ALIRAN POLITIK DALAM ISLAM: KONSEP IMAMAH DAN KHILAFAH
Mildanti1, Sri Satyaningtyas2
1, 2 Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran
[email protected] [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang “Aliran Politik dalam Islam: Konsep Imamah dan Khilafah”.
Ada tiga hal penting yang di kaji dalam penelitian ini: pertama definisi imamah dan khilafah.
Kedua, sejarah perkembangan dan problematika imamah dan khilafah dalam Islam. Ketiga, kontekstualisasi konsep imamah dan khilafah pada masa kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk meneguhkan pemahaman secara mendalam tentang konsep imamah dan khilafah dalam politik Islam, sehingga kita dapat memperoleh wawasan yang lebih baik tentang dinamika politik dan sosial di dunia Islam dan kontribusi serta implikasinya dalam konteks politik kontemporer.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur, analisis data dilakukan melalui pendekatan induktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya definisi imamah dan khilafah memiliki arti yang sama yakni kemimpin setelah Nabi Muhammad. Namun beberapa ulama telah memberikan pandangan yang berbeda-beda terkait kedua konsep ini. Seperti Al-Mawardi, Al- Gazali, Ibn Khaldun, Taqiyuddin an-Nabani, Al-Qalqasyandi, Al-Juwayni, At-Taftazani.
Persoalan yang kemudian mengiringi pemerintahan Islam adalah mengenai bentuknya.
Beberapa pemikir Muslim, seraya merujuk kepada sejumlah ayat dalam Al-Quran, mengatakan bahwa bentuk pemerintahan bisa berbentuk kerajan maupun republik.
Kata Kunci: Imamah, Khilafah, Politik Islam.
ABSTRACT
This research discusses "Political Currents in Islam: The Concept of Imamah and Khilafah". There are three important things studied in this research: first, the definition of imamate and khilafah.
Second, the history of the development and problems of the imamate and caliphate in Islam.
Third, contextualize the concepts of imamate and caliphate in contemporary times. This research aims to confirm an in-depth understanding of the concepts of imamate and caliphate in Islamic
politics, so that we can gain beRer insight into the political and social dynamics in the Islamic world and their contributions and implications in the contemporary political context.
This research uses a descriptive qualitative approach, the data collection method used is literature study, data analysis is carried out using an inductive approach. The results of this research show that basically the definitions of imamate and caliphate have the same meaning, namely leadership after the Prophet Muhammad. However, several scholars have provided different views regarding these two concepts. Such as Al-Mawardi, Al-Gazali, Ibn Khaldun, Taqiyuddin an- Nabani, Al-Qalqasyandi, Al-Juwayni, At-Taftazani. The problem that then accompanies Islamic government is its form. Some Muslim thinkers, while referring to a number of verses in the Qur’an, say that the form of government can be either a kingdom or a republic.
Keywords: Imamate, Caliphate, Islamic Politics.
اﳌﻠ ﺨ ﺺ
ﯾ'(
ﺎو ل ﻫ ﺬا اﻟ ﺒ ﺤ ﺚ "
اﻟﺘ ﯿﺎ را ت اﻟ ﺴ9 ﯿﺎ ﺳ9 ﯿﺔ ﰲ ا ﻻٕ
ﺳ ﻼ م:
ﻣ ﻔﻬ ﻮم ا ﻻٕ
ﻣﺎ ﻣﺔ وا ﳋ ﻼ ﻓﺔ
".
و ﰲ ﻫ ﺬا اﻟ ﺒ ﺤ ﺚ ﺛ ﻼ ﺛﺔ Jٔ
ﻣﻮ ر L ﻤﺔ : اNٔ
و ل:
ﺗ ﻌ ﺮﯾ ﻒ ا ﻻٕ
ﻣﺎ ﻣﺔ
وا ﳋ ﻼ ﻓﺔ . Sﻧ ﯿﺎً:
V ر ﱗ ﺗ ﻄ ﻮ ر اﻻٕ
ﻣﺎ ﻣﺔ و اﳋ ﻼ ﻓﺔ ﰲ ا ﻻٕ
ﺳ ﻼ م وﻣ ﺸ Z ﲥ ﲈ.
S ﻟﺜﺎً
: و ﺿ ﻊ ﻣﻔ ﻬﻮ ﱊ ﻜﻬ اﻟ ﻨﻮ ت و اﳋ ﻼ ﻓﺔ ﰲ ﺳ9 ﯿﺎﻗ ﻬﲈ ا ﳌﻌ ﺎ ﴏ . ﳞ ﺪ ف ﻫ ﺬا
اﻟﺒ ﺤ ﺚ إ
ﱃ jﯿ ﺗiٔ
ﻓﻬ ﺪ ﻣl ﻢ ﻌﻤ ﻖ ﳌ ﻔﺎ ﻫ ﲓ ا ﻻٕ
ﻣﺎ ﻣﺔ و اﳋ ﻼ ﻓﺔ ﰲ ﺴ9 اﻟ ﯿﺎ ﺳ ﺔ اﻻٕ
ﺳ ﻣo ﻼ ﺔ،
ﺣ ﱴ sﳣ ﻜ ﻦ ﻣ ﻦ ا ﳊ ﺼ ﻮ ل x ﲆ ر ؤﯾ ﺔ Jٔﻓ ﻀ ﻞ ﻟ ﯾﻨﺎ } ﻣo ﺎ ﻜo ت ﺴ9 اﻟ ﺳ9 ﯿﺎ ﯿﺔ
و
~ ﺟ
€ ﻋﯿ ﺔ ﰲ اﻟ ﻌﺎ ﱂ اﻻٕ
ﺳ ﻼ ﱊ و ﻣ ﺴ ﺎﻫ ﲈ ﲥﺎ و اﻧﻌ ﲀ ﺳ ﺎﲥ ﺎ ﰲ اﻟ ﺴ9 ﯿﺎ ق اﻟ ﺴ9 ﯿﺎ ﳼ اﳌ ﻌﺎ . ﴏ
ﺴ9 † ﺘ‡
ﺪ م ﻫ ﺬا اﻟ ﺒ ﺤ ﺚ ا ﳌﳯ ﺞ اﻟ ﻮ ﺻ ﻔ ﻲ اﻟ ﻨﻮ ﻋ ﻲ
، و ﻃ ﺮﯾ ﻘﺔ ﲨ ﻊ اﻟﺒ ﯿﺎ
• ت ﳌ ا ﺴ9 ﺘ‡
ﺪ ﻣﺔ ﱔ د را ﺳ ﺔ اNٔ
دﺑ ﯿﺎ ت
، وﯾ ﱲ ﲢ ﻠﯿ ﻞ اﻟ ﺒﯿﺎ
• ت • ﺳ9 ﺘ‡
ﺪا م اﳌ ﳯ ﺞ
ﺳ9 ~ ﺘﻘ ﺮا ﰄ . وﺗ ﻈ ﻬﺮ ﻧﺘ ﺎ ﰀ ﻫ ﺬا اﻟ ﺒ ﺤ ﺚ Jٔ
ن ﺗ ﻌ ﺮﯾ ﻔ ﻲ ا ﻻٕ
ﻣﺎ ﻣﺔ و اﳋ ﻼ ﻓﺔ ﳍ ﲈ ﰲ ا Nٔ
ﺳ ﺎ س ﻧﻔ ﺲ ا ﳌﻌ ﲎ
، وﻫ ﻮ اﻻٕ
ﻣﺎ ﻣﺔ ﺑ ﻌ ﺪ اﻟﻨ ﱯ ﶊ ﺪ.
