• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Luar Negeri dan Nilai Moral

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebijakan Luar Negeri dan Nilai Moral"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS PENGANTAR HUBUNGAN INTERNASIONAL 2

“PAPER ASSIGNMENT”

Aedeline Desyanti

170210130058

Program Studi Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Padjadjaran

Jatinangor

(2)

Read the following article by George F. Kennan. Then consider whether and to what extent security policy should have a normative dimension. Write your points down under two separate headings: Advantages of a normative approach and Disadvantages of a normative approach. Now re-read your list and ask yourself which view you find most convincing and on what basis? Sumber: bacaan Morality and Foreign Policy – George F. Kennan

Amerika Serikat sudah sangat awam diterima masyarakat global bahwa negara tersebut adalah negara adikuasa. Hampir setiap kebijakan yang dibuat oleh Amerika Serikat memengaruhi keseimbangan dunia-entah itu di bidang politik, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya-, bahkan saat Amerika Serikat membuat kebijakan yang ditujukan untuk internal atau ke dalam negara Amerika sendiri, tidak menutup kemungkinan keseimbangan dunia akan terpengaruh. Jadi disini seolah saat Amerika membuat suatu kebijakan, khususnya kebijakan luar negeri, seolah Amerika akan membuat kebijakan dimana dapat memengaruhi dunia atau bahkan menguasai aktor di ranah internasional. Terlebih usaha Amerika Serikat yang seperti ini sangat terlihat pada saat Perang Dingin, dimana Amerika justru menerapkan berbagai kebijakan untuk membendung pengaruh musuhnya pada saat itu yaitu USSR. Contohnya adalah containment policy, yang memang merupakan kebijakan yang sangat tersurat namun sekaligus tersirat disitu apa maksud Amerika Serikat, terlebih dengan backing-an domino effect theory. Amerika Serikat justru cenderung mengungkapkan pro dan mengedepankan nilai dimensi nilai yang normatif, dimana memang kebijakan luar negeri haruslah ada unsur nilai norma yang tidak bertentangan dengan nilai norma yang baik.

Jika kebijakan itu hanya seputar kepentingan keamanan militer, integritas kehidupan politik dan kesejahteraan rakyat suatu negara, maka tidak bisa dikatakan ada nilai moralnya. Disini memang bahwa itu sudah dasar bagi negara melakukan tugas atau kewajiban negara. maka lain halnya jika suatu kebijakan sudah cenderung mengedepankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan terlebih lagi jika kebijakan itu mempunyai dampak yang masif, seperti nilai-nilai-nilai-nilai HAM, demokrasi, atau bahkan ideologi. Ini hanya masalah kepentingan dan kepentingan. Tidak ada yang mengatakan atau mencetuskan bahwa standar moral yang baik adalah yang dikeluarkan

oleh Amerika Serikat yang seolah menjadi „kepalanya moral‟, namun seolah banyak masyarakat

dunia terdoktrin bahwa kebijakan yang dikeluarkan Amerika Serikat adalah sebagai pedoman menetapkan moral yang baik, padahal itu justru tujuan AS mengkonstruk pikiran dan keadaan yang seperti itu melalui kebijakan luar negerinya dengan dalih menjaga political security dan keamanan negaranya.

(3)

nasional suatu negara tersebut, AS saja contoh konkritnya, kebijakan luar negeri dalam menjaga keamanannya, seharusnya itu hanya untuk sebatas kewajiban AS untuk melingdungi negaranya, namun disini saya melihat bahwa kepentingan AS lah yang seolah kebijakan keamanan negaranya seolah ditujukan untuk kemanan dunia, jadi seolah AS memiliki dunia ini, atas dasar pemikiran yang seperti inilah yang membuat AS justru seolah memiliki dunia karena kepentingan dan merasa seolah negara yang hegemon dengan memasukkan nilai-nilai normative dalam hampir di setiap kebijakannya.

Sejauh dimana kebijakan keamanan memerlukan dimensi normatif tentunya dapat dilihat dari sejauh mana desire dan kepentingan suatu negara itu untuk berperan dalam dunia internasional. Jika negara tersebut hanya concern terhadap masalah keamanan negaranya dan hanya fokus untuk melindungi, menyejahterakan, menjaga warga negara dan negara, maka tentu tidak terlalu memerlukan dimensi normatif, karena itu tadi, itu merupakan kewajiban, bukan kepentingan. Lain lagi jika berbicara tentang memperluas pengaruh dan kekuasaan seperti AS yang seolah kebijakan negaranya ditujukan untuk internal namun ternyata secara tersirat juga ditujukan untuk dunia, bahkan ada saja yang tersurat langsung saja „frontal‟ ditujukan kepada suatu negara atau bahkan banyak aktor.

Berbicara tentang menerapkan dimensi nilai normatif dalam kebijakan luar negeri, pasti ada untung dan ruginya. Keuntungannya, pertama adalah kepentingan negara tersebut tercapai. Ini adalah keuntungan yang paling rasional dan mendasar jika suatu negara memasukkan unsur dimensi normatif dalam kebijakannya, terlebih kebijakan luar negerinya. Tentu pasti kebanyakan dari negara-negara di dunia (bahkan yang bukan hegemon atau adikuasa sekalipun) menerapkan kebijakan luar negeri yang mengandung unsur normatif, namun memang negara yang sering melakukan hal ini adalah AS. AS seolah berhasil mencapai kepentingan-kepentingannya untuk menguasai pemikiran bahkan bisa melakukan intervensi atau bahkan penyerangan melalui foreign policy yang dikeluarkannya, yang tentunya karena ada nilai normatif AS tadi yang bisa berupa demokrasi, HAM, bahkan bisa saja sistem ekonomi, bahkan ideologi. Keuntungan

kedua adalah pengaruh kekuasaan yang didapat. Kebijkan luar negeri suatu negara dapat

dikaitkan dengan pencitraan dan refleksi suatu negara tersebut atau bahkan refleksi dari si pembuat kebijakan tersebut yang diatasnamakan negara. Jika suatu negara sangat

menggebu-gebu untuk berkuasa dan berpengaruh layaknya „hegemon‟ maka tak tanggung-tanggung negara tersebut akan berusaha menyebar nilai norma yang merefleksikan negara tersebut, dan seolah itulah kebijakan pedoman negara-negara lain dan alhasil seolah menjadi “pemimpin utama negara-negara”.

(4)

moralnya sendiri, maka konsekuensinya adalah melanggar apa yang telah dikatakannya, seolah

„menjilat ludah sendiri‟ dan tidak konsisten. Biasanya ini terjadi karena situasi mendesak dan terpaksa bisa jadi karena negara lain yang mengancam atau musuh tersebut bertindak agresif. Contohnya AS dalam kebijkaan dan aksi penyerangan ke Vietnam karena dianggap mengancam atau mulai terkena pengaruh komunisnya USSR. Disinilah yang membuat AS seolah melanggar

„nilai norma‟ yang dijunjung tinggi, karena logikanya penyerangan ke Vietnam sama saja

melanggar nilai-nilai HAM, banyak yang menjadi korban. Kerugian kedua adalah saat dunia termasuk masyarakat dunia yang menjadi penonton melihat dan menilai bahwa itu tidak sesuai dengan nilai moral yang negara tersebut junjung yang alhasil akan merusak citra negara tersebut yang terlihat terlalu mengedepankan dan berambisi menjadi hegemon.

Jika ditanya lebih pro yang mana, maka saya akan memilih kebijakan khususnya kebijakan luar negeri yang mengandung unsur dan dimensi nilai normatif. Dimana suatu negara bisa menyiratkan unsur norma(bisa demokrasi, HAM, ideologi, sistem ekonomi, dan lain-lain) yang bisa mengangkat eksistensi negara tersebut dalam ranah internasional. Karena mustahil tidak ada negara yang tidak ingin negaranya maju dan memiliki power serta pengaruh, setiap negara menginginkan itu. Walaupun tidak menutup kemungkinan adanya cercaan dan kritik terhadap negara tersebut. Namun, justru itu yang membuat unik, bagaimana sebuah negara berusaha untuk mengeluarkan kebijakan dan kebijakan tersebut mampu terhadap tatanan dunia, dan itu butuh pertimbangan matang yang tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mencapai kepentingan negara tersebut dan bahkan usaha untuk tetap menjaga eksistensinya serta memperkuat pengaruhnya. Contoh konkritnya adalah negara AS, bahkan sudah dari sejak Perang Dingin saja sudah banyak kebijakan luar negeri AS yang memengaruhi tatanan dunia, yang cenderung mengobarkan dimensi norma liberalisme yang didalamnya ada produk HAM, demokrasi, kapitalisme, dan lain sebagainya, bahkan dengan adanya containment policy, dimana memang AS saat perang dengan USSR merasa harus mengeluarkan foreign policy untuk menjaga political security dan keamanan negara namun tetap menjaga nilai normatif. Namun, tak

ayal justru AS sendiri yang seringkali melanggar „kebijakan berdasarkan nilai norma‟, contohnya

Referensi

Dokumen terkait

Sanksi Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pedofilia Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dipidana dengan pidana paling lama 15 (lima belas) denda

Pendidikan Melayu sekular telah diperkenalkan oleh British pada abad ke-19.. Sebelum itu pendidikan Melayu pada umumnya berbentuk keagamaan dan

Jika berkas-berkas elektron dipancarkan secara terus-menerus ke dalam layar celah ganda, maka eksperimen menunjukkan bahwa pada layar berpendar akan teramati terjadinya

Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang diceritakan Kyai Badrudin, ia menyatakan bahwa setelah lulus dari pesantren, ia mengisi pengajian-pengajian di

Hasil analisa menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos limbah domestik memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman tebu (tinggi tanaman, jumlah

Program Desa Mandiri Pangan adalah salah satu program yang dibuat oleh Pemerintah dalam upaya untuk mengatasi kerawanan pangan dan kemiskinan di pedesaan dengan melibatkan

Penguatan ( Reinforcement ) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal atau non verbal, yang merupakan bagian dan modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang

Berdasarkan observasi yang dilakukan kepada 3 orang pelatih yang mengajarkan tentang Tari Serai Serumpun yaitu Bapak Yuza, Saudari Rainy dan Saudari Lisani diketahui