BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di dalam suatu negara dengan wilayah yang luas membutuhkan suatu
sistem pemerintahan (governance) yang baik. Sistem ini sangat diperlukan
setidaknya oleh dua hal: pertama sebagai alat untuk melaksanakan berbagai
pelayanan publik di berbagai daerah, kedua sebagai alat bagi masyarakat setempat
untuk berperan serta aktif dalam menetukan arah dan cara mengembangkan taraf
hidupnya sendiri selaras dengan peluang dan tantangan yang dihadapi dalam
koridor-koridor kepentingan nasional.
Sejak berlakunya kebijakan otonomi daerah pada tanggal 1 januari 2001, terjadi
perubahan yang mendasar dalam penyelenggaraan mekanisme pemerintahan di
daerah, dimana otonomi benar-benar akan terlaksana dan menjadi kenyataan,
sehingga diperlukan suatu kemampuan Pemerintah Daerah dalam menyusun
perencanaan anggaran, baik dari sisi penerimaan maupun sisi pengeluaran.
Penyelenggaraan otonomi daerah ini di dukung oleh UU Nomor 22 Tahun 1991
tentang Pemerintahan Daerah, yang kini direvisi menjadi UU Nomor 32 Tahun
2004, tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk
mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan
pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya
keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan, yang kini direvisi menjadi UU Nomor 33 Tahun 2004, ditegaskan
bahwa untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah, pemerintah pusat akan
mentransfer dana perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Khusus, Dana
Alokasi Umum dan bagian daerah dari bagi hasil pajak dan bukan pajak. Dimana
disamping Dana Perimbangan tersebut pemerintah daerah memiliki sumber
pendanaan sendiri berupa Pendapatan Asli Daerah, pinjaman daerah, maupun
penerimaan daerha lain yang sah.
Salah satu aspek penting pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi
yang harus diatur secara hati-hati adalah masalah pengelolaan keuangan daerah
dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).Dimana APBD merupakan
kebijaksanaan keuangan tahunan pemerintah daerah yang disusun berdasarkan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku, serta berbagai pertimbangan lainnya
dengan maksud agar penyusunan, pemantauan, pengendalian dan evaluasi
anggaran pendapatan belanja daerah mudah dilakukan. Pada sisi yang lain
anggaran pendapatan belanja daerah dapat pula menjadi sarana bagi pihak tertentu
untuk melihat atau mengetahui kemampuan daerah baik dari sisi pendapatan dan
sisi belanja, sedangkan dari sisi anggaran belanja rutin merupakan salah satu
alternatif yang dapat merangsang kesinambungan serta konsistensi pembangunan
di daerah secara keseluruhan menuju tercapainya sasaran yang telah di sepakati
bersama. Oleh sebab itu, kegiatan rutin yang akan dilaksanakan merupakan salah
Pendapatan daerah merupakan sumber untuk membiayai belanja daerah
(belanja langsung dan belanja tidak langsung).Seharusnya, pengalokasian
pendapatan daerah ke belanja langsung harus lebih besar dari pada kebelanja tidak
langsung.Hal ini dikarenakan belanja langsung merupakan suatu tindakan
pengeluaran biaya untuk menciptakan pembangunan yang nantinya berguna untuk
kesejahteraan masyarakat.Namun kebanyakan fenomena sekarang ini
memperlihatkan bahwa pengalokasian belanja langsung lebih kecil dari pada
pengalokasian belanja tidak langsung.
Keadaan ini mendorong penulis ingin mengetahui apakah pengalokasian
belanja daerah terhadap belanja langsung dan belanja tidak langsung tidak ideal
setiap tahunnya atau mungkin ideal setiap tahunnya. Oleh karena itu, maka
penulispun tertarik untuk melakukan penelitian untuk mencari tahu bagaimana
dan berapa pengkomposisian belanja daerah yang terjadi di Kabupaten Humbang
Hasundutan serta sekaligus ingin mengetahui kendala Pemerintah Kabupaten
Humbang Hasundutan dalam mengalokasikan belanja daerahnya. Ketertarikan
penulis terhadap pengkomposisian belanja daerah di Kabupaten Humbang
Hasundutan ini akan dituangkan penulis didalam ssebuah skripsi yang berjudul :
“Analisis Komposisi Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung Pada Pemerintahan Kabupaten Humbang Hasundutan.”
Moh. Nazir mengemukakan : “Masalah timbul karena adanya tantangan,
adanya kesangsian, ataupun kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena,
adanya kemenduaan arti (ambiquity), adanya halangan dan rintangan, adanya
celah (gap) baik antar kegiatan atau antar fenomena, baik yang telah ada ataupun
yang akan ada.”
Sumadi Suryabrata mengemukakan bahwa: “Masalah atau permasalahan
ada kalau ada kesenjangan (gap)antara das sollen dan das sein; ada perbedaan
antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, antara apa yang
diperlukan dan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan dan yang sejenis
dengan itu.”
Dari uraian latar belakang masalah, secara sederhana dapat dirumuskan
permasalahanyang akan diteliti yaitu :
Bagaimana pengalokasian belanja langsung dan belanja tidak langsung dalam
APBD Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan?
2.3 Batasan penelitian
Agar lingkup permasalahan pada penelitian ini tidak menjadi luas, maka
penulispun membatasi penelitian ini dengan menggunakan data Laporan Realisasi
APBD Pemerintahan Kabupaten Humbang Hasundutan di periode 2008-2012.
2.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengalokasian
belanja langsung dan belanja tidak langsung di Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan.
LANDASAN TEORI
2.1. Keuangan Daerah
Berdasarkan PP Nomor 58 Tahun 2005, tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah dalam ketentuan umumnya menyatakan bahwa “Keuangan daerah adalah
semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah
daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk
kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.”
2.1.1. Dasar Hukum Keuangan Daerah
Menurut Indra Bastian, bahwa “Pembangunan daerah sebagai bagian
integral dari pembangunan nasional, didasarkan pada prinsip otonomi daerah
dalam pengelolaan sumber daya. Prinsip otonomi daerah memberikan
kewenangan yang luas dan tanggung jawab yang nyata kepada pemerintahan
daerah secara proporsional.”
Pada pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945, dijelaskan bahwa pemerintah
daerah menjalankan otonomi yang seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan
yang merupakan urusan pemerintahan pusat, berdasarkan undang-undang,
peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi serta
tugas pembantuan.
Menurut Mamesah (Halim) menyatakan bahwa “Keuangan daerah dapat
diartikan sebagai semua hak dan kewajiban pemerintah yang dapat dinilai dengan
uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat
dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki oleh Negara atau daerah
yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain sesuai peraturan perundangan yang
berlaku.”
Dari definisi tersebut dapat diperoleh kesimpulan, yaitu :
a. Yang dimaksud dengan semua hak adalah hak untuk memungut
sumber-sumber penerimaan daerah, seperti pajak daerah, retribusi daerah, hasil
perusahaan milik daerah, dan lain-lain, dan atau hak untuk menerima
sumber-sumber penerimaan lain seperti Dana Alokasi Umum dan Dana
Alokasi Khusus sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Hak tersebut akan
menaikkan kekayaan daerah.
b. Yang dimaksud dengan semua kewajiban adalah kewajiban untuk
mengeluarkan uang untuk membayar tagihan-tagihan pada daerah dalam
rangka menyelenggarakan fungsi pemerintah,infrastruktur, pelayanan
umum, dan pengembangan ekonomi. Kewajiban tersebut dapat menurunkan
kekayaan daerah.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrument
kebijakan yang utama bagi Pemerintah Daerah. Sejak Repelita I Tahun 1967
sampai denga pertengahan Repelita IV Tahun 1999, APBD di Indonesia disusun
menurut tahun anggaran yang dimulai pada tanggal 1 April dan berakhir 31 Maret
tahun berikutnya. Dimulai sejak tahun anggaran 2001 sampai dengan saat ini
pendapatan dan belanja daerah di Indonesia disusun menurut tahun anggaran yang
dimulai pada tanggal 1 Januari dan berakhir 31 Desember.
3.2.1. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Menurut Dedy Nordiawan, bahwa “APBD merupakan rencana keuangan
tahunan pemerintahan daerah yang disetujui DPRD dan ditetapkan dengan
peraturan daerah.”
Menurut Halim , bahwa“APBD adalah suatu Anggaran Daerah.” APBD
memiliki unsur-unsur :
1) Rencana kegiatan suatu daerah, beserta uraiannya secara rinci.
2) Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal untuk
menutupi biaya-biaya sehubungan dengan aktivitas-aktivitas tersebut, dan
adanya biaya-biaya yang merupakan batas maksimal
pengeluaran-pengeluaran yang akan dilaksanakan.
3) Jenis kegiatan dan proyek yang dituangkan dalam bentuk angka.
Menurut Saragih bahwa, “Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) adalah dasar dari pengelolaan keuangan daerah dalam tahun anggaran
tertentu, umumnya satu tahun.”
3.2.2. Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Menurut Mardiasmo, “Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah
(APBN/APBD) yang dipresentasikan setiap tahun oleh eksekutif, memberi
informasi rinci kepada DPR/DPRD dan masyarakat tentang program-program apa
yang direncanakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas kehidupan rakyat,
dan bagaimana program-program tersebut dibiayai.”
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) diawali
dengan penyampaian kebijakan umum APBD(KUA) sebagai landasan
penyusunan RAPBD kepada DPRD selambat-lambatnya pertengahan Juni tahun
berjalan.Berdasarkan kebijakan umum APBD yang telah disepakati DPRD,
pemerintah daerah bersama DPRD membahas prioritas dan plafon anggaran
sementara untuk dijadikan acuan bagi setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD).
Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang APBD
beserta dokumen-dokumen pendukungnya harus dilakukan pada minggu pertama
bulan Oktober.Pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai Raperda tentang
APBD dilakukan selambat-lambatnya satu bulan sebelum tahun anggaran yang
bersangkutan dilaksanakan.APBD yang disetujui DPRD terinci sampai dengan
unit organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja.Apabila DPRD tidak
bulan pemerintah daerah dapat melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya
sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya.
Penyusunan APBD sangatlah penting, khususnya dalam rangka
penyelenggaraan fungsi otonomi daerah yaitu untuk :
a. Menentukan jumlah pajak yang dibebankan kepada Rakyat Daerah yang
bersangkutan.
b. Merupakan suatu sarana untuk mewujudkan otonomi yang nyata dan
bertanggung jawab.
c. Memberi isi dan arti kepada tanggung jawab pemerintah Daerah umumnya
dan Kepala Daerah khususnya, karena Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah itu menggambarkan seluruh perencanaan kebijaksanaan Pemerintah
Daerah.
d. Merupakan suatu sarana untuk melaksanakan pengawasan terhadap Daerah
dengan cara yang lebih mudah dan berhasil guna.
e. Merupakan suatu pemberian kuasa kepada Kepala Daerah untuk
melaksanakan penyelenggaraan Keuangan Daerah di dalam batas-batas
tertentu.
f. APBD harus disusun dengan mengikutkan suatu perencanaan jangka panjang
yang baik dan mempertimbangkan dengan seksama skala prioritas.
Selanjutnya dalam pelaksanaannya haruslah terarah pada sasaran-sasaran
yang telah ditetapkan dengan cara yang berdaya guna dan berhasil guna.
Seiring berjalannya waktu, maka terjadilah sebuah perubahan dalam
Daerah. APBD yang sebelumnya disusun dengan berpedoman pada Kepmendagri
Nomor 29 Tahun 2002 yang berisikan tentang pedoman pengurusan,
pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah serta tata usaha keuangan
daerah dan penyusunan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,
kini pedoman penyusunan APBD tersebut telah berganti dengan memakai
Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 yang berisikan tentang pedoman pengelolaan
keuangan daerah.
3.3. Konsep Belanja Daerah
Belanja daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan
pemerintah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota yang terdiri
dari urusan wajib,urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian
atau bidang tertentu antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan
perundang-undangan.
Belanja daerah mencakup berbagai proses dan keputusan untuk meperoleh
barang dan jasa yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah daerah,
termasuk dinas dan instansi pemerintah daerah. Belanja ini berkaitan dengan
belanja pegawai; belanja operasional seperti pengadaan barang investaris kantor
dan Alat Tulis Kantor (ATK); belanja pemeliharaan dan lain-lain.
Pemerintah daerah menetapkan target pencapaian kinerja setiap belanja, baik
dalam konteks daerah, satuan kerja perangkat daerah, maupun program dan
kegiatan, yang bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran
Menurut Bahtiar Arif, dkk bahwa, “Pelaksanaan anggaran belanja dilakukan
dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan, yaitu:
a. Hemat, tidak mewah, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang
disyaratkan;
b. Efektif, terarah, dan terkendali sesuai dengan rencana, program/kegiatan
setiap departemen/lembaga pemerintahan/non-pemerintahan;
c. Mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri dan potensial nasional.”
3.3.1. Pengertian Belanja
Beberapa definisi belanja telah dikemukakan para ahli. Diantaranya adalah
pengertian belanja menurut Indra Bastian dan Gatot soepriyanto : “Belanja adalah
jenis biaya yang timbulnya berdampak langsung kepada berkurangnya saldo kas
maupun uang entitas yang berada di bank.”
Menurut Abdul Hafiz Tanjung : “Belanja merupakan pengeluaran daerah
yang mengurangi ekuitas atau kekayaan daerah dan tidak dapat diperoleh kembali
pembayarannya oleh pemerintah.”
Menurut Deddi Nordiawan dan Ayuningtias : “Belanja adalah semua
pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang mengurangi ekuitas
dana lancer dalam periode tahun anggran bersangkutan yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh pemerintah.”
Menurut Nunuy Nur Afiah: “Belanja daerah meliputi semua pengeluaran
kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh daerah.”
3.3.2. Klasifikasi Belanja
Menurut Tulis S.Meliala, dkk : ”Belanja diklasifikasikan menurut
organisasi , fungsi dan ekonomi. Klasifikasi belanja menurut organisasi artinya
anggaran dialokasikan ke organisasi sesuai dengan struktur organisasi pemerintah
daerah yang bersangkutan.”
Klasifikasi berdasarkan fungsi dibuat sesuai dengan urusan pemerintahan,
sehingga perlu dilihat hubungannya dengan program dan kegiatan suatu entitas
atau satuan kerja. Belanja ini terdiri dari: pelayanan umum, pertahanan, ketertiban
dan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum,
kesehatan, pariwisata dan budaya, agama, pendidikan, perlindungan sosial.
Klasifikasi belanja menurut ekonomi atau jenisnya antara lain:
1. Belanja operasi, adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari
pemerintah pusat dan daerah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja
ini meliputi belanja pegawai, belanja barang non investasi, pembayaran
bunga hutang, subsidi, hibah, bantuan sosial dan belanja operasional
lainnya.
2. Belanja modal, yaitu pengeluaran anggaran untuk perolehan asset tetap atau
asset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
3. Belanja tak terduga, adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang
3.4. Kelompok Belanja
Dalam rangka memudahkan penilaian kewajaran biaya suatu program atau
kegiatan, maka belanja terdiri dari dua kelompok, yaitu:
3.4.1. Belanja Langsung
Belanja langsung dipergunakan dalam rangka memenuhi kepentingan
masyarakat dan merupakan suatu tindakan untuk menciptakan pembangunan
yang nantinya berguna untuk kesejahteraan masyarakat, dan pengalokasian
belanja langsung harus lebih besar dari pengalokasian belanja tidak langsung
yaitu dilakukan dengan menekan pengeluaran anggaran belanja tidak langsung
seminimal mungkin, sehingga alokasi anggaran belanja langsung bisa lebih
besar. Komposisi belanja langsung idealnya adalah 70 % untuk pembangunan.
Seperti yang dikemukakan oleh Herdino Wahyono bahwa: ”komposisi ideal
anggaran di daerah adalah 70:30 % yaitu 70 % utntuk pembangunan dan 30 %
untuk belanja rutin dan gaji pegawai.”
Bambang Agus Salam berpendapat bahwa: ” Belanja publik idealnya 70%
sampai 80% dalam APBD.” Pemerintah daerah harus melakukan upaya efesiensi
dalam pengelolaan keuangan daerah. Untuk membiayai pembangunan selama ini,
sumber pendapatan sebagian besar daerah masih tergantung pada pemerintah
pusat seperti Dana Alokasi Umum (DAU) maupun Dana Alokasi Khusus (DAK).
jumlahnya. Sebagian besar dari DAU tersebut habis terserap pada belanja
pegawai.
Menurut Mahmudi :“Belanja langsung, yaitu belanja yang terkait langsung
dengan program dan kegiatan.” Belanja langsung meliputi :
a) Belanja pegawai, yaitu belanja kompensasi baik dalam bentuk uang maupun
barang yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
diberikan kepada Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan pegawai
yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai
imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan dimana pekerjaan tersebut
yang berkaitan dengan pembentukan modal.
Belanja pegawai meliputi:
- Honorarium PNS
- Honorarium Non-PNS
- Uang Lembur
- Belanja Beasiswa Pendidikan PNS
- Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi, dan Bimbingan Teknis PNS
b) Belanja barang dan jasa, yaitu pengeluaran untuk menampung pembelian
barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang
dipasarkan maupun tidak dipasarkan, dan pengadaan barang yang
dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja
perjalanan.
Belanja barang dan jasa meliputi:
- Belanja Bahan/Material
- Belanja Jasa Kantor
- Belanja Premi Asuransi
- Belanja Perawatan Kendaraan Bermotor
- Belanja Cetak dan Penggandaan
- Belanja Sewa Rumah/Gedung/Gudang parker
- Belanja Sewa Sarana Mobilitas
- Belanja Sewa Alat Berat
- Belanja Sewa Perlengkapan dan Peralatan Kantor
- Belanja Makanan dan Minuman
- Belanja Pakaian Dinas dan atribut
- Belanja Pakaian Kerja
- Belanja Pakaian Khusus dan Hari-hari tertentu
- Belanja Perjalanan Dinas
- Belanja Pemulangan Pegawai
c) Belanja modal, yaitu pengeluaran anggaran untuk perolehan asset tetap dan
asset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Belanja modal meliputi:
- Belanja Modal Pengadaan Tanah
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Berat
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan Darat Bermotor dan Tidak
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan di Air Bermotor dan Tidak
Bermotor
- Belanja Modal pengadaan Alat-alat Angkutan Udara
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Bengkel
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Pengelolaan Pertanian dan Peternakan
- Belanja Modal Pengadaan Peralatan Kantor
- Belanja Modal Pengadaan Perlengkapan Kantor
- Belanja Modal Pengadaan Komputer
- Belanja Modal Pengadaan Mebel
- Belanja Modal Pengadaan Peralatan Dapur
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Studio
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Komunikasi
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Ukur
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Kedokteran
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Laboratorium
- Belanja Modal Pengadaan Konstruksi Jembatan
- Belanja Modal Pengadaan Konstruksi Jalan
- Belanja Modal Pengadaan konstruksi Jaringan Air
- Belanja Modal Pengadaan Jalan,Taman, dan Hutan Kota
- Belanja Modal Pengadaan Instalasi Listrik dan Telepon
- Belanja Modal Pengadaan Konstruksi/Pembelian Bangunan
- Belanja Modal Pengadaan Buku/Kepustakaan
- Belanja Modal Pengadaan Hewan/Ternak dan Tanaman
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Persenjataan/Keamanan
3.4.2. Belanja tidak langsung
Belanja tidak langsung atau belanja non publik yang cukup dominan untuk
biaya rutin seperti gaji PNS, listrik, air, jasa komunikasi, perwatan kantor atau
gedung, pengadaan perlengkapan, biaya rapat, dinas luar kota, dan konsumsi.
Pengalokasian belanja tidak langsung idealnya adalah 30 % untuk belanja rutin
dan gaji pegawai.
Seperti yang dikemukakan oleh Humas Kukar bahwa: “Adapun penggunaan
belanja tidak langsung sebesar 30 % terdiri dari belanja aparatur desa, belanja non
aparatur desa, belanja bunga, belanja hibah, belanja bantuan sosial dan belanja
bantuan keuangan, serta belanja tak terduga.”
Pengalokasian belanja tidak langsung tersebut sering lebih besar dari pada
pengalokasian belanja langsung yang terkait secara langsung dengan
pembangunan. Hal ini terjadi akibat program dalam penuyusunan APBD yang
tidak tepat sasaran dan juga merupakan akibat dari kebijakan pemerintah pusat
yang terus menambah jumlah PNS serta kenaikan gaji PNS namun tidak di
imbangi dengan kenaikan Dana Alokasi Umum (DAU), sementara selama ini
asumsi belanja gaji pegawai sumber dananya berasal dari DAU.
Menurut Mahmudi: “Belanja tidak langsung, yaitu belanja yang tidak terkait
a) Belanja pegawai, yaitu belanja kompensasi baik dalam bentuk uang
maupun barang yang ditetapkan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang diberikan kepada Pejabat Negara, PNS, dan pegawai yang
dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan
atas pekerjaan yang telah dilaksanakan kecuali yang berkaitan dengan
pembentukan modal.
Belanja pegawai meliputi:
- Gaji dan Tunjangan
- Tambahan Penghasilan PNS
- Belanja Penerimaan Lainnya Pimpinan dan Anggota DPRD
- Biaya Pemungutan Pajak Daerah
b) Belanja bunga, yaitu pengeluaran pemerintah untuk pembayaran bunga
(interest) atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal outstanding)
yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman jangka pendek atau jangka
panjang.
c) Belanja subsidi, yaitu alokasi anggran yang diberikan kepada
perusahaan/lembaga yang meproduksi, menjual, atau mengimport barang
dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa
sehingga harga jualnya dapat dijangkau masyarakat.
d) Belanja hibah, yaitu digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah
dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada Pemerintah atau
pemerintah daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/perorangan yang
e) Belanja bantuan social, yaitu transfer uang atau barang yang diberikan
kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko
sosial.
f) Belanja bagi hasil, yaitu digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil
yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau
pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan
pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah lainnya sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.
g) Bantuan keuangan, yaitu digunakan untuk menganggarkan bantuan
keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada
kabupaten/kota, pemerintah desa dan kepada pemerintah daerah lainnya
atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan
pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan
kemampuan keuangan.
h) Belanja tidak terduga, yaitu pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang
bersifat tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan
bencana alam, bencana social, dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang
sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah
pusat/daerah.
Perubahanpengelompokan belanja daerah dari Kepmendagri Nomor
29 Tahun 2002 menjadi Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 dapat
Tabel 2.1
Klasifikasi belanja menurut bidang
kewenangan pemerintah daerah,
organisasi, kelompok, jenis, objek, dan
rincian objek belanja.
Klasifikasi belanja menurut urusan
pemerintah daerah, organsasi, program,
kegiatan kelompok, jenis, objek dan
rincian objek belanja.
Pemisahan secara tegas antara belanja
aparatur dan pelayanan public.
Pemisahan kebutuhan belanja antara
aparatur dan pelayanan public
tercermin dalam program dan kegiatan.
Pengelompokan Belanja Administrasi
Umum (BAU), Belanja Operasi dan
Pemeliharaan(BOP), Belanja Modal
(BM), Belanja Tidak Tersangka, dan
Belanja Bantuan Keuangan cenderung
menimbulkan terjadinya tumpang tindih
penganggaran.
Belanja dikelompokan dalam Belanja
Langsung dan Belanja Tidak Langsung
sehingga tercipta efisiensi mulai saat
penganggaran.
Menggabungkan antara jenis belanja
sebagai input dan kegiatan dijadikan
sebagai jenis biaya.
Restrukturasi jenis-jenis belanja.
Tabel 2.2
Jenis dan Kelompok Belanja
Kepmendagri No.29 Tahun
2002
Permendagri No.59 Tahun 2007
(Revisi atas Permendagri No 13
Tahun 2006)
Belanja Administrasi dan Umum : Belanja Tidak Langsung :
- Belanja Pegawai - Belanja Pegawai
- Belanja Barang dan Jasa - Belanja Bunga
- Belanja Perjalanan Dinas - Belanja Subsidi
- Belanja Pemeliharaan - Belanja Hibah
Belanja Operasi dan Pemeliharaan : - Belanja Bantuan Sosial
- Belanja Pegawai - Belanja Bagi Hasil
- Belanja Barang dan Jasa - Belanja Bantuan Keuangan
- Belanja Perjalanan Dinas - Belanja Tak Terduga
- Belanja Pemeliharaan Belanja Langsung :
Belanja Modal - Belanja Pegawai
Belanja Bantuan Keuangan - Belanja Barang dan Jasa
Belanja Tidak Tersangka - Belanja Modal
Sumber :Diolah Penulis dari Kepmendagri No.29 Tahun 2002 dan Permendagri
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain penelitian
Pada dasarnya desain penelitian merupakan blueprint yang menjelaskan setiap prosedur penelitian mulai dari tujuan penelitian sampai dengan analisis data. Desain penelitian dibuat dengan tujuan agar pelaksanaan penelitian dapat dijalankan dengan baik , benar dan lancar. Kerangka kerja meliputi:
1. Tujuannya yaitu untuk mengetahui bagaimana pengalokasian komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung di Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan.
2. Pelaksanaan program penelitian yaitu pada tanggal 24 Mei 2013 di Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan.
3. Analisis datanya yaitu dengan mengukur persentase belanja langsung dan belanja tidak langsung setiap tahunnya di Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif yaitu dapat diartikan sebagai pemecahan masalah yang dinyatakan
dalam bentuk kata, kalimat, gambar. Dengan demikian, penelitian ini berusaha
mendiskripsikan tentang komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung
3.2 Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah Pemerintah
Kabupaten Humbang Hasundutan, yaitu Tim Anggaran Pemerintah Daerah
(TAPD) Kabupaten Humbang Hasundutan.
3.3 Jenis Data
Dalam penelitian ini adapun data yang diperlukan adalah data sekunder.
Data Sekunder
Menurut Elvis F. Purba dan Parulian Simanjuntak: “Data sekunder adalah
data yang telah ada atau telah dikumpulkan oleh orang atau instansi lain dan siap
digunakan oleh orang ketiga.”
Data sekunder pada penelitian ini yaitu berupa informasi mengenai Laporan
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Humbang
Hasundutan pada periode 2008-2012, data-data pendukung mengenai belanja
daerah seperti buku-buku yang bersumber dari kepustakaan dan analisis dokumen
meliputi Undang-undang Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah, Keputusan
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik
wawancaradan dokumentasi.
1. Wawancara
Yaitu melakukan tanya jawab secara langsung dengan pihak yang berkaitan
di tempat objek penelitian.
2. Dokumentasi
Dokumen bisa berbentuk tulisan seperti catatan harian, sejarah kehidupan,
peraturan dan kebijakan, ataupun bentuk gambar.Metode ini digunakan untuk
mengumpulkan berbagai informasi khususnya untuk melengkapi data melalui
pencatatan dan fotocopy data-data yang diperlukan.
3.5 Metode Analisis Data
Analisis data adalah cara yang digunakan dalam mengolah data yang
diperoleh sehingga dapat memperoleh kesimpulan atau hasil.
1. Metode Analsisi deskriptif yaitusuatu metode analisis yang terlebih dahulu
mengumpulkan data yang ada, kemudian diklasifikasikan, dianalisis,
selanjutnya diinterpretasikan, sehingga dapat memberikan gambaran yang
objektif mengenai keadaan yang diteliti. Metode analisis ini dilakukan dengan
terlebih dahulu mengumpulkan datayaitu Laporan Realisasi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan pada
periode 2008-2012 kemudian diklasifikasikan, dan dianalisis, selanjutnya
pengalokasian belanja langsung dan belanja tidak langsung dan seberapa
besar pengalokasian belanja tersebut di Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan.
2. Metode Analisis deduktif yaitu analisis dilakukan dengan cara
membandingkan teori-teori dengan praktek dalam perusahaan. Kemudian
membuat kesimpulan dan mengemukakan saran untuk mengatasi masalah
yang sama di Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di masa yang
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Sejarah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan
Mengejar ketinggalan dengan penduduk lainnya serta adanya aspirasi,
keinginan dan tekad bulat dari masyarakat Humbang Hasundutan untuk
meningkatkan status daerahnya menjadi suatu Kabupaten, dengan tujuan agar
masyarakat Humbang Hasundutan dapat memperjuangkan dan mengatur
pembangunan msyarakat dan daerahnya, sesuai dengan aspirasinya untuk
meningkatkan taraf hidup menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera
merupakan dasar untuk usulan dibentuknya Kabupaten Humbang Hasundutan.
Tapanuli Utara sebagai kabupaten induk dari Humbang Hasundutan
terbentuk berdasarkan Undang Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956 tentang
pembentukan daerah otonom kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Propinsi
Sumatera Utara.
