• Tidak ada hasil yang ditemukan

*Fakultas Kesehatan Masyarkat Universitas Sam Ratulangi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "*Fakultas Kesehatan Masyarkat Universitas Sam Ratulangi"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PELAKSANAAN STRATEGI PROMOSI KESEHATAN DI PUSKESMAS RANOTANA WERU KECAMATAN WANEA KOTA MANADO Victori R S Weku*, Marjes N. Tumurang*, Harvani B. Boky*

*Fakultas Kesehatan Masyarkat Universitas Sam Ratulangi ABSTRAK

Promosi Kesehatan Adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong diri mereka sendiri. Strategi dasar utama Promosi Kesehatan adalah Pemberdayaan, yang didukung oleh Bina Suasana, dan Advokasi serta di jiwai semangat Bina Suasana. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetauhi pelaksanaan Strategi Promosi kesehatan di Puskesmas Ranotana Weru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan menggunakan alat ukur wawancara mendalam. jumlah informan dalam penelitian ini adalah 9 orang.

Hasil penelitian diperoleh bahwa Advokasi yang dilakukan puskesmas Ranotana Weru untuk tokoh masyarakat dan masyarakat belum merata atau tidak merangkul semua golongan masyarakat. Puskesmas belum pernah melaksanakan kegiatan mininilokakarya lintas sektor serta kegiatan-kegiatan yang melibatkan setiap tokoh-tokoh masyarakat, belum adanya pelatihan-pelatihan yang dilakukan untuk para tokoh masyarakat, serta tidak terjalinnya kerja sama lintas sektor atau kemitraan antara Puskesmas dengan Tokoh masyarakat. Kesimpulannya Strategi promosi Kesehatan yang diterapkan Puskesmas tidak maksimal karena tidak terjalinnya kerja sama dengan tokoh masyarakat serta belum maksimalnya kegiatan Minilokakarya lintas sektor. Kata kunci: Strategi Promosi Kesehatan, Puskesmas

ABSTRACT

Health Promotion It is an effort to improve people's ability through learning from, by, for, and with the community, so that they can help themselves. The main basic strategy of Health Promotion is Empowerment, supported by Building Ambiance, and Advocacy and in spirit of Building Ambiance. The purpose of this research is to know implementation Health Promotion Strategy at Ranotana Weru Health Center. This research uses qualitative research method by using measuring instrument in-depth interview. total informant in this research is 9 people. The result of the research shows that the advocacy by Ranotana Weru Public Health Center for community and society figures has not been evenly distributed or not embracing all community groups. Health Center have never conducted cross-sector mininilokakarya activities and activities involving every public figures, the lack of training conducted for community leaders, and the non-cooperation of sectors or partnership between Health Center and community leaders. In conclusion Health Promotion Strategy applied by Public Health Center is not maximal because there is no cooperation with public figure and not maximal activity Minilokakarya cross-sector. Keywords: Health Promotion Strategy, Health Center.

PENDAHULUAN

World Health Organisation memberikan pengertian tentang Promosi Kesehatan

adalah sebagai Proses untuk

mengupayakan individu-individu dan

masyarakat untuk meningkatkan

pengetahuan mereka dalam

mengendalikan factor-faktor yang

mempengaruhi kesehatan sehingga dapat

meningkatkan derajat kesehatannya.

Upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh dan bersama masyarakat agar dapat

menolong dirinya sendiri, serta

pengembangan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya

(2)

setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Upaya Promosi Kesehatan terdapat beberapa strategi yang bisa dilakukan

yaitu: Pemberdayaan Masyarakat,

Advokasi, Bina suasana, dan Kemitraan. Strategi promosi Kesehatan diarahkan untuk mengembangkan kebijaksanaan guna mewujudkan masyarakat yang sehat membina suasana, iklim dan

lingkungan yang mendukung

memperkuat, mendukung dan

mendorong kegiatan masyarakat

meningkatkan kemampuan dan

ketrampilan perorangan, mengupayakan pembangunan kesehatan yang lebih memberdayakan masyarakat (Fitriani, 2011).

