BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survey bersifat analitik menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian yang bersifat cross sectional.Penelitian cross sectional dimaksudkan bahwa pengambilan dan analisis data antara variabel dependen yakni perilaku pencegahan HIV-AIDS dengan variabel independen yakni karakeristik individu LSL dan dukungan sosial komunitas (emosional, instrumental, informasional, penilaian dan integrasi sosial) dilakukan pada waktu yang bersamaan.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kota Medan Provinsi Sumatera Utara. Alasan memilih kota Medan ialah bahwa kota Medan memiliki jumlah LSL (Lelaki Seks Lelaki) yang cukup banyak, dimana dari data terdapat 1.680 LSL di kota Medan. Selain itu juga beberapa komunitas LSL terdapat di kota Medan yang sering melaksanakan pertemuan di beberapa tempat umum di kota Medan.
3.2.2 Waktu Penelitian
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah LSL (Lelaki Seks Lelaki) yang telah tergabung dalam suatu komunitas LSL di kota Medan. Yang dimaksud anggota komunitas sebagai populasi dan responden dalam penelian ini adalah individu LSL yang telah mengakui diri (coming out) sebagai LSL dan telah bergabung bersama LSL lain di komunitasnya. Berdasarkan data yang didapatkan dari survey pendahuluan yang dilakukan oleh penulis jumlah LSL yang terdata sebagai anggota LSL aktif di komunitas LSL di kota Medan sampai dengan bulan Desember 2015 ialah sebanyak 420 orang. Sehingga populasi dalam penelitian ini ialah sebanyak 420 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah LSL yang menjadi anggota komunitas LSL di kota Medan dengan kriteria bersedia diwawancarai langsung oleh penulis untuk mengisi kuisioner yang telah disusun oleh penulis dalam penelitian. Jumlah responden yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus besar sampel sebagai berikut (Lemeshow 1997) :
Keterangan : n : Besar sampel
N : Besar populasi (420 LSL yang menjadi anggota komunitas LSL di kota Medan)
Z : Standar deviasi normal (1,96 dengan Cl 95%) P : Target populasi (0,5)
d : Derajat ketepatan yang digunakan (=10%)
Perhitungan Besar Sampel : n = Z² . P (1-P) N d² (N-1) + Z² .
n = (1,96)² . 0,5 (1-0,5) 420 0,1² (420-1) + 1,96² .
n = 403,368 8,0316 n = 50, 26 ≈ 50
kebersediaan menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan, apabila bersedia maka orang tersebut dapat dijadikan sebagai sampel atau responden dalam penelitian (Sugiyono, 2008). Kriteria responden dalam penelitian ini ialah responden merupakan seorang LSL yang aktif bergabung dan melakukan kegiatan atau aktivitas di komunitas LSL yang ada di kota Medan serta responden bersedia untuk diwawancarai langsung oleh penulis untuk mengisi kuisioner yang telah disusun sesuai dengan rumusan permasalahan yang diteliti.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Untuk memperoleh data primer yang diperlukan, teknik yang digunakan adalah pengisian kuesioner dengan menanyakan jawaban responden secara langsung terhadap pertanyaan pada kuisioner melalui wawancara. Penulis menanyakan kesediaan responden untuk mampu menjawab pertanyaan di kuisioner dengan sebena-benarnya, apabila responden bersedia maka proses pengumpulan data dapat dilakukan.
3.4.2 Data Sekunder
Pengumpulan sumber data sekunder berasal dari studi kepustakaan dan studi literatur yang terkait dengan rumusan permasalahan yang sedang diteliti dalam penelitian yang sedang dilaksanakan.
3.5 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional
pasangan seksual yang dimiliki, intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual dan lama menjadi anggota di komunitas, serta dukungan sosial komunitas yang meliputi dukungan informasional, penilaian, instrumental, dan emosional. Defenisi operasional mengenai masing-masing variabel penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut :
Tabel 3.1 Defenisi Operasional Variabel Penelitian
Variabel Defenisi Skala Hasil
Umur
Jumlah tahun yang
dihitung mulai lahir sampai ulang tahun terakhir
Suku Bangsa Karakteristik suku bangsa
responden Nominal
Status Perkawinan Status perkawinan dari
responden Ordinal seorang LSL sampai saat ini
Jumlah Pasangan LSL sampai saat ini
Dukungan atau balasan atas apa yang dilakukan oleh LSL dalam hal kesediaan waktu untuk menghabiskan waktu
Adapun variabel dependen atau variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL yang menjadi anggota komunitas LSL di kota Medan.
3.6 Metode Pengukuran
3.6.1 Metode Pengukuran Variabel Dependen
Guttman dari 8 (delapan) pertanyaan dengan alternatif jawaban “YA” (bobot nilai 1) dan “TIDAK” (bobot nilai 0). Semakin tinggi skor maka semakin baik perilaku LSL tentang pencegahan HIV/AIDSNilai keseluruhan dari skor yaitu 8x1=8.
Nilai (skor) jawaban responden dikategorikan berdasarkan rumus statistika menurut (Sudjana, 2005) :
p =Rentang
Banyak Kelas
Dimana p merupakan rentang nilai tertinggi diambil nilai terendah (8 – 0 = 8) dan dibagi banyak kelas (baik dan kurang baik), maka diketahui nilai p adalah 4 dan dikategorikan menjadi dua, yaitu :
1. Baik, jika responden memperoleh skor ≥ pyaitu ≥ 4
2. Kurang Baik, jika responden memperoleh skor <p yaitu < 4 3.6.2 Metode Pengukuran Variabel Independen
Pengukuran variabel independen penelitian yaitu bentuk dukungan sosial komunitas yaitu yang meliputi dukungan emosional (emotional/esteem support), dukungan instrumental (instrumental support), dukungan informasional (informational support), dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support) dan dukungan persahabatan/integrasi sosial (companionship support) didasarkan pada skala Guttman dari 5 (lima) pertanyaan yang diajukan dengan alternatif jawaban “YA” (bobot nilai 1) dan “TIDAK” (bobot nilai 0), dan dikategorikan menjadi 2 yaitu :
1. Baik, jika responden memperoleh skor ≥ median ( �+1
2. Kurang Baik, jika responden memperoleh skor < median ( �+1
2 ) yaitu < 3
3.7 Metode Pengolahan dan Analisa Data 3.7.1 Metode Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dengan tahapan sebagai berikut :
1. Editing (Pemeriksaan Data)
Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Apabila terdapat jawaban yang belum lengkap atau terdapat keluhan maka data harus dilengkapi dengan cara wawancara atau menanyakan kembali jawaban pengisian kuisioner kepada responden.
2. Coding (Pemberian Kode)
Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual.
3. Entry (Memasukkan Data)
Data yang akan dimasukkan yakni jawaban-jawaban dari masing-masing pertanyaan yang diajukan pada responden dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) yang dimasukkan dalam program atau software statistik komputer. Dalam penelitian ini program statisitik komputer yang dipakai ialah program SPSS (Statistical Product Service Solution).
4. Cleaning (Pembersihan Data)
untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi kembali.
5. Scoring (Pemberian Skors)
Scoring atau pemberian skors ialah pemberian nilai yang dilakukan oleh peneliti terhadap isian kuisinoner yang diisi oleh responden, pemberian skors terhadap isian kuisioner dilakukan untuk menyesuiakan dengan statistik uji yang akan dipakai dalam penelitian.
