ANALISIS PELAKSANAAN STRATEGI PROMOSI KESEHATAN DI PUSKESMAS RANOTANA WERU KECAMATAN WANEA KOTA MANADO Victori R S Weku*, Marjes N. Tumurang*, Harvani B. Boky*
*Fakultas Kesehatan Masyarkat Universitas Sam Ratulangi ABSTRAK
Promosi Kesehatan Adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong diri mereka sendiri. Strategi dasar utama Promosi Kesehatan adalah Pemberdayaan, yang didukung oleh Bina Suasana, dan Advokasi serta di jiwai semangat Bina Suasana. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetauhi pelaksanaan Strategi Promosi kesehatan di Puskesmas Ranotana Weru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan menggunakan alat ukur wawancara mendalam. jumlah informan dalam penelitian ini adalah 9 orang.
Hasil penelitian diperoleh bahwa Advokasi yang dilakukan puskesmas Ranotana Weru untuk tokoh masyarakat dan masyarakat belum merata atau tidak merangkul semua golongan masyarakat. Puskesmas belum pernah melaksanakan kegiatan mininilokakarya lintas sektor serta kegiatan-kegiatan yang melibatkan setiap tokoh-tokoh masyarakat, belum adanya pelatihan-pelatihan yang dilakukan untuk para tokoh masyarakat, serta tidak terjalinnya kerja sama lintas sektor atau kemitraan antara Puskesmas dengan Tokoh masyarakat. Kesimpulannya Strategi promosi Kesehatan yang diterapkan Puskesmas tidak maksimal karena tidak terjalinnya kerja sama dengan tokoh masyarakat serta belum maksimalnya kegiatan Minilokakarya lintas sektor. Kata kunci: Strategi Promosi Kesehatan, Puskesmas
ABSTRACT
Health Promotion It is an effort to improve people's ability through learning from, by, for, and with the community, so that they can help themselves. The main basic strategy of Health Promotion is Empowerment, supported by Building Ambiance, and Advocacy and in spirit of Building Ambiance. The purpose of this research is to know implementation Health Promotion Strategy at Ranotana Weru Health Center. This research uses qualitative research method by using measuring instrument in-depth interview. total informant in this research is 9 people. The result of the research shows that the advocacy by Ranotana Weru Public Health Center for community and society figures has not been evenly distributed or not embracing all community groups. Health Center have never conducted cross-sector mininilokakarya activities and activities involving every public figures, the lack of training conducted for community leaders, and the non-cooperation of sectors or partnership between Health Center and community leaders. In conclusion Health Promotion Strategy applied by Public Health Center is not maximal because there is no cooperation with public figure and not maximal activity Minilokakarya cross-sector. Keywords: Health Promotion Strategy, Health Center.
PENDAHULUAN
World Health Organisation memberikan pengertian tentang Promosi Kesehatan
adalah sebagai Proses untuk
mengupayakan individu-individu dan
masyarakat untuk meningkatkan
pengetahuan mereka dalam
mengendalikan factor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatannya.
Upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh dan bersama masyarakat agar dapat
menolong dirinya sendiri, serta
pengembangan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya
setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Upaya Promosi Kesehatan terdapat beberapa strategi yang bisa dilakukan
yaitu: Pemberdayaan Masyarakat,
Advokasi, Bina suasana, dan Kemitraan. Strategi promosi Kesehatan diarahkan untuk mengembangkan kebijaksanaan guna mewujudkan masyarakat yang sehat membina suasana, iklim dan
lingkungan yang mendukung
memperkuat, mendukung dan
mendorong kegiatan masyarakat
meningkatkan kemampuan dan
ketrampilan perorangan, mengupayakan pembangunan kesehatan yang lebih memberdayakan masyarakat (Fitriani, 2011).
Hasil wawancara dengan Pemegang Program Promosi Kesehatan Puskesmas Ranotana Weru Kecamatan Wanea menunjukan bahwa Strategi Promosi
Kesehatan yang dilakukan oleh
Puskesmas Ranotana Weru belum
maksimal yaitu kemitraan lintas sektor yang dilakukan hanya sampai pada tingkat kelurahan. Kemudian untuk program-program promosi kesehatan yang di lakukan Puskesmas hanya berupa Progam penyuluhan kesehatan,
serta yang menjadi masalah di
Puskesmas dalam melaksanakan Strategi Promosi Kesehatan yaitu kurangnya SDM di Puskesmas serta tidak adanya
dana dalam menunjuang Kegiatan
Promosi Kesehatan dan upaya advokasi yang di lakukan puskesmas belum maksimal. Untuk Upaya Peberdayaan
Masyarakat yang dilakukan oleh
Puskesmas Ranotana Weru yaitu dengan melaksanakan kegatan Posbindu di
wilayah Kerja Puskesmas. Dalam
melakukan kegiatan Posbindu dan
Penyuluhan Kesehatan Puskesmas
Ranotana Weru juga melakukan Strategi Bina Suasana.
Penelitian dari Iin (2017) Tentang
Kajian Tentang Strategi Promosi
Kesehatan Pada Penyakit Hipertensi di
Wilayah Kerja Dinas Kesehatan
Kabupaten Minahasa Utara bahwa
Advokasi yang dilakukan untuk
mendapatkan dukungan kebijakan
pengendalian PTM khususnya Penyakit
Hipertensi dan Penelitian yang
dilakukan oleh Kartika Sari dan
Sulistyowati (2015) tentang Analisis
Promosi Kesehatan di Puskesmas
Kalijudan terhadap PHBS Rumah
Tangga Ibu Hamil di temukan bahwa
Kemitraan belum terjalin dengan
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
Organisasi Profesi, Organisasi
Kepemudaan, organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan.
Terkait dengan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk menganalisis pelaksanaan Strategi Promosi Kesehatan yang ada di Puskesmas Ranotana Weru
Promosi Kesehatan yang akan di analisis oleh peneliti terdiri dari empat strategi
yaitu Advokasi, Pemberdayaan
Masyarakat, Kemitraan, dan Bina
Suasana
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah Kualitatif.
Bertujuan untuk mendapatkan
pemahaman yang sifatnya umum
terhadap kenyataan sosial dari perpesktif partisipan (Martha,2016). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2017 – Maret 2018 di Puskesmas Ranotana
Weru Manado. Informan dalam
penelitian ini adalah: Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi
Kesehatan Dinas Kesehatan Kota
Manado, Pemegang Program Promosi kesehatan Puskesmas Ranotana Weru, Kepala Puskesmas Ranotana Weru,
Empat Orang Masyarakat
Setempat/Pengguna Jasa, Dua Orang Tokoh Masyarakat/Kepala Kelurahan. Instrumen penelitian dalam pelaksanaan penelitian ini instrument utamanya adalah peneliti itu sendiri, namun selanjutnya setelah focus penelitian menjadi jelas, maka akan dikembangkan instrument penelitian sederhana, yang dapat melengkapi data melalui observasi dan wawancara mendalam. (Sugiyono, 2016) Dengan menambahkan instrument tambahan berupa, Daftar pertanyaan, alat tulis dan alat perekam. Untuk
memperoleh data dalam penelitian yang dilakukan yaitu dengan cara sebagai berikut yaitu Observasi, wawancara,
dokumentasi, Triangulasi/gabungan.
Teknik Analisis data dikutip dalam Sugiyono (2016) yaitu Reduksi Data (Data Reduction), Penyajian Data (Data Display), Penarikan Kesimpulan dan
verifikasi (Conclusion
Drawing/Verification), Validitas hasil
penelitian menggunakan triangulasi
sumber, triangulasi teknik pengumpulan data.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Advokasi
Hasil wawancara dengan kepala seksi Pemberdayaan masyarakat dan Promosi kesehatan mengatakan bahwa advokasi yang dilakukan Dinas Kesehatan itu
Pemerintah Kota Manado terkait
pendanaan untuk setiap kebijakan-kebijakan serta kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan promosi kesehatan.
Kemudian untuk advokasi yang
dilakukan oleh Puskesmas Ranotana
Weru yaitu mereka membuat
perencanaan Program yang akan
dilakukan dalam bentuk Planing of Action (POA) tetapi didapati bahwa Puskesmas tidak memiliki Planing of Action (POA) Program Promosi Kesehatan.
