PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI MAN MALANG I
Oleh
Rini Kusnul Khotimah (02110055)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
SKRIPSI
Oleh :
Rini Kusnul Khotimah
02110055
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri
(UIN) Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam
(S.Pd. I)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MALANG
SKRIPSI
Oleh :
Rini Kusnul Khotimah
02110055
Telah Disetujui Oleh :
Dosen Pembimbing
Prof. Dr. H. Muhaimin, MA
NIP : 150 215 375
Tanggal, 13 Juli 2007
Mengetahui :
Ketua Jurusan PAI
Bukti Konsultasi Skripsi
Nama : Rini Kusnul Khotimah
NIM / JUR : 02110055 / PAI
Dosen Pembimbing : Prof. Dr. H. Muhaimin, MA
Judul Skripsi : UPAYA GURU AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MEDIA
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MAN MALANG I
No Tanggal Yang Dikonsultasikan TTD
1 September 2006 Konsultasi Proposal 1.
2 14 Maret 2007 Konsultasi BAB 1 2.
3 16 Maret 2007 Revisi BAB I 3.
4 20 Maret 2007 Konsultasi BAB II dan III 4.
5 22 Maret 2007 Revisi BAB II dan III 5.
6 6 Juli 2007 Konsultasi BAB IV, V, VI 6.
7 11 Juli 2007 Revisi BAB IV, V, VI 7.
8 13 Juli 2007 ACC BAB I, II, III, IV, V, VI 8.
Malang, 13 Juli 2007 Dekan,
Nomor : Un. 3.1/TL.00/493/2007 Tanggal 30 April 2007 Lampiran : 1 (Satu) Berkas
Hal : PENELITIAN
Kepada
Yth. Kepala Madrasah Aliyah Negeri I Malang Di –
Malang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dengan ini kami mohon dengan segala hormat agar mahasiswa tersebut di bawah ini :
Nama : Rini Kusnul Khotimah
NIM : 02110055
Jurusan/Fakultas : Pendidikan Islam/Tarbiyah Semester/Th. Ak : X / 2007
Judul Skripsi : Upaya Guru Agama Dalam Pengembangan Media Pendidikan Agama Islam Di MAN Malang I
Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir studi/menyusun skripsinya, yang bersangkutan diberikan izin/kesempatan untuk mengadakan penelitian di
lembaga/instansi yang menjadi wewenang Bapak/Ibu dalam bidang-bidang yang sesuai dengan judul skripsinya di atas.
Demikian, atas perkenan dan kerja sama Bapak/Ibu disampaikan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Dekan,
Nomor : Un. 3.1/TL.00/493/2007 Tanggal April 2007 Lampiran : 1 (Satu) Berkas
Hal : PENELITIAN
Kepada
Yth. Kepala Kandepag Kota Malang Di –
Malang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dengan ini kami mohon dengan segala hormat agar mahasiswa tersebut di bawah ini :
Nama : Rini Kusnul Khotimah
NIM : 02110055
Jurusan/Fakultas : Pendidikan Islam/Tarbiyah Semester/Th. Ak : X / 2007
Judul Skripsi : Upaya Guru Agama Dalam Pengembangan Media Pendidikan Agama Islam Di MAN Malang I
Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir studi/menyusun skripsinya, yang bersangkutan diberikan izin/kesempatan untuk mengadakan penelitian di lembaga/instansi yang menjadi wewenang Bapak/Ibu di MAN Malang I dalam bidang-bidang yang sesuai dengan judul skripsinya di atas.
Demikian, atas perkenan dan kerja sama Bapak/Ibu disampaikan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Dekan,
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Malang, 13 Juli 2007
Hal : Skripsi Rini Kusnul Khotimah Malang, 13 Juli 2007 Lampiran :
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang di
Malang
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah beberapa kali melakukan bimbingan, baik dari segi isi, bahasa, maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini :
Nama : Rini Kusnul Khotimah
NIM : 02110055
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi: Upaya Guru Agama Dalam Pengembangan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di MAN Malang I
Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pembimbing,
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam.
(Q.S. Al’Alaq: 3-4)1
1Al-Qur’an dan TerjemahnyaDepartemen Agama RI (Semarang: PT. Karya Toha Putra,
dan karunia-Nya. Shalawat dan Salam atas Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik hamba
dan Nabi akhir zaman pembawa kebenaran dan kesempurnaan.
Mengawali sesuatu yang baik tidaklah mudah, apalagi menjaga dan
membawanya ke arah yang lebih sempurna, begitu juga dengan penulisan skripsi ini.
Namun didorong oleh suatu kesadaran dan cita-cita untuk mengabdi pada Agama,
Bangsa, Negara dan nilai penuh kesabaran, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas
ini dengan baik. Di samping itu, kesempurnaan penulisan skripsi ini tidak lepas berkat
adanya dorongan, semangat, petunjuk, nasehat dan bimbingan dari berbagai pihak.
Menyadari kenyataan yang demikian, maka penulis dengan segenap
kerendahan hati merasa wajib untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya, kepada berbagai pihak yang telah membantu, yaitu:
1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor UIN Malang.
2. Bapak Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang,
yang telah memberikan izin penelitian.
3. Bapak Drs. Moh. Padil, M. Pd. I, selaku Ketua Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN
Malang atas bantuan akademis dan morilnya.
4. Bapak Prof. Dr. H. Muhaimin, MA, selaku dosen pembimbing, yang dengan penuh
kesabaran dan kebijaksanaan telah memberikan bimbingan dalam penulisan.
5. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang, yang tidak mungkin disebutkan
satu-persatu atas bantuan akademis dan morilnya.
6. Bapak Drs. H. Zainal Mahmudi, selaku Kepala Madrasah Aliyah Negeri I Malang,
Hanik Ulfa, S.Ag selaku pengajar mata pelajaran SKI, yang telah memberikan
sebagian waktunya untuk penelitian.
8. Teman-temanku, Yusrin, Tsalits, Veni, Yuyun, Indah, Maisyaroh, segenap warga
Sunan Ampel I/10 dan semua teman-temanku dan berbagai pihak yang telah
membantu penyelesaian penulisan.
Menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna dan ideal, untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik bijak dari semua pihak demi sempurnanya tulisan ini.
Akhirnya, semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan para
pembaca budiman. Amien.
Malang, 17 Juli 2007
Penulis,
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam.
(Q.S. Al’Alaq: 3-4)1
1Al-Qur’an dan TerjemahnyaDepartemen Agama RI (Semarang: PT. Karya Toha Putra,
HALAMAN PERSETUJUAN...ii
HALAMAN PENGESAHAN...iii
HALAMAN PERSEMBAHAN...iv
MOTTO...v
NOTA DINAS... vi
PERNYATAAN...vii
KATA PENGANTAR... viii
DAFTAR ISI... x
DAFTAR TABEL... xiii
ABSTRAK... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah... 5
C. Tujuan Penelitian... 5
D. Manfaat Penelitian... 6
E. Ruang Lingkup Penelitian...7
F. Penegasan Istilah Judul ... 7
G. Sistematika Pembahasan... 8
BAB III KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Guru Agama ...10
5. Kode Etik Guru ... 30
B. Tinjauan Tentang Media Pembelajaran PAI ... 32
1. Pengertian Media Pembelajaran PAI ... 32
2. Macam-Macam Media Pembelajaran PAI ... 34
3. Fungsi Dan Manfaat Media Pembelajaran PAI ... 37
4. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran PAI ...44
C. Upaya Guru Agama dalam Pengembangan Media Pembelajaran PAI 47 1. Pengadaan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam... 47
2. Pemanfaatan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ...50
3. Pemeliharaan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam...55
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian...58
B. Lokasi Penelitian... 59
C. Sumber data...59
D. Prosedur Pengumpulan Data... 60
E. Teknik Analisis Data...62
F. Pengecekan keabsahan data... 63
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Latar Belakang Objek Penelitian... 65
1. Lingkungan MAN Malang I ...65
B. Upaya Guru Agama Dalam Pengembangan Media Pembelajaran PAI 76
1. Macam-Macam Media Pembelajaran di MAN Malang I ...77
2. Upaya Guru Agama dalam Pengembangan Media Pembelajaran
PAI ... 79
3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pengembangan Media
Pembelajaran PAI ...85
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN... 89
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan...107
B. Saran-saran... 108
DAFTAR PUSTAKA
Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
Proses belajar mengajar pendidikan agama Islam mencakup kegiatan pembelajaran yang berupaya untuk membuat siswa dapat belajar, terdorong belajar dan tertarik untuk terus menerus mempelajari PAI. Dalam menyampaikan pesan pendidikan agama Islam diperlukan suatu media pembelajaran. Media pembelajaran PAI adalah segala sesuatu yang yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan pendidikan agama dari pengirim atau guru kepada penerima (siswa) dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar pendidikan agama. Untuk itu diperlukan pengembangan media pembelajaran PAI agar lebih meningkatkan keberhasilan pembelajaran PAI.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka penulis terdorong untuk mengadakan penelitian tentang upaya guru agama dalam pengembangan media pembelajaran pendidikan agama Islam di MAN Malang I.
Hasil dari kajian dan pembahasan dalam skripsi ini adalah bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan macam-macam media pembelajaran pendidikan agama Islam yang digunakan di MAN Malang I. (2) Mendeskripsikan upaya guru agama dalam mengembangkan media pendidikan agama Islam di MAN Malang I, baik dari segi pengadaan, pemanfaatan dan pemeliharaannya.(3) Mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan media pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MAN Malang I
Untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data menggunakan Interview, Observasi, dan Dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan teknik analisa deskriptif.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
a. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru agama di MAN Malang I menggunakan bermacam-macam media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan aspek yang penting bagi kehidupan manusia.
Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang sangat menunjang bagi
kemajuan suatu bangsa, termasuk juga pendidikan agama. Pendidikan agama
tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan tentang agama, tetapi yang lebih
penting adalah menanamkan rasa cinta terhadap agama agar mereka mempunyai
pola pikir sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama. Pendidikan agama diberikan
pada anak didik agar mereka mendapatkan arahan dan pandangan tentang agama,
sehingga mereka mendapatkan keyakinan yang benar dalam agama serta mampu
untuk mengubah nilai dan sikap mereka yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
Pendidikan agama yang diberikan di sekolah/madrasah diharapkan mampu
membangkitkan sikap religius peserta didik. Peserta didik diharapkan mampu
merespon perubahan jaman yang terjadi, tetapi tidak terbawa arus perubahan
dunia yang semakin global. Kenyataanya, pembelajaran pendidikan agama di
sekolah/madrasah belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Pendidikan
agama belum mampu membentuk kepribadian peserta didik secara utuh. Hal ini
terbukti dengan banyaknya kasus kenakalan anak dalam berbagai bentuknya.
Kalau persoalan tersebut ditelusuri secara seksama, sebenarnya merupakan
salah satu indikasi bahwa pendidikan agama yang berjalan selama ini masih
agama yang diberikan lebih banyak menyentuh pada aspek kognitif, belum
sampai pada aspek afektif dan psikomotorik. Akibat dari sentuhan aspek kognitif
tersebut, peserta didik hanya dapat mengerti agama, tetapi belum sampai pada
tingkat aksi atau implementasi.1
Padahal seharusnya hasil dari pembelajaran
pendidikan agama Islam meliputi tiga aspek tersebut, yakni kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
penjelasan pasal 37 disebutkan bahwa pendidikan agama dimaksudkan untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.2
Sesuai dengan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa Pendidikan
Agama Islam tidak hanya untuk dipahami atau untuk dihayati dan diyakini saja,
akan tetapi diperlukan pengamalan dari ajaran agama tersebut juga harus
dilakukan. Keterpaduan antara pemahaman, penghayatan, keyakinan serta
pengamalan ajaran Islam itulah yang akan menjadikan siswa sebagai manusia
muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah serta memiliki akhlak yang
mulia. Dan inilah tujuan pendidikan agama Islam.
Agar tujuan itu dapat tercapai, maka Pendidikan Agama Islam di setiap
jenjang pendidikan diharapkan dapat tersampaikan secara maksimal kepada setiap
peserta didik. Seorang guru agama Islam adalah seseorang yang menanamkan
nilai-nilai ajaran agama Islam kepada anak didiknya. Ia adalah seseorang yang
1
Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam (Bandung: Nuansa, 2003), hal. 136-137
2 UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, penjelasan pasal 37,
bertanggung jawab untuk mewujudkan anak didiknya bersikap dan bertingkah
laku sesuai dengan ajaran agama. Agar hal itu dapat terwujud, maka pendidikan
agama Islam harus benar-benar dapat diterima dan dihayati oleh peserta didik.
Dari sinilah seorang guru dituntut untuk berfikir bagaimana agar ia dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik. Guru dianggap sebagai orang yang banyak
mengetahui kondisi belajar, juga permasalahan belajar yang dihadapi oleh anak
didik karena hampir setiap hari guru berhadapan dengan murid. Seorang guru
hendaknya selalu mencari bagaimana caranya agar proses belajar mengajar
mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang direncanakan dan dituntut agar
berupaya menyesuaikan pola-pola tingkah laku dalam mengajar dengan tuntutan
pencapaian tujuan. Dengan demikian, seorang guru yang bersangkutan diharapkan
menemukan bentuk-bentuk mengajar yang sesuai, terutama dalam memberi
bimbingan, rangsangan, dorongan dan arahan pada anak didik agar dapat belajar
dengan tepat guna dan berhasil.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong
upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses
belajar. Para guru dituntut untuk mampu menggunakan alat-alat yang dapat
disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut
sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya
dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana tetapi
merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.
dapat mengembangkan ketrampilan membuat media pembelajaran yang akan
digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.
Menurut Oemar Hamalik, media pendidikan merupakan dasar yang sangat
diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi
berhasilnya proses pendidikan dan usaha pengajaran di sekolah.3
Seorang guru
hendaknya menyadari bahwa media pembelajaran yang dimanfaatkan secara
optimal mampu memberikan nilai positif kepada siswa, sehingga dapat merubah
sikap dan tingkah laku siswa ke arah perubahan yang kreatif dan dinamis.
Basyirudin mengatakan, media pendidikan sangat membantu dalam upaya
mencapai keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh sebab
itu guru harus mempunyai keterampilan dalam memilih dan menggunakan media
pendidikan dan pengajaran.4
Guru hendaknya mengupayakan cara untuk
mengembangkan media pembelajaran yang berupa pengadaan, pemanfaatan dan
pemeliharaan media pembelajaran. Selama ini guru hanya menggunakan media
sebagai alat bantu mengajar dan kurang memperhatikan pada kebutuhan dan
karakteristik siswa atau kesesuaian dengan materi dan tujuan yang akan dicapai
dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam. Pembuatan media
pembelajaran tidak didasari oleh pertimbangan pada kriteria-kriteria pemilihan
media secara tepat sehingga menyebabkan efektivitas proses belajar Pendidikan
Agama Islam menjadi rendah.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji
lebih dalam tentang "Upaya Guru Agama Dalam Pengembangan Media
Pembelajaran PAI Di MAN Malang I".
B. RUMUSAN MASALAH
Dari pernyataan latar belakang masalah di atas dan sesuai dengan judul
tulisan ini maka penulis dapat merumuskan formulasi rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Apa saja macam-macam media pembelajaran pendidikan agama Islam yang
digunakan di MAN Malang I ?
2. Bagaimana upaya guru agama dalam mengembangkan media pembelajaran
pendidikan agama Islam di MAN Malang I, baik dari segi pengadaan,
pemanfaatan dan pemeliharaannya ?
3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan media
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MAN Malang I ?
C. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang hendak
dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mendeskripsikan macam-macam media pembelajaran pendidikan
2. Untuk mendeskripsikan upaya guru agama dalam mengembangkan media
pendidikan agama Islam di MAN Malang I, baik dari segi pengadaan,
pemanfaatan dan pemeliharaannya.
3. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam
pengembangan media pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MAN
Malang I
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Dengan diadakannya penelitian ini, diharapkan hasil yang diperoleh
berguna bagi:
1. Pengembangan ilmu.
Yakni untuk menambah wawasan/ilmu pengetahuan selama
belajar di bangku perkuliahan. Selain itu juga sebagai langkah awal untuk
mengembangkan dan menerapkan pengetahuan berupa teori yang telah
diperoleh selama di bangku kuliah serta dapat dijadikan sebagai acuan
dalam peningkatan proses belajar mengajar sesuai dengan disiplin ilmu
pengetahuan.
2. Kebijakan.
Yakni sebagai masukan, bahan informasi, bahan
pertimbangan dan pengembangan, di mana hasil dari penelitian tersebut
dijadikan sebagai landasan dasar untuk melangkah guna memperbaiki
keadaan yang ada.
Yakni sebagai masukan yang akan melaksanakan penelitian
dalam bidang yang sama di masa yang akan datang.
E. RUANG LINGKUP PENELITIAN
Agar pembahasan dalam skripsi ini dapat dipahami dengan mudah dan
jelas, sesuai dengan arah dan tujuan, maka ruang lingkup pembahasan dalam
penulisan skripsi ini difokuskan pada :
1. Apa saja media pembelajaran pendidikan agama Islam yang digunakan di
MAN Malang I.
2. Apa saja upaya agama dalam mengembangkan media pendidikan agama Islam
di MAN Malang I, baik dari segi pengadaan, pemanfaatan dan
pemeliharaannya.
3. Hal-hal yang menjadi faktor pendukung dan penghambat dalam
pengembangan media pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
F. PENEGASAN JUDUL
Ada beberapa istilah dalam judul ini yang perlu ditegaskan definisinya,
agar pembahasan skripsi ini tidak terjadi kesalahpahaman atau salah persepsi.
Adapun istilah yang perlu ditegaskan adalah sebagai berikut :
1. Guru agama : orang yang memberikan ilmu pengetahuan agama kepada
anak didik
2. Pengembangan media pembelajaran : usaha yang dilakukan guru dalam
pemanfaatan dan pemeliharaan media pembelajaran sesuai dengan
kedudukan dan fungsinya serta berdasarkan pertimbangan yang tepat
sehingga materi pelajaran dapat diterima dengan mudah.
3. Media pembelajaran : bahan (software) dan alat (hardware) yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan atau materi pelajaran.
G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk memperoleh gambaran secara garis besar dari penelitian ini, maka
peneliti menguraikannya dalam enam bab, yakni sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup pembahasan,
penegasan judul, dan sistematika pembahasan.
Bab II : Tinjauan Pustaka
Berisi teori-teori berkaitan dengan guru agama yang meliputi pengertian,
syarat-syarat, peranan, tugas dan tanggung jawab guru agama dan kode etik guru
agama dan media pembelajaran PAI yang meliputi pengertian, macam-macam
media pembelajaran PAI, fungsi dan manfaat media pembelajaran dan kriteria
pemilihan media pembelajaran pendidikan agama Islam.
Bab III : Metode Penelitian
Berisi tentang metode penelitian, yang meliputi pendekatan dan jenis
penelitian, lokasi penelitian, sumber data, metode pengumpulan data dan teknik
Bab IV : Hasil Penelitian
Berisi tentang laporan hasil penelitian. Dalam bab ini diuraikan tentang
latar belakang obyek penelitian. Latar belakang meliputi sejarah berdirinya MAN
Malang I, struktur organisasi, lokasi, keadaan sarana dan prasarana, keadaan guru,
keadaan pegawai dan keadaan siswa dan penyajian data.
Bab V : Pembahasan
Berisi pembahasan dari hasil penelitian
Bab VI : Penutup
Berisi kesimpulan dari isi yang telah diuraikan dan dilengkapi dengan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. TINJAUAN TENTANG GURU AGAMA
1. Pengertian Guru Agama
Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang
memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.1
Pendidik (guru) dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung
jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan
perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, potensi
kognitif, maupun potensi psikomotorik2
Ketiga aspek tersebut di atas harus dikembangkan secara seimbang
sampai ke tingkat setinggi mungkin, karena dalam dunia pendidikan, pendidik
merupakan faktor utama dalam keberhasilan anak didik, apa saja yang
dikatakan atau yang dilakukan oleh guru (pendidik) akan dicontoh oleh anak
didik.
Drs. N.A. Ametembun mengatakan bahwa guru adalah semua orang
yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid,
baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar
sekolah.3
1 Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 31
2 Muhaimin, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hal. 167
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru adalah semua orang
yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina
anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar
sekolah.
Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang mulia. Dalam buku Ihya’
Ulumuddin jilid 1 halam 25, Al-Ghazali mengatakan :
“Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu,
maka dialah yang dinamakan besar di bawah kolong langit ini, ia adalah ibarat
matahari yang menyinari orang lain dan mencahayai pula dirinya sendiri,
ibarat minyak kesturi yang baunya dinikmati orang lain dan ia sendiri pun
harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, maka sesungguhnya ia telah
memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, maka hendaknya
ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya ini.”4
Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa seorang guru memiliki
kedudukan yang tinggi dan sangat penting. Oleh karena itu, ia harus
menyadari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, melaksanakan
tugas itu dengan sebaik-baiknya serta selalu menjaga sikap dan tingkah
lakunya dalam kehidupan sehari-hari, karena apa yang ditampilkannya dalam
kehidupan selalu menjadi contoh dan teladan bagi murid-muridnya.
2. Syarat-Syarat Menjadi Guru
Karena pekerjaan guru adalah pekerjaan professional, maka untuk
menjadi guru harus pula memenuhi persyaratan yang berat, beberapa di
antaranya adalah :
1. Harus memiliki bakat sebagai guru
2. Harus memiliki keahlian sebagai guru
3. Memiliki kepribadian yang baik dan terintegrasi
4. Memiliki mental yang sehat
5. Berbadan sehat
6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas
7. Guru adalah manusia berjiwa pancasila
8. Guru adalah seorang warga negara yang baik.
Dalam Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen pasal 8 disebutkan bahwa : guru wajib memiliki kualifikasi akademik,
kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.5
Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan kawan-kawan untuk menjadi
seorang guru harus memenuhi beberapa syarat seperti berikut ini : 6
1. Takwa kepada Allah swt.
Guru, sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan Islam, tidak mungkin
mendidik anak didik agar bertaqwa kepada Allah swt. Jika ia sendiri tidak
5Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen, (Surabaya: Pengurus PGRI Kota Surabaya – Fakultas Hukum UBHARA Surabaya, 2006), hal. 7
bertaqwa kepada-Nya. Sebab ia adalah teladan bagi anak didiknya
sebagaimana Rasulullah saw. Menjadi teladan bagi umatnya.
2. Berilmu.
Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti, bahwa
pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu
yang diperlukannya untuk suatu jabatan.
3. Sehat jasmani.
Kesehatan jasmani adalah salah satu syarat yang penting bagi
tiap-tiap pekerjaan. Sebagai seorang guru pun kesehatan itu merupakan syarat
yang tidak dapat diabaikan, karena mereka setiap hari akan bekerja dan
bergaul dengan dan di antara anak-anak.
4. Berkelakuan baik.
Budi pekerti guru penting dalam pendidikan watak anak didik.
Guru harus menjadi teladan, karena anak-anak bersifat suka meniru. Di
antara tujuan pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia pada diri
pribadi anak didik dan ini hanya mungkin bisa dilakukan jika pribadi guru
berakhlak mulia pula.
Dengan dimilikinya persyaratan seperti yang telah disebutkan di atas,
diharapkan guru dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam
3. Peran Guru Agama Dalam Proses Belajar Mengajar
Banyak peranan yang diperlukan guru sebagai pendidik atau siapa saja
yang telah menerjunkan diri menjadi guru. Semua peranan yang diharapkan
dari guru antara lain sebagai berikut :
1. Korektor
2. Inspirator
3. Informator
4. Organisator
5. Motivator
6. Inisiator
7. Fasilitator
8. Pembimbing
9. Demonstrator
10. Pengelola kelas
11. Mediator
12. Supervisor
13. Evaluator
Berikut penjelasannya:
1) Korektor
Sebagai korektor, guru harus bias membedakan mana nilai yang
baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus
betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat. Kedua nilai ini mungkin
anak didik masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yang
berbeda-beda sesuai dengan sosio-kultural masyarakat di mana anak didik
tinggal akan mewarnai kehidupannya. Semua nilai yang baik harus guru
pertahankan dan semua nilai yang buruk harus disingkirkan dari jiwa dan
watak anak didik.
2) Inspirator
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik
bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama
anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana
cara belajar yang baik. Petunjuk itu tidak mesti harus bertolak dari
sejumlah teori-teori belajar, dari pengalaman pun bias dijadikan petunjuk
bagaimana cara belajar yang baik. Yang penting bukan teorinya, tapi
bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi oleh anak didik.
3) Informator
Sebagai informatory, guru harus dapat memberikan informasi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan
pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam
kurikulum. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru.
Kesalahan informasi adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi
informator yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah sebagai kuncinya,
ditopang dengan penguasaan bahan yang akan diberikan kepada anak
didik. Informator yang baik adalah guru yang mengerti apa kebutuhan
4) Organisator
Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan
dari guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan
akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik,
dan sebagainya. Semuanya diorganisasikan, sehingga dapat mencapai
efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri anak didik.
5) Motivator
Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik
agar bergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru
dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas
belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Setiap saat guru harus
bertindak sebagai motivator, karena dalam interaksi edukatif tidak
mustahil ada anak didik yang malas belajar dan sebagainya. Motivasi
dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik.
Penganekaragaman cara belajar, memberikan penguatan dan sebagainya,
juga dapat memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih bergairah
dalam belajar.
6) Inisiator
Dalam peranannya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi
pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses
interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan.
pendidikan dan pengajaran harus diperbarui sesuai kemajuan media
komunikasi dan informasi abad ini. Guru harus menjadikan dunia
pendidikan, khususnya interaksi edukatif agar lebih baik dari dulu. Bukan
mengikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi bagi kemajuan
pendidikan dan pengajaran.
7) Fasilitator
Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas
yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik. Lingkungan
belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja
dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia,
menyebabkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu menjadi tugas
guru bagaimana menyediakan fasilitas, sehingga akan tercipta lingkungan
belajar yang menyenangkan anak didik.
8) Pembimbing
Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang
telah disebutka di atas adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih
dipentingkan, karena kehadiran guru di sekolah adalah ntuk membimbing
anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap. Tanpa bimbingan,
anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan
dirinya. Kekurangmampuan anak didik menyebabkan lebih banyak
tergantung pada bantuan guru. Tetapi semakin dewasa, ketergantungan
guru sangat diperlukan pada saat anak didik belum mampu berdiri sendiri
(mandiri).
9) Demonstrator
Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru ialah bahwa iia
sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus belajar terus menerus .
dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu
pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai
pengajar dan demonstrator sehingga mampu memperagakan apa yang
diajarkannya secara didaktis. Maksudnya ialah agar apa yang
disampaikannya itu betul-betul dimiliki oleh anak didik.7
Tidak semua bahan pelajaran dapat anak didik pahami. Apalagi
anak didik yang memiliki intelegensi yang sedang. Untuk bahan pelajaran
yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha dengan
membantunya, dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara
didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman
anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dan anak didik.
Tujuan pengajaranpun dapat tercapai dengan efektif dan efisien.
10) Pengelola kelas
Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas
dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan
guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas yang
dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif.
Sebaliknya, kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menghambat
kegiatan pengajaran.
11) Mediator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk
dan jenisnya, baik media material maupun materiil. Media berfungsi
sebagai alat komunikasi guna mngefektifkan proses interaksi edukatif.
Keterampilan menggunakan semua media itu diharapkan dari guru yang
disesuaikan dengan pencapaian tujuan pengajaran. Sebagai mediator, guru
dapat diartikan sebagai penengah dalam proses belajar anak didik. Dalam
diskusi guru dapat berperan sebagai penengah, sebagai pengatur lalu lintas
jalannya diskusi. Kemacetan jalannya diskusi akibat anak didik kurang
mampu mencari jalan keluar dari pemecahan masalahnya, dapat guru
tengahi, bagaimana menganalisis permasalahan agar dapat diselesaikan.
Guru sebagai mediator dapat juga diartikan penyedia media.
12) Supervisor
Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu,
memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
Teknik-teknik supervise harus guru kuasai dengan baik agar dapat
melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik.
13) Evaluator
Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator
ekstrinsik dan intrinsik. Penilaian terhadap aspek intrinsik lebih
menyentuh pada aspek kepribadian anak didik, yakni aspek nilai. Sebagai
evaluator, guru tidak hanya menilai produk (hasil pengajaran), tetapi juga
menilai proses (jalannya pengajaran). Dari kedua kegiatan ini akan
mendapatkan umpan balik (feedback) tentang pelaksanaan interaksi
edukatif yang telah dilakukan.8
Menurut Adams dan Dikley bahwa peran guru adalah :
a) Guru sebagai pengajar (teacher as an instructor)
b) Guru sebagai pembimbing (teacher as a cuonsellor)
c) Guru sebagai pemimpin
d) Guru sebagai ilmuwan (teacher as a scientist)
e) Guru sebagai pribadi (teacher as a person)
f) Guru sebagai penghubung (teacher as a communicator)
g) Guru sebagai modernisator/pembaharu
h) Guru sebagai pembangun (teacher as a constructor)
1. Guru sebagai pengajar (teacher as an instructor)
Guru bertugas memberikan pengajaran di dalam sekolah (kelas). Ia
menyampaikan pelajaran agar peserta didik memahami dengan baik semua
pengetahuan yang telah disampaikan itu. Selain itu ia juga berusaha agar
terjadi perubahan sikap, ketrampilan, kebiasaan, hubungan social,
apresiasi, dan sebagainya melalui pengajaran yang diberikannya.
2. Guru sebagai pembimbing (teacher as a cuonsellor)
Guru berkewajiban memberikan bantuan kepada peserta ddidik
agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, memecahkan
masalahnya sendiri, mengenal diri sendiri, dan menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Para peserta didik membutuhkan bantuan guru dalam hal
mengatasi kesulitan-kesulitan pribadi, kesulitan pendidikan, kesulitan
memilih pekerjaan, kesulitan dalam hubungan social, dan interpersonal.
3. Guru sebagai pemimpin
Sekolah dan kelas adalah suatu organisasi, di mana peerta didik
adalah sebagai pemimpinnya. Guru berkewajiban mengadakan supervisi
atas kegiatan belajar peserta didik, membuat rencana pengajaran bagi
kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya, melakukan
manajemen kelas, megatur disiplin kelas secara demokratis. Dengan
kegiatan manajemen ini guru ingin menciptakan lingkungan belajar yang
serasi, menyenangkan dan merangsang dorongan belajar para anggota
kelas. Tentu saja peranan sebagai pemimpin menuntut kualifikasi tertentu,
antara lain kesanggupan menyelenggarakan kepemimpinan, seperti
merencanakan, melaksanakan, mengorganisasi, mengkoordinasi kegiatan,
mengontrol, dan menilai sejauh mana rencana telah terlaksana. Selain dari
itu, guru harus punya jiwa kepemimpinan yang baik, seperti : hubungan
social, kemampuan berkomunikasi, ketenagaan, ketabahan, humor, tegas
dan bijaksana.
Guru dipandang sebagai orang yang paling berpengetahuan. Dia
bukan saja berkewajiban menyampaikan pengatehuan yang dimilikinya
kepada peserta didik, tetapi juga berkewajiban mengembangkan
pengetahuan itu dan terus menerus memupuk pengetahuan yang telah
dimilikinya. Dalam abad ini, di mana pengetahuan dan teknologi
berkembang dengan pesat, guru harus mengikuti dan menyesuaikan diri
dengan perkembangan tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan,
misalnya : belajar sendiri, mengadakan penelitian, mengikuti kursus,
mengarang buku, dan membuat tulisan-tulisan ilmiah sehingga peranannya
sebagai ilmuwan terlaksana dengan baik.
5. Guru sebagai pribadi (teacher as a person)
Sebagai pribadi setiap guru harus memiliki sifat-sifat yang
disenangi oleh peserta didiknya, oleh orang tua, dan oleh masyarakat.
Sifat-sifat itu sangat diperlukan agar ia dapat melaksanakan pengajaran
secara efektif. Karena itu guru wajib berusaha memupuk sifat-sifat
pribadinya sendiri (intern) dan mengembangkan sifat-sifat pribadi yang
disenangi pihak luar (ekstern).
6. Guru sebagai penghubung (teacher as a communicator)
Sekolah berdiri di antara dua lapisan, yakni di satu pihak
mengemban tugas menyanpaikan dan mewariskan ilmu, teknologi, dan
kebudayaan yang terus menerus berkembangan dengan lajunya, dan di lain
pihak ia bertugas menampung aspirasi, masalah, kebutuhan, minat dan
peranannya sebgai penghubung di mana guru berfungsi sebagai pelksana.
Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menghubungka
sekolah dan masyarakat, antara lain dengan public relation, bulletin,
pameran, dan sebagainya. Karena itu ketrampilan guru dalam tugas-tugas
ini senantiasa perlu dikembangkan.
7. Guru sebagai modernisator/pembaharu
Pembaharuan dalam masyarakat terjadi berkat masuknya
pengaruh-pengaruh dari ilmu dan teknologi modern, yang dating dari
Negara-negara yang sudah berkembang. Masuknya pengaruh-pengaruh itu
ada yang secara langsung ke dalam masyarakat dan ada yang melalui
lembaga pendidikan (sekolah). Guru emegang peranan sebagai
pembaharu, oleh karena melalui kegiatan guru penyampaian ilmu dan
teknologi, contoh-contoh yang baik dan lain-lain maka akan menanamkan
jiwa pembaruan di kalangan peserta didik.
8. Guru sebagai pembangun (teacher as a constructor)
Sekolah turut serta memperbaiki masyarakat dengan jalan
memecahkan masalah-maslah yang dihadapi oleh masyarakat dan dengan
turut melakukan kegiatan-kegiatan pembangunan yang sedang
dilaksanakan oleh masyarakat itu. Guru baik sebagai pribadi maupun
sebagai guru professional dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada
untuk membantu berhasilnya rencana pembangunan masyarakat, seperti :
kegiatan keluarga berencana, bimas, koperasi, pembangunan jalan-jalan
masyarakat lebih bergairah untuk membangun. Dan di pihak lain akan
lebih mengambangkan kualifikasinya sebagai guru.9
4. Tugas Dan Tanggung Jawab Guru Agama Sebagai Pendidik
Jabatan guru mempunyai banyak tugas, baik yang terikat dalam dinas
dalam bentuk pengabdian. Apabila dikelompokkan ada tiga jenis tugas, ketiga
jenis itu meliputi :
a. Tugas guru dalam bidang profesi.
Tugas guru sebagai profesi meliputi : mendidik, mengajar, dan melatih
anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Mendidik berarti
meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti
meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada
anak didik. Sedangkan melatih berarti mengembangkan
keterampilan-keterampilan pada siswa.
b. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan.
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat
menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik
simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang
diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar.
Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka
kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih
pengajarannya itu kepada para siswanya. Para siswa akan enggan
menghadapi guru yang tidak menarik. 10
c. Tugas guru dalam bidang kemasyarakatan.
Di bidang kemasyarakatan guru memiliki peranan penting, yaitu
mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia
yang bermoral Pancasila.11
Menurut Roestiyah N. K bahwa guru dalam mendidik anak didik
bertugas untuk : 12
1. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian,
kecakapan, dan pengalaman-pengalaman.
2. Membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai dengan cita-cita dan
dasar negara Pancasila.
3. Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai dengan
Undang-undang Pendidikan.
4. Sebagai perantara dalam belajar.
Di dalam proses belajar guru hanya sebagai perantara/medium,
anak didik harus berusaha sendiri mendapatkan suatu pengertian/insight,
sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan, tingkah laku dan sikap.
Al-Ghozali mengatakan bahwa tugas pendidik yang utama adalah
menyempurnakan, membersihkan, menycikan serta membawakan hati
10 Moh. Uzer Usman, op.cit., hal. 7
manusia untuk bertaqarrub kepada Allah swt. Hal tersebut karena pendidikan
adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah.13
Sedangkan tanggung jawab guru adalah sebagai berikut :
1. Guru harus menuntut para peserta didik belajar
Tanggung jawab guru yang terpenting adalah merencanakan dan menuntut
para peserta didik melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Guru harus
membimbung peserta didik agar mereka memperoleh keterampilan
keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan,
kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan perkembangan sikap yang serasi.
2. Turut serta membina kurikulum sekolah
Sesungguhnya guru merupakan key person yang peling mengetahui
tentang kebutuhan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan
peserta didik. Karena itu sewajarnya apabila dia turut aktif dalam
pembinaan kurikulum di sekolahnya. Untuk mengubah kurikulum itu tentu
tak mungkin, akan tetapi dalam rangka membuat atau memperbaiki
proyek-proyek pelaksanaan kurikulum, yang berhubungan dengan tugas
dan tanggung jawabnya, tentu sangat diperlukan. Paling tidak dia
berkewajiban memberi saran-saran yang berguna demi penyempurnaan
kurikulum kepada pihak yang berwenang.
3. Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak, jasmaniah)
Memompakan pengetahuan kepada peserta didik kiranya bukan pekerjaan
yang sulit. Tetapi membina siswa agar menjadi manusia berwatak
(berkarakter) sudah pasti bukan pekerjaan yang mudah. Mengembangkan
watak dan kepribadiannya, sehingga mereka memiliki kebiasaan, sikap,
cita-cita, berpikir, dan berbuat, berani dan bertanggung jawab, ramah dan
mau bekerja sama, bertindak atas dasar nilai-nilai moral yang tinggi,
semuanya menjadi tanggung jawab guru.
4. Memberikan bimbingan kepada peserta didik
Bimbingan kepada peserta didik agar mereka mampu mengenal dirinya
sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mampu menghadapi kenyataan
dan meiliki stamina emosional yang baik, sangat diperlukan. Mereka perlu
diimbing kea rah terciptanya hubungan pribadi yang baik dengan
temannya di mana perbuatan dan perkataan guru dapat menjadi contoh
yang hidup.
5. Melakukan diagnosis atas kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas
kemauan belajar
Guru bertanggung jawab menyesuaikan semua situasi belajar dengan
minat, latar belakang, dan kematangan peserta didik. Juga bertanggung
jawab mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar dan kemajuan belajar
serta melakukan diagnosis dengan cermat terhadap kesulitan dan
kebutuhan siswa.
Sebagai seorang yang bergerak di bidang keilmuan (scientist) bidang
pendidikan maka ia harus senantiasa memperbaiki cara bekerjanya. Tidak
cukup sekedar melkukan pekerjaan rutin saja, melainkan harus juga
erusaha menghimpun banyak data melalui penelitian yang kontinyu dan
intensif.
7. Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif
Guru tak mungkin melaksanakan pekerjaanya secara efektif, jikalau ia
tidak mengenal masyarakat seutuhnya dan secara lengkap. Harus dipahami
dengan baik tentang pola kehidupan, kebudayaan, minat, dan kebutuhan
masyarakat, karena perkembangan sikap, minat, aspiasi anak sangat
banyak dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya. Ini berarti bahwadengan
mengenal masyarakat, guru dapat mengenal siswa dan menyesuaikan
pelajarannya secara efektif.
8. Menghayati, mengamalkan, dan mengamankan pancasila
Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa yang mendasari semua
sendi-sendi hidup dan kehidupan nasional. Guru tak mungkin mndidik
siswa menjadi manusia pancasilais, jikalau guru sendiri tidak memiliki
kepribadian pancasila. Kepribadian guru adalah menjadi contoh atau
model bagi siswa.
9. Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan
perdamaian dunia
Guru bertanggung jawab untuk mempersiapkan siswa menjadi warga yang
kesatuan sebagai bangsa. Perasaan demikian dapat tercipta apabila para
peserta didik saling menghargai, mengenal daerah, masyarakat, adapt
istiadat, seni budaya, sikap, hubungan-hubungan social, keyakinan,
kepercayaan, peninggalan-peninggalan histories setempat, keingina, dan
minat dari daerah-daerah lainnya di seluruh nusantara. Dengan
pengenalan, pemahaman yang cermat maka akan tumbuh rasa persatuan
dan kesatuan bangsa.
10. Turut menyukseskan pembangunan
Pembangunan adalah cara yang paling tepat guna membawa masyarakat
ke arah kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Pada garis besarnya
pembangunan itu meliputi pembangunan dalam bidang mental spiritual
dan bidang fisik materiil. Turut serta dalam kegiatan-kegiatan
pembangunan yang sedang berlangsung dalam masyarakat termasuk
tanggung jawab guru yang efektif. Tentu saja partisipasi itu dapat
dilaksanakan dalam bentuk yang terbatas dan dapat pula dalam arti luas.
Terbatas misalnya membersihkan halaman, menjaga kebersihan daerah,
dan lain-lain. Dalam arti luas, misalnya: selaku pendidik, guru membantu
menciptakan para siswa menjadi manusia seutuhnya.
11. Tanggung jawab meningkatkan peranan professional guru
Bertitik tolak dari tanggung jawab guru seperti telah dikemukakan di atas
maka dengan demikian guru sangat perlu meningkatkan peranan dan
yang dimiliki oleh guru maka kiranya sulit bagi guru tersebut mengemban
tanggung jawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya.14
5. Kode Etik Guru
Jika istilah “Kode etik” dikaji lebih dalam, maka terdiri dua kata,
yakni “Kode” dan “etik”. Perkataan “etik” berasal dari bahasa Yunani,
“ethos” yang berarti watak, adab atau cara hidup. Dapat diartikan bahwa etik
itu menunjukkan “cara berbuat yang menjadi adat, karena persetujuan dari
kelompok manusia”. Dan etik biasanya dipakai untuk pengkajian sistem
nilai-nilai yang disebut “kode”, sehingga terjemalah apa yang disebut “kode etik”.
Atau secara harfiah “kode etik” berarti sumber etik. Etika artinya tata susila
(etika) atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan
suatu pekerjaan. Jadi, “kode etik guru” diartikan sebagai “aturan tata susila
keguruan”. Menurut Westby Gibson, kode etik (guru) dikatakan sebagai suatu
statemen formal yang merupakan norma (aturan tata susila) dalam mengatur
tingkah laku guru.15
Muhaimin dan Abdul Mudjib mengatakan, kode etik guru adalah
norma-norma yang mengatur hubungan kemanusiaan (hubungan
relationships) antara pendidi dan anak didik, orang tua anak didik, koleganya
serta dengan atasannya.16
Di dalam Undang-Undang Guru Dan Dosen (UU RI No. 14 Th. 2005)
pasal 43 pasal I dan 2 disebutkan :
14Wawasan Tugas Guru Dan Tenaga Kependidikan, op.cit., hal. 76-83 15 Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hal. 49-50
1) Untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam
pelaksanaan tugas keprofesionalan, organisasi profesi guru membentuk
kode etik.
2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi norma dan etika
yangmengikat perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan.17
Berikut akan dikemukakan kode etik guru Indonesia yang sebagai hasil
dari rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal 21 sampai dengan 25
November 1973 di Jakarta, terdiri dari sembilan item, yaitu :
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk
manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
2. Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai
dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi
tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk
penyalahgunaan.
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan
dengan orang tua anak didik sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya
maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan
meningkatkan mutu profesinya.
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru, baik
berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
8. Guru secara hukum bersama-sama memelihara, membina dan
meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana
pengabdiannya.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan
pemerintah dalam bidang pendidikan.
Kode etik tersebut merupakan suatu pedoman yang dapat mengatur
segala perbuatan guru, juga merupakan barometer dari segala sikap guru
dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam keluarga, sekolah maupun
masyarakat.
B. TINJAUAN TENTANG MEDIA PEMBELAJARAN PAI
1. Pengertian Media Pembelajaran PAI
Kata media merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah
berarti tengah, pengantar atau perantara. Dalam bahasa Arab, media adalah
perantara (لئاسو) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.18
Untuk lebih memahami pengertian media, penulis mengemukakan
beberapa pendapat menurut para ahli sebagai berikut :
a) Menurut AECT (Association For Educational Communication And
Technology), media merupakan segala bentuk dan saluran yang
digunakan dalam proses penyampaian informasi.19
b) Heinich dan kawan-kawan mengemukakan istilah medium sebagai
perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima.
c) Hamidjojo memberi batasan media sebagai suatu bentuk perantara
yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide
atau gagasan atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang
dikemukakan itu sampai epada penerima yang dituju.
d) menurut NEA (education association), media adalah benda yang dapat
dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta
instrument yang dipergunakandengan baik dalam kegiatan belajar
mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.20
Setelah mengenal adanya berbagai pengertian media yang
dikemukakan beberapa ahli media, berikut ini dikemukakan pengertian media
pembelajaran, yang dalam kepustakaan asing ada sebagia ahli yang
menggunakan istilah Audio-Visual Aids (AVA).
Adapun media pembelajaran menurut para ahli pendidikan yaitu antara
lain :
a. Menurut Gagne dan Briggs, media pembelajaran meliputi alat yang secara
fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri
antara lain buku, tape recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar,
grafik, televise, dan computer.21
b. Menurut Roestiyah, media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang
dipergunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan
interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan
pengajaran di sekolah.22
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
pendidikan dari pengirim (guru) ke penerima (siswa) yang dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sehingga dapat mendorong
terjadinya proses belajar pada diri penerima pesan (siswa). Sedangkan media
pembelajaran PAI adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan pendidikan agama Islam dari guru kepada siswa yang
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sehingga
dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
2. Macam-Macam Media Pembelajaran PAI
Menurut Oemar Hamalik, ada 4 klasifikasi media pengajaran, yaitu :
1) Alat-alat visual yang dapat dilihat, misalnya film strip, transparansi, micro
projection, papan tulis, buletin board, gambar-gambar, ilustrasi, chart,
grafik, poster, peta dan globe.
2) Alat-alat yang bersifat auditif atau hanya dapat didengar, misalnya :
phonograph record, transkripsi electris, radio, rekaman pada tape recorder.
3) Alat-alat yang bisa dilihat dan didengar, mislanya film dan televisi,
benda-benda tiga dimensi yang biasanya dipertunjukkan, misalnya : model,
spicemens, bak pasir, peta electris, koleksi diodrama.
4) Dramatisasi, bermain peranan, sosiodrama, sandiwara boneka, dan
sebagainya.
Menurut Gerlach, media dapat diklasifikasikan menjadi 8 (delapan)
kategori, yaitu:
1) Real things, yakni manusia, benda yang sesungguhnya (bukan gambar atau
model), dan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Pengajar adalah media
peling utama dalam proses pembelajaran. Sedangkan kertas, ruangan,
buku tulis adalah benda (media) yang dipergunakan oleh peserta didik
untuk mencatat atau menulis apa yang diterapkan dan didemonstrasikan
oleh pengajar.
2) Verbal representations, adalah media tulis/cetak, misalnya buku teks,
referensi, dan bahan bacaan lainnya.
3) Graphic representations, adalah misalnya chart, diagram, gambar, atau
lukisan. Alat-alat ini mungkin dipakai dalam buku teks atau bahan bacaan
lain, pada display, transparancy overhead projection, instructional
program, workbooks, slide, film, strip, dan media visual lainnya.
4) Still picture, seperti foto, slide, film strip, overhead projection
transparancy. Still picture kadang-kadang hitam putih kadang-kadang
5) Motion picture, adalah film (movie), televisi, video tape dengan atau tanpa
suara, diambil dari kejadian sebenarnya ataupun dibuat dari gambar
(graphic representations), animasi, dan lain-lain.
6) Audio recording, seperti pita kaset, reel tape, piringan hitam, sound track
pada film ataupun pita pada video tape. Yang termasuk media audio ini
tidak hanya yang berupa rekaman tetapi audio yng life, seperti telepon,
radio broadcasting, CB (citizen band) terutama untuk distance learning,
telex, facsimile, teleconference dan teleprint.
7) Programming, adalah kumpulan informasi yang berurutan. Program bisa
berbentuk verbal (buku teks), visual maupun audio. Misalnya kumpulan
pilihan buku teks dan bahan bacaan yang dijadikan suatu program slide,
film strip, film, TV, atau video tape.
8) Simulations, yang terkenal dengan istilah simulation and game, yaitu suatu
permainan yang menirukan kejadian yang sebenarnya. Misalnya pelajaran
menyetir mobil sebelum peserta didik praktik dengan mobil yang
sebenarnya, ia dilatih seolah-olah menyetir mobil yang sebenarnya tanpa
mempergunakan mobil.23
Schramm memandang media dari segi kerumitan dan besarnya biaya.
Dia membedakan antara media rumit dan mahal (big media), media sederhana
dan murah (little media). Dia juga mengelompokkan menurut daya liputnya
menjadi media massal, kelompok, media individual.
Menurut Dr. Winarno Surakhmad M.Sc. ED, alat-alat pelajaran
(ditinjau dari tingkatan pengalaman murid) dapat dibagi dalam 3 golongan :
1. alat-alat yang merupakan benda-benda sebenarnya yaitu benda-benda riil
yang dipakai manusia dalam kehidupan sehari-hari, kotak, kucing, kapur
dan sebagainya.
2. alat-alat yang merupakan benda pengganti, seringkali dalam bentuk tiruan
benda yang sebenarnya, gambar-gambar.
3. bahasa baik lisan maupun tulisan, bahasa memberikan pengalaman verbal
yang tinggi tingkat abstraksinya dibandingkan dengan no. 1 dan 2 tersebut
di atas.24
Berdasarkan macam-macam media tersebut di atas, pengelompokan
media dilakukan atas dasar pertimbangan dan kepentigan yang berbeda. Dan
sampai saat ini belum ada kesepakatan tentang taksonomi media yang
mencakup segala aspek dan berlaku secara umum, khususnya untuk satu
sistem pembelajaran.
3. Fungsi Dan Manfaat Media Pembelajaran PAI
Media merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan proses belajar
mengajar, yang memiliki beberapa fungsi. Roestiyah nk menyatakan, ada
beberapa fungsi media pendidikan, yaitu :
a) Fungsi edukatif, artinya dengan media pendidikan ini dapat memberikan
pengaruh baik yang mengandung nilai-nilai pendidikan. Pengaruh ini
berguna bagi diri sendiri maupun masyarakat.
b) Fungsi sosial, artinya dengan alat media ini hubungan antara pribadi anak
dapat lebuh baik lagi, sebab mereka secara gotong royong dapat
bersama-sama mempergunakan alat media itu dengan teman-temannya
c) Fungsi ekonomis, artinya dengan satu macam alat media pendidikan sudah
dapat dinikmati oleh sejumlah anak didik dan bisa dipergunakan sepanjang
waktu. Dapat mengurangi pemborosan tenaga manusia, sebab pada
pelajaran-pelajaran tertentu tidak perlu disajukan/diberikan oleh
guru/mahasiswa tetapi cukup dengan AVA.
d) Fungsi politis, artinya dengan media pendidikan ini berarti sumber
pendidikan atau yang lain yang berasal dari pusat akan sampai di
daerah-daerah bahkan sama di tiap sekolah. Sehingga tidak terdapat
penyimpangan-penyimpangan yang berarti antara pelaksanaan di daerah
dengan di pusat.
e) Fungsi seni (budaya), artinya dengan adanya media pendidikan ini berarti
kita bisa mengenalkan bermacam-macam hasil budaya manusia sehingga
pengetahuan anak tentang nilai-nilai budaya manusia makin lama makin
bertambah.25
Basyiruddin Usman mengatakan bahwa media pengajaran mempunyai
fungsi :
1. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan membantu memudahkan
mengajar bagi guru.
2. Memberikan pengalaman lebih nyata (yang abstrak dapat menjadi konkrit)
3. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya pelajaran tidak
membosankan)
4. Semua indera murid dapat diaktifkan. Kelemahan satu indra dapat
diimbangi oleh kekuatan indra lainnya.
5. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar
6. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.26
Levie & Lentz mengemukakan empat fungsi media pengajaran,
khususnya media visual, yaitu :
a) Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa
untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan
makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi
pelajaran.
b) Fungsi afektif, yang dapat dilihat dari tingkat kenikmatan siswa
ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau
lambang visual dapat menggugahemosi dan sikap siswa, misalnya
informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
c) Fungsi kognitif, terlihat dari temuan-temuan penelitian yang
mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar
pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau
pesan yang terkandung dalam gambar.
d) Fungsi kompensatoris, terlihat dari hasil penelitian bahwa media
visual yang memberikan konteks untuk mamahami teks membantu
siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan