• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Pemikiran Politik Islam (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teori Pemikiran Politik Islam (1)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pemikiran Politik Islam 1. Pengertian Politik

a. Pengertian Politik Menurut Tokoh Yunani

Dalam berbagai sumber menyebutkan bahwa politik mengandung arti yang penting dalam masyarakat, karena sejak dahulu masyarakat mengatur kehidupan kolektif dengan baik mengingat masyarakat sering menghadapi terbatasnya sumber alam dan perlu dicari satu cara distribusi sumber daya agar semua masyarakat bahagia dan puas. Begitulah kiranya politik terjadi di masa lalu seperti yang telah disebutkan dalam buku Miriam Budiardjo.

Banyak tokoh mendefinisikan mengenai politik ini, diantaranya filsuf Yunani Kuno yang paling berpengaruh seperti Plato dan Aristoteles. Mereka memiliki anggapan bahwa politik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik yang terbaik. Hal tersebut hampir senada dengan yang dikatakan oleh Peter Merki. Bahwasannya Peter Merki mendefinisikan politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan. Sebagian besar filsuf beranggapan bahwa politik adalah suatu usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat yang dapat diterima untuk masa depan yang lebih harmonis.

Definisi yang lebih spesifik kiranya dikemukakan oleh Rod Hague dan Andrew Heywood.

Menurut Rod Hague : “Politik adalah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan diantara anggota-anggotanya”.

Sedangkan menurut Andrew Heywood : “politik adalah kegiatan suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak terlepas dari gejala konflik dan kerjasama”.1

b. Politik Islam (siyasah)

Politik atau siyasah mempunyai makna mengatur urusan umat, baik secara dalam maupun luar negeri. Politik dilaksanakan baik oleh Negara (pemerintah)

(2)

maupun umat. Negara mengurus kepentingan umat semntara umat melakukan koreksi terhadap pemerintah.

Sejak khalifah dihancurkan dan sistem politik ukur diterapkan dinegri-negeri kaum muslimin, politik islam tersingkir. Pada saat itulah masuk berbagai konsep pemikiran politik barat yang ditegakan diatas ideologi kapitalisme, ideologi yang memisahkan Agama dari kehidupan yang harus dipahami sepnuhnya oleh umat Islam bahwa politik Islam tidak dapat diterapkan tanpa tegaknya daulah khilafah; bahwa memisahkan politik Islam dari kehidupan dan Agama berarti menghancurkan Islam,sistem,dan hukum-hukumnya, serta memusnahkan umat, nilai-nilai, peradaban, dan risalahnya.2 Secara lughah politik (siyasah) berasal dari kata ‘sasa’, ‘yasusu’,’siyasatan’ yang berarti mengurus kepentingan seseorang.

Menurut salah satu hadits menyebutkan “akan ada para amir (penguasa), maka kalian ada yang mengakui perbuatannya dan ada yang mengingkarinya. Siapa saja yang mengakui perbuatannya (karna tidak bertentangan dengan hukum syara), maka ia tidak diminta tanggung jawabnya, dan siapa saja yang mengingkarinya perbuatannya maka dia akan selamat. Tetapi siapa saja yang ridlo (dengan perbuatannya) yang bertentangan dengan hukum syara) dan mengikutinya (maka dia berdosa) para sahabat bertanya: apakah kita tidak memerangi mereka? Beliau SAW menjawab: tidak selama mereka menegakan solat (hukum-hukum islam). (HR.Muslim dari Umu Salam ra).

Hadits diatas berkenaan dengan mengurus kepentingan umat dan untuk saling menasehati; semua itu menunjukan makna politik, yakni mengurus kepentingan umat. Jadi definisi politik tersebut merupakan definisi syar’i, yang berasal dari dalil-dalil syara.3

Adapun menurut Terminologi Ulama, pengertian fiqih siayasah adalah sebagai berikut:

1.) Menurut Ahmad Fathi, fiqih siyasah adalah Pengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan ketentuan syara (Ahmad Fathi Bahantsi dalam al-siyasah al-jinaiyyah fi al-syari’at al-Islamiyah).

(3)

2.) Menurut Ibnu’Aqil, dikutip dari pendapat Ibnu al-Qoyyim, bahwa fiqh siyasah adalah Perbuatan yang membawa manusia lebih dekat pada kemalahatan (kesejahteraan) dan lebih jauh menghindari mafsadah (keburukan/ kemerosotan), meskipun Rasul tidak menetapkannya dan wahyutidakmembimbingnya.

3.) Menurut Ibnu ’Abidin yang dikutip oleh Ahmad Fathi adalah Kesejahteraan manusia dengan cara menunjukkan jalan yang benar (selamat) baik di dalam urusan dunia maupun akhirat. Dasar-dasar siyasah berasal dari Muhammad saw, baik tampil secara khusus maupun secara umum, datang secara lahir maupun batin.

4.) Menurut Abd Wahab al-Khallaf, Siyasah syar\’iyyah adalah pengurusan hal-hal yang bersifat umum bagi negara Islam dengan cara menjamin perwujudan kemaslahatan dan menghindari kemadaratan (bahaya) dengan tidak melampaui batas-batas syari\’ah dan pokok-pokok syari’ah yang bersifat umum, walaupun tidak sesuai dengan pendapat ulama-ulama Mujtahid.

Maksud Abd Wahab tentang masalah umum negara antara lain adalah ; Pengaturan perundangan-undangan negara. Kebijakan dalam harta benda (kekayaan) dan keuangan. Penetapan hukum, peradilan serta kebijakan pelaksanaannya, danUrusan dalam - luar negeri.

5.) Menurut Abd al-Rahman Taj; siyasah syar’iyah adalah hukum-hukum yang mengatur kepentingan negara dan mengorganisir urusan umat yang sejalan dengan jiwa syari’at dan sesuai dengan dasar-dasarnya yang universal (kully), untuk merealisasikan tujuan-tujuannya yang bersifat kemasyarakatan, meskipun hal tersebuttidak ditunjukkan oleh nash-nash yang terinci dalam Al-Qur’an maupun al-Sunnah.

(4)

untuk negara kita adalah; Penguasa sepadan dengan legislatif, yudikatif dan eksekutif (trias politika)dan rakyat atau warga negara.

7.) Sesuai dengan pernyataan Ibn al-Qayim, siyasah syar’iyah harus bertumpu kepada pola syari’ah. Maksudnya adalah semua pengendalian dan pengarahan umat harus diarahkan kepada moral dan politis yang dapat mengantarkan manusia (sebagai warga negara) kedalam kehidupan yang adil, ramah, maslahah dan hikmah. Pola yang berlawanan dari keadilan menjadi dzalim, dari rahmat menjadi niqmat(kutukan), dari maslahat menjadi mafsadat dan dari hikmah menjadi sia-sia

B. Unsur - Unsur Politik 1. Negara

Sebagaimana kita telah ketahui dalam politik, banyak unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, salah satunya adalah Negara. Tentunya sebuah pemerintahan tidak akan berjalan apabila ia tidak memiliki satu Negara sebagai tempat yang dikuasainya. Dalam hukum Internasional bahwa yang namanya Negara biasa memiliki tiga unsur pokok diantaranya adalah: (1). Adanya rakyat atau sejumlah orang; (2). Wilayah tertentu, dan; (3). Pemerintahan yang berwibawa dan berdaulat. Sebagai unsur yang komplementer dapat ditambahkan pengakuan oleh masyarakat internasional atau Negara-negara lain.4

Sementara itu, ada beberapa tokoh mendefinisikan mengenai Negara diantaranya adalah :

Max Weber : “Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah”.

Robert M.Maclver : “Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud tersebut diberi kekuasaan memaksa”.

Roger H.Soltau : “Negara adalah agen atau kewenangan yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakyat”.5

a. Negara Islam (ad-daulah atau al-hukumah al-islamiyah)

Negara merupakan sesuatu yang tak terelakan, yang mengemban tugas, sebagaimana di perintahkan Agama, untuk menegakan amarmaruf nahimunkar,

(5)

menyeru yang maruf dan memberantas kemunkaran memerlukan kekuatan dan kekuasan, dan Negara atau pemerintahan yang memiliki otoritas untuk mengatur semua itu.

Dalam pandangan Rasyid Ridha negara Islam jauh dari suau sistem kekuasaan menyeluruh yang mengatur setiap rincian kehidupan sosial, politik dan budaya kaum muslimin.6 Menurutnya, orientasi ideologis yang luas dari negara islam adalah adany pembaharuan tentang fundamentalisme, bukanlah meruapakan langkah kembali yang total ke keaslian-keaslian Islam, hanya suatu langkah kembali kepada idealisem Islam awal yang ternodai oleh prasangka-prasangka duniawi, etnis dan sektarian. Urusan-urusan politik, sosial, dan ekonomi negara tersebut diatur oleh undang-undang dasar yang prinsip-prinsip umumnya diilhami oleh Al-qur’an, Sunnah dan pengalaman-pengalaman khulafarasyidin.7

Negara menjadi alat yang efektif untuk menegakan keadilan dan kebenaran dengan menjamin penegakan keadilan. Dengan kata lain tujuan dari berdirinya suatu Negara Islam adalah melaksankan sistem sosial yang baik, menegakan keadilan, mencegah segala bentuk kemunkaran atau penyimpangan terhadap norma Agama dan umum serta senantiasa menganjurkan kepada umat manusia untuk melaksankan kebajikan sebagai rasionalisasi dari perintah Agama Allah.8 Selain hal-hal yang dijelaskan diatas, ada perdebatan yang cukup menarik antara Nurholis Madjid dan H.Moh. Sjafa’at dalam konsep Negara Islam.

Nurcholis Madjid menyatakan bahwa konsep Negara Islam sebagai berikut

“dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep negara islam adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan Negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya adalah spiritual dan pribadi”.

Jadi secara singaktnya, pandangan Nurholis madjid ini adalah sengaja memisahkan antara agama dan Negara yang kemudian konsep Negara islam Nurholis Madjid, dikritisi dalam tulisannya oleh intelektual muslim terkemuka H.M Rasjidi.

6 Hamid Enayat, reaksi politik Sunni dan Syi’ah (pemikiran politik Islam modern menghadapi abad ke-20),Bandung : Pustaka, 1988, hlm.129

7 Ibid., hlm.126

(6)

b. Negara Madinah

Negara Madinah adalah suatu Negara yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW, berdasarkan perjanjian Al-Aqabah I dan II serta konstitusi Madinah. Semua wilayah itu adalah kota Yastrib (Madinah) dan kemudian berkembang selama masa khulafarasyidin (Abu Bajar, Umar, Usman, dan Ali) Perjanjian Aqabah dalah perjanjian antara Nabi Muhammad dengan delegasi penduduk Madinah yang telah memilih nabi, baik sebagai pemimpin politik maupun sebagai pemimpin keagamaan. Perjanjian Al-Aqabah I terjadi pada tahun620 M, sedangkan Perjanjian Al-Aqabah IIterjadi pada tahun 621.

Konstitusi Madinah adalah undang-undang dasar negar Madinah yang terutama mengatur kewajiban-kewajiban dan hak-hak warga negaranya. Para pakar tentang islam menamakan konstitusi itu sebagai konstitusi tertulis pertama di dunia.9 c. Negara Sekuler

Negara sekuler adalah suatu Negara yang tidak memberikan peran pada agama dalam kehidupan Negara. Agama telah diasingkan dari kehidupan Negara dalam berbagai sektornya. Ciri Negara sekuler yang paling menonjol ialah di hapusnya pendidikan agama di sekolah-sekolah umum.10

2. Kekuasaan

a. Definisi Kekuasaan Versi Barat

Beberapa sarjana Barat mendefinisikan kekuasaan sebagai berikut :

Max Weber : “kekuasaan adalah kemampuan untuk, dalam suatu hubungan sosial, melaksanakan kemauan sendiri sekalipun mengalami perlawanan, dan apapun dasar kemampuan ini”.

Harold D.Laswell dan Abraham Kaplan: “kekuasaan adalah suatu hubungan di mana seseorang atau sekelompok orang dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain kearah pihak pertama”.

Barbara Goodwin : “kekuasaan adalah kemampuan untuk mengakibatkan seseorang bertindak dengan cara yang oleh yang bersangkutan tidak akan dipilih, seandainya jika ia tidak dilibatkan. Dengan kata lain, memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya”.

Talcott Parsons : “kekuasaan adalah kemampuan untuk menjamin terlaksananya kewajiban-kewajiban yang mengikat, oleh kesatuan-kesatuan dalam suatu sistem

(7)

organisasi kolektif. Kewajiban adalah sah jika menyangkut tujuan-tujuan kolektif. Jika ada perlawanan maka pemaksaan melalui sanksi-sanksi negative dianggap wajar, terlepas dari siapa yang melakukan pemaksaan itu”.11

b. Definisi Kekuasaan Versi Islam

Kekuasaan yang diberikan kepada manusia di dunia menurut Islam adalah suatu hal yang temporal dan parsial, dalam artian apabila kekuasaan itu harus berakhir maka berakhirlah. Karena yang dinamakan kekuasaan adalah hak otoritatif Allah, dan menunjukkan hal yang sangat absolut bahwa sebenarnya yang memiliki kekuasaan adalah Allah. Sebagaimana dalam firman Allah dijelaskan bahwa : “katakanlah ; wahai yang mempunyai kerajaan, engkau berikan kerajaan (kekuasaan) kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan (kekuasaan)dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”12

Dari ayat diatas, maka jelaslah hanya Allah yang mutlak memiliki kekuasaan dan tak seorang manusiapun yang sanggup menandinginya.manusia hanya menjalankan sebagian kecil dari kekuasaan yang Allah berikan kepada orang tertentu untuk menjalankan perintah Agama-Nya. Dalam pandangan Jean Boudin bahwa kekuasaan sebagai sesuatu “kekuatan tertinggi yang abadi, tidak diwakilkan atau didelegasikan, tanpa batasan atau kondisi, tidak dapat dicabut dan tidak terlukiskan. Karena kekuasaan adalah sumber hukum, maka hukum tentu tidak bisa membatasinya”.13 Menurut Syarifudin Jurdi, pandangan Boudin

ini memiliki akar makna yang sama persis dengan pandangan Islam. Karena kekuasaan Allah tidak bias dibatasi oleh aturan hukum yang ada, karena ia sendiri merupakan sumber dari hukum tersebut.

Konsep kekuasaan yang serba “kebulatan” “tidak terbatas” dan “mutlak” merupakan suatu kesalahan dan kesesatan yang menyalahi. Karena pada hakikatnya ketika seseorang yang diberikan kepercayaan kekuasaan itu tidak akan

11 Miriam Budiardjo, Op.Cit., hlm.60 12 Qs. Ali Imran (3) :26

(8)

selamanya hidup, maka apabila orang tersebut tiada kekuasaannya tidak akan ikut hiang, namun dilanjutkan oleh orang yang baru.

3. Kepemimpinan

a. Kepemimpinan Secara Umum

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain untuk dapat bekerjasama dalam mencapai tujuan atau sasaran bersama yang telah di tetapkan.

Kepemimpinan secara umum dalam politik memiliki 4 tipe yang dominan di Indonesia diantaranya :

- Tipe Kepemimpinan Kharismatis

Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.

- Tipe Kepemimpinan Militeristik

(9)

Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal, (3) berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi, (7) adanya sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara absolut, (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.

- Tipe Kepemimpinan Demokratis

Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.

Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.14

b. Kepemimpinan dalam Islam (Imamah)

Imamah atau kepemimpinan Islam adalah konsep yang tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang meliputi kehidupan manusia dari pribadi, berdua, keluarga bahkan sampai umat manusia atau kelompok. Konsep ini mencakup baik cara-cara memimpin maupun dipimpin demi terlaksananya ajaran Islam untuk menjamin kehiduapan yang lebih baik di dunia dan akhirat sebagai tujuannya. Kepemimpinan Islam, sudah merupakan fitrah bagi setiap manusia yang sekaligus memotivasi kepemimpinan yang Islami. Manusia diamanahi Allah untuk menjadi Khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi, firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah 2:30

(10)

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “sesunggunya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di mika bumi.”mereka berkata:”mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa detasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Definisi Imamah (kepemimpinan) menurut At-Taftazani ia mendefinisikan keimamahan sebagai kepemimpinan umum dalam urusan agama dan duniawi, sebagai khilafah atau wakildari Nabi Muhammad SAW.15

Menurut al-Mawardi “keimamahan diletakkan untuk menggantikan posisi kenabian dalam memelihara agama dan politik keduniaan”16

Manusia yang diberi amanah dapat memelihara amanah tersebut dan Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan konsepsional atau potensi (fitrah). Konsep amanah ini yang diberikan kepada manusia sebagai khalifah fil ardli menempati posisi sentral dalam kepemimpinan Islam. Logislah bila konsep amanah kekhalifahan yang diberikan kepada manusia menuntut terjadinyahubungan atau interaksi yang sebaik-baiknya antara manusia dengan pemberi amanah (Allah SWT), yaitu:

1) Mengerjakan semua perintah Allah 2) Menjauhi semua larangan-Nya

3) Ridha (ikhlas) menerima semua hukuman-hukuman atau ketentuan-Nya. Berdasarkan uraian diatas, dapat ditegaskan bahwa, kepemimpinan Islam adalah suatu proses atau kemampuan orang lain untuk mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain, serta ada usaha kerjasama sesui dengan Al-Qur’an dan Hadis untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.17

Karena itu, dalam kaidah hukum islam seseorang yang layak menjadi pemimpin setidaknya memiliki: pertama, kemampuan intelektual dan spiritual yang unggul; kedua, ahklak atau moralitas yang tinggi; ketiga, kemampuan menjadi pelayan umat yang adil; keempat, aman, jujur,sidik. Pemimpin bagi umat

15 Muhamamd Dhiauddin Rais, teori politik islam, Jakarta : Gema Insani, 2001, hlm.85 16 Ibid., hlm.86

(11)

islam merupakan pelayan yang harus mendahulukan kepentingan umatnya daripada kepentingannya sendiri.18

Karena itu, para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin harus memahami hakikat kepemimpinan dalam pandangan Islam yang secara garis besar terbagi dalam lima lingkup, yaitu:

1) Tanggung Jawab, bukan keistimewaan

Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggungjawabkannya. Bukan hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah SWT. Kepemimpinan itu tanggung jawab atau amanah yang tidak boleh disalahgunakan, maka pertangungjawaban menjadi suatu kepastian, Rasulullah Saw. Bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu (HR Bukhari dan Muslim).

2) Pengorbanan, bukan fasilitas

Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukan pengorbanan, apalagi ketikamasyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit.

3) Kerja keras, bukan santai

Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang mengahantui masyarakat yang dipimpinnya untuk selanjutnya mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bias menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai kemajuan dankesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimism.

4) Kewenangan melayani, bukan sewenang-wenang

Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapat kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dar

(12)

pemimpin sebelunya, Rasulullah Saw. bersabda: “pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” (HR Abu Na’im).

5) Keteladan dan kepeloporan, bukan pengekor

Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bias menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran.

4. Sistem Pemerintahan

a. Masa nabi Muhammad SAW

Pada masa nabi Muhammad SAW, nabi diutus sebagai kepala negara dan kepala kenegaraan secara aklamasi karena sosok beliau dan perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam. Pada masa Nabi Muhammad ia hadir sebagai tokoh sentral di negara Madinah dan ia juga dikenal karena keteguhan prinsip dan kesabarannya dalam memerintah. Pada masa pemerintahannya ia membentuk pembagian tugas kenegaraan, dengan cara mengangkat orang-orang yang memenuhi syarat yang nantinya akan diutus sebagai wazir (menteri), katib (sekertaris), wali (gubernur), amil (pengelola zakat), dan qadi (hakim). Pada masa ini pula madinah terbagi menjadi beberapa provinsi diantaranya adalah : Madinah, Tayma, al_Janad, daerah Banu Kindah, Mekkah, Najran, Yaman, Hadarmaut, Uman dan Bahrain. Pada setiap provinsi tersebut Nabi menugaskan seorang wali, qadi dan amil.

Selain telah adanya pembagian kekuasaan madinah, namun tetap semuanya tetap dibawah pimpinan Nabi Muhammad, prinsip keadilan social selalu diterapkan dapalm pemerintahan Nabi Muhammad sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam hukum Islam ditandai dengan tidak membeda-bedakan umat Islam dan dzimmi semuanya berhak atas perlindungan hukum dari negara. Namun semua hal tersebut tidak terlepas getolnya seruan Nabi kepada umat non-islam untuk masuk Islam namun tidak pernah memaksa.

(13)

umatnya. Selain itu, sumber pendapat negara juga didapatkan melalui ghanimah yaitu harta rampasan perang, yang telah ditentukan dalam Al-quran 4/5 untuk tentara Madinah yang turut dalam peperangan dan 1/5 untuk Rasulullah19 pribadi yang tidak bersifat pribadi tapi juga untuk kepentingan umat.

Nabi Muhammad sebagai tokohh panutan (uswatun hasanah) secara pribadi senantiasa memberikan contoh atau teladan kepada para pengikutnya tentag setiap hal yang ia ajarkan. Beliau tidak hanya sekedar berbicara atau menyampaikan suatu gagasn secara lisan, akan tetapi juga semua jaran Islam beliau terapkan dalam kenyataan. Prinsip –prinsip nomokrasi Islam bukanlah sekedar Idealisme, akan tetapi prinsip-prinsip nomokrasi Islam itu dikristaliasasi kan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Prinsip-prinsip itu telah menjadi basis dalam mekanisme pemerintahan Madinah dibawah pimpinan Nabi Muhammad SAW. Pemeritahan madinah diselenggarakan sesuai dengan prinsip-prinsip nomokrasi islam yang telah digariskan dalam Al-Quran.

b. Masa Khulafa Rasyidin

Sepeninggal wafatnya Nabi Muhammad SAW pemerintahan di Madinah tidak mengalami kekosongan, melainkan melahirkan sistem pemerintahan baru yaitu kehilafahan yang dipimpin oleh para sahabat Nabi atau yang kentara disebut dengan Khalifah. Pada masa khulafa Rasyidin di negara madinah ini menurut catatan sejarah ada 4 orang yang secara bergantian memimpin Madinah, pemerintahan pertama dipimpin oleh Abu Bakar, kedua Umar bin Khatab, ketiga Usman bin Affan, dan yang terakhir Ali bin Abi Thalib. Pada masa pemerintahan khalifah ini, mereka selalu mengemban amanah rakyat dan mewarisi sikap Rasulullah dalam hal keadilan social dan prinsip musyawarah menjadi jalan keluar dalam setiap masalah maupun pengabilan keputusan. Pada masa khalifah ini, negara Madinah berhasil mencapai masa kejayaannya dibawah pimpinan Umar bin Khatab ditandai dengan perkembangan-perkembangan berhasilnya kebijakan yang ia terapkan, diantaranya adalah : penghapusan perbudakan, tunjangan sosial terhadap orang miskin di kalangan yahudi dan Kristen serta pemberian gaji pada Imam dan Muazin (implementasi prinsip kesejahteraan),

(14)

perumusan prinsip Qiyas, kodifikasi Al-quran, penundaan pelaksanaan had potong tangan dan perbaikan serta peningkatan mekanisme pemerintahan.

Lain halnya dengan kekhilafahan Ali, pada masa Ali mulai banyaknya timbul masalah dan pembangkangan-pembangkangan terhadap pemerintahan Ali. Pada masanya Ali tetap melakukan musyawarah dan tindakan persuasif pada para pembangkang namun hal itu diabaikan oleh para pembangkang sehingga dalam catatan sejarah diketahui bahwa khalifah Ali menggunakan hukum daryrat trepaksa melakukan perang terhadap para pemberontak. Apabila dilihat dari sudut nomokrasi Islam, hal tersebut dibenarkan. Karena suatu prinsip dalam nomokrasi Islam yaitu prinsip ketaatan terhadap ulil amri telah diabaikan oleh para pembangkang.

Terlepas dari pengalaman sejarah yang tidak menyenangkan pada akhir masa pemerintahan khulaf rasyidin, maka penerapan prinsip-prinsip nomokrasi Islam boleh dikatakan secara maksimal dan optimal telah diusahakan implementasinya oleh para khalifah yang emoat itu. Diantaranya prinsip musyawarah, prinsip kebebasan, prinsip persamaan di hadapan hukum merupakan prinsip penting dalam nomokrasi Islam. Apabila dibandingkan dengan sistem kenegaraan kontemporer, maka sistem pemerintahan yang telah diterapkan pada periode Nabi dan Khulafa Rasyidin (Periode Negara Madinah) dapat dikatakan pemerintahan tersebut mirip dengan westen republic. Dalam pemerintahan republik, demokrasi adalah cirri utamanya sedangkan pemerintahan pada masa Nabi dan Khilafah menggunakan musyawarah sebagai karakteristik dalam sistem pemerintahan selama periode Madinah.20

c. Pemerintahan Islam Secara Umum

Dalam pandangan Islam negara atau sebuah pemerintahan merupakan suatu jalan untuk mengatur tata tertib kehidupan yang islami. Secara primer negara islami merupakan masyarakat Islam yang terikat oleh keyakinan yan sama dan oleh komitmen pada cita-cita hidup bersama dalam rangka optimalisas pengabdiannya kepada Allah SWT serta penyebaran misi rahmatan lil alamin. Abu Ridha menyatakan bahwa pemerintahan Islam memiliki 5 watak yang harus

(15)
(16)

mengaskan tentang kesatuan manusia. Islam memandang bahwa manusia diciptakan dari asal yan satu selain itu Islam juga menetapkan bahwa asal kejadian manusia dan posisinya sebagai makhluk Allah adalah sama.21

d. Sistem Pemerintahan Demokrasi

Pemerintahan di Negara demokrasi mendorong dan menjamin kemerdekaan berbicara, beragarna, berpendapat, berserikat setiap warga Negara, menegakan rule of law, adanya pemerintahan menghormati hak-hak kelompok minoritas; dan masyarakat warga Negara memberi peluang yang sama untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Dalam Negara demokrasi, kata demokrasi pada hakekatnya mengandung makna (Mas’oed, 1997) adalah partisipasi rakyat dalam penyelenggaraan . (partisipasi politik), yaitu;

1) Penduduk ikut pemilu;

2) Penduduk hadir dalam rapat selama 5 tahun terakhir; 3) Penduduk ikut kampanye pemilu;

4) Penduduk jadi anggota parpol dan ormas;

5) Penduduk komunikasi langsung dengan pejabat pemerintah.

Perwujudan sistem demokrasi pada masing-masing negara dapat berbeda-beda tergantung dari kondisi dan situasi dari negara yang bersangkutan.

Ciri-ciri sistem demokrasi dimaksudkan untuk membedakan penyelenggaraan pemerintahan Negara yang demokratis, yaitu:

1) Memungkinkan adanya pergantian pemerintahan secara berkala;

2) Anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama menempati kedudukan dalam pemerintahan untuk masa jabatan tertentu, seperti; presiden, menteri, gubemur dsb;

3) Adanya pengakuan dan anggota masyarakat terhadap kehadiran tokoh-tokoh yang sah yang berjuang mendapatkan kedudukan dalam pemerintahan; sekaligus sebagai tandingan bagi pemerintah yang sedang berkuasa;

4) Dilakukan pemilihan lain untuk memilih pejabat-pejabat pemerintah tertentu yang diharapkan dapat mewakili kepentingan rakyat tertentu;

(17)

5) Agar kehendak masing-masing golongan dapat diketahui oleh pemenntah atau anggota masyarakat lain, maka harus diakui adanya hak menyatakan pendapat (lisan, tertulis, pertemuan, media elektronik dan media cetak, dsb); 6) Pengakuan terhadap anggota masyarakat yang tidak ikut serta dalam

pemilihan umum. C. Pemikiran Politik Islam

1. Pemikiran Politik Klasik dan Pertengahan

Teori tentang asal mula timbulnya negara dari enam pemikir islam itu mirip satu sama lain, yaitu adanya pengaruh pemikiran alam Yunani, dengan diwarnai oleh pengaruh Aqidah Islam. Agak berbeda dengan pemikir-pemikir Yunani, para pemikir islam itu baik secara eksplisit maupun implisit menyatakan bahwa tujuan bernegara tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan lahiriah mausia saja, namun juga merupakan kebutuhan rohaniah. Tetapi diantara mereka berenam tidak selalu mendapat kesepakatan tentang jabatan kepala pemerintahan, darimana sumber kekuasaan kepala negara, cara pengangkatan kepala negara, dan hubungan antara kepala negara dan rakyat.

a. Ibnu Abi Rabi, Ghazali dengan Ibnu Taimiyah dengan tegas menyatakan bahwa kekuasaan kepala negara merupakan mandat dari Allah kepada hamba-hamba pilihan. Ketiga pemikir itu berpedapat bahwa kekhalifahan adalah khalifah atau bayangan Allah di bumi. Bahkan menurut Ghazali kekuasaan khalifah itu dikatakan muqaddas atau suci dengan pengertian tidak dapat diganggu gugat. Sedangkan menurut Mawardi, kekuasaan kepala negara itu didasarkan atas kontrak sosial yang melahirkan hak dan kewajiban atas dasar timbal balik bagi raja dan rakyat.

(18)

bagaimana cara penurunannya. Berbeda dengan keenam pemikir lainnya, mereka beranggapan bahwa sekali seorang pemimpin memipin negara maka kekuasaannya seumur hidup. Bahkan Ibnu Taimiyah mengemukakan bahwa kepala negara yang zalim itu lebih baik daripada rakyat yang hidup tanpa kepala negara,

c. Mawardi dan Ghazali dengan tegas menyatakan bahwa pemimpin itu harus dari suku qurais, sedangkan Ibnu Khaldun berusaha merealisasikan hal tersebut melalui teorinya, ashsabiyah. Kalau Ibnu Abi Rabi yang banyak sepaham dengan Ghazali tidak menyinggung keharusan keturunan quraisy, kiranya tidak berarti bahwa dia berpendapat lain, tetapi kemungkinan besar oleh karena pada zamannya, soal tersebut tidak merupakan hal yang mendesak, mengingat pada zaman tersebut dinasti Abbasyiah masih di puncak kejayaannya, dan tidak terbayangkan kalau misalnya kekuasaan pindah ke kelompok atau kekuasaan lain selain Abbas.

a. Ibnu khaldun mengemukakan pada waktu itu lebih baik menggunakan dasar hukum agama dalam penentuan setiap keputusan daripada harus menggunakan otak manusia, namun ia juga mengakui banyak negara yang tidak mendasarkan hukum agama dalam pemerintahannya namun dapat mewjudkan ketertiban, keserasian hubungan antara para warga negaranya, bahkan dapat berkembang baik dan jaya.

b. Ibnu Taimiyah yang terkenal puritan, zahid dan keras pendirian itu, mendambakan keadilan sedemikian rupa, sehingga dia menyetujui pendapat bahwa kepala negara yang adil walaupun tidak beragama Islam itu lebih baik daripada kepala negara Islam yang bukan seorang yang adil.22

2. Pemikiran Politik Islam Kontemporer a. Afghani, Abduh, Ridha

Berbeda dengan para tokoh islam sebelumnya, pembahasan tentang pemikir-pemikir islam ini dikaji secara bersama sehingga mendapat kesimpulan bahwa pemikiran mereka mewakili satu aliran pemikiran yang berpengaruh luas

(19)

pada waktu itu, yakni salafiah (baru), dan hubungan mereka satu sama lain merupakan hubungan antara guru dan murid. Abduh berguru kepada Afghani, dan Ridha kepada Abduh. Dari ketiga tokoh ini munculah aliran salafiyah, yaitu suatu aliran yang dipelopori oleh Afghani. Aliran salafiyah terdiri dari tga komponen utama, yakni :

Keyakinan bahwa keagungan dan kejayaan kembali islam hanya mungkin terwujud jika umat islam kembali kepada ajaran islm yang masih murni, dan meneladani pola hidup para sahabat nabi, khususunya khulafa rasyidin.

Perlawanan terhadap kolonilasime dan dominasi barat, baik politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Pengakuan terhadap Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dan karenanya umat islam harus belajar dari Barat dalam dua bidang tersebut yang pada hakikatnya hanya mengambil kembali apa yang dulu telah disumbangkan oleh umat islam kepada Barat, dan kemudian secara kritis dan selektif memanfaatkan ilmu dan teknologi barat itu untuk kemajuan dunia islam.

b. Ali Abd Al-Raziq

(20)

c. Mohammad Husain Haikal

Menolak pendapat bahwa islam itu lengkap dengan seperangkat pengaturan bagi semua aspek kehidupa bemasyarakat, termasuk sistem politik, tetapi sebaliknya tidak beranggapan bahwa islam tidak berbeda dari agama-agama lain dalam arti tidak mempunyai sangkut paut dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kelompok ini berpendapat bahwa islam tidak memberikan preferensi kepada suatu sistem politik tertentu, telah meletakkan seperangkat prinsip atau tata nilai etika dan moral politik untuk dianut oleh umat islam dalam membina kehidupan bernegara (seperti yang telah diterangkan dalam al-Quran). Muhammad Abduh meskipun tidak mempunyai konsepsi politik yang utuh, dari pokok-pokok pikiran berpendirian bahwa tidak ada orang yang memegang kekuasaan keagamaan dan mempunyai kewenangan sebagai wakil Tuhan di bumi. Baginya kepala negara adalah kepala negara yang diangkat dan bisa dihentikan oleh rakyat dan kepada mereka dia bertanggungjawab. Quthb juga mengemukakan bahwa seorang penguasa islam tidak memiliki kekuasaan keagamaan yang diterima dari Allah dan dia dipilih semata-mata karena pilihan kaum muslimin.

Dalam hubungan ini Haikal meskipun tidak sevokal dengan Maududi dan hanya sepintas, masih memeperlihatkan kecenderungan untuk memberikan status dzimmi kepada para warga negara yang tidak beragama islam. Abduh sebagaimana Haikal, juga tidak segan untuk berguru ke Barat dengan mempelajari sistem mereka secara kritis dan selektif untuk kemudian menirunya apabila perlu dan sesuai.23

D. Paradigma Politik islam

1. Paradigma Substantif - Inklusif

Secara umum dilandasi dengan keyakinan bahwa Islam sebagai agama tidak merumuskan konsep - konsep teoritis yang berhubungan dengan politik. Adapun ciri - ciri dari pemikiran substantif - inklusif ada empat.

Pertama;

(21)

adanya kepercayaan yang tinggi bahwa Al Qur’an sebagai kitab suci berisikan aspek - aspek etik dan pedoman moral untuk kehidupan manusia, tetapi tidak menyediakan detil-detil pembahasan terhadap setiap objek permasalahan kehidupan. Argumen utama dari paradigma tersebut adalah, bahwa tak ada satupun dari ayat Al Qur’an yang menekankan bahwa umat Islam harus mendirikan agama Islam. Mereka berpendapat bahwa Al Qur’an memang memuat kandungan etika dan panduan moral untuk memimpin masyarakat politik, termasuk bagaimana menegakkan keadilan, demokrasi, kebebasan, kesetaraan, dll.

Kedua;

Pendukung paradigma ini meyakini bahwa misi utama Nabi Muhammad bukanlah untuk mendirikan / membangun kerajaan atau negara. Tetapi seperti para Nabi - nabi sebelumnya, yaitu menyampaikan / mendakwahkan nilai - nilai Islam dan kebajikan. Dengan demikian misi Nabi Muhammad tidak perlu diartikan sebagai langkah untuk membangun negara atau sistem pemerintahan tertentu.

Ketiga;

Para pendukung paradigma ini berpendapat bahwa syari’at tidak dibatasi atau terikat oleh negara. Demikian pula syari’at tidak berkaitan dengan gagasan -gagasan spesifik yang berkaitan dengan pemerintahan atau sistem politik, karena Islam semata - mata dianggap sebagai agama bukannya sebuah sistem yang berkaitan dengan tata tertib negara.

Keempat;

Refleksi para pendukung paradigma ini dalam bidang politik pada dasarnya adalah melakukan upaya yang signifikan terhadap pemikiran dan orientasi politik yang menekankan manifestasi substansial dari nilai - nilai Islam dalam aktivitas politik. Bukan saja dalam penampilan, tetapi juga dalam format pemikiran dan kelembagaan politik mereka

(22)

dapat memenangkan persaingan itu, proses Islamisasi haruslah mengambil kulturalisasi dan bukannya politisasi.

2. Paradigma Legal - Eksklusif

Paradigma legal - eksklusif mempunyai ciri - ciri umum sebagai berikut: Pertama;

Paradigma ini dalam pemikiran politik Islam meyakini bahwa Islam bukan hanya agama, tetapi juga sebuah sistem yang paling sempurna yang mampu memecahkan seluruh permasalahan kehidupan umat manusia. Para pendukung paradigma legal - eksklusif sepenuhnya yakin bahwa Islam adalah totalitas integratif dari “tiga d” : din (agama), daulah (negara), dan dunya (dunia). Konsekuensinya, paradigma ini diaplikasi untuk semua kehidupan mulai masalah pemerintahan, ekonomi, politik, sosial sampai remeh temeh keluarga (menurut Nazih Ayubi).

Kedua;

Dalam realitas politik, pendukung paradigma ini mewajibkan kepada kaum Muslimin untuk mendirikan negara Islam. Paradigma ini menghendaki agar umat Islam selalu menjadikan kehidupan Nabi Muhammad dan para sahabatnya dalam mengatur tatanan kemasyarakatan, dijadikan referensi utama dan modal untuk mewujudkan “negara Islam yang ideal”, dan menganjurkan penolakan sistemik terhadap konsep - konsep politik barat.

Ketiga;

Para pendukung paradigma ini meyakini bahwa syari’at harus menjadi fundamen/ pondasi dan jiwa dari agama, negara dan dunia tersebut. Syari’at diinterpretasikan sebagai hukum Tuhan, dan harus dijadikan sebagai dasar negara dan konstitusinya, serta diformulisasikan ke dalam seluruh proses pemerintahan, dan menjadi pedoman bagi perilaku politik penguasa.

Keempat;

(23)

Dalam konteks Indonesia, pendukung paradigma legal - eksklusif sangat menekankan ideologis atau politisasi yang mengarah pada simbolisme keagamaan secara formal.24

E. Polemik-Polemik Politik Islam

1. Islam Yes, Partai Islam No

Nurcholis Madjid sebagai pencetus slogan “Islam Yes, Partai Islam No” hal itu menjadi bagian penting dari gerakan pembaruan pemikiran Islam yang dipeloporinya. Namun hal tersebut masih saja dianggap statement of intent. Dasawarsa 1960-1970 merupakan periode saat umat Islam khususnya para pemikir dan aktivisnya merasakan beratnya beban yang harus dipikul akibat dari adanya sintesis yang sulit anara islam dan negara. Dalam perspektif demikian, yang paling mencolok adalah seringnya mereka menjadi sasaran kecurigaan ideologis dan ditempatkan dalam posisi marjinal dalam proses-preoses politik nasional. Dalam konteks introspeksi ke dalam, sejumlah pemikiran dan aktivis muda Islam melihat persoalan di atas bukan semata-mata sebagai sesuatu yang berdimensi politik. Akan tetapi juga sebagai sesuatu yang mempunyai aura teologis. Mereka percaya bahwa pemahaman terhadap Islam mempunyai kaitan langsung dengan aktivisme pemeluknya, baik yang bersifat sosial-budaya, ekonomi, maupun politik.

Nurcholis, meskipun tidak sendirian mencoba untuk memberikan suatu alternative pemecahan terhadap persoala diatas, khususnya yang berdimensi theologies. Dia antara lain emnemukan akar persoalan yang dihadapi komunitas Islam ketika itu adalah hilangnya “daya gerak psikologis” hal ini ditandai dengan oleh ketidakmampuan mereka untuk membedakan antara nilai-nilai yang transedental dan yang temporal.

Atas dasar itu, Nurcholis menyarankan agar umat Islam membebaskan dirinya dari kecenderungan untuk menempatkan hal-hal yang profane atau sakral atau sebaliknya.dari sudut pandang Teologis ,bagian yang terpentingdari jawaban yang ditawarkan Nurcholis adalah konsep Tauhid (monoteisme Tuhan). Sama seperti Imaduddin, Abdul Rahim, dalam hal ini pandangan NUrcholis bersifat radikal. Baginya prinsip monoteisme Islam mempunyai konsekuesni pemahaman bahwa hanya Allah-lah yang sakral dan mempunyai kebenaran absolute. Karenanya, komitmen umat

(24)

hendaknya diorientasikan kepada nilai-nilai Islam. Dan bukan pada organisasi atau lembagi kendatipun ber-merek Islam,

Pada tataran yang lebih luas, hal itu juga merujuk kepada negara atau partai. Atas dasar itum dimaklumatkan jargon “Islam Yes, Partai Islam No”. Meskipun menganjurkan bahwa keterikatan seseorang hendaknya pada nilai,tidak berate Nurcholis menolak lembaga atau organisasi, hal tersebut dtandai dengan masuknya ia menjadi anggota ICMI dan berkampanye untuk PPP. Yang harus dipahami, langkah-langkah tersebut bukan merupaka penyimpangan dari “Islam Yes, Partai Islam No”.

Sebab yang menajdi dasar keterlibatan ia dalam institusi-institusi tersebut bukan yang bersifat transenden. Melainkan sama dengan jati diri organisasi-organisasi tersebut bersifat profan (temporal). Dalam konteks kampanye PPP Nurcholis ikut serta berkampanye ikut serta yang didasarkan atas prinsip “memompa ban kempes”.25 2. Polemik Syiah Vs Sunni (pertentangan dan penyesuaian)

Sesungguhnya perdebatan yang terjadi antara sunni dan syiah bukanlah hal karena perdebatan ajaran-ajaran pokok agama, hal ini berbeda dengan mazhadb-mazhab Kristen yang mempertentangkan masalah pokok-pokok ajaran agamanya. Sebenarnya perdebatan ini bukanlah memperdebatkan fungsi Nabi ataupun masalah sifat Tuhan.

Polemik yang terjadi di kubu syiah dan sunni terbagi menjadi dua jenis, diantaranya : jenis yang berkaitan dengan tokoh sejarah khusuusnya tokoh sejarah pada permulaan Islam. Yang kedua adalah jenis yang berkaitan dengan konsep-konsep dan doktrin. Awal perdebatan kedua kubu ini memiliki titik yang berbeda, apabila sunni mulai berdebat karena konsep-konsep dan doktrinnya. Lain halnya dengan kaum Syi’i yang mempertentangkan tokoh.

Kritik kaum syi’ah terhadap tokoh penting pengganti Nabi pada masa permulaan pemerintahan khulafarasyidin diantaranya dilontarkan kepada Abu Bakar, Umar dan Utsman. Menurut kaum syi’ah Abu Bakar memiliki kesalahan diantaranya adalah mengikuti pertemuan saqifah dan kemudian ia ditunjuk sebagai khalifah pertama, tidak menyerahkan fadak kepada Fatimah sebagai ahli waris nabi yang sah, dan mengampuni jenderalnya yang telah membunuh pemuka muslim dengan alasan banyaknya jasa sang jenderal.

(25)

Umar di kritik pedas oleh kaum syi’ah karena ia telah dua kali urung mengeksekusi Hurqush Ibn Zuhayr yang telah murtad dibalik penampilannya yang Shaleh, kritik selanjutnya yaitu mengenai inovasi hukum yang dibuat Umar seperti larangan nikah mut’ah, suami bisa menceraikan istrinya secara langsung melalui talak tiga, dilarangnya haji tamattu, dan tindakan Umar yang menunjuk dewan beranggotakan enam orang untuk menentukan penggantinya, dikecam dari segi komposisi anggota dan kaum syi’ah beranggapan bahwa anggota tersebut menguntungkan Utsman.

Kritik ketiga terhadap usman, menurut kaum syi’ah usman diragukan sebagai khalifah karena kesetiaannya kepada nabi diragukan dan ia tidak mengikuti Ikrar yang dilakukan para sahabat, Usman pada masa pemerintahannya dekat dengan nepotisme. Ia menempatkan saudara-saudaranya di pemerintahan, serta sikap Usman yang opresif terhadap pendukung Ali.

Mendengar kritik tersebut dalam berbagai tulisan maupun lain kesempatan, kaum sunni seolah-olah memberi jawaban dan penegasan serta kritik terhadap kaum syi’isme. Diantaranya adalah :

(26)

mendapatkan pengetahuan melalui kerja keras dan usahanya, kaum sunni-pun banyak yang rajin dan belajar keras dan beeberapa diantarany ada yang lebih pintar dari keturunan Ali sendiri seperti contoh (Malik, Azwa’i, syafi’i dan Ibn Hanbal lebih berilmu dibandingkan Imam-imam syi’ah sezaman mereka Musa Ibn Ja’far, Ali Ibn Musa, dan Muhammad Ibn Ali.

Menurut Ibn Taimiyah keyakinan kaum syi’ah akan ishmah (ketakbercacatan dan ketakmungkinan kesalahan Imam) berasal dari kebodohan dan angan-angan mereka. Karena satu-satunya yang bisa dianggap memiliki kedudukan itu seperti Rasul-rasul Tuhan, bakan ishmah para rasul juga masih diperdebatkan orang, apalagi ishmah Ali dan keturunannya. Disamping prinsip-prinsip fundamental tersebut Ibn Taimiyah mengecam apa yang disebutnya kepandiran dan ketahayulan syi’ah, yang dimaksudnya adalah kepercayaan tertentu kaum syi’ah untuk tidak menamakan anak-anak mereka menggunakan nama ketiga khalifah, dan mereka tidak mau berurusan dengan orang-orang yang memilih nama seperti ketiga nama khalifah tersebut.26 Selain itu, Ibn Taimiyah mengkritik pemujaan-pemujaan atas tempat-tempat yang mereka anggap sebagai kembalinya imam ghaib, hal demikian tidaklah mungkin terjadi sehingga zaman sekarang banyak bermunculan Nabi-Nabi palsu.

Pada abad ke-20 politik semakin memancarkan pengaruh untuk menenangkan hubungan sunni-syi’ah melalui perkembangan lain. Perkembangan ini adalah terbentuknya negara-negara multi-madzhab, khususnya Libanon dan Irak, yang struktur politiknya bergantung pada simbiosis sunni-syi;ah. Sesungguhnya keniscayaan pertentangan dan penyesuaian yang terjadi antara kaum sunni dan syi’ah ini menurut catatan sejarah berasal dari satu pandangan yang berbeda mengenai tokoh dan doktrin. Seiring berkembangnya zaman pertentangan ini agaknya naik turun perbincangannya karena banyaknya sabb dan rafdh yang berkelanjutan.

Referensi

Dokumen terkait

Menurutnya, yang penting adalah umat Islam dapat melaksankan nila-nilai etik al-Quran dalam kehidupan berpolitik dan bermasyarakat; kedua: Para Ulama al-salaf al-shalih

Islam memiliki aturan penetapan hukum kriminal, aturan sosial dan masyarakat yang tidak hanya dalam persoalan personal antara seorang hamba dengan Tuhannya tetapi hubungan

Munculnya gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik merupakan modal utama umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan negara merdeka

anggapan pemikiran yang menghendaki bahwa Islam tidak harus secara simbolik masuk dalam kehidupan negara, tetapi yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai dan prinsip

Ibnu Rusyd melihat bahwa demokrasi adalah bentuk negara yang paling sesuai dan memungkinkan untk diterapkan oleh umat Islam, mengingat kenyataan di dunia Islam

Penelitian ini mengambil judul "Diskursus Pemikiran Politik Islam di Indonesia (Studi Pemikiran M. Natsir dan Abdurrahman Wahid 3 tentang Relasi Islam

anggapan pemikiran yang menghendaki bahwa Islam tidak harus secara simbolik masuk dalam kehidupan negara, tetapi yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai dan prinsip

Aspek penting dalam pemikiran sosiologi ekonomi islam adalah Konsep Keadilan dan Distribusi Kekayaan, Tanggung Jawab Sosial dan Etika Ekonomi, Praktik Ekonomi Berdasarkan Prinsip