74,68% masyarakat Kabupaten TTU bekerja pada sektor pertanian, namun umumnya merupakan tenaga kerja yang tidak diupah dan tidak digaji karena mereka hanya memperoleh balas jasa berupa konsumsi pangan pada tingkat rumahtangga sehingga kontribusi input tenaga kerja yang diukur dengan upah dan gaji hanya sebesar 23,11% sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 49. yang menyajikan data kontribusi masing-masing input primer. Selain itu, minimnya kontribusi input primer tenaga kerja dikarenakan upah tenaga kerja sektor riil yang rendah. Upah tenaga kerja

(13)

tertinggi masih didominasi oleh sektor pemerintahan dan komunikasi sehingga masyarakat berlomba-lomba untuk menjadi PNS.

Tabel 49. Kontribusi sektoral terhadap komponen NTB di Kabupaten TTU tahun 2006

Nilai Tambah Bruto (%) No Sektor

Upah Rank Surplus

usaha Rank Penyusutan Rank Pajak TL Rank

1 Padi 23,92 20 74,50 11 1,07 25 0,51 24

2 Jagung 27,28 16 71,30 15 0,98 27 0,43 25

3 Kacang-kacangan 17,81 28 79,79 6 0,44 32 1,97 9 4 Umbi-umbian 21,64 24 76,05 10 0,92 28 1,39 15 5 Sayur dan buah-buahan 22,35 23 77,05 9 0,19 35 0,42 26 6 Tanaman bahan makan lainnya 10,12 35 89,16 3 0,46 31 0,26 30 7 Jambu mete 15,27 33 84,20 4 0,34 33 0,18 31 8 Kelapa 15,21 34 78,90 7 4,06 16 1,82 11 9 Kopi dan kakao 25,79 18 73,68 14 0,47 30 0,06 34 10 Kapuk/kapas 38,80 9 60,69 24 0,34 34 0,18 32

11 Kemiri 16,15 32 82,94 5 0,62 29 0,29 29

12 Pinang 3,80 36 95,98 1 0,15 36 0,07 33

13 Perkebunan lainnya 44,34 6 53,17 28 1,69 22 0,79 22 14 Peternakan dan hasilnya 25,42 19 70,33 16 2,78 20 1,48 13 15 Unggas dan hasil-hasilnya 35,27 11 62,38 23 1,54 23 0,82 21 16 Kayu hasil hutan 3,64 37 95,89 2 0,06 37 0,41 27 17 Hasil hutan lainnya 17,31 30 73,86 13 6,97 8 1,86 10 18 Perikanan 23,14 22 74,29 12 2,54 21 0,03 35 19 Pertambangan dan pengalian 17,35 29 77,85 8 3,83 18 0,96 19 20 Ind makanan dan minuman 39,53 8 58,15 25 1,13 24 1,18 17 21 Ind tenun ikat 34,73 12 63,81 20 1,06 26 0,40 28 22 Industri lainnya 25,95 17 67,74 19 2,99 19 3,33 5 23 Listrik dan air bersih 20,70 25 43,92 34 33,98 1 1,40 14 24 Bangunan 40,70 7 52,77 30 4,15 15 2,37 7 25 Perdagangan 19,44 27 69,91 17 5,20 12 5,45 3 26 H o t e l 30,24 14 57,44 26 5,55 11 6,76 2 27 Restoran 33,56 13 52,78 29 6,16 10 7,51 1 28 Angkutan darat 20,57 26 62,84 22 15,09 3 1,49 12 29 Angkutan laut 28,94 15 47,20 31 20,81 2 3,06 6 30 Jasa penunjang angkutan 23,52 21 63,27 21 12,24 4 0,98 18 31 Komunikasi 45,21 5 47,03 32 6,47 9 1,29 16

32

Bank dan lembaga keuangan

lainnya 37,72 10 57,44 27 3,91 17 0,93 20

33 Real estat dan jasa perusahaan 17,10 31 69,41 18 8,13 6 5,37 4 34 Pemerintahan 89,33 2 3,20 37 7,47 7 0,00 36 35 Jasa sosial kemasyarakatan 61,75 3 24,21 35 11,87 5 2,17 8 36 Jasa hiburan dan rekreasi 92,02 1 3,20 36 4,78 13 0,00 36

37

Jasa perorangan rumahtangga

dan lainnya 48,24 4 46,85 33 4,15 14 0,76 23

Jumlah 35,53 58,40 4,62 1,45

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

(14)

Usaha-usaha di sektor pertanian, cukup menjanjikan untuk dikembangkan karena memiliki surplus usaha yang cukup tinggi terutama untuk budidaya perkebunan seperti pinang, jambu mete dan kemiri. Selain itu, tanaman kacang-kacangan juga memiliki surplus usaha yang cukup tinggi sehingga masyarakat mulai membudidayakan tanaman palawija dan perkebunan. Hal ini juga memperkuat analisis dalam RPJM Kabupaten TTU 2005-2010 yang menyatakan bahwa kemiri dan jambu mete dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan di Kabupaten TTU. Walaupun demikian, sektor-sektor tersebut umumnya enclave dan memiliki kontribusi yang kecil terhadap nilai tambah bruto Kabupaten TTU sehingga perlu kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan dengan sektor ekonomi lain.

Nilai input primer juga sekaligus menggambarkan nilai tambah bruto yang diperoleh masyarakat di Kabupaten TTU yang sekaligus menunjukkan nilai Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten TTU. Nilai PDRB Kabupaten TTU sebesar Rp 562.835.830.000,- atau hampir sama dengan nilai PDRB yang dipublikasikan pada TTU dalam Angka tahun 2006 yakni sebesar Rp 560.180.080.000,- . Perbedaan nilai ini dapat terjadi karena perbedaan klasifikasi sektor sehingga ketepatan agregasi dapat berbeda-beda. Tabel I-O secara teknis dibangun dari komoditas-komoditas, sedangkan PDRB secara teknis dibangun dari sub-sub sektor yang merupakan agregasi dari komoditas-komoditas sehingga dapat menimbulkan perbedaan dalam pembulatan nilai. Selain itu, PDRB hanya mempertimbangkan sisi output (supply) dan tidak memperhitungkan sisi permintaan, sedangkan Tabel I-O mempertimbangkan sisi permintaan dan penawaran.

6.2.2. Struktur Output dan Nilai Tambah Bruto a. Struktur Output

Output merupakan nilai produksi yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi di Kabupaten TTU. Output tersebut terdiri dari output produk utama, produk ikutan dan produk sampingan dari suatu proses produksi dengan menggunakan teknologi yang sama.

Adapun output sektor ekonomi di Kabupaten TTU pada tahun 2006 sebesar Rp 872.211.740.000,- dengan sektor pemerintahan yang memberikan kontribusi tertinggi yakni sebesar 17,06%. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Kabupaten TTU masih

(15)

bergantung pada kegiatan pembangunan yang didanai oleh sektor pemerintah, sedangkan yang digerakkan sendiri oleh sektor riil belum memberikan kontribusi yang besar, dimana rinciannya dapat dilihat pada Tabel 50. berikut ini.

Tabel 50. Struktur output sektoral Kabupaten TTU tahun 2006

Ranking Sektor Output Kontribusi

1 Pemerintahan 148.791,02 17,06 2 Peternakan dan hasilnya 87.298,42 10,01 3 Bangunan 79.357,55 9,10

4 Jagung 74.498,13 8,54

5 Jasa sosial kemasyarakatan 64.578,34 7,40 6 Sayur dan buah-buahan 55.775,86 6,39 7 Angkutan darat 47.463,56 5,44 8 Perdagangan 40.773,79 4,67 9 Ind makanan dan minuman 26.793,87 3,07 10 Kayu hasil hutan 25.874,42 2,97 11 Umbi-umbian 24.529,82 2,81

12 Padi 24.226,10 2,78

13 Restoran 24.071,73 2,76 14 Jasa perorangan rumahtangga dan

lainnya 19.813,37 2,27 15 Bank dan lembaga keuangan lainnya 18.827,30 2,16 16 Real estat dan jasa perusahaan 11.254,99 1,29 17 Kacang-kacangan 9.965,43 1,14 18 Perikanan 9.568,59 1,10 19 Angkutan laut 9.129,80 1,05 20 Komunikasi 8.915,05 1,02 21 Listrik dan air bersih 7.734,57 0,89 22 Kopi dan kakao 7.277,39 0,83 23 Jasa penunjang angkutan 6.591,72 0,76 24 Industri lainnya 6.294,99 0,72 25 Jambu mete 6.287,06 0,72 26 Pertambangan dan pengalian 6.148,18 0,70 27 Ind tenun ikat 4.436,52 0,51 28 Perkebunan lainnya 4.390,21 0,50 29 Unggas dan hasil-hasilnya 2.358,93 0,27 30 H o t e l 2.134,61 0,24 31 Hasil hutan lainnya 1.974,34 0,23 32 Pinang 1.456,82 0,17 33 Jasa hiburan dan rekreasi 1.436,98 0,16 34 Kemiri 931,49 0,11 35 Kelapa 626,85 0,07 36 Tanaman bahan makan lainnya 509,97 0,06 37 Kapuk/kapas 113,96 0,01 Jumlah Input Antara 872,211,74 100,00

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

(16)

Dalam struktur penerimaan daerah tahun 2006 dapat diketahui bahwa besarnya DAU dan DAK masih mendominasi, yaitu mencapai 83,30%. Walau demikian, peternakan dan hasilnya juga memberikan kontribusi yang cukup besar yakni 10,01 %.

b. Struktur Nilai Tambah Bruto (NTB)

Sedangkan Nilai Tambah Bruto (NTB) merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi di Kabupaten TTU. Nilai tambah bruto ini terdiri dari upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tak langsung netto. Besarnya nilai tambah bruto dari setiap sektor ditentukan oleh besar output (nilai produksi) dari setiap sektor dan jumlah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.

Dengan demikian sektor yang memiliki output terbesar belum tentu memberikan nilai tambah bruto terbesar. Kontribusi nilai tambah bruto terbesar dihasilkan pada sektor peternakan yaitu sebesar Rp 69.431.800.000,- (12,34 %) yang berarti bahwa peternakan dan hasilnya masih dapat diandalkan untuk dikembangkan di Kabupaten TTU.

Sektor lain yang memiliki kontribusi besar (11,94 %) adalah jagung, yang berarti bahwa sektor-sektor riil di Kabupaten TTU memiliki potensi pengembangan sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap sektor pemerintah yang memberikan kontribusi sebesar 11,80%. Besarnya kontribusi sektor pemerintah terhadap nilai tambah bruto disebabkan karena sektor pemerintah umumnya menjalankan fungsi pelayanan publik.

Sektor yang menarik untuk dibahas adalah sektor sayur dan buah-buahan yang pada nilai output berada pada urutan keenam namun menempati urutan keempat pada kontribusi terhadap nilai tambah bruto. Sektor sayuran dan buah-buahan umumnya merupakan produk sampingan dari budidaya tanaman utama (misalnya: padi, jagung) sehingga biaya yang dikeluarkan untuk sektor sayur dan buah umumnya telah termasuk di dalam biaya sektor lainnya. Walaupun demikian, terdapat beberapa biaya spesifik yang dikeluarkan tersendiri untuk usaha pada sektor sayur dan buah-buahan, terutama bagi sayur yang ditanam pada peralihan musim tanam. Sektor sayur dan buah-buahan cukup potensial untuk dikembangkan terutama di Kecamatan Miomafo Barat yang memiliki iklim cukup mendukung. Sayur seperti kentang, wortel, bawang merah dan bawang putih

(17)

serta buah-buahan jeruk keprok juga sering diekspor ke tempat lainnya. Rincian nilai tambah bruto dapat dilihat pada Tabel 51. berikut ini.

Tabel 51. Struktur Nilai Tambah Bruto sektoral Kabupaten TTU tahun 2006 No Sektor NTB

(RpJuta)

Kontribusi (%)

Ranking

1 Padi 20.565,58 3,65 10

2 Jagung 67.225,10 11,94 2

3 Kacang-kacangan 8.207,33 1,46 15

4 Umbi-umbian 21.659,70 3,85 9

5 Sayur dan buah-buahan 50.856,67 9,04 4 6 Tanaman bahan makan lainnya 459,93 0,08 36

7 Jambu mete 5.608,56 1,00 20

8 Kelapa 5.555,84 0,99 21

9 Kopi dan kakao 586,99 0,10 34

10 Kapuk/kapas 100,04 0,02 37

11 Kemiri 777,94 0,14 33

12 Pinang 5.232,01 0,93 22

13 Perkebunan lainnya 1.367,45 0,24 31 14 Peternakan dan hasilnya 69.431,80 12,34 1 15 Unggas dan hasil-hasilnya 18.541,80 3,29 11 16 Kayu hasil hutan 1.540,58 0,27 30 17 Hasil hutan lainnya 1.796,91 0,32 28

18 Perikanan 8.234,47 1,46 14

19 Pertambangan dan pengalian 5.131,18 0,91 23 20 Ind makanan dan minuman 4.746,10 0,84 24

21 Ind tenun ikat 3.019,42 0,54 27

22 Industri lainnya 1.713,27 0,30 29 23 Listrik dan air bersih 4.563,53 0,81 26

24 Bangunan 40.036,41 7,11 5

25 Perdagangan 37.747,95 6,71 6

26 H o t e l 532,08 0,09 35

27 Restoran 7.147,79 1,27 17

28 Angkutan darat 27.660,76 4,91 7

29 Angkutan laut 7.061,76 1,25 18

30 Jasa penunjang angkutan 4.731,56 0,84 25

31 Komunikasi 6.259,83 1,11 19

32 Bank dan lembaga keuangan lainnya 14.255,85 2,53 12 33 Real estat dan jasa perusahaan 8.065,88 1,43 16

34 Pemerintahan 66.404,76 11,80 3

35 Jasa sosial kemasyarakatan 21.828,13 3,88 8 36 Jasa hiburan dan rekreasi 961,58 0,17 32 37 Jasa perorangan rumahtangga dan

lainnya 13.219,29 2,35 13

Total 562.835,83

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

(18)

6.2.3. Analisa Keterkaitan Antar Sektor

Setiap sektor perekonomian memiliki keterkaitan dengan sektor lainnya dalam suatu wilayah. Sektor yang memiliki keterkaitan tertinggi dengan sektor lainnya memberikan efek pengganda yang tinggi terhadap perekonomian suatu wilayah sehingga memiliki nilai strategis dalam perencanaan pembangunan di suatu wilayah. Matriks kebalikan Leontif (I – A) -1 dapat digunakan untuk mengukur keterkaitan antara tingkat permintaan akhir dengan tingkat produksi. Keterkaitan antar sektor dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni (1) keterkaitan ke belakang, (2) keterkaitan ke depan.

a. Keterkaitan ke Belakang (Daya Menarik/Daya Penyebaran)

Keterkaitan ke belakang dikelompokkan menjadi 2, yaitu: (1) keterkaitan langsung ke belakang, dan (2) keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang.

Keterkaitan output langsung ke belakang menunjukkan akibat dari perubahan (meningkat ataupun menurun) output suatu sektor ekonomi tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut yang selanjutnya digunakan dalam proses produksi sehingga dikenal juga dengan daya menarik karena menarik sektor-sektor lainnya untuk ikut berkembang. Hasil analisis selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 52.

Kaitan langsung dan tidak langsung ke belakang ditunjukkan dari nilai koefisien penyebaran. Koefisien ini diperoleh dari pengolahan lebih lanjut matriks kebalikan Leontief terbuka dengan rumahtangga sebagai exogenous dari model. Hasil analisis selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 53.

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa sektor industri makanan dan minuman, pemerintah dan jasa sosial kemasyarakatan memiliki daya menarik (indeks penyebaran) tertinggi karena umumnya menggunakan input dari output secara umum dari sektor lainnya di Kabupaten TTU sehingga mengindikasikan perlunya pengembangan agroindustri di Kabupaten TTU. Selain itu, ada sektor-sektor ekonomi lainnya yang memiliki indeks penyebaran yang cukup tinggi (> 1) yang berarti memiliki potensi pengembangan karena dapat menarik sektor–sektor lainnya untuk berkembang. Sektor- sektor tersebut umumnya merupakan sektor sekunder dan tersier sehingga pengembangannya akan membuat perekonomian di Kabupaten TTU menjadi lebih dinamis.

(19)

Tabel 52. Keterkaitan langsung ke belakang setiap sektor ekonomi di Kabupaten TTU tahun 2006

No Sektor DBL SDBL Ranking

1 Padi 0,1470 0,5830 25

2 Jagung 0,0954 0,3783 30

3 Kacang-kacangan 0,0946 0,3753 31

4 Umbi-umbian 0,1016 0,4028 29

5 Sayur dan buah-buahan 0,0843 0,3344 32

6 Tanaman bahan makan lainnya 0,1519 0,6023 23

7 Jambu mete 0,1675 0,6643 22

8 Kelapa 0,1924 0,7631 19

9 Kopi dan kakao 0,0409 0,1620 36

10 Kapuk/kapas 0,0713 0,2829 34

11 Kemiri 0,1810 0,7177 21

12 Pinang 0,0315 0,1249 37

13 Perkebunan lainnya 0,2787 1,1052 14

14 Peternakan dan hasilnya 0,1906 0,7559 20 15 Unggas dan hasil-hasilnya 0,2011 0,7976 18

16 Kayu hasil hutan 0,1472 0,5836 24

17 Hasil hutan lainnya 0,0804 0,3190 33

18 Perikanan 0,1179 0,4677 27

19 Pertambangan dan pengalian 0,1245 0,4936 26 20 Ind makanan dan minuman 0,8146 3,2304 1

21 Ind tenun ikat 0,3174 1,2587 12

22 Industri lainnya 0,4650 1,8441 6

23 Listrik dan air bersih 0,3518 1,3949 9

24 Bangunan 0,4462 1,7694 7

25 Perdagangan 0,0694 0,2752 35

26 H o t e l 0,5122 2,0312 4

27 Restoran 0,5069 2,0101 5

28 Angkutan darat 0,3757 1,4900 8

29 Angkutan laut 0,1037 0,4112 28

30 Jasa penunjang angkutan 0,2551 1,0115 16

31 Komunikasi 0,3268 1,2958 11

32 Bank dan lembaga keuangan

lainnya 0,2411 0,9561 17

33 Real estat dan jasa perusahaan 0,2712 1,0756 15

34 Pemerintahan 0,5507 2,1838 3 35 Jasa sosial kemasyarakatan 0,6099 2,4188 2

36 Jasa hiburan dan rekreasi 0,3269 1,2964 10 37 Jasa perorangan rumahtangga dan

lainnya 0,2858 1,1333 13

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

*) Keterangan: DBL = direct backward linkage (keterkaitan langsung ke belakang).

SDBL = Standarlized direct backward linkage (keterkaitan langsung ke belakang yang distandarisasi)

(20)

Tabel 53. Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang setiap sektor ekonomi di Kabupaten TTU tahun 2006

No Sektor DIBL SDIBL Ranking

1 Padi 1,1797 0,8568 27

2 Jagung 1,1086 0,8052 32

3 Kacang-kacangan 1,1114 0,8072 31

4 Umbi-umbian 1,1175 0,8116 30

5 Sayur dan buah-buahan 1,0949 0,7952 34 6 Tanaman bahan makan lainnya 1,1899 0,8643 24

7 Jambu mete 1,2228 0,8882 22

8 Kelapa 1,2561 0,9124 19

9 Kopi dan kakao 1,0517 0,7639 36

10 Kapuk/kapas 1,0942 0,7947 35

11 Kemiri 1,2407 0,9011 21

12 Pinang 1,0424 0,7571 37

13 Perkebunan lainnya 1,3964 1,0142 17 14 Peternakan dan hasilnya 1,2443 0,9038 20 15 Unggas dan hasil-hasilnya 1,3102 0,9516 18 16 Kayu hasil hutan 1,1842 0,8601 26 17 Hasil hutan lainnya 1,1256 0,8176 29

18 Perikanan 1,1871 0,8622 25

19 Pertambangan dan pengalian 1,2146 0,8822 23 20 Ind makanan dan minuman 1,9784 1,4370 2 21 Ind tenun ikat 1,4559 1,0574 12 22 Industri lainnya 1,6947 1,2309 6 23 Listrik dan air bersih 1,5569 1,1308 10

24 Bangunan 1,6416 1,1923 8

25 Perdagangan 1,1076 0,8045 33

26 H o t e l 1,8211 1,3227 4

27 Restoran 1,7506 1,2715 5

28 Angkutan darat 1,6852 1,2240 7 29 Angkutan laut 1,1770 0,8549 28 30 Jasa penunjang angkutan 1,4502 1,0533 14

31 Komunikasi 1,5454 1,1224 11

32 Bank dan lembaga keuangan lainnya 1,4025 1,0187 16 33 Real estat dan jasa perusahaan 1,4530 1,0553 13 34 Pemerintahan 2,0152 1,4637 1 35 Jasa sosial kemasyarakatan 1,8467 1,3413 3 36 Jasa hiburan dan rekreasi 1,5617 1,1343 9 37 Jasa perorangan rumahtangga dan

lainnya 1,4256 1,0354 15

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

*) Keterangan: DIBL = direct and indirect backward linkage (keterkaitan langsung ke belakang).

SDIBL = Standarlized direct and indirect backward linkage (keterkaitan langsung ke belakang yang distandarisasi)

(21)

b. Keterkaitan ke Depan (Daya Mendorong/Derajat Penyebaran)

Keterkaitan ke depan dikelompokkan menjadi 2, yaitu: (1) keterkaitan output langsung ke depan, dan (2) keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan.

Keterkaitan output langsung ke depan menunjukkan akibat dari perubahan (meningkat ataupun menurun) output suatu sektor ekonomi di Kabupaten TTU terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut di wilayah tersebut. Sektor yang memiliki daya mendorong terbesar adalah sektor bangunan, pemerintah, padi, industri makanan dan minuman, peternakan dan hasil-hasilnya. Nilai keterkaitan ini menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikan dalam permintaan akhir sebesar satu satuan akan meningkatkan output sektor tersebut melebihi sektor lainnya karena output dari sektor tersebut digunakan untuk kegiatan-kegiatan sektor lainnya dalam volume yang besar. Urutan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 54.

Kaitan langsung dan tidak langsung ke depan ditunjukkan oleh derajat kepekaan.

Koefisien ini merupakan suatu indeks yang menunjukkan efek relatif yang disebabkan oleh suatu sektor ekonomi terhadap peningkatan output sektor-sektor lain yang menggunakan output sektor tersebut baik langsung maupun tidak langsung karena peningkatan output dari sektor tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor-sektor yang memiliki derajat kepekaan tertinggi adalah jagung, peternakan dan hasilnya, perdagangan, angkutan darat, bank dan lembaga keuangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa selain sektor primer, sektor sekunder dan tersier juga mulai berkembang di Kabupaten TTU. Urutan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 55.

Dalam mengembangkan kawasan perbatasan di Kabupaten TTU menjadi kawasan agropolitan, sektor riil yang perlu ditumbuhkembangkan adalah usahatani jagung, padi, peternakan dan hasil-hasilnya, serta industri makanan dan minuman. Sektor-sektor tersebut akan mendorong sektor lainnya untuk ikut berkembang di Kabupaten TTU. Oleh karena itu, masyarakat madani sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap pengembangan kapasitas produksi dari jagung, padi, peternakan dan hasilnya harus dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai agar dapat mengembangkan usahanya dengan lebih berorientasi pada usaha yang komersil sehingga dapat melakukan aktifitas pengembangan industri makanan dan minuman serta pemasaran dari produk- produk tersebut, agar selanjutnya dapat memperoleh nilai tambah yang besar.

(22)

Tabel 54. Keterkaitan langsung ke depan setiap sektor ekonomi di Kabupaten TTU tahun 2006

No Sektor DFL SDFL Ranking

1 Padi 0,7649 3,0332 3

2 Jagung 0,1075 0,4262 18

3 Kacang-kacangan 0,0733 0,2907 22

4 Umbi-umbian 0,1801 0,7143 14

5 Sayur dan buah-buahan 0,5624 2,2304 8

6 Tanaman bahan makan lainnya 0,0541 0,2145 25

7 Jambu mete 0,0290 0,1150 30

8 Kelapa 0,2099 0,8322 12

9 Kopi dan kakao 0,0219 0,0868 32

10 Kapuk/kapas 0,0168 0,0667 33

11 Kemiri 0,0514 0,2039 27

12 Pinang 0,0274 0,1088 31

13 Perkebunan lainnya 0,1432 0,5680 16

14 Peternakan dan hasilnya 0,6946 2,7544 5 15 Unggas dan hasil-hasilnya 0,0702 0,2783 23

16 Kayu hasil hutan 0,0465 0,1846 29

17 Hasil hutan lainnya 0,0105 0,0415 34

18 Perikanan 0,0676 0,2679 24

19 Pertambangan dan pengalian 0,0808 0,3205 21 20 Ind makanan dan minuman 0,7622 3,0226 4

21 Ind tenun ikat 0,2513 0,9964 11

22 Industri lainnya 0,0500 0,1981 28

23 Listrik dan air bersih 0,0525 0,2081 26

24 Bangunan 1,1663 4,6251 1

25 Perdagangan 0,6565 2,6034 6

26 H o t e l 0,0077 0,0306 35

27 Restoran 0,0040 0,0160 36

28 Angkutan darat 0,6545 2,5956 7

29 Angkutan laut 0,1335 0,5294 17

30 Jasa penunjang angkutan 0,1027 0,4072 19

31 Komunikasi 0,1013 0,4019 20

32 Bank dan lembaga keuangan

lainnya 0,4181 1,6580 9

33 Real estat dan jasa perusahaan 0,1687 0,6689 15

34 Pemerintahan 0,9895 3,9241 2 35 Jasa sosial kemasyarakatan 0,4127 1,6366 10

36 Jasa hiburan dan rekreasi 0,0025 0,0100 37 37 Jasa perorangan rumahtangga dan

lainnya 0,1841 0,7299 13

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

*) Keterangan: DFL = direct forward linkage (keterkaitan langsung ke depan).

SDFL = Standarlized direct forward linkage (keterkaitan langsung ke depan yang distandarisasi)

(23)

Tabel 55. Keterkaitan ke depan langsung dan tidak langsung setiap sektor ekonomi di Kabupaten TTU tahun 2006

No Sektor DIFL SDIFL Ranking

1 Padi 0,0007 0,0232 7

2 Jagung 1,0882 36,3192 1

3 Kacang-kacangan 0,0000 0,0003 26

4 Umbi-umbian 0,0002 0,0068 13

5 Sayur dan buah-buahan 0,0002 0,0052 15 6 Tanaman bahan makan lainnya 0,0000 0,0002 28

7 Jambu mete 0,0000 0,0002 29

8 Kelapa 0,0000 0,0008 21

9 Kopi dan kakao 0,0000 0,0000 34 10 Kapuk/kapas 0,0000 0,0000 35

11 Kemiri 0,0000 0,0000 36

12 Pinang 0,0000 0,0002 30

13 Perkebunan lainnya 0,0000 0,0003 24 14 Peternakan dan hasilnya 0,0088 0,2932 2 15 Unggas dan hasil-hasilnya 0,0000 0,0001 33 16 Kayu hasil hutan 0,0000 0,0005 23 17 Hasil hutan lainnya 0,0000 0,0001 32

18 Perikanan 0,0000 0,0003 25

19 Pertambangan dan pengalian 0,0000 0,0010 20 20 Ind makanan dan minuman 0,0002 0,0081 12 21 Ind tenun ikat 0,0000 0,0012 18 22 Industri lainnya 0,0001 0,0023 16 23 Listrik dan air bersih 0,0000 0,0006 22

24 Bangunan 0,0004 0,0125 10

25 Perdagangan 0,0028 0,0951 3

26 H o t e l 0,0000 0,0001 31

27 Restoran 0,0000 0,0003 27

28 Angkutan darat 0,0026 0,0866 4 29 Angkutan laut 0,0006 0,0200 8 30 Jasa penunjang angkutan 0,0004 0,0135 9

31 Komunikasi 0,0000 0,0016 17

32 Bank dan lembaga keuangan lainnya 0,0015 0,0490 5 33 Real estat dan jasa perusahaan 0,0000 0,0011 19 34 Pemerintahan 0,0012 0,0396 6 35 Jasa sosial kemasyarakatan 0,0002 0,0054 14 36 Jasa hiburan dan rekreasi 0,0000 0,0000 37 37 Jasa perorangan rumahtangga dan

lainnya 0,0003 0,0114 11

Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah

*) Keterangan: DIFL = direct dan indirect forward linkage (keterkaitan langsung ke depan).

SDIFL = Standarlized direct and indirect forward linkage (keterkaitan langsung ke depan yang distandarisasi)

(24)

Hasil analisis keterkaitan ke depan dan ke belakang dapat digabungkan ke dalam analisis kuadran dengan menempatkan keterkaitan ke depan sebagai sumbu vertikal dan keterkaitan ke belakang sebagai sumbu horisontal. Penempatan sumbu vertikal dan horisontal pada angka 1 yang berarti sektor-sektor yang nilai keterkaitannya > 1 merupakan sektor yang keterkaitannya lebih besar dari rata-rata dan potensial untuk dikembangkan. Kuadran I sebagai kuadran yang memiliki keterkaitan ke depan tinggi namun memiliki keterkaitan ke belakang yang rendah. Sedangkan kuadran II merupakan kuadran yang memuat sektor-sektor yang memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang tinggi.

Kuadran III memuat sektor-sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang yang tinggi, namun memiliki keterkaitan ke depan yang rendah. Sedangkan kuadran IV berisi sektor-sektor yang memiliki keterkaitan langsung ke depan maupun ke belakang yang rendah. Hasil analisis kuadran untuk keterkaitan langsung ke depan dan keterkaitan langsung ke belakang dapat dilihat pada Gambar 10. berikut ini.

Keterangan: SDFL = Standarlized direct forward linkage (keterkaitan langsung ke depan).

SDBL = Standarlized direct backward linkage (keterkaitan langsung ke belakang yang distandarisasi)

Gambar 10. Hasil analisa kuadran keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang

Kuadran I :

Hotel, restoran, industri tenun ikat, industri lainnya, listrik dan air bersih, jasa hiburan dan rekreasi, komunikasi, jasa penunjang angkutan, bank dan lembaga keuangan lainnya, real estatedanjasa perusahaan, jasa perorangan RT dan lainnya

SDBL

1

Kuadran II :

Industri makanan dan minuman, jasa sosial kemasyarakatan, pemerintahan, bangunan, angkutan darat

Kuadran III : Peternakan, padi ,

sayur dan buah, perdagangan Kuadran IV :

Unggas dan hasilnya, kemiri, jambu mete, tanaman bahan makanan lainnya, pertambangan dan penggalian, angkutan laut, kacang- kacangan, kayu hasil hutan, kapuk, pinang, kopi dan kakao

SDFL

1

(25)

Sedangkan analisis kuadran untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang dapat dilihat pada Gambar 11. berikut ini.

Keterangan: SDIFL = Standarlized direct and indirect forward linkage (keterkaitan langsung ke depan).

SDIBL = Standarlized direct and indirect backward linkage (keterkaitan langsung ke belakang yang distandarisasi)

Gambar 11. Hasil analisa kuadran keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang

Hasil analisis sebagaimana ditampilkan pada Gambar 10. dan Gambar 11.

menunjukkan bahwa sektor-sektor yang memiliki keterkaitan tertinggi baik ke depan maupun ke belakang (kuadran II) adalah sektor industri makanan dan minuman, jasa sosial kemasyarakatan, pemerintahan, bangunan dan angkutan darat. Sektor–sektor ini dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian, walaupun demikian, sektor- sektor tersebut memiliki nilai keterkaitan yang hampir optimal.

Pengembangan perekonomian di Kabupaten TTU dapat dilakukan dengan mengembangkan sektor-sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang yang tinggi namun memiliki keterkaitan ke depan yang rendah (kuadran III). Sektor-sektor tersebut adalah peternakan dan hasil-hasilnya, sayur dan buah-buahan, padi dan perdagangan. Sektor ini

Kuadran I : Jagung.

SDIBL

1

Kuadran II :

Kuadran III :

industri makanan dan minuman, industri tekstil, industri lainnya, listrikdanair bersih, bangunan, hotel, restoran, Perkebunan lain, angkutan darat, jasa penunjang angkutan, komunikasi, bankdan lembaga keuangan nirbank, real estate, pemerintahan, jasa sosial kemasyarakatan, jasa hiburandan rekreasi, jasa perorangan dan RT.

Kuadran IV :

Padi, kacang-kacangan, umbi- umbian, sayur dan buah, tanaman bahan makanan lain, jambu mete, kelapa, kopidankakao, kemiri, kapuk, peternakandan hasilnya,

unggasdanhasilnya, kayu hasil hutan, hasil hutan lainnya, perikanan, pertambangan, perdagangan, angkutan laut.

SDIFL

1

Gambar

Tabel 45. Hasil analisis LQ dan SSA
Tabel 46. Struktur permintaan akhir menurut komponennya di Kabupaten TTU tahun          2006
Tabel 47. Struktur permintaan akhir per sektor Kabupaten TTU  tahun 2006  No Sektor  D Akhir  (Rp Juta)  Kontribusi (%)  Ranking  1   Padi  0,00 0,00  37  2   Jagung 66.555,18 11,44  3  3   Kacang-kacangan  8.305,99 1,43  15  4   Umbi-umbian  17.662,61 3,0
Tabel 48. Kontribusi penyusun input total Kabupaten TTU tahun 2006
+7

Referensi

Dokumen terkait

Lima sektor produksi di propinsi Nusa Tenggara Barat yang memberikan nilai tambah bruto terbesar secara berturut-turut, sebagaimana disajikan pada Tabel 33, adalah :

Sektor-sektor ekonomi manakah yang menjadi sektor unggulan di Kabupaten pati di masa yang akan datang. Bagaimanakah gambaran pola dan struktur pertumbuhan

IWAN SETIAWAN. Arahan Pengembangan Sektor Pertanian Kabupaten Sumbawa berbasis Komoditas Unggulan Daerah. Dibimbing oleh DWI PUTRO TEJO BASKORO dan MUHAMMAD

Berdasarkan analisis Dynamic Location Quotient menunjukkan bahwa sektor ekonomi yang diharapkan tetap menjadi sektor unggulan di masa yang akan datang adalah enam sektor di

Analisis Pergeseran Sektor Ekonomi Unggulan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Jember; Titis Wahyu Widya Indra Lestari; 090810101041; 2013; 80 Halaman; Jurusan Ilmu

Dengan menggunakan beberapa analisis alternatif, dapat diketahui bahwa sektor-sektor ekonomi yang menjadi sektor unggulan dalam pembangunan perekonomian di

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sektor ekonomi unggulan di Kabupaten Batanghari. Alat analisis yang digunakan adalah location quotient, dinamic

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sektor ekonomi unggulan di Kabupaten Batanghari. Alat analisis yang digunakan adalah location quotient, dinamic