و ﻣﻊ ذ
¡
، ﻓﻘ ﺪ
ﻗﺪ م اﻟﻌ ﺪﯾ ﺪ ﻣ ﻦ اﻟ ﻌﻠ ﲈء و
£ ﺎ ت ﻧ ﻈ ﳐ ﺮ ﺘﻠﻔ
¥ ﺔ ﺸ iٔن ﻫ ﺬ¦
ﻦ ﳌﻔ ا ﻬﻮ ﻣ ﲔ ﻣ¨ . ﻞ ا ﳌﺎ و ر د ي
، اﻟﻐ ﺰا ﱄ
، ا- ﻦ
® } و ن
، ﺗﻘ ﻲ ا
¯¦
ﻦ ﻨﺒﺎ اﻟ ﱐ
، اﻟﻘ ﺳ ﻠﻘﺎ ﺪ ±(
ي
،
اﳉ ﻮﯾ ﲏ
، اﻟﺘ ﻔlﺎ زا . ﱐ ا ﳌ ﺸ ﳫ ﺔ اﻟ ﱵ ﺗ ﺼ ﺎ ﺣ ﺐ ا ﳊ ﻜ ﻮﻣ ﺔ اﻻٕ
ﺳ ﻼ ﻣo ﺔ إذ ن ﱔ ﺷ ﳫ ﻬﺎ.
و ﯾﻘ ﻮ ل ﺑ ﻌ ﺾ ا ﳌﻔ ﻜ ﺮ¦
ﻦ ا ﳌ ﺴ ﻠﻤ ﲔ
، و ﱒ † ﺸ ﲑ و ن إ
ﱃ x ﺪ د ﻣ ﻦ
اNٓ
½ ت اﻟ ﻘﺮ Jٓﻧﯿ ﺔ،
إ
ن ﺷ ﲁ ا ﳊ ﲂ ﳝ ﻜ ﻦ Jٔ
ن ¦ ﻜ ﻮ ن إ
ﻣﺎ ﳑ ﻠﻜ ﺔ ﲨ Jٔو ﻬﻮ رﯾ ﺔ.
اÂ ﳫ ﲈ ت ا
¯ اÃ اﻻٕ : ﻣﺎ ﻣﺔ
، اﳋ ﻼ ﻓﺔ
، اﻟ ﺴ9 ﯿﺎ ﺳ ﺔ اﻻٕ
ﺳ
ﻼ
ﻣo
ﺔ.
1. PENDAHULUAN
Dalam pemikiran politik Islam, konsep-konsep imamah dan khilafah memiliki peran yang sangat penting dan sering menjadi subjek perdebatan yang intens. Konsep ini mencerminkan dua bentuk kepemimpinan dalam tradisi Islam yang telah memengaruhi sejarah, politik, dan budaya dunia Islam sejak awal perkembanganya.
Imamah dan khilafah merupakan dua system politik yang berbeda dalam Islam, masing- masing memiliki pandangan unik tentang kepemimpinan dan otoritas dalam komunitas muslim.
Keduanya memiliki akar yang kuat dalam sejarah politik Islam. Imamah merujuk pada konsep kepemimpinan yang berdasarkan otoritas keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Sedangkan khilafah merujuk pada konsep otoritas pemilihan atau kesepakatan umat Islam.1 Konflik antara dua konsep ini telah membentuk narasi politik yang kompleks di dunia Islam, mempengaruhi pembentukan negara dan pemerintahan, serta mengarah pada perbedaan interpretasi terhadap prinsip-prinsip politik Islam.
Pentingnya memahahi kedua konsep ini dalam aliran politik Islam tidak hanya terbatas pada aspek historis, tetapi juga memiliki implikasi yang signifikan dalam konteks kontemporer. Perdebatan antara penganut imamah dan khilafah terus berlanjut, bahkan di era modern ini, dengan munculnya berbagai gerakan politik dan kelompok- kelompok yang berpegang teguh pada salah satu konsep tersebut. Selain itu, peran konsep-konsep ini dalam membentuk identitas politik dan pandangan dunia umat islam juga tidak dapat diabaikan.
