• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 72/PUU-XII/2014 PERKARA NOMOR 5/PUU-XIII/2015 PERKARA NOMOR 27/PUU-XIII/2015 PERKARA NOMOR 86/PUU-XIII/2015

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 JABATAN

NOTARIS

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG

YAYASAN

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2009

KETENAGALISTRIKAN TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

PENGUCAPAN PUTUSAN DAN KETETAPAN

JAKARTA

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 72/PUU-XII/2014 PERKARA NOMOR 5/PUU-XIII/2015 PERKARA NOMOR 27/PUU-XIII/2015 PERKARA NOMOR 86/PUU-XIII/2015 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Jabatan Notaris [Pasal 66 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4)], Pengujian Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan [Pasal 5 ayat (2)], Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara [Pasal 2 huruf a, Pasal 6, Pasal 61, Pasal 66 ayat (2), Pasal 136, Pasal 137, dan Pasal 139], Pengujian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON

1. Tomson Situmeang (Perkara Nomor 72/PUU-XII/2014) 2. Dahlan Pido (Perkara Nomor 5/PUU-XXII/2015)

3. Rochmadi Sularsono (Perkara Nomor 27/PUU-XXII/2015) 4. Ahmad Daryoko (Perkara Nomor 86/PUU-XIII/2015)

ACARA

Pengucapan Putusan dan Ketetapan

Rabu, 26 Agustus 2015, Pukul 11.15 – 11.55 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat.

SUSUNAN PERSIDANGAN

1. Arief Hidayat (Ketua)

2. Anwar Usman (Anggota)

3. I Dewa Gede Palguna (Anggota)

4. Maria Farida Indrati (Anggota)

5. Patrialis Akbar (Anggota)

6. Aswanto (Anggota)

7. Wahiduddin Adams (Anggota)

8. Suhartoyo (Anggota)

Saiful Anwar Panitera Pengganti

Hani Adhani Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang Hadir:

1. Pemohon Perkara Nomor 72/PUU-XII/2014: 1. Tomson Situmeang

2. Pemohon Perkara Nomor 5/PUU-XIII/2015: 1. Dahlan Pido

3. Pemohon Perkara Nomor 27/PUU-XIII/2015: 1. Rochmadi Sularsono

4. Pemohon Perkara Nomor 27/PUU-XIII/2015: 1. Ahmad Daryoko

5. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 27/PUU-XIII/2015: 1. Muhammad Fandrian

6. Pemerintah: 1. Tri Rahmanto

2. Wahyu Jaya Setia Azhari 7. DPR:

(4)

1. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sidang pengucapan putusan dan ketetapan Perkara Nomor 72/PUU-XII/2014, Perkara Nomor 5, Nomor 27, dan Nomor 86/PUU-XIII/2015 dengan ini dibuka dan terbuka untuk umum.

Saya cek kehadirannya. Perkara Nomor 72, Pemohon hadir?

2. PEMOHON PERKARA NOMOR 72/PUU-XII/2014: TOMSON SITUMEANG

Hadir, Yang Mulia. 3. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, terima kasih. Perkara Nomor 5?

4. PEMOHON PERKARA NOMOR 5/PUU-XIII/2015: DAHLAN PIDO Hadir, Yang Mulia.

5. KETUA: ARIEF HIDAYAT Baik. Perkara Nomor 27?

6. PEMOHON PERKARA NOMOR 27/PUU-XIII/2015: ROCHMADI SULARSONO

Hadir, Yang Mulia. 7. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik. Perkara Nomor 86?

8. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 86/PUU-XIII/2015: MUHAMMAD FANDRIAN

Hadir, Yang Mulia.

SIDANG DIBUKA PUKUL 11.15 WIB

(5)

9. KETUA: ARIEF HIDAYAT Baik. Dari DPR, hadir? 10. DPR: PRADINA KURNIA

Hadir, Yang Mulia. 11. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik. Dari Pemerintah yang mewakili presiden? 12. PEMERINTAH:

Hadir, Yang Mulia. Kami dari Kementerian PANRB dan dari Kumham.

13. KETUA: ARIEF HIDAYAT Baik, terima kasih.

Kita mulai terlebih dahulu pengucapan ketetapan. KETETAPAN

NOMOR 86/PUU-XIII/2015

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : a. Bahwa Mahkamah Konstitusi telah menerima permohonan bertanggal 11 Mei 2015 dari: Ir. Ahmad Daryoko, dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa Khusus, bertanggal 14 Agustus 2015, memberi kuasa kepada Dina Ardiyanti, S.H., M.A., dan M. Fandrian Hadistianto, S.H., yang telah dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi dengan Nomor 86/PUU-XIII/2015 pada tanggal 28 Juli 2015, perihal Pengujian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Bahwa terhadap Perkara dengan registrasi Nomor 86/PUU-XIII/2015 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah menerbitkan:

1. Ketetapan Ketua Mahkamah Konstitusi Nomor 177/TAP.MK/2015 tentang Pembentukan Panel Hakim Untuk Memeriksa Permohonan Nomor 86/PUU-XIII/2015, bertanggal 28 Juli 2015;

(6)

2. Ketetapan Ketua Panel Hakim Mahkamah Konstitusi Nomor 178/TAP.MK/2015 tentang Penetapan Hari Sidang Pertama untuk Pemeriksaan Pendahuluan, bertanggal 29 Juli 2015;

c. Bahwa terhadap Perkara tersebut, Mahkamah Konstitusi telah menyelenggarakan sidang pemeriksaan pendahuluan pada tanggal 5 Agustus 2015 dan sidang perbaikan permohonan pada tanggal 19 Agustus 2015; d. Bahwa Panel Hakim Mahkamah Konstitusi pada

persidangan tanggal 19 Agustus 2015, telah menerima surat bertanggal 19 Agustus 2015 dan juga telah disampaikan secara lisan oleh Pemohon yang pada pokoknya Pemohon menarik kembali Permohonan perkara Nomor 86/PUU-XIII/2015.

e. Bahwa terhadap penarikan kembali Permohonan tersebut, Rapat Pleno Permusyawaratan Hakim pada Kamis, 20 Agustus 2015 telah menetapkan penarikan kembali Permohonan perkara Nomor 86/PUU-XIII/2015 beralasan menurut hukum;

f. Bahwa berdasarkan Pasal 35 ayat (1) dan ayat (2) Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, ”Pemohon dapat menarik kembali Permohonan sebelum atau selama pemeriksaan Mahkamah Konstitusi dilakukan”, dan ”Penarikan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Permohonan tidak dapat diajukan kembali”;

Mengingat : 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226);

3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076);

(7)

MENETAPKAN:

1. Mengabulkan penarikan kembali permohonan Pemohon;

2. Permohonan Pemohon dengan Registrasi Perkara Nomor 86/PUU-XIII/2015 perihal Pengujian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 113 … saya ulangi, 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, ditarik kembali;

3. Pemohon tidak dapat mengajukan kembali permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052);

4. Memerintahkan kepada Panitera Mahkamah Konstitusi untuk menerbitkan Akta Pembatalan Registrasi Permohonan dan mengembalikan berkas permohonan kepada Pemohon;

Demikian diputus dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Maria Farida Indrati, I Dewa Gede Palguna, Manahan M.P Sitompul, Patrialis Akbar, Wahiduddin Adams, Aswanto, dan Suhartoyo, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Kamis, tanggal dua puluh, bulan Agustus, tahun dua ribu lima belas, yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal dua puluh enam, bulan Agustus, tahun dua ribu lima belas, selesai diucapkan pukul 11.18 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi, yaitu Arief Hidayat dan … selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Maria Farida Indrati, I Dewa Gede Palguna, Patrialis Akbar, Wahiduddin Adams, Aswanto, dan Suhartoyo, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Ida Ria Tambunan sebagai Panitera Pengganti, dihadiri oleh Pemohon/kuasanya, Presiden atau yang mewakili, dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili.

Berikutnya ketetapan … putusan. PUTUSAN

NOMOR 72/PUU-XII/2014

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Pengujian Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan noran … Notaris

(8)

terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:

Nama : Tomson Situmeang, SH

Pekerjaan : Advokat dan Managing Partner pada Law Firm RB Situmeang & Partners

Alamat : Gedung Pusat Alkitab (Gedung LAI), Lantai 9, unit 901, Jalan Salemba Raya Nomor 12, Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat

Dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 027/RBS-SK/VII/2014 bertanggal 17 Juli 2014 memberi kuasa kepada Pintor Situmeang, SH., Dedy Ronald Gultom, SH., Wilfrid Fernando S., SH., Charles A.M. Hutagalung, SH., dan Pereddi Sihombing, SH., masing-masing sebagai Advokat/Advokat magang yang beralamat di Gedung Pusat Alkitab (Gedung LAI), Lantai 9, Unit 901, Jalan Salemba Raya, Nomor 12, Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa;

Selanjutnya disebut sebagai ---Pemohon; [1.2] Membaca permohonan Pemohon;

Mendengar keterangan Pemohon;

Mendengar dan membaca keterangan Presiden;

Mendengar dan membaca keterangan Pihak Terkait, Ikatan Notaris Indonesia;

Memeriksa bukti-bukti Pemohon; Membaca kesimpulan Pemohon;

Bagian Duduk Perkara dan seterusnya dianggap telah dibacakan. 14. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan Pemohon adalah untuk memohon pengujian konstitusionalitas Pasal 66 ayat (1), ayat (3), dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5491, selanjutnya disebut UU 2/2014), terhadap Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, selanjutnya disebut UUD 1945;

[3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu akan mempertimbangkan:

(9)

b. Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon untuk mengajukan permohonan a quo;

Terhadap kedua hal tersebut, Mahkamah mempertimbangkan sebagai berikut:

Kewenangan Mahkamah

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945, Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226, selanjutnya disebut UU MK), serta Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076), salah satu kewenangan konstitusional Mahkamah adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar;

Bahwa permohonan Pemohon adalah pengujian konstitusionalitas Pasal 66 ayat (1), ayat (3), dan ayat (4) UU 2/2014, yang menyatakan:

Ayat (1), ayat (3), ayat (4), seterusnya … selanjutnya dianggap dibacakan.

Terhadap Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat (1), UUD 1945 yang menyatakan:

Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28D ayat (3), dianggap dibacakan.

[3.4] Menimbang bahwa oleh karena permohonan Pemohon adalah pengujian konstitusionalitas norma Undang-Undang, in casu Pasal 66 ayat (1), ayat (3), dan ayat (4) UU 2/2014, terhadap Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat (1), dan ayat (3) UUD 1945, sehingga Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo; Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon

[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK beserta Penjelasannya, yang dapat mengajukan permohonan pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 adalah mereka yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya yang diberikan oleh UUD 1945 dirugikan oleh berlakunya suatu Undang-Undang, yaitu:

(10)

Dengan demikian, Pemohon dalam pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 harus menjelaskan dan membuktikan terlebih dahulu:

a. Kedudukannya sebagai Pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) UU MK;

b. Kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945 yang diakibatkan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;

[3.6] Menimbang pula bahwa Mahkamah sejak Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 006/PUU-III/2005 bertanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11/PUU-V/2007 bertanggal 20 September 2007, serta putusan-putusan selanjutnya berpendirian bahwa kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) UU MK harus memenuhi lima syarat, yaitu:

a, b, c, d, e dianggap dibacakan.

[3.7] Menimbang bahwa Pemohon adalah perseorangan warga negara Indonesia yang terdaftar sebagi wajib pajak dan juga berprofesi sebagai advokat (vide bukti P-5 sampai dengan bukti P-8) merasa dirugikan hak konstitusionalnya dengan berlakunya Pasal 66 ayat (1), sepanjang frasa “dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris” dan ayat (3), serta ayat (4) UU 2/2014, dengan alasan yang pada pokoknya sebagai berikut:

- Bahwa dengan diberlakukannya kembali substansi ketentuan Pasal 66 ayat (1) sepanjang frasa, “dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah” Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris di dalam Pasal 66 ayat (1) UU 2/2014 menjadi frasa, “dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris”, yang termuat dalam Pasal 66 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang a quo, sebenarnya mempunyai kesamaan substansi, akan memberi pengaruh terhadap penegakan hukum, baik oleh advokat, polisi, jaksa, maupun kekuasaan kehakiman, yang berujung pada hilangnya independensi penegak hukum khususnya polisi, jaksa, dan hakim, serta juga berimplikasi pada hilangnya integritas pelayanan hukum yang melibatkan advokat, sehingga pelayanan hukum juga akan merosot dan akan menghilangkan kepercayaan publik terhadap penegakan hukum;

- Bahwa Pemohon yang berprofesi sebagai advokat sering berhadapan atau beracara pada tahapan peradilan yang meliputi tahap awal (pra-ajudikasi), tahap penyelidikan/penyidikan di Kepolisian, tahap adjudikasi penuntutan, pemeriksaan di depan persidangan (Kejaksaan dan Pengadilan) terkait dengan mengambil fotokopi minuta akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada minuta akta

(11)

atau protokol notaris dalam penyimpanan notaris dan memanggil notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta atau protokol notaris yang berada dalam penyimpanan notaris. Oleh karena itu, Pemohon berhak mendapatkan kepastian hukum yang adil perihal keberlakuan kewenangan Majelis Kehormatan Notaris yang mengambil alih kewenangan Majelis Pengawas Daerah untuk proses peradilan baik oleh penyidik, penuntut umum, atau hakim;

[3.8] Menimbang bahwa benar Pemohon adalah warga negara Indonesia yang mempunyai hak konstitusional dan kedudukannya sama di depan hukum sebagaimana yang dijamin dalam UUD 1945, namun setelah membaca dengan saksama permohonan Pemohon, Mahkamah tidak menemukan adanya kerugian Pemohon baik secara nyata maupun potensial dengan berlakunya pasal yang dimohonkan pengujiannya oleh Pemohon. Bahwa Pemohon yang berprofesi sebagai seorang advokat justru telah dijamin dan dilindungi haknya dengan keberadaan Mahkamah Kehormatan Notaris ketika ada seorang warga negara Indonesia mengajukan permohonan untuk dihadirkannya alat bukti berupa fotokopi minuta akta maupun notaris, atau dapat saja Pemohon berada di posisi sebagai kuasa hukum notaris untuk melindungi notaris yang sedang berhadapan dengan masalah hukum yang kemudian menggunakan payung hukum yaitu pasal yang dimohonkan pengujian. Adapun mengenai Pemohon sebagai wajib pajak tidak dapat dipastikan pula mengalami kerugian dengan berlakunya pasal a quo;

[3.9] Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, menurut Mahkamah tidak ada kerugian konstitusional yang dialami oleh Pemohon dengan berlakunya Pasal 66 ayat (1), sepanjang frasa “dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris” dan ayat (3), serta ayat (4) UU 2/2014 yang dimohonkan pengujian konstitusionalitasnya;

[3.10] Menimbang bahwa oleh karena Pemohon tidak memenuhi syarat kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) UU MK, maka Mahkamah tidak mempertimbangkan lebih lanjut pokok permohonan Pemohon;

15. KETUA: ARIEF HIDAYAT

KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

(12)

[4.2] Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

[4.3] Pokok permohonan Pemohon tidak dipertimbangkan;

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226), dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5076);

AMAR PUTUSAN Mengadili,

Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh tujuh Hakim Konstitusi, yaitu Anwar Usman selaku Ketua merangkap Anggota, Maria Farida Indrati, Aswanto, Patrialis Akbar, Wahiduddin Adams, I Dewa Gede Palguna, dan Suhartoyo, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Kamis, tanggal dua puluh tiga, bulan April, tahun dua ribu lima belas, yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal dua puluh enam, bulan Agustus, tahun dua ribu lima belas, selesai diucapkan pukul 11.29 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi, yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Maria Farida Indrati, Aswanto, Patrialis Akbar, Wahiduddin Adams, I Dewa Gede Palguna, dan Suhartoyo, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Saiful Anwar sebagai Panitera Pengganti, dihadiri oleh Pemohon, Presiden atau yang mewakili, dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili.

Selanjutnya Putusan Nomor 5. PUTUSAN

NOMOR 5/PUU-XIII/2015

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Pengujian Undang-Undang 16 Tahun 2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Tentang

(13)

Yayasan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:

Nama : H. Dahlan Pido, S.H. Pekerjaan : Swasta

Alamat : Villa Bintaro Indah A3, Nomor 8, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan

Selanjutnya disebut sebagai ---Pemohon; [1.2] Membaca permohonan Pemohon;

Mendengar keterangan Pemohon;

Mendengar dan membaca keterangan Presiden;

Mendengar dan membaca keterangan Dewan Perwakilan Rakyat; Mendengar dan membaca keterangan ahli dan saksi Pemohon; Memeriksa bukti-bukti Pemohon;

Membaca kesimpulan Pemohon dan Presiden;

Bagian Duduk Perkara dan seterusnya dianggap telah dibacakan. 16. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR

Pendapat Mahkamah Pokok Permohonan

[3.10] Menimbang bahwa Pemohon mengajukan pengujian konstitusionalitas Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2) UU Yayasan, yang menurut Pemohon bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat (1), dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 dengan alasan yang pada pokoknya sebagai berikut:

- Bahwa ketentuan yang terkandung dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2) UU Yayasan merupakan norma yang diskriminatif, dan telah melanggar prinsip keadilan, serta persamaan di depan hukum karena pengecualian terhadap pembina dan pengawas untuk mendapatkan gaji, upah, atau honorarium dalam melaksanakan kepengurusan yayasan bertentangan dengan hak-hak konstitusional pembina dan pengawas yayasan, padahal setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk mengabdi kepada bangsa dan negara dalam menjalankan kegiatan yayasan. Oleh karena itu ketentuan tersebut harus dinyatakan inkonstitusional;

- Bahwa hak konstitusonal pembina dan pengawas yang dijamin oleh konstitusi yakni hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun juga, sebagaimana pengecualian yang

(14)

terdapat dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang a quo;

[3.11] Menimbang bahwa setelah Mahkamah memeriksa dengan saksama permohonan Pemohon, mendengarkan keterangan lisan dan membaca keterangan tertulis Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), mendengarkan keterangan ahli dan saksi Pemohon serta memeriksa bukti-bukti surat/tulisan yang diajukan oleh Pemohon sebagaimana termuat lengkap pada bagian Duduk Perkara, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

[3.11.1] Bahwa ditinjau secara filosofis yayasan merupakan suatu badan hukum yang mempunyai maksud dan tujuan bersifat sosial, keagamaan dan kemanusiaan, dan didirikan dengan memperhatikan persyaratan formal yang ditentukan dalam Undang-Undang. Kegiatan sosial tersebut muncul dari kesadaran masyarakat kalangan mampu yang memisahkan kekayaannya untuk membantu masyarakat yang mengalami kesusahan. Dipilihnya yayasan sebagai wadah untuk beraktivitas sosial tentu bukan tanpa alasan dibanding dengan bentuk badan hukum lain yang hanya terkonsentrasi pada bidang ekonomi dan usaha. Yayasan dinilai lebih memiliki ruang gerak untuk menyelenggarakan kegiatan sosial seperti pendidikan, kesehatan, keagamaan, kemanusiaan, kepedulian lingkungan, dan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya;

[3.11.2] Bahwa yayasan memperoleh modal dari kekayaan pendiri yang dipisahkan dari kekayaan milik pribadinya. Dengan demikian, konsekuensi dari pemisahan tersebut adalah pendirinya tidak mempunyai hak lagi atas kekayaan tersebut. Modal usaha yayasan juga dapat diperoleh dari sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat, wakaf, hibah, wasiat, dan perolehan lainnya. Oleh karena itu, yayasan tidak berkewajiban untuk mengembalikan bantuan tersebut;

[3.11.3] Bahwa banyak pula yayasan yang menyimpang dari tujuan filosofis pendirian yayasan seperti tersebut di atas, antara lain, karena banyaknya orang sulit mendefinisikan arti kegiatan sosial, yang pada akhirnya sering hal tersebut dimanfaatkan untuk mengejar keuntungan, bahkan sering banyak orang yang mengeluhkan untuk mendapatkan pendidikan yang baik yang berada di bawah naungan sebuah yayasan, seseorang harus membayarnya dengan mahal. Oleh karena itu meskipun tidak ada aturan yang melarang yayasan melakukan kegiatan bisnis, akan tetapi pada

(15)

hakikatnya tujuan yayasan adalah social oriented bukan profit oriented;

[3.11.4] Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, menurut Mahkamah ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) UU Yayasan yang menentukan:

Ayat (1), ayat (2) dianggap dibacakan.

Adalah sudah tepat karena ketentuan a quo bermaksud untuk memisahkan kekayaan yayasan dengan kekayaan pendirinya, karena pendiri yayasan merupakan donatur sekaligus pengurus. Dengan pemisahan tersebut, pendiri yayasan betul-betul bertanggung jawab atas kelangsungan yayasan yang mempunyai tujuan untuk kegiatan beramal dan bukan untuk bertujuan komersil, sehingga orang yang menghendaki pemisahan tersebut termasuk ahli warisnya tidak lagi mempunyai kekuasaan secara nyata atas kekayaan yang dipisahkannya dan tidak lagi mempunyai hubungan secara langsung dengan harta kekayaan yang dilepaskannya. Untuk mencapai tujuan yayasan serta menjamin agar yayasan tidak disalahgunakan, maka seseorang yang menjadi pembina, pengurus, dan pengawas yayasan harus bekerja secara sukarela tanpa menerima gaji, upah, atau honor tetap. Dengan demikian, yayasan ditujukan bukan untuk kepentingan pengurusnya, melainkan tetap dipergunakan untuk kepentingan dan kemanfaatan umum.

Bahwa terhadap ketentuan yang mengecualikan pengurus menerima gaji, upah atau honorarium, dalam hal pengurus yayasan bukan pendiri yayasan dan tidak terafiliasi dengan pendiri, pembina, dan pengawas, serta melaksanakan kepengurusan yayasan, hal tersebut harus dikembalikan lagi kepada tujuan yayasan yaitu tujuan sosial, dan organ yayasan yang bekerja pada yayasan adalah untuk beramal atau sukarelawan yang mempunyai pekerjaan lainnya. Di samping itu, dalam mengelola sebuah yayasan diperlukan profesionalisme untuk menghadapi tuntutan akan transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas. Oleh karena itu, diperlukan tenaga yang profesional. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, UU Yayasan telah memberikan jalan keluar dengan mengangkat pelaksana kegiatan atau pengurus harian yang tidak dilarang menerima imbalan. Sehingga organ yayasan yang melakukan pekerjaan untuk kepentingan yayasan harus diberi upah guna membayar ongkos dalam melaksanakan pekerjaannya.

(16)

Bahkan yayasan mempunyai kewajiban kepada organ yayasan untuk membayar segala biaya atau ongkos yang dikeluarkan oleh organ yayasan dalam rangka menjalankan tugas yayasan seperti yang tercantum dalam Pasal 6 UU Yayasan;

[3.11.5] Bahwa ketentuan pidana yang tercantum dalam Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2) UU Yayasan, menurut Mahkamah, hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan sanksi pidana kepada organ yayasan yang melanggar norma yang dimuat dalam Pasal 5 Undang-Undang a quo dan juga upaya dalam menegakkan hukum dan memberikan ketertiban serta kepastian hukum bagi yayasan dalam mencapai tujuannya yang bersifat sosial, keagamaan, dan kemanusiaan agar tidak disalahgunakan dalam pengelolaan kekayaan yayasan tersebut, sesuai dengan Lampiran I Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, angka 112, bahwa ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau norma perintah.

[3.12] Menimbang bahwa berdasarkan seluruh pertimbangan tersebut di atas, menurut Mahkamah, permohonan Pemohon tidak beralasan menurut hukum;

17. KETUA: ARIEF HIDAYAT

KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo;

[4.2] Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

[4.3] Permohonan Pemohon tidak beralasan menurut hukum;

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226), dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5076);

(17)

AMAR PUTUSAN Mengadili,

Menyatakan menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh tujuh Hakim Konstitusi yaitu Arief Hidayat, selaku Ketua merangkap Anggota, Wahiduddin Adams, Suhartoyo, Muhammad Alim, Aswanto, Maria Farida Indrati, dan I Dewa Gede Palguna, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Rabu, tanggal lima belas, bulan April, tahun dua ribu lima belas, yang diucapkan dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal dua puluh enam, bulan Agustus, tahun dua ribu lima belas, selesai diucapkan Pukul 11.40 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi, yaitu Arief Hidayat, selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Wahiduddin Adams, Patrialis Akbar, Suhartoyo, Aswanto, Maria Farida Indrati, dan I Dewa Gede Palguna, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Saiful Anwar sebagai Panitera Pengganti, dihadiri oleh Pemohon, Presiden atau yang mewakili, dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili.

Berikutnya yang terakhir Putusan Nomor 27. PUTUSAN

NOMOR 27/PUU-XIII/2015

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:

Nama : Rochmadi Sularsono, P.Si. Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil Alamat : Ponorogo

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon; [1.2] Membaca permohonan Pemohon;

Mendengar keterangan Pemohon;

Memeriksa bukti-bukti surat/tertulis Pemohon;

Bagian Duduk Perkara dan seterusnya, dianggap telah dibacakan. KETUK PALU 1X

(18)

18. HAKIM ANGGOTA: WAHIDUDDIN ADAMS Pendapat Mahkamah

Pokok Permohonan

[3.9] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan, Mahkamah perlu mengutip Pasal 54 UU MK yang menyatakan, “Mahkamah Konstitusi dapat meminta keterangan dan/atau risalah rapat yang berkenaan dengan permohonan yang sedang diperiksa kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat, DPR, Dewan Perwakilan Daerah, dan/atau Presiden” dalam melakukan pengujian atas suatu Undang-Undang. Dengan kata lain, Mahkamah dapat meminta atau tidak meminta keterangan dan/atau risalah rapat yang berkenaan dengan permohonan yang sedang diperiksa kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan/atau Presiden, tergantung pada urgensi dan relevansinya. Oleh karena permasalahan hukum dan permohonan a quo cukup jelas, Mahkamah akan memutus permohonan a quo tanpa mendengar keterangan dan/atau meminta risalah rapat dari Majelis Permusyawaratan Rakyat, DPR, Dewan Perwakilan Daerah, dan/atau Presiden;

[3.10] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan lebih lanjut pokok permohonan, Mahkamah terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

[3.10.1] Bahwa dalam permohonannya, Pemohon mendalilkan Pasal 2 huruf a, Pasal 6, Pasal 61, Pasal 66 ayat (2), Pasal 136, Pasal 137, dan Pasal 139 UU ASN bertentangan dengan UUD 1945 dengan alasan pada pokoknya sebagaimana diuraikan di bawah ini:

a. Pemohon menganggap bahwa penerapan Pasal 137 UU ASN secara tegas telah mencabut Bab V Manajemen Pegawai Negeri Sipil Daerah pada UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Adanya pembatalan klausul manajemen kepegawaian daerah termasuk peraturan pelaksanaannya sebagaimana yang termuat dalam Pasal 137 UU ASN menjadikan gaji dan hak hukum Pegawai Negeri Sipil Daerah tidak berpayung hukum sama sekali dan menciptakan akumulasi pelanggaran peraturan undangan baik UU ASN maupun peraturan perundang-undangan lainnya semisal UU 32/2004 dan UU 33/2004 yang mengatur gaji dan penggajian serta hak hukum PNS yang bekerja pada instansi daerah;

(19)

b. Pasal 66 ayat (2) UU ASN khususnya kata “akan” pada setiap pokok pikiran yang ada pada sumpah/janji pada Pasal 66 ayat (2) UU ASN menurut Pemohon tidak tepat karena mengandung dua makna yaitu belum dikerjakan atau belum pasti terjadi karena belum tentu dikerjakan. Selain itu, frasa kata “akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan … Pegawai Negeri Sipil (saja)” dengan tanpa penyebutan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau baik PNS maupun PPPK telah meniadakan kemungkinan pemohon yang berstatus PNS memenuhi sumpah dan janjinya selaku PNS;

c. Pasal 61 UU 5/2014 tentang ASN khususnya frasa kata “mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi PNS, …”, telah menyebabkan persyaratan usia yang tidak dipenuhi bagi tenaga honorer K2 atau mereka para atlet yang melewati masa “peak”-nya atau mereka yang berkarya di Luar Negeri karena keahliannya yang belum dapat diaplikasikan di negara ini dan mereka hanya belum dapat berbakti pada Persada. Selain itu, menurut Pemohon seharusnya ada perlakuan khusus yang menjadikan adanya pengangkatan langsung sebagai pegawai negeri sipil karena penghargaan atas jasa yang telah mereka torehkan;

d. Pasal 2 dan Pasal 6 UU ASN tidak mengakomodir nasib tenaga honorer sehingga menjadikan semua tenaga honorer telah kehilangan perlindungan kepastian hukum yang seharusnya mereka miliki. Selain itu, adanya perlakuan seolah Pelamar PPPK berpengalaman kerja nol tahun pada Pasal 98 ayat (2) UU ASN menjadikan PPPK bukanlah pegawai honorer yang selama ini ada. Penyebabnya adalah tahapan PPPK yang ada, yang diatur pada Pasal 96 ayat (2) UU ASN terutama frasa kata “… perencanaan, pengumuman lowongan, pelamaran, seleksi …”. Merupakan suatu hal yang mustahil bilamana tenaga honorer itu sama dengan PPPK dengan adanya prasyarat sebagaimana yang dikandung dalam Pasal 96 ayat (2) UU ASN;

e. Pasal 131 yang merupakan penyetaraan pada huruf f termuat khususnya frasa kata “… dan fungsional umum …” pada Pasal 18 ayat (1) bagian ketiga Jabatan Fungsional UU ASN hanya mengatur Jabatan Fungsional Keahlian dan Jabatan Fungsional

(20)

Ketrampilan. Klasifikasi Fungsional umum sebetulnya ada yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. Perbedaan antara dua pasal di atas menyebabkan tidak terjaminnya kepastian hukum padahal kepastian hukum merupakan hak dasar yang dijamin oleh konstitusi;

f. Pasal 129 ayat (3) UU ASN tidak memberikan perlindungan dan bantuan hukum sebagaimana termuat dalam berbagai peraturan sehingga mengakibatkan pegawai ASN mampu untuk membela dirinya sendiri bilamana menghadapi sengketa kepegawaian oleh pejabat yang berwenang. Dengan dihapusnya kewenangan PTUN, upaya membela diri Pegawai Negeri Sipil hanya menggunakan dua cara yaitu keberatan yang digunakan terhadap protes pekerja (ASN) pada penjatuhan hukuman disiplin. Pada bagian Penjelasan, sengketa kepegawaian diberi batasan “sengketa yang diajukan pegawai ASN terhadap keputusan yang dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian terhadap seorang Pegawai”; g. Pasal 120 ayat (3), Pasal 109 ayat (2), dan Pasal 20

ayat (3) UU ASN khususnya pada frasa “… dan jabatan pimpinan tinggi madya di Instansi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 dan Pasal 114 ….”, dan Pasal 20 ayat (3) UU ASN tertera kalimat, “Pengisian jabatan ASN tertentu yang berasal dari prajurit Tentara Nasional Indonesia dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan pada instansi Pusat, …” serta Pasal 120 ayat (3) menunjukkan adanya inkonsistensi dan pertentangan makna berkaitan dengan kedudukan anggota kepolisian dan prajurit TNI yang ternyata pada semua jabatan tertentu [Pasal 20 ayat (3)] dan/atau semua jabatan tertentu yang merupakan pejabat tinggi (termasuk utama, madya dan pratama) tidak seperti pada Pasal 20 UU ASN yang tegas menyatakan pada instansi Pusat saja yang dapat diisi oleh prajurit TNI dan anggota Polri. Pertentangan makna yang ada pada uraian di atas menyebabkan tidak terpenuhinya kepastian hukum yang dijamin oleh konstitusi;

h. Pasal 118 dan Pasal 77 ayat (5) UU ASN pada paragraf Kesebelas tentang Disiplin terdapat ketentuan sanksi yang mengaturnya hanya menyebut PNS. Sangat dimungkinkan yang mengalaminya memiliki jabatan

(21)

setara pimpinan tinggi. Hal ini berarti terdapat pertentangan makna dengan ketentuan yang ada dalam Pasal 118 ayat (1) hingga ayat (4) UU ASN. Adanya perlakuan diskriminatif dalam UU ASN tampak apabila membandingkan antara Pasal 77 ayat (5) terutama kata “sanksi” dan dijabarkan pada Pasal 77 ayat (6) terutama frasa “… penilaian kinerjanya tidak memenuhi target kinerja dikenakan sanksi administrasi sampai pemberhentian” UU ASN dengan yang terdapat pada Pasal 118 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) UU ASN khususnya bilamana berasal dari PNS yang menjabat sebagai Pimpinan Tinggi. Berdasarkan uraian di atas pasal-pasal yang dicontohkan menunjukkan tidak adanya kepastian hukum sebagaimana yang termuat dalam Pasal 2 huruf a UU ASN. Kepastian hukum merupakan hak yang dijamin konstitusi karenanya Pasal 2 huruf a yang dimohonkan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat karena bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 terutama pada frasa “… jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil, dst”.

[3.10.2] Bahwa menurut Mahkamah, posita Pemohon sama sekali tidak memberikan argumentasi tentang pertentangan antara pasal yang dimohonkan pengujian dengan UUD 1945 serta tidak menunjukkan argumentasi bagaimana pertentangan antara pasal a quo dengan pasal-pasal yang menjadi dasar pengujian dalam UUD 1945. Selain itu, dasar pengujian konstitusionalitas pasal-pasal UU ASN sebagaimana diuraikan tersebut di atas, tidak ada hubungannya sama sekali dengan alasan yang dikemukakan oleh Pemohon, sehingga hubungan antara posita dan petitum permohonan menjadi tidak jelas. Pemohon tidak menguraikan mengenai inkonstitusionalitas norma, akan tetapi justru lebih banyak menguraikan kasus konkret yang dialami oleh Pemohon. Walaupun Mahkamah dalam persidangan pemeriksaan pendahuluan pada hari Rabu tanggal 4 Maret 2015 telah memberikan nasihat kepada Pemohon untuk memperbaiki permohonannya sesuai dengan ketentuan Pasal 39 ayat (2) UU MK, akan tetapi permohonan Pemohon tetap sebagaimana diuraikan di atas;

[3.11] Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, menurut Mahkamah, permohonan Pemohon a quo kabur, sehingga tidak memenuhi syarat formal permohonan sebagaimana

(22)

dimaksud dalam Pasal 30 dan Pasal 31 ayat (1) UU MK. Oleh karena itu, Mahkamah tidak perlu mempertimbangkan lebih lanjut pokok permohonan Pemohon;

19. KETUA: ARIEF HIDAYAT

KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo;

[4.2] Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

[4.3] Permohonan Pemohon kabur;

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226) serta Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076);

AMAR PUTUSAN Mengadili,

Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Arief Hidayat, selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Wahiduddin Adams, Muhammad Alim, Aswanto, Maria Farida Indrati, Patrialis Akbar, Suhartoyo, dan I Dewa Gede Palguna, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Rabu, tanggal delapan belas, bulan Maret, tahun dua ribu lima belas, yang diucapkan dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal dua puluh enam, bulan Agustus, tahun dua ribu lima belas, selesai diucapkan Pukul 11.53 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi, yaitu Arief Hidayat, selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Wahiduddin Adams, Aswanto, Maria Farida Indrati, Patrialis Akbar, Suhartoyo, dan I Dewa Gede Palguna, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Hani Adhani sebagai Panitera Pengganti, dihadiri

(23)

oleh Pemohon, Presiden atau yang mewakili, dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili.

Demikian, Para Pemohon, yang mewakili DPR, dan yang mewakili Pemerintah. Seluruh putusan dan ketetapan telah diucapkan, dan salinan putusan atau ketetapan dapat diminta setelah sidang ini berakhir. Sidang selesai dan ditutup.

Jakarta, 26 Agustus 2015 Kepala Sub Bagian Risalah,

t.t.d

Rudy Heryanto

NIP. 19730601 200604 1 004 SIDANG DITUTUP PUKUL 11.55 WIB

Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.

Referensi

Dokumen terkait

Proses Hasil yang diharapkan keteran gan 1 Membuka Aplikasi Menampil kan Menu Utama Tampil Menu Utama Sesuai 2 Memilih menu Wisata Menampil kan info wisaa Tampil

Bersedia untuk dilakukan peninjauan terhadap sarana dan alat yang akan digunakan dalam proses Pemeriksaan Kesehatan Berkala oleh pihak PT PJB UP Gresik

Unit ini kompetensi ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan untuk Operasi Pemindahan Beban. ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA

Namun secara umum dapat dikatakan bahwa kemasan limbah B3 harus memiliki kondisi yang baik, bebas dari karat dan kebocoran, serta harus dibuat dari bahan yang tidak bereaksi

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan sesuai atau tidaknya butir soal tes membaca bahasa

Peran ICCTF adalah untuk menggalang, mengelola dan menyalurkan pendanaan yang berkaitan dengan penanganan perubahan iklim serta mendukung program pemerintah untuk

2. Melancarkan arus transportasi manusia dan barang dalam skala lokal dan regional. Menyediakan sarana prasarana penunjang sistem jaringan jalan. Mempertahankan kualitas

Khalayak sasaran dari kegiatan pengabdian msayarakat ini adalah petani desa Pudak Kecamatan Pudak Kabupaten Ponorogo. Kegitan pengabdian masyarakat dengan tema budidaya