Mengenal Tembang Macapat

Teks penuh

(1)

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FKIP Univet Bantara Sukoharjo Jl. Letjen. S. Humardani No. 1 Sukoharjo 57521 Telp. 0271593156

Abstrak

Tembang Macapat adalah bagian dari empat jenis Tembang yaitu, tembang gedhe, tembang tengahan, tembang cilik dan tembang dolanan. Tembang Macapat masih sering digunakan atau dipakai pada acara-acara tertentu seperi pertunjukkan Wayang, pentas Karawitan dan sebagainya dan bahkan masih digunakan sebagai salah satu materi pada mata pelajaran Bahasa Jawa pada tingkat sekolah dasar sampai menengah atas. Jadi tembang Macapat masih hidup dan berkembang sampai sekarang. Tembang Macapat juga memiliki pedoman-pedoman di dalam penciptaannya, yang di dalam satu pada (bait)nya ada aturan-aturan tersendiri yang harus ada. Syair-syair atau cakepan yang ada di dalam tembang macapat juga syarat dengan nuansa keindahan sastra yang indah dan tidak gampang dimengerti apabila tidak memahami asal muasal kata-kata yang dipakai dan dalam istilah Jawa disebut tidak mlaha atau vulgar seperti bahasa sehari-hari. Tembang macapat merupakan hasil karya sastra yang luar biasa yang didalamnya syarat dengan nilai-nilai atau ajaran yang luhur, yang karena nilai-nilai tersebut membuat tembang macapat masih hidup dan berkembang sampai saat ini. Jenis-jenis tembang macapat adalah mijil, maskumambang, sinom, pangkur, dhandhanggula, asmaradana, gambuh, kinanthi, pocung. Seseorang yang ingin belajar tembang macapat tidak hanya bisa melagukan atau bisa nembang saja tetapi harus mengetahui isi dan inti tembang tersebut. Terdapat beberapa pedoman yang dapat digunakan dalam belajar tembang Macapat yaitu : 1) Pahami arti tembang Macapat, 2) Pahami isi Tembang Macapat, 3) Temukan inti tembang, 4) Perhatikan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan, 5) Perhatikan pembagian bait (pada) masing-masing tembang, 6) Pahami pengelompokan (pupuh) dalam tembang Macapat, 7) Sering mendengarkan, dan 8) Berlatih secara rutin

Kata-kata kunci : Tembang macapat, Belajar tembang

Pendahuluan

Tembang Jawa adalah salah satu bentuk karya seni yang berupa olah suara dengan media bahasa dan sastra Jawa dan menggunakan nada atau laras gamelan slendro atau

pelog. Tembang Jawa yang terdiri dari empat macam tembang yaitu tembang gedhe,

tembang tengahan, tembang cilik dan tembang macapat masing-masing memiliki kandungan filosofi yang berbeda. Tembang macapat sebagai tembang cilik terdiri dari sebelas macam tembang dan masing-masing mengandung makna pitutur atau nasehat tentang perilaku yang utama dalam kehidupan pribadi individu maupun bermasyarakat. Namun demikian tembang ini telah banyak ditinggalkan oleh generasi muda terutama yang lahir pada paruh akhir abad XX karena tergeser oleh tembang-tembang populer baik dari negeri sendiri maupun dari negara lain khususnya dari Amerika dan Eropa. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ghozali (2009) tentang nilai-nilai moral dalam

serat Wedhatama di Surakarta menemukan bahwa dalam pergaulan kaum muda, etika

dan sopan santun orang Jawa kurang diperhatikan, kaum muda tidak lagi memahami petuah-petuah Jawa dan memandang tembang Jawa sekedar sebagai hiburan yang tidak mengandung makna tuntunan.

(2)

Pada masyarakat Jawa khususnya di jawa Tengah dan Yogyakarta terdapat beberapa tradisi yang masih dilaksanakan dengan menggunakan bahsa Jawa sebagai pengantar seperti dalam upacara pernikahan, pesta atau peringatan hari-hari penting seseorang, dan sebagainya. Dalam pelaksanaan tradisi tersebut tidak jarang dilantunkan tembang-tembang Jawa namun lebih bersifat tembang Jawa modern (campur sari) yang maknanya sering kali tidak sesuai atau bahkan bertolak belakang dengan maksud upacaranya itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pencipta dan pelantun tembang Jawa tidak memahami makna tembang maupun maksud upacara dan memandang tembang sebagai karya seni serta hiburan semata. Hal ini terjadi karena sangat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai makna tembang Jawa sehingga perlu adanya upaya pengajaran tembang Jawa secara tepat kepada masyarakat khususnya siswa SD guna memasyarakatkan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.

Sekilas Tembang Macapat

Tembang macapat memiliki urutan yang menggambarkan perjalanan manusia sejak masih dalam kandungan hingga meninggal yaitu dimulai dari Maskumambang hingga

Pucung (Hascarya, 1979). Maskumambang (janin yang mengambang dalam rahim

ibunya), mijil (lahir), sinom (masa muda), asmarandana (masa memadu asmara), gambuh (mencapai kecocokan antara laki-laki dan perempuan), dhandhanggula (masa menjadi manusia dewasa), kinanthi (masa mendidik anak), pangkur (masa memegang prinsip dan membuat skala prioritas dalam hidup), durma (berderma), megatruh (berpisah antara ruh dan raga), dan pucung (meninggal dan dipocong). Dalam setiap tembang tersebut terkandung nilai-nilai moral, budi pekerti, dan berisi petunjuk atau tuntunan tentang perilaku utama yang harus dilakukan oleh manusia dari lahir hingga menjelang ajal agar dapat mencapai kemuliaan hidup dunia dan akhirat. Suatu kenyataan bahwa nilai-nilai dan petunjuk tersebut tidak lagi dipahami oleh generasi muda karena telah terjadi pemutusan rantai pewarisannya dari generasi sebelumnya sebagai akibat perubahan kurikulum pendidikan yang lebih mementingkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern (Anonim, 1994).

Tembang Jawa yang mengajarkan sendi-sendi kehidupan berbudi luhur saat ini menghadapi persaingan dengan tembang-tembang populer dan tembang-tembang dari manca negara yang mengedepankan sendi-sendi kehidupan modern, kesenangan sesaat, dangkal, dan cenderung mengeksploitasi selera rendah masyarakat. Hal ini diperburuk oleh media massa yang memberi ruang lebih banyak untuk representasi budaya modern dibanding budaya tradisional termasuk tembang Jawa. Metode pengajaran tembang Jawa yang efektif juga diperlukan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada para guru dan calon guru bahasa daerah sehingga terjadi pewarisan nilai-nilai moral, budi pekerti, dan tuntunan perilaku hidup yang utama. Fakta lain adalah bahwa :“Akhir-akhir ini terlihat semakin mundurnya penguasaan secara baik dan benar bahasa Jawa teruatama ragam krama oleh sebagian besar masyarakat Jawa .... Bahasa merupakan roh budaya, dengan hilang dan matinya suatu bahasa, akan hilang serta habis pulalah nilai-nilai budaya tersebut” (Sudibyo, 2006:99-100). Hal tersebut perlu diatasi melalui upaya-upaya pelestarian nilai-nilai budaya Jawa termasuk pelestarian tembang Jawa sebagai karya seni warisan leluhur yang bernilai budi pekerti tinggi. Pentingnya upaya pelestarian ini dapat diketahui dari pernyataan bahwa : “Masyarakat Jawa sangat dominan di Indonesia baik dari segi populasi, ekonomi, sosial, maupun kultural. Dalam kondisi demikian budaya Jawa berperan besar dalam kehidupan budaya bangsa sehingga aspek-aspek

(3)

budaya Jawa perlu dijadikan kajian dalam kurikulum sekolah” (Sudibyo, 2006:102). Hal ini menunjukkan bahwa pewarisan nilai-nilai budaya Jawa termasuk di dalamnya tembang Jawa, harus terus dilakukan karena budaya Jawa memiliki pengaruh luas dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia. Upaya ini memerlukan kajian intensif mengenai metode pengajaran efektif yang menarik, menyenangkan, dan dapat diterapkan untuk mewariskan nilai-nilai budaya Jawa kepada generasi penerus. Kajian ini juga penting mengingat metode pengajaran tembang Jawa yang ada selama ini belum mampu membuat siswa termotivasi untuk mempelajari tembang Jawa dan bahkan menakutinya.

Belajar Tembang Macapat

Tembang macapat adalah olah suara yang menggunakan acuan nada pentatonis

Jawa, dan menggunakan media bahasa Jawa yang terbingkai oleh sastra/bahasa-bahasa indah (Sri Widodo,1996:5). Nada-nada suara diluar nada diatonic adalah nada pentatonic. Terdapat banyak ragam nada pentatonic namun untuk nada pentatonic Jawa adalah yang nada dasarnya khusus slendro dan pelog atau nada gamelan. Banyak kalangan menilai bahwa belajar tembang macapat sangat sulit karena memiliki irama (cengkok) yang berbeda dengan tembang-tembang popular yang lebih mudah didendangkan. Namun sesungguhnya belajar tembang macapat tidaklah sulit karena ada beberapa langkah yang dapat dilalui agar seseorang dapat menguasai tembang-tembang macapat secara baik. Beberapa langkah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pahami arti tembang Macapat 2. Pahami isi Tembang Macapat 3. Temukan inti tembang

4. Perhatikan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan 5. Perhatikan pembagian bait (pada) masing-masing tembang 6. Pahami pengelompokan (pupuh) dalam tembang Macapat 7. Sering mendengarkan

8. Berlatih secara rutin

Tembang Macapat apabila dilihat dari cakepan/syairnya digolongkan menjadi 3

jenis yaitu: jenis pitutur/petuah, jenis teka-teki dan jenis cerita. Tembang jenis

pitutur/petuah ini sangat jelas apabila dilihat dari cakepan/syairnya yang menyampaikan

ajaran-ajaran yang baik dan sangat berguna bagi kemaslahatan. Contoh : tembang

Pocung (ngelmu iku kalakone kanthi laku,lekase lawan kas,tegese kas nyantosani,setya budya pangakese dur angkara). Terjemahannya adalah sebagai berikut : ilmu itu bisa

didapat apabila cara mendapatkannya dengan laku/dijalani dengan sungguh-sungguh (usaha dan doa), niyatnya dengan kas, arti kas adalah dengan membuktikan sendiri/ tidak boleh hanya mendengarkan orang yang punya ilmu, setiya terhadap budaya/ segala tingkah laku berpedoman terhadap budaya Jawa akan bisa mengekang/membunuh watak yang jelek.

(4)

Tembang macapat jenis teka-teki ini apabila dilihat/dicermati dari syairnya

menggambarkan sesuatu. Contoh tembang Durma (Paman paman apa wartane ing

ndalan,Ing ndalan keh wong mati,Mati kena apa,Mati suduk salira,Ing jaja terusing gigir, Pan kaniaya,Badan kari ngalinthing). Terjemahannya: Paman atau menyebut

seseorang dan bertanya ada kejadaian dijalan, dijalan kok banyak orang meninggal, matinya kena apa yaa. Kok matinya ditusuk dari dada sampai ke punggung, betul-betul teraniaya dan bangkainya tidak terurus sampai menjadi tulang dan kulit saja/ saling berserakan tidak terurus bahkan ada yang seperti mumi. Ternyata jawaban teka-teki itu adalah gambaran pedagang tahu kupat yang sedang meracik makanan kupat di atas piring. Kupat bisa dihidangkan di atas piring melalui proses penyiksaan terlebih dahulu.

Tembang macapat jenis ini biasanya memiliki cerita yang beraneka ragam, tetapi

umumnya sumber ceritanya dari: pewayangan, sejarah, legenda dan kejadian-kejadian penting seperti memperingati pembuatan bangunan-bangunan dan lain sebagainya. Contoh : Tembang Asmaradana (Anjasmara ari mami, Mas mirah kulaka warta,

Dasihmu tan wuru layon, Anning kutha Probolinnggo, Prang tandhing wuru Bisma, Kariya mukti wong ayu,Pun kakang pamit palastra). Terjemahannya : Menceritakan

Raden Damarwulan yang berpamitan dengan pasangannya Dewi Anjasmara. Raden Damarwulan akan berangkat ke medan perang membasmi musuh Negara Majapahit yaitu Sang Wuru Bisma/Raden Minak Jingga. Bagaimana kawatirnya Dewi Anjasmara yang mengtahui kesaktian Raden Minak Jingga sehingga melepas kepergian Raden Damar wulan serperti harus merelakan kematiannya.

Dalam setiap karya sastra tembang, di dalamnya selain ada isi juga ada inti yang bisa diambil yang sekaligus sebagai kandungan nilai yang sangat luhur. Contoh tembang dandhanggula pethilan dari serat Tripoma.

Pada I :

Wonten malih tuladhan prayogi, Satriya gung nagari Ngalengka, Sang Kumbokarno arane, Tur iku warna diyu,

Suprandene nggayuh utami, Duk wiwit prang Alengka, Denya darbe atur,

Mring raka pinrih raharja,

Dasamuka tan kengguh ing atur yekti, Dene mungsuh wanara.

Pada II

Kumbokarno kinen mangsah jurit, Mring kang raka sira tan nglenggana, Nuhoni kasatriyane,

Ing tekat datan purun, Among nyipta labuh nagari, Miwah kang yayah rena, Myang leluhuripun, Wus mukti aneng Alengka,

Mangke arsa rinusak ing bala kapi, Punagi mati ngrana.

(5)

Tembang tersebut dapat ditterjemahkan secara sederhana sebagai berikut : Kumbokarno sebagai ksatriya negara tidak mau disuruh kakaknya untuk membela rajanya karena kakaknya sebagai pihak yang salah. Namun Kumbokarno ketika melihat sendiri hancurnya negara oleh wadya bala kera merasa geram dan bertekat membela negara. Dalam hatinya tidak rela negaranya hancur oleh musuh. Ia merasa dirinya dan leluhurnya sudah berhutang segalanya ke negaranya. Jadi ia maju perang bukan Karena membela kakaknya tetapi membela Negara yang sangat dicintainya. Inti tembang tersebut menunjukkan bahwa sikap Kumbokarno terhadap negaranya adalah ikut

andarbeni/ memiliki, angrungkebi/akan berkorban demi negara, mulat salira angrasa wani/mawas diri atau intropeksi bahwa sang Kumbokarno berani bertanya kepada

dirinya “jangan Tanya Negara sudah memberi apa kepada kamu tetapi tanyalah dirimu sendiri apa yang sudah kamu berikan untuk negaramu. Sebenarnya andarbeni,

angrungkebi, mulat salira angrasa wani bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari

tehadap keluarga, lingkungan, kantor, tempat menuntut ilmu atau tempat lain dimana manusia harus merasa andarbeni, angrungkebi, mulat salira angrasa wani. Adapaun guru gatra, guru lagu, dan guru wilangannya dapat dijelaskan berikut ini :

a. Guru Gatra

Guru: pathokan/pedoman. Gatra: larik/baris.

Setiap jenis tembang dalam setiap baitnya memiliki pedoman-pedoman berbeda-beda terhadap jumlah barisnya.

b. Guru lagu

Guru : pathokan/pedoman.

Lagu : jatuhnya aksara vocal di akhir kata dalam setiap baris.

Setiap jenis tembang mempunyai pedoman yang sudah tidak bisa diganti tentang jatuhnya aksara vocal dalam setiap akhir kata dam setiap barisnya.

c. Guru wilangan

Guru : pathokan/pedoman

Wilangan : jumlah suku kata/wanda dalam setiap baris.

Setiap jenis tembang mempunyai pedoman yang sudah ada dan tidak bisa berubah tentang jumlah wanda/suku kata dalam setiap barisnya.

Pedoman guru gatra, lagu dan wilangan.

Jenis Tembang Jumlah

Gatra/baris Guru Lagu

Guru Wilangan/Suku Kata Mijil 6 i,a/o,e,i,i,a/o 10,6,10,10,6,6 Makumambang 4 i,a,i,a 12,6,8,8 Sinom 9 a/o,i,a/o,i,i,u,a/o,i,a/o 8,8,8,87,8,7,8,12 Asmaradana 7 i,a/o,a/o/e,a/o,a/o,u,a 8,8,8,8,7,8,8 Gambuh 5 u,u,i,u,a/o 7,10,12,8,8 Kinanthi 6 U,i,a/o,i,a/o,i 8,8,8,8,8,8 Dhandhanggula 10 i,a/o,e,u,i,a/o,u,a/o,i,a/o 10,10,8,7,9,7,6,8,12,7 Pangkur 7 a/o,i,u,u,a/o,i 8,11,8,7,12,8,8 Pocung 4 U,a/o,i,a/o 12,6,8,12

(6)

Setiap tembang boleh jadi terdiri dari beberapa bait (pada). Pada adalah pedoman/pathokan banyaknya baris, suku kata/wanda dan jatuhnya aksara vocal/guru

lagu di dalam satu jenis tembang. Bisa saja pada disebut bait, tetapi bait yang ada

norma-norma penyusunannya. Jadi yang dinamakan pada/bait antara jenis tembang satu dan lainnya berbeda-beda karena mempunyai pedoman sendiri-sendiri. Selain itu terdapat juga pengelompokan beberapa tembang macapat ke dalam kelompok (pupuh).

Pupuh mengacu pada penyebutan jenisnya tembang dan bukan banyaknya pada/bait

didalamnya. Contoh : Serat Sendari. Serat Sendari : didalamnya ada 2 pada pocung + 2

pada asmaradana+ 3 pada mijil. Jika ada pertanyaan Serat Sendari ada berapa pupuh?

Jawabanya adalah 3 pupuh, yaitu pupuh pocung, asmaradana,mijil.

Supaya dapat memahami dan belajar tembang macapat secara lebih baik dianjurkan untuk sering mendengarkan nyanyian tembang tersebut agar cepat merasakan nada-nada Jawa laras slendro atau pelog. Semakin sering mendengarkan semakin mengenal dan cepat mengetahui tinggi rendahnya nada-nada Jawa. Selanjutnya setelah sering mendengarkan sebaiknya juga berlatih secara rutin. Latihan rutin dapat dilakukan tiap hari beberapa kali dan di dalam latihan tidak harus lama waktunya tetapi rutin sehari. Berlatih sebentar tetapi sering akan lebih baik dibandingkan berlatih lama tetapi jarang. Semakin sering latihan akan semakin baik hasilnya karena seseorang yang sering berlatih akan lebih terbiasa dengan irama (cengkok) dan semalin luwes dalam melagukan masing-masing tembang.

Penutup

Seseorang yang ingin belajar tembang macapat tidak hanya bisa melagukan atau bisa nembang saja tetapi harus mengetahui isi dan inti tembang tersebut. Terdapat beberapa pedoman yang dapat digunakan dalam belajar tembang Macapat yaitu : 1) Pahami arti tembang Macapat, 2) Pahami isi Tembang Macapat, 3) Temukan inti tembang, 4) Perhatikan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan, 5) Perhatikan pembagian bait (pada) masing-masing tembang, 6) Pahami pengelompokan (pupuh) dalam tembang Macapat, 7) Sering mendengarkan, dan 8) Berlatih secara rutin

Daftar Rujukan

Anonim. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar 1994. Jakarta : Departemen Penididkan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Ghozali. 2009. Nilai-nilai Moral dalam Serat Wedhatama. Surakarta : Tiga Serangkai. Hascarya, Sri Gunawan. 1979. Buku Macapat. Surakarta: Proyek pengembangan ASKI

1979-1980.

Sri Widodo. 1996. Ajar Nabuh Gamelan. Sukoharjo : Cenderawasih.

Sudibyo, Iman. 2006: Peranan Kebudayaan Jawa dalam Pengembangan Kebudayaan Nasional dalam Pernak pernik Budaya Jawa, Salatiga. Pusat Studi Budaya jawa

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :