PENDIDIKAN KARAKTER SISWA
DALAM PEMBELAJARAN PAI
MODEL
STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION
Agus Zamroni *
Abstract: In line with the functions and purposes of National Edu-cation, Islamic Education (PAI) learning holds strategic roles in mo-ral and character building. Meanwhile, the quality measurement of Islamic Education learning experience itself is always evolving in tune with the development of religious society demands and the challenges faced in the context of space and time.
Cooperative learning’s Students Team Achievement Division (STAD) model, in Islamic Education learning, is developed to achieve at least three particular objectives, i.e., 1) the results of academic learning; cooperative lelarning aims to improve student learning thoroughness to understand diicult concepts. his cooperative learning can be a be neit to low or higher students either to work together and inish the academic tasks. he students of high group will improve others’ academic skills with taking role as tutor. 2) he acceptance of indivi-dual diferences; cooperative learning gives opportunities for students from diferent backgrounds and conditions for mutual cooperation, depend on each other for common tasks, and through the use of co-operative reward sturctures, learn to appreciate each another. 3) de-velopment of social skills; cooperative learning aims to teach students the skills of cooperation and colaboration in the interaction between group members.
Pendahuluan
Ada kesan yang memprihatinkan bahwa, “peradaban makin maju, tetapi keadaban makin mundur”. Di seluruh penjuru bumi hampir semua orang bangga dan terkesima oleh perkembangan teknologi dan perkem-bangan insfrastruktur, tetapi dibalik itu umat manusia juga ketakutan terhadap makin merosotnya nilai kemanusiaan yang menggejala di de-pan matanya. Umat manusia menjadi cemas dan bersedih oleh perilaku sendiri, dimana-mana terjadi tindakan kekerasan, ketidakadilan, peru-sakan, pembunuhan, kebohongan publik serta berbagai pengingkaran terhadap nilai-nilai mulia. Dengan singkat, manusia telah maju dalam hal pengetahuan (kognitif) tetapi menjadi mundur dalam hal perilaku positif, penghayatan terhadap agama, moralitas (akhlak), hasrat untuk membangun bersama, dan miskin penghargaan terhadap nilai-nilai ke-manusiaan yang diembanya sejak lahir.
Dilihat dari kacamata moral, manusia yang hidup pada era digital ini berada dalam situasi yang cukup mencemaskan. Betapa tidak? Sebagian anggota masyarakat kini tidak bisa lagi membedakan antara membangun dan merusak, susila dan asusila, kejujuran dan kebohongan. Di sekolah-sekolah para guru mengeluh karena para siswa tidak memiliki prilaku positif, tidak lagi menghiraukan sopan santun, dan kurang memiliki rasa tanggung jawab. Di luar sekolah, banyak anggota masyarakat mengeluh karena hukum dan etika tidak ditegakkan, dan tindakan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan merupakan menu sehari-hari yang dinikmati sebagian orang dengan tanpa beban.
Selama ini terdapat berbagai kritik terhadap pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SMA, yang lebih bersifat verbalistis dan formalistis, atau me rupakan tempelan saja. Metodologi pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak kunjung berubah sejak dulu hingga sekarang, pada-hal peserta didik yang dihadapi sudah banyak mengalami perubahan. Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam kurang konstektual serta tanpa dibarengi illustrasi konstek sosial budaya, sehingga siswa kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam keseharian, karena intisari dari Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan akhlak (moral dan karakter).
Makalah ini hendak menyajikan gambaran tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA dengan pembelajaran kooperatif tipe Stu dent Teams Achievement Division (STAD) untuk membangun karak-ter siswa.
MeMBangun karakter SiSwa
Trend (kecenderungan) keragaman internal, keragaman struktural dan kemajemukan budaya, menggaris bawahi perlunya upaya inovasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang mampu membentuk ke-salehan pribadi dan sekaligus keke-salehan sosial pada diri siswa, sehingga Pendidikan Agama Islam diharapkan jangan sanpai : a) menumbuhkan semangat fanatisme berlebihan, b) menumbuhkan sikap intoleren di ka-langan siswa dan masyarakat Indonesia, c) memperlemah kerukunan hi-dup beragama serta persatuan dan kesatuan nasional.
