1
Borang Portofolio
Nama Peserta : dr. Rizky Hurriah L
Nama Wahana : RS Bhayangkara Lumajang
TOPIK : Visum et Repertum
Tanggal (kasus) : 21 Juni 2014
Tanggal Presentasi : 24 Juni 2014
Nama Pendamping : dr. Hendra Hartono
Tempat Presentasi : RS Bhayangkara Lumajang
OBJEKTIF PRESENTASI
o Keilmuan
o Keterampilan
o Penyegaran
o Tinjauan Pustaka
Diagnostik
o Manajemen
o Masalah
o Istimewa
o Neonatus
Bayi
o Anak
o Remaja
o Dewasa
o Lansia
o Bumil
o Deskripsi :
Seorang wanita darang ke UGD RS Bhayangkara Lumajang diantar polisi untuk
dibuatkan visum.
Korban mengaku dipukul oleh kakaknya menggunakan tangan kosong berkali-kali.
Sebalumnya korban beradu mulut dengan kakanya.
Tempat : Desa Petaunan, kec. Padang
Waktu : 21 Juni 2014 pukul 17.00
o Tujuan:
1. Mengetahui tata laksana korban penganiayaan.
2. Mengetahui tata cara penulisan Visum et Repertum korban hidup.
Bahan Bahasan
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara Membahas Diskusi
Presentasi dan
Diskusi
Pos
DATA PASIEN
Nama : Ny. M
No Registrasi : 016338
Nama klinik:
IGD RS Bhayangkara Lumajang
Telp : -
Terdaftar sejak : 2014
Data utama untuk bahan diskusi:
Diagnosis/Gambaran Klinis
Multiple hematome + subconjungitval bleeding OS
2
Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang wanita darang ke UGD RS Bhayangkara Lumajang diantar polisi untuk
dibuatkan visum.
Korban mangaku dipukul oleh kakanya menggunakan tangan kosong berkali-kali.
Sebelumnya korban mengaku beradu mulut dengan kakaknya.
Tempat : Satdion Semeru Lumajang bagian belakang
Waktu : 11 Mei 2014 pukul 00:00
Riwayat Pengobatan :
Berobat dan dijahit di RSU Dr. Haryoto Lumajang 11 Mei 2014 pk 00.45
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat Pekerjaan :
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga
Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik :
Pasien tinggal bersebelahan rumah dengan kakaknya
Riwayat Imunisasi :
-
Pemeriksaan Fisik :
Kesadaran : GCS E4 V5 M6
Kesan Umum : baik
Vital Sign : TD = 130/80, N= 100x/mnt, RR= 20x/mnt, t=36,5 C
Status gizi : Tidak diukur
Status General :
Kepala/Leher : Refleks cahaya (+/+), isokor, SCB + OS
Luka lebam ukuran 4x2 cm, 3x2 cm dan 1x1 cm
Thoraks : Simetris, ketinggalan gerak (-/-), retraksi (-/-)
Pulmo / fremitus sama, sonor, vesikuler (+/+), rh (-/-), wh (-/-)
Cor / S1-2 tunggal, regular, murmur(-), gallop (-)
Abdomen : Flat, BU +, soepel, hepar lien tak teraba
Ekstremitas : edema (-/-), akral hangat, CRT<2 detik,
3
Diagnosis : Multiple Hematome+ subconjungitval bleeding OS
Diagnosis Banding:
Planning
VeR penganiayaan korban hidup
DAFTAR PUSTAKA:
1.
Abdul Mun;im Idries, 2009. Pedoman Praktis Ilmu Kedokteran Forensik.2.
Dedi Afandi, 2008. Visum et Repertum Pada Korban Hidup.HASIL PEMBELAJARAN:
1. Diagnosis dan penulisan VeR korban hidup.
2. Komunikasi efektif dengan pasien tentang segala komplikasi.
3. Pentingnya penanganan kasus secara definitif
4
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio
Subjektif
Seorang wanita darang ke UGD RS Bhayangkara Lumajang diantar polisi untuk
dibuatkan visum.
Korban mengaku dipukul oleh kakaknya menggunakan tangan kosong berkali-kali.
Sebelumnya korban beradu mulut dengan kakaknya.
Tempat : Desa Petaunan, kec. Padang
Waktu : 21 Juni 2014 pukul 17.00
Objektif
Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik ditemukan luka akibat persentuhan dengan
benda tumpul. Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan :
Anamnesis riwayat penyakit:
Terdapat riwayat penyerangan oleh pelaku.
Pemeriksaan fisik yang khas:
Ditemukan multiple hematome serta perdarahan Sub Conjungitval Bleeding
oculi sinistra.
Assesment
Multiple hematome + subconjungitval bleeding OS
Plan
Diagnosis: -
5 Visum et Repertum
A. Definisi
Di dalam melakukan tugas dan profesinya, seorang dokter mempunyai tugas utama adalah menegakkan diagnosis medis bagi penderita untuk kemudianmem berikan terapi yang tepat dan rasional dengan tujuan mengembalikan kondisi tubuh penderita tersebut sefisiologis mungkin. Terdapat pula tugas lain yang patu tdiperhatikan oleh setiap dokter dalam kaitan dengan pengabdian kepada masyarakat,yaitu membantu proses penegakan hukum dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan korban sebagai akibat suatu tindak pidana, baik korban hidup maupun korban mati, juga pemeriksaan terhadap barang bukti lain yang diduga berasal daritubuh manusia. Untuk melaksanakan tugas tersebut maka pihak yang berwenang (penyidik) akan menyertainya dengan surat permintaan visum et repertum (SPVR), dengan demikian maka dokter akan melaporkan hasil pemeriksaannya secara tertulis kepada pihak peminta visum et repertum tersebut. Hasil dari pemeriksaan secara tertulis tersebut dituangkan dalam bentuk surat keterangan ahli yang lazim disebut visum et repertum.
Pengertian arti harafiah dari Visum et Repertum yaitu berasal dari bahasa latin yaitu “visual” yang berarti melihatam dan “repertum”: yaitu melaporkan. Sehingga bila digabungkan dari arti harafiah ini adalah apa yang dilihat dan ditemukanr sehingga Visum et Repertum merupakan suatu laporan tertulis dari dokter (ahli) yang dibuat berdasarkan sumpah, mengenai apa yang dilihat dan ditemukan atas bukti hidup, mayar atau fisik maupun barang bukti lain, kemudian dilakukan pemeriksaan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. Dalam Stbl tahun 1937 No 350 dikatakan bahwa “Visa et Reperta” para dokter yang dibuat baik atas sumpah dokter yang diucapkan pada waktu menyelesaikan pelajarannya di Indonesia.
B. Klasifikasi
1. Visum et Repertum Korban Hidup a. Visum et Repertum
6 Diberikan kepada korban setelah diperiksa didapatkan lukanya tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaannya. b. Visum et Repertum sementara
Untuk korban yang sementara masih dirawat di rumah sakit akibat lukanya.
c. Visum et Repertum lanjutan
Untuk korban yang lukanya tersebut (VeR sementara) kemudian lalu meninggalkan rumah sakit ataupun akibat lukanya tersebut korban kemudian dipindahkan ke rumah sakit atau dokter lain maupun meninggal dunia.
2. Visum et Repertum mayat
3. Visum et Repertum di Tempat Kejadian Perkara (TKP) 4. Visum et Repertum penggalian mayat
5. Visum et Repertum mengenai umur 6. Visum et Repertum Psikiatrik
7. Visum et Repertum mengenai barang bukti
C. Dasar Hukum
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun mati ataupun bagian tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah sumpah dan kepentingan peradilan. Menurut Budiyanto dkk, dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut:
Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
(i) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan ahli lainnya.
7 (ii) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (i) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
Selanjutnya, keberadaan Visum et Repertum tidak hanya diperuntukkan kepada seorang korban (baik korban hidup maupun tidak hidup) semata, akan tetapi untuk kepentingan penyidikan juga dapat dilakukan terhadap seorang tersangka sekalipun seperti VeR psikiatris. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan dalam KUHAP yaitu:
Pasal 120 (1) KUHAP
Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus.
Apabila pelaku perbuatan pidana tidak dapat bertanggung jawab, maka pelaku dapat dikenai pidana. Sebagai perkecualian dapat dibaca dalam Pasal 44 KUHP sebagai berikut:
(1) Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakitnya, tidak dipidana.
(2) Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan dalam Rumah Sakit Jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.
(3) Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, dan Pengadilan Negeri.
Dalam menentukan adanya jiwa yang cacat dalam tumbuhnya dan jiwa yang terganggu karena penyakit, sangat dibutuhkan kerjasama antar pihak yang terkait, yaitu ahli dalam ilmu jiwa (dokter jiwa atau kesehatan jiwa), yang dalam persidangan nanti muncul dalam bentuk Visum et Repertum Psychiatricum, digunakan untuk dapat mengungkapkan keadaan pelaku perbuatan ((tersangka) sebagai alat bukti surat yang dapat dipertanggungjawabkan.
8 Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP. Penyidik yang dimaksud disini adalah penyidik sesuai pasal 6(1) butir a, yaitu penyidik yang menjabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena Visum et Repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta Visum et Repertum, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (pasal 7(2) KUHAP). Sanksi hokum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanksi pidana :
Pasal 216 KUHP:
Barangsiapa dengan sengaja tidak menurutio perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalakan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
D. Peran dan Fungsi
Visum et Repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medic yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et Repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter dokter mengenai hasil pemeriksaan medic tersebut tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian Visum et Repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca Visum et Repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada sesorang, dan para praktisi hokum dapat
9 menerapkan norma-norma hokum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia.
Apabila Visum et Repertum belum dapat menjernihkan duduk persoalan di siding pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukan bahan baru, seperti tercantum dalam KUHAP, yang memungkinkan dilakukan pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180 KUHAP.
Bagi penyidik, Visum et Repertum berguna untuk mengungkapkan perkara. Bagi Penuntut Umum (jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yang akan didakwakan, sedangkan bagi hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu perlu dibuat suat Standar Operasional Prosedur (SOP) pada suatu Rumah Sakit tentang tata laksana pengadaan Visum et Repertum.
E. Struktur dan Isi
Setiap Visum et Repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai berikut: 1. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa.
2. Bernomor dan bertanggal.
3. Mencantumkan kata “Pro Justitia” di bagian kiri atas (atau tengah atas) 4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan pemeriksaan.
6. Tidak menggunakan istilah asing. 7. Ditandatangani dan diberi nama jelas. 8. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
9. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan.
10. Hanya diberikan kepada penyidik peminta Visum et Repertum. Apabila ada lebih dari satu instansi peminta, misalnya POLRI dan penyidik POM, dan keduanya berwenang
10 untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi Visum et Repertum masing-masing asli.
11. Salinannya diarsipkan sengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan disimpan sebaiknya hingga 20 tahun.