ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN KESEHATAN
MASYARAKAT PERKOTAAN PADA KLIEN DENGAN
KETERGANTUNGAN OPIAT DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN ANSIETAS DI RUMAH SAKIT
KETERGANTUNGAN OBAT
CIBUBUR- JAKARTA
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
ZUMAIDAH, S.KEP 0806334602
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN
DEPOK JULI 2013
ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN KESEHATAN
MASYARAKAT PERKOTAAN PADA KLIEN DENGAN
KETERGANTUNGAN OPIAT DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN ANSIETAS DI RUMAH SAKIT
KETERGANTUNGAN OBAT
CIBUBUR- JAKARTA
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners
ZUMAIDAH, S.KEP 0806334602
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI PROFESI KEPERAWATAN
DEPOK JULI 2013
ii
Karya ilmiah akhir ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Zumaidah
NPM : 0806334602
Tanda Tangan :
iii Skripsi ini diajukan oleh
Nama : Zumaidah
NPM : 0806334602
Program Studi : Profesi Ners
Judul Karya Ilmiah Akhir : Analisis Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Klien Dengan Ketergantungan Opiat Dengan Masalah Keperawatan Ansietas Rumah Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur - Jakarta
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Pembimbing dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners (Profesi Keperawatan) pada Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.
Pembimbing
Pembimbing 1 : Ice Yulia Wardani, M.Kep., Sp Kep.Jiwa ( )
Pembimbing 2 : Widya Lolita, S.Kp., M.Kep ( )
Ditetapkan di : Depok Tanggal : 9 Juli 2012
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir Ners (KIAN) ini. Penulisan KIAN ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Ners Keperawatan pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan KIAN ini, oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Ice Yulia Wardani, M.Kep., Sp Kep.Jiwa, selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini ditengah kesibukannya.
(2) Widya Lolita, S.Kp., M.Kep., selaku dosen pembimbing lapangan saya selama saya praktik peminatan jiwa di RSKO, yang selalu ada setiap saat selama praktik dan tidak bosan mengajak kami untuk diskusi membahas banyak ilmu baru terkait NAPZA yang belum saya ketahui.
(3) Ibu Sri Asih selaku ibu terhebat dan Bapak M.Ridwan Effendy selaku ayah siaga, serta kelima saudaraku; Pandapotan Syahputra, Elly Awaliyah, Siti Rahmadhani, Hamzah Shafwa dan Safar Ridwan, yang telah memberikan dukungan moral maupun material.
(4) Sahabat terbaik saya Pettisa Rustadi Anisa P. Driasmara dan Tika Oktaviana yang telah bersama-sama saya sejak SMP dan selalu memberikan support selama saya menjalani program profesi ini.
(5) My the best MPE team; Resti, Erny, Sonya, dan Susi, teman seperjuangan selama 7 minggu menjalani praktik peminatan jiwa di RSKO. Terima kasih atas kerja sama yang solid dan totalitas teman-teman, serta kebersamaan kita dalam senang maupun sedih.
(6) Semua perawat ruang MPE dan Rehabilitasi di RSKO Jakarta yang sudah menerima kami dan memberikan banyak pengarahan selama kami praktik
v
(7) Teman seperjuangan juga selama praktik; Bang Dani, Bang Indra, Bang Reva, Bang Dudi, Bang Ahmad, Bang Hodland, Bang Solih, Irvan, Afrizal, dan semuanya; atas diskusi kita yang ringan namun berisi banyak pelajaran.
(8) Teman-teman FIK UI angkatan 2008, teman seperjuangan selama 4 tahun kuliah akademik dan 1 tahun profesi ini, yang selalu memberikan atmosfer menyenangkan dan selalu memberikan keceriaan ditengah-tengah profesi yang
hectic ini.
(9) Pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu atas apa yang telah dilakukan dan diberikan dalam penulisan karya ilmiah akhir ini.
Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga KIAN membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.
Depok, 08 Juli 2013 Penulis
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Zumaidah NPM : 0806334602 Program Studi : Profesi Ners
Fakultas : Fakultas Ilmu Keperawatan Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir Ners
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
“Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Klien Dengan Ketergantungan Opiat Dengan Masalah Keperawatan Ansietas Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur - Jakarta”
berserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalih media/ formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di: Depok
Pada Tanggal: 9 Juli 2012
Yang menyatakan
vii Universitas Indonesia
Nama : Zumaidah
Program Studi : Profesi Ners
Judul : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Klien Dengan Ketergantungan Opiat Dengan Masalah Keperawatan Ansietas Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur – Jakarta
Penyalahgunaan Opiat merupakan salah satu fenomena yang terjadi pada masalah kesehatan perkotaan. Banyak faktor yang melatarbelakangi individu terjebak dalam masalah penyalahgunaan Opiat, beberapa diantaranya adalah karena faktor individu itu sendiri, lingkungan sosial, maupun lingkungan psikologis. Masalah ini juga menimbulkan masalah lain bagi individu tersebut, seperti masalah kesehatan fisik, masalah keluarga, maupun masalah psikososial. Masalah psikososial ini bermacam-macam, beberapa diantaranya adalah koping individu tidak efektif, ansietas, HDR situasional, dan lain lain. Masalah tersebut dapat kita temukan pada pasien yang sedang menjalani terapi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Pada karya ilmiah ini dijelaskan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan masalah ansietas. asuhan keperawatan diberikan saat mahasiswa melakukan praktik keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan. Teknik relaksasi yang dimodifikasi dengan teknik psikoterapi efektif dilakukan untuk mengatasi ansietas pada klien kelolaan. Terdapat beberapa teknik relaksasi lain maupun teknik lain dengan pendekatan psikologi yang dapat dilakukan, oleh karena itu diharapkan selanjutnya dapat dilakukan pemberian asuhan keperawatan dengan teknik lain dan dibuktikan keefektifitasannya dalam mengatasi masalah keperawatan ansietas.
viii Universitas Indonesia
Name : Zumaidah
Study Program : Nursing Science Program – Ners Profession
Title : Analyzes Urban Community Health Nursing Cilinical Practice On Clients With Opiate Addiction Problems With Anxiety at Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur - Jakarta
Opiate abuse is a phenomenon that occurs in urban health issues. Many factors behind individuals trapped in Opiate abuse problems, some of which are due to the individual, social, and psychological environment. This issue also raises another problem for the individual, such as physical health problems, family issues, and psychosocial issues. There are many kind of the psychosocial problems, some of which are ineffective individual coping, anxiety, low self esteem, and others. At this paper described the nursing care given to clients with anxiety problems. Nursing care is given when students do urban community health nursing practice. Deep breathing relaxation techniques are modified with effective psychotherapeutic techniques to overcome anxiety performed on the managed client. There are some other relaxation techniques and other techniques with psychological approaches that can be done, therefore, is expected to further provision of nursing care can be done with other techniques and proved their effectiveness in overcoming the problem of nursing anxiety.
ix Universitas Indonesia
HALAMAN JUDUL ……….. i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ………. ii
HALAMAN PENGESAHAN ………. iii
KATA PENGANTAR ………. iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ……… vi
ABSTRAK ……….. vii
DAFTAR ISI ………... ix
DAFTAR GAMBAR ……….. xi
DAFTAR TABEL ………... xii
DAFTAR LAMPIRAN ………... xiii
1. PENDAHULUAN ……… 1 1.1 Latar Belakang ………. 1 1.2 Rumusan Masalah ……… 4 1.3 Tujuan Penelitian ……….. 5 1.3.1 Tujuan Umum ……… 5 1.3.2 Tujuan Khusus ……… 5 1.4 Manfaat Penelitian ……… 6 1.4.1 Manfaat Keilmuan……….. 6
1.4.2 Manfaat bagi Pelayanan ……… 6
2. TINJAUAN PUSTAKA ………... 7
2.1 Tindakan dan Konsep Keperawatan Kesehatan Perkotaan....…………... . 7
2.1.1 Model dan Konsep Keperawatan Neuman (Neuman’s Health Care Systems Model)……… 7
2.2 Opiat ....……….. 8
2.2.1 Jenis-jenis Opiat ………. 8
2.2.2 Efek Penggunaan Opiat .………. 11
2.2.3 Sindrom Putus Zat Opiat ... 12
2.2.4 Terapi Substitusi Ketergantungan Opiat : Suboxone ………. 12
2.2.5 Rentang Respons Gangguan Penggunaan NAPZA ………. 14
2.3 Masalah Psikososial : Ansietas …...……….. 15
2.3.1 Definisi Ansietas ...………... 15
2.3.2 Batasan Karakteristik ...………... 16
2.3.3 Tujuan dan Kriteria Hasil ... 17
2.3.4 Penatalaksanaan dan Intervensi Keperawatan ... 18
2.3.5 Evaluasi Keperawatan ... 20
3. LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA …..……… 21
3.1 Gambaran Kasus Kelolaan ………... 21
3.2 Analisis Data ...………. 26
x Universitas Indonesia
3.4 Tindakan Keperawatan …...……….. 30
3.4.1 Tujuan Tindakan Keperawatan ……....……… 30
3.4.2 Implementasi Keperawatan Ansietas...……...………... 31
3.5 Evaluasi Keperawatan ……...……… 33
4. ANALISIS SITUASI ……….……….. 36
4.1 Profil Lahan Praktik ...……….. 36
4.2 Analisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Terkait KKMP dan Konsep Kasus Terkait...………... 37
4.3 Analisis Salah Satu Intervensi Dengan Konsep dan Penelitian Terkait ...…... 38
4.4 Alternatif Pemecahan yang dapat Dilakukan ... 41
5 PENUTUP ...………. 42
7.1 Simpulan ……….. 42
7.2 Saran ……… 43
7.1 Pemberi Pelayanan Asuhan Keperawatan ... 43
7.2 Bidang Keperawatan ... 43
7.3 Penelitian Selanjutnya ... 43
xi Universitas Indonesia Gambar 2.1 Rentang Respons Gangguan Penggunaan NAPZA ……… 14
Gambar 3.1 Riwayat Penggunaan NAPZA Klien Kelolaan ………. 22
xii Universitas Indonesia
Tabel 2.1 Efek Pengunaan Zat Opiat ……….. 11
Tabel 2.2 Tabel Gejala Umum Sindrom Putus Zat Opiat ……...……….. 12
xiii Universitas Indonesia
Lampiran 1 Pengkajian Klien Kelolaan
Lampiran 2 Rencana Asuhan Keperawatan Ansietas
Lampiran 3 Rencana Asuhan Keperawatan Ketidakberdayaan
Lampiran 4 Rencana Asuhan Keperawatan Koping Individu Tidak Efektif
Lampiran 5 Catatan Perkembangan Klien Kelolaan
1.1 Latar Belakang
Perkotaan adalah tempat yang didalamnya terdapat berbagai komunitas yang berasal dari kota itu sendiri maupun pendatang dari daerah lain. Keragaman masyarakat perkotaan tersebut menyebabkan keragaman masalah yang terjadi di kehidupan perkotaan. Berbagai permasalahan tersebut meliputi masalah yang terjadi pada kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, spiritual, dan juga psikologi. Semua permasalahan ini akan menjadi beban atau stresor bagi masyarakat yang tinggal didalamnya.
Menurut Anderson (2006), terdapat tiga faktor eksternal yang mempengaruhi masalah kesehatan masyarakat di lingkungan perkotaan, seperti lingkungan fisik, lingkungsn psikologis dan lingkungan sosial. Ketiga aspek ini saling mempengaruhi satu sama lain dalam menunjang tingkat kesehatan masyarakat perkotaan. Permasalahan yang timbul dalam satu aspek dapat memicu timbulnya masalah lain di aspek lainnya.
Dewasa ini, sering sekali terdengar berbagai masalah kesehatan perkotaan yang timbul. Salah satu masalah kesehatan perkotaan yang timbul adalah masalah kesehatan akibat ketergantungan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif lainnya). Ketergantungan NAPZA adalah suatu penyakit yang dalam International Clasification of Diseases ang Health Related Problem, 1992 (ICD-10) digolongkan dalam gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan bahan psikoaktif (mental and behavior disaster due to
psychoactive substance use).
Penyalahgunaan NAPZA telah menjadi masalah global, yang mewabah hampir di semua negara di dunia, tidak terkecuali dengan Indonesia. Hal ini tercermin dari laporan United Nations Drugs Control Programme (UNDCP)
yang memberikan wawasan tentangluasnya penggunaan zat psikoaktif termasuk NAPZA di seluruh dunia, yaitu diperkirakan 2 milyar orang pengguna alkohol, 1.3 miliar orang perokok dan 185 juta orang pengguna NAPZA (Rianti, Wiarsih, Dewi, 2010). World Drug Report (Colombo Plan, 2009) menegaskan bahwa 208 juta orang atau sekitar 4,9% dari populasi dunia selama tahun 2008 telah diketahuo menggunakan NAPZA hampir seluruh negara.
Di Indonesia sendiri, Data Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Februari 2006 menyebutkan, dalam lima tahun terakhir jumlah kasus tindak pidana narkoba di Indonesia rata-rata naik 51, 3 persen atau bertambah sekitar 3.100 kasus per tahun. Dalam kurun lima tahun sejak 2006 hingga 2010 BNN berhasil mengungkap sebanyak 126.841 kasus narkotika dan obat-obatan terlarang. Data BNN (2013) menguraikan, pada tahun 2006 secara nasional terdapat sebanyak 17.355 kasus narkoba yang terdiri dari 9.422 kasus narkotika dan 5.658 psikotropika. Sementara ditahun 2007, tercatat ada sebanyak 22.630 kasus yakni 11.380 kasus narkotika dan sebanyak 9.289 kasus psikotropika. Selanjutnya, di tahun 2008 BNN merangkum ada sebanyak 29.364 kasus narkoba dimana sekitar 10.008 merupakan kasus narkotika dan selebihnya atau sekitar 9.783 kasus psikotropika. Untuk ditahun 2009, kembali meningkat menjadi 30.878 kasus terdiri dari 11.135 kasus narkotika dan 8.779 untuk psikotropika. Terakhir di tahun 2010 ada sebanyak 26.614 kasus dimana sekitar 17.834 merupakan kasus narkotika sementara selebihnya atau sekitar 1.181 adalah kasus psikotropika. Secara total berdasarkan jenisnya, untuk kasus narkotika sepanjang lima tahun tersebut ada sebanyak 59.779 kasus dan untuk psikotropika ada sekitar 34.690 kasus.
Kenaikan tertinggi terjadi pada 2005 sebanyak 16.252 kasus atau naik 93 persen dari tahun sebelumnya. Di tahun yang sama tercatat 22 ribu orang tersangka kasus tindak pidana narkoba. Kasus ini naik 101,2 persen dari 2004 sebanyak 11.323 kasus (BNN, 2006). Selain itu, data hasil penelitian yang dilakukan oleh BNN bekerja sama dengan peneliti Puslitkes Universitas
Indonesia tahun 2011 didapat estimasi angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai prevalensi 2,2% dari penduduk berusia 10 sampai 39 tahun atau setara dengan 3,8 juta jiwa (BNN, 2013).
Masalah penyalahgunaan NAPZA ini sendiri bukanlah masalah yang berdiri sendiri, banyak masalah lain yang terjadi akibat masalah ini masalah yang mengikuti masalah penyalahgunaan NAPZA ini dapat terjadi pada aspek sosial, ekonomi, psikologi, spiritual, dan juga masalah kesehatan. Masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat penyalahgunaan NAPZA bukan hanya dari penyakit fisik seperti HIV/AIDS dan Hepatitis, tetapi gangguan kejiwaan seperti halusinasi akibat zat tersebut. Seain itu gangguan psikossial juga dapat terjadi pada individu dengan penyalahgunaan NAPZA.
Masalah penyalahgunaan NAPZA merupakan masalah yang sangat kompleks yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidisipliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen, dan konsisten. Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi, dan Rehabilitasi.
Penanganan penyalahgunaan NAPZA di Indonesia dipegang oleh beberapa badan maupun Rumah sakit yang berada dibawah naungan Kementerian Kesehatan RI, salah satunya adalah Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, Jakarta. Rumah sakit ini memberikan pelayanan dalam terapi pada klien dengan ketergantungan obat terdiri dari berbagai bentuk pelayanan detoksifikasi NAPZA dan rehabilitasi NAPZA. Pelayanan detoksifikasi NAPZA adalah proses atau tindakan mesid untuk membantu klien dalam mengatasi gejala putus NAPZA, sedangkan pelayanan rehabilitasi NAPZA adalah upaya terapi (intervensi) berbasis bukti yang mencakup perawatan medis, psikososial, kombinasi keduanya, baik perawatan rawat inap
jangka pendek maupun jangka panjang (Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan, 2011).
Pada unit detoksifikasi, di RSKO dikenal dengan Ruang MPE (Medication
Pschyatric Evaluation). Tujuan dari ruang ini adalah untuk menstabilisasi
kondisi pasien yang masih merasakan gejala putus zat. Klien akan menjalankan terapi medikasi yang cocokyang dapat mengurangi pasien dari gejala putus zat yang dirasakan.
Dalam tahap ini, biasanya pasien masih dalam kondisi akut, dimana gejala putus zat seperti nyeri, halusinasi, kondisi emosi yang tidak stabil, masih dialami oleh pasien. Bukan hanya diagnosa keperawatan fisik, namun diagnosa keperawatan psikososial pun dapat muncul di ruang ini. Diagnosa fisik yang mucul antara lain gangguan rasa yaman: nyeri, gangguan pola tidur, maupun risiko gangguan nutrisi. Sedangkan diagnosa psikososial yang muncul bisa didapatkan sebelum klien masuk RS maupun ketika klien di rawat, seperti koping individu tidak efektif, ketidakberdayaan, harga diri rendah situasional, dan ansietas. Pada praktik kali ini, klien mengelola klien dengan salah satu diagnosa keperawatannya adalah ansietas. Pada karya tulis ilmiah ini klien akan memaparkan asuhan keperawatan dengandiagnosa ansietas yang telah diberikan pada klien kelolaan mahasiswa.
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan penyalahgunaan NAPZA dapat terjadi kepada siapa saja. Faktor individu, keluarga, dan lngkungan dapat mempengaruhi seseorang untuk terjerumus pada masalah penyalahgunaan NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai terjadi ketergantungan. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering dianggap sebagai penyakit. Adiksi umumnya merujuk pada perilaku psikososial yang berhubungan dengan ketergantungan zat. Gangguan perilaku psikososial inilah yang ditemukan pada individu atau klien di lahan praktik
mahasiswa. Salah satu gangguan psikososial yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah ansietas.
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menggambarkan asuhan keperawatan kepada klien dengan masalah psikosial ansietas
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan ini adalah :
1.3.2.1 Memberikan gambaran tentang kasus individu penyalahgunaan NAPZA dengan masalah keperawatan ansietas
1.3.2.2 Mengidentifikasi pengkajian pada klien dengan masalah keperawatan ansietas
1.3.2.3 Mengidentifikasi perencanaan pada klien dengan masalah keperawatan ansietas
1.3.2.4 Mengidentifikasi implementasi pada klien dengan masalah keperawatan ansietas
1.3.2.5 Mengidentifikasi evaluasi pada klien dengan masalah keperawatan ansietas
1.3.2.6 Menganalisis asuhan keperawatan berdasarkan konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat Pekotaan
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Manfaat Keilmuan
Penulisan Karya Ilmiah ini diharapkan memberikan gambaran terkait intervensi yang cocok dapat diterapkan pada individu dengan gangguan psikososial ansietas dengan masalah kesehatan perkotaan penyalahgunaan NAPZA.
1.4.2 Manfaat bagi Pelayanan
Penulisan Karya Ilmiah ini diharapkan dapat menambah informasi bagi keilmuan tentang asuhan keperawatan masalah psikososial: ansietas pada klien dengan penyalahgunaan NAPZA.
2.1 Teori dan Konsep Keperawatan Kesehatan Perkotaan
Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan (KKMP) merupakan suatu proses koordinasi dan integrasi sumber daya keperawatam dengan menerapkan proses keperawatan komunitas untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan dan pelayanan pada klien komunitas. Proses a keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan bertujuan untuk mencegah masalah keperawatan masyarakat di daerah perkotaan. Perawat kesehatan masyarakat memiliki peran dalam mengelola perawatan kesehatan dalam daerah tersebut serta menjadi pendidik kesehatan dalam masyarakat tersebut.
2.1.1. Model dan Konsep Keperawatan Neuman (Neuman’s Health Care
Systems Model)
Teori dan konsep keperawatan ini dibuat oleh Betty Neuman berfokus pada sistem kesehatan manusia yang berinteraksi dengan lingkungan. Model dan konsep keperawatana tersebut mendefenisikan keperawatan adalah suatu profesi yang unik dengan memperhatikan seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi respon individu terhadap penyebab stress, tekanan intra, inter dan ekstra personal (Neuman, 1995). Perawatan berfokus kepada mencegah serangan stress dalam melindungi klien untuk mendapatkan atau meningkatkan derajat kesehatan yang paling baik. Perawatan yang dilakukan dapat menolong pasien untuk menempatkan pencegahan yang primer, sekunder dan tersier.
Model dan konsep Neuman memiliki metode pencegahan untuk mencegah stress yang disebabkan faktor lingkungan dan meningkatkan sistem pertahanan klien. Menurut Newman, asuhan keperawatan dilakukan untuk mencegah atau mengurangi reaksi tubuh akibat
adanya stresor. Peran tersebut merupakan pencegahan penyakit yang terdiri dari tiga level yaitu pencegahan primer, sekunder dan tertier
Pencegahan primer merupakan tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi adanya stresor, mencegah terjadinya reaksi tubuh karena adanya stressor.
Pencegahan sekunder merupakan tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala penyakit atau reaksi tubuh lainnya karena adanya stresor.
Pencegahan tersier merupakan tindakan keperawatan yang meliputi pengobatan rutin dan teratur serta pencegahan kerusakan lebih lanjut atau komplikasi dari suatu penyakit (Clark, 1999).
2.2 Opiat
Opioid atau opiat berasal dari kata opium, jus dari bunga opium, Papaver
somniverum, yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium, termasuk morfin.
Nama Opioid juga digunakan untuk opiat, yaitu suatu preparat atau derivat dari opium dan narkotik sintetik yang kerjanya menyerupai opiat tetapi tidak didapatkan dari opium. Opiat alami lain atau opiat yang disintesis dari opiat alami adalah heroin (diacethylmorphine), kodein (3-methoxymorphine), dan
hydromorphone (Dilaudid) (BNN, 2013).
2.2.1 Jenis-jenis Opiat
Opiat sendiri dibagi dalam tiga golongan besar (Ditjen Binkenmas, 2006), yaitu:
a. Opiat alamiah (Opiat) : Morfin, Opium, Kodein b. Opioda semisintetik : Heroin / putau, Hidromorfin c. Opioda sintetik : Metadhone
Menurut BNN (2013), berikut adalah turunan opiat yang sering disalahgunakan, antara lain
a) Candu
Getah tanaman Papaver Somniferum didapat dengan menyadap (menggores) buah yang hendak masak. Getah yang keluar berwarna putih dan dinamai "Lates". Getah ini dibiarkan mengering pada permukaan buah sehingga berwarna coklat kehitaman dan sesudah diolah akan menjadi suatu adonan yang menyerupai aspal lunak. Inilah yang dinamakan candu mentah atau candu kasar. Candu kasar mengandung bermacam-macam zat-zat aktif yang sering disalahgunakan. Candu masak warnanya coklat tua atau coklat kehitaman. Diperjual belikan dalam kemasan kotak kaleng dengan berbagai macam cap, antara lain ular, tengkorak,burung elang, bola dunia, cap 999, cap anjing, dsb. Pemakaiannya dengan cara dihisap.
b) Morfin
Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah. Morfin merupaakan alkaloida utama dari opium ( C17H19NO3 ) . Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan.
c) Heroin ( putaw )
Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat dari morfin dan merupakan jenis opiat yang paling sering disalahgunakan orang di Indonesia pada akhir - akhir ini . Heroin, yang secara farmakologis mirip dengan morfin menyebabkan orang menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak menentu. Walaupun pembuatan, penjualan dan pemilikan heroin adalah ilegal, tetapi diusahakan heroin tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit kanker terminal karena efek analgesik dan euforik-nya yang baik.
d) Codein
Codein termasuk garam / turunan dari opium / candu. Efek codein lebih
lemah daripada heroin, dan potensinya untuk menimbulkan ketergantungaan rendah. Biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan jernih. Cara pemakaiannya ditelan dan disuntikkan.
e) Demerol
Nama lain dari Demerol adalah Pethidina. Pemakaiannya dapat ditelan atau dengan suntikan. Demerol dijual dalam bentuk pil dan cairan tidak berwarna.
f) Methadone
Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Sejumlah besar narkotik sintetik (opioid) telah dibuat, termasuk meperidine (Demerol),
methadone (Dolphine), pentazocine (Talwin), dan propocyphene (Darvon). Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam
pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Kelas obat tersebut adalah nalaxone (Narcan), naltrxone (Trexan), nalorphine,
levalorphane, dan apomorphine. Sejumlah senyawa dengan aktivitas
campuran agonis dan antagonis telah disintesis, dan senyawa tersebut adalah pentazocine, butorphanol (Stadol), dan buprenorphine
(Buprenex). Beberapa penelitian telah menemukan bahwa buprenorphine adalah suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid. Nama popoler jenis opioid : putauw, etep, PT, putih.
2.2.2 Efek penggunaan opiat
Reaksi dari pemakaian opiat sangat cepat yang kemudian timbul rasa ingin menyendiri untuk menikmati efeknya dan pada taraf kecanduan si pemakai akan kehilangan rasa percaya diri hingga tidak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Mereka mulai membentuk dunia mereka sendiri. Mereka merasa bahwa lingkungannya adalah musuh, mulai melakukan kebohongan karena harus selalu menggunakan opiat (Ditjen Binkenmas, 2006).
Berikut tabel efek pada beberapa sistem yang bekerja dalam tubuh :
Tabel 2.1 Tabel efek penggunaaan zat opiat
Sistem organ Efek
Saraf Analgesi
Euforia
Sedasi, mengantuk, depresi pernapasan Penekanan refleks batuk
Pupil kontriksi Gastrointestinal Mual dan muntah
Konstipasi
Spasme bilier (peningkatan tonus sfingter)
Endokrin Perubahan hormon sex pada wanita (kadar FSH dan LH rendah, peningkatan kadar prolaktin) berdampak pada gangguan siklus menstruasi, penurunan libido, galaktorrhea
Penurunan kadar testosteron pada laki-laki, penurunan libido
Meningkatnya hormon anti diuretik (ADH), penurunan kadar ACTH
Lainnya Gatal-gatal, berkeringat, kulit kemerahan (reaksi histamin)
Kekeringan pada daerah mulut, mata, dan kulit Pengeluaran urin yang sulit
Tekanan darah rendah Sumber: Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, 2010
2.2.3 Sindrom Putus Zat Opiat
Tabel 2.2 Tabel gejala umum sindrom putus zat opiat
Jarak waktu dari suntikan terakhir
Gejala umum
6-12 jam Mata dan hidung berair, menguap Berkeringat
12-24 jam Agitasi dan iritabel Goosebumps
Berkeringat, perasaan panas dan dingin Kehilangan nafsu makan
Lebih dari 24 jam Keinginan kuat untuk menggunakan heroin (craving)
Kram perut, diare
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah Nyeri punggung, nyeri persendian, tangan
atau kaki, sakit kepala Sulit tidur
Letargi, fatigue
Tidak dapat istirahat, iritabel, agitasi Sulit konsentrasi
Perasaan panas dingin, keringat meningkat Hari ke 2 sampai 4 Semua gejala mencapai puncaknya
Hari ke 5 sampai 7 Kebanyakan gejala fisik mulai berkurang Nafsu makan mulai kembali
Minggu ke 2 Gangguan fisik mulai menghilang. Dapat muncul keluhan lain seperti tidak dapat tidur, rasa lelah, iritabel, craving
Beberapa minggu sampai beberapa bulan
Kembali ke pola tidur, level aktivitas dan mood normal. Meningkatnya kesehatan secara umum dan penurunan craving. Sumber: Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, 2010
2.2.4 Terapi Substitusi Ketergantungan Opiat : Suboxone
Terapi ketergantungan opioida yang efektif menurut WHO (2003) adalah terapi abstinensia dan terapi substitusi (BPOM, 2007). Ada 3 bentuk terapi substitusi, yaitu agonis opioida, antagonis opioida dan
parsial agonis opioida. Agonis opioida adalah pengobatan yang menstimulan kerja dari reseptor di otak, yang secara normal dan alami menciptakan efek yang sama seperti opiatt. Contoh dari jenis ini adalah
methadone, oxycodone, hydrocodone, heroin, codein, meperidine, propoxyphene, dan fentanyl. Parsial agonis opioid adalah pengobatan
yang cara kerjanya bisa kedua-duanya dan mem-blok reseptor, tergantung dari situasi klinis. Jika tidak sesuai dosis yang tepat, parsial agonis dapat menciptakan efek yang sama pada keduanya agoonis atau antagonis. Contoh dari jenis ini adalah buprenorphine. Sedangkan Antagonis opioid adalah pengobatan yang menanggulani molekul dari obat lain / pengobatan yang mengikat (seperti reseptor opioid). Antagonis juga bisa menggantikan opiat lain mengendapkan gejala putus zat atau memblok dampak opiat lain. Contoh dari jenis ini adalah
naltrexone dan naloxone.
Varela (n.d) menjelaskan bahwa suboxone adalah pengobatan opioid pertama yang disetujui oleh DATA 2000 sebagai perawatan dasar ketergantungan opiat. Suboxone bisa digunakan untuk dibawa pulang seperti obat-obat lainnya untuk kondisi medis tertentu. Komposisi dasar didalam suboxone adalah buprenorphine. Karena buprenorphine adalah parsial agonis opiois, maka dia akan mengurangi dampak yang dihasilkan oleh agonis opioid seperti heroin. Suboxone juga mengandung antagonis opioid yaitu naloxone.
Naloxone didalam suboxone berguna untuk mengurangi orang untuk
membelah tablet dan menyuntikkannya. Saat suboxone ditaruh dibawah lidah, sedikit naloxone menyebar ke pembuluh darah, jadi yang akan pasien rasakan adalah efek dari buprenorphine. Biarpun naloxone disuntikkan, akan menyebabkan seseorang bergantung kepada agonis opioid dan cepat menjadi putus zat (sakaw).
Penggunaan suboxone dalam dosis dan cara penggunaan yang tepat dapat menangani individu dengan ketergantungan opiat dengan :
Mengurangi rasa sakit dari pemakaian opioid
Membantu pasien tetap pada program atau kepatuhan Menekan gejala putus zat dari opioid
Mengurangi rasa sugesti ke opioid
Suboxone diberikan secara oral yaitu dengan diletakkan dibawah lidah
(sublingual). Tablet tersebut harus diapstikan benar-benar larut dan diserap selama proses sepuluh menit. Meminum air sebelum menggunakan suboxone akan membantu penyerapan lebih mudah.
Suboxone tidak efektif jika tertelandan dosis tidak dapat diulang jika hal
itu terjadi. Ditemukan bahwa 90% dari tablet suboxone diserap, dibandingkan dengan bentuk cair suboxone yang akan diserap hanya sekitar 50%. Suboxone hanya boleh diresepkan oleh dokter yang memiliki pengalaman dalam pengobatan substitusi ketergantungan obat opioid (College of Physicians & Surgeons of British Columbia, n.d).
2.2.5 Rentang Respons Gangguan Penggunaan NAPZA
Rentang respons gangguan penggunaan NAPZA ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai yang berat, indicator ini berdasarkan perilaku yang dtunjukkan pengguna NAPZA. Berikut merukana skema respon tersebut:
Gambar 2.1 Rentang respons gangguan penggunaan NAPZA
a. Eksperimental : Kondisi pengguna taraf awal, yang disebabkan rasa ingin tahu dari remaja. Sesuai kebutuhan pada masa tumbuh
kembangnya, klien biasanya ingin mencari pengalaman yang baru atau sering dikatakan taraf coba-coba.
b. Rekreasional : Penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan teman sebaya, misalnya pada waktu pertrmuan malam mingguan, acara ulang tahun. penggunaan ini mempunyai tujuan rekreasi bersama teman-temannya.
c. Situasional : Mempunyai tujuan secara individual, sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri. seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapi. Misalnya individu menggunakan zat pada saat sedang mempunai masalah, stres, dan frustasi
d. Penyalahgunaa : Penggunaan zat yang sudah cukup patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, minimal selama 1 bulan, sudah terjadi penyimpangan periaku mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
e. Ketergantungan : Penggunaan zat yang sudah cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya toleransi dan sindroma putus zat (suatu kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara rutin pada dosis tertentu menurunkan jumlah zat yang digunakanatau berhenti memakai, sehingga menimbulkan kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang digunakan).
2.3 Masalah Psikososial : Ansietas
2.3.1 Definisi Ansietas
Ansietas atau kecemasan merupakan perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respon autonom (sumber seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya (NANDA dalam Wilkinson, 2009). Videbeck (2008) mengatakan bahwa ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan
tidak didukung oleh situasi. Ansietas adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati disertai berbagai gejala sumatif, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien (Mansjoer, 1999). Ansietas merupakan Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya dan memampukan individu untuk bertindak mengadapi ancaman.
Ansietas memiliki nilai positif. Stuart dan Laraia (2005) menyatakan bahwa aspek positif dari individu berkembang dengan adanya konfrontasi, gerak maju perkembangan dan pengalaman mengatasi kecemasan. Tetapi pada keadaan lanjut perasaan cemas dapat mengganggu kehidupan seseorang (Tim Penyususn Mahasiswa Kekhususan Jiwa, 2012).
2.3.2 Batasan Karakteristik
Terdapat batasan karakteristik dalam penegakan diagnosa keperawatan ansietas (Wilkinson, 2009), ialah sebagai berikut :
a. Perilaku
Perilaku ditandai dengan produktivitas menurun, mengamati dan waspada, kontak mata jelek, gelisah, melihat sekilas sesuatu, pergerakan berlebihan (seperti: foot shuffling, pergerakan lengan/tangan), ungkapan perhatian berkaitan dengan merubah peristiwa dalam hidup, insomnia, serta perasaan gelisah.
b. Afektif
Menyesal, iritabel, kesedihan mendalam, takut, gugup, sukacita berlebihan, nyeri dan ketidakberdayaan meningkat secara menetap, gemeretak, ketidakpastian, kekhawatiran meningkat, fokus pada diri sendiri, perasaan tidak adekuat, ketakutan khawatir, prihatin dan mencemaskan.
c. Fisiologis
Suara bergetar, gemetar/tremor tangan, bergoyang-goyang. Selain itu, terdapat masalah pada saraf simpatis (respirasi meningkat, nadi meningkat, refleks-refleks meningkat, eksitasi kardiovaskuler, peluh meningkat, wajah
tegang, anoreksia, jantung berdebar-debar, mulut kering, kelemahan, wajah bergejolak, vasokontriksi superfisial, berkedutan, sukar bernapas) dan saraf parasimpatis (kesegeraan berkemih, nyeri abdomen, gangguan tidur, perasaan geli pada ekstremitas, diare, kelelahan, nadi berkurang, tekanan darah menurun, mual, pingsan, dan tekanan darah meningkat)
d. Kognitif
Hambatan berfikir, bingung, pelupa, perenungan, perhatian lemah, lapang persepsi menurun, takut akibat yang tidak khas, cenderung menyalahkan orang lain, sukar berkonsentrasi, kemampuan berkurang terhadap (memecahkan masalah dan belajar), kewaspadaan terhadap gejala fisiologis.
Berikut beberapa tanda dan gejala yang sering sitemukan pada pasien yang mengalami ansietas (Hawari, 2008) ialah sebagai berikut:
a. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, dan mudah tersinggung
b. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut. c. Takut sendirian, takut akan keramaian dan banyak orang
d. Gangguan pola tidur dan mengalami mimpi-mimpi yang menegangkan e. Gangguan konsentrasi dan daya ingat
f. Keluhan-keluhan somatik, mislanya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging, berdebar-debar, sesak napas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.
2.3.3 Tujuan dan Kriteria Hasil
a. Pasien mampu mengenal ansietas
b. Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik relaksasi c. Pasien mampu menurunkan tingkat kecemasan yang dirasakan
2.3.4 Penatalaksanaan dan Intervensi Keperawatan
Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan ansietas pada tahap pencegahaan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkpanya seperti pada uraian berikut :
1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stres, dengan cara : a. Makan makan yang bergizi dan seimbang.
b. Tidur yang cukup. c. Cukup olahraga. d. Tidak merokok
e. Tidak meminum minuman keras 2. Terapi Psikofarmaka.
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat anti cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, clobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam.
3. Terapi Somatik
Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.
4. Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain :
a. Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta percaya diri.
b. Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan.
c. Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (re-konstruksi) kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stresor.
d. Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat.
e. Psikoterapi psiko-dinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi stresor psikososial sehingga mengalami kecemasan.
f. Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan sebagai faktor pendukung.
5. Terapi Psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stresor psikososial.
Berikut ini beberapa tindakan intervensi yang dapat diterapkan pada pasien ansietas, sebagai berikut:
a. Bina hubungan saling percaya dan terbuka: dengarkan keluhan, dukung untuk menceritakan perasaan, jawab pertanyaan secara langsung, menerima tanpa pamrih, hargai pribadi klien.
b. Mendiskusikan ansietas: ansietas, penyebab, proses terjadi, tanda dan gejala serta akibat ansietas. bantu klien mengekspresikan perasan, menghubungkan perilaku dengan perasaan klien, dan memvalidasi kesimpulan dan asumsi.
c. Sadari dan kontrol perasaan diri perawat: bersikap terbuka sesuai perasaan, terima perasaan positif maupun negatif termasuk perkembangan ansietas, menggali penyebab ansietas, pahami perasaan diri secara terapeutik.
d. Memperluas kesadaran berkembangnya ansietas: Bantu klien menghubungkan situasi dan interaksi yang menimbulkan ansietas, meninjau kembali penilaian klien terhadap stresor yang dirasa mengancam dan menimbulkan konflik,dan mengaitkan pengalaman saat ini dengan pengalaman masa lalu
e. Melatih teknik relaksasi fisik, pengendalian pikiran dan emosi dengan teknik relaksasi napas dalam atau teknik hipnotis lima jari f. Membantu klien dalam mengidentifikasi koping baru yang lebih
adaptif : Menggali pengalaman klien menghadapi ansietas
sebelumnya, Mengaitkan hubungan sebab-akibat keadaan ansietasnya, tunjukkan akibat negatif koping yang saat ini, dorong klien untuk mencoba koping adaptif yang lalu, memusatkan tanggung jawab perubahan pada klien, dan anjurkan penggunaan koping yang baru
2.3.5 Evaluasi keperawatan
Evaluasi dilakukan secara terus menerus pada respon ansietas klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi disesuaikan dengan tujuan atau kriterian hasil yang disusun, yaitu:
a. Pasien mampu mengenal ansietas
b. Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik relaksasi c. Pasien mampu menurunkan tingkat kecemasan yang dirasakan
3.1 Gambaran Kasus Kelolaan
Klien (32 thn) datang ke RSKO pada tanggal 31 Mei 2013 diantar oleh ayahnya. Domisili klien adalah di Palembang. Klien mengatakan ini adalah kedua kalinya dirinya di rawat di RSKO. Saat pertama dirawat, klien mengikuti program detoksifikasi dan juga program rehabilitasi sampai selesai. Kedatangan klien kali ini merupakan permintaan orang tuanya.
Pertama kali klien mencoba NAPZA adalah jenis ganja pada tahun 1998. Pemakaian ganja bertahan selama dua tahun. Klien mengatakan alasan pertama menggunakan ganja adalah ajakan temannya sehingga tertarik ingin mencobanya, Pada tahun 2000 klien mencoba menggunakan putau dan juga mulai mengkonsumsi alkohol. Kemudian pada tahun 2002 klien mencoba ekstasi, pemakaiannya hanya bertahan selama dua tahun. Sampai saat ini, klien hanya menggunakan putau. Sesekali juga klien masih mengkonsumsi alkohol. Frekuensi penggunaan putau klien dalam sehari sebanyak tiga kali dan itu dilakukan setiap hari.
Klien mengatakan sangat nyaman dengan pemakaian putau. Klien merasa efek yang dihasilkan putau dapat membuat dirinya rileks dan menghilangkan beban hidupnya sejenak. Setiap ada masalah, maka pikiran klien akan langsung untuk menggunakan putau.
Gambar 3.1 Riwayat penggunaan NAPZA klien kelolaan
Sampai saat ini klien sudah menikah sebanyak dua kali.pernikahan pertama klien hanya berusia seumur jagung. Klien memutuskan bercerai dengan istri pertamanya karena merasa dirinya hanya dimanfaatkan oleh istrinya. Dua tahun kemudian klien memutuskan untuk menikah lagi. Pada pernikahan keduanya klien memiliki satu orang anak laki-laki. saat ini usia pernikahan klien sudah mengunjak usia 7 tahun. Klien mengatakan hubungan dirinya dengan istrinya sedang tidak baik. Sudah 9 bulan klien sudah pisah rumah dengan istrinya. Hubungan yang tidak harmonis ini sebenarnya sudah dirasakan saat usia pernikahannya menginjak 2 tahun.
Klien mengatakan bahwa istrinya baru mengetahui dirinya seorang pemakai ketika sudah menikah. Istrinya merasa sangat kecewa karena merasa dibohongi oleh klien, Hal itulah yang membuat hubungan klien dengan istrinya menjadi buruk. Klien mengatakan dirinya merasa sangat menyesal karena sudah membohongi istrinya. Sejak saat itu perlakuan istrinya terhadap dirinya mulai berubah. Klien merasa istrinya tidak menganggap dirinya sebagai suami. Status pernikahan klien dengan istrinya dipertahankan karena demi anaknya. Klien mengatakan istrinya pernah meminta bercerai dengan
Ganja
(1998-2000 )
Alkohol
(2000-2013)
Ekstasi
(2002
-2004)
Putau
(2000 –
2013)
dirinya namun klien tidak menyetujuinya karena tidak mau mengecewakan anaknya.
Hubungan yang tidak harmonis antara klien dan istrinya sering kali menjadi stresor dalam kehidupan klien. Klien mengatakan ingin sekali memperbaiki hubungan dengan istrinya namun istri klien seperti sudah lelah dengan dirinya. Istri klien tidak pernah mau diajak diskusi untuk menyelesaikan masalahnya. Klien mengerti bahwa ini merupakan kesalahan dirinya yang sudah tidak jujur sejak awal pernikahan, namun niat untuk berubah selalu ada pada diri klien.
Klien merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara. klien termasuk dalam kategori keluarga menengah ke atas. Klien mengatakan sejak kecil hidupnya terlalu banyak diatur oleh keluarganya. Mulai dari sekolah sampai memilih jurusan ketika kuliah. Klien mengatakan dahulu dirinya ingin mengambil jurusan perhotelan namun dilarang oleh ayahnya. Ayahnya mengharapkan klien mengambil jurusan otomotif agar bisa meneruskan usaha ayahnya.
Klien termasuk orang yang tidak suka bercerita tentang masalah yang dihadapi kepada orang tuanya. Klien merasa orang tua klien tidak dapat memberikan jalan keluar, malah terkesan menyalahkan klien. Klien juga mengatakan orang tua klien seirng memudahkan masalah. Orang tua klien selalu menyelesaikan masalah dengan uang atau materi. Dalam urusan pengobatan ini juga lebih banyak diambil keputusan oleh orang tuanya, tanpa meminta persetujuan atau diskusi dengan dirinya.
Klien merasa bahwa selama ini dirinya kesepian. Dirinya merasa sendirian, tidak ada tempat bercerita maupun bergantung. Klien mengatakan ada yang hilang dalam hidupya, dan klioen tidak tahu apa. Klien merasa ada yang salah dalam dirinya sehingga apabila ada masalah yang seharusnya dapat diselesaikan dengan mudah tetapi klien tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Klien mengatakan mungkin ini salah satu akibat dari pemakainnya
NAPZA yang sudah cukup lama. Ketika menceritakan hal tersebut klien terlihat menunduk, raut wajah terlihat sedih dan bingung. Klien juga terlihat memikirkan sesuatu.
Klien mengatakan dirinya sudah berulang kali mengikuti program rehabilitasi. Klien sudah pernah mengikuti program rehabilitasi di RSKO, Rumah Cemara, dan BNN. Klien mengikuti program rehabilitasi karena kemauan orang tuanya. Klien merasa harus mengikuti kemauan orang tuanya untuk rehabilitasi karena klien bekerja di perusahaan milik ayahnya., apabila tidak mengikuti kemauan ayahnya klien diancam akan dikeluarkan dari perusahaan. Klien merasa memang hidupnya masih bergantung pada orang tuanya, tidak sepenuhnya mandiri.
Saat klien pertama datang di ruang MPE, klien terlihat sadar dan santai. Tidak ada perilaku kekerasan seperti mengamuk atau meminta pulang ke rumah. Klien terlihat kooperatif dan mudah bergaul dengan pasien lain. Dalam keseharian, klien sering terlihat berinteraksi dengan pasien lain. Klien sering mengobrol atau ikut discussion group bersama mahasiswa. Klien juga sering terlihat bermain bilyard atau bermain ping pong. Apabila ada hal yang diketahui atau membutuhkan informasi terkait program pengobatannya, klien tidaksegan bertanya pada perawat.
Setelah dirawat sekitar dua minggu, teman-teman klien (pasien lain) mulai keluar dari RSKO untuk pulang karena program detoksifikasinya sudah selesai. Beberapa pasien mengikuti program rehabilitasi. Ketika itu klien mulai terlihat gelisah karena klien ditinggal teman-temannya. Klien sering terlihat duduk menyendiri dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Apabila sedang diajak mengobrol klien sering terlihat tidak fokus. Klien terlihat tidak semangat seperti biasanya. Saat siang hari sampai sore hai klien terlihat lebih sering tidur atau menonton televise di kamarnya.
Klien mengatakan dirinya masih merasa bingung apakah akan melanjutkan program rehabilitasi atau akan pulang ke rumah. Ayah klien menyarankan untuk mengikuti program rehabilitasi, klien tidak begitu menyetujuinya karena klien merasa prgram rehabilitasi sudah tidak efektif untuk dirinya. Memang klien memiliki sedikit keinginan untuk mengikuti program rehabilitasi, namun klien minta program tersebut diikuti setelah klien pulang ke Palembang dahulu untuk menyelesaikan beberapa masalah yang dimilikinya. Di sisi lain klien juga ingin mengikuti program terapi rumatan yaitu suboxone.
Klien mengatakan dirinya ingin pulang dahulu apabila memang ayahnya tetap memaksa dirinya mengikuti program rehabilitasi. Klien ingin menyelesaikan masalahnya dengan istrinya. Klien ingin masalah dengan istrinya segera diselesaikan agar dirinya dapat tenang dan mulai memikirkan masa depannya. Klien mengatakan selama ini masalah dengan istrinya termasuk salah satu yang selalu mengganggu pikirannya, dan termasuk salah satu triger klien dalam menggunakan putau. Klien juga masih merasa bingung apakah sebaiknya dirinya tetap meneruskan hidup di Palembang atau pindah ke kota lain untuk menghindari lingkungan yang merupakan triger bagi dirinya. Klien ingin mencoba hidup di Bandung.
Klien berkonsultasi dengan dokter dan mendapatkan jawaban kalau sebaiknya klien mengikuti terapi rumatan dengan suboxone. Hal itu klien diskusikan dengan ayahnya. Klien juga mendiskusikan dengan mahasiswa. Klien menanyakan tentang terapi suboxone. Bagaimana keuntungan maupun kekurangan terapi tersebut.
3.2 Analisis Data
Tabel 3.1 Analisis data klien kelolaan
Data Klien Masalah Keperawatan
Data Subjektif
Klien mengatakan dirinya merasa cemas. Klien tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah keluar dari RSKO.
Klien masih bingung menentukan apakah dirinya akan mengikuti program rehabilitasi atau tidak.
Klien juga tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan istrinya. Klien juga masih merasa bingung apakah
sebaiknya dirinya tetap meneruskan hidup di Palembang atau pindah ke kota lain
Data Objektif
Klien mulai terlihat gelisah setelah beebrapa temannya (pasien lain) pulang ataupun mengikuti program rehabilitasi. Klien sering terlihat duduk menyendiri dan
terlihat sedang memikirkan sesuatu. Apabila sedang diajak mengobrol klien sering terlihat tidak fokus.
Klien terlihat tidak semangat seperti biasanya. Saat siang hari sampai sore hai klien terlihat lebih sering tidur atau menonton televise di kamarnya.
Data Klien Masalah Keperawatan Data Subjektif
Pertama kali klien mencoba NAPZA adalah jenis ganja pada tahun 1998. Pemakaian ganja bertahan selama dua tahun. Klien mengatakan alasan pertama menggunakan ganja adalah ajakan temannya sehingga tertarik ingin mencobanya, Pada tahun 2000 klien mencoba menggunakan putau dan juga mulai mengkonsumsi alkohol. Kemudian pada tahun 2002 klien mencoba ekstasi, pemakaiannya hanya bertahan selama dua tahun. Sampai saat ini, klien hanya menggunakan putau.
Klien mengatakan sangat nyaman dengan pemakaian putau
Klien merasa efek yang dihasilkan putau dapat membuat dirinya rileks dan menghilangkan beban hidupnya sejenak. Setiap ada masalah, maka pikiran klien akan langsung untuk menggunakan putau. Klien mengatakan dirinya sudah berulang
kali mengikuti program rehabilitasi. Klien sudah pernah mengikuti program rehabilitasi di RSKO, Rumah Cemara, dan BNN.
Data Objektif
Klien menceritakan masalahnya kepada mahasiswa. Klien terlihat sudah terbiasa mengikuti program detokdifikasi.
Koping individu tidak efektif
Data Klien Masalah Keperawatan Data Subjektif
Klien mengatakan dirinya merasa sangat menyesal karena sudah membohongi istrinya. Klien mengatakan selama ini masalah dengan istrinya termasuk salah satu yang selalu mengganggu pikirannya, dan termasuk salah satu triger klien dalam menggunakan putau.
Klien tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan istrinya. Klien merasa bahwa selama ini dirinya
kesepian. Dirinya merasa sendirian, tidak ada tempat bercerita maupun bergantung. Klien mengatakan ada yang hilang dalam hidupya, dan klien tidak tahu apa.
Klien merasa ada yang salah dalam dirinya sehingga apabila ada masalah yang seharusnya dapat diselesaikan dengan mudah tetapi klien tidak bisa menemukan jalan keluarnya.
Data Objektif
Klien terlihat menunduk, raut wajah terlihat sedih dan bingung. Klien juga terlihat memikirkan sesuatu.
Ketidakberdayaan
Data Subjektif
Klien termasuk orang yang tidak suka bercerita tentang masalah yang dihadapi kepada orang tuanya.
Klien merasa orang tua klien tidak dapat memberikan jalan keluar, malah terkesan menyalahkan klien.
Koping keluarga tidak efektif
Data Klien Masalah Keperawatan
Orang tua klien selalu menyelesaikan masalah dengan uang atau materi. Dalam urusan pengobatan ini juga lebih banyak diambil keputusan oleh orang tuanya, tanpa meminta persetujuan atau diskusi dengan dirinya.
Klien mengikuti program rehabilitasi karena kemauan orang tuanya.
Data Objektif
Keluarga klien hanya datang menjenguk ketika diminta datang oleh klien
Tabel 3.1 Analisis data klien kelolaan
3.3 Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan muncul dari hasil pengkajian berupa wawancara dengan klien dan perawat, data dari status pasien, serta observasi terhadap klien. Hasil pengkajian yang didapatkan menjadi analisa data untuk menghasilkan masalah keperawatan.
3.3.1 Pohon Masalah
Gambar 3.2 Pohon masalah klien kelolaan
3.3.2 Diagnosa Keperawatan
Hasil analisis data diatas menghasilkan beberapa masalah keperawatan psikososial. Pada karya ilmiah ini penulis akan membahas terkait penerapan pemberian asuhan keperawatan “Ansietas”.
3.4 Tindakan keperawatan
3.4.1 Tujuan Tindakan Keperawatan
Tujuan dari pemberian tindakan keperawatan dengan diagnosa keperawatan ansietas adalah klien mampu mengenal ansietas pada dirinya, menurunkan tingkat kecemasan klien dan mendukung dan melindungi klien
Ansietas
Koping individu tidak efektif Ketidakberdayaan
3.4.2 Implementasi Keperawatan Ansietas
Tindakan keperawatan pertama yang dilakukan pada klien adalah membina hubungan saling percaya. Mahasiswa mengenalkan diri secara jelas dan mengatakan tujuan pertemuan dengan klien. Mahasiswa memberikan kesempatan kepada klien untuk mengenalkan dirinya juga dan menanyakan panggilan apa yang klien senangi. Kemudian mahasiswa memberikan kesempatan kesempatan klien untuk bercerita tentang dirinya. Dengarkan dengan hangat dan responsif. Berikan beberapa tanggapan apabila klien meminta pendapat mahasiswa. Kemudian berikan juga waktu kepada klien untuk berespon atas apa yng mahasiswa sampaikan atau bicarakan. Biarkan klien mengekspresikan dirinya dan perasannya. Berikan reinforcement positif atas apa yang sudah klien utarakan. Cari topik yang dapat menarik perhatian klien. Identifikasi kebutuhan klien akan informasi yang dibutuhan.
Tindakan keperawatan berikutnya adalah membantu klien mengenal ansietasnya. Mahasiswa memberikan kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya. Mahasiswa menanyakan perasaan klien setiap harinya. Mahasiswa memberikan kesempatan kepada klien menceritakan masalah yang dihadapinya saat ini. Mahasiswa lebih banyak memberikan pertanyaan terbuka kepada klien. Bantu klien untuk menghubungkan perilaku klien dengan perasaan yang sedang dialaminya. Mahasiswa melakukan validasi atas informasi yang didapat dari klien dan menyampaikan kesimpulan yang diambil.
Pada pertemuan berikutnya, mahasiswa mengajarkan klien salah satu teknik relaksasi yaitu teknik relaksasi nafas dalam. Klien menjelaskan ujuan dari tindakan ini dan menjelaskan cara melakukannya. Mahasiswa menyiapkan kondisi klien serileks mungkin. Kemudian mahasiswa mengajarkan napas dalam terlebih dahulu, baru meminta
klien untuk mempraktekkan ulang. Sebelumnya mahasiswa juga menanyakan suasana seperti apa yang bisa menciptakan ketenangan dalam diri klien. Tindakan ini dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan klien menunjukkan kemajuan dalam melakukan teknik nafas dalam.
Mahasiwa juga memperluas kesadaran berkembangnya ansietas yang dialami klien. Bantu klien menghubungkan situasi dan interaksi yang menimbulkan ansietas. Mahasiswa melihat respon klien ketika ada pemicu yang membuat klien merasa ansietas. Bantu klien meninjau kembali penilaian klien terhadap stresor yang dirasakan mengancam dan menimbulkan konflik. Berikan kesempatan kepada klien untuk menceritakan pengalam klien di masa sekarang dan di masa lalu. Diskusikan tentang bagaimana klien menyelesaikan masalah klien di masa lalu. Kemudian diskusikan juga terkait masalah klien di masa sekarang, bagaimana klien dpaat mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah klien saat ini.Bantu klien untuk mengaitkan pengalaman saat ini dengan pengalamn masa lalu. Diskusikan dengan klien rencana klien ke depan setelah keluar dari rumah sakit. Identifikasi beberapa kemungkinan yang dapat klien jalani dan bantu klien dalam memutuskan rencana pengobatan klien kedepannya. Disamping itu klien juga mengajarkan klien teknik relaksasi napas dalam dan menjelaskan tujuannya. Tekni napas dalam dapat digunakan klien agar kondisi klien lebih tenang dan dapat berpikir lebih jernih untuk mengambil keputusan terkait masalah yang dihadapinya.
Tindakan keperawatan berikutnya adalah membantu klien untuk mempelajari koping yang baru. Gali pengalaman klien menghadapi ansietas sebelumnya. Tunjukkan kepada klien akibat negatif koping yang saat ini klien terapkan. Berikan reinforcement positif atas koping adaptif yang pernah klien lakukan ketika mengalami ansietas. Dorong klien untuk mencoba koping adaptif yang dahulu pernah diterapkan.
Diskusikan kepada klien tentang koping baru yang lebih adaptif, yang dapat klien terapkan. Bantu klien untuk memusatkan tanggung jawab perubahan kapda klien. Bantu klien menyusun kembali tujuan memodofikasi perilaku klien. Anjurkan kepada klien untukmenggunakan koping yang baru yang lebih adaptif. Selama dirawat, dorong klien untuk melakukan aktivitas fisik untuk menyalurkan energi klien.
3.5 Evaluasi Keperawatan
Hasil evaluasi dari tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien adalah bina hubungan saling percaya terjalin antara mahasiswa dan klien. Klien mau mengungkapkan perasaannya dan menceritakan masalahnya dimasa lalu dan masa sekarang. Klien sering menanyakan pendapat mahasiswa atas masalah yang dihadapi klien. Komunikasi terjadi dua arah. Klien juga mampu mengenal ansietas yang sedang dialaminya. Hal ini terlihat dari keterbukaan klien mengungkapkan rasa cemas yang dirasakan setelah melihat teman temannya (pasien lain) pulang ataupun melanjutkan mengikuti program rehabilitasi. Klien mengatakan masih belum tahu kelanjutan program pengobatan klien. Klien juga belum menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapinya. Klien. Klien juga mengatakan masih belum banyak mengetahui tetang pilihan terapi rumatan yaitu dengan suboxone. Hal yang ditunjukkan dan dituturkan klien, mahasiswa dapat menentukan rencana tindakan yang bisa dilakukan yaitu diskusi terkait masalah yang dihadapi dan juga diskusi terkait terapi rumatan suboxone.
Saat mahasiswa mengajarkan klien teknik relaksasi nafas dalam, respon klien terlihat bagus. Klien mnegikuti prosedur yang telah dijelaskan sebelumnya oleh mahasiswa. Pada saat percobaan pertama, klien masih sulit untuk menciptakan pikiran yang tenang dalam dirinya. Klien mengatakan pikirannya masih terasa penuh dan suntuk. Klien juga masih terlihat kesulitan untuk konsentrasi. Pada pertemuan berikutnya, klien memilih tempat yang
berbeda untuk melakukan nafas dalam. Klien memilih mencoba melakukan nafas dalam dengan posisi lebih rileks, yaitu di tempat yang lebih terbuka. Klien memilih tempat yang terkena angin atau udara luar. Klien melakukan teknik nafas dalam dengan baik. Klien mengatakan dengan kondisi seperti ini pikirannya lebih mudah untuk konsentrasi dan merasa lebih rileks.
Pada pertemuan berikutnya klien mengatakan sudah mencobanya di tempat lain yaitu di tempat tidur dengan posisi sambil terlentang. Klien mengatakan dengan posisi seperti itu juga bisa merasakan ketenangan. Klien mengatakan ketika mencoba fokus satau konsentrasi itu adalah hal yang paling sulit dilakukan karena sumber kecemasan klien adalah pikiran-pikiran yang ada dalam pikiran klien. Klien mengatakan masalah dengan istrinya merupakan masalah terberat yang dihadapinya. Setiap ingin berinteraksi dengan istrinya, klien mengatakan merasa cemas karena tidak tahu harus menghadapinya seperti apa. Klien juga merasa cemas terkait bagaimana penerimaan keluarga besarnya terhadap dirinya. Klien tidak mau keluarganya masih beranggapan bahwa dirinya tidak ada perubahan. Klien ingin menunjukkan kepada keluarganya bahwa klien mampu berubah ke arah yang lebih baik dan mempunyai masa depan yang bisa diraihnya. Klien mengatakan dirinya akan terus mencoba teknik ini. Klien mengatakan hal ini bisa dilakukan ketika klien merasakan cemas di kemudian hari.
Diskusi terkait terapi rumatan suboxone berlangsung efektif. Klien aktif bertanya tentang informasi yang mau diketahuinya. Klien terlihat antuisias. Klien mengatakan dirinya akan mengikuti terpai rumatan dibanding mengikuti program rehabilitasi. Klien mengungkapkan bahwa ilmu atau pengetahuan yang didapat ketika klien mengikuti beberapa kali program rehabilitasi harus bisa klien terapkan saat ini. Klien pernah mencobanya namun gagal. Namun saat ini dengan bantuan terapi rumatan klien optimis bisa melakukan perubahan dalam hidupnya. Klien juga bertekad mengejar mimpi yang belum dapat dicapainya. Klien mengatakan akan mengahadapi masalah yang dihapinya, bukan lari dan mengalihkan dengan menggunakan
putau. Klien akan mencari kesibukan yaitu dengan kuliah sambil menjalankan bisnis yang selama ini dijalaninya. Klien juga memikirkan kemungkinan usaha lain yang dapat klien kembangkan. Apabila ada waktu luang, klien akan menghabiskan bersama anak dan istrinya.
4.1 Profil Lahan Praktik
Rumah Sakit ketergantungan obat (RSKO) adalah rumah sakit yang memiliki kekhususan dalam mengatasi klien dengan masalah ketergantungan NAPZA. Standar pelayanan terapi pada klien dengan ketergantungan obat terdiri dari berbagai bentuk pelayanan detoksifikasi NAPZA dan rehabilitasi NAPZA. Pelayanan detoksifikasi NAPZA adalah proses atau tindakan mesid untuk membantu klien dalam mengatasi gejala putus NAPZA, sedangkan pelayanan rehabilitasi NAPZA adalah upaya terapi (intervensi) berbasis bukti yang mencakup perawatan medis, psikososial, konbinasi keduanya, baik perawatan rawat inap jangka pendek maupun jangka panjang (Direktorat Jenderal bina pelayanan medik kementrian kesehatan, 2011).
Selain menangani pasien dengan ketergantungan zat, RSKO juga memberikan pelayanan umum seperti Poli penyakit dalam, Poli THT, Poli gigi, Poli syaraf, Poli anak, Poli kebidanan,, dan Poli umum. RSKO juga dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang dan pelayanan penunjang seperti pelayanan konseling dan rehabilitasi medik, termasuk tersedianya instalasi rawat inap.
Dalam kekhususannya menangani klien dengan ketergantungan NAPZA, terdapat ruang MPE dan Rehabilitasi. Ruang MPE (Medication Psychiatric
Evaluation) adalah ruang yang biasa disebut sebagai ruang akut. Pasien yang
masuk dengan gejala putus zat akan masuk ke ruang MPE terlebih dahulu. Ruang MPE berfungsi untuk menstabilkan keadaan pasien dari sindrom atau gejala putus zat. Peran farmakotika lebih besar disini. Lama waktu perawatan pasien di ruang MPE antara 2 minggu sampai 3 bulan. Setelah klien dianggap stabil dan bisa mengikuti program selanjutnya, maka pasien dapat melanjutkan ke tahap rehabilitasi.