• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 ANALIS IS. Gambar 4-1. Alternatif Lokasi Tapak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 ANALIS IS. Gambar 4-1. Alternatif Lokasi Tapak"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

26 

BAB 4 ANALIS IS

4.1 Analisis Lingkungan dan Tapak 4.1.1 Analisis Kegiatan Lingkungan

Alternatif Pemilihan Tapak

Gambar 4-1. Alternatif Lokasi Tapak

Sumber: Dinas Pemetaan

Berdasarkan kedua alternatif tersebut, saya memilih alternatif 1 karena jaraknya lebih dekat dengan Binus University dan banyak dilalui kendaraan umum.

Alt.1 Æ terletak di pertigaan (Jl. Rawa Belong dan Kebon Jeruk Raya) yang dilalui oleh banyak kendaraan umum 

Alt. 2 Æ terletak di samping Jl. Rawa Belong dan hanya kendaraan umum tertentu yang melewati tapak ini 

(2)

Kegiatan Lingkungan

Tapak ini berada di kawasan padat lalu lintas karena di sekitarnya merupakan daerah pemukiman, ruko, perdagangan, dan lingkungan kampus.

Gambar 4-2. Lingkungan Sekitar Tapak

Sumber: Google Map

Berada di area pertigaan maka bagian yang ditandai diatas merupakan sumber kebisingan bagi tapak karena kendaraan yang datang dari ketiga arah tersebut. Selain itu, areal penghijauan sangat kurang di sekitar tapak ini.

Gambar 4-3. Hubungan Tapak dengan Sekitar

Sumber: Dinas Tata Kota

TAPAK  PERTIGAAN Æ  SUMBER BISING  BiNus (Anggrek)  BiNus (Syahdan)  DAGANG RUKO & DAGANG 2 RUMAH KOS & 1 4 3

(3)

28  Hubungan dengan area dagang no. 1 dan 2 cukup karena kegiatan perdagangan di area tersebut cukup tinggi dan hal ini dapat mendukung kebutuhan penghuni asrama. Sedangkan hubungan dengan no. 3 dan 4 tidak begitu kuat karena asrama dengan rumah, kos, dan sekolah tidak terlalu berhubungan.

Tanaman yang digunakan untuk mengurangi kebisingan harus memiliki kerimbunan dan kerapatan daun yang cukup dan merata mulai dari permukaan tanah hingga ketinggian yang diharapkan.

Gambar 4-4. Penghijauan untuk M engurangi Kebisingan dan Polusi Udara

Sumber: http://www.pu.go.id/Ditjen_Prasarana% 20Wil/referensi/nspm

Selain berfungsi untuk mengurangi kebisingan, penghijauan juga dapat menyerap polusi udara, menurunkan suhu lingkungan di sekitarnya, dan menghasilkan oksigen.

(4)

Kesimpulan:

Hubungan dengan area sekitar yang berada di Jalan Rawa Belong lebih kuat dan terletak di pertigaan, maka orientasi bangunan akan difokuskan pada kedua area tersebut. Selain itu, terletak di kawasan yang padat dan tingkat polusi udara tinggi, maka desain lingkungan Asrama M ahasiswa Universitas Bina Nusantara akan memiliki penghijauan yang cukup sehingga produktivitas oksigen terjaga, polusi udara dan suara berkurang, dan dapat tercipta iklim mikro.

4.1.2 Analisis Matahari dan Angin

Analisis M atahari

Tapak memanjang ke arah U-S, terdapat dua alternatif perletakan bangunan berhubungan dengan arah pergerakan matahari (T-B).

Gambar 4-5. Alternatif 1 terhadap M atahari

(5)

30  Dampak alternatif 1, yaitu: bagian tengah tapak mendapat cahaya matahari, semua bangunan memperoleh cahaya matahari secara merata, dan panas radiasi matahari terhadap bangunan lebih sedikit.

Gambar 4-6. Alternatif 2 terhadap M atahari

Dampak alternatif 2, yaitu: bagian tengah tapak tidak mendapat cahaya matahari, bangunan yang berada ditengah tidak mendapat cahaya matahari pagi maupun sore, dan panas radiasi matahari terhadap bangunan menjadi lebih banyak.

Analisis Angin

Jakarta terletak di dekat garis katulistiwa dan arah angin dipengaruhi oleh angin musim barat (bergerak dari barat laut menuju tenggara) dan angin musim timur (bergerak dari tenggara ke barat laut).

(6)

Gambar 4-7. Alternatif 1 terhadap Angin

Dampak alternatif 1, yaitu: bangunan yang berada di tengah hanya mendapat sedikit aliran udara.

Gambar 4-8. Alternatif 2 terhadap Angin

Dampak alternatif 2, yaitu: semua bangunan mendapat aliran udara secara merata.

(7)

32  Kesimpulan:

Berdasarkan hasil analisis matahari dan angin diatas, perletakan bangunan akan memanfaatkan cahaya matahari dan aliran udara alami dengan maksimal.

4.1.3 Analisis Pencapaian

Tapak Asrama M ahasiswa yang berada di pertigaan ini memiliki dua alternatif pintu masuk dan keluar tapak.

Gambar 4-9. Alternatif Entrance dan Exit Tapak

Bagian timur tapak (alternatif 1) merupakan Jl. Rawa Belong dimana berperan sebagai jalan utama yang melewati tapak ini dan bagian utara (alternatif 2) merupakan Jl. Kebon Jeruk Raya.

Tabel 4-1. Alternatif Entrance dan Exit

Keuntungan Kerugian

1 - M erupakan jalan utama - Padat lalu lintas

(8)

dan lebar

- Dilalui kendaraan umum

2 - Dilalui kendaraan umum - Jalan tidak terlalu lebar - Padat lalu lintas

3 - Tidak macet - Tidak dilalui kendaraan umum 4 - Tidak macet - Sempit

- Tidak dilalui kendaraan umum Kesimpulan

Terletak di pertigaan membuat tapak ini mudah dijangkau dari ketiga arah, bagian tapak yang dilalui oleh jalan utama dan lebih lebar (timur) cocok untuk main entrance tapak sedangkan bagian utara tapak dapat dijadikan side entrance dan sirkulasi servis.

4.1.4 Analisis Sirkulasi dalam Tapak

Sirkulasi dalam tapak dibedakan menjadi sirkulasi pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan.

Tabel 4-2. Jenis-jenis Sirkulasi

Jenis Sirkulasi Karakteristik

1. Linier Semua jalan pada dasarnya adalah

linier. Jalan yang lurus dapat menjadi unsur pengorganisir utama untuk sederet ruang-ruang. Disamping itu, jalan dapat berbentuk lengkung atau berbelok arah, memotong jalan lain, bercabang-cabang, / membentuk putaran.

Sirkulasi memotong / bercabang cocok untuk bangunan asrama bermassa banyak. lurus berbelok memotong bercabang melingkar

(9)

34  2. Radial Konfigurasi radial memiliki

jalan-jalan lurus yang berkembang dari / berhenti pada sebuah pusat, titik bersama.

M emiliki satu bangunan asrama yang menjadi center bagi bangunan di sekitarnya

3. Spiral (berputar) Konfigurasi spiral adalah suatu jalan tunggal menerus, yang berasal dari titik pusat, mengelilingi pusat dengan jarak yang berubah.

4. Grid Konfigurasi grid terdiri dari dua

pasang jalan sejajar yang saling berpotongan pada jarak yang sama dan menciptakan bujur sangkar atau kawasan-kawasan ruang segi empat.

5. Jaringan Konfigurasi jaringan terdiri dari jalan-jalan yang menghubungkan titik-titik tertentu.

Sumber: Ching, F. (2000). Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan.

Kesimpulan:

Untuk sirkulasi kendaraan menggunakan pola sirkulasi linier melingkar, dalam hal ini, kendaraan tidak memutari bangunan, tetapi memutari jalan khusus kendaraan didalam tapak. Lalu untuk sirkulasi servis menggunakan pola sirkulasi linier lurus. Sedangkan sirkulasi manusia menerapkan pola sirkulasi linier bercabang sehingga jalur pedestrian dapat mengakses ke beberapa bangunan dalam tapak.

(10)

4.1.5 Analisis Zoning

Tapak dibagi dalam beberap wilayah zoning, yaitu publik, semi publik, private, dan servis.

a. Publik Æ merupakan area yang dapat diakses oleh siapa saja yang menggunakan bangunan tersebut termasuk pengunjung. Terletak di bagian depan.

b. Semi Publik Æ merupakan area yang dapat diakses siapa saja – selain penghuni – dengan izin yang diberikan. Terletak diantara zona publik dan private.

c. Private Æ merupakan area yang hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu. Terletak di bagian yang lebih dalam agar privasi penghuni terjaga.

d. Servis Æ merupakan area yang dapat diakses oleh pengelola dan petugas servis saja. Terletak di bagian belakang agar tidak menggangu kegiatan penghuni, pengelola, dan pengunjung.

(11)

36  Keterangan:

: zona publik : zona semi publik : zona private : zona servis

Pada bagian sudut (pertigaan) terdapat zona publik dikarenakan zona ini tidak memerlukan ketenangan dan zona servis diletakkan terpisah dari zona lainnya.

Gambar 4-11. Alternatif 2 Zoning dalam Tapak

Zona publik menghadap ke arah timur (Jl. Rawa Belong) yang merupakan jalan utama dan diasumsikan sirkulasi main entrance digabung dengan servis.

Kesimpulan:

Area pertigaan yang memiliki tingkat kebisingan tertinggi sebaiknya digunakan untuk zona publik yang tidak memerlukan ketenangan.

(12)

4.1.6 Analisis Gubahan Massa

Terdapat beberapa alternatif perletakan gubahan massa bangunan dalam tapak.

Tabel 4-3. Perletakan M assa Bangunan

Perletakan Karakteristik

1. Terpusat Cocok untuk tapak yang

memiliki satu bangunan utama dan dikelilingi bangunan pendukung.

2. Linier Cocok untuk tapak yang

memanjang dimana bangunan tersebut dihubungkan dengan sirkulasi dalam tapak.

3. Radial Cocok untuk tapak yang

memiliki beberapa bangunan utama, dalam hal ini bangunan asrama (hunian pria dan wanita).

4. Cluster Cocok untuk perletakan

massa bangunan yang tidak memerlukan keteraturan.

5. Grid Perletakan massa bangunan

yang tertata dengan sangat rapi dan formal.

Sumber: Ching, F. (2000). Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan.

Berdasarkan peraturan bangunan di wilayah Jakarta Barat ini, ketentuan tapak ini, sebagai berikut:

(13)

38  o Luas lahan : 9.227 m2

o GSB : 10 m o KDB : 50 % o KLB : 2 o Lapis max. : 4 lapis

Berkaitan dengan peraturan bangunan tersebut, maka perhitungan luas lahan yang boleh dibangun, yaitu:

KDB = 50 % x 9.227 m2 = 4.613,5 m2 Total luas bangunan = 2 x 9.227 m2 = 18.454 m2

Tabel 4-4. Perbandingan Pola M assa Bangunan

M assa Tunggal M ajemuk

Positif - Cocok untuk lahan yang terbatas - Pemeliharaan dan pengawasan lebih mudah

- Dinamis

- Pengelompokan area jelas

Negatif - Tidak dinamis - Pengelompokan kurang jelas - M emerlukan lahas luas - Pemeliharaan dan pengawasan lebih sulit

Pola massa bangunan majemuk cocok untuk bangunan asrama mahasiswa ini sehubungan dengan terdapat perbedaan massa bangunan antara pria dan wanita.

(14)

Gambar 4-12. Skyline Tapak dengan Sekitar

Dengan ketinggian bangunan sekitar yang beragam, maka perletakan massa bangunan asrama sebaiknya menyesuaikan dengan keadaan sekitar agar perbedaan ketinggian tidak terlalu jauh.

Kesimpulan:

Dalam menentukan bentuk dan perletakan massa bangunan asrama, terdapat beberapa pertimbangan:

a. Penyesuaian terhadap bentuk tapak dan lingkungan sekitar.

b. Efektivitas dan efesiensi ruang didalamnya, dalam hal ini ruang kamar asrama.

c. Kegiatan yang akan berlangsung didalamnya.

d. Karakter bangunan (estetika façade) yang dapat mencerminkan fungsi bangunan.

1 2

1

(15)

40  Gambar 4-13. Skematik Hubungan antar Fungsi Bangunan

Zona publik merupakan tempat yang dapat diakses oleh siapa saja dari bangunan asrama ini, karena dapat digunakan sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi dengan seluruh pengguna bangunan. M enggunakan pola perletakan radial sehingga dapat menjangkau bangunan-bangunan lainnya didalam tapak.