Pada masa pemerintahan penjajahan Belanda, salah satu afdeling di wilayah
Kepresidenan Tapanuli adalah Afdeling Bataklanden dengan ibukota Tarutung
terdiri atas lima onder afdeling. Setelah kemerdekaan tepatnya tahun 1947
Kabupaten Tanah Batak menjadi 4 (empat) kabupaten yaitu :
1. Kabupaten Silindung ibukotanya Tarutung.
2. Kabupaten Humbang ibukotanya Dolok Sanggul.
3. Kabupaten Toba Samosir ibukotanya Balige.
Pada Tahun 1950 keempat kabupaten ini dilebur menjadi Kabupaten
Tapanuli Utara, seiring dengan terbentuknya Kabupaten Tapanuli Selatan,
Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Nias. Keadaan ini bertahan hingga tahun 1964,
karena pada saat itu Tapanuli Utara dimekarkan dengan terpisahnya Dairi menjadi
kabupaten berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1964,dan selanjutnya
berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1998 terbentuknya Kabupaten
Toba Samosir. Kenyataan menunjukan bahwa kedua daerah tersebut mengalami
perkembangan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Berdasarkan faktor sejarah dan keinginan untuk semakin cepat
pembangunan dengan pelayanan yang semakin dekat kepada masyarakat maka
harapan yang terkandung selama ini mengkristal menjadi usul pembentukan
Kabupaten Humbang Hasundutan melalui terbentuknya Panitia Pembentukan
Kabupaten Humbang Hasundutan.
Terbitnya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah
Daerah yang dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000
tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan
Penggabungan Daerah, menjadi peluang munculnya wacana perlunya usul
pemekaran melalui pembentukan Kabupaten.
Berbekal keinginan untuk mendambakan peningkatan kesejahteraan
masyarakat, peluang tersebut dimanfaatkan secara tepat oleh masyarakat di
wilayah Humbang Hasundutan melalui Panitia Pembentukan Kabupaten
menumbuhkan aspirasi masyarakat untuk mengusulkan Pemekaran Kabupaten
Tapanuli Utara, melalui usul pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Aspirasi murni masyarakat tersebut disambut dan difasilitasi oleh
pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, serta dukungan DPRD Kabupaten
Tapanuli Utara, yang kemudian memperoleh dukungan Gubernur Sumatera Utara
dan DPRD Provinsi Sumatera Utara.
Berikut ini beberapa langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten
Tapanuli Utara, dalam menyikapi aspirasi tersebut di atas adalah :
1. Mengikuti perkembangan Deklarasi Pembentukan Kabupaten Humbang
Hasundutan tanggal 23 April yang dilaksanakan di Dolok Sanggul.
2. Tanggal 25 Mei 2002 menerima audensi Panitia Pembentukan Kabupaten
Humbang Hasundutan sekaligus menerima berkas pengusulan.
3. Tanggal 26 Mei 2002 Bupati Tapanuli Utara menerbitkan SK Tim Peneliti
sekaligus memberi petunjuk dalam memfasilitasi aspirasi masyarakat.
4. Tanggal 27 Mei 2002 berkonsultasi dengan DPRD Kabupaten Tapanuli Utara
perihal aspirasi masyarakat tentang usulan pemekaran.
5. Tanggal 3 s/d 5 Juni 2002 menugaskan Tim Peneliti mendampingi DPRD
Kabupaten Tapanuli Utara, turun ke Kecamatan guna mendengar aspirasi dan
meneliti usulan dimaksud.
6. Tanggal 5 Juni 2002 menerima berkas pengajuan/penyempurnaan usul
pemekaran melalui pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan.
8. Tanggal 6 dan 7 Juni 2002 secara langsung turun ke Kecamatan- kecamatan
untuk mendengar dan memfasilitasi usul pemekaran Kabupaten, sekaligus
mengingatkan masyarakat agar usul pemekaran tidak menimbulkan
perpecahan di kalangan masyarakat termasuk para perantau.
9. Tanggal 8 Juni 2002 menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tapanuli
Utara dengan hasil penerbitan Surat Keputusan DPRD Kabupaten Tapanuli
Utara Nomor : 16 Tahun 2002 tentang Persetujuan Pemekaran Kabupaten
Tapanuli Utara.
Beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara,
untuk mempercepat proses pemekaran Kabupaten Humbang Hasundutan yaitu :
1. Melaksanakan pertemuan dengan segenap komponen masyarakat Tapanuli
Utara guna memantapkan pemahaman dan Melaporkan perkembangan
terakhir usul pemekaran kepada Gubernur Sumatera Utara dan Bapak Ketua
DPRD Sumatera Utara.
2. Melaksanakan pertemuan dengan segenap komponen masyarakat Tapanuli
Utara guna memantapkan pemahaman dan dukungan bagi terwujudnya
pemekaran.
3. Meyampaikan laporan tertulis dan pendapat kepada Bapak Gubernur
SumateraUtara, Bapak Menteri Dalam Negeri dan Dewan Pertimbangan
Otonomi Daerah.
4. Mengundang Komisi II DPR-RI untuk memantau, mengevaluasi dan
5. Konsultasi dengan DPRD Kabupaten Tapanuli Utara dalam rangka dukungan
APBD dan pengajuan usul dukungan DPRD Provinsi Sumatera Utara.
6. Melakukan akurasi data pendukung Pembentukan Kabupaten sebagaimana
diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor : 129 Tahun 2000.
7. Melakukan Pengkajian dan uji kelayakan pemekaran Kabupaten Tapanuli
Utara yakni Kabupaten Humbang Hasundutan dengan memohon kesediaan
Bapak Mendagri Cq. Dirjen Otonomi Daerah dan Dewan Pertimbangan
Otonomi Daerah.
8. Perencanaan persiapan sarana/prasarana dan Aparat guna mendukung
pemekaran kabupaten.
9. Menyurati para anak rantau di luar Kabupaten Tapanuli Utara untuk
mendukung Usul Pemekaran Kabupaten Tapanuli Utara sesuai fungsi dan
tugas masing-masing.
Pemerintah Pusat sangat responsif terhadap aspirasi ini karena dalam waktu
relatif singkat Tim Terpadu Depdagri, DPOD dan Komisi II DPR/RI melakukan
kunjungan dan pertemuan dengan masyarakat se-wilayah Humbang Hasundutan
tanggal 5 September 2002 sebagai lanjutan kunjugan Komisi II DPR-RI tanggal
29 Juli 2002.
Sebagai tindak lanjutnya maka usul pemekaran ini mendapat pembahasan
pada Sidang Paripurna DPR-RI yang pada puncaknya melahirkan Undang-undang
Nomor 9 Tahun 2003 tentang Pembentukan Nias Selatan, Kabupaten Pakpak
Pada hari Senin tanggal 28 Juli 2003 Kabupaten Humbang Hasundutan
diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri RI sekaligus melantik Penjabat Bupati
Drs. Manatap Simanungkalit di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan.
Mengawali tugas sebagai Bupati Humbang Hasundutan telah membuat pertemuan
dengan para Tokoh Masyarakat, adat dan Tokoh Pendidikan serta Tokoh Agama
di Daearah ini antara lain guna membicarakan pembuatan Logo Kabupaten
Humbang Hasundutan yang disyahkan oleh DPRD.
4.2. Visi& Misi Kabupaten Humbang Hasundutan Visi: Menjadi daerah yang Mandiri dan Sejahtera.
Misi: 1.Meningkatkan iman dan taqwa;
2. Meningkatkan Profesionalisme dan Produktivitas kerja SDM
3. Menyelenggarakan pemerintahan yang baik (Good Governance);
4. Meningkatkan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian;
5. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan;
6. Meningkatkan stabilitas politik dan keamanan.
Strategi dalam mewujudkan visi dan misi :
1. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui
pembangunan pendidikan dan kesehatan ;
2. Peningkatan profesionalisme dan produktifitas kerja masyarakat;
4. Peningkatan ekonomi kerakyatan melalui pembangunan pertanian,
peternakan dan perikanan;
5. Peningkatan pembangunan di sektor keamanan, ketertiban umum,
penegakan hukum dan hak azasi manusia;
6. Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam membangun serta
pengentasan kemiskinan;
7. Peningkatan pembangunan sektor perdagangan dan industri kecil dan
menengah yang mengolah hasil pertanian, kehutanan dan perikanan.
Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki luas wilayah 251.765,93 Hadan
luas perairan Danau Toba 1.494,91 Ha terdiri dari 10 Kecamatan 143 Desa dan 1
Kelurahan 251.765,93 Hadan luas perairan Danau Toba 1.494,91 Ha.
4.3. Struktur Organisasi dan Uraian Jabatan 4.3.1. Struktur Organisasi
Untuk menjalankan roda pemerintahan daerahnya, setiap daerah harus
mempunyai suatu sruktur organisasi dimana tujuannya adalah menjamin
kelancaran pembagian tugas.Gambar struktur organisasi pada Dinas Pendapatan
dan Pengelolaan kekayaan Daerah (DPPK) kabupaten Humbang Hasundutan
Gambar 4.1
Struktur Organisasi Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan (DPPK) Pemerintahanan Humbang Hasundutan
Sumber: Diolah dari Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan
4.3.2. Uraian Jabatan
1.
Kepala Dinas,Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan mempunyai tugas
pokok membantu Bupati melaksanakan kewenangan desentralisasi di bidang
pendapatan dan pengelolaan keuangan daerah dan tugas lain yang diberikan
Bupati
2. Sekretaris,
Sekretaris mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan administratif
kepada semua unsur di lingkungan Dinas
3. Kepala Subbagian Umum,
Kepala Subbagian Umum mempunyai tugas pokok mempersiapkan
bahan-bahan penyusunan kebijakan teknis Dinas, program dan kegiatan, pengelolaan
perlengkapan dan barang inventaris, pengelolaan urusan rumah tangga,
ketatausahaan, kepegawaian serta pelaporan
4. Kepala Subbagian Keuangan,
Kepala Subbagian Keuangan mempunyai tugas pokok mempersiapkan
bahan-bahan penyusunan anggaran, pengelolaan administrasi keuangan, pelaporan
dan pertanggngjawaban keuangan
5. Kepala Bidang Pendapatan,
Kepala Bidang Pendapatan mempunyai pokok melaksanakan kebijakan,
6. Kepala Seksi Pendataan dan Penetapan,
Kepala Seksi Pendataan dan Penetapan mempunyai tugas pokok
mempersiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan teknis, program dan kegiatan
serta fasilitasi pelaksanaan pembinaan teknis dan pelayanan umum menyangkut
pendataan dan penetapan
7. Kepala Seksi Perencanaan, Pengendalian dan Operasional,
Kepala Seksi Perencanaan, Pengendalian dan Operasional mempunyai tugas
pokok mempersiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan teknis, program dan
kegiatan serta fasilitasi pelaksanaan pembinaan teknis dan pelayanan umum
menyangkut perencanaan, pengendalian dan operasional
8. Kepala Bidang Anggaran,
Kepala Bidang Anggaran mempunyai tugas pokok melaksanakan kebijakan
program dan kegiatan di bidang anggaran
9. Kepala Seksi Perencanaan dan Kebijakan Anggaran,
Kepala Seksi Perencanaan dan Kebijakan Anggaran mempunyai tugas
pokok mempersiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan teknis, program dan
kegiatan serta fasilitasi pelaksanaan pembinaan teknis dan pelayanan umum
menyangkut perencanaan dan kebijakana anggaran
10. Kepala Seksi Pengendalian Anggaran,
Kepala Seksi Pengendalian Anggaran mempunyai tugas pokok
mempersiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan teknis, program dan kegiatan
serta fasilitasi pelaksanaan pembinaan teknis dan pelayanan umum menyangkut
11. Kepala Bidang Penatausahaan Keuangan Daerah,
Kepala Bidang Penatausahaan Keuangan Daerah mempunyai tugas pokok
melaksanakan kebijakan, program dan kegiatan di bidang penatausahaan
keuangan daerah
12. Kepala Seksi Perbendaharaan dan Gaji,
Kepala Seksi Perbendaharaan dan Gaji mempunyai tugas pokok
mempersiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan teknis, program dan kegiatan
serta fasilitasi pelaksanaan pembinaan teknis dan pelayanan umum menyangkut
perbendaharaan dan gaji.
13. Kepala Seksi Akuntansi dan Pelaporan,
Kepala Seksi Akuntansi dan Pelaporan mempunyai tugas pokok
mempersiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan teknis, program dan kegiatan
serta fasilitasi pelaksanaan pembinaan teknis dan pelayanan umum menyangkut
akuntansi dan pelaporan.
14. Kepala Bidang Asset dan Kekayaan Daerah,
Kepala Bidang Asset dan Kekayaan Daerah mempunyai tugas pokok
melaksanakan kebijakan, program dan kegiatan di bidang asset dan kekayaan
daerah
15. Seksi Pengadaan dan Penghapusan,
Kepala Seksi Pengadaan dan Penghapusan mempunyai tugas pokok
mempersiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan teknis, program dan kegiatan
serta fasilitasi pelaksanaan pembinaan teknis dan pelayanan umum menyangkut
16. Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pelaporan,
Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pelaporan mempunyai tugas pokok
mempersiapkan bahan-bahan perumusan kebijakan teknis, program dan kegiatan
serta fasilitasi pelaksanaan pembinaan teknis dan pelayanan umum menyangkut
pemeliharaan dan pelaporan.
4.4. Analisis Hasil Penelitian
4.4.1.Analisis Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2008
Ditahun 2008, pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan berpedoman
pada Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 atas revisi dari Permendagri Nomor 13
Tahun 2006 dalam menyusun laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD)-nya. Oleh karena itu, struktur belanja daerah Pemerintah Kabupaten
Humbang tersusun berdasarkan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007
tersebut.Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 membagi belanja daerah menjadi
belanja langsung dan belanja tidak langsung.Belanja tidak langsung dirinci lagi
meliputi belanja pegawai, belanja bunga, belanja hibah, belanja bantuan sosial,
belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga.Untuk
belanja langsung dirinci lagi menjadi belanja pegawai, belanja barang dan jasa,
dan belanja modal. Untuk mengetahui besarnya pendistribusian belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2008 terhadap
TABEL 4.1
Laporan Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2008
NO. Uraian Realisasi
1. Belanja Daerah 381,073,111,506.44 1.1 Belanja Tidak Langsung 145,010,681,539.53
1.1.1 Belanja Pegawai 127,319,002,722.40
1.1.2 Belanja Subsidi 592,895,000.00
1.1.3 Belanja Hibah 4,206,941,852.00
1.1.4 Belanja Bantuan Sosial 1,792,584,000.00
1.1.5 Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota/PemerintahanDesa
9,041,552,215.13
1.1.6 Belanja Tidak Terduga 2,057,705,750.00
1.2 Belanja Langsung 236,062,429,966.91
1.2.1 Belanja Pegawai 13,974,115,420.00
1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 65,753,560,650.42
1.2.3 Belanja Modal 156,334,753,896.49
Sumber: Laporan Realisasi APBD Kab.Humbang Hasundutan Tahun 2008 dalam
Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat diketahui berapa porsi belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2008 untuk tiap-tiap
belanja berikut ini:
1. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2008
mendapat porsi sebesar 38,05 % dari total belanja daerahnya. Porsi yang
sebesar 38,05 % tersebut dirinci ke dalam beberapa belanja yang termasuk ke
dalam bagian belanja tidak langsung antara lain sebagai berikut:
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai mendapat pendistribusian belanja sebesar 33,41 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2008.
b. Belanja Subsidi
Belanja subsidi mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,15 % dari total
belanja daerah Pemerintahan Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2008.
c. Belanja Hibah
Belanja hibah mendapat pendistribusian belanja sebesar 1,11 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2008.
d. Belanja Bantuan Sosial
Belanja bantuan sosial mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,47 % dari
total belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun
2008.
e. Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan
Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintah
desa mendapat pendistribusian belanja sebesar 2,37 % dari total belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2008.
f. Belanja Tidak Terduga
Kemudian sisa pendistribusian belanja tidak langsung sebesar 0,54 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2008.
2. Belanja Langsung
Untuk belanja langsung, di tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan mendistribusikannya sebesar 61,95 %. Pendistribusian ini dapat
dirinci ke dalam beberapa belanja antara lain:
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai yang termasuk ke dalam belanja langsung mendapat
pendistribusian sebesar 3,66 % dari total belanja daerah.
b. Belanja barang dan Jasa
Belanja barang dan jasa pendistribusiannya sebesar 17,26 % dari total
belanja daerah.
c. Belanja Modal
Kemudian sisa pendistribusiannya sebesar 41,03 % dari belanja daerah di
4.4.2.Analisis Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2009
Pendistribusian belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan di tahun 2009 terhadap belanja-belanja daerah tersebut, maka dapat
dilihat pada tabel belanja berikut:
TABEL 4.2
Laporan Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2009
NO. Uraian Realisasi
1. Belanja Daerah 378,495,284,372.25 1.1 Belanja Tidak Langsung 181,619,819,958.82
1.1.1 Belanja Pegawai 162,480,535,869.82
1.1.2 Belanja Subsidi 527,425,000.00
1.1.3 Belanja Hibah 2,947,925,000.00
1.1.4 Belanja Bantuan Sosial 4,238,326,766.00
1.1.5 Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota/PemerintahanDesa
9,332,083,118.00
1.1.6 Belanja Tidak Terduga 2,093,524,205.00
1.2.1 Belanja Pegawai 9,523,811,678.00
1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 63,331,679,671.52
1.2.3 Belanja Modal 124,019,973,063.91
Sumber: Laporan Realisasi APBD Kab.Humbang Hasundutan Tahun 2009 dalam
rupiah
Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat diketahui berapa porsi belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2009 untuk tiap-tiap
belanja berikut ini:
1. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2009 mendapat
porsi sebesar 47,98 dari total belanja daerahnya. Porsi yang sebesar 47,98 %
tersebut dirinci ke dalam beberapa belanja yang termasuk ke dalam bagian belanja
tidak langsung antara lain sebagai berikut:
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai mendapat pendistribusian belanja sebesar 42,93 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2009.
b. Belanja Subsidi
Belanja subsidi mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,13 % dari total
belanja daerah Pemerintahan Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2009.
c. Belanja Hibah
Belanja hibah mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,77 % dari total
d. Belanja Bantuan Sosial
Belanja bantuan sosial mendapat pendistribusian belanja sebesar 1,12 % dari
total belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun
2009.
e. Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan
Pemerintah Desa
Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintah
desa mendapat pendistribusian belanja sebesar 2,47 % dari total belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2009.
f. Belanja Tidak Terduga
Kemudian sisa pendistribusian belanja tidak langsung sebesar 0,56 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2009.
2. Belanja Langsung
Untuk belanja langsung, di tahun 2009 Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan mendistribusikannya sebesar 52,02 %. Pendistribusian ini dapat
dirinci ke dalam beberapa belanja antara lain:
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai yang termasuk ke dalam belanja langsung mendapat
pendistribusian sebesar 2,53 % dari total belanja daerah.
b. Belanja barang dan Jasa
Belanja barang dan jasa pendistribusiannya sebesar 16,73 % dari total
c. Belanja Modal
Kemudian sisa pendistribusiannya sebesar 32,76 % dari belanja daerah di
distribusikan ke belanja modal.
4.4.3. Analisis Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2010
Pendistribusian belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan di tahun 2010 terhadap belanja-belanja daerah tersebut, maka dapat
dilihat pada tabel belanja berikut:
TABEL 4.3
Laporan Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2010
NO. Uraian Realisasi
1. Belanja Daerah 393,014,475,016.49 1.1 Belanja Tidak Langsung 235,743,395,447.60
1.1.1 Belanja Pegawai 207,347,525,442.60
1.1.2 Belanja Subsidi 226,415,000.00
1.1.3 Belanja Hibah 13,274,230,901.00
1.1.5 Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota/PemerintahanDesa
10,014,781,229.00
1.1.6 Belanja Tidak Terduga 533,204,875.00
1.2 Belanja Langsung 157,271,079,568.89
1.2.1 Belanja Pegawai 10,032,765,830.00
1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 64,627,820,137.96
1.2.3 Belanja Modal 82,610,493,600.93
Sumber: Laporan Realisasi APBD Kab.Humbang Hasundutan Tahun 2010 dalam
rupiah
Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat diketahui berapa porsi belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2010 untuk tiap-tiap
belanja berikut ini:
1. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2010 mendapat
porsi sebesar 59,99 % dari total belanja daerahnya. Porsi yang sebesar 59,99 %
tersebut dirinci ke dalam beberapa belanja yang termasuk ke dalam bagian belanja
tidak langsung antara lain sebagai berikut:
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai mendapat pendistribusian belanja sebesar 52,76 % dari total
b. Belanja Subsidi
Belanja subsidi mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,05 % dari total
belanja daerah Pemerintahan Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2010.
c. Belanja Hibah
Belanja hibah mendapat pendistribusian belanja sebesar 3,39 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2010.
d. Belanja Bantuan Sosial
Belanja bantuan sosial mendapat pendistribusian belanja sebesar 1,11 % dari
total belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun
2010.
e. Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah
Desa
Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintah
desa mendapat pendistribusian belanja sebesar 2,55 % dari total belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2010.
f. Belanja Tidak Terduga
Kemudian sisa pendistribusian belanja tidak langsung sebesar 0,13 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2010.
2. Belanja Langsung
Untuk belanja langsung, di tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan mendistribusikannya sebesar 40,01 %. Pendistribusian ini dapat
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai yang termasuk ke dalam belanja langsung mendapat
pendistribusian sebesar 2,56 % dari total belanja daerah.
b. Belanja barang dan Jasa
Belanja barang dan jasa pendistribusiannya sebesar 16,44 % dari total
belanja daerah.
c. Belanja Modal
Kemudian sisa pendistribusiannya sebesar 21,01 % dari belanja daerah di
distribusikan ke belanja modal.
4.4.4. Analisis Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2011
Pendistribusian belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan di tahun 2011 terhadap belanja-belanja daerah tersebut, maka dapat
dilihat pada tabel belanja berikut:
TABEL 4.4
Laporan Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2011
NO. Uraian Realisasi
1. Belanja Daerah 432,517,402,736.77 1.1 Belanja Tidak Langsung 260,865,930,408.00
1.1.2 Belanja Subsidi 495,125,000.00
1.1.3 Belanja Hibah 7,237,178,667.00
1.1.4 Belanja Bantuan Sosial 3,235,166,317.00
1.1.5 Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota/PemerintahanDesa
9,662,996,000.00
1.1.6 Belanja Tidak Terduga 861,085,000.00
1.2 Belanja Langsung 171,651,472,328.77
1.2.1 Belanja Pegawai 16,992,202,933.00
1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 75,930,511,374.37
1.2.3 Belanja Modal 78,728,758,021.40
Sumber: Laporan Realisasi APBD Kab.Humbang Hasundutan Tahun 2011 dalam
rupiah
Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat diketahui berapa porsi belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2011 untuk tiap-tiap
belanja berikut ini:
1. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2011 mendapat
porsi sebesar 60,32% dari total belanja daerahnya. Porsi yang sebesar 60,32 %
tersebut dirinci ke dalam beberapa belanja yang termasuk ke dalam bagian belanja
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai mendapat pendistribusian belanja sebesar 55,35 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2011.
b. Belanja Subsidi
Belanja subsidi mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,11 % dari total
belanja daerah Pemerintahan Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2011.
c. Belanja Hibah
Belanja hibah mendapat pendistribusian belanja sebesar 1,67 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2011.
d. Belanja Bantuan Sosial
Belanja bantuan sosial mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,74 % dari
total belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun
2011.
e. Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah
Desa
Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintah
desa mendapat pendistribusian belanja sebesar 2,23 % dari total belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2011.
f. Belanja Tidak Terduga
Kemudian sisa pendistribusian belanja tidak langsung sebesar 0,19 % dari total
2. Belanja Langsung
Untuk belanja langsung, di tahun 2011 Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan mendistribusikannya sebesar 39,68 %. Pendistribusian ini dapat
dirinci ke dalam beberapa belanja antara lain:
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai yang termasuk ke dalam belanja langsung mendapat
pendistribusian sebesar 3,93 % dari total belanja daerah.
b. Belanja barang dan Jasa
Belanja barang dan jasa pendistribusiannya sebesar 17,55 % dari total belanja
daerah.
c. Belanja Modal
Kemudian sisa pendistribusiannya sebesar 18,20 % dari belanja daerah di
distribusikan ke belanja modal.
4.4.5. Analisis Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2012
Pendistribusian belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan di tahun 2012 terhadap belanja-belanja daerah tersebut, maka dapat
TABEL 4.5
Laporan Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2012
NO. Uraian Realisasi
1. Belanja Daerah 511,537,853,879.00 1.1 Belanja Tidak Langsung 298,219,164,054.00
1.1.1 Belanja Pegawai 279,701,456,003.00
1.1.2 Belanja Subsidi 516,650,000.00
1.1.3 Belanja Hibah 4,400,118,000.00
1.1.4 Belanja Bantuan Sosial 3,118,388,051.00
1.1.5 Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota/PemerintahanDesa
9,731,000,000.00
1.1.6 Belanja Tidak Terduga 751,552,000.00
1.2 Belanja Langsung 213,318,689,825.00
1.2.1 Belanja Pegawai 12,488,438,090.00
1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 76,337,308,937.00
1.2.3 Belanja Modal 124,492,924,789.00
Sumber: Laporan Realisasi APBD Kab.Humbang Hasundutan Tahun 2012 dalam
Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat diketahui berapa porsi belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2012 untuk tiap-tiap
belanja berikut ini:
1. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2012 mendapat
porsi sebesar 58,30 % dari total belanja daerahnya. Porsi yang sebesar 58,30 %
tersebut dirinci ke dalam beberapa belanja yang termasuk ke dalam bagian belanja
tidak langsung antara lain sebagai berikut:
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai mendapat pendistribusian belanja sebesar 54,67 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2012.
b. Belanja Subsidi
Belanja subsidi mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,10 % dari total
belanja daerah Pemerintahan Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2012.
c. Belanja Hibah
Belanja hibah mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,87 % dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2012.
d. Belanja Bantuan Sosial
Belanja bantuan sosial mendapat pendistribusian belanja sebesar 0,60 % dari
total belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun
2012.
e. Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah
Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintah
desa mendapat pendistribusian belanja sebesar 1,92 % dari total belanja daerah
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2012.
f. Belanja Tidak Terduga
Kemudian sisa pendistribusian belanja tidak langsung sebesar 0,14% dari total
belanja daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan di tahun 2012.
2. Belanja Langsung
Untuk belanja langsung, di tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan mendistribusikannya sebesar 41,70 %. Pendistribusian ini dapat
dirinci ke dalam beberapa belanja antara lain:
a. Belanja Pegawai
Belanja pegawai yang termasuk ke dalam belanja langsung mendapat
pendistribusian sebesar 2,44 % dari total belanja daerah.
b. Belanja barang dan Jasa
Belanja barang dan jasa pendistribusiannya sebesar 14,92 % dari total belanja
daerah.
c. Belanja Modal
Kemudian sisa pendistribusiannya sebesar 24,34 % dari belanja daerah di
4.4.6. Rekapitulasi Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2008 -2012 ( Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 )
Untuk mempermudah pemahaman tentang belanja daerah pemerintah
Kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 2008-2012 maka dapat dilihat pada
grafik dan tabel rekapitulasi belanja daerah yang dihitung berdasarkan total
realisasi belanja daerah pada periode bersangkutan beriku:
Gambar 4.2
Grafik Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2008-2012
Sumber: Laporan Realisasi APBD kab.Humbang Hasundutan Tahun 2008-2012
Tabel 4.6
Rekapitulasi Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2008-2012
No Jenis Belanja 2008 2009 2010 2011 2012 1.1 Belanja Tidak Langsung 38,05 47,98 59,99 60,32 58,30 1.1.1 Belanja Pegawai 33,41 42,93 52,76 55,35 54,67
1.1.2 Belanja Subsidi 0,15 0,13 0,05 0,11 0,10
1.1.3 Belanja Hibah 1,11 0,77 3,39 1,67 0,87
1.1.4 Belanja Bantuan Sosial 0,47 1,12 1,11 0,74 0,60
1.1.5 Belanja Bantuan Keu. kpd provinsi/kabupaten/kota/Desa
2,37 2,47 2,55 2,23 1,92
1.1.6 Belanja Tidak Terduga 0,54 0,56 0,13 0,19 0,14
1.2 Belanja Langsung 61,95 52,02 40,01 39,68 41,70 1.2.1 Belanja Pegawai 3,66 2,53 2,56 3,93 2,44
1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 17,26 16,73 16,44 17,55 14,92
1.2.3 Belanja Modal 41,03 32,76 21,01 18,20 24,34 Sumber: Laporan Realisasi APBD kab.Humbang Hasundutan Tahun 2008-2012
dalam persentase (%)
Dari tabel 4.6 di atas maka dapat di informasikan beberapa hal mengenai
belanja daerah pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2008-2012 ,