Bab 1. Pendahuluan. masyarakat Jepang yang pada perayaan shougatsu terdapat berbagai macam jenis

Download (0)

Teks penuh

(1)

Bab 1

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Oshougatsu atau lebih dikenal dengan shougatsu adalah perayaan tahun baru masyarakat Jepang yang pada perayaan shougatsu terdapat berbagai macam jenis dekorasi-dekorasi yang cukup menarik. Dalam kesempatan ini umumnya masyarakat Jepang memasang dekorasi seperti kadomatsu, shimenawa, shimekazari, dan kagami mochi yang mengandung makna dan filosofi tersendiri. Desain untuk kadomatsu sangat bervariasi, tergantung pada wilayah tetapi biasanya terbuat dari rangkaian bunga berupa gabungan daun cemara pinus yang melambangkan keabadian, bambu melambangkan kedinamisan, dan plum yang melambangkan kemuliaan, kemakmuran dan keteguhan. Berdasarkan hal tersebut, hal yang menarik perhatian penulis untuk diteliti yaitu, makna semiotik simbol dari kadomatsu sebagai tema dalam penulisan skripsi.

Negara Jepang adalah salah satu negara maju di dunia. Namun, masyarakat Jepang masih sangat menjunjung tinggi nilai tradisi mereka. Ini tercermin dari masih banyaknya berbagai macam perayaan-perayaan tradisional atau matsuri yang masih mereka lakukan dan penggunaan benda-benda atau hiasan dekorasi yang berhubungan dengan tradisi dan agama.

Di Jepang dalam hubungan khusus antara manusia dan alam dan duniawi dan spiritual tercermin dalam praktik keagamaan dan perayaan festival yang sudah ada asal-usulnya sejak ratusan tahun yang lalu. Tahun baru atau shougatsu merupakan

(2)

perayaan Jepang klasik, tahun baru sangat berhubungan dengan dekorasi simbolik, permainan, hidangan hari raya, ritual, suasana meriah, dan partisipasi yang sangat luas. Semua hal tersebut adalah bagian dari elemen-elemen prasyarat untuk acara Shinto. Ritual Shinto pada umumnya seperti, pemurnian sebelum acara dimulai, persiapan dekorasi untuk mengundang para dewa, mengusir kekuatan roh jahat, dan ritual mengirimkan dewa dan roh leluruh. (Bess dan Wein 2007 : 167). Salah satu praktik keagamaan dan perayaan festival yang wajib dilakukan masyarakat Jepang dan berhubungan dengan Shinto adalah perayaan oshougatsu atau perayaan pergantian tahun.

Bagi masyarakat Jepang, shougatsu berfungsi untuk menekankan hidup dengan awal tahun dan akhir tahun. Shougatsu atau tahun baru secara simbolis menandai datangnya awal musim semi, meskipun dirayakan di pertengahan musim dingin. Perayaan yang mengandung perubahan musim sangat berhubungan erat dengan Shinto (Brandon 1994 : 15).

Oshougatsu atau shougatsu yang berarti tahun baru adalah salah satu festival tahunan yang paling penting di Jepang. Pada awalnya sebuah perayaan untuk menyambut toshigami (dewa tahun baru) dan untuk menunjukkan penghargaan untuk panen tahun ini. Masyarakat Jepang membuat sebuah awal baru dan menetapkan tujuan baru untuk tahun baru. Sekolah dan kegiatan perkantoran tutup selama sekitar satu minggu  yang diisi dengan merayakan bersama keluarga, berkunjung ke otera dan jinja, dan kunjungan formal kepada kerabat dan teman. Perayaan shougatsu resmi dilakukan dari 1 Januari sampai 3 Januari, selama waktu itu semua instansi pemerintahan dan sebagian besar perusahaan ditutup (Shimoyama 2008 : 134).

(3)

Dekorasi yang akan menghiasi perayaan tahun baru diantara lain adalah shimenawa, shimekazari, tokonoma kazari, kagami mochi dan hiasan tahun baru yang sering kita temukan adalah kadomatsu. Dekorasi-dekorasi tersebut tidak hanya menghiasi pekarangan depan kuil maupun rumah, dekorasi-dekorasi tersebut juga menghiasi instansi pemerintahan, toko, dan tempat umum lainnya.

Dalam penyambutan pergantian tahun, masyarakat Jepang di sibukan dengan berbagai macam persiapan. Omisoka adalah acara keluarga dimana semua orang sibuk sepanjang hari mempersiapkan diri untuk menyambut tahun baru (Davies dan Ikeno 2002 : 155). Persiapan lain yang dilakukan masyarakat Jepang dalam penyambutan pergantian tahun atau shougatsu diantaranya upacara pembersihan rumah (susuharai) lalu diikuti dengan persiapan membuat hidangan dingin tradisional yang disebut osechi-ryouri dan motchitsuki, kue beras (William dan Bahr 2005 : 105).

Pada malam hari, setelah semua persiapan selesai, pada tanggal 31 Desember tengah malam menjelang tahun baru ditandai dengan 108 gemuruh suara lonceng di kuil Budha di seluruh negeri dan hal itu merupakan simbolis dari pembersihan jiwa. Selama perayaan, kegiatan lainnya adalah melakukan pemurnian di kuil Shinto dan kuil Buddha. Pada tanggal 1 Januari umumnya kegiatan mereka pada tahun baru adalah berkumpul bersama keluarga, berdoa di awal tahun dan kegaiatan yang paling penting adalah kunjungan pertama mereka ke kuil, walaupun cuaca sedang hujan ataupun sedang turun salju, masyarakat Jepang akan tetap mengantri untuk berdoa di kuil di awal tahun baru yang disebut dengan hatsumode (Bess dan Wein 2007 : 168-169). Shimoyama (2008 : 136) memberikan definisi hatsumode adalah kunjungan pertama yang di bayarkan pada

(4)

tahun baru ke tempat suci, otera atau jinja untuk membuat permohonan di tahun baru.

Shougatsu berakhir dramatis, setelah tanggal 15 Januari kadomatsu, shimenawa, shimekazari, miki-no-kuchi dan hiasan dekorasi tahun baru yang lainnya akan dibakar untuk meredakan kami atau toshigami dan membebaskan mereka (Bess dan Wein 2007 : 172).Citra kadomatsu, yang hanya berhubungan dengan tahun baru, adalah desain yang popular untuk kartu ucapan tahun baru (nengajo) yang dikirim untuk menandai akhir tahun.

Pada dekorasi-dekorasi oshougatsu banyak mengandung makna semiotik simbol. Seperti di dalam dekorasi kadomatsu yang terdiri dari bambu, daun cemara pinus dan plum. Namun, selalu terdapat tiga buah bambu di potong secara sogi dan selalu tiga potong bambu tidak pernah dua potong ataupun satu potong bambu ataupun lebih dari tiga potong bambu. Walaupun pemotongan bambu dalam kadomatsu setiap wilayah berbeda-beda, jumlah potongan bambu dalam kadomatsu tetap sama yaitu tiga potong. Bambu selalu berkaitan dengan daun cemara pinus dan aprikot juga dikenal dengan sebutan three friends of winter atau dalam bahasa Jepang disebut dengan Sho-Chiku-Bai「松竹梅」yaitu 「松」 daun cemara pinus, 「竹」 bambu, dan 「梅」 plum (Bess dan Wein 2007 : 170).

Berdasarkan hal-hal yang telah dijabarkan, hal yang menarik perhatian penulis untuk diteliti adalah makna simbol semiotik dari kadomatsu dan penulis memilih judul analisa semiotik simbol dalam kadomatsu dihubungkan dengan konsep Shinto.

Untuk membantu analisis penulis terhadap makna simbol kadomatsu, penulis menggunakan beberapa teori seperti teori semantik menurut Keraf (2007), Saeed

(5)

(2003), teori triangle meaning menurut Odgen dan Richard (1994) dan menggunakan konsep Shinto menurut Ono (1998) dan Tanaka (2007).

Dalam linguistik pembagian makna dalam semantik dibagi menjadi dua, yaitu makna yang bersifat denotatif dan makna yang bersifat konotatif. Berdasarkan dari teori yang ada penulis akan menganalisa semiotik simbol-simbol yang terdapat di dalam kadomatsu, lalu akan menghubungkan teori semantik. Dengan teori semantik gambar lalu menganalisis makna kanji kadomatsu secara denotatif dan konotatif yang dihubungkan dengan konsep Shinto dan mitos tahun baru yang terdapat di dalam Shinto.

1.2. Rumusan Permasalahan

Dalam skripsi ini penulis akan menganalisis makna semiotik simbol pada kadomatsu.

1.3. Ruang Lingkup Permasalahan

Pada skripsi ini, penulis akan membahas tentang makna semiotik simbol kadomatsu yang akan dihubungkan dengan konsep Shinto. Kadomatsu terdiri dari tiga buah bambu yang dipotong secara sogi yaitu ujung bambu dipotong diagonal, kemudian ada daun cemara, dan plum. Simbol-simbol Sho-Chiku-Bai 「松竹梅」 yaitu 「松」 (daun cemara), 「竹」 (bambu), dan 「梅」 (plum) mengandung makna semiotik, untuk mengetahui makna semiotik simbol kadomatsu penulis akan menganalisa dari makna simbol-simbol yang terdapat di dalam kadomatsu secara konotatif dan denotatif.

(6)

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari analisis ini adalah untuk mencari tahu tentang makna semiotik simbol dalam kadomatsu serta makna keseluruhan dari kadomatsu tersebut. Manfaat dari analisis ini adalah kita dapat mengetahui lebih jauh mengenai makna semiotik simbol kadomatsu lebih terperinci, serta dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.

1.5. Metode Penelitian

Pada proposal ini penulis menggunakan metode kepustakaan dan deskriptif analitis. Penulis akan menggunakan metode studi kepustakaan dengan mencari data-data melalui buku-buku di SALLC, Perpustakaan Unika Atma Jaya, Perpustakaan Japan Foundation dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Bahasa dan Budaya Universitas Indonesia. Penulis juga menggunakan sumber-sumber data dari jurnal dan internet.

1.6. Sistematika Penulisan

Penulis menyajikan hasil penelitian dalam sebuah skripsi yang sistematika penulisannya dimulai dari bab 1, yaitu pendahuluan. Pada bab 1 pendahuluan, penulis memaparkan tentang latar belakang masalah yang sesuai dengan tema di atas, rumusan permasalahan, ruang lingkup permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Kemudian dilanjutkan dengan bab 2, yaitu landasan teori. Bab ini berisi tentang teori-teori yang mendukung dalam melakukan penelitian.

(7)

Selanjutnya bab 3, yaitu analisis data. Bab ini berisi hasil analisis-analisis dari penulis berdasarkan pada teori-teori yang terdapat di landasan teori tentang makna semiotik dan makna semiotik simbol kadomatsu dan akan dihubungkan dengan konsep Shinto.

Selanjutnya bab 4, yaitu simpulan dan saran. Bab ini berisi tentang simpulan dari analisis data yang telah dilakukan penulis dari bab sebelumnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di