• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Atsiri Banyaaak Bgt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Atsiri Banyaaak Bgt"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Berbagai jenis Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Berbagai jenis tanaman dapat ditemukan di Indonesia. Di Indonesia terdapat banyak tanaman penghasil tanaman dapat ditemukan di Indonesia. Di Indonesia terdapat banyak tanaman penghasil minyak atsiri, sehingga Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor minyak atsiri minyak atsiri, sehingga Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor minyak atsiri terbesar di dunia. Akan tetapi, Indonesia masih mengimpor minyak atsiri dari negara lain. terbesar di dunia. Akan tetapi, Indonesia masih mengimpor minyak atsiri dari negara lain. Impor minyak atsiri yang masih tinggi antara lain disebabkan teknologi pengolahan Impor minyak atsiri yang masih tinggi antara lain disebabkan teknologi pengolahan minyak atsiri di Indonesia belum mampu mengikuti perkembangan teknologi di negara minyak atsiri di Indonesia belum mampu mengikuti perkembangan teknologi di negara lain yang telah maju pesat. Umumnya petani minyak atsiri masih menerapkan teknologi lain yang telah maju pesat. Umumnya petani minyak atsiri masih menerapkan teknologi hulu dan bersifat tradisional, sehingga belum mampu menjamin kontinuitas pengadaan hulu dan bersifat tradisional, sehingga belum mampu menjamin kontinuitas pengadaan  produk dengan mutu yang konsisten. Oleh karena itu, perlu dipelajari dan diterapkan cara  produk dengan mutu yang konsisten. Oleh karena itu, perlu dipelajari dan diterapkan cara  ± cara dan teknologi dalam mendapatkan mutu minyak atsiri yang berkualitas.

 ± cara dan teknologi dalam mendapatkan mutu minyak atsiri yang berkualitas.

Untuk mendapatkan minyak atsiri dapat dilakukan dengan bebrbagai macam cara Untuk mendapatkan minyak atsiri dapat dilakukan dengan bebrbagai macam cara yaitu penyulingan, pengepresan, ekstrasi dengan pelarut menguap dan ekstrasi dengan yaitu penyulingan, pengepresan, ekstrasi dengan pelarut menguap dan ekstrasi dengan lemak padat (enfleurasi). Penyulingan adalah suatu proses pemisahan secara fisik suatu lemak padat (enfleurasi). Penyulingan adalah suatu proses pemisahan secara fisik suatu campuran dua atau lebih produk yang mempunyai titik didih yang berbeda, dengan cara campuran dua atau lebih produk yang mempunyai titik didih yang berbeda, dengan cara mendidihkan terlebih dahulu komponen yang mempunyai titik didih rendah terpisah dari mendidihkan terlebih dahulu komponen yang mempunyai titik didih rendah terpisah dari campuran. Dalam industri minyak atsiri dikenal tiga macam penyulinagn yaitu, campuran. Dalam industri minyak atsiri dikenal tiga macam penyulinagn yaitu,   penyulinagan dengan air, penyulingan dengan air ± uap, dan penyulingan dengan uap   penyulinagan dengan air, penyulingan dengan air ± uap, dan penyulingan dengan uap

langsung. langsung.

Selain dengan penyulingan minyak atsiri dapat didapatkan dengan cara adsorbsi Selain dengan penyulingan minyak atsiri dapat didapatkan dengan cara adsorbsi oleh lemak padat (

oleh lemak padat ( enfleurasienfleurasi ). Pada proses ini, adsorbsi minyak atsiri oleh lemak ). Pada proses ini, adsorbsi minyak atsiri oleh lemak  dilakukan pada suhu dingin, sehingga tidak merusak minyak yang disebabkan oleh panas. dilakukan pada suhu dingin, sehingga tidak merusak minyak yang disebabkan oleh panas. Proses enfleurasi menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode Proses enfleurasi menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lainnya, namun prosesnya lebih lama dan membutuhkan tenaga kerja yang trampil dan lainnya, namun prosesnya lebih lama dan membutuhkan tenaga kerja yang trampil dan  berpengalaman.

 berpengalaman.

Minyak atsiri yang berasal dari rempah ± rempah memiliki minyak dan resin yang Minyak atsiri yang berasal dari rempah ± rempah memiliki minyak dan resin yang dinamakan oleoresin. Oleoresin diperoleh dari hasil ekstraksi dan pemekatan komponen dinamakan oleoresin. Oleoresin diperoleh dari hasil ekstraksi dan pemekatan komponen non volatile dari rempah ± rempah. Oleoresin dapat dimanfaatkan sebagi bahan baku non volatile dari rempah ± rempah. Oleoresin dapat dimanfaatkan sebagi bahan baku   penyedap untuk pemberi cita rasa dalam produk ± produk olahan seperti pada industri   penyedap untuk pemberi cita rasa dalam produk ± produk olahan seperti pada industri

minuman segar, bahan baku obat, kosmetik, kembang gula dan roti. minuman segar, bahan baku obat, kosmetik, kembang gula dan roti.

(2)

Oleh karena itu, praktikum kali ini akan membahas mengenai penyulingan, enfleurasi dan juga ekstraksi oleoresin, sehingga praktikan akan lebih mengetahui mengenai minyak atsiri dan bagaimana cara mendapatkan minyak atsiri yang berkualitas. B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah utnuk mempelajari proses penyulingan minyak  atsiri, proses adsorbsi oleh lemak padat (enfleurasi), dan ekstraksi oleoresin.

first need to download it.

(3)

II. METODOLOGI A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ketel suling, labu florentine, gelas ukur, timbangan, pisau, talenan, erlenmeyer, pendingin balik, klafenger, aufhauser, neraca, casis, rotary evaporator, gelas piala, spatula, soxlet, an oven pengering.

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah, daun nilam, air, shortening, etanol 90 %, bunga sedap malam, bunga melati, heksan, kertas saring, cengkeh dan lada.

B. Prosedur

b.1 Penyulingan air ± uap

K etel suling diisi dengan air sebanyak kurang lebih 5 cm di bawah saringan, kemudian isi ke dalam ketel bahan yang akan disuling yang sebelumnya ditimbang terlebih dahulu. Labu Florentine di pasang dan alirkan air melalui kondensor. K etel dipanaskan dengan api langsung, saat tetesan kondesat pertama diamati dan dicatat. Penyulinagn dilakukan selama kurang lebih 2 jam. Mianyak yang dihasilkan sipisahkan dalam labu Florentine dan disimpan dalm botol untuk dianalisa pada minggu berikutnya. Dihitung rendemen yang dihasilkan.

b.2 Adsorbsi oleh Lemak Padat ( enfleurasi )

Alat enfleurasi disiapkan, pada sisi dasar alat dioleskan lemak setebal 1 ± 2 cm. Di atas lapisan lemak tersebut ditaburkan bunga segar yang telah ditimbang sampai 2/3  bagian dari rak terisi oleh bunga. Diamkan selama 24 jam pada suhu kamar dan disimpan dalam ruangan tertutup. Pada hari berikutnya larutkan lemak tersebut dalam alcohol 90% sampai semua lemak larut. Dinginkan campuran tersebut pada alt pendingin ( freezer  )  pada suhu sekitar -15 ºC, sampai bagian lemak membeku. Bagian lemak dipisahkan dari

alcohol dengan cara menyaring, sehingga diperoleh filtrate yang disebut ekstrait. Filtrate yang dihasilkan dipekatkan dengan cara menyuling sebagian besar alcohol menggunakan rotary evaporator. Cairan yang dihasilkan disebut absolute enfleurasi.

b.3 Ekstraksi Oleoresin

Bahan yang berupa umbi diiris tipis ± tipis, kemudian dikeringkan dan selanjutnya dihaluskan. Untuk bahan selain umbi bisa langsung dikeringkan lalu dihaluskan. Bahan ditimbang sebanyak kurang lebih 50 gram ( jumlah bahan menyesuaikan besar soxlet),

first need to download it.

(4)

kemudian dibungkus dengan kertas saring. Dimasukan ke dalam soxlet, lalu ditambahkan pelarut, pasang pendingin dan selanjutnya dipanaskan menggunakan   pemanas listrik. Lakukan pemanasan sampai larutan yang tersirkulasi pada bagian atas soxlet jernih. Ampas dikeluarkan dari soxlet, pelarut diuapkan di dalam labu soxlet. Berat oleoresin ditimbang di dalam labu, ke mudian dihitung rendemen oleoresin.

first need to download it.

(5)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan

Terlampir  B. Pembahasan

Minyak atsiri adalah salah satu jenis minyak yang terdapat di alam. Minyak atsiri dikenal juga dengan nama minyak eteris, minyak terbang (essential oil, volatile oil ) yang dihasilkan dari bagian tanaman ( daun, bunga, buah/biji, batang, kulit batang, dan akar). Minyak atsiri mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (  pungent taste), berbau wangi sesuai bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organic dan tidak larut dalam air.

Minyak atsiri memiliki fungsi yang banyak, dalam tanaman minyak atsiri dapat membantu proses penyerbukan (menarik beberrapa jenis serangga), mencegah kerusakan tanaman oleh binatang, dan sebagai cadangan makanan dalam tanaman. Dalam industry minyak atsiri dapat digunakan untuk kosmetik, pewangi, flavouring agent , antiseptic, obat ±  obatan dan sebagainya.

Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa proses metabolisme dalam tanaman yang terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan kimia dengan air. Minyak  tersebut disintesa dalam sel kelenjar (glandula sel) pada jaringan tanaman dan terbentuk juga dalam pembuluh resin (misalnya : minyak terpentin dari pohon pinus). Tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150 ± 200 spesies, yang termasuk family :   Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Mirtaceae, dan Umbelliferaceae. Minyak  atsiri selain dihasilkan oleh tanaman dapat juga terbentuk dari hasil degradasi trigliserida oleh enzim atau dapat dibuat dengan sintesis, misalnya vanilla.

Untuk mendapatkan minyak atsiri dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, dapat dilakukan dengan penyulingan, pengepresan, ekstrasi dengan pelarut menguap, dan dengan ekstraksi dengan lemak padat. Pada praktikum kali ini akan dilakukan penyulingan nilam sehingga dihasilkan minyak nilam dan dilakukan proses ekstraksi dengan lemak padat (enfleurasi) terhadap bunga sedap malam dan bunga melati.

1. Penyulingan

Penyulingan adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari dua macam campuran atau lebih, berdasarkan perbedaan titik uapnya dan proses ini

first need to download it.

(6)

dilakukan terhadap minyak atsiri yang larut dalam air. Jumlah minyak yang mneguap  bersama ± sama dengan uap air ditentukan oleh tiga faktor, yaitu besarnya tekanan uap yang digunakan, berat molekul masing ± masing komponen dalam minyak, dan kecepatan minyak  yang keluar dari bahan yang mengandung minyak.

Hasil penyulingan sebagian besar terdiri dari, yang pertama tersuling komponen minyak yang bertitik didih rendah, disusul dengan komponen bertitik didih lebih tinggi, dan mendekati akhir jumlah yang tersuling lebih sedikit. Sistem penyulingan ada tiga yaitu,   penyulingan dengan air (water destilation ), penyulingan dengan air dan uap (water and   steam destilation), dan penyulingan dengan uap ( steam destilation).

Minyak nilam (  patchouli oil ) adalah minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan terna daun tanaman nilam (  Pogostemon cablin Benth). Penyulingan adalah pemisahan komponen-komponen suatu campuran dari dua jenis cairan atau lebih berdasarkan perbedaan titik uapnya. Proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air.

Dalam industri pengolahan minyak atsiri dikenal tiga macam sistem penyulingan, yaitu penyulingan air, penyulingan dengan uap dan air, serta penyulingan uap. Cara   penyulingan yang paling sederhana untuk memperoleh minyak nilam adalah dengan  penyulingan air dan uap atau dikukus. Cara ini biasa dilakukan untuk skala kecil, sedangkan

untuk skala industri menggunakan cara penyulingan uap. Penyulingan terna daun nilam untuk mendapatkan minyak atsiri dilakukan antara 6-8 jam.

Indonesia merupakan penghasil minyak nilam terbesar di dunia yang tiap tahun memasok sekitar 75% kebutuhan dunia. Dari jumlah itu, 60% diproduksi di Nanggroe Aceh Darussalam dan sisanya berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah (Sumangat dan Risfaheri 1998). Republik Rakyat Cina merupakan produsen minyak nilam terbesar kedua setelah Indonesia. Negara-negara lain yang memproduksi minyak nilam adalah Brasil, Malaysia, India, dan Taiwan (Tasma dan Hamid 1989). Hampir seluruh   produksi minyak nilam Indonesia diekspor terutama ke Amerika Serikat, negara-negara

Eropa Barat, dan Jepang.

K omponen utama yang menentukan mutu minyak nilam adalah  patchouli alcohol  (Walker 1968). Minyak nilam merupakan bahan utama untuk mengikat bahan pewangi pada industri parfum dan kosmetik. Selain itu, minyak nilam dapat digunakan untuk  mengendalikan hama (Yusron dan Wiratno 2001). K andungan minyak nilam tertinggi

first need to download it.

(7)

terdapat pada bagian daun yaitu 4-5%. Sebelum disuling, daun nilam dijemur di bawah sinar  matahari selama 4 jam (dari pukul 10.00 sampai 14.00) selama 3-5 hari bergantung pada terik  matahari. Selama penjemuran, daun dibolak-balik agar kering merata dan tidak lembap. K adar air terna daun nilam kering optimal adalah 1215%.

Penyulingan dengan air sangat sederhana, bahan yang akan disuling kontak langsung dengan air mendidih. Namun hal ini yang menyebabkan peluang terjadinya hidrolisa pada konstituen minyak sangat besar, tingginya resiko terjadinya penggosongan bila pemanasan tidak dilakukan secara merata, membutuhkan ketel yang lebih besar dan jumlah bahan bakar  yang banyak.

Pada penyulingan dengan air dan uap, bahan diletakkan di atas rak ± rak atau saringan  berlubang. K etel suling diisi dengan air sampai permukaan air berada tidak jauh dari bawah saringan. Bahan yang disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas. Uap yang digunakan adalah uap jenuh atau uap kelewat panas pada tekanan lebih dari 1 atmosfir. Uap dialirkan melaui pipa uap berlingkar yang berpori yang terletak di bawah   bahan, dan uap bergerak ke atas melalui bahan yang terletak di atas saringan ( Guenther,

1955).

Penyulingan dengan uap langsung memiliki efisiensi penyulinan yang lebih tinggi dibandingkan penyulingan air dan penyulingan air-uap, karena waktu penyulingan relatif  sinngkat dan rendemen yang dihasilkan tinggi, tetapi membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan mahal. Pada praktikum kali ini yang dilakukan adalah metode penyulingan air   ± uap dengan bahan berupa daun nilam.

Pada praktikum kali ini, bahan yang digunakan adalah daun nilam seberat 6300 gr. Dimasukkan kedalam ketel penyulingan selama ± 2 jam. Setelah 2 jam didapatkan berat akhir minyak nilam seberat 68.5 gr dan didapatkan rendemen sebesar 1.087 %. Dari hasil   pada praktikum kali ini, tidak dilakukan analisis lebih jauh terhadap kandungan minyak 

nilam yang dihasilkan, dan dalam waktu 2 jam belum bisa diapatkan seluruh komponen minyak yang berasal dari daun nilam. Menurut rancangan revisi SNI tahhun 2003 standar  mutu minyak nilam untuk kadar patchouli alcohol adalah 31%, tetapi untuk mendapatkan kadar minyak nilam sebesar 31% membutuhkan waktu lebih lama dari 2 jam.

Minyak nilam tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya adalah   patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang biasanya

first need to download it.

(8)

mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun keringnya (seperti pada minyak cengkeh). Di Indonesia minyak nilam juga disuling dari kerabat dekat nilam yang asli dari Indonesia, nilam Jawa ( Pogostemon heyneani), yang memiliki kualitas lebih rendah.

Minyak nilam yang baik umumnya memiliki kadar PA di atas 30%, berwarna kuning  jernih, dan memiliki wangi yang khas dan sulit dihilangkan. Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap kering yang dihasilkan mesin penghasil uap (boiler ) yang diteruskan ke dalam tangki reaksi (autoklaf) selanjutnya uap akan menembus   bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan diteruskan ke bagian pemisahan untuk 

dilakukan pemisahan uap air dengan uap minyak nilam dengan sistem penyulingan. Minyak  nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan peralatan penyulingan yang terbuat dari   baja tahan karat ( stainless steel ) dan peralatan tersebut hanya digunakan untuk menyuling

nilam saja (tidak boleh berganti-ganti dengan ba han baku lain).

K arena sifat aromanya yang kuat, minyak ini banyak digunakan dalam industri   parfum. Sepertiga dari produk parfum dunia memakai minyak ini, termasuk lebih dari

separuh parfum untuk pria. Minyak ini juga digunakan sebagai pewangi kertas tisu, campuran deterjen pencuci pakaian, dan pewangi ruangan. Fungsi yang lebih tradisional adalah sebagai bahan utama setanggi dan pengusir serangga perusak pakaian. Aroma minyak  nilam dianggap 'mewah' menurut persepsi orang Eropa, tetapi orang sepakat bahwa aromanya bersifat menenangkan.

2.  E nfleurasi 

Praktikum selanjutnya adalah adsorbsi oleh lemak padat ( enfleurasi ). Pada proses ini, adsorbsi minyak atsiri oleh lemak dilakukan pada suhu dingin, sehingga tidak merusak  minyak yang disebabkan oleh panas. Proses enfleurasi menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lainnya, namun prosesnya lebih lama dan membutuhkan tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman.

Lemak merupakan molekul trigliserida yang mampu mengabsorbsi zat ±zat yang dapat menguap termasuk minyak atsiri. Daya absorbs lemak terhadap bau tergantung dari  plastisitas dan titik cair lemak tersebut. Pada praktikum kali ini bahan yang digunakan adalah  bunga sedap malam dan bunga melati yang menggunakan lemak berupa shortening.

Enfleurasi merupakan suatu teknik menghasilkan minyak bunga dengan cara menagkap minyak bunga yang mneguap dari kuntum bunga yang merekah menggunakan

first need to download it.

(9)

campuran lemak. Selanjutnya, minyak bunga dipisahkan dari campuran lemak dengan melarutkannya dalam alkohol hingga diperoleh minyak bunga alami. K eunggulan cara ini adalah mampu menghasilkan minyka bunga dengan jumlah dan mutu yang tinggi, karena selama proses tidak banyak bersentuhan dengan panas sehingga kehilangan dan kerusakan zat wangi sangat rendah. K elemahannya, teknik ini menyisakan limbah lemak yang perlu dicarikan cara pemanfaatannya, dan perlu tenaga terampil untuk pekerjaan defleurasi atau mengangkat kuntum ± kuntum bunga layu dari lapisan campuran lemak setelah proses  penyerapan / penagkapan minyak.

Proses enfleurasi sampai saat ini masih digunakan dalam industri minyak atsiri di daerah Perancis dan India. Minyak atsiri yang dihasilkan dari proses enfleurasi sangat mendekati minyak bunga alamiah dan paling baik dibandingkan proses ekstraksi pelarut menguap. Walaupun telah ditemukan proses ekstraksi yang lain, namun proses enfleurasi masih memegang peranan penting dan berjalan terus hingga saat ini dan terus disempurnakan   prosesnya. Peralatan yang digunakan adalah chasis yang terbuat dari kaca, chasis kaca

disusun bertingkat. Diusahakan terbebas dari sinar matahari dan udara bebas. K arena jika terganggu dua hal diatas dapat menyebabkan kerusakan lemak dan terganggunya proses yang  pada akhirnya gagal produksi.

K eberhasilan dari proses enfleruasi terletak pada proses persiapan lemak sebagai alat absorpsi. Lemak yang digunakan untuk proses enfleurasi harus memenuhi syarat ± syarat  berikut :

1. Lemak yang digunakan harus benar ± benar bersih dari kontaminan. 2. Tidak berbau dan bebas air.

3. Tidak terlalu lunak dan tidak t erlalu keras.

Ada beberapa jenis lemak yang digunakan untuk proses enfleurasi ini, yakni, lemak  sapi, lemak domba, lemak babi, dan lemak hewani lainnya. Selain menggunakan lemak, enfleurasi juga bisa dicampur dengan beberapa minyak nabati seperti minyak kedelai, minyak canola, dan minyak kacang ± kacangan. Bahkan penelitian terakhir dapat menggunakan mentega putih sebagai penjerap pengganti lemak hewan. Pada beberapa literatur ada yang menyebutkan campuran lemak sapi dan lemak babi dengan perbandingan 1 : 2 sangat baik untuk proses enfleurasi. Namun di Indonesia kita terkendala dengan status halal dan haram dimana sebagian besar warga negara Indonesia adalah muslim. Untuk itu

first need to download it.

(10)

  perlu dikembangkan suatu campuran baru untuk menggantikan lemak babi dalam proses enfleurasi.

Lemak yang diperoleh dari pasar kita bersihkan dari kotoran, seperti darah, kulit dan rambut yang masih tertinggal. Tangaskan diatas air yang dipanaskan sembari diberi air jeruk  untuk mempertahankan kerapatan lemak, selain air jeruk, menurut literatur juga dapat menggunakan air mawar dan air kemenyan. Namun pemberian air jeruk akan berpengaruh terhadap bau produk akhir. Setelah dipisahkan dari kotoran dan ditangaskan maka lemak  didinginkan dan siap untuk dipakai. Lemak yang siap dipakai tadi dibentuk seperti bubur, setelah itu kemudian ditaruh diatas plat kaca, dengan susunan dalam plat kaca tersebut dibuat   bolak ± balik depan belakang. Susunan lemak pada plat kaca sengaja disusun demikian

dengan fungsi saat disusun nantinya, lemak bagian atas kaca untuk menaruh bunga yang akan diserap minyaknya, bagian bawahnya berguna untuk menyerap minyak bunga yang menguap dari chasis dibawahnya. Setelah disusun seperti diatas, maka bunga siap ditaburkan.

Pada praktikum kali ini dilakukan adsorbsi minyak dengan lemak padat ( enfleurasi )  pada bunga melati dan bunga sedap malam. Bobot awal bunga melati yang digunakan adalah

seberat 234,21 gr setelah dilakukan proses enfleurasi selama 24 jam didapatkan bobot minyak seberat 3,98 gr dan didaptkan rendemen sebesar 1,7 %. Sedangkan bobot awal bunga sedap malam yang digunakan adalah seberat 324,63 gr setelah dilakukan proses enfleurasi didaptkan bobot minyak sebesar 2,77 gr dan didaptkan rendemen sebesar 0,85 %.

Minyak melati merupakan bahan baku parfum kualitas tinggi. Harga minyak melati di pasar  internasional tergolong tinggi, sekitar 6.000 dolar Amerika Serikat per liter atau setara dengan 54 juta rupiah (Purba 2000). Di Indonesia, kebutuhanminyak atsiri untuk industri kosmetik, sabun, dan   parfum masih dipenuhi dari impor. Pada tahun 1995 volume impor minyak atsiri berbahan baku   bunga tercatat 29 ton dengan nilai 415,4 dolar dan pada tahun 1999 meningkat menjadi 336 ton

dengan nilai 845,5 dolar (Biro Pusat Statistik 1995; 1999).

Metode produksi minyak melati antara lain adalah ekstraksi dengan pelarut menguap dan enfleurasi (ekstraksi menggunakan lemak dingin). Rendemen minyak melati yang dihasilkan dengan   pelarut menguap berkisar antara 0,054-0,0536% (Prabawati et al. 1999 Atawia et al. 1988a; 1988b).

Rendemen minyak melati yang diekstrak dengan pelarut menguap dipengaruhi oleh perbandingan   pelarut yang digunakan dan cara ekstraksi. Hasil penelitian Prabawati et al. (2002) menunjukkan   bunga melati Gambir yang diekstrak dengan perbandingan pelarut dan bunga 1 : 2 dan ekstraksi dilakukan dua tahap dihasilkan rendemen minyak tertinggi (0,135%). Menurut Guenther (1955)

first need to download it.

(11)

rendemen minyak yang dihasilkan dengan metode enfleurasi lebih tinggi. Suyanti et al. (2001) melaporkan rendemen minyak melati yang diekstrak dengan menggunakan adsorben lemak berkisar  antara 5,62 - 11,51 g/kg bunga.

Pada praktikum kali ini tidak dapat dibandingkan hasil antara minyak melati yang dihasilkan dari proses ekstraksi dengan pelarut dan minyak melati yang dihasilkan dari metode enfleurasi. Tetapi menurut literatur minyak melati yang dihasilkan dari proses enfleurasi pada bobot bunga melati yang sama menghasilkan rendeman minyak melati yang lebih tinggi dibandingkan ekstraksi minyak melati dengan menggunakan pelarut. Hal ini dikarenakan dengan teknik enfleurasi bahan tidak terkena panas,sehingga kemungkinan rusaknya komponen yang terkandung pada bahan lebih kecil jika dibandingkan dengan menggunakan ekstraksi dengan pelarut atau dengan penyulingan. Pada praktikum ini juga hanya dilakukan satu kali enfleurasi pada bunga melati tidak dilakukan penggantian dengan  bura baru sebanyak empat kali atau lebih.

Bukan hanya pada minyak melati, minyak sedap malam juga dapat dihasilkan dengan menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut dan metode enfleurasi. Minyak sedap malam yang dihasilkan dari metode enfleurasi juga lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut.

Mutu minyak yang diproduksi dengan cara enfleurasi sangat dipengaruhi oleh jenis adsorben yang digunakan dan frekuensi penggantian bunga. Jenis adsorben yang paling baik  adalah campuran lemak babi dan lemak sapi (1:2). Namun, metode enfleurasi dengan menggunkan adsorben lemak babi jarang digunakan karena mempertimbangkan bagi  pengguna yang muslim. Sebagai penggantinya dapat digunakan, jenis ´shortening´ untuk kue dan roti yaitu campuran lemak sapid an lemak nabati. Rendemen absolute yang dihasilkan dengan cara enfleurasi lebih besar dibandingkan dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut menguap. Rendemen minyak sedap malam hasil enfleurasi berkisar antara 0,52 ± 0,72 %. Rendemen minyak tertinggi diperoleh dengan menggunakan jenis ³shortening snow white´ (0,72%) dan terendah dihasilkan oleh adsorben campuran lemak sap dan minyak bunga matahari dengan rendemen minyak 0,52 % (Sailah et al, 2000).

Pada praktikum kali ini dihasilkan 0,85 % rendemen, hasil ini melampaui rendemen minyak sedap malam berdadsarkan praktikum, hal ini dapt disebabkan banyak faktor, bisa

first need to download it.

(12)

saja saat menyuling alkohol tidak semua alkohol menguap, sehingga masih ada yang tersisa di bahan, sehingga minyak yang dihasilkan masih mengandung alkohol.

  Nit.. tinggal masukkin yg oleoresin sm kesimpulan sm daftar pustaka

yang oleoresin.. thx nit

Oiya cover gw jg blm bikin.

T

rus data yg isolasi jg gw ga punya, tinggal

dimasukkin ke lampiran aja ya nit«

first need to download it.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Atawia, B.A., S.A.S. Hallabo, and M.K . Morsi. 1988a. E  ffect of type of solvent on quality and  quality of jasmine concrete and absolut . Egyptian J. Food Sci. 16(1-2):212-224.

Atawia, B.A., S.A.S. Hallabo, and M.K Morsi. 1988b. Hexan extraction of acidified jasmine  flower . Egyptian J. Food Sci. 16(1-2)225-235.

Badan Pusat Statistik. 1999. Statistik tanaman obat-obatandan hias. Badan Pusat Statistik. Jakarta Indonesia.

Biro Pusat Statistik. 1995. Data impor dan ekspor . Biro Pusat Statistik. Jakarta Indonesia. Biro Pusat Statistik. 1999. Data impor dan ekspor . Biro Pusat Statistik. Jakarta Indonesia. Guenther, E. 1955. The essential oil. Volume 5. Robert F. K rieger Publishing Co. Inc.

Huntington New York.

Prabawati, S., D.A. Endang, dan A.S.B. Dondy. 1999. Potensi kandungan dan sifat fisiko kimiawi concret melati. Balai PenelitianTanaman Hias Jakarta.

Sailah, I., S. K etaren, Sunarmani, dan Suyanti. 2000. E kstraksi Minuak Atsiri dari Bunga Sedap  Malam. Laporan Hasil PenelitianK erja Sama Penelitian Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sumangat, D. dan Risfaheri. 1998. Standar dan masalah mutu minyak nilam Indonesia.

 Monograf Nilam (5). Balai PenelitianTanaman Rempah dan Obat, Bogor. hlm. 108-115. Suyanti, S. Prabawati, D.A. Endang, dan Sjaifulah. 2001. Pengaruh jenis absorbent dan frekuensi

 penggantian bunga terhadap mutu minyak melati. J. Hort. 11(1):51-57.

Tasma, I.M. dan A. Hamid. 1989.   Hasil penelitian dan pengembangan tanaman minyak atsiri  Indonesia. Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan PengembanganTanaman Industri,

Buku VII. Tanaman Minyak Atsiri. hlm. 1075-1082. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor 

Walker, G.T. 1968. The structure and synthesis of patchouly alcohol . Manufacturing Chemist and Aerosol News. p. 27-28.

Yusron, M. dan Wiratno. 2001.   Budidaya Tanaman Nilam. Circular (3) Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat , Bogor. 29 hlm.

first need to download it.

(14)

LAMPIRAN

Hasil Pengamatan

Penyulingan

Bahan Berat awal Berat akhir Rendemen

Nilam 6300 gr 68.5 gr 1.087%

Enfleurasi

Bunga Bobot awal bunga Bobot Minyak Rendemen

Melati 234.21 gr 3.98 gr 1.70%

Sedap Malam 324.63 gr 2.77 gr 0.85%

Oleoresin

Bahan Bobot Awal Bobot Akhir Rendemen

Cengkeh 8.67 gr 7.69 gr 88.70%

Lada 7.77 gr 4.78 gr 61.50%

first need to download it.

Referensi

Dokumen terkait

Seluruh Dosen, Karyawan, dan Seluruh Civitas Akademika Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya yang telah memberikan semangat dan banyak membantu dalam

Studi terdahulu menunjukkan terdapat hubungan positif signifikan antara locus of control eksternal dengan penerimaan auditor atas perilaku audit disfungsional

Produktivitas kakao di Kabupaten Sikka bagian barat maupun timur rata-rata masih rendah dengan sebaran tingkat produktivitas kakao mulai dari <100 kg/ha per tahun

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah katalis zeolit alam pada proses pirolisis limbah plastik dengan kondisi bebas oksigen untuk memperoleh

Jika ada layanan angkutan umum yang layak (seperti layanan BRT) yang mengakses wilayah Sekaran atau disebut Feeder dengan waktu tunggu, tarif yang tetap dengan rute koridor

Model penanganan keluhan pasien yang komprehensif dalam upaya peningkatan pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah Sijunjung dari hasil penelitian ini diharapkan

potato, the nutrient of sweet potato, the definition of pizza, the history of pizza, the variety of pizza, the pizza dough composition, pizza dough making process4.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai manajemen pengembangan kompetensi guru yang efektif, kendala-kendala yang dihadapi dalam