1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Untuk dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya, suatu perusahaan harus menyediakan jumlah dan jenis produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dengan harga yang terjangkau atau perusahaan terus melakukan aktivitas ekspansi dalam bentuk lainnya . Untuk itu perusahaan dihadapkan pada kondisi yang mendorong mereka untuk lebih kreatif dalam mencari sumber produksi yang murah, baik bahan baku ataupun modal atau pendanaan.
Manajemen dalam kondisi seperti diatas, harus mengambil keputusan tentang sumber dana mana yang menguntungkan bagi perusahaan. Untuk mengambil keputusan maka manajemen memerlukan informasi. Salah satu informasi yang dihasilkan oleh manajemen adalah laporan keuangan.
2
manajemen akan melaksanakan kegiatan dengan efisien dan efektif melalui pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen, perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing), kepemimpinan (leading) dan pengendalian (controlling).
Informasi mempunyai kualitas relevan bila dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai, yaitu dengan cara dapat berguna untuk mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu. Sedangkan, informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan.1
Seperti yang diuraikan diatas bahwa untuk tetap dapat beraktivitas menghadapi pesaing, maka perusahaan perlu melakukan kegiatan ekspansi dalam bentuk jumlah, jenis, wilayah pemasaran atau bentuk lainnya. Kegiatan ekspansi ini didanai oleh sumber dana internal dan eksternal. Salah satu sumber dana eksternal perusahaan adalah hutang. Hutang berpengaruh penting pada perusahaan karena selain sebagai sumber pendanaan ekspansi, hutang merupakan mekanisme yang dapat digunakan untuk mengurangi konflik keagenan (agency conflict). Konflik keagenan berhubungan dengan tujuan utama perusahaan.
3
2011). Konflik keagenan menimbulkan biaya keagenan (agency cost) untuk mensejajarkan kepentingan-kepentingan manajer dan pemegang saham yang dapat dikurangi dengan penggunaan hutang. Menurut Brigham dan Houston (2011), salah satu alternatif untuk mengurangi kelebihan arus kas adalah dengan hutang yang lebih besar dengan harapan persyaratan pelayanan hutang akan memaksa manajer menjadi lebih disiplin. Manajer akan memiliki kemungkinan kecil untuk melakukan pengeluaran yang sia-sia jika perusahaan memiliki persyaratan pelayanan hutang dalam jumlah besar. Yang perlu diperhatikan oleh para manajer adalah bahwa . hutang perusahaan berkaitan sangat erat dengan struktur modal suatu perusahaan.2
Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan perusahaan dalam melakukan pendanaan, tetapi dalam penelitian ini hanya meliputi beberapa faktor yaitu Kebijakan deviden, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Pertumbuhan Penjualan dan Likuiditas yang akan dibahas dalam tulisan ini. Profitabilitas adalah laba yang diperoleh perusahaan pada periode tertentu. Perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang sangat tinggi biasanya menggunakan hutang dalam jumlah yang relatif sedikit. Karena tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan perusahaan tersebut melakukan sebagian besar pendanaannya melalui dana yang dihasilkan secara
internal (Brigham dan Houston, 2011). Hal ini sesuai dengan pecking order theory
yang menetapkan suatu urutan keputusan pendanaan dimana para manajer pertama 1 Zaki Baridwan, Intermediate Accounting, Edisi 8, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta, 2004, Hal. 6 2Wahyuning Kurniati, “Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap kebijakan Hutang Perusahaan (Studi
4
kali akan memilih untuk menggunakan laba ditahan, hutang dan penerbitan saham sebagai pilihan terakhir (Mamduh, 2004).
Menurut Siregar (2005) didalam penelitiannya menemukan bahwa pecking order theory tidak secara spesifik menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara kebijakan deviden dengan kebijakan hutang perusahaan, tetapi ia menyatakan bahwa
pecking order theory dapat digunakan untuk memprediksi hubungan antara deviden dengan hutang perusahaan dan investasi melalui ketersediaan dana internal. Apabila deviden dibayarkan, maka dana internal yang tersedia akan berkurang. Secara umum deviden dapat diartikan sebagai bagian yang dibagikan oleh emiten kepada masing-masing pemegang saham. Kestabilan kebijakan deviden menyebabkan keharusan bagi perusahaan untuk membayar sejumlah deviden sehingga kebutuhan pendanaan perusahaan akan meningkat.3
Untuk menetukan level hutang, perusahaan perlu mempertimbangkan faktor ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan secara langsung mencerminkan tinggi rendahnya aktivitas operasi suatu perusahaan. Pada umumnya semakin besar suatu perusahaan maka akan semakin besar pula aktivitasnya. Perusahaan - perusahaan yang besar lebih mudah memperoleh pinjaman dari pihak ketiga karena kemampuan mengakses pada pihak lain dan jaminan berupa asset yang bernilai besar
3Siregar, B, “Hubungan Antara Deviden, Leverage Keuangan, dan Investasi,” Jurnal Akuntansi dan
5
dibandingkan dengan perusahaan kecil menurut penelitian Tarjo dan Giyanto H.M. (2003).4
Didalam hasil penelitian Ismiyati dan Hanafi (2003) menyatakan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap hutang. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi profitabilitas perusahaan maka akan semakin kecil hutang bersumber dari luar yang digunakan dalam pendanaan perusahaan karena perusahaan dapat menggunakan internal equity yang diperoleh dari laba ditahan terlebih dahulu. Sebaliknya, rendahnya profitabilitas perusahaan membuat kebutuhan dana belum tercukupi maka perusahaan dapat menggunakan hutang yang bersumber dari luar. Penggunaan profitabilitas sesuai dengan Pecking Order Theory
yang meprediksi bahwa manajer akan menggunakan pembiayaan dari dana internal
terlebih dulu yaitu laba ditahan baru kemudian dana eksternal seperti hutang.5
Likuiditas merupakan aspek yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban hutang yang telah jatuh tempo. Dengan demikian, suatu perusahaaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi, berarti bahwa pe-rusahaan tersebut mampu segera mengembalikan hutang-hutangnya. Hal ini, memberikan kepercayaan terhadap kreditur untuk mengembalikan pinjaman sehingga
4 Tarjo dan Jogiyanto H.M, “Analisa Free Cash Flow dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Kebijakan Hutang pada Perusahaan Publik di Indonesia,” Makalah Seminar, SNA VI, IAI, Hlm. 279.
6
semakin tinggi likuiditas maka akan semakin tinggi kebijakan hutang yang digunakan oleh perusahaan.6
Menurut Pecking Order Theory, semakin tinggi pertumbuhan (Growth) penjualan perusahaan, maka perusahaan akan lebih memilih untuk mendanai perusahaan dengan menggunakan modal internal yang berasal dari laba dan pendapatan dari penjualan. Suatu perusahaan yang mempunyai earnings yang stabil akan selalu dapat memenuhi kewajiban finansialnya sebagai akibat dari penggunaan modal asing. Sebaliknya, perusahaan yang mempunyai earnings yang tidak stabil dan
unpredictable akan menanggung resiko tidak dapat membayar beban bunga pada tahun atau keadaan yang buruk (Rakhmawati, 2008).
Tabel 1.1. Perbandingan Kebijakan Hutang (DER) dan Profitabilitas (ROA)
Kode Perusahaan 2011 2012
DER ROA DER ROA tinggi dari pada ROA. Ini memperlihatkan bahwa perusahaan lebih cenderung
7
menggunakan pendanaan yang bersumber dari luar berupa hutang, dengan penggunaan hutang maka perusahaan harus melakukan pembayaran bunga dari hutang itu sendiri yang menyebabkan pendapatan berkurang. Hal ini tidak sesuai dengan Pecking Order Theory yang mengatakan perusahaan lebih cenderung menyukai pendanaan internal dari pada eksternal.
Hasil penelitian terdahulu tentang pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan hutang masih memperlihatkan hasil yang tidak konsisten. Menurut Sayilgan et.al (2006); Joni dan Lina (2010) berpengaruh negatif signifikan, sementara menurut Irianto et.al (2008); Ramlall (2009) tidak signifikan.
Ketidak konsistenan hasil penelitian terdahulu untuk variabel likuiditas terhadap kebijakan hutang yaitu antara penelitian yang dilakukan Ramlall (2009); Paydar dan Bardai (2012) yang berpengaruh negatif signifikan, sementara menurut Sabir dan Malik (2012) berpengaruh positif signifikan.
Hasil penelitian tentang pengaruh pertumbuhan penjualan terhadap kebijakan hutang memperlihatkan hasil yang tidak konsisten. Menurut Supriyanto dan Falikhatun (2008); Mardinawati berpengaruh positif signifikan, sementara menurut Amirya dan Atmini (2008) negatif.
Hasil penelitian yang tidak konsisten juga ditemukan untuk variabel ukuran perusahaan terhadap kebijakan hutang. Menurut Irianto et.al (2008); Ali (2011) berpengaruh positif, sementara menurut Heyman et.al (2007); Ramlall (2009) berpengaruh negatif.
8
Perusahaan food and beverage adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan dan minuman. Di Indonesia perusahaan makanan dan minuman berkembang pesat, hal ini terlihat dari jumlah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia semakin banyak dari periode ke periode, walaupun ada beberapa perusahaan yang pernah mengalami defisiensi modal untuk sementara karena imbas darim krisis ekonomi. Namun dengan populasi penduduk Indonesia yang cukup banyak akan menjadi konsumen terbesar bagi industri makanan dan minuman, maka industri ini mempunyai prospek yang membaik dimasa sekarang dan akan datang.
Berdasarkan penjelasan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan hutang pada perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman dengan judul: “Pengaruh Kebijakan
Deviden, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Likuiditas dan Petumbuhan
Penjualan Terhadap Kebijakan Hutang Pada Perusahaan Makanan dan
Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2012”.
B. Target Yang Ingin Dicapai
9
manajemen untuk selalu berupaya untuk menggunakan laporan internal yang relevan bagi pengambilan keputusan yang berkait dengan kebijakan hutang.
10
BAB II
PERUMUSAN MASALAH
Beberapa hal yang ingin penulis teliti adalah mengenai :
1. Pengaruh kebijakan deviden, ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas dan pertumbuhan penjualan terhadap kebijakan hutang secara simultan pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
2. Pengaruh kebijakan deviden terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
3. Pengaruh ukuran perusahaan terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
4. Pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
5. Pengaruh likuiditas terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
6. Pengaruh pertumbuhan penjualan terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
A. Pembatasan Masalah
11
kebijakan deviden, ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas dan petumbuhan penjualan yang diduga berpengaruh terhadap kebijakan hutang.
Dari semua industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, data yang diambil oleh penulis adalah Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2012.
B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang ingin penulis teliti adalah :
1. Seberapa besar pengaruh kebijakan deviden, ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas dan pertumbuhan penjualan terhadap kebijakan hutang secara simultan pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012? 2. Seberapa besar pengaruh kebijakan deviden terhadap kebijakan hutang pada
perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
3. Seberapa besar pengaruh ukuran perusahaan terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
4. Seberapa besar pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
5. Seberapa besar pengaruh likuiditas terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012?
12
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalh diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kebijakan deviden, ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas dan pertumbuhan penjualan terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kebijakan deviden terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ukuran perusahaan terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012.
4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012. 5. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh likuiditas terhadap kebijakan
hutang pada perusahaan sektor makanan dan minuman periode 2009-2012. 6. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh likuiditas terhadap kebijakan
13
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Teori Kebijakan Hutang
a. Pecking Order Theory
Secara singkat teori ini menyatakan bahwa (1) Perusahaan menyukai
internal financing (pendanaan dari hasil operasi perusahaan berwujud laba ditahan), (2) Apabila pendanaan dari luar (eksternal financing) diperlukan, maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dulu, yaitu dimulai dengan penerbitan obligasi, kemudian diikuti oleh sekuritas yang berkarakteristik opsi (seperti obligasi konversi), baru akhirnya apabila masih belum mencukupi, saham baru diterbitkan (Brealey et all).7
Menurut Mamduh8 Teori pecking order menetapkan suatu urutan keputusan pendanaan dimana para manager pertama kali akan memilih untuk menggunakan laba ditahan, hutang dan penerbitan saham sebagai pilihan terakhir. Pertama adalah karena pertimbangan biaya emisi. Biaya emisi obligasi lebih murah dari biaya emisi saham baru, hal ini disebabkan karena penerbitan saham baru akan menurunkan harga saham lama. Kedua, manajer khawatir kalau penerbitan saham baru akan ditafsirkan
7 Brealey et all, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan Perusahaan, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga,
14
sebagai kabar buruk oleh pemodal, dan membuat harga saham akan turun. Hal ini disebabkan antara lain oleh kemungkinan adanya informasi asimetrik antara pihak manajemen dengan pihak pemodal.
b. Trade-off Theory
Menurut Brealey et all9 Teori Trade off menjelaskan adanya hubungan antara pajak, risiko kebangkrutan dan penggunaan hutang yang disebabkan keputusan struktur modal yang diambil perusahaan. Teori ini memperbandingkan manfaat dan biaya atau keseimbangan antara keuntungan dan kerugian atas penggunaan hutang. Pada teori ini juga dijelaskan bahwa sebelum mencapai suatu titik maksimum, hutang akan lebih murah daripada penjualan saham karena adanya tax shield.
Implikasinya adalah semakin tinggi hutang maka akan semakin tinggi nilai perusahaan (Mutamimah, 2003)10. Namun, setelah mencapai titik maksimum, penggunaan hutang oleh perusahaan menjadi tidak menarik, karena perusahaan harus menanggung biaya keagenan, kebangkrutan serta biaya bunga yang menyebabkan nilai saham turun (Kaaro, 2001).11
