• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN RESMI FOTOSINTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN RESMI FOTOSINTESIS"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan serta memilih tujuh

Menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan serta memilih tujuh Hidrillaibawa ke tempat yang tersinari matahari dengan posisi gelas corong yang menggantung pada bekar glass dan ditahan mengibawa ke tempat yang tersinari matahari dengan posisi gebeker glass 500 ml dimasukkan kedalam beker glass beker glass 500 ml berwarna pudar, angkat daun tersebut dan tetsi denga larutan iodine. Amati warna yang terbentuk pada ti dan menghitung banyak gelembung udara besar dan gelembung udara kecil yang dihasilkan selamat 10 menit pertama.berwarna pudar, angkat daun tersebut dan tetsi deti dan menghitung banyak gelembung udara besar dan ge.000 ml dan daun yang telah direndam dimasukkan da.000 ml dan daun yang telah direndam dimasukkan dalam beker glass 500 ml beserta alkohol, bila perlu tambahkan alkoholitutup pada Hari Minggu dipetik pada Hari Senin pukul 09.00 dan direndam dalam cawan petri yang berisi alkohol 96%.itutup pada Hari Minggu dipetik pada Hari Senin pukulan NaHCO3 sebanyak 10 ml dan kembali mengamati daan NaHCO3 sebanyak 10 ml dan kembali mengamati dan menghitung gelembung yang dihasilkan pada 10 menit ng reaksi pada urutan paling atas. Proses ini dilakukan dalam ember yang telah diisi air agar tidak ada gelembung udara pang reaksi pada urutan paling atas. Proses ini dilakukan dalam ember yang telah diisi air agar tidak ada gelembung udara paSebagian dari HidrillaSebagian dariMencatat jumlah gelembung besar dan gelembung kecil pada tabel pengamatan.Mencatat jumlah gelembung besar dan gelembung kecil pada tabel pengamatan.Menutup sebagian daun dengan alumMenutup sebagian daun dengan aluminium foil pada Minggu pukul 14.30.dimasukkan kedalam beker glass 1.000 ml dan ditunggu sampai daun berubah war Hidrilla sp dimasukkan kedalam gelsp dimasukkan kedalam gelas corong dan sebagian ada di bagian luar corong.nga larutan iodine. Amati warna yang terbentuk pada daun.inium foil pada Minggu pukul 14.30.1.000 ml dan ditunggu sampai daun berubah warna menjadi pudar.lam beker glass 500 ml beserta alkohol, bila perlu tambahkan alkohol09.00 dan direndam dalam cawan petri yang berisi alkohol 96%.n menghitung gelembung yang dihasilkan pada 10 menit kedua.lembung udara kecil yang dihasilkan selamat 10 menit pertama.las corong yang menggantung pada bekar glass dan ditahan mengas corong dan sebagian ada di bagian luar corong.LAPORAN RESMILAPORAN RESMI Hidrilla sp dengan ukuran panjang yang sama.sp dengan ukuran panjang yang sama.na menjadi pudar.daun. kedua.

PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

FOTOSINTESIS FOTOSINTESIS Disusun Oleh Disusun Oleh Deswi Qur’ani Deswi Qur’ani (1130814(11308144007)4007)  Nurrohman Eko P  Nurrohman Eko P (11308(11308144018)144018) Jalu

Jalu Prianggodo (11308144029)Prianggodo (11308144029) Ganda Aditya

Ganda Aditya W (11308144037)W (11308144037) Biologi Swadana

Biologi Swadana

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSI

UNIVERSITTAS AS NEGERI NEGERI YOGYYOGYAKARTAKARTAA 2012

(2)

HALAMAN PENGESAHAN : Laporan Praktikum Fotosintesis

Oleh : Kelompok VII Yogyakarta, 29 Oktober 2012 Anggota  Nama NIM TTD 1. Deswi Qur’ani 11308144007 1. 2.  Nurrohman Eko P 11308144018 2. 3. Jalu Prianggodo 11308144029 3.

