BAB I PENDAHULUAN. kasus kekerasan di kalangan remaja. Kekerasan antar teman sebaya atau yang

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kekerasan merupakan suatu fenomena krisis moral. Krisis yang didapat dari berbagai macam tekanan hidup. Suatu krisis yang bisa menjadi barometer kegagalan membangun karakter diri para remaja dan masyarakat. Banyak sekali kasus kekerasan di kalangan remaja. Kekerasan antar teman sebaya atau yang biasa dikenal dengan bullying merupakan suatu tindak kekerasan fisik maupun psikologis yang dilakukan seseorang atau kelompok, yang dimaksudkan untuk melukai, membuat takut atau membuat tertekan seseorang yang dianggap lemah, yang biasanya secara fisik lebih lemah, minder dan kurang mempunyai teman, sehingga tidak mampu untuk mempertahankan diri.

Perilaku bullying dari waktu ke waktu terus menghantui anak-anak Indonesia, alasannya sering kali tidak jelas. Kasus bullying yang sering dijumpai adalah dengan menggunakan kedok perpeloncoan, penggemblengan mental, aksi solidaritas dan juga senioritas. Terjadinya kekerasan antar sebaya semakin menguat, mengingat adanya factor pubertas dan krisis identitas yang normal terjadi pada masa perkembangan remaja. Dalam rangka mencari identitas dan ingin eksis, biasanya remaja gemar membentuk geng. Di temukan fakta seputar bullying berdasarkan survei yang dilakukan oleh Latitude News pada 40 negara. Salah satu faktanya adalah bahwa pelaku bullying biasanya para siswa atau mahasiswa laki-laki. Sedangkan siswi atau mahasiswi lebih banyak menggosip ketimbang melakukan aksi kekerasan dengan fisik. Dari survei tersebut juga

(2)

terdapat negara-negara dengan kasus bullying tertinggi di seluruh dunia. Dan faktanya Indonesia masuk di urutan ke dua. Lima negara dengan kasus bullying tertinggi pada posisi pertama ditempati oleh Jepang, kemudian Indonesia, Kanada, Amerika Serikat, dan Finlandia. (sumber:http://uniqpost.com/50241/negara-negara-dengan-kasus-bullying-tertinggi-indonesia-di-urutan-ke-2/).

Kasus bullying dapat terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan sekolah, tempat bermain, di rumah, di jalan, dan di tempat hiburan. Sesuai dengan data yang diperoleh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, jumlah anak yang menjadi pelaku kekerasan (bullying) disekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada tahun 2014 menjadi 79 kasus di tahun 2015. (data KPAI, Bullying 2015)

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Irvan Usman pada tahun 2013. penelitian ini mengangkat bagaimana pengaruh kepribadian, komunikasi, kelompok teman sebaya dan iklim sekolah pada perilaku bullying siswa menunjukkan bahwa peran kelompok teman sebaya terbukti berpengaruh negatif terhadap perilaku bullying pada siswa SMA di kota Gorontalo. Hasil penelitian ini menemukan bahwa perilaku bullying disebabkan oleh tekanan dari teman sebaya agar dapat diterima dalam kelompoknya. Kelompok teman sebaya adalah sekelompok teman yang mempunyai ikatan emosional yang kuat dan siswa dapat berinteraksi, bergaul, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam memberikan perubahan dan pengembangan dalam kehidupan sosial dan pribadinya. baik komunikasi interpersonal yang dibangun remaja dengan orangtuanya, semakin besar peran kelompok teman sebaya untuk mengajak temannya dalam menerapkan norma-norma positif yang ada dalam mayarakat serta semakin kondusif iklim di sekolah maka semakin rendah perilaku

(3)

bullying pada siswa SMA di Kota Gorontalo. Lokasi penelitian ini dilakukan pada SMA di Gorontalo.

Begitu pula dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Dara Agnis Septiyuni pada tahun 2014 dengan judul “Pengaruh Kelompok Teman Sebaya Terhadap Perilaku Bullying Siswa Di Sekolah”. Hasil dari penelitian ini adalah Berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi, terdapat hasil pengujian yang menunjukkan bahwa hubungan yang terjadi antara variabel kelompok teman sebaya dengan variabel perilaku bullying adalah hubungan yang positif dan signifikan dengan nilai korelasi sebesar 0,360 dan ρ < 0,05 artinya kelompok teman sebaya berpengaruh terhadap terjadinya perilaku bullying siswa di sekolah, dengan kontribusi pengaruh sebesar 13%. Penelitian ini di lakukan pada SMA Negeri di Kota Bandung.

Bullying seolah-olah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak di zaman sekarang ini. Maraknya aksi kekerasan atau bullying yang dilakukan oleh siswa di sekolah semakin banyak menghiasi deretan berita di halaman media cetak maupun elektronik. Berikut beberapa kasus Bullying yang terjadi dikalangan siswa dan terjadi di lingkungan sekolah.

(4)

Tabel 1.1.

Kasus Bullying yang pernah terjadi dikalangan siswa No. Kasus Bullying Bentuk Perilaku Dampak Sosial 1. Menjadi korban ejekan

teman-teman sekelasnya.

-mengejek Korban bully menjadi pribadi yang pendendam dan nekat melakukan tindak kejahatan yakni membakar ruang kelas. 2. Beberapa siswa kelas 10

di bully seniornya dikarenakan terlihat sedang menonton konser DJ (disc Jockey)hingga larut malam. - membentak dan menghina. - memaksa orang lain untuk menghisap rokok. - disiram. - dipaksa menggunakan bra diluar pakaian.

Korban bullying menjadi takut dan trauma dengan tindakan yang dilakukan seniornya. Dan senior yang merupakan pelaku tindakan bullying tidak diluluskan dari sekolah dan dipaksa pindah kesekolah lainnya. 3. Seorang siswi TK (Taman

Kanak-Kanak) menjadi korban bullying teman

sekelasnya yang merupakan siswa laki-laki

dengan 2 orang temannya.

- bekal yang

dibawa diambil secara paksa dan dinjak-injak.

- mengambil uang saku korban dengan paksa

- siswa tk yang menjadi korban bullying menjadi siswa yang takut untuk berteman dengan orang lain.

4. Sonya depari menjadi korban bullying ketika acara coret-coret Setelah ujian nasional membentak powlan yang menegurnya.

- dihina di media sosial. - dihina melalui bentuk gambar dengan ditambahkan kata-kata yang menjatuhkan

Tindakan sonya yang membentak seorang polwan dianggap tindakan yang tidak sopan. Masyarakat memberikan komentar yang negatif dan menyayangkan tindakan tidak sopan yang dilakukan sonya.

5. Siswa kelas 5 SD trisula perwari dikeroyok oleh teman-temannya yang meminta uang sebesar 2000 rupiah tetapi korban tidak memberikannya.

-dipukul dibagian tangan.

-ditunjang dibagian perut.

Tindakan yang dilakukan para pelaku merupakan tindakan kekerasan yang tidak dapat di toleransi. Tindakan kekerasan yang dilakukan pada jam belajar-mengajar sedang berlangsung menjadi trauma tersendiri pada korban.

(5)

Beberapa kasus Bullying diatas menunjukkan bahwa tindakan-tindakan kekerasan begitu mudah kita temukan dimanapun bahkan dilingkungan sekolah. Hal ini dapat menjadi keprihatinan tersendiri karena sekolah merupakan lingkungan untuk melaksanakan sistem belajar-mengajar, dan lingkungan yang akan menghasilkan generasi-generasi yang baik dari pemikiran maupun dari perilaku. Dapat dilihat bahwa tindakan bullying

Pada dasarnya pelaku bullying tidak memperhitungkan alasan mengapa mereka melakukan bullying tersebut. Terkadang pelaku hanya mencari alasan yang dapat diterima atas tindakan yang ia lakukan, misalnya untuk mendisiplinkan adik kelas atau korban, tetapi perilaku tersebut berlangsung selama periode yang cukup lama dan membuat korban mengalami luka fisik ataupun luka psikologis. Perilaku bullying memiliki dampak negatif di segala aspek kehidupan (fisik, psikologis maupun sosial) individu, khususnya remaja (Sejiwa, 2008). Sehingga hal tersebut akan terus mempengaruhi perkembangan mereka selanjutnya. Para ahli menyatakan bahwa school bullying merupakan bentuk agresivitas antarsiswa yang memiliki dampak paling negatif bagi korbannya (Wiyani, 2012:16). Hal ini disebabkan adanya ketidakseimbangan kekuasaan di mana pelaku yang berasal akan memberikan dampak negatif baik itu untuk korban maupun pelaku. Selalu ada pihak yang akan dirugikan ketika tindakan bullying terjadi. Masyarakat menyayangkan terjadinya kasus bullying pada kalangan siswa di lingkungan sekolah. Dimana orangtua siswa mempercayakan anaknya kepada pihak sekolah untuk mengajarkan hal-hal baik yang tidak mereka dapatkan dirumah. Tetapi sebaliknya sekolah malah dijadikan tempat siswa melakukan tindakan kekerasan. Tanpa ada pengawasan dari pihak– pihak yang terkait dilingkungan sekolah.