8 Mamduh, op-cit.
9 Brealey et all, loc-cit., 24.
10 Mutaminah, Analisis Struktur Modal Pada Perusahaan-Perusahaan Non Finansial yang Go Public Di
15
c. Signalling Theory
Signalling Theory adalah suatu tindakan yang diambil manajemen perusahaan yang memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Dalam perusahaan dengan prospek yang menguntungkan akan mencoba menghindari penjualan saham dan mengusahakan setiap modal baru yang diperlukan dengan cara-cara lain, termasuk penggunaan hutang yang melebihi target struktur modal yang normal menurut Brigham dan Houston.12
Manager dapat menggunakan hutang lebih banyak, sebagai sinyal yang lebih dapat dipercaya. Hal ini karena perusahaan yang meningkatkan hutang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa mendatang. Investor diharapkan akan menangkap
signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik. Sebagai dasar pertimbangan adalah penambahan hutang menyebabkan keterbatasan arus kas dan meningkatnya biaya-biaya beban keuangan sehingga manager
hanya akan menerbitkan hutang baru yang lebih banyak apabila mereka yakin perusahaan kelak dapat memenuhi kewajibannya. Dengan demikian hutang merupakan tanda atau sinyal positif (Ross, 1997).13
11 Kaaro, Analisis Leverage dan Deviden Dalam Lingkungan Ketidakpastian: Pendekatan Pecking
Order Theory dan Balancing Theory, SNA IV, 2001
12 Brigham dan Houston, Dasar-Dasar Managemen keuangan, Edisi 11, Jakarta: Penerbit Salemba
16
2. Hutang
a. Pengertian hutang
Dalam buku karangan Ghozali dan Chairiri definisi hutang ialah kewajiban yang merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. Menurut FASB, hutang adalah pengorbanan manfaat ekonomi masa mendatang yang mungkin timbul karena kewajiban sekarang suatu entitas untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas lain dimasa mendatang sebagai akibat transaksi masa lalu14. Menurut Munawir hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, di mana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor. 15
Hutang adalah merupakan salah satu sumber pembiayaan eksternal yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai kebutuhan dananya. Dalam pengambilan keputusan akan penggunaan hutang ini harus mempertimbangkan besarnya biaya tetap yang muncul dari hutang berupa bunga yang akan menyebabkan semakin meningkatnya leverage keuangan 13 Ross, The Determination of Financial Structure: The Incentive Signaling Approach, Bell Journal of
Economics and Management Science 8, 1997, Hlm. 26.
14 Ghozali dan Chairiri, Teori Akuntansi, Edisi ketiga, Semarang: Badan Penerbit Universitas
Dipinegoro, 2007, Hlm. 258.
17
dan semakin tidak pastinya tingkat pengembalian bagi para pemegang saham biasa.16
b. Kebijakan Hutang
Kebijakan hutang termasuk kebijakan pendanaan perusahaan yang bersumber dari eksternal. Penentuan kebijakan hutang ini berkaitan dengan struktur modal karena hutang merupakan salah satu komposisi dalam struktur modal. Perusahaan dinilai berisiko apabila memiliki porsi hutang yang besar dalam struktur modal, namun sebaliknya apabila perusahaan mengunakan hutang yang kecil atau tidak sama sekali maka perusahaan dinilai tidak dapat memanfaatkan tambahan modal eksternal yang dapat meningkatkan operasional perusahaan (Mamduh, 2004).17
Menurut Mamduh (2004)18 terdapat beberapa faktor yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan hutang, antara lain :
1) NDT (Non- Debt Tax Shield)
Manfaat dari penggunaan hutang adalah bunga hutang yang dapat digunakan untuk mengurangi pajak perusahaan. Namun untuk mengurangi pajak, perusahaan dapat menggunakan cara lain seperti depresiasi dan dana pensiun. Dengan demikian, perusahaan dengan NDT tinggi tidak perlu menggunakan hutang yang tinggi.
16 Nina Diah Pitaloka, op.cit., Hlm. 23.
18
2) Struktur Aktiva
Perusahaan yang memiliki aktiva tetap dalam jumlah besar dapat menggunakan hutang dalam jumlah besar karena aktiva tersebut dapat digunakan sebagai jaminan pinjaman.
3) Profitabilitas
Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasinya akan menggunakan hutang yang relatif kecil. Laba ditahannya yang tinggi sudah memadai membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan.
4) Risiko Bisnis
Perusahaan yang memiliki risiko bisnis yang tinggi akan menggunakan hutang yang lebih kecil untuk menghindari risiko kebangkrutan.
5) Ukuran Perusahaan
Perusahaan yang besar cenderung terdiversifikasi sehingga menurunkan risiko kebangkrutan. Di samping itu, perusahaan yang besar lebih mudah dalam mendapatkan pendanaan eksternal.
3. Kebijakan Deviden
19
Perusahaan akan cenderung untuk membayar deviden yang lebih besar jika manajemen memiliki proporsi saham yang lebih rendah (Rozeff, 1982).19
Pembayaran deviden kepada pemegang saham akan mengurangi sumber-sumber dana yang dikendalikan oleh manajemen. Semakin tinggi deviden yang dibayarkan kepada pemegang saham maka free cash flow dalam perusahaan semakin kecil. Hal ini mengakibaktkan manajemen harus memikirkan untuk memperoleh sumber dana dari luar yang bisa saja berupa hutang. Dengan demikian akan mengurangi kekuasaan manajemen terhadap pengendalian terhadap perusahaan, karena dengan adanya entitas lain yang memberikan hutang kepada pihak perusahaan maka entitas tersebut juga berkepentingan untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya perusahaan.20
4. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah cerminan besar kecilnya perusahaan. Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan pada total asset perusahaan, ukuran perusahaan merupakan cerminan dari besar/ kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada neraca akhir tahun menurut Ugy dan Sujoko (2007).21
Sedangkan menurut Nisa Fidyati (2003), Ukuran perusahaan secara langsung mencerminkan tinggi rendahnya aktivitas operasi suatu perusahaan.
19Rozeff, “Growth, Beta and Agency Cost as Determinants of Dividen Payout Ratios,” Journal of
Financial Research 5, 1982, hlm. 249.
20
Pada umumnya semakin besar suatu perusahaan maka akan semakin besar pula aktivitasnya. Dengan demikian, ukuran perusahaan juga dapat dikaitkan dengan besarnya kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan.22
Perusahaan kecil sangat rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan cenderung kurang menguntungkan sedangkan perusahaan besar dapat mengakses pasar modal dan dengan kemudahan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan memiliki fleksibilitas dan kemampuan untuk mendapatkan dana atau permodalan (Wahidawati 2001).23 Menurut Weston dan Brigham (2000), perusahaan-perusahaan besar cenderung lebih mudah untuk memperoleh pinjaman dari pihak ketiga, karena kemampuannya mengakses pihak lain atau jaminan yang dimiliki berupa asset bernilai lebih besar dibanding perusahaan kecil. Selain itu, perusahaan besar akan cenderung menggunakan dana seiring pertumbuhannya.
5. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasionalnya. Deviden merupakan bagian dari laba bersih yang dicapai perusahaan. Perusahaan akan dapat melakukan pembagian deviden jika perusahaan memperoleh profit. Semakin besar profitabilitas perusahaan maka kemampuan perusahaan untuk 21 Ugy dan Sujoko, Pengaruh Struktur Kepemilikan, Leverage, Faktor Intern dan Faktor Ekstern
Terhadap Nilai Perusahaan, Jurnal Manajemen dan kewirausahaan, 2007, Vol. 9, No. 1, Hlm. 42.
22 Nisa, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Hutang Perusahaan,” Jurnal Ekonomi,
21
membayar deviden kepada investor semakin besar. Variabel ini menggambarkan pendapatan yang dimiliki perusahaan untuk membiayai investasi. Profitabilitas menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor menurut Moh’d et all (1998).24
Menurut Brigham dan Housten, suatu perusahaan yang memiliki profitabilitas tetap dan pengeluaran investasi tetap maka perusahaan yang mempunyai profitabilitas tinggi akan menggunakan hutang yang relatif rendah dan sebaliknya.25
6. Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek, yaitu hutang-hutang yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun. Likuiditas sangat mendasar bagi perusahaan. Dalam rutinitas sehari-hari, likuiditas antara lain tercermin dalam bentuk kemampuan perusahaan dalam membayar kreditor tepat waktu atau membayar gaji tepat waktu.26
Pengukuran likuiditas biasanya mengaitkan kewajiban jangka pendek dengan asset lancar yang tersedia untuk melunasinya. Lingkup pengukuran bisa seluruh asset lancar atau sebagian asset lancar. Beberapa usulan terbaru 23 Wahidahwati, Pengaruh Kepemilikan Managerial dan Kepemilikan Institusional Pada Kebijakan
Hutang Perusahaan: Sebuah Perspektif Theory Agency, 2001, SNA IV.
