Pembelajaran merupakan suatu sistem yang

14  19 

Teks penuh

(1)

MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BRIGGS DAN WAGER, BELA H. BANATHY, GERLACH DAN ELY

Achmad Furqon Bildhonny*

E-mail: doniefurqon@gmail.com

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5, Malang 65145

Abstrak: Istilah model dapat diartikan sebagai tampilan grafis, prosedur kerja yang teratur atau sistematis, serta mengandung pemikiran bersifat uraian atau penjelasan berikut saran. Uraian atau penjelasan menunjukkan bahwa suatu model desain pembelajaran menyajikan bagaimana suatu pembelajaran dibangun atas dasar teori-teori seperti belajar, pembelajaran, psikologi, komunikasi, sistem dan sebagainya. Model pengembangan desain pembelajaran terdapat beraneka ragam jenisnya, yang dari masing-masing model pengembangan desain pembelajaran mempunyai kekurangan dan kelebihan. Dengan adanya beraneka ragam jenis model pengembangan desain pembelajaran memberikan kesempatan yang luas bagi para pengajar untuk memilih model pengembangan desain pembelajaran yang sesuai dengan ilmu atau pengetahuan yang mereka bina. Model-model pengembangan desain pembelajaran yang sudah ada selalu mengalami perubahan-perubahan. Hal ini memberi inspirasi para ahli pendidikan untuk mengembangkan model-model desain pembelajaran yang sudah ada dengan menciptakan model-model turunan dari model pengembangan desain yang sudah ada. Dengan semakin berkembangnya model-model pengembangan desain pembelajaran akan mampu menghadapi perubahan zaman yang memerlukan desain pengembangan model yang semakin kreatif dan inovatif.

Kata Kunci: Model, Pengembangan dan Pembelajaran.

Pendahuluan

(2)

Model-Model Belajar dan Pembelajaran yang diterapkan saat ini berbeda dengan masa kini. Makin maju ilmu pengetahuan mengakibatkan tiap generasi harus meningkatkan pola frekuensi belajarnya. Agar pendidikan dapat dilaksanakan lebih baik tidak terkait oleh aturan yang mengikat kreativitas pembelajar, dan sekiranya tidak memadai hanya digunakan sumber belajar, seperti dosen/guru, buku, modul, audio visual, dan lain-lain, maka hendaknya diberikan kesempatan yang lebih luas dan aturan yang fleksibel kepada pembelajar untuk menentukan strategi belajarnya.

Pengembangan pembelajaran berkenaan dengan pemahaman, perbaikan, dan penerapan metode-metode dalam menciptakan pembelajaran (methods of creating instruction). Pengembangan pembelajaran merupakan proses perumusan dan penggunaan prosedur yang optimal untuk menciptakan pembelajaran baru dalam situasi tertentu. Pengembangan pembelajaran menghasilkan sumber-sumber pembelajaran yang siap pakai, diktat, dan rencana pembelajaran.

Pemanfaatan pembelajaran berhubungan dengan pemahaman, perbaikan, dan penerapan serta penggunaan metode-metode pembelajaran yang telah dikembangkan. Pemanfaatan pembelajaran merupakan proses penentuan dan penggunaan prosedur-prosedur yang optimal untuk mencapai outcome yang optimal. Hasil dari pemanfaatan pembelajaran adalah program pembelajaran yang telah dimodifikasi sedemikan rupa sehingga menghasilkan efektivitas program yang optimal. Pemanfaatan pembelajaran menuntut pengetahuan tentang berbagai prosedur pemanfaatan, perpaduan prosedur yang optimal, dan situasi-situasi yang memungkinkan optimalisasi model-model pemanfaatan.

Menurut Gagne, Briggs dan Wager (1992: 6) dalam bukunya: Principles of Instructional Design mengemukakan bahwa : Learning is Interest in relating both the external and internal parts of learning situation to the process of behavior change. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh factor dari luar diri dan factor dari dalam diri dan keduanya saling berinteraksi. Faktor dari luar/eksternal dapat dimodifikasi sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal dan efektif.