(6)

dari kalangan siswa atau siswi yang merasa lebih senior atau memiliki nilai lebih baik itu kekuatan fisik maupun ekonomi melakukan tindakan tertentu kepada korban, yaitu siswa-siswi yang lebih junior yang cenderung merasa tidak berdaya karena tidak dapat melakukan perlawanan.

Dampak lain yang dialami oleh korban bullying adalah mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah dimana korban akan merasa tidak nyaman, takut, rendah diri, serta tidak berharga. Penyesuaian sosial yang buruk dimana korban merasa takut ke sekolah bahkan tidak mau sekolah, menarik diri dari pergaulan, bahkan berkeinginan untuk bunuh diri. Menurut Rigby (Wiyani, 2012:18) bahwa hasil penelitian menunjukkan siswa yang menjadi korban akan mengalami kesulitan dalam bergaul, merasa takut datang ke sekolah sehingga absensi mereka tinggi dan tertinggal pelajaran, mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan kesehatan mental maupun fisik mereka terpengaruh baik itu dalam jangka pendek maupun panjang. Dengan kata lain, bullying di sekolah merupakan gejala yang berdampak buruk pada pelajar yang terlibat bullying, baik sebagai pelaku dan korban. Bahkan dampak tersebut dapat membuat korban menjadi pelaku bullying apabila terjadi siklus kekerasan (Adilla, 2009:58).

Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi sarana utama untuk membentuk pribadi yang baik, bersosialisasi, mengaktualisasikan diri dan mampu berkembang dalam lingkungan sosialnya baik dengan keluarga, teman sebaya dan masyarakat. Pada kenyataannya dijadikan tempat siswa melakukan tindakan bullying. Sekolah atau lembaga pendidikan merupakan salah satu bagian dari agen sosialisasi yang memiliki peran dalam pembentukan dan perkembangan

(7)

kepribadian anak (siswa) baik dalam cara berfikir, bersikap, maupun cara berperilaku.

Usia 12-18 tahun merupakan usia siswa sedang mengalami tahap perkembangan dimana individu masih mencari identitas diri. individu dihadapkan dengan berbagai pertanyaan yang menyangkut keberadaan dirinya (siapa saya?), masa depannya (akan menjadi apa saya?), peran-peran sosialnya (apa peran saya dalam keluarga, masyarakat?). Hal itu dikarenakan pada masa remaja berkembang “social cognitive”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat nilai maupun perasaanya. Pemahaman ini mendorong individu untuk menjalani hubungan sosial yang lebih akrab dengan mereka (terutama teman sebaya) baik dalam jalinan persahabatan maupun percintaan.

Kelompok sebaya atau kelompok bermain merupakan lingkungan sosialisasi yang memiliki peran yang cukup penting dalam pembentukan kepribadian individu itu sendiri dan saat terjadinya perubahan struktur di dalam masyarakat. Kelompok sebaya dapat diartikan sebagai sekumpulan orang (sebaya/seumuran) yang mempunyai perasaan serta kesenangan yang relatif sama. Kelompok teman sebaya itu sendiri biasanya terbentuk di lingkungan terdekat remaja seperti di sekolah.

Kelompok sebaya terbentuk karena adanya kesamaan tujuan atau ideologi antar sesama siswa yang tergabung ke dalam suatu kelompok tersebut. Selain itu terbentuk karena adanya kebutuhan remaja, sebagai wadah untuk menunjukkan eksistensi diri. Faktor pembentuk kelompok sebaya pada kalangan remaja juga di

(8)

sebabkan oleh kebutuhan sosialnya, yang paling menonjol antara lain kebutuhan untuk dikenal dan kebutuhan untuk berkelompok (Willis, 2008, hlm. 51) .