Masyarakat yang plural membutuhkan ikatan keadaban (the bound of civility), yaitu pergaulan antara satu sama lain yang diikat dengan suatu “civility” (keadaban). Ikatan ini pada dasarnya dapat dibangun dari nilai-nilai universal dari ajaran agama. Yaitu bahwa, “Manusia dicipta kan oleh Allah sebagai makhluk yang terbaik dan termulia” (QS. at-Tin (95): 4)1 serta diciptakan dalam kesucian asal (itrah), sehingga setiap ma nusia mempunyai potensi benar (QS. al-Isra (17) :70)2 Disisi lain, dijelas-kan sehingga manusia mempunyai potensi salah (QS. an-Nisa’ (4) : 28).3 Pandangan semacam ini akan berimplikasi pada sikap dan perilaku pe-serta didik, yang harus mau mendengarkan dan menghargai pendapat serta pandangan orang lain, tidak berfaham kemutlakan (absolutisme).
Model PeMBelajaran konStruktiviSMe dan kooPeratif
Konstruktivisme (constructivism) merupakan landasan berikir (i-losoi) pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu bahwa pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa perlu dibiasakan untuk memecah-kan masalah, menemumemecah-kan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melelui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pu-sat kegiatan, bukan guru yang menjadi pupu-sat kegiatan.
Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih di-utamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan meng-ingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerap-kan idenya sendiri, dan (3) menyadarmenerap-kan siswa agar menerapmenerap-kan strategi mereka sendiri dalam belajar.
be-lajar untuk bersepakat dalam memutuskan suatu masalah dan lebih ber-toleransi atau menghargai pendapat dan perasaan orang lain. Hubungan dengan teman sebaya membuat siswa semakin senang menikmati ba-gian dari proses belajar.
Menurut Lundgren, unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan pada diri siswa agar pembelajaran kooperatif lebih efektif adalah seba-gai berikut :
Para siswa harus mempunyai persepsi bahwa mereka tenggelam 1.
atau berenang bersama;
Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam 2.
kelompoknya, di samping tanggung jawab terhadap diri sendiri, da-lam mempelajari materi yang dihadapi;
Para siswa harus berpandangan mereka semua memiliki tujuan 3.
yang sama;
Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama 4.
besarnya diantara para anggota kelompoknya;
Para siswa akan diberi satu evaluasi atau penghargaan yang akan 5.
ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok; Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh 6.
ketrampilan bekerja sama selama belajar;
Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara indivi-7.
dual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif;
Dalam teori Piaget dijelaskan beberapa keuntungan dalam pembe-lajaran kooperatif, antara lain:5
Siswa bekerjasama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung 1.
tinggi norma-norma kelompok;
Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama 2.
berhasil;
Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan ke-3.
berhasilan kelompok;
Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan me-4.
Interaksi antar siswa juga membantu meningkatkan perkembangan 5.
kognitif yang non-konservatif menjadi konservatif.
Pelaksanaan Pembelajaran kooperatif
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran atau indikator pencapaian dan me-motivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Untuk lebih jelasnya tahap pembelajaran kooperatif lebih lanjut terdapat pada tabel di bawah ini :
tabel 1
tahapan Pembelajaran kooperatif
faSe tingkah laku guru
Fase-1: menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase-2: menyajikan informasi Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi atau lewat bacaan Fase-3: mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa cara
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar bekerjasama
Fase-4: membimbing
kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok bela-jar pada saat mereka mengerjakan tugas
Fase-5: evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau mempresentasikan hasil kerja masing-masing kelompok
Fase-6: memberi penghargaan Guru memberikan penghargaan atas hasil belajar individu dan kelompok
Terdapat empat tipe dalam pembelajaran kooperatif yang digu-nakan, yaitu Student Teams Achievement Division, Jigsaw, Investigasi Kelompok dan Pendekatan Struktural.
kelebihan dan kelemahan Pembelajaran kooperatif
teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih banyak meningkatkan hasil belajar daripada kelompok pembelajaran tradisional.
tabel 2
Perbedaan Pembelajaran kooperatif dan Pembelajaran tradisional
kelompok Pembelajaran kooperatif
kelompok Pembelajaran tadisional
A. Kepemimpinan bersama A. Satu pemimpin
B. Saling ketergantungan positif B. Tidak ada saling ketergantungan C. Keanggotaan yang heterogen C. Keanggotaan yang homogen D. Mempelajari ketrampilan
kooperatif
D. Asumsi adanya keterampilan sosial yang efektif
E. Tanggungjawab terhadap hasil belajar seluruh anggota kelompok
E. Tanggungjawab terhadap hasil belajar sendiri
F. Menekan pada tugas dan hubungan kooperatif
F. Hanya menekan pada tugas
G. Ditunjang oleh guru G. Diarahkan oleh guru H. Satu hasil kelompok H. Beberapa hasil individu G. Evaluasi kelompok G. Evaluasi individu
Berdasarkan hasil penelitian homson,6 dalam Moh. Nur pembe-lajaran kooperatif mempunyai manfaat sebagai berikut : 1) meningkat-kan pencurahan waktu pada tugas, 2) meningkatmeningkat-kan rasa harga diri, 3) memperbaiki kehadiran, 4) saling memahami adanya perbedaan indi-vidu, 5) mengurangi perilaku yang mengganggu, 6) mengurangi konlik antara pribadi, 7) mengurangi sikap apatis, 8) meningkatkan motivasi, 9) me ningkatkan hasil belajar, 10) memperbesar retensi, 11) meningkatkan kebaikan budi, kepakaan dan toleransi.
Tiap-tiap anggota kelompok bertanggungjawab pada bagian-bagi-1.
an kecil dari permasalahan kelompok;
Tiap-tiap anggota kelompok mempelajari materi secara keseluruh-2.
an. Hal ini dikarenakan hasil kelompok ditentukan pada hasil kuis dari anggota kelompok yang ada, maka tiap anggota kelompok ha-rus benar-benar mempelajari isi permasalahan secara keseluruhan.
Pembelajaran kooperatif tipe Stad
STAD (Student Team Achivement Division) merupakan salah satu metode pembelajaran kelompok yang paling awal ditemukan. Metode ini sa ngat populer dikalangan para ahli pendidikan. Dalam metode STAD siswa dipasangkan secara merata yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah dalam suatu kelompok sebanyak 4–5 orang. Skor kelompok diberikan berdasarkan atas prestasi anggota kelompoknya. Ciri-ciri yang penting dalam STAD adalah bahwa siswa dihargai atas prestasi kelom-pok dan juga terhadap semangat kelomkelom-pok untuk bekerjasama.
Menurut Slavin,7 dalam Muh. Nur pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu : pengajaran kelas, bela-jar tim, tes atau kuis, skor peningkatan individu dan pengakuan kelom-pok. Lima komponen utama tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
Pengajaran kelas 1.
Pengajaran yang diberikan di depan kelas adalah secara klasikal.
Belajar dalam tim 2.
Dalam metode STAD siswa dibagi dalam kelompok secara heterogen sebanyak 4 - 5 orang. Hal ini dimaksudkan untuk saling menyakinkan bahwa semua anggota kelompok dapat bekerjasama dalam belajar untuk mencapai tujuan akademik yang diharapkan.
Tes atau kuis 3.
bertanggung-jawab secara individu untuk melakukan yang terbaik sebagai ke-suksesan kelompoknya. Karena kegiatan pembelajaran ini terdiri dari 2 putaran, maka tes diberikan sebanyak 2 kali pada setiap akhir putaran.
Skor Peningkatan Individu 4.
Peningkatan skor individu dapat berupa skor awal dan skor tes individu. Skor awal dapat berupa nilai pretest yang dibentuk pada saat sebelum pelaksanaan pengajaran diberikan. Setelah pembe-rian tes atau kuis skor tersebut juga akan menjadi skor awal dan selanjutnya bagi perhitungan individu. Skor peningkatan individu merupakan suatu kesepakatan antara guru dan siswa sebelumnya. Skor kelompok merupakan jumlah dari masing-masing anggota kelompok, sehingga setiap siswa bertanggungjawab terhadap skor anggota kelompoknya. Dari skor kelompok inilah dapat ditentukan kelompok-kelompok yang memperoleh nilai terbaik dan berhak atas hadiah atau penghargaan yang dijanjikan.
tabel 3
langkah Pemberian Skor Pembelajaran kooperatif Stad
langkah Perilaku siswa
Langkah 1
Menetapkan skor dasar / BS
Setiap siswa diberikan skor berdasarkan skor awal Langkah 2
Menghitung skor kuis terkini
Siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan pelajaran terkini
Langkah 3 Menghitung skor perkembangan
Hasil yang di dapat siswa dijum-lahkan kemudian dibagi jumlahnya
Keterangan :
BS : Base Score / Skor Dasar (A), dapat diperoleh dari Nilai rata2 Ulangan Harian sebelumnya
•
Pre-Tes
•
Nilai Raport sebelumnya
•
Skor Kuis : Tes Individu / Pos-Tes (B)
tabel 4
kriteria Pemberian Skor Pembelajaran kooperatif Stad
kriteria Skor Siswa ( iP )
B – A = -11 dst B – A = -1 s.d -10 B – A = 0 B – A = 1 s.d 10 B – A = 11 keatas
5 10 15 20 30
Penghargaan Kelompok 5.
Nilai kelompok dihitung berdasarkan jumlah total nilai perkem-bangan semua anggota kelompok yang ada. Nama kelompok / team dianjurkan diambil dari istilah kompetensi yang dibahas.
Skor kelompok/team : Skor yang ditetapkan Guru Mata Pelajaran
AIP : Average Improvement Point / rata2 IP
AIP = Σ IP kelompok Σ anggota team
aiP yang diperoleh Penghargaan / gelar
15 - 19 20 - 24 25 - 30
GOOD TEAM GREAT TEAM SUPER TEAM
ketuntaSan Belajar
Belajar tuntas merupakan usaha memperoleh pencapaian kepandai-an suatu ilmu secara menyeluruh. Ketuntaskepandai-an belajar merupakkepandai-an suatu usaha pencapaian hasil belajar mengajar, melalui proses analisis yang te-lah ditentukan berdasarkan rambu-rambu yang tete-lah disepakati bersama oleh suatu lembaga pendidikan.
mengala-mi ketuntasan belajar bila mencapai standar ketuntasan belajar mengala-minimal yang sudah ditentukan oleh sekolah tersebut.
Penetapan SKBM tentunya mempunyai tujuan dan manfaat yang akan diperoleh siswa. Penetapan SKBM bertujuan untuk menentukan target kompetensi yang harus dicapai siswa, dan menjadi Patokan / acu-an / dasar menentukacu-an kompeten siswa. Sedacu-angkacu-an macu-anfaatnya adalah sebagai sekolah / guru / siswa yang memiliki patokan yang jelas dalam menentukan ketuntasan, dan adanya keseragaman batas ketuntasan se-tiap mata pelajaran kelas paralel.
contoh Penelitian Pendidikan karakter SiSwa dalaM
PeM-Belajaran Pai Model student teams aChieVement diVi Cion
Untuk memudahkan memahami pembelajaran kooperatif mo-del STAD ini, maka dalam tulisan ini akan diberikan contoh penelitian yang dilakukan di SMAN I Pacitan kelas X pada tahun 2010.8 Dengan menggunakan penelitian tindakan kelas, penelitian ini dilakukan da-lam 2 siklus, sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, yakni 4 jam pelajar an untuk pokok bahasan sebagai berikut : materi pembelajaran siklus 1 tentang Membiasakan perilaku terpuji dan materi pembelajar-an siklus 2 tentpembelajar-ang menghindari perilaku tercela. Pada tiap Siklus ter-diri atas 4 tahap, yaitu : 1) Rancangan, 2)Kegiatan dan Pengamatan, 3) Releksi, 4) Revisi.
Pada siklus 1, perencanaan yang dilakukan adalah 1) menyiapkan si-labus, 2) menyiapkan skenario pembelajaran (RP), 3) menyiapkan ma teri pelajaran, 4) menyiapkan lembar kegiatan siswa (LKS 1), 5) menyi apkan soal tes hasil belajar (Pos-Tes I), dan 6) menyiapkan lembar pengamatan untuk pengelolaan kelas. Setelah itu pada tahap kegiatan dan pengamat-an dilakukpengamat-an hal-hal berikut:
Proses pembelajaran siklus I, guru mengaitkan materi pelajaran 1.
Pembelajaran dimulai dengan guru mempresentasikan materi po-2.
kok pelajaran dengan menyajikan gambar perilaku terpuji.
Pembelajaran dilaksanakan dalam beberapa kelompok. Setiap ke-3.
lompok terdiri dari 4 siswa yang heterogen yaitu laki-laki dan pe-rempuan dengan kemampuan akademik yang berbeda.
Membahas jawaban dari semua kelompok dengan salah satu anggo-4.
ta kelompok mempresentasikan hasil diskusi. Sedangkan kelompok yang lain menanggapi dan guru mengevaluasi.
Guru membimbing siswa merangkum materi pelajaran yang dilan-5.
jutkan dengan mengerjakan Soal Kuis 1 (tes hasil belajar siklus I) secara mandiri bukan secara kelompok dan guru mengevaluasi. Guru mengumumkan penghargaan pada kelompok yang telah ber-6.
aktivitas baik dan memahami materi adab dalam berpakaian, ber-hias, bertamu, dilanjutkan dengan memberi tugas rumah berupa portofolio dengan membuat resume tentang berbagai macam con-toh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, dan ber-tamu, dan memberikan tugas baca atau mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, yaitu mengenai membia-sakan perilaku terpuji dalam berpakaian, berhias, perjalanan, ber-tamu, atau dan menerima tamu dalam kehidupan sehari-hari.
Dari hasil kegiatan dan pengamatan tersebut diperoleh data-data sebagai berikut :
Hasil Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran 1.
Pada tabel berikut disajikan data tentang pengelolaan pembe-lajaran.
tabel 5
data Pengelolaan Pembelajaran kooperatif Stad
no. aspek yang diamati Skor kategori
I
III IV
Menghubungkan pelajaran sekarang •
dengan pelajaran terdahulu Kegiatan inti
•
Menyampaikan materi •
Mengatur siswa dalam kelompok •
Melatih keterampilan kooperatif •
Menyampaikan ide/pendapat •
Mendengarkan secara aktif •
Berada dalam tugas •
Menghargai pendapat orang lain •
Mengajukan pertanyaan •
Menjawab pertanyaan dan menanggapi •
Mengawasi kelompok secara bergantian •
Membantu kelompok yang mengalami •
kesulitan
Membimbing siswa menger-jakan LKS •
Memberi resitasi/umpan balik/ evaluasi •
Penutup •
Membimbing siswa membuat rangkuman •
Memberikan penghargaan •
Memberikan tugas rumah •
Pengelolaan Waktu Suasana Kelas •
Berpusat pada siswa • Pelaksanaan yang mempunyai 3 sub bagian pengamatan yaitu penda-huluan, mendapat skor rata-rata 3 (cukup baik), kegiatan inti mendapat skor rata-rata 3,5 (cukup baik), dan penutup mendapat skor rata-rata 4 (baik); (3) Pengelolaan waktu mendapat skor 3 (cukup baik); dan (4) Suasana kelas mendapat skor rata-rata 3,6 (mengarah ke baik).
Nilai Perkembangan Individu Terhadap Nilai Kelompok pada Si-2.
klus I
tabel 6
data nilai Perkembangan individu terhadap nilai kelompok Siklus i
no nama Siswa BS
(Pre-test)
Arrahman 80 17,50 Good
Team
2. Ambar Wijayanti 61 71 10 20
3. Andi Cahyo B 64 74 10 20
4. Arum Ngesti 71 70 -1 10
5. Bayu Tri 54 64 10 20
Arrahim 75 17,50 Good
Team
6. Dannis Yoan 44 54 10 20
7. Desi 71 70 -1 10
8. Dewinta 65 75 10 20
9. Dian 58 68 10 20
Alwahid 85 17,50 Good
Team
AlFatah 75 16,25 Good
Team
18. Itus Erwin 63 73 10 20
19. Khoiri 65 64 -1 10
20. Muhammad 54 64 10 20
21. Mahrisa 65 75 10 20
Al Aziz 80 18,75 Good
Team
22. Maulana 60 60 0 15
23. Maya 70 80 10 20
24. Mochamad 58 68 10 20
25. Normaningsih 53 63 10 20
Al’afwu 90 17,50 Good
Team
26. Nurrani F 60 70 10 20
27. Nurul S 62 72 10 20
28. One Yunita 51 50 -1 10
29. Riska Agustin 63 73 10 20
AlQohhar 80
30. Rizka Liatmaja 55 65 10 20
Pada siklus I rata-rata nilai Pre-Tes 61,67 dan rata-rata nilai Pos-Tes 67,61 sedangkan nilai perkembangan individu berkisar antara 10-20, dengan nilai kelompok rata-rata 18,05. Siswa kelas X SMA Negeri 1 Pacitan yang berjumlah 36 orang, dibagi menjadi 9 kelompok, ma sing-masing kelompok mempunyai 4 anggota. Pada proses pembelajaran si-klus I, 8 kelompok mendapat penghargaan sebagai kelompok “Good” dan 1 kelompok mendapat penghargaan sebagai kelompok “Great”. Hasil ini perlu ditingkatkan lagi pada siklus selanjutnya.