Hasil wawancara dengan Pemegang Program Promosi Kesehatan Puskesmas Ranotana Weru Kecamatan Wanea menunjukan bahwa Strategi Promosi

Kesehatan yang dilakukan oleh

Puskesmas Ranotana Weru belum

maksimal yaitu kemitraan lintas sektor yang dilakukan hanya sampai pada tingkat kelurahan. Kemudian untuk program-program promosi kesehatan yang di lakukan Puskesmas hanya berupa Progam penyuluhan kesehatan,

serta yang menjadi masalah di

Puskesmas dalam melaksanakan Strategi Promosi Kesehatan yaitu kurangnya SDM di Puskesmas serta tidak adanya

dana dalam menunjuang Kegiatan

Promosi Kesehatan dan upaya advokasi yang di lakukan puskesmas belum maksimal. Untuk Upaya Peberdayaan

Masyarakat yang dilakukan oleh

Puskesmas Ranotana Weru yaitu dengan melaksanakan kegatan Posbindu di

wilayah Kerja Puskesmas. Dalam

melakukan kegiatan Posbindu dan

Penyuluhan Kesehatan Puskesmas

Ranotana Weru juga melakukan Strategi Bina Suasana.

Penelitian dari Iin (2017) Tentang

Kajian Tentang Strategi Promosi

Kesehatan Pada Penyakit Hipertensi di

Wilayah Kerja Dinas Kesehatan

Kabupaten Minahasa Utara bahwa

Advokasi yang dilakukan untuk

mendapatkan dukungan kebijakan

pengendalian PTM khususnya Penyakit

Hipertensi dan Penelitian yang

dilakukan oleh Kartika Sari dan

Sulistyowati (2015) tentang Analisis

Promosi Kesehatan di Puskesmas

Kalijudan terhadap PHBS Rumah

Tangga Ibu Hamil di temukan bahwa

Kemitraan belum terjalin dengan

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),

Organisasi Profesi, Organisasi

Kepemudaan, organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan.

Terkait dengan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk menganalisis pelaksanaan Strategi Promosi Kesehatan yang ada di Puskesmas Ranotana Weru

(3)

Promosi Kesehatan yang akan di analisis oleh peneliti terdiri dari empat strategi

yaitu Advokasi, Pemberdayaan

Masyarakat, Kemitraan, dan Bina

Suasana

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah Kualitatif.

Bertujuan untuk mendapatkan

pemahaman yang sifatnya umum

terhadap kenyataan sosial dari perpesktif partisipan (Martha,2016). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2017 – Maret 2018 di Puskesmas Ranotana

Weru Manado. Informan dalam

penelitian ini adalah: Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi

Kesehatan Dinas Kesehatan Kota

Manado, Pemegang Program Promosi kesehatan Puskesmas Ranotana Weru, Kepala Puskesmas Ranotana Weru,

Empat Orang Masyarakat

Setempat/Pengguna Jasa, Dua Orang Tokoh Masyarakat/Kepala Kelurahan. Instrumen penelitian dalam pelaksanaan penelitian ini instrument utamanya adalah peneliti itu sendiri, namun selanjutnya setelah focus penelitian menjadi jelas, maka akan dikembangkan instrument penelitian sederhana, yang dapat melengkapi data melalui observasi dan wawancara mendalam. (Sugiyono, 2016) Dengan menambahkan instrument tambahan berupa, Daftar pertanyaan, alat tulis dan alat perekam. Untuk

memperoleh data dalam penelitian yang dilakukan yaitu dengan cara sebagai berikut yaitu Observasi, wawancara,

dokumentasi, Triangulasi/gabungan.

Teknik Analisis data dikutip dalam Sugiyono (2016) yaitu Reduksi Data (Data Reduction), Penyajian Data (Data Display), Penarikan Kesimpulan dan

verifikasi (Conclusion

Drawing/Verification), Validitas hasil

penelitian menggunakan triangulasi

sumber, triangulasi teknik pengumpulan data.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Advokasi

Hasil wawancara dengan kepala seksi Pemberdayaan masyarakat dan Promosi kesehatan mengatakan bahwa advokasi yang dilakukan Dinas Kesehatan itu

Pemerintah Kota Manado terkait

pendanaan untuk setiap kebijakan-kebijakan serta kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan promosi kesehatan.

Kemudian untuk advokasi yang

dilakukan oleh Puskesmas Ranotana

Weru yaitu mereka membuat

perencanaan Program yang akan

dilakukan dalam bentuk Planing of Action (POA) tetapi didapati bahwa Puskesmas tidak memiliki Planing of Action (POA) Program Promosi Kesehatan.

(4)

Hasil wawancara dengan Pemegang

program Promosi Kesehatan di

Puskesmas Ranotana Weru mengatakan bahwa mereka menjalankan setiap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dengan melibatkan lintas sector, tetapi hasil wawancara yang dilakukan dengan tokoh masyarakat mereka mengatakan bahwa pihak Puskesmas belum pernah melibatkan tokoh masyarakat dalam setiap pertemuan untuk membicarakan

setiap kebijakan tentang kegiatan

Promosi Kesehatan.

2. Pembinaan Suasana

Hasil wawancara dengan Pemegang

Program Promosi Kesehatan di

Puskesmas Ranotana Weru dan Kepala Puskesmas Ranotana Weru mengatakan bahwa untuk kegiatan seperti SMD,

MMD, serta Musrembang itu

dilaksanakan tetapi dalam

pelaksanaannya ada beberapa kendala

yang terjadi seperti

penolakan-penolakan oleh masyarakat ketika

petugas kesehatan melaksanakan

kegiatan ini. Kemudian untuk Kegiatan Minilokakarya dilaksanakan setiap tiga

bulan, tetapi berdasarkan hasil

wawancara dengan setiap tokoh

masyarakat yang ada diwilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru mengatakan

bahwa Puskesmas belum pernah

melaksanakan Mininilokakarya lintas sector serta kegiatan-kegiatan yang

melibatkan setiap tokoh-tokoh

masyarakat. Hal ini menujukan bahwa

Bina Suasana yang dilakukan

Puskesmas Ranotana Weru tidak

berjalan degan baik karena belum

pernah melibatkan setiap tokoh

masyarakat dalam kegiatan

Minilokakarya lintas sektor.

3. Pemberdayaan masyarakat

Hasil wawancara dengan Kepala

Puskesmas dan Pemegang Program Promosi Kesehatan Puskesmas Ranotana

Weru mengatakan bahwa untuk

kegiatan-kegiatan tentang

Pemberdayaan Masyarakat seperti

Penyuluhan Kesehatan itu rutin

dilakukan baik didalam gedung maupun luar gedung. Penyuluhan dalam gedung dilakukan setiap minggu di Puskesmas

dan Penyuluhan luar gedung

dilaksanakan dalam kegiatan Posyandu. Tetapi kegiatan kunjungan rumah yang

dilakukan Puskesmas tentang

Pemberdayaan Masyarakat belum

merata karena berdasarkan hasil

wawancara dengan beberapa masyarakat pengguna jasa yang berada di wilayah

kerja Puskesmas Ranotana Weru

ditemukan bahwa ada beberapa

masyarakat yang belum mendapatkan kunjungan keluarga, serta untuk

documen kunjungan keluarga di

(5)

4. Kemitraan

Hasil wawancara dengan Kepala

Puskesmas dan Pemegang Program promosi Kesehatan Puskesmas Ranotana Weru mengatakan bahwa kerja sama lintas sektor sudah dilaksanakan tetapi dalam pelaksanaanya ada kendala yang didapat ketika melaksanakan kemitraan seperti komunikasi dan sosialisasi yang

kurang baik dengan tokoh-tokoh

masyarakat. Berdasarkan hasil

wawancara dengan tokoh masyarakat mengatakan bahwa Puskesmas belum pernah bermitra dengan Lurah-Lurah yang ada dalam pennyelenggaraan setiap Program Promosi Kesehatan. Hal ini menunjukan bahwa kemitraan yang dilaksanakan Puskesmas tidak berjalan dengan baik.

B. Pembahasan 1. Advokasi

Pendekatan terhadap advokasi adalah proses bagaimana advokasi tersebut dimulai. Pendekatan advokasi terbagi

menjadi dua pendekatan yaitu

pendekatan advokasi yang dimulai dengan gerakan akar rumput (grass root advocacy) dan pendekatan advokasi yang dimulai dari kelompok atas kebawah (top down approach). Tujuan advokasi kesehatan atau kesehatan masyarakat yang sudah dirumuskan

dengan tepat tidak menjamin

tercapainya tujuan tersebut. Hal ini

dipengaruhi oleh strategi atau cara bagaimana mencapai tujuan tersebut. Pendekatan dan strategi advokasi yang dibahas lebih bersifat umum, bukan hanya berlaku dibidang kesehatan. Demikian juga dalam contoh tidak semua focus pada masalah kesehatan (Pratomo, 2015).

Advokasi yang dilakukan Puskesmas tidak maksimal dikarenakan banyak kendala yang terjadi ketika melakukan advokasi kepada setiap Dinas yang

terkait dan setiap tokoh-tokoh

masyarakat seperti advokasi yang di lakukan kepada Dinas Kesehatan Kota Manado tentang masalah pendanaan atau alokasi dana untuk Program Promosi kesehatan yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru yang tidak

memadai untuk melakukan setiap

kegiatan tentang Promosi Kesehatan yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru serta tidak adanya Planing of Action (POA) di Puskesmas Ranotana Weru hal ini sangat berpengaruh dalam

pelaksanaan setiap kegiatan atau

Program Promosi Kesehatan yang

dilakukan Puskesmas. Kemudian untuk advokasi yang dilakukan Puskesmas

Ranotana Weru kepada tokoh

masyarakat dan masyarakat tidak merata atau belum maksimal karena tidak merangkul semua golongan masyarakat baik tokoh-tokoh masyarakat seperti kepala kelurahan, dan kepala-kepala

(6)

lingkungan maupun masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru.

2. Bina Suasana

Pemberdayaan akan lebih cepat berhasil

bila didukung dengan kegiatan

menciptakan suasana atau lingkungan

yang kondusif. Lingkungan yang

dimaksud adalah lingkungan yang di

perhitungkan memiliki pengaruh

terhadap pasien atau klien yang sedang diberdayakan. Kegiatan menciptakan suasana atau lingkungan yang kondusif ini disebut Bina Suasana (Hartono, 2010).

Penelitian dari Priharwanti dkk

(2017) tentang Strategi Promosi

Kesehatan dalam upaya penurunan angka kematian ibu (aki) di kota pekalongan didapati bahwa bina suasana dilakukan melalui sosialisasi program kerja di lintas sektoral, membangun kemitraan dan jejaring yang kuat, dan menanamkan kesadaran yang tinggi pada setiap warga bahwa aki adalah permasalahan bersama bukan masalah dari dinas kesehatan ataupun masalah

perorangan. Pengoptimalan

penyebarluasan informasi melalui

sosmed (social media) untuk

mendukung percepatan dan keberluasan informasi mengenai aki, pemantauan, koordinasi antara kader, posyandu, pemangku adat, tokoh agama dan

petugas kesehatan. Selain itu

keterpaduan teknologi ini diupayakan dapat meningkatkan kecepatan tindakan rujukan.

Bina Suasana serta

pelatihan-pelatihan untuk tokoh-tokoh masyarakat, Minilokakarya dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Bina Suasana

yang dilakukan oleh Puskesmas

Ranotana Weru terhadap setiap

golongan masyarakat, tokoh masyarakat seperti pelatihan kader-kader kesehatan, kepala kelurahan serta kepala-kepala lingkungan dan masyarakat yang

ada di wilayah kerja Puskesmas

Ranotana Weru belum maksimal

dikarenakan tidak meratanya setiap

kegiatan promosi kesehatan yang

dilakukan untuk masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru seperti kunjungan rumah ke rumah yang belum terlaksana dengan baik karena kunjungan rumah yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru hanya dua kali kunjungan rumah dalam satu bulan serta

Puskesmas belum pernah melaksanakan mininilokakarya lintas sector bersama dengan para tokoh masyarakat seperti kepala kelurahan dan kepala-kepala lingkungan hal ini disebabkan

karena kurangnya komunikasi

Puskesmas dengan setiap tokoh-tokoh masyarakat serta tidak adanya sosialisasi kepada tokoh-tokoh masyarakat yang

(7)

berkaitan dengan kegiatan Minilokakarya lintas sector. hal ini di dapati ketika melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di dua kelurahan yang menjadi wilayah kerja dari Puskesmas Ranotana Weru mereka mengatakan bahwa selama satu tahun terakir Puskesmas tidak pernah melibatkan kepala kelurahan dalam setiap kegiatan pengorganisasian

masyarakat seperti kegiatan

Minilokakarya lintas sektor.

3. Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan sasaran utama

promosi kseshatan. Seperti telah

diuraikan bahwa salah satu strategi global promosi kesehatan pemberdayaan atau empowerment dengan sasaran masyarakat atau komunitas. Masyarakat sebagai sasaran primer (primary target) promosi kesehatan harus diberdayakan

agar mereka mau dan mampu

memelihara dan meningkatkan

kesehatan mereka sendiri. Kemandirian masyarakat dibidang kesehatan sebagai hasil pemberdayaan di bidang kesehatan sesunggunya merupakan perwujudan dari tanggung jawab mereka agar

hak-hak kesehatan mereka terpenuhi

(Notoatmodjo, 2012).

Pemberdayaan Masyarakat dalam setiap kegiatan Promosi Kesehatan yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru

berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pemegang program Promosi Kesehatan di Puskesmas Ranotana Weru menunjukan bahwa Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk masyarakat sudah dilakukan, seperti penyuluhan didalam gedung maupun diluar gedung untuk penyuluhan di dalam gedung dilakukan satu kali dalam seminggu dan untuk kegiatan penyuluhan diluar gedung dilaksanakan dalam kegiatan Posyandu yang dilakuakn Puskesmas Ranotana

Weru. Tetapi untuk kegiatan

pemberdayaan Masyarakat dengan

melibatkan tokoh masayarakat belum pernah dilaksanakan karena berasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada

tokoh-tokoh masyarakat bahwa

Puskesmas tidak pernah memberikan

informasi kepada kepala-kepala

kelurahan tentang kegiatan-kegiatan

yang berkaitan dengan pengorganisasian masyarakat maupun yang berkaitan dengan Promosi Kesehatan yang akan dilakukan Puskesmas.

4. Kemitraan

Kemitraan menciptakan sinergi yang memberi penguatan kepada setiap mitra yang terlibat didalamnya untuk mengisi manat yang diberikan. Akan tetapi untuk mendorong terciptanya kemitraan untuk kesehatan adalah suatu cita-cita dan pendekatan yang ambisius. Hal itu

(8)

penerimaan atas perinsip-prinsip dasar kemitraan. Kemitraan dapat dibuat di beberapa tingkatan, di tingkat global dan regional, dalam meletakan kerangka kerja untuk berkolaborasi dan bekerja sama antar negara. Adapun kemitraan

ditingkat local, kemitraan dapat

mengambil formula dari

kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada program (Rafei, 2007).

Penelitian dari Rahana (2018) tentang Kajian Strategi Promosi Kesehatan di Sekolah Berdasarkan Ottawa Charter Pada SLBN Pembina Tingkat Nasional Kec. Lawang, Kab. Malang ditemukan bahwa Strategi kemitraan yang ada di SLB mayoritas dijalin dengan pihak pemerintahan. Sehingga kemitraan yang dilaksanakan sudah berjalan dengan baik. Namun untuk aspek health public policy perlu dibuat peraturan tertulis agar penerapan peraturan di SLB tersebut dapat ditindaklanjuti dengan tegas. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan aspek Ottawa Charter yang lain.

Kerja sama lintas sektor yang dilakukan Puskesmas Ranotana Weru dalam rangka penyelenggaraan setiap Program Promosi Kesehatan sudah

dilaksanakan tetapi dalam

pelaksanaanya ada kendala yang didapat ketika melaksanakan kemitraan seperti komunikasi dan sosialisasi yang kurang baik dengan tokoh-tokoh masyarakat.

Kemitraan yang dilakukan Puskesmas dalam meningkatkan derajat kesehatan dengan melibatkan tokoh masyarakat hanya ketika terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor hal ini didapati ketika melakukan wawancara dengan salah satu kepala kelurahan yang

ada di wilayah kerja Puskesmas

Ranotana Weru tokoh masyarakat

tersebut mengatakan pihak Puskesmas

langsung turun lapangan untuk

membantu masyarakat yang terkena dampak dari bencana banjir. Tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat dikelurahan lain di wilayah kerja Puskesmas Ranotana

Weru mengatakan bahwa pihak

Puskesmas belum pernah bermitra dengan tokoh masyarakat yang ada di kelurahan tersebut untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang ada

di kelurahan tersebut. Hal ini

menunjukan bahwa kemitraan yang dilaksanakan Puskesmas tidak berjalan dengan baik karena tidak meratanya kemitraan yang dilakukan kepada setiap tokoh masyarakat. Menurut Induniasih (2016) hal utama yang menjadi alasan perlunya membangun kemitraan adalah

agar bisa mendapatkan berbagai

dukungan, mulai dari sumber daya manusia, dana hingga alat dan bahan yang dibutuhkan untuk menunjang program-program Promosi Kesehatan.

(9)

KESIMPULAN

1. Advokasi yang dilakukan

puskesmas Ranotana Weru untuk tokoh masyarakat dan masyarakat

belum merata atau belum

merangkul semua golongan

masyarakat baik tokoh-tokoh

masyarakat maupun masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru.

2. Bina Suasana serta

pelatihan-pelatihan, Minilokakarya dan

kegiatan-kegiatan yang berkaitan

dengan Bina Suasana yang

dilakukan oleh Puskesmas

Ranotana Weru terhadap setiap tokoh masyarakat dan masyarakat belum maksimal, serta Puskesmas

belum pernah melaksanakan

mininilokakarya lintas sector serta kegiatan-kegiatan yang melibatkan setiap tokoh-tokoh masyarakat 3. Belum adanya pelatihan-pelatihan

yang dilakukan untuk para tokoh masyarakat

4. Tidak terjalinnya kerja sama lintas

sector atau kemitraan antara

Puskesmas dengan Tokoh

masyarakat.

5. Minimnya alokasi dana untuk menunjang Kegiatan serta Program Promosi Kesehatan di Puskesmas Ranotana Weru.

6. Kurangnya komunikasi dan

sosialisasi dengan tokoh-tokoh

masyarakat.

7. adanya penolakan dari beberapa masyarakat dalam kegiatan SMD yang dilakukan Puskesmas, serta tidak meratanya kunjungan rumah yang dilakukan Puskesmas.

SARAN

Lebih mengoptimalkan

pelatihan-pelatihan khusus untuk tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat.

1. Meningkatkan kerja sama dengan dinas atau instansi atau lintas sektor terkait tentang pengadaan sarana dan prasarana untuk menunjang program promosi kesehatan

2. Membuat program

pelatihan-pelatihan atau lokakarya untuk para tokoh agama dan tokoh masyarakat

agar terjalin kemitraan dan

menciptakan suasana yang

mendukung perilaku sehat.

3. Sebaiknya melibatkan tokoh agama maupun tokoh masyarakat dalam

proses perencanaan program

promosi kesehatan

4. Mengusulkan kepada Dinas

Kesehatan Kota Manado untuk diteruskan kepada pemerintah kota Manado supaya memberikan usulan peningkatan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk kegiatan promosi kesehatan

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 2015. Dinamika Kelompok. Bandung: CV. Pustaka Setia Fitriani, S. 2011. Promosi Kesehatan.

Yogyakarta: Graha Ilmu. Hartono, B. 2010. Promosi Kesehatan di

Puskesmas dan Rumah Sakit. Jakarta: Rineka Cipta.

Martha, E. Kresno, S. 2016. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Bidang Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers.

Notoatmojo, S. 2012. Promosi

Kesehatan dan Perilaku

Kesehatan edisi Revisi 2012. Jakarta: Rineka Cipta

Pratomo, H. 2015. Advokasi konsep, teknik dan aplikasi di bidang kesehatan di indonesia. Jakarta: Rajawali Pers

Rafei, M. U. 2007. Health Politics Menjangkau yang Tak Terjangkau. Jakarta Selatan: Health & Hospital Indonesia. Sugiyono, 2016. Metode Penelitian

Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sekelompok subyek berdasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat

Lama perkembangan larva instar II ke III dan instar II ke IV yang mendapat perlakuan ekstrak n-heksana buah sirih hutan pada konsentrasi 0.5% tidak dapat ditentukan karena tidak

Pengujian kedua menggunakan turbin aliran silang dengan busur sudu 74 o dan jumlah sudu 24 yang dibuat dari pipa dibelah, runner yang digunakan ini adalah runner yang dibuat

Pada Tabel 3 terlihat bahwa ransum yang tertampung dalam tempat minum untuk bentuk tempat pakan yang relatif letaknya jauh dari tempat minum dengan jenis rasum kering (Tipe I vs

Lebih lanjut, Jawaher menjelaskan bahwa apabila semua bentuk kerjasama itu dan dilakukan secara intens maka diharapkan anak-anak tunagrahita mampu secara perlahan

Persaingan dunia usaha yang semakin ketat menimbulkan tantangan bagi perusahaan untuk menjalankan perusahaannya secara berkelanjutan, yang salah satunya adalah dengan

Berdasarkan matriks SWOT dapat disusun beberapa alternatif strategi pemasaran berdasarkan bauran pemasaran, yaitu (1) strategi produk dengan melakukan modifikasi