3.7.2 Metode Analisa Data
1. Analisa Univariat, yaitu analisis yang menggambarkan secara tunggal variabel-variabel penelitian baik independen maupun dependen dalam bentuk distribusi frekuensi dan hitungan persentasenya.
2. Analisa Bivariat, yaitu analisis yang digunakan untuk melihat ada tidaknya pengaruh karakteristik individu LSL (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, lama menjadi LSL, jumlah pasangan seksual yang dimiliki, intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual dan lama menjadi anggota di komunitas LSL), serta dukungan sosial komunitas LSL (informasional, penilaian, instrumental dan emosional) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dengan menggunakan analisisUji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95% dengan asumsi bahwa data yang dianalisis berupa data kategorik.Uji Chi Square ini juga digunakan sebagai sebagai uji kandidat atas variabel independen (p<0,25) untuk diikutsertakan dalam uji multivariat (Multiple Regresi Logistic)
LSL di kota Medan dilakukan dengan uji multiple regresi logistic. Regresi logistik ganda digunakan untuk melihat pengaruh satu atau beberapa variabel independen terhadap dependen. Uji regresi logistik ganda dapat dilakukan apabila variabel dependennya dikotomus (bineri). Adapun persamaan regresi logistik ganda seperti berikut ini :
Logit P (x) = a + �1X1 + �2X2 + �3X3 + �4X4
Keterangan :
P = Probabilitas
�1,2,3 = Nilai Beta
�1 = Status/Peran Seksual LSL
�2 = Lama Bergabung di Komunitas LSL
�3 = Dukungan Informasional (Informational Supports) Komunitas
�4 = Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial (Chompanionship
BAB IV
HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Letak Geografis
Penelitian dilakukan di kota Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara yang merupakan salah satu pusat pemerintahan, pendidikan, kebudayaan dan perdagangan. Kota Medan secara geografis terletak di antara 2 27'-2 47' Lintang Utara dan 98 35'-98 44' Bujur Timur. Posisi kota Medan ada di bagian Utara Provinsi Sumatera Utara dengan topografi miring ke arah utara dan berada pada ketinggian tempat 2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah kota Medan adalah 265,10 Km² yang secara administratif terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan.
4.1.2 Gambaran Demografis
Jumlah penduduk kota Medan tahun 2015 berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) kota Medan adalah : 2.121.053 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 8.001/Km². Daerah terpadat penduduknya adalah kecamatan Medan Perjuangan yaitu 25.844 jiwa/Km² dengan luas wilayah 4,09 Km². Sedangkan kecamatan Medan Labuhan merupakan daerah yang renggang penduduknya yaitu 2.916 jiwa/Km² dengan luas wilayah 36,67 Km².
4.2 Gambaran Umum Karakteristik Responden
seksual sebagai seorang LSL yang meliputi lama menjadi LSL, status/peran seksual LSL, jumlah pasangan seksual yang dimiliki, intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual dan lama menjadi anggota di komunitas dan sebagai bagian dari komunitas LSL yang beresiko tinggi terhadap penularan HIV-AIDS dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang.
Tabel 4.1 Gambaran Umum Karakteristik Responden Karakteristik
Responden Jumlah (n) Persentase (%)
Status Perkawinan
Versitile/Fleksibel 19 38
Total 50 100
responden merupakan suku bangsa Batak dan Jawa yakni masing-masing sebanyak 16 orang (32%), suku bangsa Melayu 9 orang (18%), suku bangsa Tionghoa/Chinese sebanyak 5 orang (10%) dan suku bangsa Minang sebanyak 4 orang (8%).
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar responden telah menyelsaikan pendidikan pada jenjang SMA/Sederajat yakni sebanyak 37 orang (74%), dan responden yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan di perguruan tinggi yakni sebanyak 13 orang (26%). Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan sebagian besar responden telah bekerja sebagai pegawai/buruh yakni sebanyak 19 orang (38%), dan responden yang masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa sebanyak 18 orang (36%), serta reponden yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 13 orang (26%).
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendapatan sebagian besar responden memiliki pendapatan antara Rp. 1.000.000,- s.d Rp. 3.000.000,- setiap bulannya yakni sebanyak 28 orang (56%), kemudian reponden yang memiliki tingkat pendapatan dibawah Rp.1000.000,- sebanyak 14 orang (28%), dan responden yang memiliki tingkat pendapatan diatas Rp.3.000.000,- sebanyak 8 orang (16%). Karakteristik responden berdasarkan status perkawinan, sebagian besar responden masih berstatus belum menikah yakni sebanyak 42 orang (84%), kemudian responden dengan status sudah menikah sebanyak 6 orang (12%), dan responden yang sudah bercerai sebanyak 2 orang (4%).
responden yang menjadi LSL kurang dari enam bulan yakni sebanyak 10 orang (20%), dan responden yang sudah menjadi LSL selama enam bulan sampai dengan satu tahun yakni sebanyak 6 orang (12%).
Karakteristik responden berdasarkan status/peran seksual, sebagian besar responden memiliki status atau peran seksual LSL sebagai seorang Top atau yang melakukan penetrasi yakni sebanyak 24 orang (48%), kemudian yang memiliki status atau peran seksual LSL sebagai seorang Versitile atau fleksibel dalam artian bisa menjadi pasangan seksual yang melakukan penetrasi atau dipenetrasi yakni sebanyak 19 orang (38%), dan responden yang memiliki status atau peran seksual sebagai seorang Bottom atau yang dipenetrasi yakni sebanyak 7 orang (14%). Karakteristik responden berdasarkan jumlah pasangan seksual yang dimiliki saat ini, sebagian besar responden menjawab bahwa pada saat ini mereka hanya memiliki satu pasangan seksual saja yakni sebanyak 33 orang (66%), kemudian responden yang saat ini memiliki satu sampai dengan tiga orang pasangan seksual yakni sebanyak 12 orang (24%), dan responden yang pada saat ini memiliki lebih dari tiga orang pasangan seksual yakni sebanyak 5 orang (10%).
Karakteristik responden berdasarkan lamanya waktu bergabung sebagai anggota di komunitas LSL, sebagian besar responden telah bergabung menjadi anggota di komunitas LSL selama satu sampai dengan tiga tahun yakni sebanyak 18 orang (36%), responden yang telah bergabung menjadi anggota di komunitas LSL selama enam bulan sampai dengan satu tahun yakni sebayak 15 orang (30%), kemudian responden yang baru bergabung kurang dari enam bulan sebagai anggota di komunitas LSL yakni sebanyak 12 orang (24%), dan responden yang telah bergabung lebih dari tiga tahun sebagai anggota di komunitas LSL yakni sebanyak 5 orang (10%).
4.3 Gambaran Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Gambaran karakteristik responden berdasarkan perilaku pencegahan HIV-AIDS da dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut :
Tabel 4.2 Gambaran Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
No. Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Jawaban
Total Benar Salah
n % n % n % 1 Melakukan hubungan seksual dengan
hanya satu pasangan seksual 21 42 29 58 50 100 2 Memakai kondom ketika berhubungan
seksual dengan pasangan seksual 18 36 32 64 50 100 3 Menyadari bahwa perilaku seksual
beresiko tinggi untuk tertular HIV-AIDS 47 94 3 6 50 100 4
Tidak akan melakukan hubungan seksual, jika pasangan seksual anda dicurigai telah terinfeksi HIV-AIDS
46 92 4 8 50 100
5
Pernah mengikuti penyuluhan kesehatan mengenai HIV-AIDS untuk mendapatkan informasi yang mencukupi mengenai pencegahan HIV-AIDS
6
Pernah melakukan konsultasi kesehatan dengan tenaga kesehatan mengenai pencegahan HIV-AIDS
19 38 31 62 50 100
7
Pernah ke fasilitas kesehatan (klinik VCT-HIV, Puskesmas, Rumah Sakit) untuk melakukan tes HIV-AIDS
16 32 34 68 50 100
8
Tidak menggunakan narkoba, terutama jenis narkoba suntik yang beresiko tinggi menularkan virus HIV
43 86 7 14 50 100
Keseluruhan indikator perilaku pencegahan HIV-AIDS diatas dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu kategori “Baik” dan “Kurang Baik” yang dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut :
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Kategori Perilaku
Pencegahan HIV-AIDS Jumlah (n) Persentase (%)
Baik 18 36
Kurang Baik 32 64
Total 60 100
Berdasarkan tabel 4.3 diatas diketahui bahwa, hanya 18 orang responden (36%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dengan kategori yang baik, sedangkan sebagian besar responden yakni 32 orang (64%) memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dengan kategori yang kurang baik.
4.4 Gambaran Dukungan Sosial Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
4.4.1 Gambaran Dukungan Emosional (Emotional/Esteem Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL Dukungan emosional (emotional/esteem support)ialah bantuan/dukungan yang diberikan oleh komunitas dalam hal memberikan perhatian serta menciptakan kondisi yang nyaman bagi LSL sebagai anggota komunitas dimana LSL dapat merasa nyaman dan aman dalam upaya peningkatan perilaku termasuk perilaku dalam pencegahan HIVAIDS. Gambaran dukungan emosional (emotional/esteem support) komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut :
Tabel 4.4 Gambaran Dukungan Emosional (Emotional/Esteem Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
No. Dukungan Emosional Komunitas
Jawaban
Total YA TIDAK
n % n % n % 1
Komunitas memberikan kondisi yang nyaman untuk melakukan upaya pencegahan HIV-AIDS
39 78 11 22 50 100
2
Komunitas memarahi atau menasehati apabila tidak memiliki perilaku yang baik dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
12 24 38 76 50 100
3
Komunitas selalu memantau dan mengawasi kondisi kesehatan karena dikhawatirkan terinfeksi HIV-AIDS
20 30 40 80 50 100
4
Komunitas selalu membantu ketika mengalami gangguan kesehatan, terlebih jika gangguan kesehatan tersebut dicurigai mengarah kepada infeksi HIV-AIDS
5
Komunitas menemani ketika melaksanakan tes HIV-AIDS atau memanfaatkan layanan kesehatan lain seperti penyuluhan kesehatan dan konsultasi kesehatan mengenai HIV-AIDS
9 18 41 82 50 100
ketika responden mengalami gangguan kesehatan, terlebih jika gangguan kesehatan tersebut dicurigai mengarah kepada infeksi HIV-AIDS.
Keseluruhan indikator dukungan emosional (emotional/esteem support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS diatas dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu kategori “Baik” dan “Kurang Baik” yang dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut :
Tabel 4.5 Kategori Dukungan Emosional (Emotional/Esteem Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
Kategori Dukungan
Emosional Komunitas Jumlah (n) Persentase (%)
Baik 16 32
Kurang Baik 34 68
Total 60 100
Berdasarkan tabel 4.5 diatas bahwa hanya 16 orang responden (32%) yang menyatakan bahwa dukungan emosional (emotional/esteem support) yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang baik. Sedangkan 34 orang responden (68%) menyatakan bahwa dukungan emosional (emotional/esteem support) yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang kurang baik.
perilaku pencegahan HIV-AIDS. Gambaran dukungan instrumental (instrumental support)komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut :
Tabel 4.6 Gambaran Dukungan Instrumental (Instrumental Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
No. Dukungan Instrumental Komunitas
Jawaban
Total YA TIDAK
n % n % n %
1
Komunitas pernah memberikan brosur, booklet, atau media lain agar memiliki pengetahuan yang cukup untuk meningkatkan perilaku pencegahan HIV-AIDS
13 26 37 74 50 100
2
Komunitas pernah sesekali memberikan kondom agar berhubungan seksual secara aman dengan pasangan seksual
15 30 35 70 50 100
3
Komunitas memberikan kondom secara rutin dalam beberapa waktu agar berhubungan seksual secara aman dengan pasangan seksual
8 16 42 84 50 100
4
Komunitas pernah membawa ke fasilitas kesehatan (klinik VCT-HIV, Puskesmas, Rumah Sakit) untuk melakukan tes HIV-AIDS
17 34 33 66 50 100
5
Komunitas pernah membawa ke tenaga kesehatan untuk melakukan konsultasi dan penyuluhan kesehatan mengenai HIV-AIDS
17 34 33 66 50 100
penyuluhan kesehatan mengenai HIV-AIDS, hanya 15 orang responden (30%) yang menyatakan mendapatkan dukungan instrumental komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dalam hal komunitas pernah sesekali memberikan kondom agar berhubungan seksual secara aman dengan pasangan seksual, kemudian hanya 13 orang responden (26%) yang menyatakan bahwa komunitasnya pernah memberikan brosur, booklet, atau media lain agar memiliki pengetahuan yang cukup untuk meningkatkan perilaku pencegahan HIV-AIDS, dan hanya 8 orang responden (16%) yang meyatakan bahwa komunitasnya pernah memberikan dukungan instrumental dalam hal memberikan kondom secara rutin dalam beberapa waktu kepada responden agar berhubungan seksual secara aman dengan pasangan seksual.
Keseluruhan indikator dukungan instrumental (emotional/esteem support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS diatas dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu kategori “Baik” dan “Kurang Baik” yang dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut :
Tabel 4.7 Kategori Dukungan Instrumental (Instrumental Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
Kategori Dukungan
Instrumental Komunitas Jumlah (n) Persentase
Baik 12 24
Kurang Baik 38 76
Total 60 100
kategori yang baik. Sedangkan 38 orang responden (76%) menyatakan bahwa dukungan instrumental (instrumental support) yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang kurang baik.
4.4.3 Gambaran Dukungan Informasional (Informational Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL Dukungan informasional (informational support)ialah bantuan/dukungan yang diberikan oleh komunitas dalam dalam menjelaskan tentang pemberian saran, sugesti, informasi yang dapat untuk digunakan mengungkapkan dan menyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dengan HIV-AIDS. Gambaran dukungan informasional (informational support)komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut :
Tabel 4.8 Gambaran Dukungan Informasional (Informational Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
No. Dukungan Informasional Komunitas
Jawaban bahwa orientasi seksual LSL beresiko tinggi tertular HIV-AIDS
48 96 2 4 50 100
2
Komunitas pernah menginformasikan untuk berhubungan seksual dengan hanya satu pasangan seksual
44 88 6 12 50 100
3
Komunitas pernah menginformasikan untuk memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan seksual
44 88 6 12 50 100
4
Komunitas pernah menginformasikan untuk melakukan tes HIV di fasilitas kesehatan (klinik VCT-HIV, Puskesmas, Rumah Sakit)
5
Komunitas pernah menginformasikan untuk menghadiri acara penyuluhan kesehatan mengenai pencegahan HIV-AIDS dan melakukan konsultasi kesehatan dengan tenaga kesehatan
31 62 19 38 50 100
Berdasarkan tabel 4.8 diatas diketahui bahwa 48 orang responden (96%) menyatakan bahwa komunitasnya pernah menginformasikan bahwa orientasi seksual LSL beresiko tinggi tertular HIV-AIDS, 44 orang responden (88%) menyatakan bahwa komunitasnya pernah menginformasikan untuk berhubungan seksual dengan hanya satu pasangan seksual, kemudian 35 orang responden (70%) menyatakan bahwa komunitasnya pernah menginformasikan untuk melakukan tes HIV di fasilitas kesehatan (klinik VCT-HIV, Puskesmas, Rumah Sakit), dan 31 orang responden (62%) menyatakan bahwa komunitasnya pernah menginformasikan untuk menghadiri acara penyuluhan kesehatan mengenai pencegahan HIV-AIDS dan melakukan konsultasi kesehatan dengan tenaga kesehatan.
Keseluruhan indikator dukungan informasional (informational support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS diatas dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu kategori “Baik” dan “Kurang Baik” yang dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut :
Berdasarkan tabel 4.9 diatas bahwa sebagian besar responden yakni sebanyak 44 orang (88%) yang menyatakan bahwa dukungan informasional (informational support) yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang baik. Sedangkan hanya 6 orang responden (12%) yang menyatakan bahwa informasional (informational support) yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang kurang baik.
4.4.4 Gambaran Dukungan Penilaian/Penghargaan (Appraisal Support)Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
Dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support) ialah bantuan/dukungan yang diberikan oleh komunitas dalam hal memberikan penghargaan, apresiasi, atau balasan atas apa yang dilakukan oleh LSL sebagai anggota komunitas yang berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV-AIDS. Gambaran dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support) komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut :
Tabel 4.10 Gambaran Dukungan Penilaian/Penghargaan (Appraisal Support)Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
No. Dukungan Penilaian/Penghargaan Komunitas
Komunitas pernah memberikan pujian apabila memiliki perilaku kesehatan yang baik dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
19 38 31 62 50 100
2 Komunitas pernah memberikan hadiah
apabila memiliki perilaku kesehatan yang baik dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
3
Komunitas pernah memberikan sanksi atau hukuman apabila tidak memiliki perilaku kesehatan yang baik dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
7 14 43 86 50 100
4
Komunitas memberikan motivasi yang baik agarmemiliki perilaku kesehatan yang baik dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
28 56 22 44 50 100
5
Komunitas memberikan perhatian yang lebih apabila memiliki perilaku kesehatan yang baik dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
24 48 26 52 50 100
Keseluruhan indikator dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS diatas dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu kategori “Baik” dan “Kurang Baik” yang dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut :
Tabel 4.11 Kategori Dukungan Penilaian/Penghargaan (Appraisal Support)Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
Kategori Dukungan Penilaian/Penghargaan Komunitas
Jumlah (n) Persentase (%)
Baik 16 32
Kurang Baik 34 68
Total 60 100
Berdasarkan tabel 4.11 diatas bahwa hanya 16 orang responden (32%) yang menyatakan bahwa dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support) yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang baik. Sedangkan sebagian besar responden yakni sebanyak 34 orang (68%) menyatakan bahwa dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support)yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang kurang baik.
4.4.5 Gambaran Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial (Companionship Support)Komunitas Terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
Gambaran dukungan persahabatan/integrasi sosial (companionship support)komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut :
Tabel 4.12 Gambaran Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial (Companionship Support)Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
No. Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial Komunitas
Sering menghabiskan waktu bersama komunitas, sehingga memiliki perilaku kesehatan yang baik termasuk dalam upaya pencegahan HIV-AIDS karena interaksi di komunitas yang baik
33 66 17 34 50 100
2
Komunikasi interpersonal di komunitas berjalan dengan baik, sehingga memiliki perilaku kesehatan yang baik termasuk dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
46 92 4 8 50 100
3
Begitu merasa dihargai di komunitas, sehingga akan melakukan apa saja yang
disuruh/direkomendasikan oleh komunitas, termasuk perilaku kesehatan yang baik dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
37 74 13 26 50 100
4
Dianggap sebagai bagian dari komunitas dan memiliki andil dalam komunitas, sehingga memiliki perilaku kesehatan yang baik termasuk dalam upaya pencegahan HIV-AIDS
40 80 10 20 50 100
5
Komunitas memiliki rasa empati jika memiliki permasalahan kesehatan, terlebih permasalahan kesehatan yang mengarah pada infeksi HIV-AIDS
39 78 11 22 50 100
baik termasuk dalam upaya pencegahan HIV-AIDS, 40 orang responden (80%) menyatakan bahwa dirinya dianggap sebagai bagian dari komunitas dan memiliki andil dalam komunitas, sehingga memiliki perilaku kesehatan yang baik termasuk dalam upaya pencegahan HIV-AIDS, 39 orang responden (78%) menyatakan bahwa komunitasnya memiliki rasa empati kepada responden jika memiliki permasalahan kesehatan, terlebih permasalahan kesehatan yang mengarah pada infeksi HIV-AIDS, kemudian 37 orang responden (74%) menyatakan bahwa dirinya begitu merasa dihargai di komunitas, sehingga akan melakukan apa saja yang disuruh/direkomendasikan oleh komunitas, termasuk perilaku kesehatan yang baik dalam upaya pencegahan HIV-AIDS, dan 33 orang responden (66%) menyatakan bahwa sering menghabiskan waktu bersama komunits, sehingga memiliki perilaku kesehatan yang baik termasuk dalam upaya pencegahan HIV-AIDS karena interaksi di komunitas yang baik.
Keseluruhan indikator dukungan persahabatan/integrasi sosial (companionship support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS diatas dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu kategori “Baik” dan “Kurang Baik” yang dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut :
Tabel 4.13 Kategori Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial (Companionship Support)Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
Kategori Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial Komunitas
Jumlah (n) Persentase (%)
Baik 36 72
Kurang Baik 14 28
Berdasarkan tabel 4.23 diatas diketahui bahwa sebagian besar responden yakni sebanyak 36 orang (72%) menyatakan bahwa dukungan persahabatan/integrasi sosial (companionship support) yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang baik. Sedangkan hanya 14 orang responden (28%) yang menyatakan bahwa dukungan persahabatan/integrasi sosial (companionship support) yang diberikan komunitas LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL memiliki kategori yang kurang baik.
4.5 Pengaruh Karakteristik Individu terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
Karakteristik individu adalah perilaku atau karakter yang ada pada diri seorang individu baik yang bersifat positif maupun negatifdimensi karakteristik individu secara biografis terdiri dari: umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama, status perkawinan, status sosial ekonomi, dan pendidikan yang merupakan sesuatu yang objektif dan mudah diperoleh dari catatan pribadi. Semua dimensi ini dapat menimbulkan perbedaan perilaku terhadap tindakan individu dalam menghadapi sesuatu hal termasuk dalam perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL.
4.5.1 Pengaruh Karakteristik Umur terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Tabel 4.14 Pengaruh Karakteristik Umur terhadap Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS
Karakteristik Umur Responden
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
15-20 Tahun 1 2 9 18 10 20
0,084
21-25 Tahun 4 8 17 34 21 42
26-30 Tahun 1 2 18 36 19 38
Total 6 12 44 88 50 100
4.5.2 Pengaruh Karakteristik Suku Bangsa terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik suku bangsa terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut :
Tabel 4.15 Pengaruh Karakteristik Suku Bangsa terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Suku Bangsa
Responden
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Batak 2 4 14 28 16 32
0,069
Jawa 2 4 14 28 16 32
Melayu 0 0 9 18 27 54
Minang 2 4 2 4 4 8
Tionghoa 0 0 5 10 5 10
Total 6 12 44 88 50 100
4.5.3 Pengaruh Karakteristik Pendidikan terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik pendidikan terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut :
Tabel 4.16 Pengaruh Karakteristik Pendidikan terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Pendidikan Responden
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
SMA/Sederajat 11 22 2 4 13 26
0,002 Perguruan Tinggi 33 66 4 8 37 74
Total 44 88 6 12 50 100
4.5.4 Pengaruh Karakteristik Pekerjaan terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik pekerjaan terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.17 berikut :
Tabel 4.17 Pengaruh Karakteristik Pekerjaan terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Pekerjaan Responden
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Pelajar/Mahasiswa 3 6 15 30 18 36
0,068
Wiraswasta 1 2 12 24 13 26
Pegawai/Buruh 2 4 17 34 19 38
Total 6 12 44 88 50 100
4.5.5 Pengaruh Karakteristik Tingkat Pendapatan terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik tingkat pendapatan terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut :
Tabel 4.18 Pengaruh Karakteristik Tingkat Pendapatan terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
perilaku pencegahan HIV-AIDS, semakin besar pendapatan responden tidak memengaruhi perilaku responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Masing-masing kategori tingkat pendapatan responden memiliki kategori perilaku pencegahan HIV-AIDS yang relatif sama.
4.5.6 Pengaruh Karakteristik Status Perkawinan terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik status perkawinan terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.19 berikut :
Tabel 4.19 Pengaruh Karakteristik Status Perkawinan terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Tingkat Pendapatan
Responden
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Belum Menikah 36 74 6 12 42 84
0,002
Menikah 6 12 0 0 6 12
Bercerai 2 4 0 0 2 4
Total 44 88 6 12 50 100
karakteristik status perkawinan responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Responden yang sudah menikah atau bercerai cenderung memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS yang lebih baik.
4.5.7 Pengaruh Karakteristik Lama Menjadi LSL terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik lama menjadi LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.20 berikut
Tabel 4.20 Pengaruh Karakteristik Lama Menjadi LSL terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Lama Menjadi LSL
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Kurang dari 6 bulan 8 16 2 4 10 20
0,003 6 bulan s.d 1 tahun 6 12 0 0 6 12
1 tahun s.d 3 tahun 15 30 2 4 17 34 Lebih dari 3 tahun 15 30 2 4 17 34
Total 44 88 6 12 50 100
HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,003 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh karakteristik lama menjadi LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin lama seseorang menjadi LSL maka perilakunya dalam pencegahan HIV-AIDS akan semakin baik.
4.5.8 Pengaruh Karakteristik Status/Peran Seksual LSL Terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik status/peran seskual LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.21 berikut :
Tabel 4.21 Pengaruh Karakteristik Status/Peran Seksual Terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Status/Peran Seksul
LSL
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Top 22 44 2 4 24 48
0,001
Bottom 5 10 2 4 7 14
Versitile 17 34 2 4 19 38
Total 44 88 6 12 50 100
seksual sebagai Versitile/Fleksibel, sudah 17 orang responden (34%) memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,001 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh karakteristik status/peran seksual LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Status/peran seksual LSL sebagai Top memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS yang paling baik dibandingkan dengan peran/status seskual LSL sebagai Bottom ataupun Versitile/Fleksibel. Dan status/peran seksual LSL sebagai Bottom memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS lebih baik dibandingkan dengan status/peran seksual LSL sebagai Versitile/Fleksibel.
4.5.9 Pengaruh Karakteristik Jumlah Pasangan Seksual yang Dimiliki terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik jumlah pasangan seksual yang dimiliki terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.22 berikut : Tabel 4.22 Pengaruh Karakteristik Jumlah Pasangan Seksual yang Dimiliki terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Jumlah Pasangan
Seksual yang Dimiliki
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Hanya 1 saja 30 60 3 6 33 66
0,003
1 s.d 3 orang 9 18 3 6 12 24
Lebih dari 3 orang 5 10 0 0 5 10
Total 44 88 6 12 50 100
yang baik, kemudian dari 12 orang responden (24%) yang memiliki 1 sampai dengan 3 orang pasangan seksual, sudah ada 9 orang responden (18%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik, dan 5 orang responden (10%) yang memiliki pasangan seksual lebih dari 3 orang, seluruhnya memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,003 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh karakteristik jumlah pasangan seksual LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin sedikit pasangan seksual yang dimiliki oleh LSL maka perilaku dalam pencegahan HIV-AIDS akan cenderung semakin baik.
4.5.10 Pengaruh Karakteristik Intensitas Hubungan Seksual dengan Pasangan Seksual terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Pengaruh karakteristik intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.23 berikut :
Tabel 4.23 Pengaruh Karakteristik Intensitas Hubungan Seksual dengan Pasangan Seksual terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Intensitas Hubungan Seksual
dengan Pasangan Seksual
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Sekali dalam 1 bulan 18 36 1 2 19 38
0,004 Sekali dalam 2 minggu 7 14 2 4 9 18
Sekali dalam 1 minggu 12 24 1 2 13 26 2 kali dalam 1 minggu 7 14 2 4 9 18
Berdasarkan tabel 4.23 diatas diketahui bahwa dari 19 orang responden (38%) yang memiliki intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual sekali dalam sebulan, sudah ada 18 orang responden (36%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik, kemudian dari 9 orang responden (18%) yang memiliki intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual sekali dalam dua minggu dan 2 kali dalam seminggu, masing-maing sudah ada 7 orang responden (14%) yang sudah memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik, dan dari 13 orang responden (26%) yang memiliki intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual sekali dalam seminggu, sudah ada 12 orang responden (24%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,004 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh karakteristik intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin jarang intensitas hubungan seksual dengan pasangan seksual dilakukan maka perilaku pencegahan HIV-AIDS cenderung akan semakin baik.
4.5.11 Pengaruh Karakteristik Lama Menjadi Anggota Komunitas LSL terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Tabel 4.24 Pengaruh Karakteristik Lama Menjadi Anggota Komunitas LSL terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik Lama Menjadi Anggota
Komunitas LSL
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Kurang dari 6 bulan 10 20 2 4 12 24
0,001 6 bulan s.d 1 tahun 14 28 1 2 15 30
1 tahun s.d 3 tahun 15 30 3 6 18 36 Lebih dari 3 tahun 5 10 0 0 5 10
Total 44 88 6 12 50 100
Semakin lama menjadi anggota komunitas LSL maka perilaku pencegahan HIV-AIDS cenderung akan semakin baik. Begitupun sebaliknya, semakin sebentar responden bergabung dengan komunitas LSL maka perilaku dalam pencegahan HIV-AIDS akan cenderung semakin buruk.
4.6 Pengaruh Dukungan Sosial Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
Dukungan komunitas mengacu kepada dukungan sosial yang dipandang oleh anggota komunitas sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk anggota, yang dipandang oleh anggota komunitas bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan dalam suatu upaya pembentukan perilaku, termasuk didalamnya ialah perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL yang menjadi anggota atau bagian dari komunitas LSL.
4.6.1 Pengaruh Dukungan Emosional (Emotional/Esteem Support)
Pengaruh dukungan emosional (emotional/esteem support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.25 berikut : Tabel 4.25 Pengaruh Dukungan Emosional (Emotional/Esteem Support)
Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Dukungan Emosional (Emotional/Esteem Support) Komunitas
Perilaku Pencegahan
HIV-AIDS Jumlah Nilai p
Baik Kurang Baik
n % n % N %
Baik 27 54 2 4 29 58
0,002
Kurang Baik 17 34 4 8 21 42
Berdasarkan tabel 4.25 diatas diketahui bahwa dari 29 orang responden (58%) yaang mendapatkan dukungan emosional (emotional/esteem support) komunitas dalam kategori yang baik, sudah ada 27 orang responden (54%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS yang juga dalam kategori yang baik, dan dari 21 orang responden (42%) yang memiliki dukungan komunitas dalam kategori yang kurang bai, sudah ada 17 orang responden (34%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS yang juga dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,002 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh dukungan emosional (emotional/esteem support) yang diberikan komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin baik dukungan emosional yang diberikan kepada LSL maka perilaku LSL dalam pencegahan HIV-AIDS akan cenderung semakin baik. Begitupun sebaliknya, semakin kurang baik dukungan emosional yang diberikan komunitas kepada LSL maka perilaku LSL dalam pencegahan HIV AIDS akan cenderung semakin kurang baik.
4.6.2 Pengaruh Dukungan Instrumental (Instrumental Support)
Pengaruh dukungan instrumental (instrumental support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.26 berikut :
Tabel 4.26 Pengaruh Dukungan Instrumental (Instrumental Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Berdasarkan tabel 4.26 diatas diketahui bahwa dari 44 orang responden (88%) yang memiliki dukungan instrumental (instrumental support) komunitas dalam kategori yang baik, sudah ada 25 orang responden (50%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS yang juga dalam kategori yang baik. Dari 6 orang responden yang memiliki dukungan instrumental (instrumental support) komunitas dalam kategori yang baik seluruhnya memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS yang juga dalam kategori yang baik.
Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,003 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh dukungan instrumental (instrumental support) yang diberikan komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin baik dukungan instrumental yang diberikan kepada LSL maka perilaku LSL dalam pencegahan HIV-AIDS akan cenderung semakin baik. Begitupun sebaliknya, semakin kurang baik dukungan instrumenta; yang diberikan komunitas kepada LSL maka perilaku LSL dalam pencegahan HIV AIDS akan cenderung semakin kurang baik.
4.6.3 Pengaruh Dukungan Informasional (Informational Support)
Pengaruh dukungan informasional (informational support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.27 berikut : Tabel 4.27 Pengaruh Dukungan Informasional (Informational Support)
Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Berdasarkan tabel 4.27 diatas diketahui bahwa dari 44 orang responden (88%) yang memiliki dukungan informasional (informational support) komunitas dalam kategori yang baik, sudah ada 39 orang responden (78%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik, dan dari 6 orang responden (12%) yang memiliki dukungan informasional (informational support) komunitas dalam kategori yang kurang baik, sudah ada 5 orang responden (10%) yang yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,001 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh dukungan informasional (informasional support) yang diberikan komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin baik dukungan informasional yang diberikan kepada LSL maka perilaku LSL dalam pencegahan HIV-AIDS akan cenderung semakin baik. Begitupun sebaliknya, semakin kurang baik dukungan informasional yang diberikan komunitas kepada LSL maka perilaku LSL dalam pencegahan HIV AIDS akan cenderung semakin kurang baik.
4.6.4 Pengaruh Dukungan Penilaian/Penghargaan (Appraisal Support) Pengaruh dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support) terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL dapat dilihat pada tabel 4.28 berikut : Tabel 4.28 Pengaruh Dukungan Penilaian/Penghargaan (Appraisal
Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Berdasarkan tabel 4.28 diatas diketahui bahwa dari 16 orang responden (32%) yang memiliki dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support) komunitas dalam kategori yang baik, seluruhnya memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik, dan dari 34 orang responden (68%) yang memiliki dukungan penilaian/penghargaan (appraisal support) komunitas dalam kategori yang kurang baik, sudah ada 28 orang responden (56%) yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,003 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh dukungan penilaian/penghargaan (penilaian/penghargaan support) yang diberikan komunitas terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin baik dukungan penilaian/penghargaan yang diberikan kepada LSL maka perilaku LSL dalam pencegahan HIV-AIDS akan cenderung semakin baik. Begitupun sebaliknya, semakin kurang baik dukungan penilaian/penghargaan yang diberikan komunitas kepada LSL maka perilaku LSL dalam pencegahan HIV AIDS akan cenderung semakin kurang baik.
4.6.5 Pengaruh Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial (Companionship Support)
Tabel 4.29 Pengaruh Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial (Companionship Support) Komunitas terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
4.7 Uji Multivariat
Untuk mengetahui variabel yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL, maka variabel yang memiliki nilai signifikan yang sama dilakukan analisis uji multivariat untuk mengetahui nilai variabel yang memiliki pengaruh paling signifikan. Variabel yang akan diuji dalam analisis multivariat ialah variabel karakteristik individu yaitu status/peran seksual, dan lama menjadi anggota komunitas LSL, serta variabel dukungan sosial komunitas yang berupa dukungan informasional (informational support) dan dukungan persahabatan/integrasi sosial (chompanionship support) yang memiliki nilai pengaruh yang sama yakni nilai p=0,001. Adapun statistik uji multivariat yang digunakan ialah uji regresi logistik berganda.
Hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji statistik logistik berganda dari variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada tabel 4.30 berikut ini : Tabel 4.30 Analisis Multivariat Variabel Paling Dominan dan Signifikan
dalam Memengaruhi Perilaku Pencegahan HIV-AIDS pada LSL
No. Variabel Nilai OR
(Odd Ratio) Nilaip 1 Status/Peran Seksual LSL 1,726 0,003 2 Lama Menjadi Anggota Komunitas
LSL 2,932 0,002
3 Dukungan Informasional
(Informational Support) Komunitas 1,726 0,003 4
Dukungan Persahabatan/Integrasi Sosial (Chompanionship Support) Komunitas
3,443 0,001
HIV –AIDS 1,7 kali lebih baik dibandingkan dengan status/peran seksual LSL yang lainnya, seorang LSL yang baru saja bergabung di komunitasnya dalam rentang waktu kurang dari 6 bulan memiliki perilaku 2,9 kali lebih baik terhadap pencegahan HIV-AIDS dibandingkan dengan LSL lain yang lebih lama bergabung di komunitas, kemudian seorang LSL yang mendapatkan dukungan informasional dalam kategori yang baik dari komunitasnya memiliki perilaku 1,7 kali lebih baik terhadap pencegahan HIV-AIDS dibandingkan dengan LSL yang mendapatkan dukungan informasional dari komunitasnya dalam kategori yang kurang baik, dan seorang LSL yang mendapatkan dukungan persahabatan/integrasi sosial dari komunitasnya dalam kategori yang baik memiliki perilaku 3,4 lebih baik dibandingkan dengan LSL yang mendaatkan dukungan persahabatan/integrasi sosial dari komunitasnya dalam kategori yang kurang baik.
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Pengaruh Karakteristik Individu LSL terhadap Perilaku Pencegahan HIV-AIDS
Karakteristik individu adalah perilaku atau karakter yang ada pada diri seorang individu baik yang bersifat positif maupun negatif,dimensi karakteristik individu secara biografis terdiri dari: umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama, status perkawinan, status sosial ekonomi, dan pendidikan yang merupakan sesuatu yang objektif dan mudah diperoleh dari catatan pribadi seseorang (Robbins, 2009). Semua dimensi ini dapat menimbulkan perbedaan perilaku terhadap tindakan individu dalam menghadapi sesuatu hal termasuk dalam perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL. Karakteristik individu LSL yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah meliputi : umur, suku bangsa, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status perkawinan, lama menjadi LSL, status/peran seksual LSL, jumlah pasangan seksual yang dimiliki, intensitas hubungan seksual dan lama menjadi anggota di komunitas LSL.
5.1.1 Pengaruh Karakteristik Umur
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan umur sebagian besar responden berada pada rentang usia 21 - 25 tahun yakni sebanyak 21 orang (42%), kemudian pada rentang usia 26 – 30 tahun sebanyak 19 orang (38%) dan pada rentang usia 15 – 20 tahun yakni sebanyak 10 orang (20%).
HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,185 (p>0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa tidak ada pengaruh karakteristik umur responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS, semakin tua umur responden tidak memengaruhi perilaku responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Masing-masing kategori umur responden memiliki kategori perilaku pencegahan HIV-AIDS yang relatif sama. Hal ini sejalan yang disampaikan oleh Dermatoto (2010) bahwa dalam suatu bentuk perilaku tertentu, respon seseorang terhadap stimulus untuk bertindak tidak selalu didasarkan usia yang dimiliki. Seseorang yang lebih muda bisa jadi memiliki respon yang lebih baik terhadap permaslahan yang dipersepsikan seharusnya respon positif diberikan oleh orang yang memiliki usia yang lebih tua.
Kelompok responden yang berumur 21 - 25 tahun merupakan kelompok responden yang mayoritas sudah memiliki penghasilan sendiri dan merupakan kelompok dengan perilaku bebas terutama yang berhubungan dengan seks. Pada kelompok umur 21 – 25 tahun seseorang akan cenderung untuk banyak berinteraksi dengan orang lain yang dapat memicu ke arah perilaku seks yang menyimpang. Kemenkes RI (2010) menyatakan bahwa kasus HIV di Indonesia paling banyak terjadi pada kelompok umur 21 - 30 tahun yang termasuk usia produktif. Dan di usia tersebut masih besar kemungkinan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti: bekerja, sekolah bahkan melakukan hubungan seksual. Namun, saat ini usia produktif sangat rentan terkena HIV/AIDS. Mereka biasanya tertular HIV/AIDS karena hubungan seks bebas.
LSL dalam memanfaatkan layanan kesehatan di klinik IMS dan VCT Veteran Medan.
5.1.2 Pengaruh Karakteristik Suku Bangsa
Dari hasil penelitian diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan suku bangsa sebagian besar responden merupakan suku Batak dan Jawa yakni masing-masing sebanyak 16 orang (32%), suku bangsa Melayu 9 orang (18%), suku bangsa Tionghoa/Chinese sebanyak 5 orang (10%) dan suku bangsa Minang sebanyak 4 orang (8%).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hanya ada 2 orang responden (4%) bersuku Batak, Melayu, dan Minang yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik, dan tidak ada satu pun responden (0%) yang bersuku Melayu dan Tionghoa yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,069(p>0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa tidak ada pengaruh karakteristik suku bangsa responden terhadap perilaku pencegahan AIDS. Masing-masing suku bangsa memiliki kategori perilaku pencegahan HIV-AIDS yang relatif sama.
adat tidak memiliki pengaruh atau hubungan terhadap respon yang diberikan oleh individu.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Maryani (2014) menjelaskan bahwa karakteristik suku bangsa yang melekat pada LSL tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS pada LSL yang menjadi pasien di klinik VCT Veteran kota Medan. Setiap karakter suku bangsa yang melekat pada diri seorang LSL tidak menjadi acuan bagi LSL untuk dapat memanfaatkan layanan kesehatan di klinik VCT Veteran kota Medan. Berbeda dengan penelitian oleh Raflis (2013) bahwa suku bangsa tertentu memiliki sensitivitas yang berbeda untuk merespon suatu keadaan sakit. Hal ini bisa jadi dikarenakan karena faktor sosial budaya yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat untuk memilih sejauh mana batasan sakit untuk dilakukan pola pengobatan tertentu dan berperilaku sesuai dengan permasalahan kesehatan yang rentan menginfeksi.
5.1.3 Pengaruh Karakteristik Tingkat Pendidikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar responden telah menyelsaikan pendidikan pada jenjang SMA/Sederajat yakni sebanyak 37 orang (74%), dan responden yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan di perguruan tinggi yakni sebanyak 13 orang (26%).
p=0,002(p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh karakteristik tingkat pendidikan responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin tinggi tingkat pendidikan responden maka semakin baik perilakunya dalam pencegahan HIV-AIDS.
Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Irmayati (2013), yang menjelaskan bahwa tingkat pendidikan dapat memengaruhi pengetahuan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pola pikir dan daya nalar dalam menghadapi suatu masalah (Hutasoit, 2006). Redding et al (2000) yang dikutip oleh Anggraeni (2010) menyatakan faktor pengubah seperti tingkat pendidikan dipercayai mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap perilaku dengan cara memengaruhi persepsi individu. Individu dengan pendidikan tinggi, cenderung memiliki perhatian yang besar terhadap kesehatannya sehingga jika individu tersebut mengalami gangguan kesehatan maka ia akan segera mencari pelayanan kesehatan.
Hal ini didukung oleh Notoatmodjo (2010), yang menyatakan bahwa seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak sama pemahamannya dengan orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah pula bagi mereka untuk menerima informasi dan pada akhirnya semakin banyak pengetahuan yang mereka miliki. Secara umum, pengetahuan yang baik akan memunculkan sikap yang baik dan mengaplikasikannya dalam tindakan. Semakin tinggi pengetahuan seseorang terhadap kesehatan, semakin tinggi kesadaran orang tersebut dalam menjaga kesehatannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan sebagian besar responden telah bekerja sebagai pegawai/buruh yakni sebanyak 19 orang (38%), dan responden yang masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa sebanyak 18 orang (36%), serta reponden yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 13 orang (26%).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hanya 3 orang responden (6%) yang berstatus sebagai pelajar/mahasiswa, 1 orang responden (2%) yang bekerja sebagai wiraswasta, 2 orang responden (4%) yang bekerja sebagai pegawai/buruh yang memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,068(p>0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa tidak ada pengaruh karakteristik tingkat pendidikan responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS, semakin tinggi tingkat pendidikan responden maka semakin baik perilakunya dalam pencegahan HIV-AIDS. Masing-masing jenis pekerjaan responden memiliki kategori perilaku pencegahan HIV-AIDS yang relatif sama.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Pratiwi (2015) yang menjelaskan bahwa jenis pekerjaan yang menjadi aktivitas atau sumber mata pencaharian LSL dalam keseharian tidak memiliki pengaruh terhadap pemanfaatan layanan kesehatan di klinik VCT Veteran kota Medan. Jenis pekerjaan yang dilaksanakan oleh LSL tidak menjadi acuan untuk LSL agar mau memanfaatkan layanan kesehatan di klinik VCT Veteran kota Medan. Berbeda dengan hasil penelitian Azhari (2012) yang menjelaskan bahwa pekerjaan merupakan salah satu ukuran dari status sosial ekonomi yang tercakup ke dalam faktor konsumen yakni merupakan faktor yang memengaruhi kebutuhan yang dirasakan sehingga memengaruhi pemanfaatan pelayanan pengobatan untuk mengobati sakit atau penyakit yang diderita agar memperoleh kesembuhan atau perilaku khusus yang ditujukan untuk mencegah terjadinya suatu infeksi penyakit. 5.1.5 Pengaruh Karakteristik Tingkat Pendapatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan tingkat pendapatan sebagian besar responden yakni sebanyak 28 orang (56%), memiliki pendapatan antara Rp. 1.000.000,- s.d Rp. 3.000.000,- setiap bulannya, kemudian reponden yang memiliki tingkat pendapatan dibawah Rp.1000.000,- sebanyak 14 orang (28%), dan responden yang memiliki tingkat pendapatan diatas Rp.3.000.000,- sebanyak 8 orang (16%).
uji Chi Square menunjukkan nilai p=0,075 (p>0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa tidak ada pengaruh karakteristik pendapatan responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS, semakin besar pendapatan responden tidak memengaruhi perilaku responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Masing-masing kategori tingkat pendapatan responden memiliki kategori perilaku pencegahan HIV-AIDS yang relatif sama.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Pratiwi (2015) yang menjelaskan bahwa penghasilan yang didapatkan oleh LSL setiapo bulannya tidak memiliki pengaruh terhadap pemanfaatan layanan kesehatan di klinik VCT Veteran kota Medan. LSL yang menjadi responden penelitian dengan penghasilan tertentu tidak menentukan untuk mau berkunjung dan memanfaatkan layanan kesehatan di klinik VCT Vetrean kota Medan. Hal yang sama disampaikan oleh Susanti (2014) yang menjelaskan bahwa penghasilan LSL tidak menentukan perilaku LSL dalam menggunakan kondom pada saat berhubungan seksual dengan pasangan seksual.
bersih, berpakaian sesuai fashion terkini, dengan fisik yang menawan karena memiliki uang untuk perawatan tubuh, dan tinggal di kawasan mewah. Responden dianggap bersih, padahal kelompok ini adalah kelompok yang sangat dekat dengan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Karena responden dengan berpenghasilan tetap adalah orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi, baik untuk tujuan pribadi atau bisnis, dan mempunyai daya beli yang kuat. Besar kemungkinan mereka menggunakan uang mereka untuk hiburan yang memaparkan mereka dengan risiko penularan HIV, misalnya membeli jasa pekerja seks komersial dan tidak menggunakan kondom. Atau berhubungan seks dengan kenalan baru, juga tidak menggunakan kondom. Namun tidak selamanya pendapatan seseorang menentukan respon yang baik terhadap stmulus tertentu dalam memberikan tindakan, karena terdapat faktor-faktor lain yang lebih dominan untuk menentuakan respon individu terhadap stimulus untuk bertindak dan beringkah laku.
5.1.6 Pengaruh Karakteristik Status Perkawinan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan status perkawinan, sebagian besar responden yakni sebanyak 42 orang (84%) masih belum menikah, kemudian responden dengan status sudah menikah sebanyak 6 orang (12%), dan responden yang sudah bercerai sebanyak 2 orang (4%).
(p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh karakteristik status perkawinan responden terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Responden yang sudah menikah atau bercerai cenderung memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS yang lebih baik.
Responden dengan status pernikahan belum menikah cenderung memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS yang baik mungkin dikarenakan memiliki tingkat kecemasan yang lebih daripada responden dengan status pernikahan yang sudah menikah atau bercerai. Seseorang dengan status sudah menikah akan cenderung merasa tidak akan terancam terinfeksi HIV-AIDS karena ia merasa sudah setia dengan satu pasangan lain halnya dengan mereka yang masih berstatus lajang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Malau (2015) yang menjelaskan bahwa LSL yang sudah menikah memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik, terlebih pada LSL yang memiliki istri dengan asumsi bahwa mereka memiliki kekhawatiran dapat menularkan HIV-AIDS pada istrinya. Terdapat hubungan yang bermakna antara status perkawinan dengan perilaku pencegahan HIV-AIDS. Hal serupa juga dijelaskan berdasarkan hasil penelitian Maryani (2014) bahwa LSL yang sudah memiliki istri cenderung mau memanfaatkan layanan kesehatan khusus untuk memeriksa apakah dirinya terinfeksi IMS dan atau HIV-AIDS.
5.1.7 Pengaruh Karakteristik Lama Menjadi LSL
bulan yakni sebanyak 10 orang (20%), dan responden yang sudah menjadi LSL selama enam bulan sampai dengan satu tahun yakni sebanyak 6 orang (12%).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 8 orang responden (16%) yang menjadi LSL kurang dari 6 bulan, 6 orang responden (12%) yang sudah menjadi LSL antara 6 bulan sampai dengan 1 tahun, serta 15 orang responden (30%) yang menjadi LSL antara 1 sampai dengan 3 tahun dan lebih dari 3 tahun memiliki perilaku pencegahan HIV-AIDS dalam kategori yang baik. Hasil uji Chi Squaremenunjukkan nilai p=0,003 (p<0,05) sehingga berdasarkan hasil uji diketahui bahwa ada pengaruh karakteristik lama menjadi LSL terhadap perilaku pencegahan HIV-AIDS. Semakin lama seseorang menjadi LSL maka perilakunya dalam pencegahan HIV-AIDS akan semakin baik.
Lamanya seseorang menjadi LSL berkaitan dengan persespsi terhadap kerentanan terinfeksi HIV-AIDS (Malau, 2015). LSL merupakan hidden populasi yang kemungkinan beberapa individu memiliki informasi tentang HIV sangat kurang sehingga menyebabkan mereka harus memiliki upaya lebih untuk mencari informasi dari berbagai akses. Kerentanan merupakan kondisi yang subjektif dalam diri individu, khususnya orang risiko tinggi HIV. Responden yang memiliki persepsi kerentanan yang lemah terhadap HIV, dapat dinyatakan memiliki keyakinan bahwa dirinya tidak berisiko menderita HIV, tidak memiliki riwayat perilaku yang berisiko tertular HIV, tidak memiliki pekerjaan yang membuat dirinya berisiko HIV, dan tidak memiliki teman atau orang disekitarnya yang membuatnya berisiko HIV/AIDS (Malau, 2015).