Bangunan asrama ini akan berorientasi ke atas (vertikal) sebanyak 4 lantai. Dimana massa bangunan pria dan wanita terpisah serta terdapat massa untuk ruang komunal antara mahasiswa pria dan wanita.

Gambar 4-14. Gubahan M assa dalam Tapak

PRIA WANITA PUBLIK HALL UTAMA HUNIAN HUNIAN SERVIS PENUNJANG (KANTIN, TOKO, DLL) LAPANGAN, TAMAN

MAIN ENTRANCE SERVIS ENT.

(16)

4.1.7 Analisis Tata Ruang Luar

Penataan ruang luar dalam tapak memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut:

a. Dapat menghubungkan antar bangunan dalam tapak.

b. M embentuk ruang luar dan secara tidak langsung membantu mengarahkan pengguna untuk menuju ke suatu bangunan.

c. M embentuk sirkulasi yang baik bagi pengguna kendaraan dan pejalan kaki.

d. Elemen-elemen pembentuk ruang luar dapat berguna sebagai estetika, peneduh terhadap sinar matahari, dan penyaring polusi suara dan udara.

Terdapat beberapa elemen pembentuk ruang luar, yaitu: 1. Elemen Lunak (Soft M aterial)

Berupa penghijauan atau vegetasi yang dapat berfungsi sebagai penghasil O2, mengurangi tingkat kebisingan dan polusi udara, dan mengatur tata air.

2. Elemen Keras (Hard M aterial)

Berupa perkerasan untuk parkir, plaza, jalur kendaraan, dan pedestrian. Dapat terbuat dari aspal, paving block, batu (stone), dan kayu (wood). Selain itu, juga dapat berupa elemen pengisi buatan seperti kolam, bangku taman, lampu taman, sculpture, dll.

(17)

42  Kesimpulan:

Gambar 4-15. Perencanaan Tata Ruang Luar dalam Tapak

Ruang luar dapat dibedakan menjadi:

a. Ruang Luar Aktif: parkir kendaraan, plaza, pedestrian

b. Ruang Luar Pasif: taman sebagai penghijauan, resapan air hujan

Elemen lunak dapat menggunakan rumput dan pohon, hal ini dapat membantu air hujan merembes ke dalam tanah dan berfungsi untuk menurunkan suhu lingkungan sekitar. Sedangkan untuk elemen keras dapat menggunakan aspal, paving block, dan batu.

4.2 Analisis Manusia

4.2.1 Analisis Pengguna

M ahasiswa yang melanjutkan pendidikannya di Universitas Bina Nusantara selalu mengalami peningkatan tiap tahunnya.

taman

Taman & per keras an

(18)

Tabel 4-5. Jumlah M ahasiswa Daerah Aktif Universitas Bina Nusantara

Angkatan Jumlah M ahasiswa 2004 969 2005 1.854 2006 2.153 2007 2.440

Sumber: ATL Bina Nusantara

Berdasarkan tabel diatas, maka didapat persentase penambahan mahasiswa daerah tiap tahunnya.

Tabel 4-6. Persentase Pertambahan Jumlah M ahasiswa Daerah

Angkatan Jumlah M ahasiswa Persentase Pertambahan 2004 969 - 2005 1.854 91.3 % 2006 2.153 16.1 % 2007 2.440 13.3 %

Rata-rata pertambahan jumlah mahasiswa daerah: = (91.3 % + 16.1 % + 13.3 %) ÷ 3 = 120.7 % ÷ 3

= 40.2 %

Berdasarkan hasil angket (kuesioner) yang dilakukan pada 200 mahasiswa Bina Nusantara (107 pria dan 93 wanita) didapatkan 101 mahasiswa ingin tinggal di asrama, sedangkan 99 mahasiswa tidak ingin tinggal di asrama.

Dengan hasil demikian, didapatkan persentase mahasiswa yang tertarik tinggal di asrama adalah:

(19)

44  = (101 ÷ 200) x 100% = 0.5 x 100 % = 50 %

Dikarenakan ini merupakan Asrama M ahasiswa yang akan dibangun pertama kali oleh Universitas Bina Nusantara, maka diasumsikan daya tampung Asrama M ahasiswa Universitas Bina Nusantara sebanyak 10 %. = {(40.2 % x 2.440) + 2.440} x 10 %

= {981 + 2.440} x 10 %

= 3.421 x 10 % = 342,1 ≈ 343 orang Æ dibulatkan menjadi 400 orang Pria sebanyak 60% (= 240 orang) dan wanita 40% (=160 orang).

Asrama M ahasiswa Universitas Bina Nusantara ini dikhususkan untuk mahasiswa Universitas Bina Nusantara tingkat 1.

Pengguna di dalam kawasan Asrama M ahasiswa Universitas Bina Nusantara adalah:

a. Penghuni

Yaitu mahasiswa Universitas Bina Nusantara tingkat pertama. b. Pengelola

Yaitu pihak yang mengelola semua kegiatan yang berlangsung di dalam lingkungan asrama.

c. Pengunjung

Yaitu tamu baik dari pihak mahasiswa maupun pengelola.

(20)

Terdapat beberapa aktivitas yang akan terjadi dalam bangunan Asrama M ahasiswa ini, yaitu:

Table 4-7. Jenis Kegiatan Pengguna Gedung Jenis

Kegiatan Kegiatan Pelaku Kebutuhan Ruang

Utama (Pribadi)

Datang M ahasiswa, pengelola, tamu

Hall / Lobby

Tidur M ahasiswa Ruang tidur

M andi M ahasiswa Kamar mandi

M encuci M ahasiswa Ruang cuci, laundry

Setrika M ahasiswa Ruang setrika

Utama (Edukatif)

Belajar M ahasiswa Ruang belajar

Utama (Sosial)

M enerima tamu M ahasiswa, pengelola Ruang tamu

Nonton TV M ahasiswa Ruang TV

M akan M ahasiswa, pengelola Ruang makan / kantin

M asak M ahasiswa Pantry / dapur

Olahraga M ahasiswa Ruang Olahraga /

Gymnasium

Pengelola

M engelola asrama Kepala asrama Ruang Ka. Asrama M embantu

pengelolaan

Wakil Ka. Asrama Ruang Wakil Ka. M embantu

pengelolaan

Sekretaris Ruang sekretaris

Administrasi Tata Usaha Ruang TU

Buang air Karyawan Toilet

M akan, minum Pengelola, tamu Ruang makan / kantin

Komersil Pengelola, mahasiswa Toko

Servis

Penyediaan air Pengelola Reservoir, Ruang pompa air

Pengolahan air Pengelola STP, sumur resapan, penampungan air

Listrik Pengelola Ruang genset, panel

(21)

46 

4.3.1 Analisis Zoning Horizontal dan Vertikal

Berdasarkan jenis kegiatan yang berbeda-beda dari penghuni (mahasiswa), pengelola, dan tamu; maka bangunan diklasifikasikan ke dalam zona publik, semi publik, private, dan servis.

Gambar 4-16. Zoning Horizontal Bangunan Asrama

Gambar 4-17. Zoning Vertikal Bangunan Asrama

Kesimpulan:

Terdapat zona semi publik yang menjadi perantara antara zona publik dan private. Zona private hanya diperuntukkan bagi penghuni asrama dan pengelola yang berkepentingan. Sedangkan zona publik dapat diakses siapa saja.

(22)

Berdasarkan hasil angket (kuesioner), peminat untuk tinggal berdua dalam satu kamar lebih banyak dibandingkan tiga / empat orang dalam satu kamar. Dari 101 mahasiswa, sebanyak 58 orang memilih tinggal berdua satu kamar. Diasumsikan kapasitas kamar untuk 2 orang sebanyak 60% dan 4 orang sebanyak 40%.

Tabel 4-8. Standar Ruang Kamar Double Asrama

Tipe Kamar Dengan ranjang tingkat Tanpa ranjang tingkat

M inimum 12,6 m2 16,2 m2 Optimum 14,4 m2 19,8 m2

(23)

48  M ewah

16,2 m2

21,6 m2 Sumber: Chiara, J. D. dan John H. C. (2001). Time-Saver Standards for Building Types. Keterangan:

B = Bed; D = Desk; W = Wardrobe; SC = Soft Chair; BC = Book Cases Beberapa kebutuhan ruang yang diperlukan dalam bangunan asrama: Tabel 4-9. Dimensi Ruang Lobby

Ruang Sifat Kapasitas Standar Sumber Luas

Lobby Pu 200 orang 1,4 m2 / orang DA 280 m2 R. TV Pu 100 orang 1,8 m2 / orang A 180 m2 R. Belajar Pv 100 orang 2,5 m2 / orang DA 250 m2

Tabel 4-10. Dimensi Ruang per Lantai (hunian)

Ruang Sifat Kapasitas Standar Sum

ber Luas Kamar Pv 2 org = 30 kmr 4 org = 10 kmr 18 m2 / kamar 21 m2 / kamar TS 540 m2 210 m2 Pantry + R. M akan S 2 unit 18 m2 / ruang DA 36 m2 Kamar M andi S 2 unit 48 m2 / unit DA 96 m2 Laundry + R. Setrika S 2 unit 48 m2 / ruang DA 96 m2 Gudang S 2 unit 18 m2 / ruang DA 36 m2

Sirkulasi 20 % 202,8 m2

(24)

Tabel 4-11. Dimensi Ruang Pengelola

Ruang Sifat Kapasitas Standar Sumber Luas

R. Kepala Asrama Pv 1 orang 20 m2 / orang DA 20 m2 R. Wakil Ka. Asrama Pv 1 orang 16 m2 / orang DA 16 m2 R. Sekretaris Pv 1 orang 10 m2 / orang DA 10 m2 R. Rapat Pv 8 orang 2 m2 / orang DA 16 m2

R. Arsip Pv 12 m2 DA 12 m2

R. Tata Usaha Pv 5 orang 6 m2 / orang DA 30 m2

Pantry S 6 m2 DA 6 m2

Toilet S 2 unit 15 m2 / unit DA 30 m2

Sirkulasi 20 % 28 m2

TOTAL 168 m2

Tabel 4-12. Dimensi Ruang M akan / Kantin

Ruang Sifat Kapasitas Standar Sumber Luas

R. M akan Pu 150 orang 2,5 m2 / orang DA 375 m2

Dapur S 100 m2 DA 100 m2

Gudang Penyimpanan S 50 m2 DA 50 m2

Toilet S 2 unit 24 m2 / unit DA 48 m2

Sirkulasi 20 % 114,6 m2

TOTAL 687,6 m2

Tabel 4-13. Dimensi Ruang Fitness

Ruang Sifat Kapasitas Standar Sumber Luas

R. Fitness Pv 200 m2 DA 200 m2

Sirkulasi 20 % 40 m2

TOTAL 240 m2

Tabel 4-14. Dimensi Ruang M ini M arket dan Toko

Ruang Sifat Kapasitas Standar Sumber Luas

R. Penjualan Pu 20 – 30 orang 1,5 m2 / orang TS 45 m2

(25)

50 

Gudang Penyimpanan S 20 m2 DA 20 m2

Kios / toko Pu 5 unit 15 m2 / unit TS 75 m2

Sirkulasi 20 % 29 m2

TOTAL 174 m2

Tabel 4-15. Dimensi Ruang Servis

Ruang Sifat Kapasitas Standar Sumber Luas

R. Pompa Air S 20 m2 / ruang A 20 m2

R. Genset S 45 m2 / ruang A 45 m2 R. Panel S 20 m2 / ruang A 20 m2 R. Trafo S 20 m2 / ruang A 20 m2 WWTP S 40 m2 / ruang A 40 m2 TPS S 10 m2 A 10 m2 Sirkulasi 20 % 31 m2 TOTAL 186 m2 Keterangan:

Pu = Publik; SP = Semi Publik; Pv = Private; S = Servis; DA = Data Arsitek; A = Asumsi; TS = Time Saver

4.3.3 Analisis Hubungan Ruang dan Entrance

Berdasarkan kebutuhan ruang dalam bangunan asrama, dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Gambar 4-18. Skematik Hubungan Hunian

LOBBY + R. TAMU + R. TV FITNESS R. BELAJAR KAMAR MANDI PANTRY + R. MAKAN LAUNDRY + R. SETRIKA ENTRANCE HUNIAN KAMAR

(26)

Gambar 4-19. Skematik Hubungan Pengelola

Gambar 4-20. Skematik Hubungan Penunjang

Gambar 4-21. Skematik Hubungan Servis LOBBY + R. TUNGGU R. TATA USAHA R. KA. ASRAMA R. WAKIL KA. TOILET R. RAPAT R. SEKRETARIS R. ARSIP MINI MARKET TOKO GUDANG R. MAKAN DAPUR LOBBY TOILET LOBBY R. POMPA R. GENSET R. PANEL R. TRAFO WWTP PANTRY

(27)

52  Bangunan asrama pria dan wanita terletak pada massa bangunan yang berbeda. Hal ini agar privasi pria dan wanita tetap terjaga serta keamanan juga lebih terjaga.

Gambar 4-22. Entrance pada Bangunan

Bangunan asrama yang secara khusus diperuntukkan bagi penghuni (mahasiswa) merupakan bangunan yang cukup private, karena itu untuk menuju ke bangunan asrama, terlebih dahulu harus melewati areal publik dan semi publik.

4.3.4 Analisis Sirkulasi Horizontal dan Vertikal

Sirkulasi Horizontal

Terdapat beberapa jenis jalur dan ruang sirkulasi horizontal dalam bangunan, yaitu:

(28)

Tabel 4-16. Jenis Jalur Sirkulasi

Jenis Jalur Karakteristik

M elalui Ruang-ruang - Kesatuan dari tiap-tiap ruang dipertahankan

- Konfigurasi jalan yang fleksibel

- Ruang-ruang perantara dapat

dipergunakan untuk menghubungkan jalan dengan

ruang-ruangnya

M enembus Ruang-ruang - Jalan dapat menembus sebuah ruang menurut sumbunya, miring, atau sepanjang sisinya - Dalam memotong sebuah

ruang, suatu jalan menimbulkan pola-pola istirahat dan gerak di dalamnya

Berakhir dalam Ruang - Lokasi ruang menentukan jalan

- Hubungan jalan-ruang ini digunakan untuk pendekatan dan jalan masuk ruang-ruang penting yang fungsional dan simbolis

Sumber: Ching, F. (2000). Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan.

b. Ruang Sirkulasi

Tabel 4-17. Jenis Ruang Sirkulasi

Jenis Ruang Karakteristik

Tertutup M embentuk galeri umum atau

koridor pribadi yang berkaitan dengan ruang-ruang yang dihubungkan melalui pintu-pintu masuk pada bidang dinding

(29)

54  Terbuka pada Salah Satu Sisinya M embentuk balkon atau galeri yang

memberikan kontinuitas visual dan kontinuitas ruang dengan ruang-ruang yang dihubungkannya

Terbuka pada Kedua Sisinya M embentuk deretan kolom untuk jalan lintas yang menjadi sebuah perluasan fisik dari ruang yang ditembusnya.

Sumber: Ching, F. (2000). Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan.

Sirkulasi Vertikal

Bangunan Asrama M ahasiswa bertingkat 4 ini menggunakan tangga sebagai transportasi vertikal. Selain itu, juga terdapat fasilitas ramp.

Gambar 4-23. Alternatif Konfigurasi Tangga

Sumber: Ching, F. (2000). Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan.

Konfigurasi tangga menentukan arah langkah saat menaiki maupun menuruni tangga, terdapat beberapa cara:

o Tangga langsung

o Tangga berbentuk ‘L’ dan ‘U’ o Tangga putar

(30)

o Tangga berbentuk spiral Kesimpulan:

Berdasarkan jalur dan ruang sirkulasi tersebut, jika disesuaikan dengan ruang-ruang yang terdapat dalam bangunan asrama, dalam hal ini ruang-ruang kamar, maka jalur yang melalui ruang-ruang akan lebih efektif dan privasi tetap terjaga. Sedangkan dari segi ruang sirkulasi, bagian salah satu sisi yang terbuka cocok diterapkan dalam kondisi di Jakarta, hal ini agar ruang sirkulasi tidak gelap dan pengap.

Gambar 4-24. Sirkulasi Bangunan

4.3.5 Analisis Kebutuhan Parkir

M erupakan bangunan Asrama M ahasiswa, maka peruntukan lahan parkir lebih sedikit, karena mahasiswa yang tinggal di asrama ini berasal dari daerah.

Tabel 4-18. Alternatif Parkir M obil

Gambar Karakteristik Parkir paralel pada jalur kendaraan

Panjang: 6 m Lebar: 2 m

Tangga Void

(31)

56  Tiga pilihan kemiringan: 30º, 45º, 60º

Panjang: 5 m Lebar: 2,3 m

Sudut 90º, keluar-masuk dari 2 arah Panjang: 5 m

Lebar: 2,5 m

Sumber: Neufert, E. (2002). Data Arsitek.

Diasumsikan penghuni (mahasiswa) yang memiliki kendaraan sebanyak 2 % mobil dan 10 % motor.

Jumlah mobil = 2% x 400 = 8 mobil Jumlah motor = 10% x 400 = 40 motor

Jumlah pengelola diasumsikan 15 orang, dengan perbandingan 30% membawa mobil dan 70% membawa motor.

Jumlah mobil = 30% x 15 = 4,5 ≈ 5 mobil Jumlah motor = 70% x 15 = 10,5 ≈ 10 motor

Tamu yang datang dan membawa kendaraan diasumsikan 20 orang, dengan perbandingan 30% mobil dan 70% motor.

Jumlah mobil = 30% x 20 = 6 mobil Jumlah motor = 70% x 20 = 14 motor

(32)

Total kebutuhan lahan parkir sebanyak 19 parkir mobil dan 64 parkir motor, dengan luasan parkir mobil sebesar 2,5 m x 5 m dan motor sebesar 1 m x 2 m.

Selain itu, juga terdapat parkir untuk servis. Diasumsikan dapat memuat 2 kendaraan.

4.3.6 Analisis Sistem Pencahayaan

Terdapat pencahayaan alami dan pencahayaan buatan, dengan memanfaatkan pencahayaan alami secara maksimal, maka penggunaan cahaya buatan akan berkurang dan secara tidak langsung penggunaan listrik juga berkurang.

Terletak di daerah beriklim tropis, cahaya matahari yang diterima sangat berlimpah akan tetapi panas radiasi matahari dapat memanaskan ruangan dalam bangunan, karena itu dengan memaks imalkan orientasi bukaan ke arah U-S, cahaya matahari masih dapat masuk ke dalam bangunan dan panas radiasi matahari terhadap bangunan juga berkurang.

Tabel 4-19. Alternatif Pengontrol Radiasi M atahari

Gambar Penjelasan

(a) (b)

Dengan teritisan secara horizontal, baik tanpa celah (a) maupun terdapat celah (b)

(33)

58  Dengan penghalang secara vertikal

Gabungan antara penghalang horizontal dan vertikal

Tanaman (pohon) dapat dijadikan sebagai penghalang

M odifikasi pada jendela atau dinding

Sumber: Hayslett, G. (1995). Gambar dan Perencanaan Arsitektur.

Agar cahaya matahari dapat masuk pada bagian tengah bangunan, di desain dengan skylight.

Gambar 4-25. Alternatif Skylight

(34)

Kesimpulan:

Semaksimal mungkin ruangan dalam bangunan memanfaatkan pencahayaan alami, dengan bukaan yang dimodifikasi (teritis horizontal dan vertikal), jendela, dan pada bagian atas terdapat skylight.

4.3.7 Analisis Sistem Pengudaraan

Terdapat 2 sistem pengudaraan, yaitu pengudaraan secara alami dan buatan. Jika dapat memanfaatkan pengudaraan alami secara maksimal (cross ventilation), maka pengudaraan buatan (kipas angin, AC) akan berkurang penggunaannya.

Tabel 4-20. Perbandingan Bukaan

Gambar Perbandingan Cross ventilation yang ideal

karena angin mengalir dengan baik

Cukup baik, tetapi terdapat bagian yang tidak dialiri angin

Tidak baik, bagian dalam bangunan tidak mendapat aliran angin.

(35)

60  Dengan menanam tanaman (pohon) disekitar bangunan, juga dapat menurunkan suhu disekitar bangunan.

Gambar 4-26. Penghijauan di Sekitar Bangunan

Sumber: http://www.lmbunika.com/PDF/StandardI.pdf

Perletakan bangunan yang tegak lurus terhadap arah angin juga menguntungkan aliran udara dalam bangunan.

Gambar 4-27. Letak Bangunan terhadap Arah Angin

Sumber: http://www.lmbunika.com/PDF/StandardI.pdf

4.3.8 Analisis Sistem Utilitas

Sistem utilitas bangunan mencakup dari segi plumbing, elektrikal, dan proteksi kebakaran.

(36)

Plumbing

Terdapat dua sistem plumbing pada bangunan asrama, yaitu air bersih dan air kotor.

a. Sistem Air Bersih

Digunakan untuk keperluan mandi, mencuci, masak, menyiram tanaman, dan proteksi kebakaran.

Gambar 4-28. Distribusi Air Bersih

b. Sistem Air Kotor

Terdapat dua jenis air kotor, yaitu: o Air Kotor Cair

Berasal dari kamar mandi, dapur, dan cucian; diolah dengan STP (Sewage Treatment Plant) / WWTP (WasteWater Treatment Plant). Sedangkan air hujan diolah melalui sumur resapan.

(37)

62  o Air Kotor Padat

Kotoran padat yang berasal dari kotoran manusia akan diproses dengan Septic Tank.

Gambar 4-29. Distribusi Air Kotor

Air kotor cair akan diolah terlebih dahulu di STP / WWTP sedangkan air hujan dikumpulkan melalui talang air pada atap bangunan akan disalurkan ke sumur resapan untuk diolah.

Untuk menghemat penggunaan air dalam bangunan, dapat dilakukan dengan perubahan perilaku manusia dalam menggunakan air, pemilihan alat-alat sanitasi, dan mengolah kembali air yang berasal dari air hujan maupun air kotor.

Dalam kaitan dengan perilaku manusia, dapat diterapkan beberapa cara, yaitu:

(38)

a. Di dapur, menggunakan mesin pencuci piring dalam keadaan penuh dapat menghemat 38 – 76 liter air. Jika mencuci dengan tangan, tampung air dalam baskom daripada mencuci di bawah air mengalir. Keran konvensional mengeluarkan air 19 liter tiap 2 menit.

b. Di kamar mandi, matikan keran ketika sedang menggosok gigi. M andi dengan shower dalam waktu yang singkat daripada dengan bathtub dan matikan air ketika menggunakan shampo atau sabun. Akan lebih hemat jika menggunakan keran dan shower bertekanan rendah (low-flow), serta toilet menggunakan air daur ulang.

c. Di ruang cuci, menggunakan mesin cuci yang sesuai antara penggunaan air dengan banyaknya pakaian. Jika mencuci dengan tangan, tampung air dalam ember (jangan membiarkan air mengalir terus menerus) dan semaksimal mungkin menggunakan air untuk mencuci dan membilas pakaian berulang-ulang.

d. Di luar ruangan, menyiram taman saat pagi-pagi (early morning) atau sore-sore (late afternoon) dan saat udara sejuk, dengan tujuan untuk mengurangi penguapan. M encuci mobil menggunakan ember daripada dengan air mengalir dari selang, dapat menghemat air. Serta membersihkan sirkulasi dalam tapak dengan menyapu daripada menyiram dengan air.

e. M emperbaiki kebocoran alat-alat sanitasi, pada keran dapat menghemat hingga 11.400 liter / tahun dan untuk toilet menghemat 760 liter / hari.

(39)

64  Dalam memilih alat-alat sanitasi dalam bangunan, diperhatikan yang hemat air, dengan cara:

a. Keran

M enggunakan low-flow faucet dan memasang aerator faucet pada mulut keran, dapat menghemat air hingga 3,8 – 9,5 liter / menit (dari 9,5 – 19 liter / menit menjadi 5,7 – 9,5 liter / menit) dengan tetap mempertahankan kenyamanan tekanan air.

b. Shower

Dengan menggunakan low-flow showerheads, pemakaian air menjadi 3,8 – 9,5 liter / menit dibandingkan dengan showerheads standar yang memakai air hingga 60 – 130 liter / menit

c. Kloset

Kloset standar (conventional toilet) menggunakan 13,3 – 19 liter / flush sedangkan dengan menggunakan dual-flush toilet yang terbagi dengan penggunaan minimum 3,8 liter / flush dan penggunaan maksimum 6 liter / flush, dapat menghemat penggunaan air.

d. Urinoir

Umumnya, urinoir menggunakan 7,6 – 11,4 liter / flush. Dengan menggunakan low-flow urinals, penggunaan air dapat mencapai kurang dari 3,8 liter / flush.

Terdapat beberapa cara untuk mengolah air agar dapat digunakan kembali, yaitu:

(40)

a. Sumur Resapan

Gambar 4-30. Distribusi Sumur Resapan

Sumber: http://www.nubian.com.au/Rainwater-reuse.asp

Air olahan dari sumur resapan dapat digunakan untuk mandi, cuci pakaian, dan dapur.

Gambar 4-31. Detail Sumur Resapan

(41)

66  Umumnya air hujan yang melalui proses pengolahan sumur resapan menghasilkan air yang cukup aman dan berkualitas baik untuk digunakan kembali.

Gambar 4-32. Lapisan Tanah

 

Sumber: http://rovicky.wordpress.com/2006/08/24

Resapan air dari sumur resapan akan merembes ke dalam lapisan tanah hingga menembus permukaan tanah (water table) yang dibawahnya terdapat air tanah, dimana akan dikonsumsi oleh penduduk yang tinggal di atasnya.

b. STP atau WWTP

Gambar 4-33. Sirkulasi Recycled Water

(42)

Air kotor yang berasal dari hunian, industri akan diproses melalui STP / WWTP agar kualitas air sebelum dibuang ke riol kota atau digunakan kembali memenuhi standar.

Gambar 4-34. Distribusi STP / WWTP

Sumber: http://ga.water.usgs.gov/edu/wwvisit.html

Air kotor (cair dan padat) disaring terlebih dahulu agar benda-benda padat terfilter, kemudian wastewater tersebut diproses. Dalam proses, butiran / kotoran akan mengendap di bawah dan endapan tersebut dapat digunakan untuk pupuk tanaman. Sedangkan air kotor tersebut akan terus melalui proses pengolahan hingga akhirnya memenuhi standar agar dapat digunakan kembali untuk toilet, menyiram tanaman, dan proteksi kebakaran.

Untuk menghemat penggunaan air, maka dilakukan perhitungan penggunaan air bangunan asrama.

M enurut buku ‘Panduan Sistem Bangunan Tinggi’, kebutuhan air bersih per hari adalah 135 – 225 liter / orang dan air buangan sebanyak 189 liter / orang.

(43)

68  Kebutuhan air penghuni = (400 + 15) x 135

= 415 x 135 = 56.025 liter Kebutuhan air hidran = (18.454 x 2) ÷ 800

= 36.908 ÷ 800 = 46,1 ≈ 46 liter Total air toilet dan urinoir = {(4,8 + 3,8) x 5} x 415

= 43,5 x 415 = 18.052,5 liter Kebutuhan air bersih = 56.025 – 46 – 18.052,5 = 37.926,5 liter Curah hujan Jakarta = 300 mm/bulan = 0,3 m/jam

Jumlah air hujan = (0,278) x 0,7 x 0,3 m/jam x 4000 m2

= 233,5 ≈ 234 m3/jam Æ [48 sumur resapan] Air olahan yang dapat dipakai kembali = (135 – 43,5) x 415

= 91,5 x 415 = 37.972,5 liter Kesimpulan:

Dalam kaitan dengan hemat air, maka dalam desain bangunan Asrama M ahasiswa Universitas Bina Nusantara ini, dapat menerapkan beberapa cara, yaitu:

o M enanam tanaman yang memerlukan pengairan yang sedikit, dengan demikian, jumlah pemakaian air akan berkurang.

o M enggunakan peralatan sanitar yang bertekanan rendah (low flow: faucet,

shower, and urinal) serta dual-flush toilet.

o M encuci pakaian dengan mesin cuci sesuai antara banyaknya pakairan dengan jumlah pemakaian air.

(44)

o Letak reservoir air dekat dengan kamar mandi, dapur agar penyaluran air lebih efektif.

o Perilaku penghuni dan pengguna bangunan untuk melaksanakan penghematan air.

o M elakukan konservasi air (dengan sumur resapan) dan mengolah air kotor untuk digunakan kembali sehingga pemakaian air bersih (air PAM ) akan berkurang.

Elektrikal

Sumber daya listrik yang diperlukan untuk bangunan asrama, berasal dari:

a. PLN

M erupakan pasokan listrik utama dalam menunjang kegiatan sehari-hari di lingkungan asrama.

b. Genset

Berperan sebagai sumber listrik cadangan ketika sumber listrik dari PLN terputus / mati.

Gambar 4-35. Diagram Tipikal Pasokan Listrik

PLN TRANSFOR MATOR METER PLN GENSET PANEL LAMPU DARURAT PANEL KEBAKARAN R. MESIN, POMPA R. PANEL RUANG / AREA

(45)

70  Kesimpulan:

Pasokan listrik utama Asrama M ahasiswa Universitas Bina Nusantara berasal dari PLN dengan genset sebagai cadangan listrik ketika listrik dari PLN mati.

Proteksi Kebakaran

Sistem pencegahan dalam menghadapi bahaya kebakaran: a. Pencegahan Aktif

o Detektor yang berfungsi untuk mendeteksi jika ada asap atau suhu ruangan yang terlalu tinggi.

o Hidran bangunan (tiap jarak 35 m) dan hidran halaman (maksimal jarak 200 m).

o Sprinkler, dimana kepala sprinkler akan pecah jika mencapai suhu tertentu (umumnya 68º C).

Tabel 4-21. Penggunaan Sprinkler menurut Klasifikasi Bangunan

Klasifikasi

Bangunan Tinggi / Jumlah Lantai Penggunaan Sprinkler Tidak bertingkat meter atau 1 lantai Ketinggian sampai dengan 8 Tidak diharuskan Bertingkat rendah Ketinggian sampai dengan 8

meter atau 2 lantai

Tidak diharuskan

Bertingkat rendah Ketinggian sampai dengan 14 meter atau 4 lantai

Tidak diharuskan

Bertingkat tinggi Ketinggian sampai dengan 40 meter atau 8 lantai

Diharuskan, mulai dari lantai 1

Bertingkat tinggi Ketinggian lebih dari 40 meter atau diatas 8 lantai

Diharuskan, mulai dari lantai 1

(46)

o Fire Extinguisher, pemadam yang berisi bahan kimia. b. Pencegahan Pasif

o Konstruksi tahan api, misalnya dengan konstruksi beton, baja.

o Pintu darurat terbuat dari bahan tahan api (minimal 2 jam) sehingga api tidak masuk ke dalam tangga darurat.

o Jarak dengan tangga darurat sesuai dengan standar. Tabel 4-22. Jarak Tempuh

Fungsi Batasan

Lorong Buntu

Jarak Tempuh M aksimal

Tanpa Sprinkler Dengan Sprinkler Hunian - Hotel - Apartemen - Asrama - Rumah Tinggal 10 10 0 TP 30 30 30 TP 45 45 45 TP

Sumber: Juwana, J.S. (2005). Panduan Sistem Bangunan Tinggi.

Keterangan: TP = Tidak Perlu

Selain proteksi kebakaran, juga perlu diperhatikan sistem proteksi terhadap bahaya petir. Dalam bangunan asrama mahasiswa ini, menggunakan tiang penangkap petir (lighting rods) dengan sistem kurungan Faraday. Terdapat tiang pendek (finial) dan kepala penangkap petir (air termination) pada bagian tertinggi bangunan, dihubungkan dengan kabel yang melewati sisi bangunan dan berakhir ke dalam tanah.

4.3.9 Analisis Wujud Dasar Bangunan

Terdapat beberapa wujud dasar bangunan yang dapat diterapkan dalam bangunan Asrama M ahasiswa, sebagai berikut:

(47)

72  Tabel 4-23. Wujud Dasar Bangunan

Bentuk Karakteristik 2. Lingkaran Terpusat, berarah ke dalam; umumnya bersifat stabil

dan menjadi pusat dari lingkungannya.

Tidak cocok untuk asrama yang memerlukan perletakan perabot secara efisien.

3. Segitiga M enunjukkan stabilitas. Apabila terletak pada salah satu sisinya, segitiga merupakan bentuk yang sangat stabil. 4. Bujur Sangkar M enunjukkan sesuatu yang murni dan rasional. Bentuk

statis dan netral serta tidak memiliki arah tertentu. Bentuk-bentuk segi empat lainnya dapat dianggap sebagai variasi dari bentuk bujur sangkar – yang berubah dengan penambahan tinggi atau lebarnya. Cocok untuk perletakan perabot (tempat tidur, lemari, meja belajar) secara efisien.

Sumber: Ching, F. (2000). Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan.

Bentuk adalah ciri utama yang menunjukkan suatu volume (panjang, lebar, tinggi). Ditentukan oleh wujud dan hubungannya antar bidang-bidang yang menggambarkan batas-batas dari volume tersebut.

Kesimpulan:

Bangunan asrama menggunakan bentuk bujur sangkar yang akan divariasi, agar perletakan perabot dalam ruangan lebih efektif.

4.3.10 Analisis Sistem Struktur

Sub-Structure

Sub-structure merupakan bagian pondasi yang menahan seluruh berat bangunan.

(48)

Tabel 4-24. Alternatif Sub-Structure

Pondasi Tiang Pancang Bored Pile

Gambar

Proses

Ditanam dengan cara dipancang menggunakan alat pancang khusus

Titik-titik pondasi dibor, kemudian dicor di tempat dengan tulangan besi / baja dan beton.

Keuntungan

- Kualitas tinggi

- Pengerjaan relatif cepat - Cocok untuk kondisi tanah

yang luas

- Tidak ada getaran - Kebisingan rendah

- Diameter relatif besar sehingga daya dukung kuat

Kerugian

Saat pemancangan:

- Getarannya dapat menimbulkan resiko kerusakan pada bangunan sekitar

- Suaranya sangat keras, perlu alat penutup telinga.

- Relatif mahal

- M emerlukan area yang luas

Sumber: http://www.indopora.com

Asrama M ahasiswa Bina Nusantara yang terletak di kawasan padat penduduk dan didukung dengan tapak yang relatif luas, sebaiknya menggunakan pondasi bored-pile agar kawasan di sekitar tapak tidak terganggu.

Upper-Structure

Upper-structure merupakan bagian kolom, balok, dan plat lantai; yang berfungsi untuk mendukung dan menyalurkan beban bangunan ke bagian sub-structure.

(49)

74  Terdapat dua pilihan upper-structure yang berhubungan dengan kolom dan balok:

a. Struktur Rangka

Terdiri dari rangka pembentuk kolom dan balok, dimana penutup dindingnya merupakan elemen non-struktural.

b. Struktur Dinding Geser (Shear Wall)

M erupakan dinding (bidang masif) yang menerus hingga ke bagian teratas bangunan, berfungsi sebagai elemen struktural yang menahan beban bangunan dan lateral.

Tabel 4-25. Alternatif Bahan Konstruksi

Konstruksi Keuntungan Kerugian

Beton Bertulang

- Tahan api - Bebas korosi

- Bahan struktur mudah didapat

- Lemah terhadap gaya tarik

- Bentangan besar, dimensi bertambah

Baja

- Pemasangan cepat dan mudah

- ringan

- Dapat dipakai kembali

- Tidak tahan api - M udah berkarat - Kurang fleksibel

Baja Komposit

- Pemasangan relatif cepat - Kuat terhadap gaya tekan dan

tarik

- Struktur relatif berat - Relatif mahal

Gambar

Gambar 4-1. Alternatif Lokasi Tapak
Gambar 4-2. Lingkungan Sekitar Tapak
Gambar 4-6. Alternatif 2 terhadap M atahari
Gambar 4-7. Alternatif 1 terhadap Angin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hewan uji diberikan ekstrak etanol kulit kacang tanah dosis 200 mg/kgBB dengan volume pemberian 2,5 mL/200 gBB diberikan peroral pada 1 jam; 0,5 jam dan sesaat

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik secara garis besar bahwa pemberian perlakuan berupa penerapan konseling kelompok self management

Dari uraian tersebut, maka dapat disimpul- kan ada tiga tindakan pencegahan yang dilakukan toko produk pangan yang menjadi responden da- lam penelitian ini yaitu kebijakan

Penelitian ini memiliki tujuan umum untuk melakukan survei kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan di Klinik UIN Sunan Ampel Surabaya dan tujuan khusus

 Untuk mengetahui faktor resiko yang diduga berperan dalam terjadinya myoma uteri pada pasien dalam laporan kasus ini..  Untuk mengetahui bagaimana diagnosis myoma uteri

Caranya adalah melalui difusi (penyebaran), dimana unsur kebudayaan baru diserap ke dalam suatu kebudayaan yang berada dalam keadaan konflik dengan unsur

Hasil analisis yang telah dilakukan diatas menunjukkan pengaruh variabel bebas yang terdiri dari instore atmosphere, outstore atmosphere dan lokasi toko secara