1
Analisis Pemanfaatan Teknologi Informasi Menggunakan Pendekatan
Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2
(Studi Kasus : Flexible Learning (F-Learn) UKSW)
Adi Tio Christiono 1, Johan J.C. Tambotoh 2
Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711, Indonesia
Email : 1) [email protected], 2)[email protected]
Abstrak
Implementasi teknologi informasi pada suatu organisasi diharapkan mampu meningkatkan kinerja dan mendukung proses bisnis. Adopsi teknologi informasi oleh individu dan organisasi telah menjadi area of interest penelitian sejak awal komputerisasi. Aplikasi pembelajaran berbasis elektronik (e-learning) yang digunakan di UKSW atau yang dikenal dengan sebutan F-Learn UKSW merupakan media pembelajaran teknologi informasi yang berfungsi untuk mendukung proses belajar mengajar. Masih ditemui berbagai kendala dalam implementasi aplikasi ini yang menyebabkan minimnya pemanfaatan teknologi ini dalam proses belajar mengajar. Unified
Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT 2) merupakan model penerimaan teknologi yang
digunakan dalam penelitian untuk menggambarkan proses penerimaan teknologi informasi terhadap aplikasi F-Learn UKSW yang meliputi konstruk performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating
conditions, hedonic motivation, price value dan habit. Untuk mendapatkan gambaran pemanfaatan teknologi
maka penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai manfaat yang dapat memenuhi kebutuhan dan meningkatkan produktivitas kinerja, infrastruktur dan interface, tuntutan yang merupakan tanggungjawab serta kebutuhan prioritas proses belajar mengajar dan lingkungan kerja, pengenalan dan pelatihan, minat pengguna terhadap teknologi informasi, serta kebiasaan pengguna terhadap penggunaan teknologi informasi merupakan aspek penting dalam implementasi F-Learn UKSW.
Kata kunci : Implementasi Teknologi Informasi, UTAUT 2, Deskriptif Kualitatif
1. Pendahuluan
Kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat membuat hal ini tidak dapat dihindari. Saat ini teknologi informasi semakin banyak diterapkan sebagai pendukung proses bisnis dalam berbagai organisasi [1]. Hal ini disebabkan oleh manfaat yang diberikan dari teknologi informasi yaitu sebagai fasilitas organisasi dalam hal pengolahan data dan penyampaian informasi. Selain itu teknologi juga berperan sebagai alat bantu dalam proses pengambilan keputusan bisnis pada berbagai fungsi manajerial di dalam organisasi untuk mampu bersaing di era persaingan global.
F-Learn UKSW merupakan salah satu media yang berguna untuk menunjang proses pembelajaran yang ada di Universitas Kristen Satya Wacana. F-Learn UKSW diharapkan bisa menjadi partner dosen untuk mengurangi waktu menjelaskan ulang materi pengajarannya dan bisa menjadi partner belajar mandiri mahasiswa. Dengan memanfaatkan F-Learn, mahasiswa tidak lagi menunggu materi yang
diberikan dosen dan menunggu buku referensi di perpustakaan yang kebetulan terlebih dahulu dipinjam. Namun disisi lain pemanfaatan F-Learn membawa dampak tersendiri bagi penggunanya, baik itu pengajar ataupun mahasiswa, yaitu masih terdapat beberapa pengajar dan mahasiswa yang bisa dikatakan belum aktif menggunakan media pembelajaran F-Learn. Hal tersebut menyebabkan tidak sepenuhnya mahasiswa mampu untuk menyerap materi perkuliahan karena materi hanya didapat pada saat pertemuan tatap muka saja dengan pengajar di kelas, dimana sebelumnya mahasiswa tidak dapat mempelajari materi perkuliahan terlebih dahulu. Selain itu tidak meratanya pengajar dan mahasiswa dalam menggunakan F-Learn juga menyebabkan pemanfaatan F-Learn yang disediakan universitas kurang maksimal.
Berbagai kerangka / model penerimaan teknologi informasi dikembangkan untuk mendukung proses adopsi teknologi informasi, salah satunya Unified Theory of Acceptance and Use
2
salah satu model penerimaan teknologi terkini yang dikembangkan oleh Venkatesh, dkk [2]. Dalam pemanfaatan dan penerimaan teknologi informasi yang diadopsi Venkatesh, dkk [3] menyoroti tujuh konstruk yang tampak menjadi determinan yang signifikan terhadap behavioral intention atau use
behavior dalam satu atau lebih di masing-masing
model. Konstruk-konstruk tersebut adalah
performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, hedonic motivation, price value dan habit. Tujuan utama
penelitian menggunakan UTAUT 2 adalah membantu organisasi untuk memahami bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung kinerja organisasi.
2. Landasan Teori
UTAUT merupakan salah satu model penerimaan teknologi terkini yang dikembangkan oleh Venkatesh, dkk [2]. Tujuan utama penelitian menggunakan UTAUT adalah membantu organisasi untuk memahami pemanfaatan teknologi [4]. Pada awalnya, UTAUT dikembangkan dari Technology Acceptance Model (TAM) pada tahun 2003 dengan empat konstruk yang mempengaruhi niat perilaku untuk menggunakan teknologi yaitu: performance
expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions.
Sampai saat ini Unified Theory of Acceptance
and Use of Technology (UTAUT) sudah dikembangkan kembali dari konteks organisasi menjadi konteks konsumen individu yang diberi nama Model UTAUT 2 dimana habit, hedonic
motivation dan price value ditambahkan sebagai
konstruksi baru [3].
3. Metode Penelitian
Metode Penelitian yang digunakan merupakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hal ini untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam serta lebih memahami keadaan yang ada dilapangan secara spesifik tanpa ada rekayasa apapun [5] [6]. Pertanyaan wawancara yang disampaikan kepada key informant akan mendapatkan penjelasan yang lebih spesifik sesuai dengan pengalaman dan apa yang dirasakan selama ini, sehingga peneliti dapat terhindar dari bias asumsi yang biasa dibuat oleh para peneliti [7].
Tahapan Penelitian
Terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam penelitian ini, tahapan penelitian dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.
Tahap 1 Perencanaan Tahap 2 Pengumpulan Data Tahap 3 Analisa Data Tahap 4 Kesimpulan dan Penulisan Laporan Metode : · Observasi Lapangan · Analisis Permasalahan Luaran :
Temuan berupa latar belakang masalah yang layak untuk dikaji dalam penelitian terkait
pemanfaatan F-Learn UKSW serta menentukan desain pemecahan masalah.
Metode :
· Wawancara
· Dokumentasi
Luaran :
Perolehan data dalam bentuk audio visual yang merupakan data primer penelitian.
Metode :
· Analisis Deskriptif
Luaran :
Uraian transkripsi data dalam bentuk teks dan pengkategorian temuan berdasarkan konstruk teori penelitian. Metode : · Pembuatan laporan Skripsi. Luaran :
Menarik kesimpulan yang
dituangkan dalam bentuk laporan skripsi.
Gambar 1 Tahapan Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Observasi adalah pengumpulan data yang diperoleh dari pengamatan secara langsung (survey)
terhadap aktifitas penggunaan F-Learn. Wawancara (interview) adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui tanya jawab dengan pihak yang
3
menggunakan atau yang terlibat aktif dalam menggunakan F-Learn untuk mendapatkan informasi dan data yang diperlukan dalam penelitian.
Dokumentasi atau studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan cara mencatat data-data dari dokumen atau arsip yang ada di UKSW.
Model Penelitian
Melihat definisi yang mengarah pada penerimaan teknologi informasi dan tujuan dari
model UTAUT 2 untuk mengetahui sejauh mana penggunaan teknologi informasi yang dipengaruhi oleh beberapa konstruk dari model UTAUT 2. Model UTAUT 2 akan dijadikan sebuah model penelitian yang akan mengidentifikasi berbagai faktor yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku pengguna dalam menggunakan sistem informasi F-Learn dimana masih terdapat pengajar dan mahasiswa yang belum aktif menggunakan. Gambar UTAUT 2 dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.
.
Gambar 2 Model UTAUT 2 [3]
Berdasarkan objek yang dikaji yaitu F-Learn UKSW model penelitian UTAUT 2 telah dimodifikasi dengan menghilangkan konstruk utama
price value serta konstruk pendukung age dan gender. konstruk Price Value dari UTAUT 2
dihilangkan karena studi kasus penelitian berikutnya merupakan fasilitas teknologi informasi yang tersedia tanpa mengeluarkan biaya bagi pengguna. Kemudian variabel lain yang diselidiki oleh Venkatesh, dkk, (2012) age dan gender tidak dimasukkan, karena tanpa efek yang signifikan.
Gender dan age dikatakan tidak signifikan, karena
dalam pemanfaaan F-Learn jika dilihat dari sudut pandang profesi sebagai dosen dan juga mahasiswa konstrak pendukung age dan gender tidak berlaku. Pengguna dari sistem informasi sebatas oleh mahasiswa dan dosen, sehingga tidak melihat berapa
usia dan apa jenis kelamin penggunanya. Oleh karena itu enam konstruk dari UTAUT 2 akan dijadikan dasar teori untuk menilai penerapan teknologi informasi sebagai sumber daya yang mampu meningkatkan efektifitas kerja.
Key Informant
Proses wawancara pertama kali dilakukan kepada Prof. Ferdy S. Rondonuwu selaku Pembantu Rektor 1 UKSW, kemudian Prihanto Ngesti Basuki yang menjadi Direktur BTSI UKSW serta Nindito Adi penanggungjawab BTSI / F-Learn. Setelah proses wawancara dari ketiga pimpinan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan wawancara kepada dosen dan mahasiswa yang dipilih dan dianggap cukup representatif dari jumlah total dari keseluruhan pengguna F-Learn di UKSW.
4
4. Hasil dan PembahasanDari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada masing-masing key informant didapatkan berbagai temuan terkait pemanfaatan sistem informasi F-Learn yang dibagi sesuai dengan kategori masing-masing temuan yang ada dilapangan, yaitu pemahaman UTAUT 2.
Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2
Performance expectancy dalam UTAUT 2
menjelaskan tentang sejauh mana individu percaya bahwa menggunakan sistem akan membantu seseorang untuk mencapai keuntungan dalam bekerja. Melihat hasil belajar mengajar mahasiswa dan dosen, peran F-learn selama ini dinilai sangat efektif dan produktif untuk digunakan hal tersebut dinyatakan oleh Johan Tambotoh salah satu staff pengajar “F-Learn yang sudah digunakan sejak 2008 itu sangat membantu dalam pencapaian produktifitas kerja sebagai dosen. F-learn ini dirancang untuk membantu proses pengajaran dikatakan e-learning
management system jadi ini hanya tools / alat”.
Selain itu F-Learn juga dapat membantu mahasiswa untuk belajar diluar kelas, seperti yang dinyatakan oleh Karina Crist Kusumarini salah satu mahasiswi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis “Ya kalau di ekonomi itu dosennya menggunakan F-Learn untuk mengupload materi buat kuliah hari itu dan juga misalnya buat minggu ini materinya udah diupload minggu lalu, jadi lumayan membantu kita kalau kita mau belajar diluar”. Dari penjelasan di atas tampak bahwa dengan adanya sistem informasi yang telah digunakan dapat meningkatkan kinerja dalam proses belajar mengajar di UKSW. Namun dari hasil temuan masih perlu adanya monitoring dalam proses pembelajaran dan pemerataan pemakaian F-learn bagi seluruh civitas akademika, agar dapat mengontrol dan meningkatkan kualitas hasil pembelajaran.
Effort Expectancy dalam UTAUT 2 melihat
tentang tingkat kemudahan terkait dengan penggunaan sistem informasi. Selama digunakan sebagai pendukung proses pembelajaran di UKSW, F-learn dianggap mudah untuk dipelajari dan digunakan. Agustinus Fritz Wijaya salah satu staff pengajar FTI yang aktif menggunakan F-Learn menyatakan “F-Learn sangat mudah digunakan dan toolsnya juga mudah dipahami”. Pernyataan dari Agustinus Fritz Wijaya diperkuat oleh salah satu mahasiswa FTI, yaitu Arista Wahyu Saputra yang menyatakan “Mudah digunakan, namun terkadang terdapat gangguan teknis seperti servernya mati”. Kemudian beberapa hal yang masih menjadi kendala dalam penggunaan F-Learn salah satunya yang dinyatakan oleh Danis Mei Mirsa salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian dan Bisnis “Selama ini kendalanya dari sisi koneksi internetnya dan juga
karena jarang dimaintenance. Penggunaan F-Learn pada proses perkuliahan kalau dosen ada tugas keluar kota atau tidak bisa masuk dikelas. Kalau tes selama ini jarang menggunakan F-Learn, biasanya lebih ke tugas-tugasnya saja dan hanya sebatas
upload materi, kendalanya ya interface error, jika
kita klik A kadang keluarnya B”. Berdasarkan penjelasan di atas beberapa hal yang masih perlu diperhatikan koneksi internetnya yang kurang memadai menjadi kendala bagi penggunanya dalam melakukan pengaksesan F-Learn dan tidak ada
maintenance secara berkala.
Social Influence dalam UTAUT 2 menjelaskan
tentang sejauh mana konsumen meyakinkan dirinya untuk menggunakan teknologi tertentu. Penggunaan F-learn dipengaruhi oleh tuntutan atas dasar kebutuhan dari dosen sebagai pengajar hal tersebut disampaikan oleh Agustinus Fritz Wijaya salah satu staff pengajar FTI “Ini lebih kepada tanggungjawab kita sebagai pengajar. Kita kan ditarget dalam 1 semester harus bisa menyelesaikan materi yang harus diberikan kepada mahasiswa, sehingga jika kita tidak bisa memberikan secara langsung paling tidak dengan menggunakan F-learn ini. Jadi yang berpengaruh dalam penggunaan F-Learn dosen itu sendiri tanggung jawab sebagai dosen”. Selain itu yang memperkuat pernyataan di atas tentang tuntutan atas dasar kebutuhan dari dosen juga disampaikan oleh Stefanus Relmasira staff pengajar PGSD yang menyatakan “Karena bagi saya penggunaan F-Learn itu sebagai kebutuhan bukan trend”. Selain itu dengan melihat rekan kerja yang aktif menggunakan juga mempengaruhi penggunaan F-Learn kondisi tersebut diutarakan oleh Theresa Dwi Kurnia salah satu staff pengajar Pertanian dan Bisnis “Ya itu juga salah satu faktor, karena kalau salah satu rekan kerja kita menggunakan e-learning dan bermanfaat paling tidak kita harus mencoba belajar dari situ”. Kemudian pernyataan tersebut diperkuat juga dari pernyataan Agustinus Fritz Wijaya salah satu staff pengajar FTI “Ya itu juga salah satu faktor, karena kan kalau salah satu rekan kerja kita menggunakan e-learning dan bermanfaat paling coba kita harus mencoba belajar dari situ” Penjelasan di atas menjelaskan tentang pengaruh sosial yang berdampak pada niat pengguna untuk menggunakan F-learn dan juga tingkat kebutuhan dosen sebagai pengajar yang memiliki banyak kesibukan.
Konstrak Facilitating Conditions dalam UTAUT 2 menjelaskan tentang persepsi pengguna terhadap sumber daya dan dukungan yang tersedia untuk menggunakannya. Selama ini F-Learn telah banyak membawa perubahan pola belajar mengajar yang dilakukan oleh dosen dan juga mahasiswa. Wawasan teknologi dari dosen dan mahasiswa
5
sebagian besar sudah mencukupi untuk menggunakan F-learn, tapi karena sosialiasi dan pelatihan yang masih kurang menjadi salah satu faktor dalam pemanfaatan F-Learn hal tersebut diungkapkan oleh Theresa Dwi Kurnia salah satu staff pengajar Pertanian dan Bisnis “Pernah ada pelatihan tapi itu dulu dan itu pun singkat sekali, makanya itu fungsi-fungsi F-Learn tidak dikuasai dengan baik dan yang membantu kesulitan sistem informasi F-Learn dari pihak BTSI”. Serta pernyataan lain yang diungkapkan oleh David Adechandra A. P. salah satu staff pengajar FEB yang menyatakan “Tidak ada pembelajaran khusus jadi kalau mau belajar secara otodidak dan kami sebagai pengajar tidak pernah meminta pihak BTSI untuk mengajari kami dalam penggunaan F-Learn”. Selain itu peran F-Learn telah digunakan sebagai media pembelajaran dan sudah sesuai dengan kebutuhan dosen maupun mahasiswa. Stefanus Relmasira staff pengajar PGSD menyatakan “F-Learn saat ini digunakan sejauh upload materi, pemberian tugas, forum diskusi, dan quiz serta kebutuhan sebagai dosen sudah tercukupi, namun 1 kebutuhan yang belum terjawab adalah mobilitas perkuliahan dimana hanya bisa ditingkatkan jika menggunakan mobile application untuk moodle”. Kurangnya sosialisasi dan pelatihan menyebabkan fungsi-fungsi F-learn tidak dikuasai dengan baik, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kinerja dan performa dari pengguna dan F-learn.
Hedonic Motivation dalam UTAUT 2 didefinisikan sebagai ketertarikan yang berasal dari penggunaan teknologi, dan telah terbukti memainkan peranan penting dalam menentukan penerimaan teknologi. Perkembangan teknologi yang semakin pesat berpengaruh terhadap daya tarik pengguna untuk menggunakan teknologi informasi tersebut. David Adechandra A. P. salah satu staff pengajar FEB menyatakan “Ya saya sangat memiliki ketertarikan terhadap teknologi informasi, sehingga minat pemanfaatan TI selalu dimaksimalkan termasuk F-Learn”. Serta pernyataan lain yang diungkapkan oleh Agustinus Fritz Wijaya salah satu staff pengajar FTI menyatakan “Ya sangat memiliki ketertarikan terhadap teknologi informasi”. Dari pernyataan di atas ketertarikan pengguna terhadap teknologi mempengaruhi niat pengguna dalam menggunakan teknologi itu sendiri.
Konstrak Habit dalam UTAUT 2 melihat tentang sejauh mana orang cenderung untuk melakukan perilaku otomatis. Kebiasaan penggunaan komputer berdampak terhadap pemanfaatan teknologi informasi seperti yang diutarakan Jerry Wicaksono salah satu mahasiwa FTI “Ya sudah terbiasa menggunakan komputer, sehingga dalam proses belajar mengajar pun tidak masalah jika terkomputerisasi”. Selain itu pernyataan Jerry diperkuat oleh salah satu
mahasiswi FEB,yaitu Karina Crist Kusumarini yang menyatakan “Ya sudah terbiasa menggunakan komputer dan juga sudah terbiasa menggunakan F-Learn, karena udah menggunakannya sejak semester 3”. Berdasarkan pernyataan di atas habit memiliki pengaruh yang kuat bagi pengguna untuk selalu menggunakan teknologi informasi khususnya pemanfaatan F-Learn.
Dari model atau kerangka UTAUT 2 menjelaskan bahwa experience berpengaruh terhadap facilitating conditions, hedonic motivation, dan habit. Pengaruh tersebut secara langsung menentukan arah niat dan perilaku pengguna dalam memanfaatkan teknologi informasi. Experince yang berpengaruh terhadap facilitating conditions dilihat dari pernyataan Theresa Dwi Kurnia dari konstrak
facilitating conditions menjelaskan walaupun kurangnya sosialiasi dan pelatihan namun karena pengalaman pengunaan komputer yang sudah lama membuat penggunaan F-learn menjadi lebih mudah meskipun harus belajar secara otodidak.
Selain konstrak facilitating conditions masih terdapat hedonic motivation dan habit yang dipengaruhi experience. Berdasarkan pengalaman dan kebiasaan terhadap penggunaan teknologi mampu meningkatkan minat pengguna untuk selalu menggunakan sistem terkomputerisasi. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan serta mengotomatisasikan segala bentuk pekerjaan guna meningkatkan efektifitas dan efesiensi kerja. Di dalam menggunakan F-Learn pengguna termotivasi untuk menggunakan karena pengalaman dan kebiasaan masa lampau yang sudah terbiasa menggunakan komputer.
Berdasarkan pengalaman pengguna sebagian besar telah familiar dengan TI/SI lebih dari sekian tahun, hal tersebut membuat pemanfaatan F-Learn menjadi mudah meskipun harus belajar secara otodidak atau bertanya kepada teman-teman yang telah menggunakannya duluan. Stefanus Christian Relmasira staff pengajar PGSD yang telah bekerja menggunakan F-Learn dalam proses belajar mengajar selama 5 tahun menyatakan “Sudah menggunakan F-Learn selama 5 tahun dalam masa kerja 6 tahun. Sebelumnya sudah menggunakan komputer sejak tahun 1994 untuk penyelesaian tugas, olah data, presentasi, media, video editing, dan image editing. Tentu saja pengalaman tersebut membuat saya mudah untuk menggunakan F-learn”. Selain itu pernyataan lain diungkapkan Johan J.C. Tambotoh salah satu staff pengajar FTI yang menyatakan “Sudah menggunakan F-Learn sejak 2008 dalam masa kerja selama 8 tahun. Penggunaan komputer sejak 20 tahun lalu sebagai sarana untuk membuat materi, tugas-tugas perkuliahan, sehingga pengalaman tersebut mempermudah untuk menggunakan F-Learn”
6
Beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman pengguna dalam menggunakan komputer berpengaruh kuat dalam niat dan perilaku pengguna didalam menggunakan F-Learn. Persepsi pengguna terhadap sumber daya dan dukungan yang tersedia, kemudian ketertarikan penggunaan terhadap teknologi, serta sejauh mana orang
cenderung untuk melakukan perilaku otomatis juga mempengaruhi dalam niat dan perilaku pengguna dalam menggunakan teknologi informasi khususnya F-learn. Sebuah model penerimaan teknologi informasi diperoleh berdasarkan analisis Unified of
Theory Acceptance and Use Technology 2 (UTAUT
2) seperti terlihat pada gambar 3 dibawah ini.
Performance Expectancy Effort Expectancy Nilai Manfaat Infrastruktur Interface Social Influence Pengenalan & Pelatihan Facilitating Condutions Tuntutan Lingkungan Kerja Hedonic Motivation Minat Pengguna Habit Kebiasaan Pengguna Behavioural
Intention Use Behaviour
Experience Pengalaman
Pengguna
Gambar 3 Model Penerimaan Teknologi Informasi
Gambar 3 diatas adalah hasil temuan yang menunjukkan model penerimaan teknologi informasi. Model tersebut terbentuk dari beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan F-Learn UKSW. Beberapa faktor yang berpengaruh kuat mengarah pada masing-masing konstruk dari UTAUT 2. Nilai manfaat, infrastruktur dan
interface, tuntutan dan lingkungan kerja, pengenalan & pelatihan, minat pengguna, kebiasaan pengguna dan pengalaman pengguna merupakan hal penting yang mengarah pada niat dan perilaku pengguna dalam menentukan keberhasilan pemanfaatan F-Learn UKSW.
5. Kesimpulan
Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 dapat dijadikan model penelitian
untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan teknologi informasi khususnya sistem informasi F-Learn. Temuan yang diperoleh dari hasil analisis yang menunjukkan model penerimaan teknologi informasi dari pengguna.
Beberapa faktor yang berpengaruh kuat terhadap pemanfaatan F-Learn diantaranya nilai manfaat yang dapat memenuhi kebutuhan dan meningkatkan produktivitas kinerja, infrastruktur
dan interface, tuntutan ( yang merupakan tanggungjawab serta kebutuhan prioritas proses belajar mengajar ) dan lingkungan kerja, pengenalan & pelatihan, minat pengguna terhadap teknologi informasi, serta kebiasaan pengguna terhadap penggunaan teknologi informasi. Beberapa faktor tersebut perlu diperhatikan guna meningkatkan dan mengoptimalkan peran F-Learn di seluruh civitas akademika UKSW.
6. Daftar Pustaka
[1] Raman, Arumugam.,& Don, Yahya. (2013).
Preservice Teachers’ Acceptance of Learning Managament Software :An Application of the UTAUT2 Model, Vol. 6, No. 7; 2013.
[2] Venkatesh, V.; Moris, M.G.; Davis, G.B.; &Davis, F.D. 2003. User Acceptanceof
Information Technoligy: Towarda Unified Views. MIS Quarterly,Volume 27.
[3] Venkatesh, V., Thong James,Y, L.,& Xu, Xin. (2012). Consumer AcceptanceAnd Use
Of Information Technology: Extending The Unified Theory Of Acceptance And Use of Technology, Vol. 36, No. 1 (2012), pp.
157-178.
[4] Wang, Hsing-I & Yang, Heng-Li. (2005). The
7
under Online Stocking, Vol.1, No.1 (2005),
pp. 69-82.
[5] Ali, Mohamad., 1984. Penelitian
Kependidikan dan Strategi, Penerbit Angkasa Bandung.
[6] Borg & Walter, R., 1979. Educational Research. Longman Inc (3rd Edition), New York.
[7] Yudi, S.E., & Tambotoh, J.J.C., 2013. Analisis Pemanfaatan Teknologi Informasi Menggunakan Pendekatan Innovation and
Diffusion Theory (IDT) dan Technology Acceptance Model (TAM) (Studi kasus :
Disdikpora Kota Salatiga). SEMINAR NASIONAL ke 8 Tahun 2013 : Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi, hal E 117-122.