• Tidak ada hasil yang ditemukan

Flora yang secara normal terdapat di dalam saluran pencernaan manusia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Flora yang secara normal terdapat di dalam saluran pencernaan manusia."

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VII

PENYAKIT IKAN BAKTERIAL

1. Aeromonas salmonicida 2. Renibacterium salmoninarum 3. Mycobacterium

4. Nocardia

5. Edwardsiella tarda & E. ictaluri 6. Streptococcus

7. Pasteurella 8. Yersinia ruckeri

9. Vibrio anguilarum & V. ordalii 10. Aeromonas hydrophila 11. Flexibacter collumnaris 12. Pseudomonas 13. Cytophaga psychrophylla 14. Sporocytophaga 15. Lactobacilus 16. Eubacterium terentellus 17. Streptomyces

PENYAKIT MANUSIA BAKTERIAL TERBAWA IKAN - PRODUK IKANI

1. Eschericia coli 2. Salmonella 3. Shigella 4. Vlbrio cholerae 5. Vibrioparahaemolyticus 6. Clostridium botuilnum ESCHERICHIA COLI:

Flora yang secara normal terdapat di dalam saluran pencernaan manusia.

(2)

Ditemukan strain yang dapat menyebabkan diare pada manusia (E. coli enteropatogenic)

~ EPEC (E. coli Enteropatogenic)

1. PATOGEN: tak dapat memproduksi toksin

2. PATOGEN: memproduksi toksin (enterotoksigenic F. cob) ~ ETEC penyebab traveller’s diarrhea

SIFAT-SIFAT E. coli : 1. Gram negatif

2. Termasuk kelompok enterobacteriaceae

3. Koliform fekal

4. Indikator terhadap kontaminasi faeces pada air dan susu. 5. Ukuran 1,1 - 1,5 µ x 2,0 - 6,0 µ

6. Fakultatif anaerob

7. Dapat memfermentasi laktosa 8. Uji IMVIC bereaksi ++ -- --

9. Tumbuh pada suhu 10o - 40°C opt 37°C

10. pH optimum 7,0 - 7,5 (mm. 4,0, max. 9,0)

11. Peka terhadap panas dan inaktif pada suhu pasteurisasi atau pemasakan makanan.

GEJALA INFEKSI EPEC (NON-ETEC) Demam, pusing, kejang perut dan diare

GEJALA INFEKSI ETEC

Menyebabkan sekresi berlebihan dan elektrolit dan air saluran pencernaan. Diare dehidrasi dan shock tanpa demam.

TOKSIN YANG DIBENTUK:

Toksin yang stabil terhadap panas (ST) tahan terhadap pemanasan pada suhu 100°C 15’.

Toksin yang labil terhadap panas (LT) inaktif dengan pemanasan pada suhu 60°C 30’.

(3)

Karena merupakan flora normal dalam saluran pencernaan dan mudah meng kontaminasi daging (penyambelihan) atau meng kontaminasi susu (pemerahan)

Mengkontaminasi air

Mengkontaminasi ikan dan hasil laut

Mengkontaminasi alat-alat pengolahan.

SALMONELLA

Bakteri penyebab infeksi SIFAT-SIFAT SALMONELLA: 1. Gram negatif

2. Bentuk batang

3. Tidak membentuk spora 4. Fakultatif anaerob 1. Mereduksi NO3 -

5. Memfermentasi glukosa 6. Katalase positif

7. Motil

Karena merupakan flora normal dalam saluran pencernaan dan mudah meng daging (penyambelihan) atau meng kontaminasi susu (pemerahan)

Mengkontaminasi ikan dan hasil laut alat pengolahan.

Salmonelosis SIFAT SALMONELLA:

NO2 -

Karena merupakan flora normal dalam saluran pencernaan dan mudah meng-daging (penyambelihan) atau meng kontaminasi susu (pemerahan)

(4)

8. Mempunyai flagela

9. Tidak dapat memfermentasi laktosa 10. Suhu optimum 35 - 37°C

11. pH optimum 6,5 - 7,5 12. Aw 0,945 - 0,999

KONTAMINASI SALMONELLA PADA MAKANAN Mengkontaminasi:

Telur dan hasil olahannya

Ikan dan hasil olahannya

Daging ayam

Daging sapi

Susu dan hasil olahannya

Biasanya terdapat dalam kotoran, telur dan daging unggas. GEJALA INFEKSI SALMONELLA:

Sejumlah sel Salmonella masuk ke dalam saluran pencernaan, ke saluran usus dan berkembang biak dengan baik.

Dapat melakukan penetrasi pada saluran usus sehingga menimbulkan inflamasi.

Endotoksin yang merupakan hopolisakarida pada dinding sel bakteri merupakan penyebab timbulnya gejala demam.

Gejala-gejala infeksi yang timbul setelah tertelannya sel Salmonella bervariasi tergantiing virulen dan strain jumlah sel bakteri yang tertelan dan daya tahan tubuh yang dipengaruhi oleh umur dan kesehatan penderita.

(5)

Waktu inkubasi semakin cepat jika jumlah sel semakin tinggi. 9 hari : dosis 10 5 sel

3 hari : dosis 10 9 sel

PENCEGAHAN KONTAMINASI

Pencucian telur dengan air hangat 65,6°C selama 3 menit.

Pencucian dengan larutan detergent pada suhu 49°C.

Tetapi perlakuan panas berpengaruh terhadap (perubahan) sifat produknya, sehingga dilakukan usaha lain:

Mengatur pH

Penambahan bahan kimia Detergent

(6)

Nilai D dan Salmonella bervariasi tergantung substrat tempat pemanasannya 0,06 - 11,33 menit pada suhu 60°C (D60°C).

Untuk mengurangi kontaminasi Salmonella pada daging ayam dapat dilakukan dengan:

Semprot 200 ppm larutan khlorin Pencelupan 3% larutan asam suksinat Pencelupan 0,5% glutaraldehid

(Kelemahan: mempengaruhi bau dan rasa)

Perlakuan lain:

Dengan asam asetat, H2O2, radiasi UV, pemasakan dengan microwave.

Sanitasi yang baik terhadap alat pengolahan.

(7)

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI PRE ENRICHMENT

LACTOSE BROTH Pengenceran 1 : 10

35°C, 24 jam Selenite cystein broth

35°C, 24 jam

Samonefla - Shigella Agar 35°24 jam

Koloni:

tak berwarna

coklat muda

merah muda

kuning

bagian tengah berwarna hitam UJI PENDUGA

TSI (Triple Sugar Iron) 35°C, 24 jam

Reaksi :

Alkali (merah) permukaan

asam (kuning)

gas bagian bawah tabung

H2S warna hitam (FeS)

UJI PENGUAT UJI UREASE

UJI LENGKAP BIOKIMIA DAN SEROLOGI

(8)

SHIGELLA SIFAT:

Gram negatif

Bentuk batang

Non motil

Suhu optimum 37°C

Tahan konsentrasi garam 5 - 6%

Tidak dapat menggunakan sitrat dan malonat

Memfermentasi glukosa 4 SUB GRUP:

S. dysenteriae (10 serotipe)

S. flexneri (6 serotipe)

S. boydii (15 serotipe)

S. sonnei (1 serotipe) GEJALA DISENTRI BASILER:

Shigelosis bervariasi dan ringan parah

Waktu inkubasi 1 - 7 hari

Bila dosis tinggi, gejala lebih cepat lagi (12 - 34 jam)

gejala : mulas, kejang perut, diare bercampur darah, muntah. Diare parah luka pada saluran pencernaan

S. dysenteriae - paling virulen

Disebut juga : Bacillus shiga

di Amerika : S. sonnei - 65% S. flexneri - 25%

Infektif

S. dysenteriae : 10’

S.flexneri(1): 102

S. flexneri (2): 104

S.flexneri(3): 108 -1010

(9)

KONTAMINASI SHIGELLA PADA MAKANAN :

Dibandingkan dengan Salmonella, Shigella lebih sering ditemukan dalam air.

Mengkontaminasi ikan, susu, udang, salad, dan puding.

Tidak mengkontarninasi hewan piaraan. PENGEGAHAN: Pasteurisasi makanan VIBRIO CHOLERAE SIFAT-SIFAT:

Gram negatif

Tak berspora

Motil, flagela polar tunggal

Bentuk batang melengkung (S, spiral)

Fakultatif anaerob

pH optimum 7,3 - 8,0

Suhu optimum 18-- 37°C

Konsentrasi NaCl optimum 3% (dapat hidup dalam air laut)

Dapat hidup pada pangan hasil laut: 2 - 4 hari -- suhu 30 - 32° C

4 - 9 hari -- suhu 5 – 10o C

Menghasilkan enterotoksin GEJALA KOLERA:

Waktu inkubasi 6-9 jam sampai 2-3 hari (tergantung jumlah bakteri)

Pada infeksi parah, diare sampai 20 - 30 kali

Tekanan darah menurun

Kejang, kehilangan cairan

(10)

KONTAMINASI VIBRIO CHOLERAEPADA MAKANAN:

Ikan

Udang

Kerang

Kepiting

Lobster

Sayuran

Buah-buahan

Air PENCEGAHAN:

Pemanasan pada suhu 55°C selama 15 menit

VIBRIO FARAHAEMOLYTICUS SIFAT-SIFAT

Gram negatif

Fakultatif anaerol,

Batang pendek, melengkung

Memproduksi indol, katalase

Fermentasi glukosa, maltosa, trehalosa

Menghidrolisa pati dan khitin

Suhu optimum 35

-- 37°C

Waktu generasi 12 - 15 menit

pH optimum 7,5 - 8,6 ADA 2 BIOTIPE

Biotipe I : Vibrioparahaemolyticus Biotipe 2 : Vibrio alginolyticus

(11)

GEJALA INFEKSI:

Diare encer (28%)

Kejang perut (82%)

Mual (71%)

Muntah, pusing, demam Waktu inkubasi 4 - 96 jam (rata-rata 12- 24 jam)

KONTAMINASI V. FARAHAEMOLYTICUS PADA MAKANAN:

Air dengan kadar b.o. tinggi

Udang

Ikan

Kepiting

Kerang

Lobster PENCEGAHAN: D 47o C 5,3 menit Suhu 21° C 48 menit suhu 37o C CLOSTRIDIUM BOTULINUM (INTOKSIKASI) Menghasilkan : racun botulinum (neurotoksin) Bakteri ini bersifat saprofit

Sifat-sifat:

Gram positif

Batang

Spore - forming

Fermentasi glukosa dan maltosa

Menghasilkan H2S

Tidak memfermentasi laktosa

Tidak mereduksi NO3

(12)

TOKSIN BOTULINUM DIBEDAKAN : 1. TOKSIN A : dapat menyebabkan botulisme pada manusia

2. TOKSIN B : sering terdapat di dalam tanah kurang beracun <Toksin A 3. TOKSIN Cl keduanya dapat menyebabkan intoksikasi

pada ternak sapi, ayam, atau hewan lain 4. TOKSIN C2 (tidak pada manusia).

5. TOKSIN D : penyebab intoksikasi pada ternak sapi.

6. TOKSIN E : penyebab intoksikasi bukan pada ternak sapi, tetapi pada manusia. Sering ditemukan pada ikan dan hasil olahannya. 7. TOKSIN F : penyebab intoksikasi pada manusia.

8. TOKSIN G : sering ditemukan di dalam tanah, tetapi belum diketahui daya racunnya.

CLOSTRIDIUM BOTULINUMDIKELOMPOKKAN:

1. GRUP I : semua strain proteolitik termasuk semua strain A dan beberapa B dan F. 2. GRUP II : strain yang tidak bersifat proteolitik tetapi dapat menyebabkan

intoksikasi pada manusia, termasuk semua strain E dan beberapa B dan F.

3. GRUP III : strain yang tidak bersifat proteolitik dan tidak menimbulkan gejala intoksikasi pada manusia, termasuk semua strain C dan D.

PEMBENTUKAN RACUN BOTULINUM DALAM MAKANAN

Karena anaerob : ditemukan dalam makanan yang dikalengkan atau dibotolkan. Strain A dan B : buncis, jagung, air, asparagus, dan bayam yang dikalengkan. Strain E : ikan, ikan asap.

Daging, ikan dan makanan yang berasam rendah merupakan substrat yang baik untuk pembentukan racun.

Pembentukan toksin akan terhambat pada pH di bawah 4,6, sehingga jika ada makanan yang berasam tinggi dapat ditumbuhi kacang pH naik Clostridium botulinum dapat tumbuh dan membentuk toksin.

(13)

Produksi toksin menurun pada kadar air 40% dan pada kadar air 30% terhambat.

Konsentrasi NaC1 8% atau > akan

Strain yang bersifat proteolitik mempunyai suhu o

Strain non-proteolitik suhu optimum 26

SIFAT DAN CARA KERJA RACUN BOTULINUM

Diproduksi dalam bentuk toksin progenitor. Toksin terse

enzim tertentu dalam tubuh manusia atau hewan menjadi komponen beracun.

Toksin yang telah aktif dalam tubuh akan dibawa melalui pembuluh darah ke sistem syaraf kholmergik dimana toksin tersebut bekerja pada bagian akhir sistem s

dengan cara mencegah bagian sineptik untuk melepaskan asetilkholin yang dapat menggerakkan otot-otot melalui reaksi dengan ujung

Produksi toksin menurun pada kadar air 40% dan pada kadar air 30% terhambat. Konsentrasi NaC1 8% atau > akan menghambat pembentukan toksin.

Strain yang bersifat proteolitik mempunyai suhu optimum 35°C (tumbuh dan toksin) proteolitik suhu optimum 26- 28°C.

SIFAT DAN CARA KERJA RACUN BOTULINUM

Diproduksi dalam bentuk toksin progenitor. Toksin tersebut dapat diaktifkan oleh enzim tertentu dalam tubuh manusia atau hewan menjadi komponen beracun. Toksin yang telah aktif dalam tubuh akan dibawa melalui pembuluh darah ke sistem syaraf kholmergik dimana toksin tersebut bekerja pada bagian akhir sistem s

dengan cara mencegah bagian sineptik untuk melepaskan asetilkholin yang dapat otot melalui reaksi dengan ujung-ujung otot lumpuh. Produksi toksin menurun pada kadar air 40% dan pada kadar air 30% terhambat.

ptimum 35°C (tumbuh dan toksin)

but dapat diaktifkan oleh enzim tertentu dalam tubuh manusia atau hewan menjadi komponen beracun. Toksin yang telah aktif dalam tubuh akan dibawa melalui pembuluh darah ke sistem syaraf kholmergik dimana toksin tersebut bekerja pada bagian akhir sistem syaraf dengan cara mencegah bagian sineptik untuk melepaskan asetilkholin yang dapat

(14)

Manusia lebih peka dari pada kera. Jika untuk kera dibutuhkan: 180 MLD Toksin/kg BB kera,

maka untuk manusia dibutuhkan:

34,6 MLD Toksin/kg B.B. manusia Dosis toksin yang dapat menyebabkan kematian adalah:

0,1-1/.µg

Bersifat antigenik, yaitu dapat memproduksi antibodi/antitoksin jika disuntikkan ke dalam tubuh hewan/manusia

Untuk membuat antitoksin digunakan formaldehid yang dapat menginaktifkan racun menjadi torsoid yang tidak beracun untuk imunisasi hewan/manusia.

Gejala : 12 jam --> satu minggu

Perut mulas, muntah, diare, dilanjutkan dengan serangan syaraf kelumpuhan otot. Lidah dan leher tidak dapat digerakkan dan tekanan darah menurun.

PENCEGAHAN:

PEMANASAN

Spora C botulinum sangat tahan panas. Panas yang dibutuhkan untuk menginaktifkan spora tsb tergantung dari :

-- Substrat

-- Strain C botulinum -- Jumlah dan umur spora.

(15)

Sel vegetatif tidak tahan panas, sehingga jika spora telah diinaktifkan, sel sudah mati.

Strain A & B > tahan dan pada C, D dan E Strain A & B -D 121°C = 0,21 menit Strain E -D 100°C = 0,003 - 0,017 menit

Nilai D menurun dengan semakin tingginya pemanasan: D 111°C = 2,1 menit

Nilai D dan E digunakan untuk menghitung panas yang dibutuhkan dalam pengalengan makanan.

Konsep 12 D = pengurangan jumlah spora dan 10 kurang dan 1 (sebanyak 12 LOG).

Biasanya 2,5 - 3,0 menit pada suhu 121°C.

Toksin yang terlanjur terbentuk juga dapat diinaktifkan dengan pemanasan: Toksin A : 80° C - 5 - 6 menit

Toksin B : 20° C - 15 menit

PENDINGINAN:

Penyimpanan pangan pada suhu 3,3°C atau Iebih rendah dapat mencegah pertumbuhan dan pembentukan toksin.

IRRADIASI:

RADIASI SINAR GAMMA DA dan DB : 0,224 -- 0,336 Mrad DE : 0,125 - 9,138 Mrad.

(untuk sel vegetatif) UNTUK TOKSIN

7,3 MRAD (Medium padat) 4,9 MRAD (Medium cair)

PENGERINGAN:

(16)

NITRIT:

Nitrit tidak mencegah germinasi spora, tetapi sel muda hasil germinasi spora tidak dapat tumbuh dan berkembang biak dengan adanya NO2 -.

Selama penyimpanan NO2 - akan berkurang, sehingga akhirnya c.botulinum

dapat tumbuh.

ASAM:

pH 4,6 - 5,0 (tergantung jenis substrat) kalau ada NO2- pH lebih tinggi (5,5 — 6,6).

GARAM NaCl.

Kadar NaCl 10% Aw 0,935

Tetapi untuk produk curing (NaC1 2-4%; NO2 - atau aditif yang lain dapat menghambat pertumbuhan c. botulinum.

ANTIBIOTIK:

NISIN sangat efektif (dihasilkan oleh Streptococcus lactis)

STRAIN A: 1000 - 2000 ig/m1 menghambat germinasi spora 50%. STRAIN E: 50- 100 ig/m1 menghambat germionasi spora 50% STRAIN B: 500 - 1000 tg/m1 menghambat germinasi spora 50%.

BAHAN PENGAWET LAIN:

Metil, etil, propil dan butil pada hidroksibenzoat 0,1% (medium cair). 0,2% asam sorbat (medium cair)

Asam sorbat + NO2 - dengan kadar rendah memperlambat pembentukan

toksin.

Minyak bawang putih dan bawang merah (1500 µg/g) mengurangi pembentukan toksin.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak ada rencana PT Adaro Energy Tbk mengakuisisi tambang baru tahun depan, emiten berkode saham ADRO dan anggota ini, di Bursa Efek Indonesia itu memilih untuk

Nampak jelas teramati perkembangan sedimentasi di lengan waduk tempat muara anak-anak sungai utama memasuki waduk. Penanganan mendesak aliran sedimen dari sungai Keduang

Hasil uji coba pemalaman malam menggunakan malam dingin putih atau biasa dapat dilakukan untuk desain batik yang memiliki garis putih seperti pada umumnya

Pengamatan terhadap besarnya beban dan penurunan yang terjadi dilakukan sampai mencapai keruntuhan dalam tanahnya, atau pengujian dihentikan bila

Diantara Diantara faktor faktor tersebut tersebut faktor faktor perilaku perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi,

menimbulkan dampak yang merugikan. 7.4.1 Peta-peta indikatif yang menunjukkan tanah rapuh dan marginal, termasuk lereng eksesif dan lahan gambut, harus tersedia dan digunakan

kemudian dilanjutkan dengan sentrifugasi larutan selama 20 menit. Sentrifugasi larutan ini bertujuan untuk memisahkan protein dengan glukosa. Protein akan terletak pada lapisan

Jawab: Tujuan perusahaan kami dalam program pemasarannya adalah untuk meningkatkan penjualan dari produk kami dengan penjualan tahun lalu.. Bagaimana anda (PT.