PAK TABAH, HUMANISME DAN SENI
Seni berpendar layaknya permata sunyi. Di tengah padang pasir pun ia akan selalu menghidupkan keeksistensian dirinya. Bagi seni, menjadi hal yang berbeda bukanlah suatu masalah, sebab ia adalah viralitas idealisme dalam pengaktualisasian konsep humanisme.
Tabah Yuli Raharjo, adalah alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan masuk 1983. Tabah adalah seorang penggiat seni dan lingkungan hidup yang juga merupakan penggagas Economic Jazz Live (EJL) bersama Tony Prasetiantono dan Anggito Abimanyu. Tabah juga berkesempatan untuk memamerkan karya seninya pada Equilibrium Annual Activity (Equality) 2015 lalu. Ditemui di kediamannya di daerah Pojok Benteng Kulon, Tabah mendedikasikan waktunya untuk diwawancarai lebih dalam tentang pengalaman hidupnya yang unik, pemikiran filosofisnya, dan pandangan
pribadinya terhadap isu-isu humanisme terkait dengan seni dan lingkungan hidup.
Pak Tabah, bagaimanakah pengalaman hidup bapak semasa kuliah dulu?
Kuliah adalah hal paling berkesan dalam hidup saya. Saat kuliah dulu, banyak hal yang menghantarkan saya pada jalan yang lurus, positif, dan bermanfaat bagi sesama. Sebelum kuliah di UGM, saya adalah siswa SMA N 1 Semarang yang berbeda dari teman-teman saya lainnya. Gaul bagi saya adalah meminum minuman keras. Kebiasaan itu saya bawa hingga saat saya merantau ke Yogyakarta.
Awalnya, pilihan saya adalah melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) jurusan desain interior. Tetapi yang diminta adalah lulusan dari jurusan IPA, sedangkan saya dari IPS. Akhirnya, saya menginjakkan kaki di jurusan Manajemen FEB UGM. Di situlah saya mendapatkan teman-teman yang luar biasa, aktivis-aktivis seni dan lingkungan di Pecinta Alam Mahasiswa Ekonomi (Palmae). Selanjutnya, saya melebarkan sayap pergaulan dengan para
‘penghuni’ Gelanggang Mahasiswa. Meski tidak terikat dengan salah satu unit kegiatan mahasiswa di gelanggang, saya dekat dengan Mahasiswa Pecinta Alam Gadjah Mada (Mapagama). Kalau dipikir, pergaulan saya banyak ditemani oleh orang-orang pecinta alam. Kejujuran dan idealisme mereka yang membuat saya tertarik. Pergaulan itu membuahkan banyak event dan kegiatan yang saya lakukan, sehingga candu minuman keras itu lama kelamaan menghilang.
Saya masih ingat atmosfer UGM sebagai kampus kerakyatan saat itu. Menjadi salah satu ketua panitia dalam Gadjah Mada Fair merupakan salah satu
pengalaman yang sangat berkesan. Di Jogja, belum pernah ada acara sebesar itu. Gadjah Mada Fair sendiri merupakan bazaar kesenian rakyat dan pasar rakyat. Kalau sekarang mungkin sejenis Sekaten dan Festival Kesenian
Boulevard, dan lain-lain. Ada sekitar 30 panggung kesenian. Ada panggung untuk band, keroncong, wayang, tari, teater, dan kethoprak. Waktu itu panitia
membedakan antara seni tradisional dengan seni kontemporer, yang dibedakan lagi menjadi seni teater dan musik.
Setelah saya aktif membentuk event konser musik di luar FEB, setahun kemudian saya dipanggil oleh Tony Prasetiantono. Saat itu ia dikenal sebagai dosen muda yang juga penyuka jazz bersama dengan Anggito Abimanyu. Mereka berdua menunjuk saya menjadi bagian dari lima steering committee untuk
Economic Jazz Live (EJL). Kegiatan itu berlangsung di Kridosono dan cukup meriah dengan bintang tamu Ruth Sahanaya, Tri Utami, Karimata Band, dan lainnya. Sayangnya EJL pertama kami mengalami defisit, tetapi alhamdulillah
dapat ditutupi dengan kerja ‘rodi’ kami bersama dengan proyek penelitian Mas Tony dan Anggito, ha-ha. Mengingat kerja keras dan pengalaman melelahkan itu, rasanya sangat menyenangkan. Walaupun rugi pada awalnya, nama EJL di luar sangat bagus karena terselenggara rapi dan transparan.
Selain itu, UGM adalah kampus yang sangat open space terhadap masyarakat umum sehingga semua orang bisa menikmati. Makanya, dulu saya bermimpi mengadakan pertunjukan yang open space di lembah sebelum lulus. Sayangnya, belum kesampaian. Hal yang kesampaian adalah saya dan teman-teman
gelanggang dan ISI membuat workshop seni rupa kompilasi dari lima seniman Belanda dan lima seniman Indonesia. Itu bagus sekali, sebab citra UGM yang berbau sains saat itu, mahasiswanya dapat membuat event yang bersifat seni dan bercita rasa internasional.
Apa kegiatan Bapak setelah lulus dari FEB UGM?
Setelah lulus, saya bekerja dengan dosen-dosen FEB UGM. Banyak proyek-proyek seperti pemberdayaan masyarakat, perbaikan lingkungan hidup, dan penyadaran lingkungan kepada masyarakat. Sementara itu, saya tetap melakukan hobi saya dalam bermusik dan melukis di sela-sela kegiatan saya. Kedua kegiatan tersebut adalah hiburan untuk diri sendiri, semacam kepuasan jiwa dan batin.
Saya ingat, sewaktu SMP dulu, saya pernah ditanya oleh guru seni rupa saya. Mau jadi apa besok setelah dewasa? Karyamu bagus. Apa mau jadi pelukis? Saya bingung menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian beliau berkata kepada saya, “Jadilah apa saja yang dapat melukis. Jadilah dokter yang suka melukis. Direktur yang suka melukis. Presiden yang suka melukis. Hidupi hidupmu dengan apa saja, hidupi jiwamu dengan melukis.”
Bagaimana pendapat Pak Tabah dengan profesi seniman? Apakah seniman merupakan profesi tunggal?
Saya pernah membuat lukisan yang saya beri judul “Kotak Teknis”. Lukisan tersebut bercerita bahwa pola pikir manusia ini sudah seperti terkotak-kotak, secara teknisnya. Dapat kita lihat misalnya, di FEB, mahasiswa Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi seolah-olah ada di kotaknya masing-masing. Padahal sesungguhnya dalam kehidupan nyata, ilmu itu tidak ada sekatnya. Demikian pula dengan profesi, tidak ada sekatnya.
Sebenarnya, sekat itu berfungsi untuk menyederhanakan kita untuk belajar. Nyatanya, pada kehidupan sehari-hari tidak ada sekat. Misalkan, tentu tidak ada pengusaha yang sangat fokus pada uang dan tidak mau peduli dengan
kesehatannya. Dalam kehidupan nyata sebagai manusia kita harus belajar ilmu lainnya.
Suatu saat nanti ketika Anda KKN misalnya, Anda pergi ke suatu desa. Apabila yang dimiliki dan diterapkan hanya tentang ekonomi saja, KKN tidak mungkin berjalan. Jadi sebetulnya, semua disiplin ilmu, semua profesi apa pun ketika di dunia nyata itu terkait. Itu menurut saya untuk mengoreksi pendapat umum bahwa orang itu harus memiliki salah satu bentuk profesi.
Sementara itu, ada istilah di sosiologi tentang role atau peran. Kita tidak pernah bisa mempunyai peran tunggal atau single role, sebab kita selalu memiliki
multiple role. Anda sebagai anak dari orangtuamu, tetapi Anda sebagai kakak dari adikmu, juga Anda sebagai teman dari sahabatmu. Konsep itu yang saya keluarkan lewat karya-karya saya. Termasuk yang terakhir, di Equality, dengan berbagai macam wajah kita mengerti bahwa semua itu berbeda-beda, tidak mungkin sama. Itulah hidup, tidak mungkin bisa dipisah-pisahkan atau disama-samakan, sebab itu semua sudah kodrati. Rayakan perbedaan itu, berkumpullah, bekerja samalah.
Lalu bagaimana pandangan Bapak tentang mahasiswa ke depannya?