PERENCANAAN DISTRIBUSI MULTIMODA KOMODITAS EKSPOR
(STUDI KASUS: UDANG BEKU DARI GRESIK KE TOKYO)
Moh. Adi Muflihun1
1Universitas Internasional Semen Indonesia
E-mail: moh18.muflihun.student.uisi.ac.id
ABSTRACT
Frozen shrimp is one type of fishery product needed for global community consumption. The number of frozen shrimp export requests is getting bigger every year, but in the delivery process there are still shipping delays that causes loss of opportunity, loss (rejected), even breaking the contract between the two parties (penalty). So far, the company still uses one alternative route and mode of transportation, so that this is the main cause of delays in shipping. In the process of shipping frozen shrimp exports there is a standard delivery of 14 days according to the mutual agreement between the company and the customer. However, based on the existing conditions the shipping process uses a 20 feet refrigerated container (reefer container) from Gresik to Tokyo takes ± 19 days. The variables that are important to pay attention to are the potential for shipping rates and cargo transit times at the port which will affect the total cost and time of delivery. In this regard, the use of optimization methods with minimum cost criteria and optimal time limits can determine the optimal route and mode of transportation, namely from Gresik to TPS using container trucks, while from TPS to the transit port in Hong Kong then to Tokyo still uses container ships. The total time needed was 13.44 days using Yang Ming's shipping line and the total cost was IDR 30,407,345.
Keywords: frozen shrimp, optimization, multimodal transportation and routes
ABSTRAK
Udang beku merupakan salah satu jenis hasil perikanan yang dibutuhkan untuk dikonsumsi masyarakat global. Jumlah permintaan ekspor udang beku setiap tahun bertambah besar, akan tetapi pada proses pengiriman masih ditemukan keterlambatan pengiriman yang menyebabkan hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan (loss opportunity), ditolak (rejected), bahkan memutuskan kontrak antara kedua belah pihak (penalty). Selama ini perusahaan masih menggunakan satu jenis alternatif rute dan moda transportasi, sehingga hal tersebut menjadi penyebab utama keterlambatan pengiriman. Pada proses pengiriman ekspor udang beku terdapat standar pengiriman yakni 14 hari sesuai dengan kesepakatan bersama antara pihak perusahaan dengan customer. Namun berdasarkan kondisi eksisting proses pengiriman menggunakan petikemas berpendingin (reefer container) dengan ukuran 20 feet dari Gresik ke Tokyo membutuhkan waktu ±19 hari. Variabel yang penting untuk diperhatikan adalah potensi adanya tarif pelayaran dan waktu transit muatan di pelabuhan yang akan berpengaruh terhadap total biaya dan waktu pengiriman. Terkait hal ini, penggunaan metode optimasi dengan kriteria biaya minimum dan batasan waktu yang optimal dapat diketahui rute dan moda transportasi paling optimal yaitu dari Gresik ke TPS menggunakan truk petikemas, sedangkan dari TPS ke pelabuhan transit di Hongkong lalu ke Tokyo tetap menggunakan kapal petikemas. Waktu total yang dibutuhkan 13,44 hari menggunakan shipping line Yang Ming dengan biaya total yang dikeluarkan adlah Rp 30.407.345.
1. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan memiliki lebih dari 17.499 pulau.
Digabungkan dengan hasil laut Indonesia, hanya sekitar 7.000 pulau yang berpenghuni yaitu Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Sumatera dan Papua merupakan pulau utama di Indonesia (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2019). Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar menyebabkan Indonesia memiliki banyak potensi hasil laut yang melimpah. Berdasarkan rekapitulasi data ekspor yang dilakukan oleh BPS, ekspor produk perikanan dan kelautan periode Januari–September 2018 telah mencapai USD 3,52 Milyar atau meningkat 11,06% dibanding periode yang sama tahun 2017. Kode HS produk perikanan dan kelautan terbagi kedalam 480 kode HS dan dapat dikelompokkan berdasar komoditas utama seperti Tuna Cakalang Tongkol/TCT (21 kode HS), udang (32 kode HS), rumput laut (16 kode HS), cumi sotong gurita (17 kode HS), kepiting rajungan (8 kode HS), dan produk lainnya (386 kode HS) (Sholeh, 2018).
Gambar 1.1 Grafik Hasil Laut Indonesia
Dari Gambar 1.1 diketahui bahwa udang memiliki pasar yang lebih banyak dan dibutuhkan untuk dikonsumsi masyarakat global jika dibanding hasil laut lainnya. Hal ini karena udang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, diantaranya yaitu membantu regenerasi sel-sel tubuh, mengurangi resiko anemia, menjaga kesehatan otak, menjaga kesehatan tulang, dan mendapatkan asupan lemak yang lebih sehat karena mengandung beberapa lemak tak jenuh, omega-3 dan omega-6 (Syafrudin, 2016). Banyaknya permintaan udang menyebabkan usaha yang bergerak dibidangnya perlu mengoptimalkan produksi udang guna memenuhi permintaan pasar.
Diketahui jumlah permintaan ekspor udang setiap tahun bertambah dan Indonesia menempati peringkat kedua terbesar di dunia dengan jumlah 921.288 ton pada tahun 2019. Perkembangan permintaan udang yang fluktuatif berdampak positif terhadap intensitas peningkatan sektor ekonomi negara. Produk udang beku merupakan komoditas ekspor, dalam penambahan devisa negara di Indonesia dari hasil perikanan, udang menempati urutan teratas, oleh karena itu untuk menjamin terhadap jaminan mutu dan keamanan produk udang beku bagi konsumen mutlak diperlukan suatu cara pengendalian mutu (Nuryani, 2006).
Distribusi atau pengiriman adalah kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada konsumen. Distribusi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam sistem pemasaran karena distribusi yang efektif dan efisien maka barang akan cepat dipasarkan dan selanjutnya akan dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen (Ardiyanta, 2013). Saluran distribusi dianggap sebagai salah satu kegiatan kritis yang dihadapi manajemen karena dapat mempengaruhi seluruh keputusan-keputusan pemasaran lainnya, seperti keputusan mengenai produk, harga, promosi, dan lain-lainnya. Selain itu pemilihan saluran distribusi akan menyangkut keputusan-keputusan mengenai penggunaan penyalur atau perantara pemasaran dan jenis penyalur
lainnya, serta jalinan hubungan yang saling menguntungkan dengan para perantara atau penyalur dalam jangka waktu yang panjang (Aprilianti, 2016).
Hal ini juga berlaku terhadap perusahaan PT. XYZ yang merupakan perusahaan ekspor impor perikanan dengan proses bisnis mendistribusikan hasil laut untuk dikirimkan ke retail, distribution
center, hingga semua belahan negara seperti USA, Eropa, Rusia, Jepang, Korea, dan Australia.
Namun dalam proses pendistribusian hasil laut PT. XYZ, masih ditemukan keterlambatan dalam pengiriman yang menyebabkan hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan (loss opportunity), ditolak (rejected), bahkan memutuskan kontrak antara kedua belah pihak (penalty). Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi proses pendistribusian, diantaranya pertimbangan pasar (pola pembelian konsumen, keadaan pasar, dan pangsa pasar dengan indikator-indikator jenis pasar, jumlah pelanggan potensial, dan konsentrasi geografis pasar), pertimbangan produk (nilai unit, perishability, dan sifat teknis produk), dan pertimbangan perantara atau pihak penghubung antara perusahaan dengan toko atau konsumen langsung dengan indikator-indikator jasa yang diberikan perantara (Aprilianti, 2016).
Dinamika pasar pada PT. XYZ setiap tahun mengalami kenaikan permintaan ekspor udang dengan udang jenis vannamei. Pengiriman ekspor udang dilakukan dengan menggunakan petikemas berpendingin (reefer container) ukuran 40 feet dengan kondisi udang dalam keadaan beku. Pembekuan udang adalah salah satu pengolahan hasil perikanan yang bertujuan untuk mengawetkan makanan berdasarkan atas penghambatan pertumbuhan mikroorganisme, menahan reaksi-reaksi kimia dan aktivitas enzim-enzim (Nuryani, 2006). Pembekuan udang ini berguna untuk menjaga kualitas udang selama proses pengiriman. Pengiriman udang dari PT. XYZ Gresik ke Tokyo memiliki demand terbanyak dibanding negara tujuan ekspor lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan, pengiriman udang dari Gresik ke Tokyo saat ini membutuhkan waktu ±19 hari dengan menggunakan bantuan transportasi multimoda yaitu transportasi darat dan transportasi laut. Waktu tersebut terbilang lama karena belum optimal dalam pemilihan rute dan moda transportasi, sehingga seringkali menyebabkan keterlambatan untuk mencapai lokasi tujuan pengiriman. Hal ini disebabkan oleh pihak perantara (jasa pengiriman) yang berdampak terhadap waktu selama proses pengiriman yang ditempuh, waktu transit muatan di pelabuhan. serta biaya distribusi yang dikeluarkan oleh PT. XYZ.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, pada skripsi ini dimaksudkan untuk mengaplikasikan metode yang digunakan dalam penelitian sebelumnya terhadap komoditas udang beku yang akan dikirim dari salah satu perusahaan ekspor hasil laut di Gresik menuju Tokyo. Metode ini diaplikasikan untuk mencari biaya minimum dengan batasan waktu yang optimal, sehingga dapat terpilih network distribusi dan transporter yang sesuai untuk digunakan.
2. DASAR TEORI DAN ATAU METODE PENELITIAN 2.1 Flowchart Penelitian
Pada bab ini akan menjelaskan mengenai alur pengerjaan penelitian skripsi untuk menyelesaikan permasalahan yang diangkat. Metode penelitian ini digunakan sebagai acuan melakukan penelitian agar berjalan lancar dan sistematis sesuai dengan kerangka penelitian.
Gambar 2.2 Flowchart Penelitian
Mulai
Studi lapangan
Identifikasi Masalah
Perumusan Masalah dan Tujuan
Pengumpulan Data
Data Primer Data Sekunder
Waktu produksi udang beku
Waktu pengiriman dari pabrik ke konsumen Karakteristik produk
Kuantitas produk Harga produk udang beku
Data produksi udang beku Moda transportasi (truk,
kereta api, kapal, pesawat) Rute moda transportasi Biaya moda transportasi
Studi Literatur
Analisis dan Interpretasi Hasil
Kesimpulan dan Saran
Selesai
Tahap analisis dan pembahasan Tahap kesimpulan
dan saran Optimasi (solver)
Tahap pemodelan Pembuatan Model Matematis
Tahap identifikasi masalah
Tahap pengumpulan data
3. PENGOLAHAN DATA 3.1 Kondisi Eksisting
PT. XYZ berdiri sejak 1994 dengan membawahi 32 pabrik pengolahan yang tersebar di pulau Jawa, Madura, dan beberapa pulau lainnya di Indonesia. Dimulai dari kota Gresik (PT. XYZ) dengan moda truk petikemas menuju ke pelabuhan Terminal Petikemas Surabaya (TPS). Setelah itu petikemas loading ke palkah kapal petikemas sesuai penempatannya, kemudian kapal petikemas (Yang Ming) berlayar menuju pelabuhan transit di Taiwan (Kaohsiung). Terjadi kegiatan unloading ke CY dan loading ke mother vessel menuju ke titik tujuan di pelabuhan Tokyo. Pada kondisi eksisting biaya yang dibutuhkan dari Gresik ke Tokyo sangat tinggi dengan waktu tempuh ±19 hari, akan tetapi waktu tersebut melebihi batas kontrak antara perusahaan dengan buyer.
3.2 Network Distribusi
Pada tahap ini akan membahas tentang waktu dan biaya dari moda transportasi yang akan digunakan dalam penelitian ini terkait Network distribusi masing-masing.
Tabel 3.3 Network Distribusi
Network
Distribusi
Rute perjalanan
Network 1 Truk – PTL – Taiwan – Tokyo
Network 2 Truk – PTL – Hongkong – Tokyo
Network 3 Truk – PTL – Singapura – Tokyo
Network 4 Truk – PTL – Malaysia- Tokyo
Network 5 Truk – TPS – Taiwan – Tokyo
Network 6 Truk – TPS – Hongkong – Tokyo
Network 7 Truk – TPS – Singapura – Tokyo
Network 8 Truk – TPS – Malaysia – Tokyo
Network 9 Truk – TPKS – Taiwan – Tokyo
Network 10 Truk – TPKS – Hongkong – Tokyo
Network 11 Truk – TPKS – Singapura – Tokyo
Network 12 Truk – TPKS – Malaysia – Tokyo
Network 13 Truk – TPK – Taiwan – Tokyo
Network 14 Truk – TPK – Hongkong – Tokyo
Network 15 Truk – TPK – Singapura – Tokyo
Network 16 Truk – TPK – Malaysia – Tokyo
Network 17 Truk – Stasiun Kalimas – TPKS – Taiwan – Tokyo Network 18 Truk – Stasiun Kalimas – TPKS – Hongkong – Tokyo Network 19 Truk – Stasiun Kalimas – TPKS – Singapura – Tokyo Network 20 Truk – Stasiun Kalimas – TPKS – Malaysia – Tokyo Network 21 Truk – Stasiun Kalimas – TPK – Taiwan – Tokyo Network 22 Truk – Stasiun Kalimas – TPK – Hongkong – Tokyo Network 23 Truk – Stasiun Kalimas – TPK – Singapura – Tokyo Network 24 Truk – Stasiun Kalimas – TPK – Malaysia – Tokyo
Network 25 Truk – TPS – Tokyo
Network 26 Truk – TPK – Tokyo
Network 27 Truk – Stasiun Kalimas – TPK – Tokyo
3.3 Perhitungan Waktu Dan Biaya Moda Transportasi Maing-Masing Network Distribusi Pada perhitungan waktu dan biaya diperlukan adanya jarak tempuh dari masing-masing network distribusi yang tersedia. Adapun hasil perhitungan waktu dan biaya pada setiap network distribusi adalah sebagai berikut :
1. Moda Transportasi Truk
Perhitungan biaya pada moda transportasi truk petikemas diperoleh dari perhitungan dibawah ini. = Jarak x Konsumsi BBM x Harga BBM + Trucking + TOL + Retribusi (3.1) = 10,3 x 0,1 x Rp 8.000 + Rp 788.435 + Rp 25.000
= Rp 822.591,-
Sedangkan perhitungan waktu tempuh dapat dilakukan cara sebagai berikut.
= Jarak : Kecepatan (3.2)
= 10,3 km : 20 km/jam = 0,515 jam
Hasil perhitungan biaya dan waktu dari masing-masing rute darat dengan transportasi truk petikemas dengan rumus diatas dapat dilihat pada Tabel 4.22.
Tabel 4.22 Hasil Perhitungan Biaya Dan Waktu Moda Tranportasi Truk Petikemas
Rute Biaya Waktu (jam)
KIG - TTL Rp 822.591 0,515 KIG - TPS Rp 1.109.348 1,6 KIG - TPKS Rp 2.240.460 14,6 KIG - TPK Rp 4.094.682 40,15 KIG - ST. KALIMAS Rp 938.201 1 KIG - Juanda Rp 2.175.919 2,2
2. Moda Transportasi Kereta Api
Biaya angkut petikemas dengan kereta api petikemas adalah Rp2.000.000 per petikemas atau Rp 1.000 per kg yang dimuat dalam 20 feet. Namun pada penelitian ini yang digunakan adalah biaya per petikemas.
Adapun proses perhitungannya sebagai berikut.
= Biaya per petikemas + Biaya B/M (3.3)
= Rp 2.000.000 + RP 250.000 = Rp 2.250.000,- per petikemas
Sedangkan perhitungan waktu tempuh dengan moda transporasi kereta api dapat dilakukan cara sebagai berikut.
= 290 km : 60 km/jam = 4,833 jam
3. Moda Transportasi Pesawat Kargo
Dengan menggunakan moda transportai pesawat kargo, waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke titik tujuan lebih cepat dibandingkan moda transportasi yang lain, namun terbatas pada kapasitas muatan. Karena jumlah pengiriman udang beku masuk kategori besar, maka bisa dihitung dengan sewa pesawat kargo.
4. Moda Transportasi Kapal
Moda transportasi kapal memiliki kapasitas angkut yang besar. Semakin besar kapasitas (Teus) semakin murah biaya angkutnya, namun untuk waktu pengiriman biasanya lbih lama dibandingkan dengan moda transportasi yang lainnya. Sebagai contoh, untuk perhitungan biaya angkut kapal pada kapal Cosco Houston rute Gresik – Terminal Teluk Lamong – Taiwan – Tokyo dapat dilihat dibawah ini.
= Biaya Pelayaran + Tarif Pelabuhan
Sedangkan perhitungan tarif pelabuhan secara keseluruhan didapatkan dari perhitungan di bawah ini.
= Biaya B/M Pelabuhan Asal + Biaya B/M Pelabuhan Transit +
Biaya B/M Pelabuhan Tujuan (3.5)
= Rp 1.694.600 + Rp 615.125 + Rp 473.500 = Rp 28.828.156 + Rp 2.783.225
= Rp 31.611.381
Sedangkan perhitungan waktu tempuh pada moda transportasi kapal dapat dilihat sebagai berikut.
= Waktu perjalanan + Waktu B/M
Dimana dalam perhitungan waktu B/M secara keseluruhan dapat dilihat pada perhitungan berikut ini.
= Kapasitas Kapal (Box): Crane : Hour (3.6)
= 1866 Teu : 3 : 20 + 1866 Teus : 2 : 18 = 1400 ton : 3 : 20 + 1400 ton : 2 : 18 = 63 jam : 24 jam
= 2,6 hari
3.4 Model Matematis
Dari pembuatan alternatif network dan transporter tersebut, maka model matematis yang akan digunakan sebagai formula untuk menyelesaikan permasalahan dan mencapai tujuan dari penelitian ini adalah:
Objective function : Minimum = Xi * Ci (3.7)
Decision variable : Xi = 1 (jika network i terpilih) (3.8) 0 (jika network i tidak terpilih)
Constraint : ⅀ Xi = 1 (hanya boleh memilih 1 network) (3.9)
: ⅀ t * Xi ≤ 14 hari (3.10)
: Xi = 0 atau 1 (3.11)
3.5 Optimasi
Setelah keseluruhan data diolah, hasil olahan akan dijadikan input di dalam tahap optimasi untuk diketahui rute dan moda transportasi mana yang memiliki hasil biaya dan waktu yang sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan.
Tabel 3.2 Hasil Perhitungan Optimasi 28 network distribusi
Dari Tabel 2.26 diketahui bahwa network distribusi yang terpilih adalah network distribusi 6 dengan rute perjalanan Gresik – TPS – HKG – TKY, dengan total biaya perjalanan dapat dilihat pada Tabel 4.27.
Tabel 3.3 Total Biaya Perjalanan Network Distribusi 6
Rute
Moda
Transportasi Biaya Rincian
GRESIK - TPS Truk Petikemas Rp 822.591 Jasa Trucking + (Konsumsi BBM x Harga BBM) + Retribusi TPS – HKG - TKY Kapal Petikemas
Rp 26.228.072 Biaya Pelayaran Kapal
4.HASILDANPEMBAHASAN
Pada pengolahan data, pelabuhan asal dan pelabuhan transit dibutuhkan data kapasitas pelabuhan dan ketersediaan kapal dari shipping line yang melalui rute tersebut. Masing-masing pelabuhan asal dengan shipping line yang tersedia terhubung dengan pelabuhan transit dan sampai ke pelabuhan tujuan. Sehingga dihasilkan 28 network distribusi beserta transporter yang digunakan (Yang Ming, Evergreen, K-line, NYK, dan CMACGM). Untuk mendapatkan biaya minimum dan waktu B/M yang optimal disarankan mencari pelabuhan yang memiliki kapasitas B/M yang tinggi, sehingga dapat memepercepat waktu pelayanan kapal pada B/M. Semua data moda transportasi yang memiliki kemungkinan untuk digunakan dalam pengiriman (darat, laut, udara) dikumpulkan meliputi spesifikasi, jadwal, dan biaya perjalanannya. Sehingga dari masing-masing moda transportasi didapatkan waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk sampai ke Tokyo.