4. Ganda Aditya Wibowo 11308144037 4.

Diserahkan Pada tanggal 30 Oktober 2012

Mengetahui, Dosen Pembimbing/Asisten

(3)

I. Fotosintesis

Acara : kegiatan 14 dan kegiatan 15 Kasus : kegiatan 14

- Pengaruh penambahan substrat CO2 terhadap laju fotosintesis?

kegiatan 15

- Benarkah cahaya mutlak dibutuhkan untuk fotosintesis?

II. Tujuan Praktium

1. Mengetahui pengaruh penambahan substrat terhadap laju fotosintesis 2. Membuktikan apakah cahaya mutlak dibutuhkan untuk proses fotosintesis

III. Kajian Pustaka

Tumbuhan, khususnya tumbuhan tingkat tinggi memerlukan makanan sebagai kebutuhan pokok agar tetap bertahan hidup, tumbuhan tersebut harus melakukan suatu proses yang dinamakan proses sintesis karbohidrat yang terjadi dibagian daun satu tumbuhan yang memiliki klorofil, dengan menggunakan cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tumbuhan untuk proses tersebut. Tanpa adanya cahaya matahari tumbuhan tidak akan mampu melakukan proses fotosintesis, hal ini disebabkan klorofil yang berada didalam daun tidak dapat menggunakan cahaya matahari karena klorofil hanya akan berfungsi bila ada cahaya matahari (Dwidjoseputro, 1986).

Fotosintesis berasal dari kata foton yang berarti cahaya dan juga sintesis yang berarti  penyusunan, jadi fotosintesis dapat diartikan proses penyusunan dari zat organik berupa H2O

dan CO2 menjadi senyawa organik yang kompleks berupa karbohidrat (Cn(H2O)n) yang juga

menghasilkan O2 dan uap air (H2O), proses ini memerlukan cahaya dan juga klorofil.

Fotosintesis hanya dapat terjadi pada tumbuhan yang mempunyai klorofil, yaitu pigmen yang  berfungsi sebagai penangkap energi cahaya matahari (Kimball, 2002). Dari peryataan diatas

dapat dituliskan persamaan reaksi dari proses fotosintesis, yaitu: Cahaya Matahari

12H2O + 6CO2 C6H12O6+ 6O2+ 6H2O

klorofil

Orang yang pertama kali menemukan fotosintesis adalah Jan Ingenhousz. Fotosintesis merupakan suatu proses yang penting bagi organisme di bumi, dengan fotosintesis ini tumbuhan menyediakan bagi organisme lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Jan Ingenhosz melakukan percobaan dengan memasukkan tumbuhan Hydrilla verticillata ke dalam bejana yang berisi air. Bejana gelas itu ditutup dengan corong terbalik dan diatasnya diberi tabung reaksi yang diisi air hingga penuh, kemudian bejana itu diletakkan di terik 

(4)

matahari. Tak lama kemudian muncul gelembung udara dari tumbuhan air itu yang menandakan adanya oksigen (Kimball, 1993).

Pada tahun 1860, Sach membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan amilum. Dalam percobaannya tersebut ia mengguanakan daun segar yang sebagian dibungkus dengan kertas timah kemudian daun tersebut direbus, dimasukkan kedalam alkohol dan ditetesi dengan iodine. Ia menyimpulkan bahwa warna biru kehitaman pada daun yang tidak ditutupi kertas timah menandakan adanya amilum/karbohidrat (Malcome, 1990).

Fotosintesis berlangsung dalam 2 tahap, yaitu :

1. Reaksi Terang

Reaksi terang fotosintesis merupakan reaksi pengikatan energi cahaya oleh klorofil yang berlangsung di grana, persisnya di membran tilakoid yang dilaksanakan oleh fotosistem. Fotosistem merupakan unit yang mampu menangkap energi cahaya matahari dalam rantai transfor elektron pada fotosintesis. Tersusun atas kompleks antene pusat reaksi dan akseptor elektrona.

Reaksi terang menggunakan dua fotosistem yang berhubungan. Fotosistem I menyerap cahaya dengan panjang gelombang 700 nm maka disebut P700, fotosistem II menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nm maka disebut P680. Bila bekerja  bersama, 2 fotosistem ini melakukan proses fotofosforilasi non-siklik yang menghasilkan

ATP dan NADPH. Fotosistem I mentransfer elektron ke NADP+ untuk membentuk   NADPH. Kehilangan elektron digantikan oleh elektron dari fotosistem II. Fotosistem II

dengan potensial oksidasinya yang tinggi dapat memecah air untuk menggantikan elektron yang ditransfer ke fotosistem I. Kedua fotosistem ini dihubungkan oleh kompleks  pembawa elektron yang disebut sitokrom/komplek b6-f. Kompleks ini menggunakan energi dari pemindahan elektron untuk memindahakan proton dan mengaktifkan gradien  proton yang digunakan oleh enzim ATP sintase. Saat pusat reaksi Fotosistem II menyerap

foton, elektron tereksitasi pada molekul klorofil P680, yang mentransfer elektron ini ke akseptor elektron. P680 teroksidasi melepaskan elektron dari kulit terluar atom Mg. Atom Mg yang teroksidasi dengan bantuan enzim pemecah air, melepaskan elektron dari atom oksigen dari 2 molekul air. Proses ini membuat P680 menyerap 4 foton untuk melengkapi oksidasi 2 molekul air dan mengahsilkan 1 oksigen. Elektron yang tereksitasi dibawa oleh  plastoquinon dan kemudian diterima oleh kompleks b6-f. Kehadiran elektron menyebabkan kompleks memompa proton ke celah tilakoid, kemudian elektron dibawa oleh plastosianin ke fotosistem I.

Pusat reaksi fotosistem I menyerap foton maka elektronnya tereksitasi. ”Lobang” yang ditinggal elektron segera ditempatin olek elektron dari Fotosistem II, sedangkan elektron yang tereksitasi tersebut ditangkap oleh ferredoxin. Ferredoxin tereduksi membawa

(5)

elektron dengan potensial yang tinggi kemudian ditangkap oleh NADP+ untuk  membentuk NADPH.Reaksi ini dikatalisasi oleh enzim NADPH reduktase. Enzim ATP sintase menggunakan gradien proton yang tercipta saat tranpor elektron untuk mensintesis ATP dari ADP + Pi.

2. Reaksi gelap

Reaksi gelap adalah reaksi pembentukan gula dari CO2. Berbeda dengan reaksi terang,

reaksi gelap atau reaksi tidak bergantung cahaya bisa terjadi pada saat siang dan malam, namun pada siang hari laju reaksi gelap tentu lebih rendah dari laju reaksi terang. Reaksi gelap fotosintesis merupakan reaksi pengikatan CO2 oleh molekul RuBP (Ribolosa

Bifosfat) untuk mensintesis gula yang berlangsung distroma dengan memanfaatkan energi dari reaksi terang yang berupa ATP dan NADPH, reaksi gelap meliputi tiga hal penting, yaitu:

a.Karboksilasi : merupakan pengikatan CO2 oleh RuPB untuk membentuk molekul PGA.

 b.Reduksi : PGA (3C) direduksi oleh NADPH menjadi PGAL (3C). c.Regenerasi : pembentukan kembali RuBP.

Fotosintesis disebut mekanisme C3, karena molekul yang pertama kali terbentuk  setelah fiksasi karbon adalah molekul berkarbon 3. Kebanyakan tumbuhan menggunakan fotosintesis C3 disebut tumbuhan C3. Untuk beberapa tumbuhan, mereka terpaksa melakukan fotosintesis dengan cara yang sedikit berbeda karena kondisi lingkungan. RuBP, alih-alih mengikat CO2, justru mengikat O2 sehingga berubah menjadi glikolat dan

terurai. Proses ini disebut fotorespirasi. Saat fiksasi karbon, CO2 dan O2 berkompetisi

untuk berikatan dengan RuBP. Pada kondisi normal bersuhu 25 C, 20% fiksasi karbon untuk fotosintesis hilang karena fotorespirasi. Kemungkinan makin meningkat saat kondisi panas, kering dan stomata menutup di siang hari untuk menyimpan air. Kondisi ini menyebabkan CO2 tidak bisa masuk dan O2 tidak bisa keluar sehingga terjadi

fotorespirasi. Untuk menanggulangi hal tersebut, maka tanaman mengikatkan CO2 ke

fosfoenolpiruvat (PEP), dikatalisis oleh PEP karboksilase dan membentuk senyawa 4 karbon, biasanya oksaloasetat. Mekanisme ini disebut mekanisme C4. Pengikatan ini terjadi disel mesofil. Oksaloasetat kemudian berubah menhadi malat yang memasuki sel seludang dan disanalah malat melepaskan CO2 untuk memulai siklus Calvin. Malat

(6)

 berubah menjadi piruvat yang keluar menuju sel mesofil, berubah menjadi PEP untuk   berikatan lagi dengan CO2. Contoh tumbuhan C4 yaitu jagung.

Mekanisme fotosintesis lainnya yaitu CAM (Crassulacean Acid Metabolism). Tumbuhan CAM melakukan persis sama yang dilakukan tumbuhan C4 namun  peristiwanya terjadi di sel mesofil dan fiksasi CO2 menggunakan PEP di malam hari dan

sikuls Calvin terjadi di siang hari.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis adalah sebagai berikut : Faktor luar 

1. Cahaya

Pengaruh unsur cahaya pada tanaman tertuju pada pertumbuhan vegetatif dan generatif. Tanggapan tanaman terhadap cahaya ditentukan oleh sintesis hijau daun, kegiatan stomata ( respirasi, transpirasi), pembentukan anthosianin, suhu dari organ-organ permukaan, absorpsi mineral hara, permeabilitas, laju pernafasan, dan aliran  protoplasma (Jumin 2008:8). Secara teoritis, semakin besar jumlah energi yang

tersedia akan memperbesar jumlah hasil fotosintesis.

2. Konsentrasi CO2

Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapat digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis.

3. Suhu

Rentang suhu yang memungkinkan tumbuhan berfotosintesis ternyata sangat luas. Pengaruh suhu terhadap fotosintesis bergantung pada spesies, keadaan lingkungan tempat tumbuhan itu tumbuh, dan keadaan lingkungan saat pengukuran. Tanaman seperti jagung, sorgum, kapas, dan kedelai dapat tumbuh baik pada iklim hangat. Biasanya mempunyai suhu optimum lebih tinggi dibandingkan denan tanaman seperti kentang, gandum, oats, dan jelai yang ditanam di daerah yang lebih dingin. (Salisbury and Ross, et al., 1995).

Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim. Suhu optimum sekitar 35º C.

(7)

4. Kadar Air 

Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, tertutupnya stomata akan menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis (Salisbury and Rose, et al., 1995)

5. Kadar fotosintat (hasil fotosintesis)

Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang maka laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan  berkurang.

6. Tahap pertumbuhan

Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambah daripada tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.

Faktor dalam

Kandungan klorofil, morfologi dan anatomi daun serta akumulasi hasil fotosintesis. Jumlah klorofil akan menentukan kecepatan fotosintesis, struktur anatomi dan morfologi daun mempengaruhi fotosintesis terkait dengan kecepatan difusi CO2 dan lewatnya cahaya pada

mesofilnya.

IV. Metode Praktikum:

1. Tempat dan waktu: Lab biokimia, FMIPA, UNY/ 23 Oktober 2012/ 07.00 WIB 2. Alat dan Bahan

a. Kegiatan 14  Beker glass (1.000 ml)  Tabung reaksi  Corong gelas  Air   Kawat  Hydrilla sp

(8)

 KHCO3 atau NaHCO3

b. Kegiatan 15

 Tanaman sehat ( daun berwarna merah)  Aluminium foil

 Spiritus

 Alkohol 96% dan air 

 Beker glass 1.000 ml dan 500 ml  Pipet tetes

 Iodine

 Larutan amilum 1%

3. Posedur Kerja

(9)

• Kegiatan 15

V. Hasil

Hasil pengamatan : Kegiatan 14

Tabel Jumlah Gelembung Udara Yang Dihasilkan  No

.

Jumlah gelembung yang dihasilkan

Ket. Tanpa NaHCO3 Tambah NaHCO3

1. Gelembung besar  53/10 menit

Gelembung besar  30/10 menit

(10)

2. Gelembung kecil 357/1 menit Gelembung kecil 574/1 menit Kegiatan 15

Tabel Perbandingan Warna Daun

 No. Kondisi Warna Daun Ket.

1. Awal / masih segar  Merah tua 2. Setelah direndam

alkohol

Merah tua

3. Setelah dipanaskan Merah

4. Setelah ditetesi iodine Merah

VI. Pembahasan

Berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 23 Oktober 2012 di laboratorium biokimia FMIPA UNY dengan topik pengaruh penambahan substrat CO2 terhadap Laju Fotosintesis yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan substrat terhadap laju fotosintesis (kegiatan 14) dan dengan topik benarkah cahaya mutlak dibutuhkan untuk fotosintesis yang bertujuan untuk membuktikan apakah cahaya mutlak dibutuhkan untuk fotosisntesis ( kegiatan 15).

Percobaan pertama menggunakan tanaman air yaitu  Hydrilla sp. Percobaan ini menggunakan alat dan bahan seperti beker glass, tabung reaksi, corong gelas,  Hidrylla sp, air, kawat, dan KHCO3 atau NaHCO3. Pada percobaan pertama, kami terlebih dahulu merangkai alat yang akan digunakan untuk percobaan Ingenhousz. Beker gelas dengan volume satu liter  ditempatkan pada ember yang berisikan air, kemudian di dalam beker gelas tersebut tambahankan hidrila yang sebagian batangnya telah dimasukkan dalam corong kaca, dan tak  lupa corong kaca ditutup dengan tabung reaksi dan corong kaca digantungkan dengan bantuan tiga buah kawat. Proses ini dilakukan di dalam ember yang berisis air agar tidak terdapat gelembung udara pada rangkain alat tersebut.

(11)

Setelah itu, rangkaian alat percobaan ditempatkan di daerah yang terkena radiasi sinar  matahari, hal ini dilakukan agar hidrilla mendapatkan cahaya dan dapat melakukan fotosintesis. Gejala fotosintesis dapat ditandai dengan adanya gelembung udara yang  bergerak dari bagian bawah corong kaca menuju bagian teratas dari tabung reaksi yang diletakkan terbalik. Gelembung udara tersebut menandakan adanya oksigen. Pengamatan yang pertama adalah mengamati banyaknya gelembung udara yang terbentuk sela ma 10 menit  pertama. Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa gelembung yang tebentuk sangat  banyak, gelembung kecil terus menerus keluar dari bagian bawah sehingga untuk 

menghitungnya selama 10 menit tentu akan sulit sehingga praktikan menghitung gelembung tersebut setiap satu menit. Selain gelembung kecil, dihasilkan juga gelembung besar yang tidak terlalu banyak, sehingga praktikan dapat menghitung jumlah keseluruhan gelembung  besar dalam waktu 10 menit.

Hasil yang didapatkan adalah 53 gelembung besar dalam kurun waktu 10 menit  pertama dan gelembung kecil terhitung 357 per menit. Jumlah gelembung kecil dalam hitungan waktu 10 menit dapat diasumsikan dihasilkan secara konstan setiap meninya sehingga untuk mencari jumlahnya dalam waktu 10 menit dicari dengan mangkalikan 10. Sehingga didapat nilai 3570 gelembung kecil/10 menit.

Untuk 10 menit berikunya dalam rangkaian alat tersebut dilakukan penambahan substrat CO2. Untuk substrat praktikan menggunakan larutan NaHCO3 sebanyak 10 ml.

Larutan tersebut dicampurkan pada beker gelas yang berisi air. Setelah larutan NaHCO3

ditambahkan, perlakuan selanjutnya adalah menempatkan rangkaian percobaan tersebut pada daerah yang terkena sinar matahari. Setelah 10 menit, gelembung udara besar yang terbentuk  adalah 37/10 menit. Sedangkan untuk gelembung udara kecil hanya 574/menit. Gelembung

(12)

udara kecil per 10 menit dapat dihitung dengan mengkalikan 10 dan hasilnya adalah 5740/10 menit.

Gelembung udara yang paling banyak ditemukan adalah pada percobaan dengan  penambahan substrat NaHCO3. Hal ini terjadi karena NaHCO3mengandung karbon dioksida

yang merupakan materi penting dalam proses fotosintesis. Dimana telah dijelaskan dalam tinjauan pustaka bahwa semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah  bahan yang dapat digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis. Laju fotosintesis ditingkatkan juga oleh konsentrasi CO2 yang lebih tinggi, khususnya bila stomata tertutup

sebagian karena kekeringan. Pada konsentrasi CO2 tinggi, tingkat radiasi yang tinggi dapat

meningkatkan fotosintesis jauh lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi CO2 rendah.

untuk menjenuhkan fotosintesis pada tingkat cahaya yang tinggi diperlukan konsentrasi CO2

yang lebih tinggi dibandingkan dengan radiasi yang rendah.

Dalam percobaan kegiatan 15 ini kelompok VII menggunakan daun tanaman yang  berwarna merah. Karena tidak mengenal tanamannya, maka dalam pembahasan kali ini tidak 

dapat memberikan pembahasan dengan detail dari tanaman yang digunakan pada saat  percobaan.

Perlakuan yang kami berikan adalah menutup permukaan atas dan bawah daun dengan aluminium foil atau kertas genjreng. Perlakuan ini dilakukan dengan tujuan mencegah terjadinya fotosintesis. Penutupan daun dengan kertas aluminium foil dilakukan pada hari Minggu sore pukul 14.30 WIB. Hari senin pukul 09.00 daun yan telah kami beri perlakuan dipetik dan direndam dalam alkohol 96% selama satu hari. Alkohol berguna untuk melarutkan klorofil, sehingga yang tersisa hanya produk dari fotosintesis berupa pati/karbohidrat.

Pada langkah selanjunya dilakukan perebusan daun, proses ini dimulai dengan memanaskan air dalam beker glass 1.000 ml sampai mendidih. Sementara menunggu air  mendidih daun beserta alkohol dimasukkan dalam beker glass 500 ml. Setelah air mendidih  beker glass yang berisi daun tersebut dimasukkan dalam beker glass 1.000 ml. Proses  perebusan dilakukkan sampai warna daun berubah, kurang lebih selama 15 menit bertujuan

untuk melarutkan klorofil yang ada pada daun agar bisa bereaksi dengan iodine.

Daun yang telah di rebus ditetesi dengan iodine. Pada saat inilah yang dinamakan uji sachs yaitu dengan penambahan lugol akan mengetahui ada dan tidaknya amilum atau karbohidrat yang terkandung di dalamnya. Apabila di dalamnya terkandung amilum atau karbohidrat, maka setelah ditetesi lugol akan berwarna hitam atau ungu kehitaman. Ternyata daun yang kami tutup dengan aluminium foil menunjukkan hasil negatif pada uji iodine. Daun yang tidak ditutup dengan aluminium foil juga menunjukkan hasil negatif pada uji iodine

(13)

dengan memberikan hasil warna merah. Pada dasar teori telah dikatakan bahwa pengaruh cahaya mempengaruhi proses fotosuntesis. Daun yang tidak ditutup dengan aluminium foil seharusnya menghasilkan uji positif pada uji iodine karena daun tidak tertutup sehingga cahaya dapat digunakan sebagai sumber energi fotosintesis. Sedangkan pada daun yang ditutup dengan aluminium foil memang menunjukkan uji negatif terhadap uji iodine karena  pada daun yang ditutup tidak terjadi fotosintesis karena tidak adanya cahaya yang dapat

dimanfaatkan oleh klorofil.

Adanya ketidakberhasilan kami dalam kegiatan 15 mungkin dikarenakan kurang lamanya perebusan dan perendaman dengan alkohol 96% sehingga uji lugol menghasilkan uji negatif karena pati masih tertutup oleh klorofil.

VIII. Kesimpulan

Setelah melakukan dua kegiatan percobaan diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa :

1. Penambahan substrat CO2 mempengaruhi laju fotosintesis yang ditandai

dengan terbentuknya gelembung udara lebih banyak daripada percobaan yang tidak dilakukan penambahan substrat CO2. Gelembung udara

menandakan adanya oksigen sebagai salah satu hasil dari proses fotosintesis.

2. Pada proses fotosintesis cahaya sangat diperlukan didalamnya. Apabila

tidak ada cahaya maka reaksi pembentukan energi (reaksi terang) yang digunakkan dalam proses pembentukan karbohidrat (reaksi gelap) sebagai  produk fotosntesis akan terhambat, sehingga tidak dapat menghasilkan

karbohidrat.

IX. Saran

Pada praktikum mengenai kedua kegiatan ini sebaiknya ditambah dalam penyediaan alat yang digunakan. Pada saat praktikum hanya disediakan satu beker glass1.000 ml dan satu  beker glass 500 yang digunakan untuk dua kegiatan, sehingga kegiatan pratikum tidak 

(14)

 berjalan lancar dan terkesan membuang-buang waktu saat menungu alat lain yang masih digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Jakarta : Erlangga.

Jumin, H.B. 2008. Dasar-Dasar Agronomi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Kimball, J. W. 1993. Biologi Umum. Jakarta : Erlangga.

Kimball, J.W. 2002. Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Erlanggga.

Malcome. B. W. 1990. Fisiologi Tanaman. Bandung : Bumi Aksara.

Gambar

Tabel  Perbandingan Warna Daun

Referensi

Dokumen terkait

Versimanometer sederhana kolom cairan adalah bentuk pipa U yang diisi cairan setengahnya (biasanya berisi minyak, air atau air raksa) dimana pengukuran dilakukan

Hampir seluruh atau sebagian besar daerah di Indonesia merupakan daerah pertanian atau biasa disebut sebagai daerah agraris, dan hampir sebagian besar penduduk di Indonesia

Dari total jumlah peserta yang ikut dalam pelatihan Deteksi Dini Pencemaran Lingkungan Air melalui Parameter Bakteri Coliform, sebagian besar sekolah yang

Beberapa pa sifat inti, contoh: kestabila sifat inti, contoh: kestabilan, n, jumla jumlah h di alam, di alam, menun menunjukka jukkan n suatu nilai atau suatu nilai atau

Pengertian lain dari RH adalah perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang

Humidifikasi merupakan proses penambahan kandungan air di dalam udara. Dimana fasa cair (air) di kontakkan dengan aliran udara, sehingga kandungan uap air di udara

Sinar yang diteruskan mengenai permukaan lengkung lensa, sebagian dipantulkan lagi, dan sebagian dibiaskan menembus lensa, keluar melalui lapisan tipis udara dan jatuh

Sumber air yang digunakan oleh PDAM Kota Salatiga sebagian besar sudah memenuhi syarat baku mutu air minum sehingga tidak memerlukan proses pengolahan air minum yang kompleks, kecuali