• Tidak ada hasil yang ditemukan

Roland Barthes, Tokoh Cultural Studies Prancis.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Roland Barthes, Tokoh Cultural Studies Prancis."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

M akalah dalam Sem inar Int ernasional “ Cult ural St udies dalam Kajian Sastra” , Rumpun Sast ra, Fakult as Bahasa dan Seni, UNY pada t anggal 14-15 Septem ber 2005.

Tokoh Cult ural St udies Prancis: Roland Bart hes

Oleh :

Dian Sw andayani, M .Hum St af Pengajar Bahasa Perancis, FBS, UNY

[email protected]

A. Pendahuluan

Berbicara t entang Cult ural Studies at au yang kit a kenal sebagai st udi kajian budaya,

perhatian kita t idak dapat dilepaskan dari The Birm ingham Cent er for Cont em porary Cultural

St udies yang dipelopori oleh Richard Hoggart dan Raymond W illiam s. Intit usi yang didirikan

pada 1963 ini m em ang tidak dapat dipisahkan dari kedua nam a pendirinya tersebut.

Hoggart dan W illiam s adalah pengajar sastra pada program -program ekst ram ural, yang

m em buat kajian tent ang bent uk-bent uk dan ekspresi budaya yang m encakup budaya t inggi

m aupun rendah, dan m engem ukakan sejum lah teori tentang kait an ant ara keduanya

sebagai form asi sosial hist oris (Budiant a, 2002).

Cult ural Studies itu sendiri m em punyai beberapa definisi sebagaim ana dinyat akan

oleh Barker (via St orey, 2003), antara lain yait u sebagai kajian yang mem iliki perhat ian pada

beberapa hal, diant aranya adalah : 1) hubungan atau relasi ant ara kebudayaan dan

kekuasaan; 2) seluruh prakt ik, instit usi dan sist em klasifikasi yang t ert anam dalam nilai-nilai

part ikular, kepercayaan, kompet ensi, kebiasaan hidup, dan bent uk-bentuk perilaku yang

biasa dari sebuah populasi; 3) berbagai kaitan ant ara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras,

kelas, kolonialism e dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir t ent ang

kebudayaan dan kekuasaan yang bisa digunakan oleh agen-agen dalam m engejar

perubahan; dan 4) berbagai kaitan w acana di luar dunia akadem is dengan gerakan-gerakan

(2)

St orey dalam bukunya yang berjudul, Teori Budaya dan Budaya Pop (An Introduct ory

Guide t o Cult ural Theory and Popular St udies, 1993) t elah mem etakan budaya pop dalam

lanskap Cultural St udies. Dalam bukunya yang lebih bersifat sebagai pengenalan ini, Storey

lebih m emfokuskan kajiannya pada im plikasi teoretis, im plikasi m et odologis, dan

percabangan yang terjadi pada saat-saat t er tent u dalam sejarah kajian budaya pop. Storey

cenderung lebih m emperlakukan teori budaya atau budaya popular sebagai sebuah proses

pembentukan w acana (discursive form at ion).

B. Roland Barthes dalam Konstelasi Cultural Studies

Dengan m embicarakan dan m engkaji budaya pop, St orey sekaligus m elakukan

pem etaan lanskap konsept ual Cult ural St udies secara umum meski diakuinya sendiri apa

yang dit ulisnya ini hanyalah sekedar pengant ar atau sem acam pendahuluan untuk

m em aham i kajian budaya yang lebih m enyeluruh dan m endalam . Sejum lah teori, ist ilah

khusus, beberapa cont oh analisis, t okoh-t okoh, dan hal-hal yang berkaitan dengan cult ural

st udies dipaparkan secara ringkas.

Teori-teori sem acam strukt uralism e, m arxism e, fem inisme, poststrukt uralism e,

fem inism e, posmodernism e, poskolonialism e, kult uralism e, ideologi budaya m assa, dan

sejum lah teori kontem porer lainnya disajikan dalam bukunya. Juga ada sejumlah t eoretikus

kont em porer yang dibicarakan, m ulai dari Ferdinand de Saussure, M at t hew Arnold, Richard

Hoggart , Raymond W illiam s, E.P.Thompson, St uart Hall, Claude Levi-St rauss, Karl M arx,

Antonio Gram sci, Theodor Adorno, Louis Alt husser, Laura M ulvey, Janice Radw ay, Ien Ang,

Janice W inship, Roland Bart hes, Jacques Derrida, Jacques Lacan, M ichel Foucault , Edw ard

Said, Jean-Francois Lyotard, Jean Baudrillard, Fredric Jam eson, Pierre Bourdieu dan sejum lah

t okoh lainnya.

