• Tidak ada hasil yang ditemukan

COASTLINE MODELLING IN SEMARANG USING SHUTTLE RADAR TOPOGRAPHY MISSION (SRTM) AND COASTAL MAP OF INDONESIA (LPI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "COASTLINE MODELLING IN SEMARANG USING SHUTTLE RADAR TOPOGRAPHY MISSION (SRTM) AND COASTAL MAP OF INDONESIA (LPI)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

C

OASTLINE

M

ODELLING IN

S

EMARANG

U

SING

S

HUTTLE

R

ADAR

T

OPOGRAPHY

M

ISSION

(SRTM)

A

ND

C

OASTAL

M

AP

O

F

I

NDONESIA

(LPI)

Nadya Oktaviani1, Joko Ananto1, Novaya Nurul Basyiroh2 1

Badan Informasi Geospasial (BIG)

Jalan Raya Jakarta-Bogor KM 46, Cibinong-Bogor, 16911 2

Mahasiswa Teknik Geodesi UNDIP Email: [email protected]

ABSTRACT

Republic of Indonesia (NKRI) is the world's largest archipelagic state. The country as the island nation if that country’s boundaries connected by baselines of the outermost islands. Next, the baseline is referred is coastalline. Coastline from Sabang to Merauke, make Indonesia has the longest coastline fourth in the world after United State, Canada and Rusia. Importance of the coastline especially in the determination of

boundaries, the method determining the coastline continue to be developed. Geospatial Information Agency

(BIG) through the mandate of Act 4 of 2011, article 13 should provide geospatial information about coastline. Coastline in question is based on the Lowest Astronomical Tide (LAT), the Highest Astronomical Tide (HAT) and based on Mean Sea Level (MSL). Needs for availability of coastline data, quickly and accurately is one of

the aims mandated by the Act. The problem is not all coastal areas can be measured by the method teristris.so,

modeling of coastline to be one of solution to solve the problem. This research is modeling the shoreline using

elevation data Topography Shuttle Radar Mission (SRTM) and batimetry data from map of Coastal Line of

Indonesia (LPI) BIG.There are challenges when modeling using data with different references, namely need to

make one reference to data. Furthermore, the dynamics of sea level data from tidal observations of tidal stations in the study area. Based on SRTM data merging, LPI and the tidal area of study, obtained results coastline a model that can be used to map up to a scale of 1: 50,000.

Keyword: Costal line, Islands, SRTM, LPI, Tidal

P

EMODELAN

G

ARIS

P

ANTAI

K

OTA

S

EMARANG

M

ENGGUNAKAN

D

ATA

S

HUTTLE

R

ADAR

T

OPOGRAPHY

M

ISSION (SRTM

)

D

AN

P

ETA

L

INGKUNGAN

P

ANTAI

I

NDONESIA

(L

PI

)

ABSTRAK

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Suatu negara dikatakan sebagai negara kepulauan jika wilayah negara tersebut dihubungkan oleh garis pangkal terluar pulau-pulau. Garis terluar yang menghubungkan pulau-pulau selanjutnya disebut garis pantai. Garis pantai yang kontinyu dari Sabang hingga Merauke menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang ke-empat di dunia setelah Amerika Serikat, Kanada dan Rusia. Mengingat pentingnya garis pantai terutama dalam penentuan batas wilayah, maka metode untuk menentukan garis pantai di Indonesia terus dikembangkan. Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui amanat Undang-Undang No.4 Tahun 2011 pasal 13 harus menyediakan informasi geospasial tentang garis pantai. Garis pantai yang dimaksud adalah garis pantai berdasarkan surut terendah, garis pantai pasang tertinggi, dan garis pantai berdasarkan muka laut rata-rata. Kebutuhan akan tersedianya data garis pantai secara cepat dan tepat merupakan salah satu tujuan dari program kerja yang diamanatkan Undang-Undang tersebut. Akan tetapi tidak semua wilayah pantai dapat diukur dengan metode teristris. Oleh karena itu pemodelan garis pantai menjadi salah satu solusi untuk menjawab tuntutan tersebut. Penelitian ini melakukan pemodelan garis pantai menggunakan data ketinggian Shuttle Radar