Pemahaman tentang konsep imamah dan khilafah tidak hanya mencakup aspek politik, tetapi juga memiliki dimensi teologis yang kompleks. Konsep ini telah menjadi subjek diskusi dan interpretasi yang luas diantara ulama dan cendekiawan Islam selama berabad-abad, dan terus mempengaruhi dunia politik dan sosial di dunia Islam hingga saat ini. Dalam konteks sejarah, perbedaan antara imamah dan khilafah telah menyebabkan konflik politik di dunia Islam, terutama setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW perpecahan antara pengikut Syiah dan Sunni, yang didasarkan pada perbedaan pandangan tentang pewaris kepemimpinan,2 adalah contoh nyata dari konflik yang timbul dari interpretasi berbeda tentang konsep ini. Namun, penting untuk diingat
1 Abdurrahman Abdullah, “Analisis Kritis Teori Dan Penerapan Konsep Khilafah Pasca Nabi SAW Wafat,” Jurnal Politik Islam 4, no. 1 (2021): 147.
2 Kamararuzzaman, Relasi Islam Dan Negara: Perspektif Modernis dan Fundamentalis (Magelang:
Indonesiatera, 2001), 33.
bahwa konsep dan khilafah tidak hanya relevan dalam konteks sejarah, tetapi juga memiliki implikasi signifikan dalam politik kontemporer dunia Islam. Pergolakan politik dan kekerasan di sejumlah negara dengan mayoritas penduduk muslim seringkali terkait dengan perbedaan pandangan tentang konsep-konsep ini, serta upaya untuk menerapkan mereka dalam praktik politik modern.
Dengan memahami secara mendalam konsep imamah dan khilafah dalam politik Islam, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih baik tentang dinamika politik dan sosial di dunia Islam dan kontribusi serta implikasinya dalam konteks politik kontemporer. Oleh karena itu, penelitian tentang konsep imamah dan khilafah dalam aliran politik Islam penting dilakukan karena beberapa alasan. Pertama, dengan meningkatnya polarisasi politik dan kekerasan di berbagai negara dengan dengan mayoritas penduduk muslim, penelitian ini dapat memberikan pemahaman yeng lebih baik tentang akar konflik tersebut. Kedua, penelitian ini juga dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pemikiran politik islam, dengan mengembangkan kerangka analisis yang lebih komprehensip tentang konsep-konsep kepemimpinan dalam Islam.
Meskipun telah ada sejumlah penelitian tentang konsep imamah dan khilafah dalam konteks politik Islam, masih terdapat gap penelitian yang perlu di isi. Beberapa penelitian cenderung fokus pada aspek historis dan teologis, sementara kurang pemperhatikan implikasi praktik dari konsep tersebut dalam dinamika politik dam sosial kontemporer. Selain itu, ada juga penelitian yang secara komprehensif membandingkan dan menganalisis kedua konsep tersebut secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep imamah dan khilafah dalam aliran politik Islam, sejarah perkembangan dan kontekstualisasinya. Penelitian ini akan melibatkan analisis literatur yang komprehensip, implementasi konsep-konsep ini dalam berbagai konteks politik dalam dunia islam, serta pemikiran teoritis untuk mengembangkan kerangka analisis yang lebih baik.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami konsep imamah dan khilafah dalam aliran politik Islam. Pendekatan kualitatif di pilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi kompleksitas konsep-konsep ini secara mendalam, memahami serta mendapatkan wawasan yang lebih dalam dari persfektif subjek penelitian.
Data akan dikumpulkan melalui studi literatur yang komprehensip dari jurnal terakreditasi dan terindeks, baik nasional maupun internasional, yang relevan dengan topik penelitian. Studi literatur mencakup teks tulisan ulama, artikel akademis, dan tulisan resmi terkait konsep imamah dan khilafah dalam politik Islam. Analisis data dilakukan melalui pendekatan induktif, di mana data dari studi literatur secara sistematis untuk mengidentifikasi pola, tema, dan hubungan yang muncul dalam konteks imamah dan khilafah.
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti akan memperhatikan prinsip-prinsip etika penelitian yang meliputi prinsip-prinsip kejujuran, kerahasian, persetujuan, serta penghormatan terhadap keberagaman dan keunikan subjek penelitian.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Definisi Imamah Dan Khilafah
3.1.1. Pengertian Imamah
Secara etimologi kata “imamah” dapat diartikan sebagai berikut: menurut Ibn Mandhur dalam Lisan al-Arab menyatakan bahwa kata “imamah”
berasal dari bahasa Arab dengan akar kata dasar “imam’ yang berarti
“pemimpin” atau “pengarah”. Kemudian beliau juga mengemukakan bahwa kata “imamah” memiliki akar kata dalam bahasa arab “amamah”
yang berarti “di depan”, menunjukkan makna “pemimpin yang menjadi panutan atau pionir”.3 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata
“imamah” berarti “kepemimpinan” baik pemimpin yang baik maupun tidak. Dan mereka tidak pernah menentukan baik bentuk negara maupun model kepemimpinannya.4
Kata “Imamah” memiliki makna yang berbeda-beda, secara terminologi dapat diartikan sebagai berikut:
1) Al-Mawardi menjelaskan bahwa kata “imamah” adalah institusi kepemimpinan yang bertanggung jawab dalam membimbing umat dan memimpin mereka dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk
3 Rasuki, “Dinamika Konsep Kepemimpinan Dalam Islam: Dari Khilafah, Imamah Sampai Imarah,”
Jurnal Karimah 7, no. 1 (2019): 82-83.
4 Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, Cet III, 1990), 326.
urusan agama, sosial, dan politik dalam mewujudkan perdamaian dunia.5
2) Al-Gazali menggambarkan kata “imamah” sebagai otoritas spiritual yang menunjukan jalan kepada umat dan bertanggung jawab atas pengajaran dan pemeliharan ajaran agama.6
3) Al-Juwayni menjelaskan bahwa kata “imamah” adalah konsep kepemimpinan yang memiliki otoritas agama dan politik, yang memimpin umat islam dalam menjalankan ajaran agama.7
4) Ibn Khaldun mengatakan kata “Imamah” adalah muatan seluruh komunitas manusia yang sesuai dengan pandangan syariat guna mencapai kemaslahatan mereka baik di dunia dan akhirat.8
5) At-Taftazani mendefinisikan kata “imamah” adalah sebuah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia yang berfungsi sebagai wakil dari Nabi Muhammad SAW.9
3.1.2. Pengertian Khilafah
Secara etimologi kata “khilafah” dapat diartikan sebagai berikut: menurut Ibn Mandhur dalam Lisan al-Arab menyatakan bahwa kata “khilafah”
berasal dari bahasa Arab dengan akar kata dasar “khalifah” yang berarti
“pengganti” atau “penerus”. Kemudian beliau juga mengemukakan bahwa kata “khilafah” berasal dari akar kata “khalafa” yang berarti
“menggantikan” atau “menjadi pengganti” menunjukkan makna
“kepenggantian dalam kepemimpinan”.10
Kata “Khilafah” memiliki makna yang berbeda-beda, secara terminologi dapat diartikan sebagai berikut:
5 Imam al-Mawardi, Hukum Tata Negara Dan Kepemimpinan Dalam Takaran Islam, Cet. I, Alih Bahasa Abdul Hayyie al-KaNani Dan Kamaluddin Nurdin (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), 15.
6 Nikmatul Muzayadah, Devy Habibi Muhammad, Ari Susandi, “Konsep Khalifatullah Terhadap Pengembangan Kepemimpinan Pendidikan Islam Persfektif M. Quraish Shihab Dan al-Gazali,” Jurnal Edumaspul 5, no. 2 (2021): 494.
7 Hindra Saputra, Konsep Imamah Menurut al-Mawardi (Skripsi, Jurusan Hukukm Tata Negara, Fakultas Syariah, Institut Negeri Batusangkar, 2021), 2.
8 Hindra Saputra, Konsep Imamah Menurut al-Mawardi (Skripsi, Jurusan Hukukm Tata Negara, Fakultas Syariah, Institut Negeri Batusangkar, 2021), 14.
9 Faizin dan Wan Zailan Kamaruddin Wan Ali, “Konsep Imamah Dan Baiat Dalam Pemikiran Lembaga Dakwah Islam Indonesia Dilihat Dari Perspektif Siyasah Syariyah,” Jurnal ar-Risalah 12, no. 1 (2015): 3.
10Rasuki, “Dinamika Konsep Kepemimpinan Dalam Islam: Dari Khilafah, Imamah Sampai Imarah,” Jurnal Karimah 7, no. 1 (2019): 83.
1) Al-Mawardi menjelaskan bahwa kata “khilafah” adalah sistem kepemimpinan yang diberikan Allah SWT untuk memastikan pelaksanaan syariat Islam dan memelihara keadilan di dalam masyarakat, dengan khalifah sebagai pemimpin yang harus memimpin berdasarkan hukum syariat.11
2) Al-Gazali menjelaskan bahwa kata “khilafah” adalah system kepemimpinan yang ditentukan oleh syariat islam, dimana khalifah bertindak sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW dalam memimpin umat.12
3) Ibn Khaldun menjelaskan bahwa kata “khilafah” merupakan institusi yang bertujuan untuk menjaga keadilan sosial dan politik dalam masyarakat muslim, dengan khalifah sebagai pemimpin yag harus di pilih berdasarkan kualitas kepemimpinan dan kepatutan.13 4) Taqiyuddin an-Nabani menjelaskan bahwa kata “khilafah” adalah
kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah islam dan mengembangkan dakwah islam ke seluruh dunia.14
5) Al-Qalqasyandi menyinggung kata “khilafah” sebagai kekuasaan umum atas seluruh umat, atau manifestasi ajaran islam berupa pelaksanaan urusan politik atau system pemerintahan, tanpa mengaitkannya dengan urusan agama.15
3.2. Sejarah dan Problematika Perkembangannya dalam Islam
Kepemimpinan di dunia Islam setelah Nabi SAW wafat adalah masalah pelik.
Sangat banyak varian pemikiran dan berbagai hal yang mewarnai panggung
11Amir Sahidin, “Telaah Atas Konsep Khilafah Al-Mawardi (Studi Deskriptif Analisis)," Jurnal Penelitian Medan Agama 12, no. 2 (2021): 75.021
12Nikmatul Muzayadah, Devy Habibi Muhammad, Ari Susandi, “Konsep Khalifatullah Terhadap Pengembangan Kepemimpinan Pendidikan Islam Persfektif M. Quraish Shihab dan al-Gazali,” Jurnal Edumaspul 5, no. 2 (2021): 494.
13Rasuki, “Dinamika Konsep Kepemimpinan Dalam Islam: Dari Khilafah, Imamah Sampai Imarah,” Jurnal Karimah 7, no. 1 (2019): 88.
14 N. Faqih Syarif H, Sistem Politik Mana Yang Paling Kejam Di Dunia (Sleman: Cv Budi Utama, 2019), 11.
15 Judi Suharsoni, Iwan Triyuwono, Akutansi Utang: Menggali Makna Tuk Menggapai Cinta Ilahi Dengan Pendekatan Etnohipnosis (Malang: Penerbit Peneleh, 2020), 125.
sejarah dari sejak penerapan konsep kepemimpinan model kekhilafahan, yaitu pada masa Abu Bakar ibn Abi Quhafah hingga khilafah Ali Ibn Abi Thalib serta intrik politik semakin tajam pada masa khilafah Hasan Ibn Ali. Hal tersebut lebih disebabkan, menurut penelusuran dari berbagai kitab tarikh dan hadits-hadits shahih di kalangan Ahlus-Sunnah, Nabi SAW tidak pernah mewasiatkan masalah kepemimpinan.
Pada hari keempat menjelang Nabi SAW wafat, seperti diceritakan oleh Ibn Abbas, Nabi memberikan wasiatnya untuk umat, yang disebutkan oleh Nabi niscaya umat Islam tidak akan tersesat setelahnya.
Diceritakan dari riwayat Ibn Abbas, bahwa Nabi SAW menjelang wafatnya dalam keadaan sakit bersabda, "Berikan saya kertas dan pena, akan kutulis buat kalian tulisan yang niscaya kalian tidak akan tersesat setelahku."Para sahabat yang hadir ramai berselisih, ada yang berkata, "Nabi sedang mengigau dikarenakan sakit yang luar biasa". Nabi SAW marah seraya berkata, "Sesungguhnya aku dalam kondisi yang lebih baik dari apa yang kalian kira". Disebutkan bahwa Nabi kemudian mewasiatkan tiga hal: (1) agar mengeluarkan kaum musyrikin dari jazirah Arab, (2) memperlakukan dengan baik para utusan sebagaimana Nabi SAW selalu memperlakukannya, dan yang ketiga Nabi diam, atau disebutkan di banyak kitab tarikh dan hadits, perawinya lupa atas apa wasiat Nabi yang ketiga. Setelah Nabi SAW wafat, dua tokoh kunci yang dipandang layak menggantikan posisi Nabi SAW saat itu bermuara pada dua orang shahabat, yaitu apakah Abu Bakar ibn Abi Quhafah ataukah Ali ibn Abi Thalib (Ibn Atsir, 2012:187; Ath-Thabari, Vol.III, t.t,:202). Meskipun, pada saat terjadi suksesi kepempinan tepat setelah Nabi SAW wafat, Ali ibn Abi Thalib lebih bersikap pasif, karena sedang fokus mengurusi pemakaman jenazah sang Rasul tercinta (Ibn Atsir, Vol.II, 2012:193). Sementara Abu Bakar sangat agresif dengan didukung penuh oleh “tim sukses” utamanya, yaitu Umar ibn Khaeab dan Abu ‘Ubaidah ibn Jarrah (Abi Syaibah, Vol.II, t.t.:432).
Abu Bakar akhirnya terpilih menjadi Khalifah pertama mewakili golongan Muhajirin setelah diba’iat di forum pertemuan antara kalangan Anshar dan Muhajirin (meskipun Muhajirin hanya diwakili oleh tiga orang) di rumah Saqifah Bani Sa’idah. Peristiwa Saqifah dan rangkaian peristiwa setelahnya merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam sebagai bahan bagaimana kita bisa melihat secara jernih permasalahan pengisian kekuasaan atau suksesi kepemimpinan pasca Nabi SAW wafat. Bahkan, suksesi kepemimpinan pada masa Umar hingga
periode khilafah Hasan Ibn Ali selalu dinamis, konsepnya pun berubah-ubah.
Abu Bakar naik menjadi khalifah dengan sIstem demokrasi terbatas yaitu terpilih secara musyawarah di rumah Saqifah Bani Sa’idah, Umar Ibn Khaeab terpilih melalui sistem penunjukan langsung dengan surat wasiat dari khalifah sebelumnya. Berbeda dengan Utsman ibn Affan yang terpilih melalui sistem Ahl al-Hal wal ‘Aqd, begitu pun Ali ibn Abi Thalib berbeda pula sistem yang digunakan oleh umat Islam saat itu, yaitu dengan sistem pemilihan langsung oleh umat Islam.16
Dalam perkembangannya, konsep khilafah tidak lagi digunakan oleh kelompok fanatik pengikut Ali ibn Abi Thalib. Kelompok ini yang kemudian dikenal dengan sebutan Syi’ah menggunakan term khusus yang populer dengan istilah imamah, serta terus berkembang dilingkungan kelompok syi’ah dari pada di kalangan kelompok Sunni. Konsep ini juga mengacu pada soal kepemimpinan pasca Nabi atau negara dalam kedaulatan Islam. Perbedaan penggunaan keduanya bisa jadi terkait-kuat dengan nuansa politis, sebab syi’ah tidak mengakui ketiga khalifah awal Islam, baik Abu Bakar, Umar dan Uthman sebagai penggani Nabi yang sah. Dalam keyakinan mereka, ketiga khalifah tersebut telah mengkhianati Ali ibn Abi Thalib sebagai satu-satunya pengganti Nabi yang sah. Dan inilah penyebab awal lahirnya konflik yang cukup serius dalam kepemimpinan Islam setelah ditinggal Nabi.17
3.3. Kontekstual Pada Masa Sekarang (Term Imamah dan Khilafah dalam Al- Quran)
Ada dua istilah yang selama ini mengemuka berkaitan dengan core-nya politik Islam, yaitu khilafah dan imamah. Meskipun diambil dari sumber yang sama, yaitu Al-Quran, tetapi dalam praksis politik yang berkembang di dunia Islam, istilah ini digunakan oleh dua kelompok yang secara politik dipandang berseberangan, yaitu Sunni dan Syiah. Namun demikian, tulisan ini tidak akan membahas dua kelompok, meskipun kadang-kadang disebut untuk keperluan penegasan.18
16 Abdurrahman Abdullah, Analisis Kri*s Teori dan PenerapanKonsep Khilafah Pasca Nabi SAW Wafat, Jurnal Poli1k Islam, Vol.4, No. 1, (Januari-Juni 2021), Hal. 147-148.
17
18 Ajat Sudrajat, Khilafah Islamiyah Dalam Perspektif Sejarah. Jurnal UNY, Vol. 35, No. 2, (2009). 2.
Istilah khilafah dan imamah sebetulnya sinonim; maknanya adalah sistem pemerintahan Islam. Namun, oleh segelintir orang, kedua istilah itu dianggap berbeda pengertiannya.19 Dalam prakteknya imam tidak berpijak pada proses suksesi, seperti dalam Proses Khilafah, bernuansa sosial karena Imamah sendiri cenderung memahami sifat doktrinal. Contoh yang membedakan keduanya dalam hal wilayah adalah khilafah, kepemimpinan dalam batas wilayah tertentu, artinya secara struktural mengikat mereka yang tinggal di dalamnya daripada orang lain di luar wilayah. Pada saat yang sama, kepemimpinan Imam melampaui batas-batas wilayah, nasional, dan regional, tetapi secara spiritual dan teologis mengikat semua orang yang mengimaninya. terlepas dari kenyataan bahwa fungsi Imamah bersifat spiritual dan Khilafah bersifat institusional.20
Ketika seorang mempraktikkan semua unsur-unsur kekhalifahan dalam segala tindakannya, maka yang demikian itu dinamakan khalifah. Dalam konteks politik yang lebih populer, kata khilafah dapat diartikan dengan pemerintahan.
Jadi, kalau ada istilah Khilafah Islamiyah, itu berarti Pemerintahan Islam atau lebih tepatnya pemerintahan yang ditegakkan berdasarkan syariat Islam.
Pada periode saat ini, konsep khilafah Islamiyah kembali muncul ke permukaan setelah adanya sejumlah kelompok Muslim yang menyuarakannya secara nyaring pentingnya penyelenggaraan negara atas dasar syariah. Hal ini dipicu oleh adanya sejumlah kegagalan yang dilakukan para nasionalis sekuler dalam mengelola negara. Di Indonesia, slogan-slogan yang mengarah dan menuntut ditegakkannya pemerintahan atas dasar khilafah antara lain dikumandangkan oleh HTI (Hizabut Tahrir Indonesia). Di antara slogan yang seringkali mereka kemukakan dan banyak tertulis di pamflet-pamflet atau spanduk-spanduk yang disebarluaskan adalah berbunyi sudah saatnya khilafah memimpin dunia dengan syariah. Tuntutan mereka adalah agar bentuk negara menggunakan model khilafah sementara penyelenggaraaan negara atau pemerintahan didasarkan pada syariat Islam.21
19 Lendrawati, Khilafah, Imarah dan Imamah dalam Kontelasi Politik Islam, Jurnal UIN Bonjo Padang, Vol 22, Nomor 2, (November 2021). Hal. 117.
20 Admin. Khilafah & Imamah Pada Sejarah Islam. Fakultas Agama Islam Universitas Medan Area.
(hNps://fai.uma.ac.id/2023/01/21/khilafah-imamah-pada-sejarah-islam/#, Diakses pada 11 Februari 2024, 11:38).
21 Ajat Sudrajat, Khilafah Islamiyah Dalam Perspektif Sejarah. Jurnal UNY, Vol. 35, No. 2, (2009). 2.
Persoalan yang kemudian mengiringi pemerintahan Islam adalah mengenai bentuknya. Beberapa pemikir Muslim, seraya merujuk kepada sejumlah ayat dalam Al-Quran, mengatakan bahwa bentuk pemerintahan bisa berbentuk kerajan maupun republik (Q.S. Al-Baqarah (2): 251; Shad (38): 26). Praktik yang terjadi dalam perjalanan sejarah Islam memperlihatkan dua bentuk pemerintahan ini. Pemerintahan Islam yang berlangsung sepeninggal Nabi, khususnya pada masa Khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar ibn al-Khaeab, Usman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib), barangkali sepadan dengan bentuk republik dalam konsep politik modern. Tetapi pada kurun berikutnya, sejak pemerintahan Umayyah, Abbasiyyah, sampai dengan Turki Usmani, dan pemerintahan Islam di wilayah yang lainnya, termasuk di Indonesia, adalah bercorak kerajaan atau monarki.22 Ciri utamanya adalah semasa Nabi dan Khulafa al-Rasyidin, pergantian kekuasaan tidak bersifat keturunan (hereditas) dan satu sama lain tidak memiliki hubungan kekerabatan, sementara pemerintahan selanjutnya pergantian kekuasaannya berlangsung secara turun-temurun, meskipun tidak mesti antara bapak dan anak. Tidak jarang pula pergantian itu terjadi berdasarkan pada seberapa kuat pengaruh seorang anggota (pangeran) istana atas pusaran politik yang ada di istana atau pusat pemerintahan.
Seperti diketahui, sampai masa wafatnya, Nabi Muhammad saw tidak meninggalkan sekaligus menetapkan aturan yang rinci mengenai pemerintahan Islam, termasuk masalah bentuk dan penggantian kekuasaan. Latar belakang turunnya ayat Al-Quran dalam surat Ali 'Imran ayat 159 dan surat Asy-Syura ayat 38, menurut Haikal tidak ada kaitannya dengan pemerintahan.23 Setidaknya kedua ayat tersebut tidak menggambarkan sistem pemerintahan secara rinci.24 Nabi menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada umat Islam. Para ulama kemudian mengasosiasikan kenyataan ini dengan hadis yang berbunyi: "kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian" (ﻢﻛﺎﻧﯿدﺮﻣﺎ ﺑ ﻠﻢﻋ اﻢﻧﺘ)ا.25
Bentuk suatu pemerintahan berkaitan erat dengan sejarah, kondisi, dan peristiwa yang mengiringi bangsa yang bersangkutan. Inggris (United Kingdom) dan Amerika Serikat (United States) adalah sama-sama negara demokrasi
22 Muhammad Husein Haikal. Pemerintahan Islam. Terj. Tim Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993. Hal. 17-18.
23 Ibid, hal. 17-18.
24 Khalid Ibrahim Jindan. Teori Politik Islam. Terj. Masrohin. Surabaya: Risalah Gusti, 1995. Hal. 67.
25 .٢٣٦٢: ثﯾدﺣﻟ امﻗ ،ر ﻠمﺳﻣ اهور
misalnya, tetapi lihatlah, bentuk pemerintahan di Inggris berbeda dengan Amerika. Inggris adalah negara kerajaan sedangkan Amerika Serikat berbentuk republik. Demikian pula dengan pengalaman pemerintahan di dunia Islam, pada periode empat khalifah pertama misalnya, pemerintahannya cenderung berbetuk republik, sedangkan periode berikutnya berbentuk kerajaan. Dewasa ini, negara- negara di dunia Islam pun memiliki bentuk pemerintahan yang tidak seragam, ada yang mengambil kerajaan dan republik. Tampaknya kedua bentuk pemerintahan ini sama-sama bisa diadopsi, akan tetapi yang terpenting adalah ditegakkannya syariat Islam atau prinsip-prinsip Islam yang mengarah pada kesejahteraan umat.
Menurut ajaran Islam, untuk mengatakan bahwa suatu pemerintahan dapat disebut Khilafah Islamiyah atau Negara Islam harus memenuhi beberapa prinsip dan kriteria. Prinsip pertama yang harus diyakini dan dipegangi adalah bahwa seluruh kekuasaan di bumi ini ada pada Allah, karena Dia lah yang menciptakannya. Prinsip kedua adalah bahwa syariah Islam telah ditetapkan Allah untuk membimbing umat manusia dalam menjalankan fungsi khilafahnya di bumi ini. Berdasarkan kedua prinsip tersebut, suatu negara yang diatur menuurut syariah Islam secara teknis disebut Khilafah al-Islamiyah atau Dar al-Islam.26 Menurut Qamaruddin Khan, negara yang terikat oleh kaidah yang demikian dapat dinamakan sebagai negara agama (religious state).27
Kepala pemerintahan masyarakat Muslim disebut khalifah atau imam. Untuk menempati posisi sebagai khalifah ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi.
Para ulama pada masa klasik telah mencatat dan mensyaratkan adanya kriteria- kriteria ini. Ibn Abi Rabi' misalnya, mengemukakan enam persyaratan yang harus dipenuhi seorang khalifah, yaitu: (1) anggota dari keluarga raja, dan mempunyai hubungan nasab yang dekat dengan raja sebelumnya, (2) aspirasi yang luhur, (3) pandangan yang mantap dan kokoh, (4) ketahanan dalam menghadapi kesukaran dan tantangan, (5) kekayaan yang besar, dan (6) pembantu-pembantu yang setia.28
Al-Farabi menentukan adanya dua belas persyaratan bagi mereka yang akan menjadi seorang khalifah. Kedua belas persyaratan itu adalah: (1) lengkap anggota
26 Hakim Javid Iqbal. "Konsep Negara Dalam Islam", dalam Mumtaz Ahmad (ed.) Teori Politik Islam. Terj. Ena Hadi. Bandung: Mizan, 1996. Hal. 57-58.
27 Qamaruddin Khan. Negara al-Mawardi. Terj. Karsidi Diningrat. Bandung: Pustaka, 2002. Hal. 4.
28 Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta: UI Press, 1993.
Hal. 48.
badannya, (2) baik daya pemahamannya, (3) tinggi intelektualitasnya, (4) pandai mengemukakan pendapatnya dan mudah dimengerti uraiannya, (5) pecinta pendidikan dan gemar mengajar, (6) tidak loba atau rakus dalam hal makanan, minuman, dan wanita, (7) pecinta kejujuran dan pembenci kebohongan, (8) berjiwa besar dan berbudi luhur, (9) tidak memandang penting kekayaan dan kesenangan-kesenangan duniawi yang lain, (10) pecinta keadilan dan pembenci perbuatan zalim, (11) tanggap dan tidak sukar diajak menegakkan keadilan dan sebaliknya sulit untuk melakukan dan menyetujui tindakan keji dan kotor, dan (12) kuat pendirian terhadap hal-hal yang menurutnya harus dikerjakan, penuh keberanian, tinggi semangatnya, bukan penakut dan tidak berjiwa lemah atau kerdil.29
Menurut al-Mawardi, ahl al-imamah, atau mereka yang berhak menempati jabatan imam atau kedudukan sebagai khalifah harus memenuhi tujuh kriteria.
Ketujuh kriteria itu adalah: (1) sikap adil dengan semua persyaratannya, (2) ilmu pengetahuan yang memadai untuk ijtihad, (3) sehat pendengaran, penglihatan, dan lisannya, (4) utuh anggota tubuhnya, (5) wawasan yang memadai untuk mengatur kehidupan rakyat dan mengelola kepentingan umum, (6) keberanian yang memadai untuk melindungi rakyat dan mengeyahkan musuh, dan (7) keturunan Quraisy.30
Kriteria yang dikemukakan al-Gazali sebagai persyaratan seorang imam dan khalifah ada sepuluh. Kesepuluh kriteria itu adalah: (1) dewasa atau aqil-baligh, (2) otak yang sehat, (3) merdeka dan bukan budak, (4) laki-laki, (5) keturunan Quraisy, (6) pendengaran dan penglihatan yang sehat, (7) kekuasaan yang nyata, (8) hidayah, (9) ilmu pengetahuan, dan (10) wara, kehidupan yang bersih dengan kemampuan mengendalikan diri, tidak berbuat hal-hal yang terlarang dan tercela.
Al-Gazali memberikan tambahan keterangan pada beberapa syarat di atas.
Berkaitan dengan syarat yang ketujuh, yaitu kekuasaan yang nyata, ia menambahkan tersedianya perangkat kekuasaan yang memadai, antara lain meliputi angkatan bersenjata. Sedangkan yang dimaksudkan dengan syarat kedelapan, yaitu hidayah, adalah adanya daya pikir dan daya rancang yang kuat, dan ditunjang oleh kesediaan bermusyawarah, mendengarkan pendapat serta nasihat dari orang lain. Kemudian, berkaitan dengan syarat yang kesembilan,
29 Ibid, hal. 56.
30 Ibid, hal. 63-64.
yaitu ilmu pengetahuan, seorang imam atau khalifah tidak disyaratkan memiliki ilmu pengetahuan seluas atau seberat seperti halnya seorang ulama.31
Dalam pandangan Islam, selain kriteria yang harus dipenuhi di atas, seorang khalifah ketika menduduki jabatannya ia harus mendapatkan bai'at dari masyarakat Muslim.32 Masyarakat Muslim memberikan dan menyatakan kepatuhannya kepada khalifah, dan khalifah berjanji akan memerintah sesuai dengan syariah Islam. Namun, Al-Quran sendiri tidak menetapkan metode dan mekanisme tertentu untuk mengangkat dan menurunkan seorang khalifah.
Meskipun begitu, persoalan metode dan mekanisme ini dapat dipikirkan dan dipecahkan dengan berpegang kepada rambu-rambu yang telah digariskan dala Al-Quran. Salah satu prinsip yang harus dipegangi dalam setiap menyelesaikan masalah seperti diajarkan Al-Quran adalah prinsip musyawarah (Q.S. Ali 'Imran (3): 159; Asy-Syura (42): 38).
Secara teoritik, penguasa sebuah negara Islam tidak memiliki kekuasaan mutlak, demikian juga parlemen maupun rakyatnya, karena kemutlakan itu milik dan ada pada Allah. Tugas pemerintah atau lembaga eksekutif adalah melaksanakan syariah atau konstitusi yang telah ditetapkan oleh Allah. Tugas lembaga yudikatif atau pembuat undang-undang bukanlah membuat undang- undang dalam pengertian mutlak, karena undang-undang tersebut sudah ditetapkan Allah. Tugas lembaga ini adalah memberikan penguatan terhadap perundang-undangan yang sudah ada dan atau menurunkan perundang- undangan atau peraturan-peraturan tersebut pada tataran yang lebih operasional.
Pada tataran inilah tampaknya terdapat adanya ruang ijtihad bagi para anggota yudikatif. Mekanisme pelaksanaannya pun sudah barang tentu berdasarkan pada prinsip musyawarah.
4. KESIMPULAN
Kepemimpinan dalam (dunia) Islam baik yang menggunakan konsep Khilafah dan Imamah, memiliki arti yang sama yakni pemimpin setelah Nabi SAW. Sebagaimana
31 Ibid, hal. 78.
32 Mahmud Al-Khalidi. Baiat Dalam Perspektif Pemikiran Politik Islam. Terj. Muhammad Bajuri.
Bangil: Al-Izzah, 2002.
Nabi pernah memimpin, para Khalifah awal Islam meneladani apa yang pernah dipraktekkan Nabi baik dalam hal politik maupun urusan agama.
Sejarah kepemimpinan sejak Nabi dan era khalifah awal hampir selalu menjadi rujukan utama dalam menjalankan rode pemerintahan. Dalam perjalannya model ideal awal tersebut mengalami perubahan baik dalam tataran teoritis maupun praksis.
Perbedaan pilhan konsep kepemimpinan tidak murni urusan agama semata, selain juga berhubungan dengan urusan politik praktis telah mewarnai dalam dinamika perjalannya.
Wewenang seorang pemimpin agama dan sebagai kepala negara (politik) terjadi perbedaan. Syi’ah memilih kesatuan otorias pemimpin dalam melaksanakan tugasnya sebagai kepala negara, serta sebagai pemimpin dan kewenangannya dalam urusan agama.
Mayoritas ulama Sunni membedakan antara kewenangan politik dan otoritas agama. Keduanya adalah institusi yang berbeda, dan tidak dapat dicampur aduk.
Khalifah/Imam bertanggung jawab dalam hal politik, serta wajib menjaga agama, sedangkan setiap orang (khsusnya ulama) berperan serta dalam mengurus agama, menjadi pembimbing moral, di tengah kehidupan politik negara.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Abdurrahman. “Analisis Kritis Teori Dan Penerapan Konsep Khilafah Pasca Nabi Saw Wafat.” Politik Islam 4, no. 1, 2021.
Abdullah, Abdurrahman. Analisis Kritis Teori dan PenerapanKonsep Khilafah Pasca Nabi SAW Wafat, Jurnal Politik Islam, Vol.4, No. 1, (Januari-Juni 2021),
Al-Khalidi, Mahmud. Baiat Dalam Perspektif Pemikiran Politik Islam. Terj.
Muhammad Bajuri. Bangil: Al-Izzah, 2002.
Al-Mawardi, Imam. Hukum Tata Negara Dan Kepemimpinan Dalam Takaran Islam, Cet. I, Alih Bahasa Abdul Hayyie al-KaLani Dan Kamaluddin Nurdin. Jakarta: Gema Insani Press, 2000.
Faizin dan Wan Zailan Kamaruddin Wan Ali, “Konsep Imamah Dan Baiat Dalam Pemikiran Lembaga Dakwah Islam Indonesia Dilihat Dari Perspektif Siyasah Syariyah.”
ar-Risalah 12, no. 1, 2015.
Haikal, Muhammad Husein. Pemerintahan Islam. Terj. Tim Pustaka Firdaus.
Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993.
Iqbal, Hakim Javid. "Konsep Negara Dalam Islam", dalam Mumtaz Ahmad (ed.) Teori Politik Islam. Terj. Ena Hadi. Bandung: Mizan, 1996.
Jindan, Khalid Ibrahim. Teori Politik Islam. Terj. Masrohin. Surabaya: Risalah Gusti, 1995.
Kamararuzzaman, Relasi Islam Dan Negara: Perspektif Modernis dan Fundamentalis.
Magelang: Indonesiatera, 2001.
Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, Cet III, 1990.
Lendrawati, Khilafah, Imarah dan Imamah dalam Kontelasi Politik Islam, Jurnal UIN Bonjo Padang, Vol 22, Nomor 2, (November 2021).
Muzayadah, Nikmatul, Devy Habibi Muhammad, Dan Ari Susandi, “Konsep Khalifatullah Terhadap Pengembangan Kepemimpinan Pendidikan Islam Persfektif M.
Quraish Shihab Dan al-Gazali.” Edumaspul 5, no. 2, 2021.
Rasuki, “Dinamika Konsep Kepemimpinan Dalam Islam: Dari Khilafah, Imamah Sampai Imarah.” Karimah 7, no. 1, 2019.
Sahidin, Amir. “Telaah Atas Konsep Khilafah Al-Mawardi (Studi Deskriptif Analisis)." Penelitian Medan Agama 12, no. 2, 2021.2
Saputra, Hindra. Konsep Imamah Menurut al-Mawardi. Skripsi, Jurusan Hukukm Tata Negara, Fakultas Syariah, Institut Negeri Batusangkar, 2021.1
Sjadzali, Munawir. Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta: UI Press, 1993.
Sudrajat, Ajat, Khilafah Islamiyah Dalam Perspektif Sejarah. Jurnal UNY, Vol. 35, No.
2, (2009).
Suharsoni, Judi, Iwan Triyuwono, Akutansi Utang: Menggali Makna Tuk Menggapai Cinta Ilahi Dengan Pendekatan Etnohipnosis. Malang: Penerbit Peneleh, 2020.
Syarif H, N. Faqih. Sistem Politik Mana Yang Paling Kejam Di Dunia. Sleman: Cv Budi Utama, 2019.