0 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERLAMBATAN
PENYUSUNAN DAN PENETAPAN APBD
Oleh : Laura Catherine Rawung
LATAR BELAKANG
Sistem pemerintahan daerah di Indonesia berdasarkan UUD 1945 khususnya pasal 18 adalah sistem desentralisasi yaitu memberikan otonomi kepada daerah-daerah, dimana tiap daerah (provinsi, kabupaten dan kota) mempunyai pemerintahan daerah sendiri, dan setiap pemerintahan daerah berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Otonomi adalah bentuk dari hak, wewenang, dan kewajiban yang dimiliki pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan terkait pemerintahan dan kepentingan masyarakat secara otonom sesuai dengan peraturan serta sesuai dengan aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. Pelaksanaan otonomi daerah memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata & bertanggung jawab dalam menggali, mengatur, dan memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing daerah.
1 Pemerintah No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, definisi Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah oleh pemerintahan daerah.
Menurut Undang-undang No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ini dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang ditetapkan dengan peraturan daerah. APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa satu tahun anggaran. APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. Penyusunan Rancangan APBD berpedoman kepada rencana kerja Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara.
2 pendukungnya kepada DPRD pada minggu pertama bulan Oktober tahun sebelumnya. Kemudian Pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dilakukan selambat-lambatnya satu bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.
Namun walaupun sudah ada undang-undang dan peraturan-peraturan di bawahnya yang mengatur tentang jadwal penyusunan dan penetapan APBD kenyataan di lapangan masih banyak bahkan sebagian besar daerah-daerah di Indonesia mengalami keterlambatan penyusunan APBD. Keterlambatan dalam penyusunan APBD ini telah terjadi dalam kurun waktu yang lama dan terjadi berulang-ulang. APBD yang mengalami keterlambatan dalam penyusunan tersebut merupakan APBD yang terlambat ditetapkan atau disahkan oleh pemerintah daerah bersama DPRD sebelum atau saat 31 Desember untuk APBD tahun anggaran berikutnya, yang seharusnya per tanggal 1 Januari tahun berikutnya APBD tersebut sudah harus mulai digunakan untuk membiayai pengeluaran daerah.
3 dana dari sektor pemerintah akan terhambat dan itu memberikan pengaruh pada aliran uang atau transaksi di daerah dan pada akhirnya perekonomian daerah turut merasakan dampak dengan adanya kelesuan ekonomi.
Proses perencanaan dan penyusunan APBD mengacu kepada PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, secara garis besar terdiri dari tahapan sebagai berikut :
1. Penyusunan rencana kerja pemerintahan daerah 2. penyusunan rancangan kebijakan umum anggaran; 3. penetapan prioritas dan plafon anggaran sementara; 4. Penyusunan rencana kerja dan anggaran SKPD; 5. Penyusunan rancangan perda APBD
6. Penetapan APBD
PEMBAHASAN
4 berperan dan terlibat langsung dalam penyusunan APBD dapat berpengaruh terhadap penyusunan APBD, termasuk dalam kaitannya dengan terjadinya keterlambatan dalam penyusunan APBD. Berbagai bentuk perilaku dan aktivitas serta kemampuan pihak penyusun APBD yang tidak sesuai dan bersinergi dapat menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam penyusunan APBD.
Berikut ini adalah beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya keterlambatan penyusunan dan penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang berhasil dirangkum pada pertemuan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) seluruh SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di Kota Balikpapan, sebagai berikut:
1. Pelaksanaan pendekatan parsitipatif dalam perencanaan melalui mekanisme musrenbang yang belum maksimal
5 rutinitas dan formalitas belaka sehingga menjadi kurang diminati oleh pihak-pihak yang selayaknya mengikuti kegiatan tersebut.
2. Kualitas Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategis (Renstra) SKPD yang belum optimal
Masih sering ditemui kelemahan dalam dokumen perencanaan yang seringkali tidak sinkron dengan indikator capaian kinerjanya dan sulit untuk diukur. Hal ini dapat dijelaskan karena dalam penyusunan indikator capaian kinerja tersebut terkadang menggunakan asumsi dalam bentuk kalimat-kalimat yang tidak jelas ukurannya, di samping data pendukung yang kurang valid disertai analisa yang kurang tajam. Hal ini akan sangat berpengaruh pada target yang akan dicapai.
6 program, tingkat inflasi, tingkat efisiensi, kendala di masa akan datang, dan dasar untuk menetapkan prioritas anggaran. Selain faktor-faktor di atas dalam menentukan indikator kinerja terdapat kriteria yang harus dipenuhi. Indikator kinerja harus memenuhi kriteria yang terdiri dari spesifik, dapat diukur, relevan, dan tidak bias. Penentuan indikator kinerja dalam penyusunan APBD bukanlah hal yang mudah. Tahapan penentuan indikator kinerja merupakan proses komplek dan harus dilakukan secara sungguh-sungguh. Tanpa adanya fasilitas dan sarana yang memadai maka penentuan indikator kinerja dapat menjadi sulit dan membutuhkan waktu yang lama yang berpengaruh pada ketepatan waktu APBD untuk ditetapkan.
3. Adanya intervensi pada saat proses penyusunan perencanaan
7 4. Koordinasi antar SKPD masih lemah
Koordinasi yang masih sangat minim dilakukan di antara SKPD yang dapat berpengaruh terjadinya masalah dalam penganggaran, misalnya alokasi anggaran menjadi double account atau tumpang tindih dengan program dan kegiatan yang sama pada SKP yang berbeda. Hal ini sering terjadi dikarenakan beberapa faktor antara lain adalah egosektoral yang masih sering ada pada masing-masing SKPD.
Keterpaduan, konsistensi dan sinkronisasi tidak hanya antara aspek perencanaan dengan penganggaran, tetapi juga antar SKPD. Hal ini perlu diperhatikan karena target capaian program dan atau target hasil (outcome) sebuah kegiatan dan atau visi daerah dapat dicapai melalui sinergi program dan kegiatan antar SKPD.
5. SDM yang kurang kompeten dalam manajemen perencanaan dan penganggaran
8 Latar belakang pendidikan menunjukkan kemampuan dan bidang ilmu yang dikuasai oleh seseorang selama menempuh jalur pendidikan formal. Bidang ilmu yang dikuasai oleh pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan APBD hendaknya sejalan dengan kegiatan penganggaran. Oleh karena itu, anggota dari organisasi sektor publik khususnya yang terlibat dalam penyusunan APBD hendaknya memiliki dasar ilmu yang berkaitan dengan sistem penyusunan anggaran. Selain itu latar belakang pendidikan memperlihatkan pula kompetensi dan pemahaman yang dimiliki sumber daya manusia dalam pelaksanaan suatu kegiatan. Penempatan pegawai secara tepat sesuai dengan bidang ilmu dan pendidikan yang dimiliki dapat menjadi salah satu cara untuk melibatkan pihak yang memiliki kompetensi terkait penganggaran dalam penyusunan APBD. Apabila latar belakang pendidikan tidak memiliki kesesuaian dengan kegiatan penganggaran dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan keterlambatan dalam penyusunan APBD. Hal ini berkaitan dengan penempatan pihak yang kurang berkompeten dalam penyusunan APBD sehingga proses penyusunan APBD dapat terhambat.
6. Faktor Team Work dan Komitmen
9 serta cenderung bersifat reaktif yang pada akhirnya bermuara pada inefisiensi dan inefektifitas. Saat penyusunan perencanaan, pimpinan terkadang hanya melibatkan segelintir pegawai saja, sementara perencanaan program dan kegiatan adalah atas nama organisasi, sehingga akan lebih baik apabila keseluruhan proses penganggaran mulai dari awal perencanaan sampai pada kegiatan monitoring dan evaluasi terakhir melibatkan seluruh pegawai sebagai team work dalam rangka mencapai tujuan akhir yang akan dicapai oleh organisasi.
Selain itu, pada penyusunan APBD, pihak-pihak yang terlibat hendaknya memiliki komitmen yang tinggi untuk melaksanakan penyusunan APBD secara tepat waktu serta melaksanakan anggaran yang telah ditetapkan dengan efektif dan efisien. Adanya komitmen memberikan gambaran bagi pihak yang terlibat dalam penyusunan APBD untuk mengetahui secara jelas visi, misi, tujuan, dan sasaran yang ingin dicapai dalam penyusunan APBD. Selain itu, melalui komitmen dapat menciptakan motivasi dan kemauan bagi pihak penyusun APBD untuk menyelenggarakan tahapan penyusunan APBD yang lebih baik, efektif, efisien, dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
7. Intervensi Hak Budget DPRD terlalu kuat
10 faktor-faktor intervensi hak budget DPRD yang dapat menjadi penghambat dalam penyusunan APBD, adalah:
- Usulan dari DPRD yang terkadang tidak sesuai dengan hasil kesepakatan pada saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)
- Unsur politis dalam rangka mewujudkan kepentingan tertentu
- Motif pada saat pelaksanaan proyek di lapangan dalam rangka mencari keuntungan pribadi
- Adanya istilah “sinterklas” (bagi-bagi proyek) kepada oknum anggota
DPRD atau pejabat daerah
8. SDM Evaluasi Anggaran pada Pemerintah Provinsi
APBD Kabupaten/ Kota wajib dievaluasi oleh Pemerintah Provinsi. Namun kadang pelaksanaan evaluasi ini tidak dibarengi dengan ketersediaan dan kompetensi SDM pada Pemerintah Provinsi yang terlibat saat melakukan evaluasi anggaran. Hal ini membuat proses penganggaran menjadi tidak efektif dan efisien dan berpengaruh pada proses revisi anggaran di daerah yang semakin panjang dan lama.
KESIMPULAN
11 Daerah. APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. Penyusunan Rancangan APBD berpedoman kepada rencana kerja Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara. Pengelolaan APBD dalam konteks manajemen meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap pertanggungjawaban. Tahap penyusunan dan penetapan APBD merupakan tahap perencanaan APBD.
Dalam tahap penyusunan APBD ini sering kali ditemui permasalahan dan kendala-kendala yang menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam penetapan APBD. Permasalahan-permasalahan tersebut yaitu: pelaksanaan pendekatan parsitipatif dalam perencanaan melalui mekanisme musrenbang yang belum maksimal, RPJPD, RPJMD dan Renstra SKPD yang belum optimal, adanya intervensi pada saat proses penyusunan perencanaan, koordinasi antar SKPD masih lemah, SDM yang kurang kompeten dalam manajemen perencanaan dan penganggaran, faktor team work dan komitmen, intervensi hak budget DPRD yang terlalu kuat serta SDM evaluasi anggaran pada Pemerintah Provinsi.
12 REFERENSI
- Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen IV.
- Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
- Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
- Halim, Abdul, Bawono, Icuk Rangga (Penyunting). 2011. “Pengelolaan
Keuangan Negara-Daerah : Hukum, Kerugian Negara dan Badan Pemeriksa Keuangan”. Yogyakarta : UPP STIM YKPN.
- Halim, Abdul (Penyunting). “Manajemen Keuangan Sektor Publik : Problematika Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah”. Jakarta : Salemba
Empat.
- Wangi, Chitra Ariesta Pandan, Ritonga, Irwan Taufiq. “Identifikasi Faktor -faktor Penyebab Terjadinya Keterlambatan Dalam Penyusunan APBD”.
Diakses melalui http://asp.trunojoyo.ac.id pada tanggal 08 April 2015.
- Sumoharjo, Addy. 2011. “Struktur Penyusunan dan Penetapan APBD”.
Diakses melalui http://addyarchy07.blogspot.com/2011/12/struktur-penyusunan-dan-penetapan-apbd.html pada tanggal 06 April 2015.
- Suharto, Didik G. 2009. “Beberapa Permasalahan Umum Dalam Perencanaan
13 beberapa-permasalahan-umum-dalam-perencanaan-apbd/ pada tanggal 06 April 2015.