• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

11

BAB 2

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Pengertian Manajemen

Menurut James A.F. Stoner, Manajemen adalah suatu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menurut Richard L. Daft, Manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara yang efektif dan efisien melalui perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian sumber daya organisasi.

Menurut W.Griffin, Manajemen adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efisien.

Menurut Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai satu tujuan.

2.1.1 Fungsi Manajemen

Menurut Robbins dan Coulter, fungsi manajemen terbagi menjadi 4 fungsi yaitu sebagai berikut :

1)Merencanakan yaitu fungsi manajemen yang mencakup proses mendefinisikan sasaran, menetapkan strategi untuk mencapai sasaran itu, dan menyusun rencana untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan sejumlah kegiatan. Singkatnya adalah

(2)

mendefiniskan sasaran, menetapkan strategi, dan menyusun bagian-bagian rencana untuk mengkoordinasikan sejumlah kegiatan.

2)Mengorganisasi yaitu fungsi manajemen yang mencakup proses menentukan tugas apa yang harus dilakukan, siapa yang harus melakukan, bagaimana cara mengelompokkan tugas-tugas itu siapa yang harus melapor ke siapa, dan dimana keputusan harus dibuat. Singkatnya menentukan apa yang perlu dilakukan, bagaimana cara melakukan, dan siapa yang harus melakukannya.

3) Memimpin yaitu fungsi manajemen yang mencakup motivasi bawahan, mempengaruhi individu atau tim pada saat mereka bekerja, memiliki saluran komunikasi yang paling efektif, dan memecahkan dengan berbagai cara masalah perilaku karyawan. Singkatnya mengarahkan dan memotivasi seluruh pihak yang terlibat dan menyelesaikan konflik.

4) Mengendalikan yaitu fungsi manajemen yang mencakup memantau kinerja actual, membandingkan actual dengan standar, dan membuat koreksinya, jika perlu. Singkatnya memantau kegiatan untuk meyakinkan bahwa kegiatan tersebut diselesaikan seperti yang direncanakan.

(3)

2.1.2 Pengertian Manajemen Operasi

Menurut Subagyo, Manajemen operasi adalah kegiatan untuk mengubah bentuk untuk menambah manfaat atau menciptakan manfaat baru dari suatu barang atau jasa.

Menurut Richard L. Daft, Manajemen operasi adalah bidang manajemen yang mengkhususkan pada produksi barang, serta menggunakan alat-alat dan teknik-teknik khusus untuk memecahkan masalah-masalah produksi.

Menurut Soentoro Ali Idris, Manajemen operasi adalah proses transformasi dari input menjadi output yang mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan inputnya.

Secara umum, kegiatan operasi merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan dan pembuatan barang, jasa, atau kombinasinya melalui proses transformasi dari masukan sumber daya prodeksi menjasi keluaran yang diinginkan.

Sehingga dapat disimpulkan pengertian dari manajemen operasi adalah proses pengolahan input berupa barang dan mengtransformasikannya menggunakan alat-alat serta teknik-teknik khusus untuk menciptakan manfaat baru dengan nilai lebih tinggi daripada inputnya.

2.1.3 Fungsi Operasi dalam Organisasi

Perusahaan besar umumnya memberikan tugas suatu fungsi pada departemen-departemen yang terpisah yang berarti menuntut tanggung jawab masing-masing. Untuk menghasilkan barang dan jasa, seluruh organisasi melakukan tiga fungsi. Fungsi-fungsi ini diperlukan tidak hanya untuk produksi tapi juga untuk kelangsungan hidup organisasi. Ketiga fungsi ini menurut Deitiana, Tita dalam bukunya tentang Manajemen Operasional Strategi dan Analisis yaitu :

1. Fungsi pemasaran : fungsi ini membuat adanya permintaan atau paling tidak mendapatkan pesanan untuk pembuatan barang dan jasa.

(4)

3. Keuangan/akuntansi : fungsi ini memantau apakah perusahaan berjalan dengan baik, membayar seluruh tagihan dan mencari sumber dana.

Instusi apapun, universitas, pemerintahan dan seluruh bisnis melakukan fungsi ini. Departemen operasi pada umumnya bertanggung jawab atas transformasi input menjadi barang jadi atau jasa. Pada organisasi yang kecil, pemilik bias jadi akan mengelola sendiri satu atau lebih fungsi, misalnya pemasaran dan operasi.

Dalam melaksanakan tugasnya manager operasi juga perlu memiliki banyak bidang keahlian antara lain yaitu : analisi kuantitatif untuk menyelesaikan masalah, pengetahuan system informasi untuk mengelola data yang sangat banyak, konsep perilaku organisasi untuk membantu mendesai pekerjaan dan mengatur karyawan dan memahami bisnis internasional untuk memperoleh ide-ide tentang pemilihan lokasi, teknologi dan manajemen persediaan.

2.2 Peramalan

Menurut Render, Berry, dan Heizer dalam bukunya manajemen operasi (2009, p.162) mengatakan bahwa peramalan adalah seni atau ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan pengambilan data historis dan memproyeksikannya ke masa mendatang dengan suatu bentuk model sistematis .

Menurut Pujawan (2005, p.87) menyatakan bahwa peramalan permintaan adalah kegiatan untuk mengestimasikan besarnya permintaan terhadap barang atau jasa tertentu pada suatu periode dan wilayah pemasaran tertentu. Ramalan yang tidak akurat bias menimbulkan masalah pada supply chain.

Menurut Prasetya, Heri, dan Lukiastuti dalam bukunya manajemen operasi (2009, p.43) peramalan adalah suatu usaha untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang melalui pengujian keadaan di masa lalu.

Menurut Sellani, Robert J (2009) dalam Journal of the Internasional Academy for case studies. The sales forecast is the most important plan in an organization. For a manufacturing company, the sales forecast must be in sufficient detail for manufacturing to translate those requirements into physical products. Therefore it is not sufficient for the sales forecast to be equal to last years’ sales plus 10%. Manufacturing must know which products are going to be

(5)

obsolete, which will be increasing and decreasing in sales, and which will require new manufacturing methods in productions.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa peramalan berkaitan dengan upaya untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan, berbasis pada metode ilmiah (ilmu dan teknologi) serta dilakukan secara sistematis. Serta peramalan itu adalah kegiatan yang bersifat teratur, berupa memprediksikan masa depan dengan menggunakan tidak hanya metode ilmiah namun juga mempertimbangkan hal-hal yang bersifat kualitatif (perasaan, pengalaman, dan lain-lain).