Hasil Ketuntasan Belajar Siswa 3.
Pada siklus I didapat hasil cukup baik dengan nilai rata-rata Pre-Tes 61,67 dan Pos-Tes 67,61. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
tabel 7
data hasil tes Belajar pada Siklus i
no. karakteristik nilai
1 N (Jumlah Siswa) 36
2 Rata-rata Pretest 61,67 3 Rata-rata Postest 67,61
4 Jumlah siswa yang tuntas ≥ SKBM 25
5 Jumlah siswa yang belum tuntas < SKBM 11
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 36 siswa yang mendapatkan nilai ≥ SKBM 25 siswa. Jadi pembelajaran Siklus I dari 36 siswa yang 25 siswa tuntas belajarnya.
Terakhir pada tahap Revisi perlu dilakukan perbaikan pada siklus II nanti, yaitu pertama, perlu adanya sosialisasi sistem penilaian yang di-lakukan oleh guru kepada siswa sehingga siswa siap medi-lakukan pro ses pembelajaran dan berupaya untuk mendapatkan nilai sebaik-baiknya untuk individu maupun kelompoknya. Kedua, guru hendaknya tidak terlalu banyak membimbing siswa yang mengalami kesulitan karena ber dampak kurang baik terhadap siswa yaitu siswa kurang mandiri dan akan bergantung pada penjelasan guru saja.
Pada siklus II, perencanaan yang dilakukan adalah 1)menyiapkan si-labus II, 2)menyiapkan skenario pembelajaran (RP 2), 3)menyiapkan ma-teri pelajaran, 4)menyiapkan lembar kerja siswa (LKS 2), 4)menyiapkan lembar pengamatan pengelolaan kelas, 5)menyiapkan soal tes hasil bela-jar siklus II (Pos-Tes II), 6)memperhatikan releksi pada siklus I. Setelah itu pada tahap kegiatan dan pengamatan dilakukan hal-hal berikut:
Awal pertemuan ke-II, guru mengaitkan pelajaran dengan meng-1.
ingatkan siswa tentang pengertian perilaku tercela kemudian me-motivasi siswa dengan menujukkan contoh-contoh perilaku tercela yang sering dilakukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan agar siswa mudah mengingatnya. dilanjutkan dengan me nyampaikan indikator pencapaian.
Pembelajaran dimulai dengan guru mempresentasikan materi po-2.
kok pelajaran dengan menunjukkan gambar seseorang yang mela-kukan perbuatan tercela.
Guru membentuk kelompok kooperatif seperti pada pertemuan 3.
sebelumnya dan mengingatkan pada setiap kelompok untuk ber-aktivitas lebih baik lagi dan maksimal. Pada tahap ini, guru me-minta siswa mengerjakan LKS 2 yaitu tentang menghidari perilaku tercela, sedangkan guru mengamati kegiatan dan memberi bantuan pada kelompok yang mengalami kesulitan. Membahas jawaban dari semua kelompok
Dengan menyuruh salah satu anggota kelompok membacakan 4.
Guru membimbing siswa merangkum materi pelajaran dan dilan-5.
jutkan dengan mengerjakan soal Pos-Tes II (tes hasil belajar siklus II) dan Guru mengevaluasi.
Guru mengemukakan penghargaan pada kelompok, memberikan 6.
tugas rumah dan mempelajari materi berikutnya.
Dari hasil kegiatan dan pengamatan tersebut diperoleh data-data sebagai berikut :
Hasil pengamatan pengelolaan pengajaran 1.
Pada tabel berikut disajikan data tentang pengelolaan pembela-jaran:
tabel 8
data Pengelolaan Pembelajaran kooperatif tipe Stad
no. aspek yang diamati Skor kategori
I
Menyampaikan indikator pencapaian •
Memotivasi siswa •
Mengaitkan pelajaran sekarang dengan pelajaran •
Mengatur siswa dalam kelompok •
Melatih keterampilan kooperatif •
Menyampaikan ide/pendapat •
Mendengarkan secara aktif •
Berada dalam tugas
Menghargai pendapat orang lain •
Mengajukan pertanyaan •
Menjawab pertanyaan dan menanggapi •
Mengawasi kelompok secara bergantian •
Membantu kelompok yang mengalami kesulitan •
Membimbing siswa mengerjakan LKS •
Memberi resitasi / umpan balik / evaluasi •
Penutup •
Membimbing siswa membuat rangkuman •
Memberikan penghargaan •
Pengelolaan Waktu •
Suasana Kelas •
Berpusat pada siswa •
Pada tabel di atas, pengelolaan kelas dengan model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD ada yang mengalami peningkatan dan ada yang tetap. Pada bagian pertama yaitu persiapan meningkat menjadi skor 4 (baik). Bagian kedua (pelaksanaan) pada sub bagian pertama yaitu pen-dahuluan meningkat menjadi skor 4 (baik). Pada sub bagian kedua yaitu kegiatan inti hampir keseluruhan aspek yang diamati mendapat skor 4 (baik) kecuali pada aspek menyampaikan ide/pendapat mendapat skor 3 (cukup baik). Pada bagian penutup mendapat skor tetap yaitu 4 (baik). Sedangkan pengelolaan waktu mendapat skor tetap yaitu 3 (cukup baik). Bagian keempat yaitu suasana kelas, skor secara keseluruhan mendapat skor 4 (baik).
Nilai Perkembangan Individu Terhadap Nilai Kelompok Siklus II 2.
tabel 9
data nilai Perkembangan individu terhadap nilai kelompok Siklus ii
no nama Siswa BS
Arahman 90 20,00 Great
Team
2. Ambar Wijayanti 62 72 10 20
3. Andi Cahyo B 73 74 1 20
4. Arum Ngesti 63 73 10 20
5. Bayu Tri 59 70 11 30
Arrahim 85 25,00 Super
Team
6. Dannis Yoan 54 65 11 30
7. Desi 69 70 1 20
8. Dewinta 75 76 1 20
9. Dian 75 73 -2 10
Alwahid 95 20,00 Great
Team
10. Dias 65 75 10 20
11. Dita Indra 55 65 10 20
12. Eli R 68 86 18 30
13. Fanny 56 66 10 20
AlMajid 80 17,50 Good
Team
14. Fendhi 55 55 0 15
15. Firman 69 69 0 15
17. Herlina 74 74 0 15
Alfatah 70 17,50 Good
Team
18. Itus Erwin 71 81 10 20
19. Khoiri 57 67 10 20
20. Muhammad 49 49 0 15
21. Mahrisa 65 69 4 20
Al’aziz 75 27,50 Super
Team
22. Maulana 50 67 17 30
23. Maya 57 68 11 30
24. Mochamad 58 69 11 30
25. Normaningsih 65 66 1 20
Al’afwu 80 22,50 Great
Team
26. Nurrani F 63 67 4 20
27. Nurul S 64 74 10 20
28. One Yunita 49 60 11 30
29. Riska Agustin 63 72 9 20
Alqahar 80 20,00 Great
Team
30. Rizka Liatmaja 65 70 5 20
31. Satrya 56 65 10 20
32. Septian 59 66 7 20
33. Tamara 67 67 0 15
Alwahab 80 17,50 Good
Team
34. Tomi 61 61 0 15
35. Yayuk 70 72 2 20
36. Yuni 60 66 6 20
Pada siklus II mengalami peningkatan rata-rata nilai Pre-Tes 62,33 dan rata-rata Pos-Tes 69,02 sedangkan nilai perkembangan indi-vidu berkisar 10-30. Peningkatan ini dapat dilihat ada 3 kelompok yang mendapat penghargaan “Good”, 4 kelompok mendapat penghargaan “Great” dan 2 kelompok mendapat penghargaan “Super”.
Hasil Ketuntasan Belajar Siswa 3.
Dari hasil ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
tabel 10
data hasil tes Belajar Siswa pada Siklus ii
no. karakteristik nilai
1 N (Jumlah Siswa) 36 2 Rata-rata Pretest 62,33
3 Rata-rata Postest 69,02
4 Jumlah siswa yang tuntas ≥ SKBM 32
Pada siklus II ini, hasil ketuntasan belajar siswa secara individu da-pat dikatakan memuaskan. Hal ini terjadi karena dari 36 siswa, hanya 4 siswa yang belum mendapatkan ketuntasan belajar.
Selanjutnya pada tahap releksi diperoleh data bahwa proses Pembelajaran Kooperatif tipe STAD pada Siklus II dilihat hasil Pre-Tes dan Pos-Tes terdapat peningkatan hasil belajar siswa 10,73 %, hal ini terjadi karena kelemahan-kelemahan pada Siklus I sudah dapat diatasi de ngan adanya siswa dapat mengatasi permasalahan sendiri tidak tergan-tung pada guru karena aktiitas guru membantu kelompok berkurang. Siswa sudah memahami Pembelajaran Kooperatif tipe STAD terlihat saat pengelompokkan siswa langsung melakukan diskusi kelompok dan setiap anggota kelompok aktif mengikutinya, pada saat presentasi ber-langsung siswa sangat antusias memperhatikan hasil presentasi teman-nya dengan mengajukan pertateman-nyaan maupun menanggapiteman-nya.
Terakhir, pada tahap tindak lanjut (follow up), anak yang belum meng alami ketuntasan belajar (4 Siswa) akan diberikan program per-baikan khusus dengan memberi tugas membuat beberapa kliping ten-tang perilaku terpuji. Sedangkan pada anak yang sudah mengalami ketuntasan belajar (32 siswa) guru akan memberikan program penga-yaan dengan memberi tugas membuat lealet atau poster tentang peri-laku terpuji dan tercela.
PenutuP
Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa model pembela-jaran kooperatif tipe STAD dapat berhasil meningkatkan kualitas pem-belajaran PAI dalam pendidikan karakter siswa sehingga meningkatkan ketuntasan belajar siswa, hal ini dapat dibuktikan dengan :
Inovasi pembelajaran PAI ini meningkatkan kemampuan guru da-1.
Hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada tiap siklus yaitu: 2.
pada Siklus I, siswa mengalami peningkatan hasil belajar 9,63 % se-hingga siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 25 siswa dan pada siklus II siswa mengalami peningkatan hasil belajar 10,73 % sehingga siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 32 siswa. [ ]
endnoteS
1 ٍميِوْقَت ِن َسْحَأ ِي َناَسْنإا اَنْقَلَخ ْدَقَل
2
ايِضْفَت اَنْقَلَخ ْنَِم ٍرِثَك ىَلَع ْمُهاَنْل َضَفَو ِتاَبِّيَطلا َنِم ْمُهاَنْقَزَرَو ِرْحَبْلاَو َِّبْلا ِي ْمُهاَنْلََحَو َمَدآ ِنَب اَنْمَرَك ْدَقَلَو
3 اًفيِع َض ُنا َسْنإا َقِلُخَو ْمُكْنَع َفِّفَُي ْنَأ َُها ُديِرُي
4 Ibrahim, Muslimin dkk, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: Un Pres Unesa,
2000), hlm. 11
5 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 19 92),
hlm. 5.
6 Muh. Nur, Pemotivasian Siswa untuk Belajar, (Surabaya: University Press Unesa ,
2001), hlm. 32
7 Muh. Nur, Keterampilan Kooperatif, (Surabaya: Un Pres Unesa, 2000), hlm.
42
8 Penelitian ini dilakukan penulis pada tanggal 19 April 2011untuk siklus I,
dan tanggal 24 April 2011 untuk siklus II.
daftar PuStaka
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Mi lennium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
Hamalik, Oemar, Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1992.
Muslimin dkk., Ibrahim, Pembelajaran kooperatif, Surabaya: University Pres Unesa, 2000.
Nur, Muh., Ketrampilan kooperatif, Surabaya: Un Pres Unesa, 2000. _________, Pemotivasian Siswa untuk Belajar, Surabaya: University Press
Unesa, 2001
Sardiman, A. M. Interaksi dan Motivasi Belajae Mengajar, Jakarta: Bina Ak sara, 1996
Sutarto, Ayu, Budi Pekerti Suatu Tinjauan Filosois, makalah disajikan dalam sarasehan budi pekerti, Surabaya, 2004.