Objek-objek dan prakt ik-praktik budaya pop yang ditam pilkan dalam buku ini pun

beragam mulai dari seni lukis karya Andi Warhol, budaya liburan ke pant ai, film serial TV

sepert i Dallas, film -f ilm Hollyw ood seperti Dance w it h Wolves m aupun Rambo, m ajalah

(3)

novel-novel sepert i Heart of Darkness dan Apocalypse Now , dan sejum lah objek sert a

praktik budaya pop lainnya.

Dalam kajiannya yang cukup komprehensif tersebut , St orey m enempatkan Roland

Bart hes dalam subt opik “ St rukturalism e dan Pascastrukturalism e” . Sebuah predikat yang

t idak m udah untuk dikenakan pada t okoh-tokoh sem acam Bart hes, Foucault, Derrida

at aupun, Baudrillard, m engingat luasnya kajian yang m ereka bicarakan dalam sejum lah

t ulisan-t ulisan m ereka. Apa yang dilakukan St orey juga m irip dengan sejum lah t eoret isi

kajian budaya lainnya yang bukunya t elah diterjem ahkan dalam bahasa Indonesia, sebut

(4)

C. Roland Barthes di M ata Pembaca Indonesia

Di Indonesia, Roland Bart hes seringkali dikut ip pendapat nya t ent ang sem iotika

(sem iologi) terut am a t ent ang konsep pemaknaan konot at if at au yang lebih dikenal ist ilah

second order sem iot ic syst em . Juga pernyat aan Barthes tent ang kem at ian pengarang, atau

t he dead of t he aut hor, seringkali dikut ip dengan berbagai ket idakjelasan. Dalam hal ini,

kata “ aut hor” tidak lagi m em punyai otoritas dalam m em berikan interpretasi terhadap

karyanya. Pem bacalah yang kem udian m emberikan interpret asi sesuai dengan horison

harapannya.

nam anya dibicarakan dalam sejum lah kritik at au resensi dalam sebuah m edia cetak. Dalam

kont eks ini, Barthes m em bedakan pengert ian kata aut hor dengan w riter secara jelas.

Bart hes t idak hanya sering disalahpaham i konsep-konsepnya, t et api juga seringkali

dikategorikan sebagai seorang tokoh st rukt uralism e at au poststrukturalism e dan ahli

sem iotika. Buku-buku yang m em bicarakan Bart hes t erutam a dalam bahasa Indonesia,

seringkali terbatas dalam kategori-kategori t ersebut . Tidak hanya itu, buku-buku berbahasa

Indonesia yang khusus berbicara t ent ang pem ikir Prancis yang lahir pada 1915 di Cherbourg,

Prancis ini, tidak lebih dari hit ungan jari. Sebut saja m isalnya: Sem iologi Roland Barthes oleh

Kurniaw an (2001), Barthes, Seri Pengant ar Singkat edisi t erjem ahan t ulisan Jonathan Culler

(2003), dan Sem iot ika Negat iva karya St. Sunardi (2004).

Dalam edisi bahasa Indonesia, karya-karya Bart hes atau pembicaraan m engenai

Bart hes t idak lebih banyak dibandingkan pem ikir Prancis lain yang m erupakan sahabat

sekaligus rival int elektualit asnya, yakni M ichel Foucault . Buku Bart hes yang berjudul

M itologi (t erjem ahan dari M ythology yang dit erbitkan Kreasi W acana, 2005) m uncul

belakangan set elah sejumlah karya Foucault ter lebih dahulu dikenal pembaca Indonesia.

(5)

sering dikategorikan sebagai em pat pem ikir ut am a kontemporer asal Prancis yang tidak

hanya t erkenal di negerinya sendiri t et api telah m enjadi trend pem ikiran dunia. Pada akhir

1960-an, m ereka seringkali dicit rakan sebagai fashion strukturalis, bahkan m ereka

dikarikaturkan oleh M aurice Henry t engah berdiskusi di rerum putan dengan m engenakan

baju rum put.

Dari buku-buku di at as, hanya dua judul yang t erakhir yang m engupas karya-karya

Bart hes secara m enyeluruh. Buku Kurniaw an lebih mengupas t eori-t eori Bart hes dalam

kajian sem iot ika. Dalam buku Culler dan St. Sunardi, t am paklah bahw a Bart hes seorang

pem ikir yang kaya w arna, tokoh pent ing abad XX dari Prancis. Culler bahkan m enyebut

Bart hes sebagai m anusia yang t erbagi karena dia m em iliki sejum lah keahlian dalam berbagai

bidang, ia adalah sejaraw an sast ra, m it olog, ahli sem iot ika, strukturalis, seorang hedonis,

penulis, dan m anusia huruf.

D. Profesor M odis

Dari sekian kepakaran Bart hes, dia juga seorang t okoh cult ural st udies yang pada

aw al 1950-an, ketika kajian ini belum m apan dan seringkali dianggap rem eh atau dipandang

sebelah m ata, telah m em bahas praktik-praktik budaya m assa. Apa yang dilakukan Bart hes

dalam m embicarakan prakt ik budaya kontem porer sepert i yang terdapat dalam bukunya

M yt hologies pada 1957, Systèm e de la M ode atau The Fashion System pada 1967, dan La

Cham bre Claire at au Cam era Lucida pada1980, seringkali dianggap sebelah m at a oleh

kalangan intelekt ual lain. Hal ini juga dilakukan pula oleh Foucault.

Konon, dalam proses seleksi kandidat profesor pada t ahun 1975, beredar rumor sinis

t ent ang diri Bart hes di kalangan sejum lah profesor. M enurut St . Sunardi (2004:2-3), rum or

t ersebut m enyangkut kepant asan seorang Bart hes unt uk m enduduki kursi profesor penuh

w ibaw a di Collège de France, karena Bart hes dikenal sebagai seorang akadem isi yang t erlalu

fashionable atau m odis. Im age ini m em ang m elekat pada Bart hes karena tulisan-t ulisannya

hanya berupa esai bukan buku-buku yang t ebal dan tem a yang diangkatnya pun kebanyakan

(6)

M enghadapi rumor t ersebut , orang yang berada dalam posisi paling sulit yait u

Foucault. Karena posisinya di Collège de France t ersebut , Foucault harus m ew aw ancarai

Bart hes dan m emberikan penilaian pada dew an profesor. Barthes adalah sahabat lam a yang

t elah dikenal Foucault pada 1950-an. Dalam perjalanan w akt u, persahabat an ini “ retak” ,

berubah m enjadi perang dingin. Yang t ersisa adalah persaingan int elektual yang muncul

dalam berbagai polem ik. M asyarakat akadem ik pun m enget ahui persaingan it u. Pada saat

itu m ereka “ harus” bertem u, Bart hes dat ang sebagai seorang pelam ar kandidat profesor

baru. Foucault rupanya panik. Secara psikologis ia t idak m empunyai keberanian yang cukup

untuk bertem u dan m elakukan w aw ancara dengan “ pesaing int elekt ualnya” .

Unt uk jaga-jaga, supaya tidak terjadi suasana yang kaku, Foucault t erpaksa m engajak

seorang t em an, w alaupun setelah sepuluh m enit “ pengawal” Foucault ini keluar. Di luar

dugaan banyak orang, Foucault ternyat a m endukung lam aran Bart hes dan m em uluskan

jalan Barthes untuk mem baw akan Leçon di hadapan para profesor Collège de France,

t erm asuk Foucault .

E. M itos M asa Kini

Apa yang dilakukan Bart hes dalam analisisnya t erhadap sejum lah fenomena budaya

pop seperti dalam M yt hologies, The Fashion Syst em , ataupun Cam era Lucida, m em ang tidak

t erkait dengan apa yang dilakukan oleh Hoggart m aupun W illiam s di Inggris. Bahkan Bart hes

m enulis kajian terhadap budaya m assa lebih aw al, yakni pada t ahun 1954-1956 yang secara

reguler dia t ulis unt uk sejum lah m edia yang kem udian diterbit kan m enjadi buku dengan

judul M ythologies; dibandingkan t ulisan-t ulisan Hoggart m aupun W illiam s untuk The

Birmingham Center for Contem porary Cultural St udies. Tulisan Hoggart yang berjudul The

Uses of Literacy (t ent ang kegelisahan anak-anak muda terutam a kelom pok “ the juke-box

boys” ), yang dianggap sebagai t onggak school of thought kajian budaya di Inggris,

dit erbit kan pada 1957. Oleh karena it u, Bart hes dapat digolongkan sebagai salah satu t okoh

cult ural st udies dari kutub pem ikir Prancis selain dari Inggris yang seringkali dikutip sebagai

(7)

1) M ythologies

Buku Barthes yang berjudul M ythologies t erdiri at as dua subbab, yakni: (1)

“ M ythologies”, dan (2) “ M yt h Today” . Jangan berharap kalau dalam buku ini Bart hes

m em bicarakan dan m engulas t okoh-tokoh m itologi Yunani at au Rom aw i sepert i Zeus dan

dew a-dew a Olym pus lainnya, Hercules dan hero-hero lainnya, ataupun rent et an Perang

Troya sebagaimana dikisahkan dalam Iliad dan Odiseus yang sangat dikenal tidak hanya oleh

m asyarakat Eropa tetapi juga di belahan bum i lainnya t ermasuk di Indonesia. Bart hes sam a

sekali t idak m enyinggung perist iw a m aupun t okoh mistis dan legendaris tersebut.

Pada bagian pert am a buku M yt hologies, Bart hes m engungkapkan topik-topik

kont em porer sem acam dunia gulat , rom ant ism e dalam film , anggur dan susu, irisan steak,

w ajah Garbo, otak Einst ein, m anusia Jet, m asakan ornam ental, novel dan anak-anak,

m ainan (toys), m obil Cit roën, plast ik, fotografi, tarian st ript ease, dan topik-topik pop

lainnya. Sebagaim ana dinyat akan dalam pengant arnya pada cet akan pert am a (1957),

Bart hes m enyatakan bahw a tulisan-tulisannya dalam buku ini m erupakan sejum lah esai

t ent ang t opik-t opik m asa itu yang dia tulis setiap bulan untuk sejum lah m edia m assa.

Topik-topik yang m enarik perhatiannya ini, t idak lain m erupakan refleksi at as m it

os-m itos baru os-m asyarakat Prancis konteos-mporer. Lewat berbagai analisisnya tent ang peristiw

a-perist iw a yang dit em uinya dalam art ikel surat kabar, fot ografi dalam m ajalah m ingguan,

film , pertunjukan, at aupun pam eran, Bart hes m engungkapkan sejum lah m it os-m itos

m odern yang t ersembunyi di balik sem ua hal it u. M it os inilah yang oleh Barthes disebut

sebagai second order sem iot ic syst em , yang harus diungkap signifikansinya. M itos

m erupakan salah sat u t ype of speech. Jabarannya m engenai konsep m itos-m it os m asa kini

sebagai kajian sist em t anda dibicarakan pada subbab yang kedua yang berjudul “ M yt h

Today” .

2) Fashion

Dalam buku The Fashion System , Bart hes m embicarakan panjang lebar m engenai

(8)

dan struktur sign at au signifikansinya. M em ang kajian m ode at au fashion Barthes tidak

t erlepas dari bidang sem iotika yang selam a ini dikembangkannya. Pada salah sat u

kesim pulannya mengenai tata busana ini, Bart hes m enyat akan sebagai berikut .

“ ... in t he W est , fashion tends t o becom e a mass phenom enon, precisely insofar as it is consum ed by m eans of a mass-circulat ion press (w hence the im portance and, as it w ere, t he aut onomy of w rit t en fashion), the m aturity of the syst em is t hus adopted by m ass society according t o a com prom ise. Fashion m ust project the aristocratic m odel, t he source of it s prest ige: this is pure fashion, but at t he sam e tim e it m ust represent , in a euphoric manner, the w orld of its consum ers by t ransform ing int ra-w orldly funct ions into signs (w ork, sport , vacat ions, seasons, cerem onies): t his is nat uralized fashion, w hose signifieds are nam ed. Whence it s am biguous st ast us: it signifies t he w orld and signifies itself, it const ruct s it self here as a program of behavior, and the as a luxurious spectacle (Bart hes, 1983a:292-293).”

Dunia m ode m erupakan proyek model kaum arist okrat sebagai salah sat u bentuk

at au w ujud pret ise. Pada perkembangan berikutnya, model pakaian seseorang juga harus

disesuaikan dengan fungsinya sebagai tanda, yang m embedakan antara pakaian untuk

kant oran, olah raga, liburan, berburu, upacaraupacara tert entu, bahkan unt uk musim

-m usi-m tert entu seperti pakaian -m usi-m dingin, -m usi-m se-m i, -m usi-m panas ataupun -musi-m

gugur. M anusia pengguna pakaian yang m engikuti t rend akan mengejar apa yang tengah

m enjadi sim bol st at us kelas m enengah at as. Yang tidak m engikuti arus dunia mode akan

dikatakan m anusia yang tidak fashionable alias ket inggalan m ode.

Tata busana tidak lagi m enjadi sekedar pakaian t et api juga telah m enjadi m ode,

m enjadi peragaan busana, m enjadi sebuah tontonan yang m emiliki prestisenya t ersendiri,

m enjadi sim bol status kehidupan. Hal ini t idak hanya terjadi di dunia Barat saja, tetapi juga

t engah m elanda Indonesia. Barthes t idak salah mem bidik salah satu aspek ini, yakni mode,

sebagai salah sat u kajiannya, m engingat Paris m er upakan kiblat m ode dunia.

Begitulah, salah satu t opik pem bicaraan Bart hes tentang aspek kebudayaan m assa

yakni tentang dunia mode. Dunia yang kini penuh dengan kem ew ahan para model yang

m em peragakannya di sejum lah cat w alk pusat -pusat peragaan busana di berbagai kot a

(9)

rancangan siapa pakaian yang dikenakannya. Padahal kalau dit elusuri, dunia m ode adalah

salah satu pelegit im asi ideologi gender yang selam a ini sering dikonter oleh para fem inis.

3) Camera

Selain bicara tentang mode, Barthes juga berbicara tentang fot o, khususnya t ent ang

foto-fot o dalam m edia m assa dan iklan. Hal ini diungkapkannya dalam dua art ikelnya, “ The

Phot ographic M essage” pada 1961 dan “ Ret horic of t he Im age” juga pada 1961. Lew at dua

art ikelnya ini, Bart hes m enguraikan m akna-m akna konot at if yang terdapat dalam sejum lah

foto dalam m edia m assa dan iklan. Fot o sebagai salah sat u sarana yang sanggup

m enghadirkan pesan secara langsung (sebagai analogon atau denotasi) dapat m eyakinkan

seseorang (pembaca berit a atau iklan) bahwa perist iw a t ersebut sudah dilihat oleh

seseorang, yakni fot ografer. Akan t et api, di balik peristiw a tersebut, t ernyata fot o juga

m engandung pesan simbolik (coded-iconic m essage) yang m enuntut pem bacanya untuk

m enghubungkannya dengan “ penget ahuan” yang telah dim iliki sebelum nya.

Di sejum lah m edia m assa Indonesia pada tahun 1998, ketika Presiden Soehart o

m enandatangani LoI dengan IM F, t am pak Camdesus t engah m emperhatikan Soehart o yang

t engah m embubuhkan t anda tangan. W akil IM F it u berdiri m engaw asi dengan posisi tangan

bersedekap. Sebagai analogon atau makna denotasi, fot o ini hanya m enyatakan t elah t erjadi

penandat angan nota perset ujuan ant ara RI yang diw akili Soehart o dengan IM F yang diw akili

Cam desus. Akan tetapi, posisi t angan Camdesus dan caranya m em andang Soehart o

m em bubuhkan t anda tangan secara konot at if m em aknakan dia telah m enaklukkan seorang

pem im pin yang t elah 32 tahun berkuasa.

Contoh-contoh analisis sem acam inilah yang dikem ukakan Bart hes dalam analisisnya

t ent ang sejum lah fot o. Salah satunya tentang seorang t entara berkulit hit am yang

m engenakan seragam m ilit er Prancis yang tengah m emberikan penghorm at an m iliter,

m at anya terpancang pada bendera nasional. Fot o ini m enjadi sampul dari m ajalah

Paris-M at ch. Dalam analisisnya, Bart hes m enyatakan bahw a foto itu ingin m enyat akan Prancis

(10)

penuh setia, m elayani bangsa di baw ah kibaran benderanya. Foto itu m erupakan kont er

at as para pencela kolonialism e (Culler, 2003:52).

Seorang fotografer dalam m emotret m eringkali m em perhatikan pose, objek yang

dipilihnya, logo-t eknik, dan juga sejum lah m anipulasi dem i t ercapainya apa yang hendak

“ dit ulisnya” . Hal ini seringkali dit em ukan dalam sejum lah m edia cet ak, terlebih lagi pada

iklan yang lebih m enekankan kekuatan fot o pada aspek-aspek daya tariknya sebagai sarana

persuasif yang seringkali m em anfaatkan tema-t em a keintim an, seks, kekhaw at iran, dan

idola (St . Sunardi, 2004:157-158).

Hanya dalam buku Camera Lucida, Bart hes t idak m em fokuskan pada fot o-foto dalam

m edia m assa dan iklan tet api m em fokuskan kajiannya pada koleksi fot o-foto pribadinya.

Berbeda dengan pendekatannya pada dua artikelnya pada 1961 yang lebih m em usat kan

analisisnya pada sem iot ik at as foto sebagai produk budaya, dalam Cam era Lucida, Bart hes

m enyebutnya dengan pendekatan fenom enologi sinis. Dalam mem andang sebuah fot o,

dibutuhkan sebuah pengalam an, t api bukan sem barang pengalaman, melainkan

pengalam an seseorang yang m empunyai kem ampuan unt uk m embahasakan secara indah.

M em adang fot o m erupakan ziarah m enuju jati dirinya yang m elew ati t ahap eksplorasi,

anim asi, dan afeksi. Pengalam an-pengalam an inilah yang m enjadi ukuran Bart hes untuk

m enilai kualit as foto, karena t idak set iap fot o mem buat kita t erpaku pada sat u t itik (St .

Sunardi, 2004:166).

F. Penutup

Beberapa cont oh kajian Barthes tentang aspek-aspek budaya m assa atau pop

sebagaim ana dibicarakannya dalam beberapa buku tersebut , dari sekian buku Bart hes yang

lain, t elah m em berikan gambaran yang jelas bahw a pem ikir Prancis ini t idak saja sebagai

t okoh sem iot ika yang selam a ini dipredikatkan kepadanya, tetapi juga sebagai seorang

t okoh pengkaji cultural studies. Kepakaran Bart hes dalam bidang sem iotika seolah-olah

m enenggelam kan ketert ar ikan Bart hes dalam bidang lainnya. Sebagaim ana dinyatakan oleh

(11)

Seringkali Barthes dikat egorikan sebagai seorang strukturalis sekaligus seorang

poststruk-t uralis; m em ang sebuah kapoststruk-t egori yang poststruk-t idak m udah unpoststruk-tuk m emberi predikapoststruk-t kepadanya.

Pem ikir Prancis yang m eninggal pada 1980 akibat diseruduk truk sehabis keluar dari

sebuah kafe di Paris ini, tidak diragukan lagi m erupakan t okoh kajian budaya Prancis, selain

t okoh-t okoh asal Inggris sem acam Hoggart m aupun W illiam s. Bart hes adalah penulis

sejum lah fenomena budaya populer khususnya di Prancis selain sebagai tokoh sem iotika

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Bart hes, Roland. 1983. M ythologies (translat ed by Annett e Lavers). New York: Hill and W ang.

---.1983a. The Fashion System (translated by M at thew W ard and Richard How ard). New York: Hill and W ang.

---. 1981. Elem ents of Sem iology (translated by Annet e Lavers and Colin Sm ith). New York: Hill and W ang.

Budiant a, M elani. 2002. “ Teori Sastra Sesudah St rukt uralism e,” Bahan Pelat ihan Teori dan

Krit ik Sastra. Jakart a: Pusat Penelit ian Kem asyarakat an dan Budaya Universitas Indonesia.

Culler, Jonathan. 2002. Barthes, Seri Pengant ar Singkat (t erjem ahan Ruslani). Yogyakart a: Jendela.

Kurniaw an. 2001. Sem iologi Roland Barthes. M agelang: Indonesiatera. M udhofir, Ali. 2001. Kam us Filsuf Barat . Yogyakart a: Pustaka Pelajar.

St orey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop, M em etakan Lanskap Konseptual Cult ural

St udies. Yogyakart a: Qalam .

Referensi

Dokumen terkait