Bab ini menguraikan tentang metodologi penelitian yang terdiri dari: Jenis penelitian, lokasi dan waktu penelitian, populasi dan sampel, metode pengumpulan data, variabel dan defenisi operasional, metode pengukuran, metode analisis data, dan pertimbangan etik.
3.1. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dalam kelompok pra eksperimen tanpa pembanding menggunakan teknik one group pre test dan post test. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi protokol Caring pada penerimaan pasien baru terhadap perilaku Caring perawat di ruang rawat inap.
24
Skema 3.1. Rancangan Penelitian
Keterangan :
O1 : Pengukuran Kemampuan Awal Kelompok Experimen dengan memberikan kuesioner kepada pasien baru di ruang rawat inap dan mengukur perilaku Caring perawat saat menerima pasien baru
O2 : Pengukuran Kemampuan Akhir Kelompok Experimen dengan memberikan kuesioner kepada pasien yang baru pertama kali di rawat inap dan melakukan observasi perilaku Caring perawat saat menerima pasien baru
X : IntervensiProtokol Caring pada penerimaan pasien baru dilakukan sosialisasi dan roleplay protokol penerimaan pasienbaru
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Bunda Thamrin Medan, dengan pertimbangan karena di usianya yang ke lima Rumah sakit ini sudah terakreditasi dalam lima pelayanan dasar dan sudah mampu menjadi sebuah Rumah Sakit yang diperhitungkan di kota Medan serta terbuka menerima perubahan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Selain itu RSU Bunda Thamrin Medan belum pernah ada penelitian tentang
aplikasi protokol Caring perawat pada penerimaan pasien baru. Penelitian ini akan dilakukan mulai dari tanggal 4 Juli 2016 hingga 3 Agustus 2016.
3.3. Populasi dan Sampel
Populasi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kasus atau masalah yang akan diteliti (Polit & Beck,2012). Populasi pada penelitian ini adalah perawat yang bertugas di ruang rawat inap RSU Bunda Thamrin saat dilakukan survey awal berjumlah 150 orang juga pasien yang di rawat inap.
Metode pengambilan sampel yang dipergunakan adalah probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang memberi peluang atau
kesempatan bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel dengan cara simple random sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun kriteria sampelnya adalah perawat dengan latar belakang pendidikan minimal Diploma Tiga Keperawatan mempunyai masa kerja lebih dari empat bulan di ruang rawat inap.Kriteria sampel untuk pasien adalah minimal berusia 17 tahun dan baru pertama kali di rawat inap di RSU Bunda Thamrin Medan.
Untuk membuat estimasi jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan power analysis. Menurut Polit dan Hungler (1999) power analysis ini bertujuan untuk menetapkan ukuran sampel, sehingga
menunjukkan hasil yang lebih signifikan selain itu dapat juga menentukan
kekuatan uji statistik. Pada penelitian ini peneliti menetapkan nilai α sebesar 0,05,
γ sebesar 0.80, dan 1-β sebesar 0.30.Maka sampel penelitian ini sesuai dengan
26
3.4 Metode dan Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri, dengan menggunakanmetode dan alat sebagai berikut :
3.4.1. Metode Pengumpulan Data
Metode yang di pakai dalam pengumpulan data adalah pasien report dan observasi. Pasien Report yaitu kuesioner yang dibagikan kepada pasien baru yang
bersedia menjadi responden sebelum dilakukan intervensi dan kemudian kuesioner ini akan diberikan lagi kepada pasien baru setelah dilakukan intervensi.
3.4.2. Alat
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat: kuesioner dan lembar checklist observasi.
1. Kuesioner
Terdiri dari 2 buah kuesioner yaitu kuesiner data demografi dan kuesioner pengukuran perilaku Caring perawat.Kuesioner ini disusun peneliti berdasarkan Sepuluh Carative Faktor Perilaku Caring menurut Swanson yang juga telah diaplikasikan ke protocol Caring penerimaan pasien baru. 2. Checklist observasi tentang perilaku Caring perawat
3.5. Variabel dan Definisi Operasional
Penelitian ini melibatkan variabel bebas dan variabel terikat, dengan identifikasi sebagai berikut yaitu variabel bebas adalah protokol Caring perawat, dan variabel terikat adalah perilaku Caring perawat.
Perilaku Caring perawat adalah perilaku perawat saat menerima pasien baru di ruang rawat inap dengan menyambut pasien dengan ramah dan mengerti akan kebutuhan pasien. Perilaku Caring perawat diukur dengan menggunakan 2 instrumen yaitu dengan menggunakan instrument kuesioner dab lembar observasi. Instumrn kuesioner perilaku Caring terdiri dari 15 item dengan dua pilihan jawaban yaitu dilakukan (2) dan tidak dilakukan (1).Instrumen mempunyai skala rasio. Perilaku Caring diukur menjadi beberapa kategori yang diantaranya Perilaku Caring baik (26-30), Perilaku Caring cukup (21-25), dan Perilaku Caring kurang (15-20). Lembar observasi terdiri dari 5 item dengan dua pilihan
jawaban yaitu dilakukan (2) dan tidak dilakukan (1). Lembar observasi memiliki skala rasio. Perilaku Caring diukur menjadi beberapa kategori yang diantaranya Perilaku Caringbaik (9-10), Perilaku Caring Cukup (7-8), dan Perilaku Caringkurang (5-6). Data akan ditunjukkan dalam disribusi Mean,Standar
Deviasi,Frekwensi dan Persentase. 3.6. Protokol Caring
28
meliputi: 1) Pembentukan sistem nilai humanistik, 2) Kepercayaan – harapan, 3) Pengembangan sensitivitas pada diri sendiri dan orang lain, 4) Pengembangan rasa saling percaya, hubungan Caring, 5) Promosi dan penerimaan ekspresi pada perasaan positif dan negatif, 6) Menggunakan suatu pemecahan masalah yang kreatif, 7) Melakukan pengajaran transpersonal, 8) Memberikan suatu lingkungan yang mendukung, melindungi, dan perbaikan mental, fisik, sosial, dan spiritual, 9) Membantu memenuhi kebutuhan dasar dengan kepuasan, dan 10) Mengizinkan kekuatan eksistensial-fenomenologi-spiritual.
3.7. Validitas dan Reliabilitas 3.7.1 Validitas
Uji validitas terlebih dahulu dilakukan sebelum pengumpulan data, dengan tujuan kuesioner dan lembar checklist observasi yang dipersiapkan layak untuk digunakan sebagai alat ukur mewakili variabel yang ada dalam penelitian. Uji validitas instrumen penelitian ini menggunakan validitas constract (construct validity). Uji validitas akan dilakukan oleh tiga orang ahli.
3.7.2 Reliabilitas
3.8. Metode Analisis Data
Setelah semua data dikumpul, maka peneliti melakukan analisa data dan melalui beberapa tahap. Pertama, memeriksa kelengkapan identitas dan data responden dan memastikan bahwa semua jawaban telah terisi. Setelah itu, mengklarifikasi dan mentabulasikan data yang telah dikumpulkan serta dilakukan pengolahan data dengan menggunakan teknik komputerisasi.
3.8.1. Analisa data univariat
Analisa statistik univariat akan menguji frekuensi atau rata-rata nilai dari variabel-variabel (Polit & Beck, 2012). Pengolahan data dilakukan dengan cara univariat, dimana data untuk menampilkan data demografi, dalam bentuk tabel frekuensi, persentase, mean, dan standar deviasi (SD), rentang.
3.8.2. Analisa data bivariat
Analisa statistik bivariat digunakan dalam menggambarkan hubungan diantara dua variabel (Polit & Beck, 2012). Uji hipotesis menggunakan Independent t-test. Uji tersebut untuk menguji efektivitas protokol Caringpada
kelompok intervensi, dengan nilai yang signifikan (p). Untuk menginterpretasikan nilai signifikan (p), jika nilai p kurang dari atau sama dengan nilai α (0.05) berarti perbedaan yang signifikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesa alternatif (Ha) diterima dan dapat diinterpretasikan sebagai adanya perbedaan perilaku Caring pada kelompok intervensi dan jika nilai p lebih dari nilai α (0.05) berarti
30
alternatif (Ha) ditolak dan dapat diinterpretasikan sebagai tidak terdapatnya perbedaan perilaku Caring pada kelompok intervensi.
3.8.3. Asumsi uji statistik pada penelitian quasi-eksperimen
Dalam statistik parametrik, diperlukan asumsi tentang distribusi variabel-variabel dan estimasi sebuah parameter. Misalnya distribusi variabel-variabel yang normal. Data yang digunakan bersifat rasio atau interval. Distribusi frekuensi, Scatter plots juga dapat memberikan informasi apakah asumsi terpenuhi atau tidak (Polit & Beck, 2012). Asumsi pada uji perbedaan akan dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan tes parametrik, berada pada distribusi yang normal dengan menampilkan kurva normal dan linear serta homogen.
Dalam menguji kenormalan data dapat dilakukan dengan tiga cara meliputi: melihat grafik histogram dan kurva normal, menggunakan nilai Skewness dan standar errornya, dan uji Kolmogorov-Smirnov dengan nilai kemaknaan (p) > 0.05. Dalam menguji homogenitas dan varians dilakukan dengan Levene test dengan kemaknaan (p) > 0.05.
3.9. Pertimbangan Etik
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Tujuan dalam penelitian adalah untuk menguji aplikasi protokol Caring terhadap perilaku Caring perawat. Bab ini menunjukkan hasil penelitian. Hasil tersebut berdasarkan 44 pasien baru masuk dan perawat di ruang rawat Inap RSU Bunda Thamrin Medan.Hasil menunjukkan tiga bagian meliputi: deskripsi lokasi penelitian, data demografi responden, perilakuCaringperawat, dan hasil analisis.
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di ruang rawat inap RSU Bunda Thamrin Medan.Lokasi penelitian ini dipilih karena diusianya yang ke lima RSU Bunda Thamrin sudah terakreditasi dalam lima pelayanan dasar dan sudah mampu menjadi sebuah Rumah Sakit yang diperhitungkan di kota Medan serta terbuka menerima perubahan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.Selain itu RSU Bunda Thamrin belum pernah ada penelitian tentang Aplikasi Protocol Caring Perawat pada Penerimaan Pasien baru.
Ruang rawat inap sebanyak 137 kamar yang terdiri dari 6 kamar kelas 3, 11 kamar kelas 2, 43 kamar kelas 1,40 kamar VIP, 24 kamar SVIP dan 13 kamar Executive.Ruang rawat inap tersebar di lantai 3,lantai 5,lantai 6 dan lantai 7 untuk gedung 1 dan lantai 5,lantai 6 dan lantai 7 untuk gedung 2.
4.2. Data Demografi Responden
Data yang berhubungan dengan karakteristik demografi pada responden (pasien baru) ditunjukkan oleh Tabel 4.1 dan Tabel 4.2. Hasil menunjukkan bahwa pasien pada kedua kelompok adalah perempuan (52.72%) pada pre aplikasi dan (63.64%) pada post aplikasi. Pada kategori umur responden pada kelompok pre aplikasi adalah 41-50 tahun (29.55%) dan > 50 tahun (36.36%) pada kelompok post aplikasi. Responden dari kedua kelompok mempunyai suku batak (54.55% pada kelompok pre aplikasi dan 50.00% pada kelompok post aplikasi). Pada kedua kelompok tersebut, responden mempunyai pendidikan SMP/SMA (54.55% pada kelompok pre aplikasi dan 63.64% pada kelompok post aplikasi. Kebanyakan status pernikahan pada kedua kelompok adalah belum menikah (70.54% pada kelompok pre aplikasi dan 77.27% pada kelompok post aplikasi). Pada kedua kelompok, status pekerjaaannya adalah bekerja (56.82 pada kelompok pre aplikasi dan 61.36 pada kelompok post aplikasi).
34
pendidikan D3 Keperawatan (75.00% pada kelompok pre aplikasi dan 86.36% pada kelompok post aplikasi). Pada kategori suku, kebanyakan dari mereka mempunyai suku batak (77.27% pada pre aplikasi dan 68.18 pada post aplikasi). Mayoritas pada kedua kelompok belum menikah, dimana pada kelompok pre aplikasi 75% dan pada kelompok post aplikasi sebesar 81.82%. pada kategori lama bekerja perawat, kelompok pre aplikasi dan post aplikasi perawat berada pada 2-5 tahun (72.73% dan 77.27%).
Tabel 4.1.
Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Pasien Pre Aplikasi Protokol Caring Pada Penerimaan Pasien Baru Tahun 2016 (N=44)
Tabel 4.2.
Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Pasien Post Aplikasi Protokol Caring Pada Penerimaan Pasien Baru Tahun 2016 (N=44)
36
Tabel 4.3.
Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Perawat Pre Aplikasi Protokol Caring Pada Penerimaan Pasien Baru Tahun 2016 (N=44)
Tabel 4.4.
Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Perawat Post Aplikasi Protokol Caring Pada Penerimaan Pasien Baru Tahun 2016 (N=44)
Karakteristik f %
4.3. PerilakuCaring perawat 4.3.1. Pre aplikasi protokolCaring
PerilakuCaring perawat pada penerimaan pasien baru di ruang rawat inap pre aplikasi protocol Caring didapatkan hasil untuk perilakuCaring yang “baik”
berdasarkan kuesioner sebanyak 37 responden (84 %) sedangkan berdasarkan observasi didapatkan sebanyak 41 responden (93 %).
Nilai mean perilaku Caring berdasarkan kuesioner pada pre aplikasi protokol Caring adalah 12.50 (SD= 2.08) dan 1.98 (SD=1.38) pada perilaku Caring
38
pasien baru berdasarkan kuesioner berada pada nilai 21 (1 orang) sedangkan pada observasi berada pada nilai 5 (9 orang). Data perilakuCaring perawat yang berdasarkan kuesioner dan observasi ditunjukkan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.5.
Distribusi Mean dan Standar Deviasi Perilaku Caring Berdasarkan Kuesioner dan Observasi Sebelum Aplikasi Protokol Caring Tahun 2016 (n=44)
Variabel M SD
Pre Aplikasi
Perilaku Caring berdasarkan kuesioner 12.50 2.08 Perilaku Caring berdasarkan observasi 1.98 1.38
4.3.2.Post aplikasi protokol Caring
PerilakuCaring perawat pada penerimaan pasien baru di ruang rawat inap post aplikasi protocol Caring didapatkan hasil untuk perilakuCaring yang “baik”
berdasarkan kuesioner sebanyak 43 responden (97,7 %) sedangkan berdasarkan observasi didapatkan sebanyak 41 responden (93 %).
Nilai mean perilaku Caring berdasarkan kuesioner pada post aplikasi protokol Caring adalah 14.45 (SD= 4.75) dan 1.10 (SD=0.70) pada perilaku Caring
berdasarkan observasi. Data perilaku Caring perawat yang berdasarkan kuesioner dan observasi ditunjukkan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.6.
Distribusi Mean dan Standar Deviasi Perilaku Caring Berdasarkan Kuesioner dan Observasi Sesudah Aplikasi Protokol Caring Tahun 2016
Variabel M SD
Pre Aplikasi
4.4. Pengaruh Aplikasi Protokol Caring Pada Penerimaan Pasien Baru di Ruang RawatInap Terhadap Perilaku Caring Perawat
PerilakuCaring perawat berdasarkan kuesioner dengan menggunakan
Paired t-test menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang
signifikanperilakuCaringantara kelompok pre test dan post test (t=-4.81, p= 0.00) (Tabel 4.3.)
Tabel 4.7.
Pengaruh Aplikasi Protokol Caring Berdasarkan Kuesioner Pada Kelompok
Pre Test dan Post Test(n=44)
Kelompok Perilaku Caring berdasarkan kuesioner Mean
Perilaku Caring perawat berdasarkan observasi dengan menggunakan Paired t-test menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikanperilakuCaringantara
kelompok pre test dan post test (t=-11.01, p= 0.00) (Tabel 4.4.) Tabel 4.8.
Pengaruh Aplikasi Protokol CaringBerdasarkan Observasi pada Kelompok
Pre Test dan Post Test
BAB 5 PEMBAHASAN
Pada bab ini peneliti akan membahas hasil penelitian tentang perilakuCaring perawat,pengaruh aplikasi protocol Caring pada penerimaan pasien baru di ruang rawat inap dan keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian yang akan diuraikan dibawah ini.
Data Demografi Responden
Caringnya kepada pasien. Artinya semakin tinggi pendidikan perawat dan
lamanya bekerja membuat perawat memiliki perilakuCaring yang baik.
5.1. Demografi Perawat
Hasil penelitian menunjukan umur perawat berada pada kategori 25-35 tahun (61.36) hal ini menunjukkan usia tenaga perawat pada usia produktif dan telah memasuki tahap pemantapan pilihan karir, hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Dessler (2008). Tenaga perawat pada usia ini merupakan aset bagi rumah sakit karena mempunyai kinerja dan produktifitas yang baik bagi pelayanan keperawatan, pada usia ini tenaga perawat mempunyai kematangan jiwa, lebih bijaksana dan berfikir lebih rasional hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Siagian (2010), sehingga diharapkan tenaga perawat pada usia ini memiliki perilakuCaring karena Caring membutuhkan interaksi, kasih sayang, empati, perilaku menolong secara langsung, koping, pengurangan stres yang spesifik, sentuhan, pengasuhan, bantuan, pengawasan dan perlindungan, Leininger (1977) dalam Morrison dan Burnard (2009)
42
Nasir & Muhith (2011) menyatakan Caring dalam asuhan keperawatan merupakan bagian dari bentuk kinerja perawat yang sangat dipengaruhi oleh variabel individu, organisasi, dan psikologis.Perilaku Caring tidak dapat terbentukdalam waktu yang singkat karena perilaku merupakan interaksi dari pengetahuan, persepsi dan motivasi dari individu tersebut dalam melakukan Caring, sehingga pembelajaran pada berbagai unsur Caring hendaknya telah
dibangun sejak perawat dalam masa pendidikan.
5.2. PerilakuCaring perawat.
5.1.1.PerilakuCaring perawat pre aplikasi Protocol Caring.
Penilaian perilakuCaring perawat pada penerimaan pasien baru di ruang rawat inap dari kuesioner didapatkan data sebanyak 84% responden (pasien) mengatakan bahwa perawat sudah berperilakuCaring sedangkan dari data observasi sebanyak 20,45 % responden (perawat) belum memperlihatkan perilakuCaring pada penerimaan pasien baru.
Tabel 5.1.
Distribusi Mean dan Standar Deviasi Perilaku Caring Berdasarkan Kuesioner dan Observasi Sebelum Aplikasi Protokol Caring Tahun 2016 (n=44)
Variabel M SD
Pre Aplikasi
44
pelayanan keperawatan yang diberikan pada pasien, serta dapat berdampak terhadap kepuasan pasien. Perilaku perawat yang baik akan meningkatkan penilaian pasien terhadap kualitas pelayanan yang diberikan (Wijono, 1999). Perilaku perawat yang diharapkan pasien adalah perilaku yang Caring, yaitu perhatian dan perlakuan perawat terhadap pasien dengan baik. Pendekatan dan perilaku Caring perawat juga merupakan dasar dari proses interpersonal perawat – pasien (Sitorus, 2009). Oleh karena itu, penerapan perilaku Caring perawat ini perlu mendapatkan perhatian khusus dan pengelolaan yang lebih baik dari rumah sakit. Perilaku Caring dapat diterapkan dengan baik, bila perawat memiliki pemahaman yang baik tentang perilaku Caring tersebut. Pemahaman perawat tentang perilaku Caring dapat diperoleh salah satunya melalui pelatihan, karena pelatihan merupakan metode terorganisasi yang memastikan bahwa seseorang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan untuk tujuan khusus yaitu mereka mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas kerja (Marquis & Huston, 2010).
5.1.2.PerilakuCaring perawat post aplikasi Protokol Caring
PerilakuCaring perawat pada penerimaan pasien baru di ruang rawat inap terjadi peningkatan post aplikasi protocol Caring. Peningkatan ini dapat dilihat berdasarkan penilaian baik dari kuesioner maupun berdasarkan observasi.
PerilakuCaring perawat pada penerimaan pasien baru di ruang rawat inap post aplikasi protocol Caring didapatkan hasil untuk perilakuCaring yang “baik”
46
Nilai mean perilaku Caring berdasarkan kuesioner pada post aplikasi protokol Caring adalah 14.45 (SD= 4.75) dan 1.10 (SD=0.70) pada perilaku Caring
berdasarkan observasi. Data perilaku Caring perawat yang berdasarkan kuesioner dan observasi ditunjukkan pada Tabel 4.2.
Tabel 5.2.
Distribusi Mean dan Standar Deviasi Perilaku Caring Berdasarkan Kuesioner dan Observasi Sesudah Aplikasi Protokol Caring Tahun 2016
Variabel M SD
Pre Aplikasi
Perilaku Caring berdasarkan kuesioner 14.45 4.75 Perilaku Caring berdasarkan observasi 1.10 0.70
48
pada pasien. Berdasarkan hasil penelitian diatas, perawat dapat menerapkan karatif Caring dengan optimal diperlukan bimbingan yang maksimal dan supervisi yang rutin supaya perawat terbiasa dan menjadikan Caring sebagai budaya dalam pemberian asuhan keperawatan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Glembocki & Dunn (2010) tentang membangun budaya Caring melalui pelatihan, menginformasikan adanya peningkatan pengetahuan perawat tentang perilaku Caring sebelum dan sesudah pelatihan. Hal ini juga sejalan dengan penelitian
memerlukan pengembangan pengetahuan, ketrampilan, keahlian, empati, komunikasi, kompetensi klinik, keahlian teknik dan ketrampilan interpersonal perawat, serta adanya rasa tanggung jawab perawat untuk menerapkannya pada klien. Hal ini juga sesuai dengan teori yang dijelaskan dalam Morrison & Burnard (2009) yang menyatakan bahwa Caring merupakan sebuah proses interpersonal esensial yang mengharuskan perawat melakukan aktivitas peran yang spesifik dalam sebuah cara dengan menyampaikan ekspresi emosi tertentu pada klien. Aktivitas peran ini diterapkan perawat dalam pemberian asuhan keperawatan berupa kehadiran, sentuhan kasih sayang, selalu mendengarkan dan memahami klien (Potter & Perry, 2009).
5.2. Pengaruh AplikasiProtokol Caring padaPenerimaan Pasien Baru terhadap PerilakuCaring Perawat di Ruang Rawat Inap.
Hasil penelitian didapatkan bahwa ada pengaruh aplikasi protocol Caring pada penerimaan pasien baru terhadap perilakuCaring perawat di ruang rawat inap sebelum (pre aplikasi) dengan sesudah aplikasi (post aplikasi) protocol Caring dengan penilaian kuesioner pre test dan post test (t=-4.81, p= 0.00) dan penilaian observasi pre test dan post test (t=-11.01, p= 0.00), sehingga dengan hasil p= 0.00 dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil pengaruh aplikasi protokol Caring terhadap perilakuCaring perawat pada penerimaan pasien baru di ruang
50
membentuk kultur Caring pada rumah sakit (Luk,2009). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa ada pengaruh Aplikasi Penerimaaan Pasien baru berbasis perilaku Caring perawat mempunyai hubungan dengan tingkat kepuasan pasien diruang rawat inap rumah sakit. Pernyataan ini didukung teori yang dikemukan oleh Potter dkk., (2009) bahwa sikap perawat yang berhubungan dengan Caring adalah kehadiran, sentuhan kasih sayang dan selalu mendengarkan klien. Sentuhan Caring suatu bentuk komunikasi non verbal yang dapatmempengaruhi kenyamanan klien, meningkatkan harga diri klien, memperbaiki orientasi tentang kenyataan (Watson, 1994) dalam Potter dkk.,(2009). Semakin baik perilaku Caring perawat dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan, pasien atau keluarga semakin senang dalam menerima pelayanan, berarti hubungan terapeutik perawat-klien semakin terbina. Berdasarkan hasil wawancara dengan , responden ditemukan bahwa merasa puas dengan perawat yang ramah, mudah senyum, sopan dan memberi perhatian. Pernyataan responden tersebut sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa Caring merupakan praktik keperawatan dimana perawat membantu klien pulih
kelamin, latar belakang dan status sosial ekonomi (Singgih dkk.,2012). Menurut Morrison., (2008) bahwa keperawatan dan Caring adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dan pada saat yang sama mengindikasikan bahwa beberapa aktivitas praktik dilakukan dalam proses Caring di lingkungan keperawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara perilaku Caring perawat dengan tingkat kepuasan pasien, namun masih terdapat 6,2% yang
52
meminta bantuan perawat (Singgih dkk.,2012). Dari beberapa teori dan hasil penelitian tentang perilaku Caring perawat dengan kepuasan pasien sangat erat hubungannya karena perlakuan perawat sebagai provider dimana pelayanan perawat harus dapat dirasakan dan memberi dampak yang positif terhadap pasien sebagai customer (pelanggan) pelayanan keperawatan di rumah sakit (Sitorus, 2011). Kepuasan pasien adalah keluaran (outcome) layanan kesehatan. Dengan demikian, kepuasan pasien merupakan salah satu tujuan dari peningkatan layanan kesehatan. Analisis survei kepuasan pasien yang berkesinambungan akan menghasilkan informasi baik untuk inovasi organisasi ataupun sikap personel dengan tujuan baik kearah peningkatan kepuasan pasien ataupu peningkatan mutu layanan kesehatan (Pohan, 2006).
Watson (2007) menyatakan bahwa Caring merupakan landasan moral yang menyeluruh, sebuah komitmen yang tertinggi dan terdalam untuk tetap melaksanakan integritas dan menjaga hubungan dengan pasien,keluarga, masyarakat dan dunia keperawatan. Penampilan dan sambutan awal perawat merupakan hal pertama yang diperhatikan pasien, kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama (Sitorus, 2011).
5.3. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam melakukan penelitian ini adalah pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan pada pasien yang sesuai dengan kriteria dan mendapat persetujuan.Sehingga memiliki kelemahan yaitu belum tentu mewakili dari populasi yang ada.Sebaiknya untuk penelitian berikutnya dilakukan tehnik pengambilan sampling dengan menggunakan random sampling, sehingga sampel yang diambil dapat mewakili populasi yang ada.
Peneliti mengalami keterbatasan pada sampel perawat dimana perawat yang telah bekerja lebih dari empat bulan banyak yang belum memiliki baju seragam dan banyak juga yang memakai baju seragam yang sebenarnya sudah tidak layak lagi. Kondisi baju seragam kerja yang tidak baik ini menyebabkan perawat tidak percaya diri pada saat melakukan protocol Caring pada penerimaan pasien baru.Keterbatasan ini sudah disampaikan kepada pihak SDM Rumah Sakit agar mempercepat pengadaan baju seragam sehingga tidak mempengaruhi kinerja perawat.
Desain yang digunakan peneliti terbatas hanya mengetahui ada tidaknya pengaruh aplikasi protocol Caring terhadap perilakuCaring perawat dengan membandingkan hasil sebelum (pre test) dan sesudah (post test) aplikasi protocol Caring.Penelitian ini dilakukan dengan memfokuskan pada satu kelompok saja
54
Pengaruh Aplikasi Protokol Caring pada Penerimaan Pasien Baru terhadap PerilakuCaring Perawat di Ruang Rawat Inap RSU Medan menunjukan ada perbedaan antara perilakuCaring perawat yang belum menjalankan protokol Caring dengan perilakuCaring perawat yang telah menjalankan protokol Caring.
Ada peningkatan yang signifikan pada perawat setelah menerima protokol Caringp = 0.000.
Hasil penelitian didapatkan bahwa perilakuCaring perawat pada penerimaan pasien baru pre aplikasi protocol Caring berdasarkan kuesioner didapatkan 1 orang dengan nilai minimum (21) sedangkan pada observasi didapatkan 9 orang dengan nilai minimum (5). PerilakuCaring perawat pada penerimaan pasien baru mengalami peningkatan menjadi 1 orang dengan nilai minimum (25) pada kuesioner dan 3 orang dengan nilai minimum (8)
56
6.2. SARAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh aplikasi protokol Caring pada penerimaan pasien baru terhadap perilakuCaring perawat, sehingga peneliti ingin menyarankan agar protocol Caring pada penerimaan pasien baru dapat dilakukan dalam praktek keperawatan di semua ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Bunda Thamrin Medan.
Dengan adanya pengaruh aplikasi protocol Caring pada penerimaan pasien baru, peneliti juga mengharapkan agar protocol Caring diajarkan kepada semua perawat pada masa orientasi pegawai baru. Pegawai baru satu persatu dilatih dan dilakukan rollplay sehingga pada saat di pelayanan dapat dilaksanakan dengan baik.