24Moh’d et all, The Impact of Ownership Structure on Corporate Debt Policy: a Time-Series
Cross-Sectional Analisys, 1998, Financial review 33, hlm. 90.
25 Brigham dan Houston, op-cit., hlm. 186. 26
22
tentang pengukuran likuiditas, bahkan tidak menggunakan asset lancar sebagai sumbernya, tetapi menggunakan arus kas operasi. Penggunaan arus kas operasi dianggap lebih mengena, walaupun pada kenyataannya pengukuran dengan asset lancar masih sering digunakan karena lebih mudah menghitungnya.27
7. Pertumbuhan Penjualan
Menurut Brigham dan Houston, (2001) perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil. Dari definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan tingkat stabilitas jumlah penjualan yang dilakukan oleh perusahaan untuk setiap periode tahun buku. Pertumbuhan penjualan merupakan signal bagi kreditur untuk memberikan kredit atau bagi bank sebagai kreditor untuk menambah kredit, sehingga pertumbuhan penjualan mempunyai pengaruh positif terhadap struktur modal. Perusahaan yang mempunyai tingkat penjualan yang tinggi akan lebih menguntungkan jika memakai hutang (Mamduh, 2004). Menurut teori signaling maka pertumbuhan penjualan mempunyai pengaruh positif terhadap struktur modal. Sedangkan Weston dan Copeland, (1997) menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan penjualan merupakan ukuran sampai sejauh mana laba per saham dari suatu perusahaan dapat ditingkatkan oleh leverage. Jika penjualan
27
23
dan laba setiap tahun meningkat, maka pembiayaan dengan utang dengan beban tetap tertentu akan meningkatkan pendapatan pemilik saham. Perusahaan dengan penjualan cenderung meningkat membutuhkan dana besar untuk meningkatkan kegiatan operasionalnya yang kemungkinan tidak tercukupi dari sumber pendanaan internal, sehingga membutuhkan sumber dana eksternal. Pertumbuhan penjualan merupakan signal pada kreditur untuk memberikan kredit atau bagi bank sebagai kreditor untuk menambah kredit.
8. Hubungan Kebijakan Deviden dan Kebijakan Hutang
Siregar (2005) menemukan bahwa Pecking Order Theory yang diperkenalkan oleh Myer dan Majluf (1984) tigak secara spesifik menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara kebijakan deviden dengan kebijakan hutang perusahaan, namun ia menyatakan bahwa Pecking Order Theory dapat digunakan untuk memprediksi hubungan antara deviden dengan hutang perusahaan dan investasi melalui ketersediaan dana internal. Apabila deviden dibayarkan maka dana internal yang tersedia untuk investasi akan berkurang.
24
perusahaan karena menyebabkan dana internal perusahaan terpakai untuk pembayaran deviden , sehingga dibutuhkan dana eksternal berupa hutang.
9. Hubungan Ukuran Perusahaan dan Kebijakan Hutang
Perusahaan besar yang memiliki asset lebih banyak dibanding perusahaan kecil tentu dapat lebih mudah mengakses pasar modal. Karena kemudahan tersebut maka berarti perusahaan besar memiliki fleksibilitas dan kemampuan untuk mendapatkan dana. Hal ini berarti perusahaan besar mudah mendapat-kan sumber dana baik melalui saham ataupun hutang. Penelitian yang dilakukan Homaifar dan Zietz et.al (1994), Lopez dan Francisco (2008) menunjukkan hasil yang seragam dimana ukuran perusahaan berpengaruh secara positif signifikan terhadap tingkat hutang perusahaan.
10.Hubungan Profitabilitas dan Kebijakan Hutang
25
11.Hubungan Likuiditas Terhadap Kebijakan Hutang
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk dapat mengembalikan kewajibannya. Likuiditas dapat diukur dengan membagi hutang lancar dengan aktiva lancarnya, atau disebut current ratio (CR). Menurut Ozkan (2001) dalam Mulianti (2010) bahwa perusahaan yang memiliki current ratio tinggi berarti memiliki aktiva lancar yang cukup untuk mengembalikan hutang lancarnya. Jadi semakin likuid suatu perusahaan, berarti mempunyai kemampuan membayar hutang jangka pendek, sehingga cenderung akan menurunkan total hutangnya.
Hal ini sesuai dengan teori pecking order yang menetapkan suatu urutan keputusan pendanaan dimana para manajer pertama kali akan memilih untuk menggunakan laba ditahan, hutang dan penerbitan saham sebagai pilihan terakhir (Mamduh, 2004). Penelitian yang dilakukan Ramlall (2009), Paydar dan Bardai (2012) menunjukkan hubungan negatif signifikan antara likuiditas terhadap kebijakan hutang.
12.Pengaruh Pertumbuhan Penjualan Terhadap Kebijakan Hutang
26
Perusahaan yang memiliki penerimaan tinggi, berarti memiliki kemampuan pendanaan internal yang tinggi. Sesuai dengan teori pecking order, perusahaan akan memilih pendanaan internal terlebih dahulu kemuadian hutang dan saham sebagai pilihan terakhir. Penelitian yang dilakukan oleh Amirya dan Atmini (2008) menunjukkan hasil bahwa pertumbuhan penjualan negatif terhadap hutang.
27 BURSA EFEK INDONESIA
Perusahaan
Manufaktur
Annual Report
Tahun 2009-2012
Kebijakan Deviden
Profitabilitas
Likuiditas
Gambar 2.1. Kerangka Pikir Penelitian
Perusahaan Food and Beverage
Tahun 2009-2012 Investor
Ukuran Perusahaan
Kebijakan Hutang
Analisis Regresi Linear Berganda
Kesimpulan dan Saran Pertumbuha
28
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian dalam penelitian ini dilakukan pengambilan data di Bursa Efek Indonesia, Jalan Jendral Sudirman, Kav 52-53, Jakarta Selatan.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan dari bulan Maret 2014 sampai dengan selesai.
B. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, dimana data yang didapat secara tidak langsung dari perusahaan, melainkan diperoleh data yang diolah dan telah dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia periode 2009-2012 dengan melihat laporan keuangan perusahaan.
2. Sumber Data
Sumber data penelitian ini menggunakan data sekunder berasal dari Bursa Efek Indonesia periode 2009-2012 melalui internet www.idx.co.id,
29
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar didalam Bursa Efek Indonesia perusahaan Manufaktur kategori makanan dan minuman selama periode penelitian 2009-2012 yang berjumlah 76 perusahaan. Dengan rincian: 18 perusahaan pada tahun 2009, 19 perusahaan pada tahun 2010, 19 perusahaan pada tahun 2011, dan 20 perusahaan pada tahun 2012.
2. Sampel
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode
purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang dikehendaki.28
Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Perusahaan yang terdaftar berturut-turut di Bursa Efek Indonesia selama
periode penelitian 2009-2012.
b. Perusahaan mengeluarkan laporan keuangan tahunan yang berakhir tanggal 31 Desember mulai tahun 2009 sampai dengan 31 Desember 2012.
c. Perusahaan yang digunakan dalam penelitian merupakan perusahaan yang masuk kategori industri manufaktur sector makanan dan minuman.
Terdapat 15 sampel dari total 20 perusahaan yang terdaftar di Bursa efek Indonesia periode 2009-2012, sebagai berikut:
30
2)PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. (AISA) 3)PT Cahaya Kalbar Tbk. (CEKA)
4)PT Delta Djakarta Tbk. (DLTA) 5)PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST) 6)PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) 7)PT Mayora Indah Tbk. (MYOR)
8)PT Prasidha Aneka Niaga Tbk. (PSDN)
9)PT Pioneerindo Gourment International Tbk. (PTSP) 10)PT Sierad Produce Tbk. (SIPD)
11)PT Sekar Laut Tbk. (SKLT)
12)PT Sinar Mas Agro Resources And Technology (SMART) Tbk. (SMAR) 13)PT Siantar Top Tbk. (STTP)
14)PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA)
15)PT Ultrajaya Milk Industry And Trading Company Tbk. (ULTJ)
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan studi kepustakaan dan penelitian lapangan.
1. Studi Kepustakaan
31
dilakukan dalam rangka memperoleh data sekunder yang sifatnya teoritis dan digunakan sebagai pembanding dalam pembahasan nanti.
2. Penelitian Lapangan
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder sehingga prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi terhadap laporan keuangan yang disediakan oleh perusahaan itu sendiri yang diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia.
E. Metode Analisis Data
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran data yang sebagaimana adanya tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan berlaku umum.29
Metode analisis deskriptif merupakan analisa yang bersifat uraian berdasarkan kondisi datanya. Analisis deskriptif ini digunakan untuk menjelaskan faktor-faktor dari masing-masing variabel yang mempengaruhi kebijakan hutang.30
2. Uji Asumsi Klasik
a) Uji Normalitas
Uji normalitas data digunakan untuk pengujian data variabel independen dan data variabel dependen pada suatu persamaan regresi yang
32
menghasilkan apakah data berdistribusi normal atau tidak normal. Uji normalitas menggunakan analisis grafik histogram atau grafik normal P-P Plot.31
Didalam penelitian ini penggunaan analisis regresi linear berganda sesuai dikarenakan jumlah variabel independen yang digunakan lebih dari dua.32
Dasar dalam pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut: 1) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak searah garis
diagonal, maka model regresi itu tidak memenuhi standar asumsi normalitas.
2) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan searah garis diagonal, maka model regresi itu memenuhi standar asumsi normalitas.
b) Multikolinearitas
Menurut Imam Ghozali uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel besas
(independent variable). Suatu model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebas (independent variable).33
Untuk mendeteksi terjadi atau tidaknya korelasi antar variabel bebas dalam suatu model regresi adalah sebagai berikut:
30 Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Semarang: Universitas Diponegoro,
2007, Hlm. 19.
31 Sunyoto, Analisis Regresi dan Uji Hipotesis, Yogyakarta: Media Pressindo, 2009, Hlm. 84. 32 Ibid, Hlm. 89.
33
1) Multikolinearitas dapat dilihat dari tolerance dan variance inflation factor (VIF). Pada umumnya nilai cutoff yang digunakan untuk menunjukkan ada atau tidaknya multikolinearitas adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan dengan nilai VIF ≥ 10.34
Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dengan membuat hipotesis:
Tolerance ≤ 0,10 atau VIF ≥ 10: terjadi multikolinearitas
Tolerance ≥ 0,10 atau VIF ≤ 10: tidak terjadi multikolinearitas
c) Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan periode t-1 sebelumnya.35
Persamaan regresi yang baik adalah yang tidak memiliki masalah autokorelasi. Jika terjadi autokorelasi maka persamaan tersebut menjadi tidak layak sebagai suatu prediksi.36
Ukuran yang dijadikan dalam menentukan ada atau tidaknya masalah autokorelasi adalah Uji Durbin Watson (DW)37, dengan ketentuan sebagai berikut:
34 Ghozali, op-cit., Hlm. 96. 35
Ibid, Hlm. 99.
34
1) Tidak terjadi autokorelasi apabila nilai DW berada diantara -2 dan +2a atau -2 < DW < +2.
2) Terjadi autokorelasi positif apabila nilai DW dibawah -2 (DW < -2). 3) Terjadi autokorelasi negative apabila nilai DW diatas +2 (DW > +2). d) Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas menguji apakah terjadi ketidaksamaan variance dan residual dalam model regresi pada suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heterokedastisitas. Pengujian heterokedastisitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan grafik melalui program SPSS. Dasar analisis sebagai berikut:38
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heterokedastisitas.
35
3. Regresi Linear Berganda
Untuk menguji hubungan antara variabel independen dengan kebijakan hutang menggunakan regresi linear berganda. Persamaan sistematis sebagai berikut:
DER = DPR + ROA + CR + SIZE + b5GS + e Ket: DER = Kebijakan Hutang
DPR = Kebijakan Deviden ROA = Profitabilitas CR = Likuiditas
SIZE = Ukuran Perusahaan GS = Pertumbuhan Penjualan e = error
Dalam penelitiaan ini penulis menyajikan statistik deskriptif yang mencakup jumlah observasi, nilai minimum, nilai maksimum dan rata-rata variabel yang digunakan dalam penelitian.
4. Koefisien Determinasi ( )
36
Koefisien determinasi akan menunjukkan seberapa baik keseluruhan model regresi dalam menerangkan perubahan dalam nilai variabel yang dependen. Jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model menjadi kelemahan yang mendasar pada koefisien determinasi. Penelitian ini menggunakan berkisar antara nol dan satu. Jika nilai makin mendekati satu maka semakin baik kemampuan model tersebut dalam menjelaskan variabel dependen dan sebaliknya.
5. Uji Hipotesis
a. Uji F
Uji F bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen secara bersama-sama atau simultan. Berdasarkan dasar signifikansi adalah sebagai berikut:
1) Jika f-statistik signifikansi > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. 2) Jika f-statistik signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. b. Uji T
Uji T bertujuan untuk menguji secara parsial atau individu dari masing-masing variabel independen mempunyai pengaruh signifikan atau tidak signifikan terhadap variabel dependen.
Berdasarkan dasar signifikansi adalah sebagai berikut:
37
F. Definisi Operasional Variabel
Penelitian ini mengikuti studi yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengukur variabel dependen dan independen.
1. Kebijakan Hutang
Kebijakan hutang adalah kebijakan yang diambil oleh pihak manajemen dalam rangka memperoleh sumber pembiayaan bagi perusahaan sehingga dapat digunakan untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan. Perhitungan sistematis kebijakan hutang adalah sebagai berikut:
2. Kebijakan Deviden
Kebijakan deviden (dividend payout ratio) adalah merupakan persentase dari laba bersih yang akan diabayarkan sebagai deviden tunai kepada para pemegang saham. Perhitungan sistematis kebijakan deviden adalah sebagai berikut:
3. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan dari besar kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada
Kebijakan Hutang (DER) =
38
neraca akhir tahun. Perhitungan sistematis ukuran perusahaan adalah sebagai berikut:
4. Profitabilitas
Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba memalalui semua kegiatan operasional perusahaan.
Beberapa jenis rasio profitabilitas ini dapat dikemukakan sebagai berikut:39
a. Margin Laba (Profit Margin)
Profit Margin menunjukkan seberapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh oleh setiap penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
b. Return on Total Asset
Rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva.
Ukuran Perusahaan (Size) = LnTA (total asset)
Margin Laba (Profit Margin) =
39
c. Return on Investment (Equity)
Rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik.
5. Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya, yaitu hutang-hutang yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun. Perhitungan sistematis likuiditas adalah sebagai berikut:40
6. Pertumbuhan Penjualan
Growth Sales (GS) dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan prosentase kenaikan atau penurunan penjualan dari suatu periode ke periode berikutnya harahap (2007) mengacu pada penelitian yang dilakukan arif susetyo (2006).
39 Sofyan, Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan, 2007, Jakarta: PT RajaGrafindo persada, Hlm. 304. 40 Sofyan, loc-cit., Hlm. 301.
Likuiditas (CR) =
Return on Investment (Equity) =
40 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Objek Penelitian
Objek dari penelitian ini adalah perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan mengeluarkan laporan keuangan tahunan yang berakhir 31 Desember pada tahun 2009, 2010, 2011, dan 2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling yang berarti teknik pengambilan sampel dengan memakai pertimbangan atau kriteria tertentu. Adapun kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
d.Perusahaan yang terdaftar berturut-turut di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian 2009-2012.
e.Perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan tahunan yang berakhir tanggal 31 Desember mulai tahun 2009 sampai dengan 31 Desember 2012. f. Perusahaan yang digunakan dalam penelitian merupakan perusahaan yang
masuk kategori industri manufaktur sektor makanan dan minuman.
41
B. Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi).
Tabel 5.1 Statistik Deskriptif
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa jumlah objek yang diteliti (N) adalah 60 sampel kecuali DPR (Dividen Payout Ratio) yang berjumlah 32 karena tidak semua perusahaan membagikan laba yang didapat sebagai deviden kepada pemegang saham.
Berikut adalah deskripsi hasil analisis:
a. Nilai DER menunjukkan nilai minimum sebesar 0.16 dan maximum sebesar 0.76, dengan standar deviasi 0.13695 dan nilai mean DER sebesar 0.4747 yang menunjukkan bahwa rata-rata kebijakan hutang perusahaan sektor makanan dan minuman memiliki nilai yang lebih tinggi
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
DER 60 .16 .76 .4747 .13695
ROA 60 .00 .29 .0923 .06217
CR 60 .95 6.33 1.9665 1.12707
DPR 32 13.08 160.21 47.2353 39.34174
SIZE 60 25.24 31.71 28.0250 1.56691
GROWTH 60 -.40 2.05 .2126 .37799
42
dibandingkan dengan rata-rata industri kebijakan hutang menurut Weston dan Brigham sebesar 0.40. Rata-rata kebijakan hutang perusahaan makanan dan minuman lebih besar dari rata-rata industri berarti perusahaan akan menanggung risiko yang lebih besar dari penggunaan hutang karena perusahaan belum bisa mengoptimalkan dana internal
perusahaan.
b. Nilai ROA menunjukkan nilai minimum sebesar 0.00 dan maximum sebesar 0.29, dengan standar deviasi 0.06217 dan nilai mean ROA sebesar 0.0923 yang menunjukkan bahwa rata-rata profitabilitas perusahaan sektor makanan dan minuman memilki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industri profitabilitas menurut Weston dan Brigham sebesar 0.15. Rata-rata profitabilitas perusahaan makanan dan minuman lebih rendah dari rata-rata industri menunjukkan selama periode penelitian keuntungan yang di dapat perusahaan rendah.
43
lebih meningkatkan nilai CR karena dapat memperlihatkan likuidnya suatu perusahaan dalam membayarkan hutang jangka pendeknya.
d. Nilai DPR menunjukkan nilai minimum sebesar 13.08 dan maximum sebesar 160.21, dengan standar deviasi 39.34174 dan nilai mean DPR sebesar 47.2353 yang menunjukkan bahwa rata-rata kebijakan deviden perusahaan sektor makanan dan minuman memilki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri kebijakan deviden menurut Weston dan Brigham sebesar 0.25. Rata-rata kebijakan deviden perusahaan makanan dan minuman lebih tinggi dari rata-rata industri berarti bahwa selama periode penelitian, perusahaan membayarkan deviden tepat waktu dan nilainya terus bertambah.
e. Nilai SIZE menunjukkan nilai minimum sebesar 25.24 dan maximum sebesar 31.71, dengan standar deviasi 1.56691 dan nilai mean SIZE sebesar 28.0250. Ukuran perusahaan memiliki 3 kategori yaitu perusahaan kecil dengan aset ≤ 200 juta, perusahaan sedang dengan aset 1 milyar – 50 milyar dan perusahaan besar dengan aset ≥ 50 milyar menurut Mas’ud
44
C. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Pengujian normalitas menggunakan uji statistik kolmogorov-smirnov, jika nilai signifikansi > 0.05 maka data tersebut berdistribusi normal dan jika signifikansi < 0.05 maka data tidak berdistribusi normal.
Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
DER ROA CR DPR SIZE GROWTH
N 60 60 60 32 60 60
Normal Parametersa,,b Mean .4747 .0923 1.9665 47.2353 28.0250 .2126
Std. Deviation .13695 .06217 1.12707 39.34174 1.56691 .37799
Most Extreme Differences Absolute .074 .148 .279 .240 .061 .192
Positive .048 .148 .279 .240 .061 .192
Negative -.074 -.091 -.184 -.193 -.049 -.125
Kolmogorov-Smirnov Z .573 1.147 2.162 1.358 .472 1.489
Asymp. Sig. (2-tailed) .897 .144 .000 .050 .979 .024
a. Test distribution is Normal.
45
Tabel 5.3 Hasil Uji Normalitas
Untuk memenuhi uji asumsi klasik, maka data yang tidak normal terlebih dahulu ditransformasi ke logaritma natural. Dapat dilihat pada tabel 5.2 dan 5.3, setelah dilakukan tranformasi data nilai signifikan variabel CR dan GS menjadi normal. Dapat dijelaskan bahwa model regresi linier berganda tersebut layak dan baik untuk digunakan dalam penelitian ini, karena semua variabel memiliki nilai signifikan > 0.05 yang artinya residual data berdistribusi normal.
2. Uji Multikolinearitas
Model regresi yang baik mensyaratkan tidak adanya multikolinearitas. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas, dapat dilihat dari Tolerance
dan Variance Inflation Factor (VIF). Pada umumnya nilai cutoff yang
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
DER ROA DPR SIZE LNCR LNGROWTH
N 60 60 32 60 58 49
Normal Parametersa,,b Mean .4747 .0923 47.2353 28.0250 -.7886 -1.6714
Std. Deviation .13695 .06217 39.34174 1.56691 .88864 .97339
Most Extreme Differences Absolute .074 .148 .240 .061 .168 .068
Positive .048 .148 .240 .061 .129 .068
Negative -.074 -.091 -.193 -.049 -.168 -.068
Kolmogorov-Smirnov Z .573 1.147 1.358 .472 1.277 .479
Asymp. Sig. (2-tailed) .897 .144 .050 .979 .077 .976
a. Test distribution is Normal.
46
digunakan untuk menunjukkan ada atau tidaknya multikolinearitas adalah nilai Tolerance≤ 0.10 atau sama dengan dengan nilai VIF ≥ 10.
Tabel 5.4 Hasil Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel bebas yang dijelaskan oleh variabel bebas lainnya.
Pada tabel 5.3 dapat dilihat hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas, karena seluruh angka Tolerance diatas 0.10 dan
Variance Inflation Factor (VIF) yang dihasilkan memiliki nilai dibawah 10. Deskripsi hasil pengujian pada tabel 5.3 sebagai berikut:
a. Nilai Tolerance ROA sebesar 0.538 (≥ 0.10) dan nilai VIF ROA sebesar
47
b. Nilai Tolerance DPR sebesar 0.568 (≥ 0.10) dan nilai VIF DPR sebesar
1.760 (≤ 10).
c. Nilai Tolerance SIZE sebesar 0.701 (≥ 0.10) dan nilai VIF SIZE sebesar
1.427 (≤ 10).
d. Nilai Tolerance Logaritma Natural CR sebesar 0.588 (≥ 0.10) dan nilai
VIF Logaritma Natural CR sebesar 1.700 (≤ 10).
e. Nilai Tolerance Logaritma Natural GS sebesar 0.838 (≥ 0.10) dan nilai
VIF Logaritma Natural CR sebesar 1.193 (≤ 10).
3. Uji Autokorelasi
Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson
(DW).
Tabel 5.5 Hasil Uji Autokorelasi
Pada tabel 5.4 nilai DW didapat sebesar 2.168 dengan jumlah sampel 60 dan jumlah variabel 5 ( N = 60, k = 5 ) dengan tingkat signifikansi
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .791a .625 .532 .09628 2.168
a. Predictors: (Constant), LNGROWTH, DPR, LNCR, SIZE, ROA
48
0.05 (5%). Dengan data tersebut maka batas atas (du) berdasarkan tabel DW = 1.767.
Du < DW < 4 – du 1.767 < 2.168 < 2.233
Oleh karena nilai DW sebesar 2.168 lebih besar dari batas atas (du) 1.767 dan kurang dari 4 – 1.767 (4 – du ) maka dapat disimpulkan bahwa nilai DW tersebut berada pada interval tidak ada autokolerasi positif atau negatif. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa model regresi untuk variabel dependen DER terbebas dari masalah autokolerasi.41
4. Uji Heterokedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dilakukan dengan memplotkan grafik antara SRESID dengan ZPRED di mana gangguan heteroskedastisitas akan tampak dengan adanya pola tertentu pada grafik. Berikut adalah uji heteroskedastisias pada model dalam penelitian ini:
49
50
D. Koefisien Determinasi ( )
Tabel 5.6 Hasil Uji Adjusted R2
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar hubungan dari variabel independen terhadap variabel dependen dalam pengertian yang lebih jelas. Koefisien determinasi akan menjelaskan seberapa besar perubahan atau variasi suatu variabel dependen bisa
dijelaskan oleh perubahan atau variasi pada variabel independen. Pada tabel 5.5 dapat terlihat besarnya nilai adjusted R2 sebesar 0.523 hal ini berarti sebesar 52.3% empat variable independen yaitu Logaritma Natural GS,
Logaritma Natural CR, SIZE, DPR dan ROA dapat menjelaskan variable dependen yaitu DER (Debt Equty Ratio). Sisanya 47.7% dijelaskan oleh sebab-sebab lain di luar model seperti struktur aktiva dan risiko bisnis.
E. Uji Hipotesis
1. Uji Statistik F (Uji F-test)
Uji F ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen secara bersama-sama atau simultan.
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .791a .625 .532 .09628 2.168
a. Predictors: (Constant), LNGROWTH, DPR, LNCR, SIZE, ROA
51
Tabel 5.7 Hasil Uji F-test
Dari tabel 5.6 dapat dilihat nilai F-test sebesar 6.677 serta nilai probabilitas sebesar 0.001 < 0.05. Maka dapat dikatakan bahwa permodelan yang digunakan, yaitu variabel independen (ROA, DPE, SIZE, CR dan GS) secara serentak berpengaruh signifikan pada variabel dependen (DER) adalah memenuhi kriteria.
2. Uji Statistik T (uji-T)
Uji signifikansi parameter individual atau disebut juga uji statistik Uji-T bertujuan untuk menguji secara parsial atau individu dari masing-masing variabel independen mempunyai pengaruh signifikan atau tidak signifikan terhadap variabel dependen.
Berdasarkan dasar signifikansi adalah sebagai berikut:
3) Jika t-statistik signifikansi > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. 4) Jika t-statistik signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression .309 5 .062 6.677 .001a
Residual .185 20 .009
Total .495 25
a. Predictors: (Constant), LNGROWTH, DPR, LNCR, SIZE, ROA
52
Tabel 5.8 Hasil Uji-T
a. Pengaruh Return On Asset (ROA) terhadap kebijakan hutang (DER).
Hasil pada tabel 5.8 menunjukkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t hitung sebesar -0.781 serta nilai probabilitas sebesar 0.444 > 0.05 yang berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Koefisien korelasi untuk variabel ROA menunjukkan nilai sebesar -0.302. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa profitabiltas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Semakin meningkatnya profitabilitas suatu perusahaan maka tidak akan selalu menurukan kebijakan hutang pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012.
53
Hasil penelitian ini didukung ini didukung oleh penelitian Dina Hastolana (2013)42 yang menunjukkan profitabilitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan hutang. Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Yeniatie dan Nicken (2010)43 yang menunjukkan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Berdasar hasil penelitian, peningkatan profitabilitas tidak selalu menurunkan hutang perusahaan. Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi berarti memupunyai dana internal yang besar sehingga akan menggunakan dana internal yaitu laba ditahan untuk operasional perusahaan daripada dana eksternal, maka akan mengurangi penggunaan hutang. Sebaliknya perusahaan akan mendapat kemudahan dalam memperoleh kepercayaan kreditur unutk meminjamkan dana karena memiliki profitabilitas yang tinggi artinya perusahaan mampu mendapat keuntungan yang lebih besar dari modal yang ditanamkan pada aktivanya.44
H0: Profitabilitas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.
H1: Profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.
42
Dina Hastalona, “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Hutang”, Jurnal Keuangan dan Bisnis, STIE Al Hikmah, Vol. 5, No. 1, Maret 2013.
43Yeniatie dan Nicken Destriana., “Faktor
54
b. Pengaruh Dividen Payout Ratio (DPR) terhadap kebijakan hutang (DER). Hasil pada tabel 5.8 menunjukkan bahwa kebijakan deviden berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t hitung sebesar -2.028 serta nilai probabilitas sebesar 0.050 > 0.05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Koefisien korelasi untuk variabel DPR menunjukkan nilai sebesar -0.002. Dengan demikan dapat dijelaskan bahwa kebijakan deviden tidak bepengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Semakin besar kebijakan deviden suatu perusahaan maka kebijakan hutang pada perusahaan makanan dan minuman pada yang terdaftar di BEI periode 2009-2012 tidak selalu meningkat.
55
perusahaan. Ketika dana yang didapat akan dibagikan sebagai deviden, maka perusahaan akan cenderung untuk menggunakan hutang. Sebaliknya, jika dana yang didapat tidak dibagikan sebagai deviden maka perusahaan kemungkinan tidak akan menggunakan hutang.
H0: Kebijakan deviden tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.
H1: Kebijakan deviden mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.
c. Pengaruh ukuran perusahaan (SIZE) terhadap kebijakan hutang (DER). Hasil pada tabel 5.8 menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t hitung sebesar 0.840 serta nilai probabilitas sebesar 0.411 > 0.05 yang berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Koefisien korelasi untuk variabel SIZE menunjukkan nilai sebesar 0.014. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Semakin besar ukuran suatu perusahaan maka semakin meningkat kebijakan hutang pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012.
45Murni dan Andriana, “Pengaruh Insider Ownership, Institutional Investor, Dividend Payments dan
Firm Growth Terhadap Kebijakan Hutang”, Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol. 7, No. 1, Februari, 2007.
56
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Heyman et. Al (2007)47 yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Tidak sejalan dengan penelitian Ali (2011)48 dan Nina (2009)49 yang menunjukkan hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Semakin besar suatu ukuran perusahaan, maka perusahaan tersebut akan mendapat kemudahan untuk kepasar modal, yang artinya kemampuan perusahaan besar lebih tinggi untuk mendapatkan dana daripada perusahaan kecil. Ukuran besarnya suatu perusahaan ditandai dengan tinggi rendahnya aktivitas operasional perusahaan, semakin tinggi nya aktivitas perusahaan maka perusahaan membutuhkan hutang dari luar untuk mebiayai aktivitas operasional perusahaan.
H0: Ukuran perusahaan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.
H1: Ukuran perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.
d. Pengaruh Current Ratio (CR) terhadap kebijakan hutang (DER).
Hasil pada tabel 5.8 menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012. Hal ini dapat dibuktikan
47Heyman et.al, “
The Financial Of Private Held Belgian Firms”, 2007.
48 Ali, “
57
dengan nilai t hitung sebesar -2.160 serta nilai probabilitas sebesar 0.043 > 0.05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Koefisien korelasi untuk variabel CR menunjukkan nilai sebesar -0.084. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Semakin besar likuiditas suatu perusahaan maka akan menurunkan kebijakan hutang pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012.
Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Paydar dan Bardai (2012)50 yang menunjukkan hasil likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang, sementara menurut Sabir dan Malik (2012)51 menunjukkan likuiditas memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Likuiditas dapat mengandung sinyal yang positif dari perusahaan, karena perusahaan mengindikasikan dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan mudah dan mengurangi resiko gagal bayar. Berdasarkan hasil penelitian ini semakin tinggi CR maka akan mengurangi kebijakan hutang. Perusahaan dengan likuiditas yang tinggi tidak menjamin akan menarik para investor untuk menanamkan modalnya walaupun perusahaan yang lukuid mampu untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya dan bisa mendapat kepercayaan investor untuk menerbitkan hutang baru. Hal ini 49 Nina Diah Pithaloka, op.cit.
58
menunjukkan bahwa aset yang likuid dapat digunakan oleh perusahaan untuk sumber pembiayaan sehingga perusahaan tidak membutuhkan hutang atau pendanaan eksternal atau dapat diakatakan memiliki rasio hutang yang rendah.52
H0: Likuiditas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.
H1: Likuiditas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang.
e. Pengaruh Pertumbuhan Penjualan (GS) terhadap kebijakan hutang (DER) Hasil pada tabel 5.8 menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t hitung sebesar -0.090 serta nilai probabilitas sebesar 0.929 > 0.05 yang berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Koefisien korelasi untuk variabel ROA menunjukkan nilai sebesar -0.002. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa profitabiltas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Semakin meningkatnya profitabilitas suatu perusahaan maka tidak akan selalu menurukan kebijakan hutang pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012.
51sabir dan Malik, “Determinants of Capital Structure A Study of Oil and Gas Sector of pakistan”,
2012.
59
Berdasarkan output diatas dihasilkan probabilitas sebesar 0.929 jauh lebih besar dibandingkan dengan tingkat signifikansinya yaitu 0.05. Hal ini berarti H0 diterima dan H1 ditolak.
Hasil penelitian ini mendukung Soebiantoro dan Sujoko (2007) yaitu tingkat pertumbuhan terhadap hutang didasarkan pada kenyataan semakin tinggi pertumbuhan perusahaan maka semakin tinggi pula struktur modal perusahaan berupa hutang jangka panjang. Selain itu, Semakin tinggi pertumbuhan pasar maka peluang bisnis perusahaan semakin besar. Semakin stabil juga pertumbuhan penjualannya. Ketika dana internal berupa pendapatan penjualan perusahaan tidak mencukupi, maka perusahaan dapat dengan aman menggunakan hutang karena penjualan yang stabil maka perusahaan akan mampu membayar biaya tetap yang ditimbulkan dari hutang. Tidak signifikannya variabel ini karena ada kemungkinan bahwa Tingkat pertumbuhan juga berbanding lurus dengan pertumbuhan laba, sehingga pertumbuhan masa depan merupakan ukuran sampai sejauh mana laba per lembar saham suatu perusahaan dapat ditingkatkan oleh leverage. Jika aktiva dan laba meningkat per tahun, maka pembiayaan dengan hutang dan beban tetap tertentu akan meningkatkan pendapatan pemilik saham. Perusahaan harus mempertimbangkan keuntungan menggunakan leverage
60
3. Analisi Regresi Linear Berganda
Berdasarkan tabel 5.7 maka bentuk persamaan linear berganda sebagai berikut:
Maka :
.
Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Nilai konstanta DER sebesar 0.122 artinya jika semua variabel bebas dianggap konstan atau tetap dan tidak mempunyai nilai maka besarnya kebijakan hutang adalah 0.122 atau 12.2%.
2. Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien ROA sebesar -0.302 dan nilai t sebesar -0.781 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.444. Koefisien ROA sebesar -0.302 menunjukkan bahwa setiap kenaikan profitabilitas sebesar satu-satuan maka kebijakan hutang akan turun sebesar 0.302 dengan asumsi variabel independen yang lain konstan atau tetap.
3. Kebijakan deviden berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien DPR sebesar 0.002 dan nilai t sebesar 2.082 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.050. Koefisien DPR sebesar -0.002 menunjukkan bahwa setiap kenaikan deviden payment sebesar
satu-DER = ROA + DPR + SIZE + CR + + e
61
satuan maka kebijakan hutang akan tururn sebesar -0.002 dengan asumsi variabel independen yang lain konstan atau tetap.
4. Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien SIZE sebesar 0.014 dan nilai t sebesar 0.840 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.411. Koefisien SIZE sebesar 0.014 menunjukkan bahwa setiap kenaikan ukuran perusahaan sebesar satu-satuan maka kebijakan hutang akan naik sebesar 0.014 dengan asumsi variabel independen yang lain konstan atau tetap.
5. Likuiditas berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien CR sebesar -0.084 dan nilai t sebesar -2.160 dengan nilai signifikansi sebesar 0.043. Koefisien CR sebesar -0.084 menunjukkan bahwa setiap kenaikan likuiditas sebesar satu persen maka kebijakan hutang akan turun sebesar 0.084 dengan asumsi variabel independen yang lain konstan atau tetap.
62
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan analisis data yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Kebijakan deviden, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang secara simultan atau bersama-sama dengan nilai sigsebesar 0.001.
2. Profitabilitas (ROA) perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012 berpengaruh tidak signifikan terhadap kebijakan hutang dengan nilai sig sebesar 0.444.
3. Kebijakan Deviden (DPR) perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012 berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang dengan nilai sig sebesar 0.050.
4. Ukuran Perusahaan (SIZE) perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2009-2012 berpengaruh tidak signifikan terhadap kebijakan hutang dengan nilai sig sebesar 0.411.