• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Penelitian dan id bab 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Penelitian dan id bab 1"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KECERDASAN INTRAPERSONAL TERHADAP MINAT WIRAUSAHA MAHASISWA POLITEKNIK LP3I JAKARTA KAMPUS

JAKARTA UTARA

Agung Edi Rustanto, S.Pd LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara Jl. Plumpang Raya Kav. 27, Tanjung Priok

[email protected]

Abstrak

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Kecerdasan Intrapersonal terhadap Minat Wirausaha Mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara”. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui besarnya pengaruh kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara dan mengetahui indikator kecerdasan intrapersonal yang dominan berpengaruh terhadap minat wirausaha mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara.

Metode yang dilakukan dalam penelitin ini yaitu metode penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini yaitu seluruh mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara berjumlah 400 dan teknik sampling yang digunakan yaitu dengan simple random sampling yang menghasilkan sample sebanyak 80 mahasiswa. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner dan analisis data yang digunakan yaitu regresi sederhana.

(2)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara umum perkembangan jumlah populasi manusia khususnya di Indonesia semakin meningkat. Jumlah penduduk di indonesia pada sensus penduduk 2010, mencapai lebih dari 400 juta jiwa. BPS mengumumkan jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 lebih banyak dari 237 juta orang namun tidak akan melebihi 238 juta orang (Wikipedia.org). Jumlah penduduk yang meningkat tersebut tidak diiringi dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mencukupi sehingga membuat jumlah pengangguran juga semakin meningkat. Dalam situs resminya Hata-Rajasa.info (2012), Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan bahwa salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini adalah persoalan pengangguran. Jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan ketersediaan lapangan pekerjaan telah mengakibatkan sebagian dari kita tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Di antara kelompok masyarakat yang belum memiliki penghasilan tetap akibat ketebartasan lapangan kerja adalah kaum muda. Pemuda Indonesia yang memiliki energi dan potensi besar untuk memajukan ekonomi Indonesia justru hanya menghabiskan tenaga dan masa tuanya untuk mencari pekerjaan atau bekerja ditempat yang tidak bisa membuatnya berkembang dan bekerja secara produktif.

(3)

mengatakan, di 2012, angka pengangguran di Indonesia yaitu 6,50 persen, meski turun ia menyatakan, persentase pengangguran di atas tetap tergolong tinggi. Tingkat pengangguran yang tinggi tentu saja membuat perekonomian Indonesia sulit berkembang dan yang lebih perlu diperhatikan adalah ketentraman dan kesejahteraan masing-masing individu yang belum memiliki pekerjaan atau belum memiliki penghasilan tetap. Untuk membuat lapangan pekerjaan yang cukup bagi masyarakat Indonesia memang terbilang sulit dikarenakan jumlah penduduk Indonesia tergolong tinggi sehingga untuk mendapatkan pekerjaan diperlukan persaingan yang ketat. Hal tersebut tentu saja menjadi persoalan berkepanjangan yang terjadi di Indonesia yang sampai sekarang permasalahan tersebut belum terselesaikan secara tuntas.

(4)

Januari-Maret 2013, mencapai 46 kali atau naik 13 kasus dibanding tahun sebelumnya.

Dalam RRI kasus pencurian di Sampang meningkat, seperti yang tertera di buku register pengadilan negeri sampang, selama bulan januari 2013 kasus paling banyak adalah perkara pencurian. Kemudian dalam REPUBLIKA kasus pencurian dengan pemberatan (Curat) di wilayah DIY pada tahun 2013 ini akan mengalami peningkatan, sebab dalam dua pekan terakhir Kepolisian Daerah (Polda) DIY, melalui operasi progo telah menangkap 60 orang pencuri. Dari beberapa paparan aksi kejahatan di beberapa kota di Indonesia yang meningkat salah satunya terjadi karena jumlah pengangguran yang meningkat sehingga oknum aksi kejahatan itu melakukan pencurian atau perampokan untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk mencegah dan mengatasi permasalahan tersebut tidak hanya dari pihak pemerintah saja yang harus bergerak tetapi masyarakat Indonesiapun bisa membantunya.

(5)

bidang Industri dan Perdagangan (dalam Tempo) menyebutkan, syarat dari negara maju salah satunya adalah memiliki jumlah wirausaha minimal 2 persen dari total populasi. "Saat ini, jumlah wirausaha Indonesia masih kurang dari 2 persen atau sebanyak 700 ribu orang, masih dibutuhkan sedikitnya 4 juta wirausaha baru

Untuk menumbuhkan wirausaha di Indonesia sebenarnya tidak sulit karena banyak bidang yang bisa ditekuni untuk menjadi peluang usaha. Di Indonesia juga ada beberapaorang yang pernah menikmati menjadi pengusaha yang sukses yang sekaligus dapat membuktikan bahwa jika berhasil maka dengan berwirausaha seseorang dapat lebih memiliki penghasilan yang banyak. Beberapa tokoh yang telah merasakan menjadi wirausahawan Indonesia yang sukses antara lain Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, Puspo Wardoyo, Jokowi dan Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Untuk menjadi wirausaha memang dibutuhkan kerja keras, tekun, kreatif dan inovatif tanpa berfikir seorang individu adalah keturunan wirausahawan atau bukan. Jokowi dalam media liputan 6 berbagi kiat-kiat untuk menjadi wirausaha yang sukses yaitu pertama inovatif dan kreatif, kedua mampu melihat peluang dan menangkap peluang, ketiga motivasi tinggi dan fokus, keempat konsisten yang akan menimbulkan kepercayaan dan berani mengambil resiko, dan yang kelima adalah memiliki kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi.