Hasil optimasi terlihat berbeda dengan kondisi eksisting, dimana eksisiting mencapai waktu tempuh 19 hari, sedangkan pada hasil optimasi didapatkan waktu total perjalanan yaitu 13,44 hari dengan rute rekomendasi Gresik – Terminal Petikemas Surabaya – Hongkong - Tokyo menggunakan
shipping line Yang Ming. Hal ini disebabkan dalam pemilihan pihak ke 3 (perantara atau jasa
pengiriman) yang digunakan. Selain mendapatkan jenis moda transportasi, rute dan waktu tempuh yang optimal, hasil optimasi juga dapat berdampak pada biaya yang dikeluarkan.
5.KESIMPULANDANSARAN
Berikut merupakan kesimpulan yang menjawab dari pengerjaan skripsi
. Permasalahan pada PT. XYZ yaitu masih sering terjadi keterlambatan dalam proses pengiriman. Dengan menggunakan optimasi, dapat diketahui rute dan moda transportasi paling optimal dari Gresik ke TPS yaitu menggunakan truk petikemas, sedangkan dari TPS ke pelabuhan transit Hongkong (HKG) lalu ke Tokyo menggunakan kapal petikemas. Waktu total perjalanan yang dibutuhkan 13,44 hari menggunakan shipping line Yang Ming dengan biaya total yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 30.407.345Saran yang diberikan untuk pengerjaan skripsi selanjutnya adalah penelitian selanjutnya dapat menganalisis resiko yang terjadi pada masing-masing network distribusi yang digunakan (diluar biaya dan waktu).
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Instansi/perusahaan/lembaga yang telah memberi dukungan yang membantu pelaksanaan penelitian dan atau penulisan artikel.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Andriansyah. 2015. Manajemen Transportasi Dalam Kajian dan Teori. Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama.
[2] Anwar, Chairul, dkk. (2010). “Harga Pokok Produksi Dalam Kaitannya Dengan Penentuan Harga Jual untuk Pencapaian Target Laba Analisis”, Jurnal Akuntasi & Keuangan, Vol. 1, No. 1, hal 79-94.
[3] Aprilianti, Mita. 2016. Pengaruh Faktor-Faktor Saluran Distribusi Terhadap Penjualan Produk Besi Beton Pada CV Cinta Sukses Jaya Perdana Di Natar Lampung Selatan. Skripsi. Lampung. Universitas Lampung.
[4] Apriliyanti, Selvia. (2019). “Optimasi Keuntungan Produksi Pada Industri Kayu PT. Indopal Harapan Murni Menggunakan Linear Programmig”, Jurnal Penelitian dan Aplikasi Sistem & Teknik Industri (PASTI), Vol. 13, No. 1, hal 1-8.
[5] Ardiyanti, Oky. 2013. Analisis Strategi Distribusi Untuk Meningkatkan Volume Penjualan Pada PT. Salma Nusantara. Skripsi. Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta.
[6] Bianca, Laurenzia. (2016). Sistem Rantai Dingin (Cold Chain) Dalam Implementasi Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) ( https://supplychainindonesia.com/new/sistem-rantai-dingin-cold-chain-dalam-implementasi-sistem-logistik-ikan-nasional-slin/ dikutip pada 30 Maret 2020 jam 21.00 WIB)
[7] Fadli, A. M., dkk. (2014). “Efektifitas Distribusi Fisik Dalam Meningkatkan Penjualan (Studi Kasus: CV Agrotama Gemilang Kota Malang)”, Jurnal Administrasi Bisnis, Vol. 7, No. 1. [8] Handy, Nugroho. & Purwaningsih Ratna. (2015). “Analisis Tarif berdasarkan Biaya
Operasional Kendaraan (BOK) Pada Willingness To Pay (WTP) Pada Bus Akap Kelas