Hasil wawancara dengan Pemegang
program Promosi Kesehatan di
Puskesmas Ranotana Weru mengatakan bahwa mereka menjalankan setiap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dengan melibatkan lintas sector, tetapi hasil wawancara yang dilakukan dengan tokoh masyarakat mereka mengatakan bahwa pihak Puskesmas belum pernah melibatkan tokoh masyarakat dalam setiap pertemuan untuk membicarakan
setiap kebijakan tentang kegiatan
Promosi Kesehatan.
2. Pembinaan Suasana
Hasil wawancara dengan Pemegang
Program Promosi Kesehatan di
Puskesmas Ranotana Weru dan Kepala Puskesmas Ranotana Weru mengatakan bahwa untuk kegiatan seperti SMD,
MMD, serta Musrembang itu
dilaksanakan tetapi dalam
pelaksanaannya ada beberapa kendala
yang terjadi seperti
penolakan-penolakan oleh masyarakat ketika
petugas kesehatan melaksanakan
kegiatan ini. Kemudian untuk Kegiatan Minilokakarya dilaksanakan setiap tiga
bulan, tetapi berdasarkan hasil
wawancara dengan setiap tokoh
masyarakat yang ada diwilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru mengatakan
bahwa Puskesmas belum pernah
melaksanakan Mininilokakarya lintas sector serta kegiatan-kegiatan yang
melibatkan setiap tokoh-tokoh
masyarakat. Hal ini menujukan bahwa
Bina Suasana yang dilakukan
Puskesmas Ranotana Weru tidak
berjalan degan baik karena belum
pernah melibatkan setiap tokoh
masyarakat dalam kegiatan
Minilokakarya lintas sektor.
3. Pemberdayaan masyarakat
Hasil wawancara dengan Kepala
Puskesmas dan Pemegang Program Promosi Kesehatan Puskesmas Ranotana
Weru mengatakan bahwa untuk
kegiatan-kegiatan tentang
Pemberdayaan Masyarakat seperti
Penyuluhan Kesehatan itu rutin
dilakukan baik didalam gedung maupun luar gedung. Penyuluhan dalam gedung dilakukan setiap minggu di Puskesmas
dan Penyuluhan luar gedung
dilaksanakan dalam kegiatan Posyandu. Tetapi kegiatan kunjungan rumah yang
dilakukan Puskesmas tentang
Pemberdayaan Masyarakat belum
merata karena berdasarkan hasil
wawancara dengan beberapa masyarakat pengguna jasa yang berada di wilayah
kerja Puskesmas Ranotana Weru
ditemukan bahwa ada beberapa
masyarakat yang belum mendapatkan kunjungan keluarga, serta untuk
documen kunjungan keluarga di
4. Kemitraan
Hasil wawancara dengan Kepala
Puskesmas dan Pemegang Program promosi Kesehatan Puskesmas Ranotana Weru mengatakan bahwa kerja sama lintas sektor sudah dilaksanakan tetapi dalam pelaksanaanya ada kendala yang didapat ketika melaksanakan kemitraan seperti komunikasi dan sosialisasi yang
kurang baik dengan tokoh-tokoh
masyarakat. Berdasarkan hasil
wawancara dengan tokoh masyarakat mengatakan bahwa Puskesmas belum pernah bermitra dengan Lurah-Lurah yang ada dalam pennyelenggaraan setiap Program Promosi Kesehatan. Hal ini menunjukan bahwa kemitraan yang dilaksanakan Puskesmas tidak berjalan dengan baik.
B. Pembahasan 1. Advokasi
Pendekatan terhadap advokasi adalah proses bagaimana advokasi tersebut dimulai. Pendekatan advokasi terbagi
menjadi dua pendekatan yaitu
pendekatan advokasi yang dimulai dengan gerakan akar rumput (grass root advocacy) dan pendekatan advokasi yang dimulai dari kelompok atas kebawah (top down approach). Tujuan advokasi kesehatan atau kesehatan masyarakat yang sudah dirumuskan
dengan tepat tidak menjamin
tercapainya tujuan tersebut. Hal ini
dipengaruhi oleh strategi atau cara bagaimana mencapai tujuan tersebut. Pendekatan dan strategi advokasi yang dibahas lebih bersifat umum, bukan hanya berlaku dibidang kesehatan. Demikian juga dalam contoh tidak semua focus pada masalah kesehatan (Pratomo, 2015).
Advokasi yang dilakukan Puskesmas tidak maksimal dikarenakan banyak kendala yang terjadi ketika melakukan advokasi kepada setiap Dinas yang
terkait dan setiap tokoh-tokoh
masyarakat seperti advokasi yang di lakukan kepada Dinas Kesehatan Kota Manado tentang masalah pendanaan atau alokasi dana untuk Program Promosi kesehatan yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru yang tidak
memadai untuk melakukan setiap
kegiatan tentang Promosi Kesehatan yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru serta tidak adanya Planing of Action (POA) di Puskesmas Ranotana Weru hal ini sangat berpengaruh dalam
pelaksanaan setiap kegiatan atau
Program Promosi Kesehatan yang
dilakukan Puskesmas. Kemudian untuk advokasi yang dilakukan Puskesmas
Ranotana Weru kepada tokoh
masyarakat dan masyarakat tidak merata atau belum maksimal karena tidak merangkul semua golongan masyarakat baik tokoh-tokoh masyarakat seperti kepala kelurahan, dan kepala-kepala
lingkungan maupun masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru.
2. Bina Suasana
Pemberdayaan akan lebih cepat berhasil
bila didukung dengan kegiatan
menciptakan suasana atau lingkungan
yang kondusif. Lingkungan yang
dimaksud adalah lingkungan yang di
perhitungkan memiliki pengaruh
terhadap pasien atau klien yang sedang diberdayakan. Kegiatan menciptakan suasana atau lingkungan yang kondusif ini disebut Bina Suasana (Hartono, 2010).
Penelitian dari Priharwanti dkk
(2017) tentang Strategi Promosi
Kesehatan dalam upaya penurunan angka kematian ibu (aki) di kota pekalongan didapati bahwa bina suasana dilakukan melalui sosialisasi program kerja di lintas sektoral, membangun kemitraan dan jejaring yang kuat, dan menanamkan kesadaran yang tinggi pada setiap warga bahwa aki adalah permasalahan bersama bukan masalah dari dinas kesehatan ataupun masalah
perorangan. Pengoptimalan
penyebarluasan informasi melalui
sosmed (social media) untuk
mendukung percepatan dan keberluasan informasi mengenai aki, pemantauan, koordinasi antara kader, posyandu, pemangku adat, tokoh agama dan
petugas kesehatan. Selain itu
keterpaduan teknologi ini diupayakan dapat meningkatkan kecepatan tindakan rujukan.
Bina Suasana serta
pelatihan-pelatihan untuk tokoh-tokoh masyarakat, Minilokakarya dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Bina Suasana
yang dilakukan oleh Puskesmas
Ranotana Weru terhadap setiap
golongan masyarakat, tokoh masyarakat seperti pelatihan kader-kader kesehatan, kepala kelurahan serta kepala-kepala lingkungan dan masyarakat yang
ada di wilayah kerja Puskesmas
Ranotana Weru belum maksimal
dikarenakan tidak meratanya setiap
kegiatan promosi kesehatan yang
dilakukan untuk masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru seperti kunjungan rumah ke rumah yang belum terlaksana dengan baik karena kunjungan rumah yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru hanya dua kali kunjungan rumah dalam satu bulan serta
Puskesmas belum pernah melaksanakan mininilokakarya lintas sector bersama dengan para tokoh masyarakat seperti kepala kelurahan dan kepala-kepala lingkungan hal ini disebabkan
karena kurangnya komunikasi
Puskesmas dengan setiap tokoh-tokoh masyarakat serta tidak adanya sosialisasi kepada tokoh-tokoh masyarakat yang
berkaitan dengan kegiatan Minilokakarya lintas sector. hal ini di dapati ketika melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di dua kelurahan yang menjadi wilayah kerja dari Puskesmas Ranotana Weru mereka mengatakan bahwa selama satu tahun terakir Puskesmas tidak pernah melibatkan kepala kelurahan dalam setiap kegiatan pengorganisasian
masyarakat seperti kegiatan
Minilokakarya lintas sektor.
3. Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan sasaran utama
promosi kseshatan. Seperti telah
diuraikan bahwa salah satu strategi global promosi kesehatan pemberdayaan atau empowerment dengan sasaran masyarakat atau komunitas. Masyarakat sebagai sasaran primer (primary target) promosi kesehatan harus diberdayakan
agar mereka mau dan mampu
memelihara dan meningkatkan
kesehatan mereka sendiri. Kemandirian masyarakat dibidang kesehatan sebagai hasil pemberdayaan di bidang kesehatan sesunggunya merupakan perwujudan dari tanggung jawab mereka agar
hak-hak kesehatan mereka terpenuhi
(Notoatmodjo, 2012).
Pemberdayaan Masyarakat dalam setiap kegiatan Promosi Kesehatan yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru
berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pemegang program Promosi Kesehatan di Puskesmas Ranotana Weru menunjukan bahwa Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk masyarakat sudah dilakukan, seperti penyuluhan didalam gedung maupun diluar gedung untuk penyuluhan di dalam gedung dilakukan satu kali dalam seminggu dan untuk kegiatan penyuluhan diluar gedung dilaksanakan dalam kegiatan Posyandu yang dilakuakn Puskesmas Ranotana
Weru. Tetapi untuk kegiatan
pemberdayaan Masyarakat dengan
melibatkan tokoh masayarakat belum pernah dilaksanakan karena berasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada
tokoh-tokoh masyarakat bahwa
Puskesmas tidak pernah memberikan
informasi kepada kepala-kepala
kelurahan tentang kegiatan-kegiatan
yang berkaitan dengan pengorganisasian masyarakat maupun yang berkaitan dengan Promosi Kesehatan yang akan dilakukan Puskesmas.
4. Kemitraan
Kemitraan menciptakan sinergi yang memberi penguatan kepada setiap mitra yang terlibat didalamnya untuk mengisi manat yang diberikan. Akan tetapi untuk mendorong terciptanya kemitraan untuk kesehatan adalah suatu cita-cita dan pendekatan yang ambisius. Hal itu
penerimaan atas perinsip-prinsip dasar kemitraan. Kemitraan dapat dibuat di beberapa tingkatan, di tingkat global dan regional, dalam meletakan kerangka kerja untuk berkolaborasi dan bekerja sama antar negara. Adapun kemitraan
ditingkat local, kemitraan dapat
mengambil formula dari
kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada program (Rafei, 2007).
Penelitian dari Rahana (2018) tentang Kajian Strategi Promosi Kesehatan di Sekolah Berdasarkan Ottawa Charter Pada SLBN Pembina Tingkat Nasional Kec. Lawang, Kab. Malang ditemukan bahwa Strategi kemitraan yang ada di SLB mayoritas dijalin dengan pihak pemerintahan. Sehingga kemitraan yang dilaksanakan sudah berjalan dengan baik. Namun untuk aspek health public policy perlu dibuat peraturan tertulis agar penerapan peraturan di SLB tersebut dapat ditindaklanjuti dengan tegas. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan aspek Ottawa Charter yang lain.
Kerja sama lintas sektor yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru dalam rangka penyelenggaraan setiap Program Promosi Kesehatan sudah
dilaksanakan tetapi dalam
pelaksanaanya ada kendala yang didapat ketika melaksanakan kemitraan seperti komunikasi dan sosialisasi yang kurang baik dengan tokoh-tokoh masyarakat.
Kemitraan yang dilakukan Puskesmas dalam meningkatkan derajat kesehatan dengan melibatkan tokoh masyarakat hanya ketika terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor hal ini didapati ketika melakukan wawancara dengan salah satu kepala kelurahan yang
ada di wilayah kerja Puskesmas
Ranotana Weru tokoh masyarakat
tersebut mengatakan pihak Puskesmas
langsung turun lapangan untuk
membantu masyarakat yang terkena dampak dari bencana banjir. Tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat dikelurahan lain di wilayah kerja Puskesmas Ranotana
Weru mengatakan bahwa pihak
Puskesmas belum pernah bermitra dengan tokoh masyarakat yang ada di kelurahan tersebut untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang ada
di kelurahan tersebut. Hal ini
menunjukan bahwa kemitraan yang dilaksanakan Puskesmas tidak berjalan dengan baik karena tidak meratanya kemitraan yang dilakukan kepada setiap tokoh masyarakat. Menurut Induniasih (2016) hal utama yang menjadi alasan perlunya membangun kemitraan adalah
agar bisa mendapatkan berbagai
dukungan, mulai dari sumber daya manusia, dana hingga alat dan bahan yang dibutuhkan untuk menunjang program-program Promosi Kesehatan.
KESIMPULAN
1. Advokasi yang dilakukan
puskesmas Ranotana Weru untuk tokoh masyarakat dan masyarakat
belum merata atau belum
merangkul semua golongan
masyarakat baik tokoh-tokoh
masyarakat maupun masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru.
2. Bina Suasana serta
pelatihan-pelatihan, Minilokakarya dan
kegiatan-kegiatan yang berkaitan
dengan Bina Suasana yang
dilakukan oleh Puskesmas
Ranotana Weru terhadap setiap tokoh masyarakat dan masyarakat belum maksimal, serta Puskesmas
belum pernah melaksanakan
mininilokakarya lintas sector serta kegiatan-kegiatan yang melibatkan setiap tokoh-tokoh masyarakat 3. Belum adanya pelatihan-pelatihan
yang dilakukan untuk para tokoh masyarakat
4. Tidak terjalinnya kerja sama lintas
sector atau kemitraan antara
Puskesmas dengan Tokoh
masyarakat.
5. Minimnya alokasi dana untuk menunjang Kegiatan serta Program Promosi Kesehatan di Puskesmas Ranotana Weru.
6. Kurangnya komunikasi dan
sosialisasi dengan tokoh-tokoh
masyarakat.
7. adanya penolakan dari beberapa masyarakat dalam kegiatan SMD yang dilakukan Puskesmas, serta tidak meratanya kunjungan rumah yang dilakukan Puskesmas.
SARAN
Lebih mengoptimalkan
pelatihan-pelatihan khusus untuk tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat.
1. Meningkatkan kerja sama dengan dinas atau instansi atau lintas sektor terkait tentang pengadaan sarana dan prasarana untuk menunjang program promosi kesehatan
2. Membuat program
pelatihan-pelatihan atau lokakarya untuk para tokoh agama dan tokoh masyarakat
agar terjalin kemitraan dan
menciptakan suasana yang
mendukung perilaku sehat.
3. Sebaiknya melibatkan tokoh agama maupun tokoh masyarakat dalam
proses perencanaan program
promosi kesehatan
4. Mengusulkan kepada Dinas
Kesehatan Kota Manado untuk diteruskan kepada pemerintah kota Manado supaya memberikan usulan peningkatan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk kegiatan promosi kesehatan
DAFTAR PUSTAKA
Arifin. 2015. Dinamika Kelompok. Bandung: CV. Pustaka Setia Fitriani, S. 2011. Promosi Kesehatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu. Hartono, B. 2010. Promosi Kesehatan di
Puskesmas dan Rumah Sakit. Jakarta: Rineka Cipta.
Martha, E. Kresno, S. 2016. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Bidang Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers.
Notoatmojo, S. 2012. Promosi
Kesehatan dan Perilaku
Kesehatan edisi Revisi 2012. Jakarta: Rineka Cipta
Pratomo, H. 2015. Advokasi konsep, teknik dan aplikasi di bidang kesehatan di indonesia. Jakarta: Rajawali Pers
Rafei, M. U. 2007. Health Politics Menjangkau yang Tak Terjangkau. Jakarta Selatan: Health & Hospital Indonesia. Sugiyono, 2016. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.