2.2.1 Meramalkan Horizon Waktu

Menurut Render, Barry dan Heizer dalam bukunya manajemen operasi (2009,p.163) mengatakan bahwa peramalan biasa diklasifikasikan berdasarkan horizon waktu masa depan yang dilingkupinya. Horizon waktu terbagi menjadi beberapa kategori :

1. Peramalan Jangka Pendek

Peramalan ini meliputi jangka waktu hingga satu tahun, tetapi umumnya kurang dari tiga bulan. Peramalan ini digunakan untuk meramalkan pembelian, penjadwalan kerja, jumlah tenaga kerja, penugasan kerja dan tingkat produksi. 2. Peramalan Jangka Menengah

Peramalan jangka menengah atau intermediate umumnya mencakup hitungan bulan hingga tiga tahun. Peramalan ini bermanfaat untuk merencanakan penjualan, perancanaan dan anggaran produksi, anggaran kas, serta menganalisi bermacam-macam rencana operasi.

3. Peramalan Jangka Panjang

Umumnya untu perencanaan tiga tahun atau lebih. Peramalan jangka panjang digunakan untuk merencanakan produk baru, pembelanjaan modal, lokasi atau pengembangan fasilitas, serta penelitian dan pengambangan.

(6)

2.2.2 Jenis Peramalan

Berdasarkan Render, Barry dan Heizer dalam bukunya manajemen operasi (2009,p.164) mengatakan bahwa berbagai organisasi merupakan tiga jenis peramalan yang utamadalam perencaaan operasi di masa depan :

1. Peramalan ekonomi ( Economic Forecast )

Peramalan ekonomi menjelaskan siklus bisnis dengan memprediksi tingkat inflasi, ketersediaan uang, dana yang dibutuhkan untuk membangun perumahan, dan indicator perencanaan lainnya.

2. Peramalan teknologi ( Technology Forecast )

Peramalan teknologi memperhatikan tingkat kemajuan teknologi yang dapat meluncurkan produk baru yang menarik yang membutuhkan pabrik dan peralatan baru.

3. Peramalan permintaan ( Demand Forecast )

Peramalan permintaan adalah proyeksi permintaan untuk produk atau layanan suatu perusahaan. Peramalan ini disebut peramalan penjualan yang mengendalikan produksi, kapasitas, serta system penjadwalan dan menjadi input bagi perencanaan keuangan, pemasaran, dan sumber daya manusia.

2.2.3 Pendekatan dengan peramalan

Menurut Render, Barry dan Heizer dalam bukunya manajemen operasi (2009,p.167) terdapat dua pendekatan umum untuk peramalan :

1. Peramalan kuantitatif ( Quantitative Forecast )

Peramalan yang menggunakan model matematis yang beragam dengan data masa lalu dan variable sebab akibat untuk meramalkan permintaan.

2. Peramalan kualitatif ( Qualitative Forecast )

Peramalan yang menggabungkan faktor seperti intuisi, emosi, pengalaman pribadi, dan system nilai pengambilan keputusan untuk meramal.

(7)

2.3 Metode Peramalan

Barry, Jay berpendapat bahwa bermacam-macam metode peramalan telah ditetapkan dengan tujuan mendapatkan hasil ramalan yang tepat guna, dimana metode peramalan tersebut kemudian akan menjadi bagian dari fungsi perencanaan dan merupakan sarana pengambilan keputusan.

Ada dua metode atau teknik peramalan yang dapat digunakan, yaitu teknik peramalan kualitatif dan kuantitatif ( Barry, Jay, 2009: p.167 ). Teknik peramalan kualitatif lebih menitik beratkan pada pendapat dan intuisi manusia dalam proses peramalan, sehingga data historis yang ada menjadi tidak begitu penting.

Teknik peramalan kuantitatif sangat mengandalkan pada data historis yang dimiliki. Teknik kuantitatif ini biasanya dikelompokkan menjadi dua, yaitu teknik statistic dan deterministic.

Teknik statistic menitik beratkan pada pola, perubahan pola, dan faktor gangguan yang disebabkan pengaruh random. Termasuk dalam teknik ini adalah teknik smoothing, dekomposisi, dan teknik Bob-Jenkins.

Teknik deterministic mencakup identifikasi dan penentuan hubungan antara variable yang akan diperkirakan dengan variable-variabel lain yang akan mempengaruhinya. Termasuk dalam teknik ini adalah teknik regresi sederhana, regresi berganda, autoregresi, dan model input output.

Untuk meramalkan suatu keadaan dengan menggunakan data historis tanpa menghiraukan pengaruh atau hubungan dengan variable lainnya, metode peramalan yang biasa digunakan adalah metode kuantitatif statistic. (Jay dan Render, 2005) Metode peramalan kuantitatif statistic melibatkan pola perubahan data dari waktu ke waktu, berikut ini beberapa metode peramalan yang termasuk dalam metode peramalan kuantitatif statistic :

(8)

2.3.1 Metode Peramalan Kuantitatif

Render, Barry dan Heizer dalam bukunya manajemen operasi (2009,p.167) metode peramalan kuantitatif meliputi :

 Dekomposisi  Time Series

Moving Average

Moving Average (rata-rata bergerak) sangat bermanfaat apabila kita dapat membuat asumsi bahwa demand (permintaan) cenderung stabil sepanjang waktu. Rumus metode Moving Average adalah :

Dimana disini n itu adalah jumlah periode yang digunakan dalam moving average.

Weighted Moving Average (rata-rata bergerak tertimbang)

Apabila terdapat pola atau trend maka bobot (timbangan) bisa digunakan untuk menempatkan lebih banyak tekanan pada nilai baru, hal tersebut membuat teknik ini lebih responsive terhadap perubahan karena periode yang lebih baru mungkin mendapatkan bobot yang lebih besar.

Pemilihan bobot merupakan hal yang tidak pasti karena tidak ada

rumus untuk menetapkannya, oleh karena itu pemutusan bobot mana yang akan digunakan membutuhkan pengalaman jika bulan atau periode terakhir diberi bobot yang terlalu besar, peramalan dapat mencerminkan perubahan yang

∑ demand pada periode n Rata-rata bergerak =

(9)

terlalu cepat dan yang tidak biasa pada permintaan atau penjualan. Rumus weighted moving average adalah :

Exponential Smoothing (penghalusan eksponensial)

• Penghalusan eksponensial merupakan metode peramalan rata-rata bergerak tertimbang yang canggih, dan relative mudah untuk digunakan. Metode ini tidak memerlukan input data yang banyak. Rumus untuk exponential smoothing adalah :

Dimana α adalah sebuah bobot atau konstanta penghalusan yang mempunyai nilai antara 0 dan 1. Persamaan untuk metode penghalusan eksponensial dapat juga ditulis secara matematis sebagai berikut :

Dimana :

Ft : Peramalan periode mendatang Ft-1 : Peramalan periode sebelumnya α : Konstanta (0≤α≤1)

At-1 : Permintaan actual periode sebelumnya

Peramalan periode mendatang = peramalan periode lalu + α (permintaan actual periode lalu – peramalan periode lalu)

)) 1 ( ) 1 (( 1+ − − − − =Ft At Ft Ft α

Rata-rata bergerak tertimbang =

∑ (bobot untuk periode n)(permintaan dalam periode n) ∑ bobot

(10)

Exponential Smoothing Adjusted with Trend (penghalusan eksponensial dengan trend)

Metode peramalan ini merupakan pengembangan dari metode penghalusan eksponensial, dimana metode ini dapat memberikan respon terhadap trend yang terjadi. Rumus untuk metode ini adalah :

pada penghalusan eksponensial dengan trend estimasi rata-rata maupun trend dihaluskan. Prosedur ini membutuhkan dua konstanta penghalusan, α untuk rata-rata data penghalusan eksponensial dan β untuk trend. Terdapat tiga langkah dalam menghitung peramalan dengan penyesuaian trend, yaitu :

1. Menghitung Ft, peramalan eksponensial yang dihaluskan untuk periode t. 2. Menghitung trend yang dihaluskan, Tt.

3. Menghitung peramalan dengan trend, FIT t.

Persamaan yang digunakan untuk menghitung peramalan eksponensial yang dihaluskan sebagai berikut :

Atau

Peramalan periode mendatang dengan trend (FIT t)

= peramalan penghalusan eksponensial (Ft) + trend penghalusan eksponensial (Tt)

Peramalan dengan trend =

α (permintaan actual periode terakhir) + (1-α)(peramalan periode terakhir + estimasi trend periode terakhir)

) 1 1 )( 1 ( ) 1 ( − + − − + − = At Ft Tt Ft α α

(11)

Persamaan yang digunakan untuk menghitung trend yang dihaluskan adalah :

Atau

Dimana :

Ft : peramalan dengan eksponensial yang dihaluskan dari data berseri pada periode t.

Tt : trend dengan eksponensial yang dihaluskan pada periode t. At : permintaan aktual pada periode t.

α : konstanta penghalusan untuk rata-rata (0≤α≤1) β : konstanta penghalusan untuk trend (0≤β≤1)

Nilai β menyerupai α karena β yang tinggi lebih tanggap terhadap perubahan trend. β yang rendah memberikan bobot yang rendah kepada trend terbaru dan cenderung memperhalus trend sekarang. Nilai β dapat ditentukan dengan pendekatan uji coba dengan MAD digunakan sebagai ukuran pembanding. Penghalusan eksponensial sederhana biasa disebut sebagai penghalusan tingkat pertama (first order smoothing) sedangkan penghalusan dengan trend biasa disebut sebagai penghalusan tingkat dua (second order smoothing).

Linear Regression (regresi linear)

Analisis regresi dapat diperoleh dengan menggunakan model matematis pada metode kuadrat terkecil dari proyeksi trend. Variable terikat Y yang diramalkan

Trend dengan eksponensial =

β(peramalan periode ini – peramalan periode terakhir) + (1-β)(estimasi trend periode terakhir)

)

1

)(

1

(

))

1

(

)

1

((

+

=

F

Ft

Tt

Tt

β

β

(12)

tetap sama dan variable X yang digunakan dapat berupa variable lain. Persamaan regresinya adalah :

Dimana :

Y : nilai terhitung dari variable yang akan diprediksi (variable terikat) a : persilangan sumbu Y

b : kemiringan garis regresi X : variable bebas

Koefisien kemiringan (b) dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Dimana :

∑ : tanda penjumlahan total

X : nilai variable bebas yang diketahui Y : nilai variable terkait yang diketahui x : rata-rata nilai X

y : rata-rata nilai Y n : jumlah data

Metode peramalan kuantitatif terdiri dari peramalan deret waktu (time series) dan peramalan sebab akibat. Kedua metode kuantitatif ini mendasarkan peramalannya pada era lalu dengan menggunakan prediktor untuk masa

Y = a + bX

)

(

)

(

2 2

x

n

X

xy

n

XY

b

=

n Y y n X X bX y a

= = − =

(13)

mendatang. Dengan mengelola data yang lalu maka metode time series dan sebab akibat akan sampai pada suatu hasil peramalan.

Metode peramalan kuantitatif dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Peramalan deret waktu (Time Series)

Peramalan ini tidak memperhatikan hubungan sebab akibat atau dengan kata lain hasil peramalan hanya memperhatikan kecenderungan dari data yang di masa lalu tersedia. Menurut Makriadis dan Steven skematis pendekatan ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Input output

Peramalan ini dilakukan berdasarkan data-data dari suatu produk yang sudah ada sebelumnya, kemudia dianalisa pola datanya apakah berpola trend atau siklus. Metode yang dapat digunakan dalam hal ini yaitu metode moving average, exponential smoothing, model matematika.

2. Peramalan sebab akibat

Peramalan ini dilakukan berdasarkan data yang sudah ada sebelumnya tetapi memakai data dari variable lain yang menentukan atau mempengaruhi pada masa depan, seperti pendapatan, kegiatan ekonomi. Pendekatan ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Input output

Generating Process

Hubungan sebab dan akibat

(14)

Dalam jurnalnya Smaros, Johanna; Hellstrom, Markus tentang Using the assortment forecasting method to enable sales force involvement in forecasting. Mereka menyebutkan Meskipun teknik kuantitatif yang bisa dibilang sangat berguna dan sering harus menjadi bagian dari proses peramalan perusahaan, mereka memiliki kelemahan tertentu yang dapat diimbangi dengan menggunakan peramalan kualitatif. Kuantitatif time-series teknik dirancang untuk mengidentifikasi dan meramalkan trend dan pola musiman dalam data dan untuk menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan dalam tren atau pola. Keterbatasan mereka adalah bahwa mereka tidak mempertimbangkan informasi kontekstual, seperti perubahan harga

2.3.2 Menghitung Kesalahan Peramalan

Menurut Render dan Heizer terdapat beberapa perhitungan yang dapat digunakan untuk menghitung kesalahan dalam peramalan (forecast error). Perhitungan ini dapat digunakan untuk membandingkan model peramalan yang berbeda juga untuk mengawasi peramalan guna memastikan peramalan berjalan dengan baik. Dua teknik perhitungan yang paling terkenal adalah deviasi rata-rata absolute (mean absolute deviation-MAD) dan kesalahan rata-rata kuadrat (mean squared error- MSE).

1. MAD

Merupakan ukuran pertama kesalahan peramalan keseluruhan untuk sebuah model. Nilai ini dihitung dengan mengambil jumlah nilai absolute dari kesalahan peramalan dibagi dengan jumlah periode data (n). Rumus nya adalah :

∑ |permintaan actual – peramalan | MAD =

(15)

2. MSE

Merupakan cara kedua untuk mengukur kesalahan peramalan keseluruhan. MSE merupakan rata-rata selisih kuadrat antara nilai yang diramalkan dan diamati. Kekurangan penggunaan MSE yaitu ia cenderung menonjolkan deviasi yang besar karena adanya pengkuadratan. Rumus nya adalah :

Berdasarkan Nachrowi dan Hardius (2004,p.239) menyatakan bahwa sebenarnya membandingkan kesalahan peramalan itu adalah cara sederhana, apakah suatu teknik peramalan tersebut patut dipilih untuk digunakan sebagai indicator apakah suatu teknik peramalan cocok digunakan atau tidak dan teknik yang mempunyai jumlah MSE yang terkecil adalah metode peramalan terbaik. Sedangkan menurut Gaspers, Vincent (2004,p.80) dalam bukunya menyatakan akurasi peramalan akan semakin tinggi apabila nilai-nilai MAD, MSE semakin kecil dan menurut Rangkuti, Freddy (2004,p.70) dalam bukunya menyatakan bahwa keharusan untuk membandingkan perhitungan yang memiliki nilai MAD paling kecil, karena semakin kecil nilai MAD semakin kecil pula perbedaan antara hasil forecasting dan nilai actual.

2.3.3 Karakteristik Peramalan

Menurut Nasution dan Hakim (2003,p.28) peramalan yang baik mempunyai tiga kriteria yang penting antara lain :

1. Akurasi

Akurasi dari suatu peramalan diukur dengan kebiasaan dan konsistensi peramalan tersebut. Hasil peramalan dikatakan bias apabila peramalan tersebut

∑ (kesalahan peramalan)² MSE =

(16)

terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi sebenarnya.

2. Biaya

Biaya yang diperlukan dalam pembuatan suatu peramalan adalah tergantung dari jumlah item yang diramalkan, lamanya periode peramalan dan metode peramalan yang digunakan.

3. Kemudahan

Penggunaan metode peramalan yang sederhana, mudah dibuat dan mudah diaplikasikan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan.

2.3.3.1 Sifat Hasil Peramalan

Menurut Arman Hakim Natsution (2003,p.29) dalam membuat peramalan atau menerapkan hasil suatu peramalan, maka ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu :

1. Peramalan pasti mengandung kesalahan, artinya peramalan hanya bisa mengurangi ketidakpastian yang akan terjadi, tetapi tidak dapat menghilangkan ketidakpastian tersebut.

2. Peramalan seharusnya memberikan informasi tentang berapa ukuran kesalahan, artinya karena peramalan psti mengandung kesalahn, maka adalah penting bagi peramalan untuk menginformasikan seberapa besar kesalahan yang mungkin terjadi.

3. Peramalan jangka pendek lebih akurat dibandingkan peramalam jangka panjang. Hal ini disebabkan karena pada peramalan jangka pandek, faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan relative masih konstan, sedangkan semakin panjang periode peramalan, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan.

(17)

2.4 Tata Letak

2.4.1 Pengertian Tata Letak

Heizer dan Render (2009) mengatakan bahwa tata letak merupakan satu keputusan penting yang menentukan efisiensi sebuah operasi dalam jangka panjang. Tata letak memiliki banyak dampak strategis karena tata letak menentukan data saing perusahaan dalam segi kapasitas, proses, fleksibilitas, dan biaya, serta kualitas lingkungan kerja, kontak pelanggan, dan citra perushaan. Tata letak yang efektif dapat membantu organisasi mencapai suatu strategi yang menunjang differensiasi, biaya rendah, atau respon cepat. Tujuan strategi tata letak adalah untuk membangun tata letak yang ekonomis yang memenuhi kebutuhan persaingan perusahaan.

Heizer dan render (2009) mengatakan dalam semua kasus, desain tata letak harus mempertimbangkan bagaimana untuk dapat mencapai :

a) Utilitas ruang, peralatan, dan orang yang lebih tinggi b) Aliran informasi, barang, atau orang yang lebih baik

c) Moral karyawan yang lebih baik, juga kondisi lingkungan kerja tabg lebih aman d) Interaksi dengan pelanggan yang lebih baik

e) Fleksibilitas (bagaimanapun kondisi tata letak yang ada sekarang, tata letak tersebut akan perlu diubah)

2.4.2 Tipe-Tipe Tata Letak

Heizer dan Render (2009) keputusan mengenai tata letak meliputi penempatan mesin pada tempat yang terbaik (dalam pengaturan produksi), kantor dan meja-meja (pada pengaturan kantor) atau pusat pelayanan (dalam pengaturan rumah sakit atau department store). Sebuah tata letak yang efektif memfasilitasi adanya aliran bahan, orang dan informasi di dalam dan antar wilayah. Untuk mencapai tujuan ini, seragam pendekatan telah dikembangkan. Diantara pendekatan tersebut, akan dibahas enam pendekatan tata letak :

a) Tata letak dengan posisi tetap : memenuhi persyaratan tata letak untuk proyek yang besar dan memakan tempat, seperti proses pembuatan kapal laut dan gedung b) Tata letak yang verorientasi pada proses : berhubungan dengan produksi dengan

(18)

volume rendah dan bervariasi tinggi (juga disebut sebagai “job shop” atau produksi terputus)

c) Tata letak kantor : menempatkan para pekerja, peralatan mereka dan ruangan/kantor yang melancarkan aliran informasi

d) Tata letak ritel : menempatkan rak-rak dan memberikan tanggapan atas perilaku pelanggan

e) Tata letak gudang : merupakan paduan antara ruang dan penanganan bahan baku f) Tata letak yang berorientasi pada produk : mengusahakan pemanfaatan maksimal

atas karyawan dan mesin-mesin pada produksi yang berulang atau berkelanjutan g) Tata letak sel kerja : menata mesin-mesin dan peralatan lain untuk fokus pada

produksi sebuah produk atau sekelompok yang berkaitan

2.4.3 Tata Letak Gudang

Heizer dan Render (2009) tata letak gudang adalah sebuah desain yang mencoba meminimalkan biaya total dengan mencari panduan yang terbaik antara ruang dan penanganan bahan.

Tujuan tata letak gudang (warehouse layout) adalah untuk menemukan titik optimal diantara biaya penanganan bahan dan biaya-biaya yang berkaitan dengan luas ruang dalam gudang, sebagai konsekuensinya, tugas manajemen adalah memaksimalkan penggunaan setiap kotak dalam gudang yaitu memanfaatkan volume penuhnya smabil mempertahankan biaya penanganan bahan yang rendag. Biaya penanganan bahan adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan tranportasi barang masuk, penyimpanan, dan

transportasi bahan yang keluar untuk dimasukkan dalam gudang. Biaya ini meliputi peralatan, orang, bahan, pengawasan, asuransi, dan penyusutan. Tata letak gudang yang efektif juga meminimalkan kerusakan bahan dalam gudang.

2.5 Pengertian Gudang

Warman (2004) gudang (kata benda) adalah bangunan yang dipergunakan untuk menyimpan barang dagangan. Pergudangan ialah kegiatan menyimpan dalam gudang. Jadi gudang adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan barang baik yang berupa raw material, barang work in process atau finished goods. Pengertian gudang

(19)

yang ada didalam pergudangan yang berarti merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan gudang. Yunarto dan Santika (2010) kegiatan tersebut dapat meliputi kegiatan movement (perpindahan), storage (penyimpanan) dan information transfer (transfer informasi).

Menurut Mulcahy (2010) gudang adalah suatu fungsi penyimpanan berbagai macam jenis produk yang memiliki unit penyimpanan dalam jumlah besar maupun yang kecil dalam jangka waktu saat produk dihasilkan oleh pabrik dan saat produk dibutuhkan oleh pelanggan atau stasiun kerja dalam fasilitas produksi. Gudang sebagai tempat yang dibebani tugas untuk menyimpan barang yang akan dipergunakan dalam produksi, sampai barang tersebut diminta sesuai dengan jadwal produksi. Gudang atau storage pada umumnya akan memiliki fungsi yang cukup penting didalam menjaga kelancaran operasi produksi suatu pabrik. Disini ada tiga tujuan utama dari departemen ini yang berkaitan dengan pengadaan barang, yaitu sebagai berikut :

1) Pengawasan, yaitu dengan sistem administrasi yang terjaga dengan baik untuk mengontrol keluar msuknya material. Tugas ini juga menyangkut keamanan dari material, yaitu jangan sampai hilang.

2) Pemilihan, yaitu aktifitas pemeliharaan agar material yang disimpan di dalam gudang tidak cepat rusak dalam penyimpanan

3) Penimbunan/ penyimpanan, yaitu agar sewaktu-waktu diperlukan maka material yang dibutuhlan akan tetap tersedia sebelum dan selama proses berlangsung. 4) Perencanaan tata letak mesin dan departemen dalam pabrik.

2.5.1 Fungsi Gudang

Tujuan dari adanya tempat penyimpanan dan fungsi dari pergudangan secara umum adalah memaksimalkan penggunaan sumber-sumber yang ada disamping memaksimalkan pelayanan terhadap pelanggan dengan sumber yang terbatas. Sumber daya gudang dan pergudangan adalah ruangan, peralatan, dan personil. Pelanggan membutuhkan gudang dan fungsi pergudangan untuk dapat memperoleh barang yang diinginkan secara tepat dan dalam kondisi yang baik. Maka dalam perancangan gudang dan sistem pergudangan diperlukan untuk hal-hal berikut ini :

(20)

1) Memaksimalkan penggunaan ruang 2) Memaksimalkan penggunaan peralatan 3) Memaksimalkan penggunaan tenaga kerja

4) Memaksimalkan kemudahan dalam penerimaan seluruh material dan pengiriman barang

5) Memaksimalkan perlindungan terhadap material

Perencanaan gudang dan fasilitas pergudangan secara langsung harus mengikuti tujuan di atas. Perencanaan penggunaan ruangan terkait dengan peramalan produksi. Jadwal penerimaan dan jadwal pengiriman. Perencanaan untuk memaksimalkan penggunaan peralatan membutuhkan proses seleksi peraltan yang tepat. Untuk memaksimalkan

penggunaan tenaga kerja dibutuhkan personil dibidang pelayanan dan kantor. Perencanaan untuk memaksimalkan kemudahan dalam proses penerimaan dan pengiriman adalah persoalan tata letak. Perencanaan untuk memaksimalkan perlindungan terhadap barang mengikuti secara langsung dari penyimpanan barang di dalam ruang yang cukup memadai dengan peralatan yang sesuai.

2.5.2 Fungsi yang ada dalam Pergudangan

Sebagian orang beranggapan bahwa pergudangan hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang, padahal banyak aktivitas yang ada pada pergudangan bukan hanya sekedar menaruh material ke dalam dan mengeluarkannya dari dalam gudang tersebut. Pergudangan dapat dibedakan menajdi 3 fungsi dasar, yaitu :

A. Movement ( perpindahan) material yang terdiri dari : a. Receiving (penerimaan)

b. Transfer (perpindahan)

c. Order Selection (melakukan penyeleksian barang-barang) d. Shipping (pengiriman)

B. Storage (penyimpanan) a. Temporare (sementara) b. Semi permanen

(21)

2.5.3 Metode Shared Storage

Di dalam usaha untuk mengurang persyaratan ruang simpan pada dedicated storage, beberapa manajer gudang menggunakan suatu variasi dari dedicated storage dimana penempatan produk akhir diatur secara leebih hati-hati. Secara khusus dari waktu ke waktu hasil-hasil yang berbeda menggunakan slot itu sekali saja. Untuk mendukung pertimbangan atas shared storage, jika kedatangan dari 100 palet dengan jumlah besar “ perpindahan yang cepat” dari produk yang disimpan. Palet dengan jumlah besar tersebut akan digunakan kembali dan akan dikirim sebanyak 5 palet per hari dalam rentang waktu 20 hari.

2.5.4 Tujuan Fasilitas Pergudangan dan Fungsi Penyimpanan

Tujuan dari penyimpanan dan fungsi gudang yaitu untuk memaksimalkan utilitas sumber-sumber yang ada ketika memenuhi keinginan konsumen dan juga untuk

memaksimalkan pelayanan terhadap konsumen dengan kendala-kendala sumber yang ada. Sumber-sumber penyimpanan dan pergudangan yaitu ruang, peralatan, dan tenaga kerja. Permintaan konsumen untuk penyimpanan dan fungsi pergudangan dapat

dilakukan secepat mungkin dan dalam kondisi yang baik. Maka, dalam mendesain fungsi penyimpanan dan pergudangan sedapat mungkin harus memenuhi tujuan berikut yaitu :

a)Memaksimalkan penggunaan ruang b)Memaksimalkan penggunaan peralatan c)Memaksimalkan penggunaan tenaga kerja

Masalah penyimpanan menembus keseluruh perusahaan, sejak penerimaan, melewati produksi sampai pengiriman. Untuk perencanaan, persoalan penyimpanan menyeluruh dapat dipecah dalam kategori-kategori berikut :

1) Penerimaan : selama proses penerimaan dan sebelum penyauran

2) Gudang : penyimpanan bahan baku dan barang yang dibeli jadi sampai diperlukan pada produksi

3) Perlengkapan : barang bukan produktif yang digunakan untuk mendukung fungsi produktif

(22)

5) Komponen jadi : yang sedang menunggu perakitan (dapat juga disimpan pada daerag ditengan proses atau daerah perakitan)

6) Sisa : bahan, bagian, produk, yang akan diproses kembali menjadi bentuk yang berguna lagi

7) Buangan : penumpukan, pemilihan, dan penyaluran barang yang tidak berguna lagi 8) Macam-macam : peralatan, perlengkapan, petikemas, yang tidak berguna untuk

digunakan kembali pada masa yang akan datang

9) Produk jadi : diliput digudang produk jadi pada bagian lain 2.6 Tata Letak Barang

Dalam melakukan pengaturan tata letak barang di gudang terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Menurut Render (2009) hal yang harus diperhatikan dalam melakukan

pengaturan tata letak gudang adalah sistem pengukuran kecepatan akan melihat barangf berdasarkan klasifikasi kecepatan arus aliran brang dimana barang akan dibagi menjadi 3 macam yaitu slow moving, medium moving, dan fast moving. Dengan melihat ketiga macam barang di atas maka akan dapat dilakukan pengendalian barang dengan baik.

Untuk barang-barang slow moving hendaknya dilakukan dibagian gudang yang paling sulit untuk dijangkau, dengan alasan karena barang ini sangat jarang mengalami perpindahan barang. Sedangkan untuk barang-barang fast moving biasanya diletakkan bagian yang cukup terbuka sehingga dapat memudahkan dalam melakukan pengambilan barang. Dengan

melakukan pengambilan barang akan lebih mudah, sehingga efisiensi gudang akan menjadi tinggi.

2.7 Masalah Tata Letak Gudang

Tata letak gudang merupakan pertimbangan penting bagi perencana fasilitas karena cenderung naiknya biaya untuk meminjam, menyewa atau , membeli. Seperti tata letak mesin, tata letak gudang yang baik harus nenggunakan ruang penyimpanan yang ada untuk

meminimalisasi biaya penyimpanan dan pemindahan barang. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam perencanaan tata letak gudang adalah bentuk dan ukuran aisle, tinggi gudang, lokasi dan orientasi area docking, tipe rak yang digunakan serta otomatisasi yang terlibat dalam penyimpanan atau pengambilan.

(23)

2.8 Tipe-Tipe Gudang

Sugiharto (2009) dalam bukunya menyebutkan beberapa macam tipe gudang, yaitu : 1. Gudang pabrik (manufucturing plant warehouse)

Transaksi di dalam gudang ini meliputi penerimaan dan penyimpanan material, pengambilan material, penyimpanan barang jadi ke gudang, transaksi internal gudang, dan pengiriman barang jadi ke central warehouse, distribution warehouse, atau langsung ke konsumen.

Warman (2009) manufacturing plant warehouse dapat dibagi-bagi lagi menjadi:

a) Gudang Operasional

Gudang operasional digunakan untuk menyimpan raw material dan sparepart yang nantinya akan diperlukan dalam proses produksi

b) Gudang perlengkapan

Gudang perlengkapan merupakan gudang yang digunakan untuk menyimpan perlengkapan yang akan digunakan untuk memperlancar proses produksi c) Gudang pemberangkatan

Gudang pemberangkatan adalah tempat yang digunakan untuk menyimpan barang yang telah menjadi finished good

d) Gudang musiman

Gudang musiman adalah gudnag yang bersifat insidentil dan hanya ada pada saat gudang-gudang operasional dan pemberangkatan penuh

2. Gudang pokok (central warehouse)

Transaksi di dalam central warehouse meliputi penerimaan barang jadi (dari manufacturing warehouse, langsung dari pabrik, atau dari supllier), penyimpanan barang jadi ke gudang, dan pengiriman barang jadi ke distribution warehouse. 3. Gudang distribusi (distribution warehouse)

Distribution warehouse adalah gudang distribusi, transaksi dalam gudang ini meliputi penerimaan barang jadi (dari central warehouse, pabrik, atau supplier), penyimpanan barang yang diterima dari gudang, pengambila dan persiapan barang yang akan

(24)

dikirim, dan pengiriman barang ke konsumen. Terkadang distribution warehouse juga berfungsi sebagai central warehouse.

4. Gudang distribusi (retailer warehouse)

Dapat dikatakan gudang yang dimiliki toko yang menjual barang langsung ke konsumen.

2.9 Penyimpanan Barang

Dalam penyimpanan barang digudang terdapat 2 teknik yang terdiri dari tata letak barang dan racking system.

1) Tata letak barang dalam gudang atau biasanya disebut dengan layout barang merupakan suatu metode peletakan barang dalam gudang untuk mempermudah, mempercepat dan meningkatkan efisiensi dari gudang tersebut dalam menampung barang maupun mengalirkan permintaan barang kepada pihak yang melakukan permintaan. Pihak yang melakukan permintaan ini dapat dibagi menjadi internal customer dan external customer. Internal Customer adalah pelaku demand yang berada dalam perusahaan yaitu departemen lain dalam perusahaan. Sedangkan external

customer adalah konsumen dalam pengertian secara umum yaitu pihak berlaku demand yang berasal luar perusahaan.

Racking system adalah suatu cara yang meningkatkan kapasitas tanpa melakukan pelebaran gudang. Selain itu juga dapat digunakan untuk melakukan pengelompokkan barang sehingga gudang terlihat lebih teratur tanpa membutuhkan tempat yang lebih luas.

2.10 Perencanaan Tata Ruang Penyimpanan

Tujuan dari perencanaan layout dari bagian penyimpanan atau gudang yaitu : 1. Untuk efektivitas dari penggunaan gudang

2. Memberikan material handling yang efisien

3. Untuk meminimalkan biaya penyimpanan ketika memenuhi pelayanan pada level tertentu

4. Untuk memberikan fleksibilitas maksimum

(25)

2.11 Pengertian FIFO

Menurut Tompkins dan Smith (2010) , Metode FIFO (first in first out) menganggap bahwa harga pokok dari barang-barang yang pertama kali dibeli akan merupakan barang yang dijual pertama kali. Dalam metode ini persediaan akhir dinilai dengan harga pokok pembelian yang paling akhir. Metode ini juga mengasumsikan bahwa barang yang terjual karena pesanan adalah barang yang mereka beli. Oleh karenanya, barang-barang yang dibeli pertama kali adalah barang-barang pertama yang dijual dan barang-barang sisa di tangan (persediaan akhir) diasumsikan untuk biaya akhir. Karenanya, untuk penentuan pendapatan, biaya-biaya

sebelumnya dicocokkan dengan pendapatan dan biaya-biaya yang baru digunakan untuk penilaian laporan neraca. Metode ini konsisten dengan arus biaya aktual, sejak pemilik barang dagang mencoba untuk menjual persediaan lama pertama kali. FIFO merupakan yang paling luas digunakan dalam penilaian persediaan.

Metode FIFO seringkali tidak nampak secara langsung pada aliran fisik dari barang tersebut karena pengambilan barang dari gudang lebih didasarkan pada pengaturan barangnya. Dengan demikian metode FIFO lebih nampak pada perhitungan harga pokok barang. Dalam metode FIFO, biaya yang digunakan untuk membeli barang pertama kali akan dikenali sebagai Cost of Goods Sold (COGS). Pada metode FIFO, persediaan barang yang dikeluarkan untuk produksi atau dijual, nilainya didasarkan pada harga menurut urutan yang pertama masuk. Jadi, untuk penilaian pada persediaan barang yang tersisa, berarti harganya didasarkan pada harga baru atau harga urutan yang terakhir.

2.11.1 Sistem FIFO dalam penyimpanan

Menurut Tompkins (2010) Dalam penyimpanan barang di gudang agar nantinya barang yang disimpan tersebut tidak mengalami kerusakan sangatlah dibutuhkan suatu

metode, cara maupun prosedut tertentu. Setidaknya dalam penyimpanan barang di gudang kita mengenal adanya dua sistem yaitu LIFO (Last in First Out) dan FIFO (First in First Out). LIFO adalah suatu sistem atau cara penyimpanan barang dalam gudang yaitu barang yang datang terakhir digunakan terlebih dahulu. Sistem ini biasanya digunakan untuk barang-barang yang dapat bertahan lama atau barang yang jika disimpan lebih lama kualitasnya akan lebih baik. Contohnya kopi. Sedangkan sistem FIFO adalah suatu sistem penyimpanan barang yaitu

(26)

barang yang masuk terlebih dahulu juga dikeluarkan terlebih dahulu. Jadi keluarnya barang secara berurutan atau sesuai kronologis. Sistem ini biasanya digunakan untuk barang-barang yang kurang bisa tahan lama.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya sistem ini adalah suatu cara penyimpanan barang yang mana barang yang pertama kali masuk gudang maka juga yng pertama keluar dari gudang. Sistem ini sebenarnya memiliki banyak kelebihan, antara lain :

1. Barang akan lebih terjaga kualitasnya. Dengan menggunakan sistem FIFO diharapkan barang yang pertama kali masuk juga pertama kali keluar. Jadi barang tidak terlalu lama tersimpan dalam gudang. Jadi barang yang masa kadarluasanya itu paling awal juga akan keluar paling awal. Sehingga kualitas abarang bisa terjamin serta

mengantisipasi terjadinya kerusakan barang secara masal.

2. Pengendalian harga lebih terjamin. Selain menjaga kualitas barang kelebihan dari sistem ini adalah adanya kestabilan harga barang-barang yang disimpan. Tiidak selamanya harga itu selalu sama ada kalanya harga itu naik namun ada kalanya harga itu turun. Dengan sistem ini maka diharapkan barang yang pertama kali masuk dengan harga tertentu akan sama harganya pada saat dikeluarkan nanti. Berkaitan dengan kelebiham sebelumnya yaitu kualitas barang yang tetap terjamin maka nantinya kekhawatiran bahwa barang tersebut akan anjlok dapat dihindari. Dengan kata lain harga pembelian nantinya tidak akan lebih tinggi dari harga penjualan. Jadi akan diperoleh keuntungan yang maksimal.

3. Pencatatan yang lebih sistematis, keuntungan atau kelebihan lain dari sistem FIFO yaitu pada saat pencatatan barang di gudang. Yang mana petugas pencatatan barang masuk dan barang keluar akan lebih mudah mengontrol. Hal ini dikarenakan keluarnya barang secara berurutan atau sesuai kronologis. Jadi petugas pencatatan biasanya tidak perlu melakukan pengecekan terhadap semua barang. Perugas biasanya hanya

mengecek jumlah barang yang keluar pada saat itu apakah sesuai dengan jumlah pada saat barang tersebut masuk.

(27)

Melihat berbagai macam keuntungan dari sistem FIFO ini tidak terlepas pula dari kelemahan-kelemahan yang terdapat pada sistem ini. Biasanya sistem ini kurang efektif apabila pihak-pihak pergudangan tidan mampu menata letak barang-barang secara berurutan sesuai tanggal atau waktu barang karena barang yang diterima merupakan barang lama yang dianggap barang tersebut kualitasnya kurang baik.

Tetapi kelemahan-kelemahan tersebut dapat dihindari jika pihak pengelola gudang mampu mengatur pemindahan barang-barang sesuai dengan sistem ini.

Penataan barang di gudang apabila menggunakan sistem ini seharusnya tidak ditumpuk melainkan di jajar sesuai dengan waktu barang tersebut masuk. Biasanya gudang yang menggunakan sistem ini mempunyai dua pintu. Pintu pertama merupakan pintu masuk barang sedangkan pintu kedua merupakan pintu khusus keluar barang. Barang yang masuk biasanya diletakkan di dekat pintu keluar barang begitu seterusnya. Hal ini dimaksudkan agar barang yang pertama kali masuk bisa keluar dengan mudah karena dekat dengan pintu keluar begitu pula dengan barang yang baru saja masuk akan mudah masuk karena tidak terhalangi oleh barang-barang yang sebelumnya telah masuk.

2.11.2 Cara Pemeliharaan Barang dengan Baik

Salah satu prinsip pergudangan adalah barang yang disimpan haruslah dalam keadaan siap pakai. Maka dari itu dalam fungsi penyimpanan barang diperlukan pemeliharaan dan perawatan barang dengan baik. Pemeliharaan merupakan kegiatan perawatan logistik dan peralatan agar kondisi tetap terjamin dan siap pakai untuk dipergunakan dalam

penanggulangan bencana secara efektif dan efisien dan akuntabel, melalui prinsip :

• 5R = Ringkas, Rapih, Resik (bersih), Rawat, Rajin (secara terus menerus)

• First In First Out (FIFO) yaitu logistik dan peralatan yang pertama masuk adalah yang pertama harus keluar

• First Expired Date First Out (FEFO) yaitu logistik dan peralatan yang pertama kadarluasa harus yang pertama keluar untuk didistribusikan. Dalam penyusunan logistik dan peralatan yang punya masa kadarluasa lebih awal atau yang diterima lebih awal harus digunakan lebih awal sebab logistik dan peralatan datang lebih awal

(28)

biasanya juga diproduksi lebih awal dan umurnya relatif lebih tua dan masa kadarluasanya mungkin lebih awal

• Logistik dan peralatan disusun diatas pallet secara rapi dan teratur, sesuai dengan ketentuan

Selain merawat barang sesuai dengan jenis bahannya agar barang tetap dalam kualitas yang baik maka banyak hal yang diperhatikan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

a. Melakukan pengecekan barang dan melakukan perawatan secara periodik. Hal ini dimaksudkan agar barang tidak mengalami kerusakan yang parah. Jika dilakukan pengecekan secara berkala maka jika terdapat sedikit kerusakan dapat segera diperbaiki. Selain itu pemeliharaan secara berkala sangatlah penting, karena pada dasarnya mencegah lebih baik daripada mengobati

b. Menjaga gudang dari kebocoran atap. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga gudang dari berbagai ancaman cuaca baik itu panas matahari maupun hujan. Biasanya ada barang-barang tertentu yang sangat sensitif dengan air maupun panas matahri maka dari itu sangatlah perlu untuk menjaga atap gudang tetap dalam keadaaan semestinya c. Menghidari penempatan barang yang dapat mempengaruhi kualitas maupun

kerusakaan barang. Yang dimaksud barang yang dapat mempengaruhi kualitas barnag lain disini, misalnya ada barang yang harus dihindarkan dari bau yang tajam seperti bahan kimia. Hal ini dikarenakan akan merusak kualitas barang tersebut.

(29)

2.12 Kerangka Pemikiran

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Penggunaan Metode Forecasting

Perhitungan MAD dan MSE

Tata Letak

Output

Simpulan dan Saran • Naive Method • Moving Average • Weighted Moving Average • Linear Regression • Exponential Smoothing • Exponential Smoothing With Trend

• Analisis Tata Letak Gudang

• Sistem Penyimpanan barang

• Utilitas Ruang Gudang

Identifikasi masalah pada PT. Adi Sakti Steel

(30)

Gambar

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Penggunaan Metode Forecasting

Referensi

Dokumen terkait

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BARANG TOKO CANTIK KOTA TIDORE KEPULAUAN MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN HTML :

Proses penyusunan anggaran pada intinya menggambarkan interaksi antara manajemen puncak selaku pemberi otorisasi, departemen anggaran selaku bagian yang melaksanakan review

Karena jika sejak dini di beri pengetahuan tentang anti korupsi maka dalam perjalanan hidup anak tersebut akan kecil kemungkinan melakukan korupsi walaupun di tingkat yang

Dengan melakukan perbandingan aturan regulasi penanaman modal Indonesia dengan aturan regulasi lain seperti yang dimiliki PBB kita akan menemukan kelemahan dari

Sebuah tindakan yang dilakukan berdasarkan informasi dari hasil dan proses data mining akan meningkatkan kebenaran informasi tersebut, dan akan semakin valid jika data

• Keempat, setelah penyusunan table awal selesai maka sebagai langkah selanjutnya adalah pengujian optimalitas table untuk mengetahui apakah biaya distribusi

Menurut Porter (2011), dalam bukunya yang berjudul Operation Management mendefinisikan warehouse atau gudang adalah tempat penyimpanan barang yang memiliki fungsi

Berdasarkan definisi sistem pengendalian intern tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem pengendalian intern meliputi kumpulan dari kebijakan, prosedur, struktur