Tophography Mission (SRTM) dan data kedalaman Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) BIG. Terdapat

tantangan ketika melakukan pemodelan dengan menggunakan data dengan referensi yang berbeda, yakni perlu melakukan penyamaan sistem referensi pada data. Selanjutnya dinamika permukaan laut dari data pasang surut hasil pengamatan stasiun pasut di wilayah studi. Berdasarkan penggabungan data SRTM, LPI dan pasang surut wilayah studi, didapat hasil model garis pantai yang dapat digunakan untuk pemetaan hingga skala 1:50.000.

(2)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan julukan archipelago state. Melalui Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957, Indonesia mendapatkan hak untuk mengklaim wilayah teritorialnya. Hal ini diakui melalui United Nation Conference on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 oleh masyarakat internasional 1(Gustanto, 2013). Sebuah negara dikatakan sebagai negara kepulauan jika negara tersebut dihubungkan oleh garis pangkal lurus kepulauan yang menghubungkan titik-titik terluar pulau dan karang yang selalu muncul dipermukaan laut. Hal ini terbukti bahwa Indonesia memiliki panjang garis pantai 99.093 2(BIG,2013) dan dapat mengklaim wilayah laut sepanjang garis pantai tersebut. Akibatnya, bertambah luas negara Indonesia baik wilayah darat, maupun kawasan lautnya.

Garis pangkal untuk penentuan batas wilayah harus tepat. Garis pangkal yang dimaksud tentunya garis batas terluar dari setiap pulau-pulau di Indonesia, selanjutnya disebut garis pantai. Menurut Undang-Undang No.4 Tahun 2011 pasal 12 huruf a, garis pantai merupakan garis khayal pertemuan antara daratan dengan lautan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Selain dipengaruhi pasng-surut air laut, garis pantai juga dipengaruhi oleh kondisi alam lainnya di wilayah pesisir, seperti angin, abrasi, sedimentasi dan faktor pergerakan lempeng tektonik bumi.

Perkembangan metode dalam penentuan garis pantai melewati beberapa tahap generasi. Seperti pada generasi pertama menentukan

garis pantai berdasarkan pada perubahan vegetasi dan karakteristik lainnya yang terjadi akibat pasang surut air laut. Selanjutnya pada generasi kedua, garis pantai ditentukan dengan melakukan deliniasi batas berdasarkan data Digital Terrain Model (DTM) dengan referensi ketinggian tertentu. Hingga sekarang generasi ketiga terus mengembangkan metode penetuan garis pantai dengan mempertimbangkan aspek temporal dan spasial yang berpengaruh pada kedudukan muka laut.

Adapun garis pantai yang dimaksud UU No.4 Tahun 2011 terdiri dari:

a. Garis pantai surut terendah; b. Garis pantai pasang tertinggi; dan

c. Garis pantai tinggi muka air laut rata-rata. Ketiga garis pantai tersebut harus tertuang dalam konsep pemetaan dasar lingkungan pantai, Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI).

Metode untuk penentuan garis pantai terus dikembangkan. Misalnya dengan melakukan pengukuran teristris dilapangan. Uji metode RTK (GPS Tracking) pernah dilakukan dan menghasilkan bentuk garis pantai dengan tingkat ketelitian yang lebih baik 3(Oktaviani, N., dkk, 2014). Hal tersebut dilihat dari hasil verifikasi dilapangan yang divisualisasikan diatas citra Ikonos. Namun metode ini masih memiliki kelemahan karena metode teristris hanya dapat dilakukan pada kondisi pantai landai dan memerlukan waktu yang cukup lama.

Metode lain yang pernah dilakukan adalah penentuan garis pantai dengan data citra satelit multi-years melalui analisis jumlah nilai spektral pada citra Landsat untuk membedakan

(3)

batas darat dan laut. Hasilnya memperlihatkan bahwa terjadi perubahan garis pantai di wilayah Semarang dalam kurun waktu 100 tahun 4(Marfa’i, M. A., dkk., 2007). Hasil tersebut tidak hanya mengidentifikasi terjadi penggerusan wilayah pantai. Beberapa wilayah didentifikasi mengalami penambahan area seperti pada pengamatan data citra satelit tahun 1908-1937, wilayah pantai bertambah sejauh 0,5-1 km dan membentuk sebuah pulau kecil Tombolo dan Laguna dibagian Barat Kota Semarang.

Analisis perubahan garis pantai dengan menggunakan data DEM hasil fotogrametri pernah dilakukan oleh 5Raju, dkk pada tahun 2009. Analisis dilakukan diwilayah Pantai Timur Park, Singapore dengan pengamatan berpusat pada kawasan East Coast Parkway (ECP) beberapa tahun terakhir . Garis pantai hasil analisis diverifikasi diatas citra Ikonos Tahun 2000. Terlihat adanya perubahan garis pantai akibat erosi diwilayah tersebut. Selanjutnya hasil analisis digunakan untuk pemetaan risiko erosi disepanjang kawasan pesisir wilayah tersebut.

Penelitian lain mengenai analisis garis pantai juga dilakukan 6Siswanto, dkk pada tahun 2010. Penelitian difokuskan untuk menganalisa stabilitas garis pantai di Kabupaten Bangkalan. One line model dengan persamaan CERC menjadi model numerik yang digunakan untuk analisis. Salah satu parameter yang dilibatkan adalah gelombang dan angina. Model divalidasi menggunakan citra Landsat. Hasil analisis menunjukan garis pantai lokasi penelitian relative stabil.

Pemodelan untuk menentukan 3 garis pantai belum dilakukan. Sehingga penelitian ini mencoba melakukan analisis penentuan 3garis pantai dengan data hasil model.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan 3 garis pantai dengan menggabungkan data ketinggian dan kedalaman. Proses pemodelan dilakukan dengan ekstraksi pengolahan data SRTM dan Peta LPI. Posisi garis pantai ditentukan dari nilai LAT, MSL dan HAT hasil prediksi. Pemodelan ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk melakukan penentuan garis pantai di Indonesia.

Batasan Penelitian

Batasan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Data pasut yang digunakan adalah data pasut hasil pengamatan selama 1 tahun. 2. Pengolahan data pasut menggunakan

metode least square.

Metode least square sering digunakan dalam melakukan analisis harmonik. Metode ini memiliki banyak kelebihan, salah satunya adalah tidak terbatas pada banyaknya data pasang surut yang akan diolah 7(Purwaningsih, Y., dkk., 2013). Adapun persamaan pada metode kuadrat terkecil adalah sebagai berikut:

Keterangan:

(4)

: duduk tengah (mean sea level) : perubahan duduk tengah musiman

yang disebabkan oleh monsun atau angin, jadi oleh faktor meteorologis : amplitudo komponen ke-i

: 2π/Ti, Ti = periode komponen ke-i : fase komponen ke-i

t : waktu

N : jumlah komponen.

Perhitungan konstanta harmonik pasang surut dengan metode least square dilakukan pada stasiun pasut Semarang milik BIG.

3. Perhitungan dengan metode least square menggunakan software SLP64. Tahapan perhitungan adalah menghitung konstanta harmonik pasang surut So (MSL), S2, M2, K1, O1, P1, N2, K2, M4, dan MS4. Konstanta harmonik hasil hitungan kemudian digunakan untuk melakukan prediksi pasut selama 19 tahun. Data hasil pasut prediksi tersebut dihitung untuk penentuan nilai LAT, MSL, dan HAT.

4. Tidak memperhitungkan data perubahan iklim pada wilayah studi.

5. Tidak memperhitungkan faktor tektonik dan perubahan penurunan tanah.

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk wilayah Kota Semarang. Pemilihan lokasi dikarenakan ketersediaan data. Selain itu wilayah ini cendrung mengalami perubahan garis pantai yang cepat setiap tahunnya.

Gambar 1. Peta lokasi studi

Sumber: https://www.google.co.id/maps

METODE Data Penelitian

Data penelitian yang digunakan berupa data: 1. Data DEM SRTM 1 arc-second tahun

2015 dengan resolusi spasial 30 meter.

Data didownload dari

(https://lta.cr.usgs.gov/SRTM1Arc) 2. Data kedalaman dari Peta LPI tahun 2005,

skala 1:50.000 wilayah Semarang dari Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai (PPKLP) BIG.

3. Data pasut hasil perekaman stasiun pasut BIG di Semarang dengan panjang data 1 tahun, pengamatan tahun 2014 dari Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika (PJKGG) BIG.

4. Data pengukuran titik tinggi di wilayah pulau Jawa dari Bidang Penelittian BIG. 5. Citra Landsat 8 wilayah Semarang

R65-P120. Data didownload dari

(5)

6. Citra Spot 6 hasil orthorektifikasi Pusat Pemetaan Rupa Bumi dan Toponim (PPRT) BIG 2014 untuk verifikasi hasil model. Metode Mulai Persiapan: 1. DEM SRTM 2. Peta LPI Ekstraksi Data SRTM (X, Y, Z) EGM96 Transformasi Data Laut Peta LPI LAT à EGM96 Integrasi Data Data Pasut 1 Tahun (2014) Konstanta Harmonik Prediksi Pasang Surut 19 Tahun (2015-2033) LAT, HAT, MSL Penentuan garis pantai (model) Verifikasi Garis Pantai Citra Landsat 8 Tahun 2015 Selesai Data Laut Peta LPI (X, Y, Z) EGM96 Citra Spot 6 Tahun 2014

Gambar 2. Diagram alir proses pemodelan garis pantai

Pada Gambar 2. merupakan diagram alir proses pemodelan garis pantai. Adapun tahapan yang dilakukan dalam pembuatan model garis pantai pada penelitian ini dijelaskan sebagai berikut:

1. Data Shuttle Radar Topography Terrain Model (SRTM) merupakan data hasil akuisisi radar dengan resolusi 30 meter (1-arc second). Data SRTM direferensikan terhadap datum horizontal WGS84 dan

datum vertikal Earth Geodetic Model ‘96 (EGM96). Satuan nilai dinyatakan dalam meter. Dalam penelitian ini referensi pada data SRTM dijadikan acuan untuk penyamaan datum referensi.

2. Data dari Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) memiliki referensi datum vertical terhadap tinggi Lowest Astronomically Tide (LAT). Sebelum mengintegrasikan data LPI dengan data SRTM, perlu adanya transformasi sistem tinggi yang digunakan.

Gambar 3. Ilustrasi Topografi, Elipsoid dan Geoid (Sumber: 9Ramdani, D., 2011)

Pengukuran geoid dapat dilakukan dengan 2 metode yakni;

a. Melalui pengukuran beda tinggi (levelling) antara nilai tinggi pada BM/TTG dengan tinggi muka laut rata-rata terukur. TTG diukur menggunakan GPS. Data ketinggian berdasarkan posisi satelit terhadap bidang acuan ellipsoid (Gambar 3.).

b. Melalui penghitungan data gravimetri. Perhitungan nilai undulasi geoid pada metode ini didapat dari data gayaberat teristris dan model geopotensial global. EGM96 adalah model geopotensial

(6)

global yang dibuat dengan perhitungan matematis tertentu oleh NASA Goddard Space Flight Center, National Imagery and Mapping Agency (NIMA), dan Ohio State University 8(Fraczek, W., 2003).

3. Selanjutnya melakukan transformasi data kedalaman peta LPI ke acuan EGM’96.

Gambar 4. Koordinat Toposentris dan Geosentris (Sumber: Ramdani, D., 2011)

4. Pada penelitian ini menggunakan data pasut hasil pengamatan 1 tahun. Data pengamatan 1 tahun dihitung untuk mendapatkan nilai konstanta harmonik pasut. Nilai konstanta harmonik digunakan untuk melakukan prediksi nilai pasut selama 19 tahun. Hasil prediksi pasut selama 19 tahun, kemudian dihitung untuk menentukan nilai HAT, MSL dan LAT. Nilai tersebut yang dijadikan acuan untuk menentukan garis panta pada model. 5. Setelah nilai garis pantai didapat, maka

tahapan terakhir adalah melakukan verifikasi dengan menggunakan data citra. Citra yang digunakan ada 2 jenis yakni citra resolusi tinggi dari SPOT 6 dengan resolusi spasial 1,5 meter, dan citra resolusi menengah dari Landsat 8 dengan resolusi

spasial sebesar 30 meter. Hal ini untuk membandingkan tingkat presisi model garis pantai yang dihasilkan.

Selanjutnya dilakukan analisis dari hasil model dan verifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut;

1. Nilai undulasi geometri pada wilayah penelitian didapat dari hasil hitungan sebesar 26.172 meter. Sedangkan nilai undulasi gravimetri hasil hitungan sebesar 24.994 meter. Sehingga selisih nilai undulasi sebesar 1.178 meter. Selisih bernilai positif (+) berarti referensi bidang acuan sistem tinggi Peta LPI berada diatas bidang acuan SRTM. Sehingga untuk menyamakan referensi, nilai kedalaman pada Peta LPI dikurangi sebesar 1.178 meter (Gambar4.).

2. Hasil prediksi pasut selama 19 tahun di dapat nilai-nilai HAT, MSL, dan LAT (Tabel 1.).

Tabel 1. Nilai permukaan laut hasil prediksi

No Posisi Nilai

1 HAT 0.59 m

2 MSL -0.18 m

3 LAT -0.57 m

Data ketinggian muka laut hasil hitungan digunakan untuk menentukan 3 garis pantai.

(7)

3. Verifikasi menggunakan citra Landsat 8. Composite image Landsat menggunakan Band 1, Band 4, dan Band 7. Selisih posisi garis pantai hasil model setelah diverifikasi dengan kenampakan garis pantai pada citra Landsat 8 sejauh 80-120 meter.

4. Verifikasi menggunakan citra Spot 6, terlihat jarak garis pantai hasil pemodelan dengan garis pantai yang tampak sebesar 150 m-300 meter.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dalam pemodelan garis pantai, dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya:

1. Dari data SRTM dan kontur laut LPI dapat dilakukan penentuan garis pantai dengan metode 3 garis pantai dengan menggunakan nilai LAT, HAT, dan MSL hasil prediksi pasang surut selama 19 tahun.

2. Berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan antara garis pantai hasil model dengan citra Landsat 8 sebesar 80-120 meter. Sedangkan hasil verifikasi dengan citra Spot 6 terdapat selisih yang sangat besar yaitu hingga 300 meter.

(8)

3.

Selisih garis pantai hasil model dengan garis pantai yang tampak pada citra memiliki selisih posisi hingga 300 meter, maka model garis pantai hanya dapat digunakan untuk pembuatan peta hingga skala 1:50.000.

REKOMENDASI

Selama melakukan penelitian, beberapa hal yang menjadi rekomendasi untuk peningkatan penelitian selanjutnya adalah:

1. Data yang digunakan dalam penelitian sebaiknya memiliki resolusi yang lebih tinggi agar hasil penelitian dapat digunakan untuk multiscale.

2. Sebaiknya untuk pemodelan data ketinggian dan data kedalam memiliki tingkat ketelitian yang sama.

3. Penelitian selanjutnya lebih baik membandingkan dengan kondisi pantai yang lebih curam.

4. Verifikasi sebaiknya dengan melakukan pengecekan di lapangan,

5. untuk mendapatkan nilai yang mendekati keadaan sebenarnya, sebaiknya melibatkan faktor-faktor lain dikawasan pesisir seperti arus, angin dan nilai penurunan tanah. 6. Pemodelan sebaiknya dilakukan setiap

kontinyu setiap tahun, agar memperoleh data garis pantai yang lebih up to date.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terimakasih pada Badan Informasi Geospasial (BIG) terutama Pusat Pemetaan Kelautan dan LIngkungan Pantai (PPKLP) Pusat Jaring Kontrol Geodesi

dan Geodinamika (PJKGG), Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim (PPRT), Bidang Penelitian, yang telah membantu dalam penyediaan data. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Prof. Dr. Edi Prasetyo Utomo sebagai pembimbing dalam penyusunan naskah Karya Tulis Ilmiah ini. Kepada Bapak Dadan Ramdani yang bersedia meluangkan waktu diskusi dengan penulis diluar kewajiban beliau. Semoga tulisan ini menjadi masukan untuk pengembangan yang lebih detil dan lebih bermanfaat nantinya.

DAFTAR PUSTAKA 1

Gustanto, 2013. Optimalisasi Peran Indonesia Sebagai Negara Kepulauan Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional. Lembaga Ketahanan Nasional. Jakarta 2

BIG, 2013. Naskah Akademik Pembakuan Nama-Nama Pulau, Penghitungan Panjang Garis Pantai dan Luas Wilayah Indonesia. RPJMN. Cibinong

3

Oktaviani, N., dkk., 2014. Pengukuran Garis Pantai Menggunakan Metode RTK (GPS Tracking) dan Metode Tongkat Penduga, Jurnal Geomatika BIG Vol. 20 No.2. Cibinong.

4Marfa’i, M.A, dkk., 2007. Coastal Dynamic and Shoreline Mapping: Multi-Sources Spatial Data Analysis in Semarang Indonesia. Institute Of Geography, Justus-Liebig-University, Germany.

5

Raju, D.K, dkk, 2009. Coastline Change Measurement and Generating Risk Map For The Coast Using Geographic Information System. Tropical Marine Science Institute, National University of Singapore.

(9)

6

Siswanto, A. D, 2010. Analisa Stabilitas Garis Pantai di Kabupaten Bangkalan. Jurnal Ilmu Kelautan Edisi Desember Vol 15. Madura

7

Purwaningsih, Y, dkk, 2014. Penentuan LAT Pendekatan Dengan Konstanta Harmonik Metode Admiralty dan Metode Least square. CGISE-UGM. Yogyakarta. 8

Fraczek, W., 2003. Mean Sea Level, GPS and the Geoid. Esri Application Prototype Lab. United State.

9

Ramdani, D, 2011. Referensi Geodesi. Artikel Riset http://blogs.itb.ac.id/.

Republik Indonesia, 2011. Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Lembaran Negara RI Tahun 2011, No. 49. Jakarta: Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia.

(10)

Gambar

Gambar 2. Diagram alir proses pemodelan  garis pantai
Gambar 4. Koordinat Toposentris dan  Geosentris (Sumber: Ramdani, D., 2011)

Referensi

Dokumen terkait

Presentasi yang dilakukan oleh Jomblo.com dimulai dengan menghubungi beberapa stakeholders bahkan sering kali pihak Jomblo.com yang dihubungi oleh para

Secara umum karakter musikal gending- gending karawitan terutama berkaitan dengan dimensi pertunjukan wayang golek Menak Yogyakarta sangat berbeda dengan ketika

Jadi hasil penelitian penulis bahwa Pelaksanaan Perjanjian antara PDAM Kota Payakumbuh dengan PAMSIMAS Kota Payakumbuh sudah dilaksanakan berdasarkan Surat

ketenagakerjaan, baik memberikan perlindungan hukum bagi para buruh maupun pemberian sanksi kepada perusahaan yang melanggar ketentuan- ketentuan yang berlaku. Sarana

Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat kandungan pesan dakwah dalam film Munafik 2 yaitu pesan dakwah kategori Aqidah berupa Iman kepada Allah SWT, pesan dakwah

Hal ini berimplikasi dalam proses pendidikan keluarga dimana orang tua bertanggung jawab dalam mendidik anak- anaknya, anak-anak harus diajarkan tentang hal-hal yang

Berdasarkan hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa profil penalaran kuantitatif dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari kecerdasan numerik tinggi kedua

Pranatacara merupakan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus karena orang yang melakukan pekerjaan tersebut biasanya memahami dengan benar susunan suatu acara