(6)

mengembangkan wirausawan di Indonesia dengan beberapa programnya dimana salah satunya adalah membentuk rumah entrepreneur. Kendala dalam mengembangkan wirausaha yang dilakukan oleh LP3I Jakarta adalah minat mahasiswa untuk menjadi wirausaha yang masih kurang. Setelah dilakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa, mereka mengaku bahwa mereka takut gagal seperti para pengusaha yang menghabiskan uangnya untuk modal tanpa meraih untung. Hal tersebut terjadi karena beberapa yang menjadi wirausaha di Indonesia sebagian besar adalah karena terpaksa oleh keadaan bukan karena minat dan perencanaan yang matang sehingga tidak jarang usahanya berujung pada kegagalan dan putus asa. Dari fenomena diatas dapat diketahui bahwa minat yang tinggi, persiapan dan mengasah kemampuan beriwirausaha serta motivasi yang tinggi merupakan langkah yang perlu dilakukan.

(7)

dikembangkan untuk meningkatkan minat wirausaha mahasiswa LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara melalui pelatihan kecerdasan intrapersonal.

B. Perumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah ada pengaruh kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara?

2. Apa pengaruh kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara?

3. Kemampuan kecerdasan intrapersonal apa saja yang berpengaruh terhadap peningkatan minat wirausaha mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara?

4. Apakah visi dan misi pribadi mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara memiliki peranan yang penting dalam pengelolaan kecerdasan intrapersonal?

5. Apa saja kegiatan yang dilakukan agar dapat meningkatkan minat wirausaha mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ilmiah ini bertujuan untuk :

(8)

2. Mengetahui indikator kecerdasan intrapersonal yang dominan berpengaruh terhadap minat wirausaha mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ilmiah yang akan dilakukan penulis ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan.

1. Manfaat akademis

Penelitian ini berguna dalam memberikan pengetahuan untuk mendeteksi dan meningkatkan minat wirausaha.

2. Manfaat dalam implementasi

Penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam meningkatkan minat wirausaha mahasiswa

E. Batasan Masalah

(9)

Landasan Teoritis

A. Kecerdasan Intrapersonal

Menurut Amir Faisal & Zulfanah (2008: 143) kecerdasan intrapersonal mencakup kemampuan seseorang untuk berdialog dengan pikirannya sendiri, gerak hati, suara batinya dan kesadaran dirinya. Menurut Howard Gardner (2004: 48-216) kecerdasan intrapersonal merupakan sebuah dimensi dimana seseorang dapat menilai orang lain secara lebih luas. Pada intinya kecerdasan intrapersonal membutuhkan elemen-elemen berikut : pengatuhan yang baik terhadap diri sendiri, siapa dirinya, apa kekuatannya dan kelemahannya, apa tujuannya, dan apa cara yang terbaik untuk mencapainya; bagaimana membangun kesuksesan dirinya; bagaimana belajar dari berbagai pengalaman yang telah terjadi apapun hasilnya, memiliki karakter mental yang akurat tentang dirinya sebagai manusia baik secara individu maupun bersama orang lain, mampu memonitor, dan mampu membawa perubahan pada karakter mentalnya jika diperlukan.

(10)

B. Ciri-ciri Kecerdasan Intrapersonal

Ciri-ciri orang dengan kecerdasan intrapersonal menurut Howard Gardner (2004: 49) adalah

1. Memiliki citra diri yang baik 2. Dapat mengenali perasaan pribadi 3. Dapat mengenali tujuan

4. Dapat mengenali kekuatan 5. Dapat mengenali kelemahan

6. dapat dalam keadaan yang menyenangkan

7. Dapat menggunakan citra diri untuk membuat keputusan baik dalam hidupnya.

Menurut Femi Olivia (2010: 86) ciri-ciri kecerdasan intrapersonal yaitu : 1. Membedakan berbagai macam emosi

2. Mudah mengakses perasaan sendiri

3. Menggunakan pemahamannya untuk memperkaya dan membimbing hidupnya

4. Mawas diri dan suka meditasi 5. Lebih suka kerja sendiri

6. Mampu menyadari dan mengerti arti emosi sendiri dan emosi orang lain 7. Mampu mengungkapkan dan menyalurkan perasaan dan pikiran

8. Mengembangkan konsep diri yang baik dan benar

(11)

11. Mampu bekerja secara mandiri

12. Sangat tertarik dengan pertanyaan arti hidup, tujuan hidup, dan relevansinya dengan keadaan saat ini

13. Mampu mengembangkan kemampuan belajar yang berkelanjutan dan meningkatkan diri

14. Tertarik menerjuni karier sebagai pelatih, konselor, filsuf, psikolog, atau memilih jalur spiritual

15. Mampu menyelami dan mengerti kerumitan suatu pribadi dan kondisi manusia pada umumnya

C. Cara mengembangkan Kecerdasan Intrapersonal

Cara mengembangkan kecerdasan intrapersonal menurut Thomas R. Hoerr (2007: 119)

1. Melakukan kegiatan meliputi survey (untuk memudahkan siswa membandingkan diri dengan orang lain), autobiografi dan jurnal (tidak harus dengan kecerdasan bahasa), grafik pengalaman, portofolio, serta pencanangan tujuan dan monitoring.

(12)

D. Minat Wirausaha

Menurut Endang & Resminingsih (2010: 52) minat adalah kecenderungan dan gairah yang tinggi atau keinginan yang kuat terhadap sesuatu. Menurut Li dalam (Yuli dkk, 2012: 91) Minat menjadi wirausaha didefinisikan sebagai keinginan seseorang untuk bekerja mandiri (self-employed) atau menjalankan usahanya sendiri. Dalam kamus besar bahasa indonesia minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Menurut Suhardi (2007: 7) wirausahawan adalah seseorang yang menciptakan sebuah usaha atau bisnis yang dihadapkan dengan resiko dan ketidakpastian untuk memperoleh keuntungan dan mengembangkan bisnis dengan cara mengenali kesempatan dan memanfaatkan sumber daya yang diperlukan.

Menurut Brad Sugar (dalam Suhardi, 2007: 8) wirausaha adalah sebuah permainan dimana kita harus tahu betul aturan main, lalu menjalankan usaha secara cerdik dan akhirnya menikmati keuntungan. Dalam Essai sur la nature du commerce di Prancis (Bambang Widjajanta: 2007: 93) Kewirausahaan atau entrepreneur merupakan sebutan bagi para pedagang yang membeli barang di daerah-daerah dengan menerapkan harga pembelian untuk dijual secara partai besar maupun secara eceran namun dengan harga yang tidak pasti. Kewirausahaan berasal dari kata wirausaha dimana kata wira berarti utama, gagah, luhur, berani, teladan dan usaha berarti kegiatan untuk mencapai tujuan.

(13)

berprestasi di bidang usaha. Pengertian wirausaha dalam Lampiran Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995 (Bambang Widjajanta: 2007: 94)yaitu orang yang memiliki semangat, sikap, perilaku dan kemampuan berwirausaha sedangkan kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Kewirausahaan menurut Eeng ahman & Epi Indriani (2007: 135) istilahnya berasal dari bahasa Inggris yaitu entrepreneurship yang berarti kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar atau penggerak dalam menghadapi tantangan hidup. Seorang wirausaha adalah seorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan sumber daya ekonomi seperti finansial (keuangan), bahan mentah, dan tenaga kerja untuk mendirikan, mengelola, dan mengembangkan suatu produk dan bisnis baru perusahaan milik sendiri. Seorang wirausaha mampu menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya.

E. Tahap-tahap Wirausaha

(14)

a. Tahap memulai

Tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan ‘’franchising’’. Tahap ini juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri, atau jasa.

b. Tahap melaksanakan usaha

Dalam tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek: pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi

c. Tahap mempertahankan usaha

Tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi

d. Tahap mengembangkan usaha

(15)

Menurut Robert (2008: 11) Proses kewirausahaan memiliki empat tahap yaitu :

1. Tahap identifikasi dan evaluasi peluang 2. Tahap pengembangan rencana bisnis 3. Penetapan sumber daya yang dibutuhkan 4. Manajemen perusahaan yang dihasilkan

Pada tahap pertama adalah proses pembuatan perencanaan disertai pertimbangan prospek dari wirausaha yang dijalankan, pada tahap kedua yaitu tindak lanjut perencanaan yang sudah matang dengan mulai proses untuk menjalankan wirausaha, pada tahap ketiga sudah mulai bergerak pada sistem manajemen dari wirausaha yang dijalankan termasuk SDM yang dibutuhkan kemudian pada tahap terakhir sudah berjalannya wirausaha yang diserti dengan adanya pendapatan dan pengeluaran atau untung dan ruginya usaha.

Jati Sutomo (2007: 89) Proses kewirausahaan berdasarkan pendekatan seumur hidup memiliki tiga tahap yaitu :

1. Tahap dasar

(16)

2. Tahap pengembangan pengetahuan dan keterampilan

Pada tahap ini diharapkan dapat mulai mempelajari bahasa bisnis dan melihat masalah dari sudut pandang pemilik usaha kecil.

3. Tahap pengembangan rencana bisnis

Pada tahap ini seseorang dapat mengeksplorasi berbagai ide bisnis dan beragam cara untuk merencanakan bisnis. Pada tahap ini harus memperoleh pengetahuan yang lebih luas dan dalam dari tahap sebelumnya. Tahap ini akan merangsang untuk mengkreasi suatu ide bisnis yang unik dan mengembangkannya menjadi suatu rencana ide bisnis yang unik dan mengembangkannya menjadi suatu rencana bisnis yang lengkap.

Dalam Wikipedia Ciri-ciri seorang wirausaha adalah: 1. Percaya diri

2. Berorientasikan tugas dan hasil

3. Berani mengambil risiko

4. Kepemimpinan

5. Keorisinilan

6. Berorientasi ke masa depan

7. Jujur dan tekun

(17)

1. Berani mengambil resiko 2. Kreatif

3. Inovatif

4. Mempu menciptakan peluang 5. Mampu melihat peluang 6. Hemat

7. Menguasai bidang yang digeluti 8. Bekerja secara efisien

M Tailor (2000: 167) ciri-ciri wirausaha yaitu :

1. Berani mengambil resiko serta mampu memperhitungkan dan berusaha menghindarinya

2. Selalu berupaya mencapai dan menghasilkan karya bakti yang lebih baik untuk langganan, pemilik, pemasok, tenaga kerja, masyarakat, bangsa dan negara

3. Antisipatif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan 4. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar, meningkatkan

produktivitas dan efisiensi

5. Selalu berusaha meningkatkan keunggulan dan mitra perusahaan melalui investasi baru di berbagai bidang.

(18)

Kecerdasarn Interpersonal berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat wirausaha mahasiswa Politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara.

Metode Penelitian

A. Desain Penelitian dan Responden 1. Pen dekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penedekatan penelitian kuantitatif karena data yang dianalisis berupa data angka yang kemudian dideskripsikan. Metode penelitan yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif. Dalam penelitian ini akan menjelaskan pengaruh kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha mahasiswa politeknik LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara.

2. Subyek Penelitian

Suharsimi Arikunto (2006: 129) menyebutkan bahwa subjek penelitian ialah benda, hal atau tempat data untuk variabel penelitian yang melekat dan dipermasalahkan. Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara yang ditentukan dengan teknik random sampling. Rumus Slovin untuk menentukan ukuran sampel minimal (n) jika

(19)

Penelitian ini dilakukan di Kampus LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara.

4. Prosedur Penelitian a. Sebelum penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan beberapa prosedur dalam rangka terlaksananya penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti adalah :

1). Peneliti membuat dan mengajukan proposal penelitian kepada PPM kampus untuk dikoreksi

2). Peneliti memperbaiki proposal yang telah dikoreksi oleh PPM kampus

3). Peneliti Mengajukan proposal yang telah diperbaiki kepada UPPM DIREKTORAT untuk diperbaiki

4). Peneliti memperbaiki proposal dan kemudian mendapatkan surat tugas untuk melakukan penelitian

b. Kegiatan penelitian

(20)

1) Peneliti membuat instrumen penelitian berupa kuisioner, observasi, dan wawancara berdasarkan kisi-kisi kuisioner, pedoman observasi dan pedoman wawancara.

2) Peneliti menguji validitas dan reliabilitas kuisioner yang akan digunakan untuk meneliti

3) Peneliti menentukan subyek penelitian dengan menggunakan teknik random sampling

4) Peneliti melakukan menyebarkan kuisioner kepada subyek penelitian yang digunakan sebagai sumber data utama

5) Peneliti melakukan wawancara dan observasi kepada subyek penelitian sebagai sumber data pendukung

6) Peneliti medeskripsikan hasil penelitian dengan dari data-data yang telah diperoleh.

c. Setelah penelitian

Setelah penelitian selesai dan hasil penelitiannya sudah diperoleh selanjutnya peneliti membuat laporan penelitian dan menyerahkannya ke PPM kampus dan UPPM DIREKTORAT

B. Pengukuran variabel 1. Instrumen penelitian

(21)

digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala(kuisioner).

Menurut sugiyono (2008: 149) penyusunan instrumen dimulai dengan membuat definisi operasional dari variabel penelitian, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrumen, maka perlu digunakan kisi-kisi instrumen.

Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti melakukan penyusunan instrumen mendeskripsikan pengeruh kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha mahasiswa LP3I Jakarta Kampus Jakarta Utara adalah sebagai berikut:

a. Menyusun Skala Pengaruh Kecerdasan Intrapersonal terhadap minat wirausaha

1) Membuat definisi operasional

(22)

baik secara individu maupun bersama orang lain, mampu memonitor, dan mampu membawa perubahan pada karakter mentalnya jika diperlukan.

2) Membuat kisi-kisi kuisioner Tabel 1. Kisi-kisi kuisioner

No Indikator Pernyataan Jumlah

1 Intrapersonal Kemampuan mengenali identitas diri

1,2,3,4,5,6,7 7

Kemampuan mengendalikan dan memotivasi diri

8,9,10,11,12,13, 14,15,16,17,

10

Kemandirian 18,19,20,21, 22,23,24,25

8

2 Minat wirausaha

Percaya diri 26,27,28,29 4 Berorientasikan

tugas dan hasil

30,31 2

Berani mengambil resiko

32,33 2

Kepemimpinan 34,35 2

Keorisinilan 36,37 2

Berorientasi ke masa depan

38,39 2

Jujur dan tekun 40,41 2

(23)

Setiap pernyataan dalam skala dilengkapi 4 pilihan jawaban berupa simtom kecerdasan intrapersonal yang berpengaruh terhadap minat berwirausaha. Skor untuk skala pengaruh kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha yaitu 1, 2, 3, 4. Item skala dapat dilihat pada lampiran.

2. Validitas dan Reliabilitas a. Uji validitas instrumen

Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 168) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Uji validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh instrumen penelitian mampu mencerminkan isi sesuai dengan hal dan sifat yang diukur. Artinya, setiap butir instrumen telah benar-benar menggambarkan keseluruhan isi atau sifat bangun konsep yang menjadi dasar penyusunan instrumen.

(24)

Saifuddin Azwar mengemukakan bahwa menyeleksi item sebagai kriteria pemilihan item berdasarkan korelasi item total, biasanya digunakan batasan r ≥

0,30. Semua item yang mencapai koefesien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan. Batasan ini merupakan suatu konvensi, sehingga penyusun tes boleh menentukan sendiri batasan daya diskriminasi item dengan pertimbangan isi dan tujuan skala yang disusun. Apabila jumlahitem lolos masih belum mencukupi, penyusun boleh menurunkan sedikit batas kriteria misalnya menjadi 0,25, namun menurunkan batas kriteria r dibawah 0,20 sangat tidak disarankan.

Berdasarkan pendapat diatas, peneliti menentukan batas korelasi item r ≥ 0,30 demi tercapainya jumlah item yang seimbang dan mencukupi bagi keperluan penelitian. Setelah dilakukan uji coba instrument, pada skala pengaruh kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha menghadapi Ujian Akhir Semester yang terdapat 60 item diperoleh hasil bahwa korelasi item/internal konsistensi item berada pada rentangan r = 0,214 sampai dengan r = 0, 685 dan item dianggap gugur bila nilai r dibawah 0,30. Dari ke 50 item, terdapat 10 item yang gugur yaitu item 20, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 34dan 42, jadi jumlah item berkurang menjadi 40. Hasil uji validitas dapat dilihat pada lampiran.

(25)

Suatu Instrumen disebut reliable atau handal jika jawaban-jawaban seseorang konsisten (Suharsimi Arikunto, 2006:178). Reliabilitas menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat diandalkan sebagai alat pengumpul dataUntuk uji reliabilitas instrumen, digunakan rumus Alpha dari Cronbach (Burhan Nurdiyanto, dkk. 2003:350) sebagai berikut :

r11=[ k

k−1][1−

Ʃσb2

Ʃσt2]

Keterangan:

r11= reliabilitas instrumen Σσi 2 = Jumlah varian butir k = Banyaknya butir pertanyaan σ2 = Varian total

Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas yang angkanya berkisar antara 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0, berarti semakin rendah reliabilitasnya. Kategori nilai r yaitu : a) Antara 0,800 sampai 1,00 = sangat tinggi

b) Antara 0,600 sampai 0,799 = tinggi

c) Antara 0,400 sampai 0,599 = cukup tinggi d) Antara 0,200 sampai 0,399 = rendah e) Antara 0,800 sampai 0,199 = sangat rendah

(26)

instrumen penelitian memiliki reliabilitas yang tinggi karena berada pada kisaran 0,600 sampai 1.

3. Teknik Analisis Data

a. Jenis teknik analisis data

1) Analisis data statistik deskriptif

Analisis statistik deskriptif dalam penelitian kuantitatif, dilakukan untuk menjawab pertanyaan masalah yang mengarah kepada gambaran variabel yang diteliti, sehingga karakteristik yang dimiliki oleh data tersebut dan gambaran empiris tentang variabel yang diteliti dapat dipahami. Ukuran yang termasuk dalam teknik analisis statistik deskriptif adalah distribusi frekuensi, ukuran tendensi sentral, dan ukuran dispersi.

2) Analisis data inferensial

Analisis statistik inferensial dalam penelitian dilakukan guna membuat kesimpulan yang berlaku umum dimana analisis inferensial dilakukan dalam bentuk pengujian hipotetsis. Hasil pengujian hipotesis inilah yang menjadi dasar pembuatan generalisasi dari sampel bagi populasi.

b. Uji Persyaratan Analisis

(27)

Beberapa teknik yang digunakan dalam penelitian ini untuk uji prasyarat yaitu

1) Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel independen, variabel dependen, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.Model regresi yang baik adalah distribusi normal atau mendekati normal.Data distribusi normal dapat dilihat dari penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik dari pengambilan keputusan.Jika data menyebar disekitar garis diagonal atau mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi normalitas.Begitu pula sebaliknya jika data yang menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi normalitas.

2) Uji Multikolinearitas

Bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen.Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem Multikolinearitas.Model regresi yang baikseharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.

(28)

a) Mempunyai nilai VIF < 10

b) Mempunyai angka TOLERANCE > 10%.

3) Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas, karena data ini menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang, dan besar). Cara menganalisis asumsi Heteroskedastisitas dengan melihat grafik scatter plot dimana : a) Jika penyebaran data pada scatter plot teratur dan membentuk

pola tertentu (naik turun, mengelompok menjadi satu) maka dapat disimpulkan terjadi problem Heteroskedastisitas,

b) Jika penyebaran data pada scatter plot tidak teratur atau menyebar secara acak dan tidak membentuk pola tertentu (naik turun, mengelompok menjadi satu), serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan tidak terjadi problem Heteroskedastisitas.

c. Pengujian Kriteria Statistik

(29)

a. Analisis regresi sederhana

Tujuan digunakannya analisis regresi linier berganda ini adalah untuk mengetahui apakah variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat

Y = a + bX Keterangan : a = konstanta

b = Koefisien regresi d. Uji Hipotesis

1) Uji statistik t

Tujuan dari uji statistik t ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen.

Hipotesis nol (H0) yang hendak diuji adalah apakah suatu parameter (β1) sama dengan nol, atau H0 : β1 = 0 yang artinya adalah apakah suatu variabel independen bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatifnya (Ha), parameter suatu variabel tidak sama dengan nol, atau H0 : β ≠ 0 yang artinya adalah variabel tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen (Kuncoro (2001),

(30)

a) Jika tingkat signifikansi t hitung > 0,05 atau t hitung < t tabel, maka H0 diterima.

b) Jika tingkat signifikansi t hitung < 0,05 atau t hitung > t tabel, maka H0 ditolak.

Keterangan:

t hitung diperoleh dengan menggunakan α = 0,05 (satu sisi) dengan dk = n-k-1 (82-1-1) = 80

Berdasarkan nilai α = 0,05 dan dk = 80 diperoleh t tabel = 1,664 (Sugiyono, 2004).

2) Uji Statistik F

Tujuan dari uji statistik F ini pada dasarnya adalah menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Hipotesis nol (H0) yang hendak diuji adalah apakah semua parameter dalam model sama dengan nol atau H0 : β1 = β2 = …… = βk = 0 yang artinya adalah semua variabel independen bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatifnya (Ha), tidak semua parameter simultan sama dengan nol, atau H0 : β1 ≠ β2 ≠……≠ βk ≠ 0 yang artinya adalah semua variabel independen secara simultan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen (Kuncoro, 2001).

(31)

1) Jika tingkat signifikansi F > 0,05 atau F hitung < F tabel, maka H0 diterima.

2) Jika tingkat signifikansi F < 0,05 atau F hitung > F tabel, maka H0 ditolak.

Keterangan: F hitung diperoleh dengan menggunakan dk1 = 2 (variabel bebas) dengan dk2 = n-k-1 (82-1-1) = 80

Berdasarkan α = 0,05 dan dk2 = 80 diperoleh F tabel = 1,664 (Sugiyono, 2004).

c. Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi ada diantara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai R2 yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi-variasi dependen (Kuncoro, 2001).

Intrepretasi koefisien korelasi nilai R adalah sebagai berikut :

(32)

0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 - 1,000

Sangat rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat

Hasil dan Pembahasan

A. Analisis Deskriptif, Histogram dan frequensi Kecerdasan Intrapersonal 1. Analisis Deskriptif Kecerdasan Intrapersonal

Statistics

Tabel 3. Statistics Kecerdasarn Intrapersonal

N Valid 82

Missing 0

Mean 3,1117

Median 3,1600

Std. Deviation ,35754

Minimum 1,84

Maximum 3,80

Sum 255,16

Sumber : Hasil Olahan data, 2013

Dari data di atas terlihat bahwa rata-rata data Kecerdasan Intrapersonal sebesar 3,1117, standar deviasinya sebesar 0,35754 dengan nilai maksimum sebesar 3,80 dan nilai minimum sebesar 1,84

2. Histogram Kecerdasan Intrapresonal

(33)

3,75 3,50 3,25 3,00 2,75 2,50 2,25 2,00 1,75 Kecerdasan Intrapersonal F re q u e n cy 30 20 10 0

Std. Dev = ,36 Mean = 3,11 N = 82,00

Dari gambar di tas terlihat data Minat Wirausaha menyebar mendekati normal.

3. Analisis Frequensi Kecerdasan Intrapersonal

Pada analisis frequensi kecerdasan intrapersonal dapat diketahui besarnya frequensi data dari kecerdasan intrapersonal seperti yang ditunjukan pada tabel berikut :

Tabel 4. Frequensi Kecerdasan Intrapersonal

Frequency Percent Valid Percent CumulativePercent

Valid 1,84 1 1,2 1,2 1,2

2,04 1 1,2 1,2 2,4

2,32 1 1,2 1,2 3,7

2,36 1 1,2 1,2 4,9

2,44 1 1,2 1,2 6,1

2,56 1 1,2 1,2 7,3

2,60 1 1,2 1,2 8,5

2,64 1 1,2 1,2 9,8

2,68 1 1,2 1,2 11,0

2,72 1 1,2 1,2 12,2

2,76 2 2,4 2,4 14,6

2,84 1 1,2 1,2 15,9

2,88 3 3,7 3,7 19,5

2,92 2 2,4 2,4 22,0

(34)

3,00 5 6,1 6,1 35,4

3,04 2 2,4 2,4 37,8

3,08 5 6,1 6,1 43,9

3,12 4 4,9 4,9 48,8

3,16 4 4,9 4,9 53,7

3,20 7 8,5 8,5 62,2

3,24 4 4,9 4,9 67,1

3,28 5 6,1 6,1 73,2

3,32 4 4,9 4,9 78,0

3,36 3 3,7 3,7 81,7

3,44 3 3,7 3,7 85,4

3,48 1 1,2 1,2 86,6

3,52 3 3,7 3,7 90,2

3,56 2 2,4 2,4 92,7

3,60 1 1,2 1,2 93,9

3,64 1 1,2 1,2 95,1

3,68 1 1,2 1,2 96,3

3,72 2 2,4 2,4 98,8

3,80 1 1,2 1,2 100,0

Total 82 100,0 100,0

4. Analisis Deskriptif, Histogram dan frequensi Minat Wirausaha Analisis Deskriptif Minat Wirausaha

Statistics

Tabel 5. Statistics Minat Wirausaha

N Valid 82

Missing 82

Mean 3,2226

Median 3,2500

Std. Deviation ,40422

Minimum 1,69

Maximum 3,94

Sum 264,25

Dari data di atas terlihat bahwa rata-rata data Minat Wirausaha sebesar 3,2226, standar deviasinya sebesar 0,40422 dengan nilai maksimum sebesar 3,94 dan nilai minimum sebesar 1,69

(35)

Gambar 2. Histogram Kecerdasan Intrapresonal 4,00 3,75 3,50 3,25 3,00 2,75 2,50 2,25 2,00 1,75 Minat Wirausaha F re q u e n cy 30 20 10 0

Std. Dev = ,40 Mean = 3,22 N = 82,00

Dari gambar di tas terlihat data Minat Wirausaha menyebar mendekati normal.

6. Analisis Frequensi Minat Wirausaha

Pada analisis frequensi Minat Wirausaha dapat diketahui besarnya frequensi data dari Minat Wirausaha seperti yang ditunjukan pada tabel berikut :

Tabel 6. Frequensi Minat Wirausaha

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid 1,69 1 ,6 1,2 1,2

2,06 1 ,6 1,2 2,4

2,25 1 ,6 1,2 3,7

2,44 1 ,6 1,2 4,9

2,56 2 1,2 2,4 7,3

2,63 2 1,2 2,4 9,8

2,69 1 ,6 1,2 11,0

2,81 3 1,8 3,7 14,6

2,88 1 ,6 1,2 15,9

2,94 3 1,8 3,7 19,5

3,00 3 1,8 3,7 23,2

3,06 4 2,4 4,9 28,0

(36)

3,19 7 4,3 8,5 45,1

3,25 5 3,0 6,1 51,2

3,31 2 1,2 2,4 53,7

3,38 12 7,3 14,6 68,3

3,44 8 4,9 9,8 78,0

3,50 4 2,4 4,9 82,9

3,56 2 1,2 2,4 85,4

3,63 3 1,8 3,7 89,0

3,69 2 1,2 2,4 91,5

3,75 2 1,2 2,4 93,9

3,81 1 ,6 1,2 95,1

3,88 2 1,2 2,4 97,6

3,94 2 1,2 2,4 100,0

Total 82 50,0 100,0

Missing System 82 50,0

Total 164 100,0

B. Uji Validitas dan Reliabilitas

Berdasarkan hasil uji validitas pada kuisisoner, dari 60 item terdapat 19 item tidak valid dan 41 item valid sehingga jumlah item yang digunakan dalam penelitian adalah 41 item. Validitas item-item tersebut terbukti dari nilai r hitung lebih besar dari nilai r kritis yaitu sebesar 0.3 untuk item yang valid.

Tabel 7 Uji Reliability

Statisticsof Strategi Pemasaran Cronbach's

Alpha N of Items

. 7252 60

(37)

C. Uji Normalitas Kecerdasan Intrapersonal dan Minat Wirausaha Tabel 8. Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov(a) Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Kecerdasan

Intrapersonal ,097 82 ,053 ,959 82 ,010

Minat Wirausaha ,098 82 ,052 ,980 82 ,234

a Lilliefors Significance Correction

Dari analisis di atas terlihat bahwa sig. Kecerdasan Intrapersonal Sebesar 0,053 >= 0,05 dan Minat wirausaha Sebesar 0,052 >= 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel bersifat normal

D.Uji Analisis Regresi

Pengaruh Kecerdasan Intrapersonal terhadap Minat Wirausaha

Tabel Model Regresi Pengaruh Variabel Kecerdasan Intrapersonal terhadap Minat Wirausaha

Tabel 9. Model Summary(b)

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,871(a) ,758 ,755 ,20024

a Predictors: (Constant), Kecerdasan Intrapersonal b Dependent Variable: Minat Wirausaha

(38)

Koefisien determinasi (R square) sebesar 0,758 artinya variabel kecerdasan intrapersonal mempengaruhi minat wirausaha sebesar 0,785 (75,8%)

Tabel 10. Koefisien Pengaruh Variabel Kecerdasan Intrapersonal terhadap Minat Wirausaha

Coefficients(a)

Model Unstandardized

Coefficients StandardizedCoefficients t Sig. CollinearityStatistics

B ErrorStd. Beta Tolerance VIF

1 (Constant) ,157 ,195 ,804 ,424

Kecerdasan Intraperson

al ,986 ,062 ,871 15,843 ,000 1,000 1,000

a Dependent Variable: Minat Wirausaha

Berdasarkan tabel koefisien dapat dibentuk persamaan regresi sebagai berikut : Y = 0,157 + 0,986X

Berdasarkan model regresi tersebut diperoleh koefisien regresi variabel kecerdasan intrapersonal sebesar 0,986 yang berarti bahwa setiap terjadi peningkatan kecerdasan intrapersonal sebesar satu satuan maka akan menyebabkan peningkatan atau kenaikan minat wirausaha sebesar 0,986. Secara umum menunjukan bahwa perubahan kecerdasan intrapersonal ke arah positif akan diikuti dengan peningkatan minat wirausaha.

Tabel 11. ANOVA Pengaruh Variabel Kecerdasan Intrapersonal terhadap Minat Wirausaha

ANOVA(b)

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regressio

n 10,064 1 10,064 250,995 ,000(a)

Residual 3,208 80 ,040

Total 13,272 81

a Predictors: (Constant), Kecerdasan Intrapersonal b Dependent Variable: Minat Wirausaha

(39)

E. Pembuktian pengaruh kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha

H0 = 0 : Tidak ada hubungan antara kecerdasan intrapersonal dengan minat wirausaha

H1 > 0 : Terdapat hubungan antara kecerdasan intrapersonal dengan minat wirausaha

Berdasarkan hasil penelitian yang termuat dalam summary, nilai R sebesar 0,871 yang berarti bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan intrapersonal dengan minat wirausaha

F. Besarnya pengaruh kecerdasan intrapersonal per-indikator terhadap minat wirausaha

Untuk lebih jelasnya pengaruh kecerdasan intrapersonal per-indikator terhadap minat wirausaha dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 12. Jumlah Pengaruh Kecerdasan Intrapersonal per Indikator

No Indikator Jumlah acuan pengaruh

1 Pengetahuan tentang diri secara umum 250

2 Pengharapan diri sendiri 274*

3 Penilaian terhadap diri sendiri 269

4 Perencanaan jangka panjang dan pendek 245 5 Penggunaan skala prioritas dalam

melakukan kegiatan

242

6 Sikap asertif 226

7 Sumber motivasi 270*

8 Mengelola motivasi 243

(40)

10 Emosi 254

11 Kesadaran nilai 265

12 Pembuatan keputusan karir 260

13 Ketekunan dalam bekerja 270*

14 Hubungan sosialisasi 268

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa indikator kecerdasan intrapersnonal secara umum memiliki pengaruh yang tidak jauh berbeda terhadap minat wirausaha. Dari 14 indikator ada tiga indikator yang memiliki pengaruh lebih besar yaitu pertama adalah pengharapan diri sendiri dengan jumlah 274, kemudian kedua yaitu sumber motivasi dan ketekunan dalam bekerja dengan jumlah 270.

Kesimpulan

1. Terdapat pengaruh positif dan signifikan kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha.

2. Terdapat korelasi positif antara kecerdasan intrapersonal terhadap minat wirausaha yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi ( R ) sebesar 0.871 (sangat tinggi)

3. Indikator kecerdasan intrapersonal yang memiliki pengaruh paling besar

(41)

Daftar Pustaka

Ahman, Eeng., dan Epi Indriani. 2007. Membina kompetensi ekonomi. Bandung: Grafindo Media Pratama.

Browning, Geil. 2010. Menyadap Ilmu Kesuksesan Baru Emergenetics. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Endang dan Resminingsih. 2010. Bahan dasar untuk pelayanan konseling. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Faisal, Amir., dan Zulfanah. 2008. Menyiapkan anak jadi juara. Jakarta: PT Elek Media Komputindo.

Gardner, Howard. 2004. Changing Minds (seni mengubah pikiran kita dan orang lain). Penerjemah Luki Nugraha. Jakarta: PT Transmedia.

Gunawan, Adi. W. 2011. Born to be a genius (kunci mengangkat harta karun dalam diri anda). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

(42)

Hoerr, Thomas. R. 2007. Multiple Intelligences. Penerjemah Ary Nilandari. Jakarta: PT Mizan Pustaka.

Istijanto Oei. 2010. Jurus-jurus sakti wirausaha. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jati Sutomo. 2007. Menjadi Entrepreneur Jepolan. Jakarta: Republika Penerbit. Olivia, Femi. Mendampingi anak belajar. 2010. Jakarta: PT Elek Media Komputindo.

Olivia, Femi., dan Lita Ariani. Inner Healing @ School. 2010. Jakarta: PT Elek Media Komputindo.

Suhardi dkk. 2007. Kewirausahaan (membangun usaha sukses sejak usia muda. Jakarta: Salemba empat Tim Literatur Media Sukses. 2009. Ekonomi SMA. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Tailor, M. 2000. Membuka Usaha Kecil. Yogyakarta: Kanisius.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R &F,. Bandung: Alfabeta.

Widjajanta, Bambang, dkk. 2007. Mengasah kemampuan ekonomi. Bandung: Citra Praya.

Gambar

Tabel 1. Kisi-kisi kuisioner
Tabel 3. Statistics Kecerdasarn Intrapersonal
tabel berikut :
Tabel 5. Statistics Minat Wirausaha
+6

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Suharsimi Arikunto (2006:168) “Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen”. Jadi suatu instrumen

Arikunto, Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik , Jakarta:.. PT

Subjek penelitian adalah benda, hal atau orang dan tempat di mana data yang dipermasalahkan melekat, selanjutnya dijelaskan perbedaan antara responden penelitian dan sumber

Menurut Suharsimi Arikunto (Iskandar, 2009 : 78), „instrumen penelitian adalah suatu yang penting dan strategis kedudukannya di dalam pelaksanaan penelitian.‟ Beberapa

Sedangkan yang dimaksud kuesioner tertutup menurut Suharsimi Arikunto (2002 : 129) adalah kuesioner yang sudah disediakan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih.

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populassi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 2006: 130). Sampel fisik, populasi fisik tidak diambil sampel, karena faktor fisik yang

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka.

Suharsimi Arikunto (2009: 16) menyebutkan beberapa tahapan yang lazim dilalui dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai berikut. Subjek penelitian ini adalah