• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam perkembangan remaja dalam pendidikan formal seperti di sekolah,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam perkembangan remaja dalam pendidikan formal seperti di sekolah,"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dalam perkembangan remaja dalam pendidikan formal seperti di sekolah, pengajaran di kelas pada sekolah menengah merupakan pengajaran yang diarahkan oleh guru. Menurut Stipek (2002; dalam Santrock, 2011: 227-228), mengatakan banyak anak yang tidak berprestasi baik di sekolah, mempunyai interaksi negatif dengan guru mereka. Mereka sering mendapatkan masalah untuk tidak mengerjakan tugas, atau berkelakuan buruk. Dalam banyak kasus, mereka layak dikritik dan didisiplinkan, tetapi terlalu sering ruang kelas menjadi tempat yang sangat tidak menyenangkan bagi mereka.

Menurut Crow & Crow (dalam Willis, 2012: 86-89), peranan guru sangat penting karena selain berperan mentransfer ilmu pengetahuan ke peserta didik, guru juga dituntut memberikan pendidikan karakter dan menjadi contoh karakter yang baik bagi anak didiknya. Guru mampu membantu mengembangkan sikap-sikap yang positif pada murid-murid dan menghilangkan sikap-sikap yang negatif pada dirinya dengan memperbaiki cara-cara mengajar dengan mempelajari metodik dan didaktik pengajaran yang tidak melupakan pendekatan psikologi.

Berkaitan dengan pernyataan Ormrod (2008:151) bahwa siswa seperti tidak mempunyai kemauan belajar di dalam kelas sebenarnya bukan karena pada mereka tidak ada kemauan, namun ada hal yang menyebabkan anak seperti tidak dapat mengikuti pembelajaran di kelas dan harus dicari beberapa sumber penyebabnya. Mungkin sekali guru sendiri sebagai sumbernya. Sehingga guru yang baik dapat melakukan perencanaan terlebih dahulu.

(2)

Sebuah pengajaran yang efektif dimulai jauh sebelum siswa memasuki ruang kelas.

Menurut Santrock (2011) guru-guru yang efektif memiliki perintah yang baik dari materi subjek dan inti yang solid dari keterampilan mengajar. Mereka tahu bagaimana menggunakan strategi pengajaran yang didukung oleh metode penetapan sasaran. Selain itu, mereka memahami bagaimana untuk memotivasi siswa dan bagaimana untuk berkomunikasi dan bekerja secara efektif dengan orang-orang dari berbagai tingkat keahlian dan latar belakang budaya.

Para peneliti (McCombs, 2001; Newman, 2002; Perry, Turner, & Meyer, 2006; Ryan & Deci, 2000; Theobold, 2005) dalam Santrock (2011) telah menemukan bahwa siswa yang memiliki kesan yang positif terhadap guru yang penuh perhatian dengan mereka sebagai manusia. Siswa juga mempertimbangkan perilaku pembelajaran guru dalam mengevaluasi seberapa guru mereka memedulikan mereka. Menurut Stipek (1996; 2002) (dalam Santrock, 2011: 217) pemberian dukungan positif dengan mengatakan “Kamu dapat melakukannya” dapat meningkatkan self-efficacy pada diri siswa.

Self-ffficacy adalah penilaian seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu atau mencapai tujuan tertentu. Dalam Ormrod (2008: 21-23) Bandura (1982, 2000) serta Schunk & Pajares (2004) berpendapat perasaan self-efficacy siswa mempengaruhi pilihan aktivitas mereka, dengan demikian self-efficacy pun mempengaruhi prestasi dan pembelajaran mereka di kelas. Siswa cenderung memilih tugas dan aktivitas yang mereka yakin akan berhasil dan menghindari aktivitas yang mereka yakin akan gagal.

(3)

Pelajaran Fisika merupakan suatu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Fisika menuntut intelektualitas yang relatif tinggi. Keterampilan berpikir sangat diperlukan ketika mempelajari Fisika, di samping keterampilan berhitung, memanipulasi dan observasi, serta keterampilan merespon suatu masalah secara kritis (Mundilarto, 2002:3-5). Materi Fisika dengan rumus yang banyak dan memerlukan gambar-gambar yang sesuai dengan yang diajarkan, menuntut intelektualitas yang cukup tinggi sehingga sebagian besar siswa SMA mengalami kesulitan dalam memahami pelajarannya. Siswa harus men-translate bahasa soal yang biasanya dalam bentuk cerita ke bahasa fisika yang sebenarnya juga bahasa matematika. Siswa harus bisa membayangkan bagiamana suatu kejadian itu terjadi seolah-olah ada di hadapannya. Keadaan yang demikian, akan lebih parah lagi apabila menggunakan strategi pengajaran yang tidak sesuai dengan karakteristik materi dan menimbulkan masalah pada saat proses pembelajaran Fisika berlangsung.

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, tuntutan kompetensi yang harus dimiliki siswa pun semakin meningkat. Demi peningkatan mutu lulusan siswa, Menteri Pendidikan Nasional menyetujui Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi enam mata pelajaran dimulai dari tahun ajaran 2007/2008. Untuk siswa jurusan IPA akan menghadapi mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Biologi, Fisika, dan Kimia untuk diuji. Namun menurut nilai rata-rata UN tahun ajaran 2011/2012 dari Puspendik (Pusat Penelitian Pendidikan), dibandingkan nilai rata-rata mata pelajaran IPA lainnya yaitu Biologi dengan nilai 8,06 dan Kimia dengan nilai

(4)

8,54, Fisika berada pada peringkat paling rendah yaitu dengan nilai 7,58 (http://litbang.kemdikbud.go.id/).

Apabila hari ini kita bertanya ke siswa SMA, pelajaran yang tidak mereka sukai adalah Matematika, Fisika dan Kimia, tetapi pelajaran Fisika sudah pasti menjadi monster yang menakutkan bagi mereka. Sedangkan kemampuan siswa dalam pelajaran tersebut akan menentukan kelayakan lulus mereka di akhir masa studi SMA. Maka yang menjadi tantangan terberat yang sering dihadapi guru fisika adalah pada proses pembelajarannya. Pembelajaran fisika disinyalir berpengaruh dari kecintaan siswa kepada pelajaran fisika, banyak siswa tidak menyukai fisika hanya karena guru fisika yang dianggap tidak bisa mengajar (Kompasiana, 2012).

Peneliti melakukan survei awal dengan mewawancarai beberapa siswa SMA Negeri 6 kelas X tentang pendapat mereka terhadap pelajaran fisika, diantaranya 75% siswa mengatakan tidak memiliki minat dalam pelajaran fisika karena proses pembelajaran yang diberikan guru masih menekankan terhadap hafalan rumus-rumus dan berhitung disampaikan dengan metode ceramah. Siswa tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran di kelas sehingga membuat siswa kurang berminat untuk belajar lebih lanjut dan tidak memiliki keyakinan untuk memahami materi lebih lanjut. Observasi terhadap siswa kelas X dikarenakan pada kelas X belum terdapat penjurusan IPA dan IPS, sehingga semua siswa masih mendapatkan pelajaran fisika dari beberapa guru fisika yang mengajar pada kelas X. Dari siswa kelas X yang diobservasi, terdapat beragam persepsi siswa mengenai efektivitas mengajar dari berbagai guru fisika yang mengajar mereka.

(5)

Menurut Ashton dan Webb (dalam Santrock, 2007), siswa belajar dari guru yang merasa yakin pada dirinya sendiri, dapat mengelola kelas, mengajar dan menyampaikan materi dengan baik dapat berpengaruh pada kemampuan siswa terhadap materi yang diajarkan. Kurang optimalnya pembelajaran fisika pada kelas X SMA Negeri 6 Jakarta tersebut diperkirakan karena adanya persepsi siswa mengenai kurangnya efektivitas mengajar guru fisika di kelas. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa tidak yakin untuk mampu menguasai materi fisika yang diajarkan oleh guru fisika mereka. Apabila siswa memiliki persepsi yang baik terhadap pengajaran yang diberikan guru di kelas, siswa akan merasa yakin untuk memahami semua materi yang diajar dan dapat aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas karena merasa mampu menguasai dan mengembangkan kemampuan mereka dalam pelajaran fisika.

Berdasarkan fenomena dan data-data tersebut di atas, maka penulis mengajukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Persepsi Siswa terhadap Efektivitas Mengajar Guru Fisika dengan Self-Efficacy Belajar Siswa di Kelas pada Siswa Kelas X SMA Negeri 6 Jakarta”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis mengidentifikasi masalah yang merupakan pokok pada penelitian ini yaitu: Apakah persepsi siswa mengenai Efektivitas Mengajar Guru Fisika mempunyai hubungan yang signifikan dengan Self-Efficacy Belajar Siswa di kelas?

Untuk membatasi pembahasan dan untuk menghindari kesalahan persepsi dalam memahami penelitian ini, maka penulis membatasi pembahasannya hanya pada keterkaitan antara persepsi siswa terhadap efektivitas mengajar

(6)

seorang guru Fisika dengan self-efficacy belajar siswa di kelas pada siswa kelas X SMA Negeri 6 Jakarta.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk melihat dan menganalisis hubungan antara persepsi siswa mengenai Efektivitas Mengajar Guru Fisika dengan Self-Efficacy Belajar Siswa di kelas pada siswa SMA kelas X.

Penelitian mengenai efektivitas mengajar guru ini diharapkan memiliki dua manfaat antara lain:

1.3.1. Secara Teoritis

Manfaat penelitian ini dari segi teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah berupa referensi teoritis pada pengembangan Ilmu Psikologi, khususnya Psikologi Pendidikan. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya khususnya mengenai self-efficacy siswa terkait dengan efektivitas strategi pengajaran dan komitmen mengajar guru.

1.3.2. Secara Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara umum, maupun institusi pendidikan dan tenaga pengajar pada khususnya. Selain itu agar penelitian ini dapat dimanfaatkan bagi pihak-pihak lain yang terkait dalam penanganan masalah-masalah yang terjadi dalam ranah konseling siswa atau terkait permasalahan pendidikan lainnya.

Referensi

Dokumen terkait

Dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan perilaku yang diproksikan oleh sikap dalam pekerjaan, motivasi lingkungan kerja, persepsi diskriminasi dalam pekerjaan,

Terdapat persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu dan saat ini antara lain akan di jelaskan sebagai berikut, persamaan penelitian Anees Kazmi and

Nama Lelang Belanja Bibit Kelapa Sawit Dalam Polybag (Desa Balai Riam, Desa Lupu Peruca, Desa Pangkalan Muntai, Desa Karta Mulia) Satuan Kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Penelitian ini berhasil membuktikan adanya pengaruh antara kepercayaan diri dan motivasi berprestasi secara bersama- sama terhadap prestasi belajar, yang berarti

merupakan salah satu jenis ikan kakap yang banyak dicari oleh konsumen. sebagai bahan konsumsi masyarakat yaitu sebagai lauk-pauk harian

Puji Syukur Peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, Sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Pengaruh

Pengembangan mobile learning bertujuan terjadi proses belajar sepanjang waktu (long life learning), peserta didik dapat lebih aktif dalam proses

Oleh sebab itu, menurut penulis (sebagai temuan baru) perlu perbaikan terhadap rumusan Pasal 483 RUU KUHP dengan menambahkan hukumannya menjadi 20 tahun penjara dan delik