(3)

Dengan semakin beragamnya model pengembangan desain pembelajaran, menarik untuk dikaji pada setiap masing-masing model pengembangan desain pembelajaran. Antara satu model pengembangan desain pembelajaran dengan lainnya pastinya memiliki ciri khusus yang menjadikan keunikan tersendiri pada model-model pengembangan desain pembelajaran tersebut. Untuk mengetahui keunikan pada masing-masing model pengembangan desain pembelajaran dapat dilakukan dengan mendeskripsikan dan menganalisis, kemudian setelah itu, dilakukan perbandingan pada model yang di deskripsikan dan dianalisis. Dari hasil perbandingan dapat diketahui kelebihan dan kekurangan pada masing-masing model pengembangan desain pembelajaran serta keunikan yang dimiliki oleh model desain pembelajaran terkait.

Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan beberapa model sistem pembelajaran yang saat ini telah dikembangkan oleh para ahli ilmu pendidikan. Dari beberapa model yang akan penulis bahas semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Model Pengembangan Pembelajaran

Istilah model pembelajaran sering dimaknai sama dengan pendekatan pembelajaran. Bahkan kadang suatu model pembelajaran diberi nama sama dengan nama pendekatan pembelajaran. Sebenarnya model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada makna pendekatan, strategi, metode, dan teknik.

Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran (kompetensi pembelajaran), dan pengelolaan kelas. Briggs (1978;23) menjelaskan, model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media, dan evaluasi. Sesuai dengan penjelasan tersebut, maka yang dimaksud dengan pengembangan model pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan pengembangan pembelajaran. Hasil akhir dari pengembangan pembelajaran ialah system pembelajaran, yaitu materi dan strategi belajar mengajar yang dikembangkan secara empiris yang secara konsisten telah dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Pengembangan pembelajaran ini terdiri dari seperangkat kegiatan yang meliputi perencanaan, pengembangan dan evaluasi terhadap system pembelajaran yang sedang dikembangkan tersebut, sehingga setelah mengalami beberapa perbaikan system pembelajaran tersebut dapat memperoleh sustu hasil yang memuaskan. Pengembangan model pembelajaran adalah suatu usaha dalam mencari pemecahan masalah – masalah yang ada dalam kegiatan belajar mengajar, atau setidaknya usaha dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar yang ada dalam upaya memperbaiki pelakasanaan suatu pembelajaran.

Fungsi model pengembangan pembelajaran adalah sebagai pedoman perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, pemilihan model sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan dibelajarkan, tujuan (kompetensi) yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik.

(4)

model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Berdasarkan teori Pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. 2) Mempunyai misi atau tujuan Pendidikan tertentu.

3) Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan KBM di kelas.

4) Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) system sosial, dan (4) system pendukung.

5) Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran yang meliputi dampak pembelajaran dan dampak pengiring.

6) Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.

Model Pengembangan Pembelajaran Briggs dan Wager

Desain pembelajaran atau pengembangan pembelajaran merupakan cikal bakal dirumuskannya suatu kurikulum yang juga merupakan model cakupan makro atau luas. Cakupan makro bersifat suprasistem, sangat luas, bisa saja bersifat nasional sedangkan cakupan mikro meliputi aspek sangat terbatas seperti untuk satu KBM atau satu topik.

Model Gagne, Briggs & Wager adalah contoh dari model cakupan makro. Berikut adalah uraiannya:

Model pembelajaran Briggs ini bersandarkan pada 3 prinsip keselarasan, yaitu. 1. Tujuan yang akan dicapai

2. Strategi untuk mencapainya 3. Evaluasi keberhasilannya

Langkah pengembangan dimaksud dirumuskan ke dalam sepuluh langkah pengembangan, yaitu: a. Identifikasi kebutuhan/penentuan tujuan

Dalam langkah ini Briggs menggunakan pendekatan yaitu: mengidentifikasi tujuan kurikulum secara umum dan luas.

b. Penyusunan garis besar kurikulum atau rincian tujuan kebutuhan instruksional yang telah dituangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus rinci, disusun dan diorganisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.

c. Perumusan tujuan

Sesudah tujuan kurikuler yang bersifat umum ditentukan dan diorganisasikan menurut tujuan yang lebih khusus, tujuan ini sebaiknya dirumuskan dalam tingkah laku belajar yang dapat diukur.

d. Analisis tugas atau tujuan

Dalam langkah ini perlu diadakan analisis terhadap tiga hal yaitu:

1) Proses informasi: untuk menentukan tata urutan pemikiran yang logis.

(5)

3) Tujuan belajar: untuk menentukan persyaratan belajar dan kegiatan belajar mengajar yang sesuai.

e. Penyiapan evaluasi hasil belajar f. Menentukan jenjang belajar g. Penentuan kegiatan belajar

Penentuan strategi instruksional ditinjau dari dua segi yaitu: 1) dari segi guru sebagai perancang kegiatan instruksional, meliputi pemilihan media , perencanaan kegiatan belajar, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, dan pelaksanaan evaluasi belajar. 2) menurut tim pengembang instruksional, meliputi penentuan stimulus belajar yaitu stimulus apa yang sesuai untuk TIK tertentu, pemilihan media, penentuan kondisi belajar, perumusan strategi, pengembangan media, evaluasi formatif, dan penyusunan pedoman pemanfaatan.

h. Pemantauan bersama

Guru sebagai perancang kegiatan instruksional dan tim pengembang instruksional. i. Evaluasi formatif

Evaluasi ini untuk memperoleh data dalam rangka revisi dan perbaikan materi bahan belajar. j. Evaluasi sumatif

Evaluasi ini untuk menilai system penyampaian secara keseluruhan pada akhir kegiatan mencakup penilain hasil belajar, tujuan instruksional dan prosedur yang dipilih.

Manfaat dari model cakupan makro adalah

 Kelengkapan komponen didalamnya mengandung aspek positif  Cakupan model adalah makro ( kurikulum ) dan mikro ( KBM )

 Pelaksanaan evaluasi formatif dan sumatif beserta uji coba dan revisi memberi peluang perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran pada umumnya, dan mutu KBM secara khusus.

 Komponen KBM yang lengkap sehingga tidak kalah dengan model berorientasi KBM murni.

 Adanya proses penggunaan dan penyebaran dari kurikulun ini menjadi ciri khas model dibandingkan model yang telah dibahas sebelumnya.

Keterbatasan model Gagne, Briggs & Wager adalah:

 Kegiatan penyusunan desain pembelajaran memakan waktu yang lama, tim kerja yang besar serta anggaran yang banyak.

 Tim kerja banyak tidak ada penjelasan siapa dan bidang apa saja yang terlibat didalamnya.

(6)

Model Pengembangan Pembelajaran Banathy

Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses menentukan dan menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan di dalam tingkah lakunya. (Carey, 1977: 6). Istilah pengembangan sistem instruksional dan desain instruksional sering dianggap sama. Secara garis besar, pengembangan system instruksional model Banathy dapat diformulasikan dalam enam langkah, sebagai berikut:

1. Merumuskan tujuan

Dalam langkah ini guru harus merumuskan kemampuan yang harus dikuasai peserta didik setelah mengikuti program pengajaran tertentu.

2. Mengembangkan test

Dalam mengembangkan evaluasi ini perlu didasarkan pada tujuan instruksioanal yang telah dirumuskan.

3. Menganalisis kegiatan belajar

Dalam langkah ini perlu dirumuskan kegiatan belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan.

(7)

Dalam langkah ini ditetapkan jadwal dan tempat dari masing-masing komponen instruksional. Seluruh komponen instruksional yang telah dirumuskan perlu ditetapkan sebagai suatu system pengajaran.

5. Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil

Dalam langkah ini sistem instruksional yang telah didesain perlu diujicobakan dan dilaksanakan, selain itu juga perlu mengadakan penilaian terhadap hasil belajar yang dicapai peserta didik.

6. Mengadakan perbaikan

Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik ( feed back) dalam rangka mengadakan perbaikan sistem.

Model Banathy dikembangkan pada tahun 1968 oleh Bela H. Banahty. Model yang dikembangkannya ini berorientasi pada hasil pembelajaran, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sistem. Menurut Harjanto (2006:94) pendekatan sistem didasarkan pada kenyataan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat kompleks, terdiri atas banyak komponen yang satu sama lain harus bekerja sama secara baik untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Menurut Banathy (1972), pengembangan instruksional meliputi enam tahap, yaitu:

Tahap I: Merumuskan Tujuan Pembelajaran ( Formulate objectives)

Guru merumuskan kemampuan ynag harus dikuasai siswa atau yang diharapkan guru kepada siswa untuk dikerjakan, diketahui, dan dirasakan dari hasil pengalaman belajar. a. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Menurut Gronlund, TIU adalah hasil belajar yang diharapkan, yang dinyatakan secara umum dan berpedoman pada perubahan tingkah laku dalam kelas. Kegunaan TIU dalam proses belajar mengajar:

• memberikan kriteria yang pasti untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik • memberikan kepastian mengenai kemampuan yang diharapkan dari peserta didik

• memberikan dasar untuk mengembangkan alat evaluasi untuk mengukur efektivitas pengajaran

• memberikan petunjuk dalam menentukan materi dan strategi instruksional

• petunjuk bagi peserta didik tentang apa yang akan dipelajari dan apa yang akan dinilai • peserta didik akan mengorganisasikan usaha dan kegiatannya untuk mencapai tujuan

instruksional yang telah ditentukan

Menurut Gronlund, dalam perumusan TIU hal-hal yang harus diperhatikan adalah: • Tujuan yang diharapkan secara umum

(8)

• Sesuai dengan kemampuan peserta didik, waktu yang tersedia, dan fasilitas yang mendukung.

• Mempunyai indikasi yang kuat bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku peserta didik

b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

TIK adalah hasil belajar yang diharapkan yang dinyatakan dalam istilah perubahan tingkah khusus. Menurut Gronlund (1975: 30), tingkah laku khusus adalah kata kerja yang dapat diamati atau diukur. Menurut Mager, dalam merumuskan TIK yang lengkap hendaknya mencakup unsur-unsur:

• Performance • Conditions • Criterion

TIK yang sempurna hendaknya mampunyai 5 unsur, yaitu: • Audience

• Behaviour • Conditions • Kriteria/degree • Single performance

Tahap II: Mengembangakan Tes (Develop test)

Guru mengembangkan tes yang didasarkan pada tujuan yang akan dicapai untuk mengetahui kemampuan yang telah dicapai.

Tahap III: Menganalisis Kegiatan Belajar (Analyze learning task)

Merumuskan apa yang harus dipelajari ( kegiatan belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai tujuan belajar ). Kemampuan awal siswa harus dianalaisis atau dinilai agar mereka tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka kuasai. Ada 3 tahap Analisis :

1. Analisis dan penentuan tugas –tugas apa yang perlu dilakukan dalam proses belajar 2. Penilaian dan pengujian kompetensi awal

3. Identifikasi serta penentuan tugas yang sesungguhnya

Tahap IV: Mendesain Sistem Instruksional (Design system)

Mempertimbangkan alternative dan identifikasi apa yang harus dikerjakan. Dalam langkah ini ditetapkan jadwal dan tempat pelaksanaan dari masing-masing komponen instruksional. Ada 4 (empat ) tahap dari perancangan atau pengembangan pembelajaran:

(9)

Tahap V: Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil (Implement and test output)

Desain yang telah dibuat diujicobakan ( dilaksanakan ). Selain itu dalam tahap ini perlu diadakan penilaian atas apa yang dilakaukan siswa agar dapat diketahui seberapa jauh siswa mampu mencapai hasil belajar.

TAHAP VI : Mengadakan Perbaiakan (Change to improve)

Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik (feedback) untuk mengadakan perubahan-perubahan (perbaikan).

Pengembangan Instruksional Model Banathy

1. Formulasi model belajar  Merancang

 Sistem

 Anaslisis Tugas I III IV

 Formulasi Analisis Tugas Merancang model belajar Sistem 2. Implementasi dan Pengujian Hasil

 Pengembangan Tes II V  Pengembangan V

 Tes Implementasi dan Pengujian hasil 3. Perubahan Untuk memperbaiki Sistem V

Kekurangan Dan Kelebihan Model Perencanaan Banathy

Menurut Rishe (handout), kekurangan dan kelebihan model perencanaan Banathy adalah: KELEBIHAN:

1. Berorientasi pada kemampuan siswa

2. Pembelajaran berdasarkan pada analisis tugas

3. Revisi didasarkan pada identifikasi kelebihan dan kekuatan implementasi 4. Ada tiga aspek kompetensi ( kognitif, afektif, dan psikomotorik )

5. Ada pengujian dan revisi system

KEKURANGAN:

1. Tidak memberikan perhatian khusus pada proses pengembangan tes 2. Tidak ada spesifikasi yang jelas tentang cara perancangan sistem

Model Pengembangan Pembelajaran Gerlach dan Ely

(10)

hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar.

Model yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely (1971) dimaksudkan sebagai pedoman perencanaan mengajar. Pengembangan sistem instruksional menurut model ini melibatkan sepuluh unsur seperti terlihat dalam flow chart di halaman berikut.

Unsur-unsur dalam desain instruksional yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely

1) Merumuskan tujuan pembelajaran (specification of object)

Tujuan instruksional harus dirumuskan dalam kemampuan apa yang harus dimiliki pada tingkat jenjang belajar tertentu. Tujuan pembelajaran harus bersifat jelas (tidak abstrak dan tidak terlalu luas) dan operasional agar mudah diukur dan dinilai.

2) Menentukan isi materi (specification of content)

(11)

Kemampuan awal siswa ditentukan dengan memberikan tes awal. Pengetahuan tentang kemampuan awal siswa ini penting bagi pengajar agar dapat memberikan dosis pelajaran yang tepat; tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Pengetahuan tentang kemampuan awal juga berguna untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, misalnya apakah perlu persiapan remedial.

4) Menentukan teknik dan strategi (Determination of strategy)

Menurut Gerlach dan Ely, strategi merupakan pendekatan yang dipakai pengajar dalam memanipulasi informasi, memilih sumber-sumber, dan menentukan tugas/peranan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan perkataan lain, pada tahap ini pengajar harus menentukan cara untuk dapat mencapai tujuan instruksional dengan sebaik-baiknya. Dua bentuk umum tentang pendekatan ini adalah berntuk eksopose (espository) yang lazim dipergunakan dalam kuliah-kuliah tradisional, biasanya lebih bersifat komunikasi satu arah, dan bentuk penggalian (inquiry) yang lebih mengutamakan partisipasi siswa dalam proses belajar-mengajar. Dalam pengertian instruksional yang sempit, metode ini merupakan rencana yang sistematis untuk menyajikan pesan atau informasi instruksional.

5) Pengelompokan belajar (Organization of groups)

Setelah menentukan pendekatan dan metode, pengajar harus mulai merencanakan bagaimana kelompok belajar akan diatur. Pendekatan yang menghendaki kegiatan belajar secara mandiri dan bebas (independent study) memerlukan pengorganisasian yang berbeda dengan pendekatan yang memerlukan banyak diskusi dan partisipasi aktif siswa dalam ruang yang kecil, atau untuk mendengarkan ceramah dalam ruang yang luas.

6) Menentukan pembagian waktu (Allocation of times)

Pemilihan strategi dan teknik untuk ukuran kelompok yang berbeda-beda tersebut mau tidak mau akan memaksa pengajar memikirkan penggunaan waktunya, yaitu apakah sebagian besar waktunya harus dialokasikan untuk presentasi atau pemberian informasi, untuk pekerjaan laboratorium secara individual, atau untuk diskusi. Mungkin keterbatasan ruangan akan menuntut pengaturan yang berbeda pula karena harus dipecah ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.

7) Menentukan ruang (Allocation of space)

Sesuai dengan tiga alternative pengelompokan belajar seperti pada no.5, alokasi ruang ditentukan dengan menjawab apakah tujuan belajar dapat dipakai secara lebih efektif dengan belajar secara mandiri dan bebas, berinteraksi antarsiswa, atau mendegarkan penjelasan dan bertatap muka dengan pengajar.

8) Memilih media instruksional yang sesuai (Allocation of Resources)

Pemilihan media ditentukan menurut tanggapan siswa yang disepakati. Jadi tidak sekadar yang dapat memberikan stimulus rangsangan belajar. Gerlach dan Ely mambagi media sebagai sumber belajar ini ke dalam lima katergori, yaitu: (a) manusia dan benda nyata, (b) media visual proyeksi, (c) media audio, (d) media cetak, dna (e) media display.

(12)

Kegiatan belajar adalah interaksi antara pengajar dan siswa, interaksi antara siswa dan media instruksional. Hakiakat belajar adalah perubahan tingkah laku belajar pada akhir kegiatan instruksional. Semua usaha kegiatan pengembangan instruksional di atas dapat dikatakan berhasil atau tidak setelah tingkah laku akhir belajar tersebut dievaluasi. Instrumen evaluasi dikembangkan atas dasar rumusan tujuan dan harus dapat mengukur keberhasilan secara benar dan objektif. Oleh sebab itu, tujuan instruksional harus dirumuskan dalam tingkah laku belajar siswa yang terukur dan dapat diamati.

Gerlach dan Ely membagi media sebagai sumber belajar menjadi 5 kategori: a. Manusia dan benda nyata

b. Media visual proyeksi c. Media audio

d. Media cetak e. Media display

10) Menganalisis umpan balik (analisys of feedback)

Analisis umpan balik merupakan tahap terakhir dari pengembangan sistem instruksional ini. Data umpan balik yang diperoleh dari evaluasi, tes, observasi, maupun tanggapan-tanggapan tentang usaha-usaha instruksional ini menentukan, apakah sistem, metode, maupun media yang dipakai dalam kegiatan instruksional tersebut sudah sesuai untuk tujuan yang ingin dicapai atau masih perlu disempurnakan.

Model pembelajaran Gerlach dan Ely (1971) merupakan suatu metode perencanaan pengajaran yang sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta perjalanan pembelajaran karena dalam model ini diperlihatkan keseluruhan proses belajar mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap komponennya. Dalam model ini juga diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar.

Gerlach dan Ely mengatakan bahwa melalui tes Enteryng Behaviors (kemampuan awal) siswa, guru akan mengetahui apa yang dibawa atau yang telah diketahui oleh siswa terhadap sesuatu pelajaran pada saat (pelajaran) dimulai. Para perancang pembelajaran atau guru dalam mengembangkan satuan pelajaranya dia harus mengetahui; siapa kelompok, populasi, atau sasaran kegiatan pembelajaran tersebut? Perlunya guru atau perancang pembelajaran mengetahui kemampuan awal ini, agar pelaksanaan pembelajaran berjalan efektif, karena pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa terdapat juga pengetahuan yang merupakan prerequisit bagi tugas belajar yang baru. Untuk mengetahui kemampuan awal sekelompok siswa atau mahasiswa perlu diadakan tes awal (pre-test). Tes awal mempunyai fungsi atau tujuan yang berharga dan penting bagi pengembangan suatu pembelajaran.

Kelebihan model pengembangan desain instruksional pembelajaran Gerlach dan Ely: 1. Sangat teliti dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran

2. Cocok digunakan untuk segala kalangan

(13)

2. Tidak adanya tahapan pengenalan karakteristik siswa

Kesimpulan

Menurut Undang-undang Sisdiknas No.20 Tahun 203, Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu proses interaksi antara Pengajar dengan pembelajar, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Model pembelajaran adalah suatu rencana atau rancangan yang digunakan untuk merancang pembelajaran, materi pembelajaran dan mengadakan pembimbingan di dalam kelas atau di tempat lain.

Model-model pengembangan pembelajaran pada hakekatnya dapat digunakan dan dikembangkan untuk kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Model pengembangan pembelajaran memiliki ciri-ciri, antara lain berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar, memiliki misi atau tujuan tertentu, dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan KBM di kelas, memiliki dampak sebagai terapannya.

Ada beberapa model pengembangan pengajaran yang telah dikembangkan oleh para ahli, seperti dijelaskan di atas. Hal terpenting adalah bagaimana seorang pengajar dapat mengelola dan mengembangkan komponen-komponen pembelajaran tersebut dalam suatu desain yang terencana dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada dan unsur-unsur penunjang dalam menerapkan model pembelajaran yang akan dilakukan, misalnya alokasi waktu, sarana prasarana pembelajaran, anggaran yang tersedia dan lain sebagainya. Tetapi dalam model pengembangan pembelajaran yang dikembangan para beberapa ahli memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Model yang dikemukakan oleh Brigs dan Wager ada 10 langkah, dengan 3 keselarasan, model pengembangan pembelajaran oleh Glacer dan ely ada 10 langkah juga, sedangkan menurut Banhathy model pengembangan pembelajaran memakai 6 langkah.

Daftar Pustaka

Danasasmita W. 2000. Model Pembelajaran dan Pendekatannya. Yogyakarta.

Gagne, R.M., Briggs, L.J., Wager, W.W. 1992. Principles of Instructional Design. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Mursid R. 2003. Pengembangan Pembelajaran Praktik Berbasis Kompetensi Berorientasi Produksi. FT Universitas Negeri Medan.

(14)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :