• Tidak ada hasil yang ditemukan

GUGUR Oleh : W.S. Rendra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GUGUR Oleh : W.S. Rendra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

GUGUR

Oleh : W.S. Rendra

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya Tiada kuasa lagi menegak

Telah ia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnya

Ke dada musuh yang merebut kotanya Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya Ia sudah tua

luka-luka di badannya Bagai harimau tua

susah payah maut menjeratnya Matanya bagai saga

menatap musuh pergi dari kotanya Sesudah pertempuran yang gemilang itu lima pemuda mengangkatnya

di antaranya anaknya Ia menolak

dan tetap merangkak

menuju kota kesayangannya Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya Belum lagi selusin tindak mautpun menghadangnya.

Ketika anaknya memegang tangannya ia berkata :

” Yang berasal dari tanah kembali rebah pada tanah. Dan aku pun berasal dari tanah tanah Ambarawa yang kucinta Kita bukanlah anak jadah

Kerna kita punya bumi kecintaan. Bumi yang menyusui kita

dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah. Bumi kita adalah kehormatan.

Bumi kita adalah jiwa dari jiwa. Ia adalah bumi nenek moyang. Ia adalah bumi waris yang sekarang. Ia adalah bumi waris yang akan datang.” Hari pun berangkat malam

(2)

Orang tua itu kembali berkata : “Lihatlah, hari telah fajar ! Wahai bumi yang indah,

kita akan berpelukan buat selama-lamanya! Nanti sekali waktu

seorang cucuku

akan menacapkan bajak di bumi tempatku berkubur kemudian akan ditanamnya benih dan tumbuh dengan subur

Maka ia pun berkata :

-Alangkah gemburnya tanah di sini!” Hari pun lengkap malam

(3)

GERILYA Oleh : W S Rendra

Tubuh biru tatapan mata biru lelaki terguling di jalan

Angin tergantung

terkecap pahitnya tembakau bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru tatapan mata biru lelaki terguling di jalan

Dengan tujuh lubang pelor diketuk gerbang langit dan menyala mentari muda melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah dengan sayur-mayur di punggung melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis dan duka daun wortel

Tubuh biru tatapan mata biru lelaki terguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya anak janda berambut ombak

ditimba air bergantang-gantang disiram atas tubuhnya

Tubuh biru tatapan mata biru lelaki terguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani berlindung warna malam

sendiri masuk kota ingin ikut ngubur ibunya

(4)

Selamat Pagi Indonesia Oleh : Supardi Djoko Damono

selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk dan menyanyi kecil buatmu.

aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,

dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam kerja yang sederhana;

bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.

selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah, di mata para perempuan yang sabar,

di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan; kami telah bersahabat dengan kenyataan

untuk diam-diam mencintaimu.

pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu agar tak sia-sia kau melahirkanku.

seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam

padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya. aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,

merubuhkan kesangsian,

dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng

kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman yang megah,

biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat, para perempuan menyalakan api,

dan di telapak tangan para lelaki yang tabah

telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura. Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil

memberi salam kepada si anak kecil; terasa benar : aku tak lain milikmu

(5)

MENATAP MERAH PUTIH Oleh : Supardi Djoko Damono

Menatap merah putih

melambai dan menari – nari di angkasa

kibarannya telah banyak menelan korban nyawa dan harta benda

berkibarnya merah putih

yang menjulang tinggi di angkasa

selalu teriring senandung lagu Indonesia Raya dan tetesan air mata

dulu, ketika masa perjuangan pergerakan kemerdekaan untuk mengibarkan merah putih

harus diawali dengan pertumpahan darah pejuang yang tak pernah merasa lelah untuk berteriak : Merdeka!

menatap

merah putih adalah perlawanan melawan angkara murka membinasakan penindas dari negeri tercinta

Indonesia

menatap

merah putih adalah bergolaknya darah demi membela kebenaran dan azasi manusia menumpas segala penjajahan

di atas bumi pertiwi

menatap

merah putih adalah kebebasan yang musti dijaga dan dibela kibarannya di angkasa raya

berkibarlah terus merah putihku dalam kemenangan dan kedamaian

(6)

Kembalikan Indonesia Padaku

(Taufik Ismail)

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya, Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,

sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam

dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan, Kembalikan

Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian, Kembalikan

Indonesia padaku

(7)

SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH Oleh : Taufiq Ismail

Sebuah jaket berlumur darah Kami semua telah menatapmu Telah berbagi duka yang agung Dalam kepedihan berahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita Di bawah terik matahari Jakarta Antara kebebasan dan penindasan Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan' Berikrar setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu Kami semua telah menatapmu Dan di atas bangunan-bangunan Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana Melalui kendaraan yang melintas Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan

teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata Semuanya berkata

LANJUTKAN PERJUANGAN

(8)

NYANYIAN KEMERDEKAAN Ahmadun Yosi Herfanda

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Akankah kau biarkan aku duduk berduka Memandang saudaraku, bunda pertiwiku Dipasung orang asing itu?

Mulutnya yang kelu

Tak mampu lagi menyebut namamu Berabad-abad aku terlelap

Bagai laut kehilangan ombak Atau burung-burung yang semula Bebas di hutannya

Digiring ke sangkar-sangkar Yang terkunci pintu-pintunya

Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya Berikan suaramu, kemerdekaan

Darah dan degup jantungmu Hanya kau yang kupilih

Di antara pahit-manisnya isi dunia Orang asing itu berabad-abad Memujamu di negerinya Sementara di negeriku

Ia berikan belenggu-belenggu Maka bangkitlah Sutomo

Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro Bangkitlah semua dada yang terluka

“Bergenggam tanganlah dengan saudaramu Eratkan genggaman itu atas namaku

Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.” Suaramu sayup di udara

Membangunkanku

Dari mimpi siang yang celaka

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Berikan degup jantungmu

Otot-otot dan derap langkahmu Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu Atau mendobraknya atas namamu Terlalu pengap udara yang tak bertiup Dari rahimmu, kemerdekaan

Jantungku hampir tumpas Karena racunnya

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia! (Matahari yang kita tunggu

Akankah bersinar juga Di langit kita?).

(9)

WAJAH KITA

Hamid Jabbar

bila kita selalu berkaca setiap saat dan di setiap tempat

maka tergambarlah: alangkah bermacamnya wajah kita

yang berderet bagai patung di toko mainan di jalan braga

wajah kita adalah wajah bulan yang purnama dan coreng moreng serta gradakan dan bopeng-bopeng wajah kita adalah wajah manusia yang bukan lagi manusia

dan terbenam dalam wayang wajah kita adalah wajah rupawan yang bersolek menghias lembaran kitab suci dan kitab undang-undang wajah kita adalah wajah politisi yang mengepalkan tangan bersikutan menebalkan muka meraih kedudukan wajah kita adalah wajah setan

yang menari bagai bidadari merayu kita menyatu onani bila kita selalu berkaca dengan kaca yang buram tak sempurna

maka tergambarlah: alangkah berperseginya: wajah kita

yang berkandang bagai binatang di kota di taman margasatwa

wajah kita adalah wajah serigala yang mengaum menerkam mangsanya dengan buas, lahap dan gairahnya wajah kita adalah wajah anjing yang mengejar bangkai dan kotoran di tong sampah dan selokan-selokan wajah kita adalah wajah kuda yang berpacu mengelus bayu mendenguskan napas-napas napsu wajah kita adalah wajah babi yang menyeruduk dalam membuta menyembah tumpukan harta-benda wajah kita adalah wajah buaya yang menatap dalam riangnya

(10)

bila kita selalu berkaca dengan kaca yang mengkilap dan rata

maka tergambarlah: alangkah berseadanya wajah kita

yang mendengar segala erang

berkerendahan hati dan berkelapangan dada: wajah kita adalah wajah

yang kurang tambah serta selebihnya

wajah kita adalah wajah yang sujud rebah

bagi-Nya jua

wajah kita adalah wajah yang bukan wajah hanya fatamorgana 1972

(11)

SAJAK SEORANG PRAJURIT

Karya Suminto A. Sayuti

(seorang prajurit telah meninggalkan pabarisan sebab sebuah keyakinan bersarang di kalbunya: orang tak harus menang

palagan ditinggalkan

terompet perang tak didengarkan gendawa ditinggalkan

busur dipatahkan).

ya, akulah seorang prajurit yang lolos dan mencoba lolos dari kurusetra menjadi seonggok sajak yang tersesat di pinggir belantara.

yang mencatat aum serigala

yang mencatat cericit burung di belukar yang basah oleh embun

yang kering oleh matahari yang terjun dalam jeram

yang tersesat dalam ruang tata warna. telah kutinggalkan palagan

sebab palagan sebenarnya ada dalam badan telah kutanggalkan gendawa sebab gendawa sebenarnya hati tanpa wasangka

telah kupatahkan busur

sebab busur sebenarnya keberanian tak pernah luntur. akulah prajurit yang telah terpisah dari pabarisan dan menciptakan medan dalam sanubari

Pandawa-korawa dalam daging-daging berduri Krisna dalam samadi

kemenangan dalam angan-angan panah, kereta, tombak,

kuda, darah, strategi, tulang, singgasana, Sejarah...

dalam diri

akulah prajurit dengan sejuta tombak tertancap

yang lolos dari genangan darah, tonggak-tonggak tulang kerikil gigi, ganggang rambut, panji-panji perang. akulah prajurit bersimbah darah

yang menyusun jitapsara dengan tinta kehidupan duduk sendiri di pinggir hutan.

(12)

dengan senandung air mengalir irama ganggang tak kenal akhir akulah prajurit yang diharapkan dapat mematahkan lawan

dengan telak dalam satu kali gempuran

ya, akulah yang banyak berharap dan diharapkan sehabis usia lunas di sini:

perempuan-perempuan desa

tak lagi menjadi buruh-buruh industri kota tak lagi membanjiri lokal-lokal prostitusi untuk sekadar mempertahankan hidupnya para petani tak lagi berpikir

dan bertanya-tanya

besok pagi kita makan apa para penguasa

tak lagi berorientasi pada status, jabatan, kursi, kewenangan, dan sejengkal perut

dan bakal terlahir atas nama sukmamu

seorang pembela kawula yang celaka dan tertindas dari denyut ke denyut, dari waktu ke waktu

akulah seorang prajurit yang terluka dan lari dari medan pebarisan tapi, luka itu tak lagi berdarah dan menyiksa Cinta berbunga

(13)

DIALOG BUKIT KAMBOJA

D. Zawawi Imron

Inilah ziarah di tengah nisan nisan tengadah Di bukit serba kamboja matahari dan langit lelah

Seorang nenek, pandangnya tua memuat jarum cemburu Menanyakan, mengapa aku berdoa di kubur itu

“Aku anak almarhum “ , Jawabku dengan suara gelas jatuh Pipi keriput itu menyimpan bekas sayatan waktu

“Lewat berpuluh kemarau telah kuberikan kubur di depan mu Karena kuanggap kubur anakku”

Hening merangkak lambat bagai langkah siput Tanpa sebuah sebab senyumnya lalu merekah Seperti puisi mekar pada lembar bunga basah “Anakku mati di medan laga, dahulu

Saat Bung Tomo mengipas bendera dengan takbir Berita ini kekal jadi sejarah: Surabaya pijar merah Ketika itu sebuah lagu jadi agung dalam derap Bahkan pada bercak darah yang hampir lenyap” Jauh di lembah membias rasa syukur

Pada hijau ladang sayur, karena laut bebas debur “Aku telah lelah mencari kuburnya dari sana ke mana Tak ketemu. Tak ada yang tahu

Sedang aku ingin ziarah menyampaikan terima kasih Atas gugurnya : mati yang direnungkan melati Kubur ini memadailah, untuk mewakilinya” “ Tapi ayahku sepi Pahlawan

Tutur orang terdekat , saat ia wafat

Jasadnya hanya satu tingkat di atas ngengat Tapi ia tetap ayahku. Tapi ia bukan anakmu” “ Apa salahnya kalau sesekali

Kubur ayahmu kujadikan alamat rindu

Dengan ziarah, oleh harum kamboja yang berat Gemuruh dendamku kepada musuh jadi luruh” Sore berangkat ke dalam remang

Ke kelopak kelelawar

(14)

Beri aku apa saja kata atau senjata !”

“Aku orang tak bisa memberi, padamu bisaku Cuma meminta. Jika engkau bambu, jadilah saja bambu runcing

Jangan sembilu, atau yang membungkuk depan sembilu Kelam mendesak kami berkisah. Di hati tidak

Anginpun tiba dari tenggara . Daun-daun dan bunga ilalang Memperdengarkan gamelan doa

Memacu roh agar aku tidak jijik menyeka nanah Pada anak-anak desa dibawah

Untuk sebuah hormat

Sebuah cinta yang senapas dengan bendera Tidak sekadar untuk sebuah malu.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian difokuskan pada pergeseran rima, pergeseran majas, pergeseran diksi, serta pengaruh pergeseran tersebut terhadap kualitas terjemahan puisi-puisi dalam

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar resepsi aspek emosional mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2016 terhadap kumpulan puisi

Apakah kita akan membiarkan diri kita tertunduk dan larut dalam ketakutan atau keputusasaan, atau berjalan dengan wajah yang terangkat penuh sukacita dan pengharapan karena yakin

Data penelitian sastra adalah bahan penelitian atau lebih tepatnya bahan jadi penelitian yang terdapat dalam karya sastra yang akan diteliti (Sangidu, 2004: 41). Data dalam