Dalam hubungan persahabatan, remaja memiliki teman yang memiliki kualitas psikologis yang relative sama dengan dirinya, baik menyangkut interens, sikap, nilai dan kepribadian. Pada masa ini juga berkembang sikap “comformity”, yaitu kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya). Remaja cenderung ingin dianggap berpengaruh didalam sebuah kelompok teman sebaya. Remaja juga mempunyai dorongan kebutuhan untuk dikenal biasanya tampak pada kecenderungan remaja untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menarik perhatian orang lain termasuk berkelompok-kelompok sebagai bentuk aktualisasi diri (Willis, 2008:51).

Pengaruh kelompok teman sebaya yang kuat pada remaja dapat ditunjukkan dari hasil penelitian Pratiwi S (2008) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyimpang pada remaja khususnya siswa di sekolah, bahwa faktor yang paling kuat dalam masalah perilaku menyimpang siswa adalah kelompok sebaya dari siswa tersebut yang juga melakukan perilaku menyimpang. Dalam hal ini keterikatan antara remaja dengan kelompok teman sebayanya sangatlah erat.

Mengkaji persahabatan di kalangan teman sebaya, banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama untuk menentukan daya tarik hubungan interpersonal diantara para remaja pada umumnya adalah adanya kesamaan dalam minat, nilai-nilai pendapat, dan sifat-sifat kepribadian. (Yusuf, 2004:60) menjelaskan dalam bukunya mengenai hasil penelitian oleh Hans Sabald bahwa

(9)

“teman sebaya lebih memberikan pengaruh dalam memilih cara berpakaian, hobi, perkumpulan (club) dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya”. Sementara itu beberapa penelitian mengindikasikan bahwa dalam pergaulan dengan teman sebaya tidak hanya berdampak positif saja melainkan berdampak negatif. Menurut Yusuf (2004:61) bahwa “hasil penelitian Healy dan Browner menemukan bahwa 67% dari 3000 anak nakal di Chicago ternyata mendapat pengaruh dari teman sebayanya”. Dampak negatif peer group bagi remaja bermacam-macam diantaranya perilaku menyimpang seperti merokok, penggunaan kata-kata kasar, perkelahian pelajar, dan perilaku bullying kepada sesama pelajar di sekolah. Bullying termasuk pada tindakan juvenile deliquency. Juvenile deliquency dapat diartikan sebagai tindakan seorang anak yang berada pada fase-fase usia remaja yang melakukan pelanggaran terhadap norma-norma hukum, sosial, susilaan agama (Sudarsono, 2008:14).

Banyaknya kasus bullying yang terjadi di sekolah ada hubungannya dengan peran kelompok teman sebaya atau hubungan pertemanan yang cukup kuat dalam perkembangan kepribadian dan perilaku remaja. Bullying dikenal sebagai masalah sosial yang terutama ditemukan di kalangan anak anak sekolah. Hampir setiap anak mungkin pernah mengalami suatu bentuk perlakuan tidak menyenangkan dari anak lain yang lebih tua atau lebih kuat (Krahe, 2005). Kebanyakan perilaku bullying terjadi secara tersembunyi dan sering tidak dilaporkan sehingga kurang disadari oleh kebanyakan orang.

Dapat dikatakan kekerasan di sekolah ibarat fenomena gunung es yang nampak ke permukaan hanya bagian kecilnya saja. Jika tidak ditangani secara tepat dari akar persoalannya masalah bullying akan terus terjadi. Dalam masalah

(10)

bullying tentunya berbagai pihak memiliki tanggung jawab atas kelangsungan hidup anak, karena anak-anak juga memiliki hak yang harus dipenuhi oleh negara, orang tua, guru, dan masyarakat. Oleh sebab itu peneliti sangat tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai bentuk perilaku bullying yang terjadi di kalangan siswa SMA dan faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya perilaku bullying.

1.2. Rumusan Masalah

Perkembangan sosial remaja merupakan tahap perkembangan dimana individu masih mencari identitas diri, Hal ini mendorong individu untuk menjalani hubungan sosial yang lebih akrab baik dalam jalinan persahabatan maupun percintaan. Kelompok bermain adalah lingkungan sosialisasi yang memiliki peran dalam pembentukan kepribadian individu itu sendiri. Remaja mempunyai nilai baru dalam menerima atau tidak anggota kelompok sebayanya, nilai ini didasarkan pada kesepakatan anggota kelompok. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi remaja berhubungan dengan penolakan teman sebaya adalah munculnya perilaku bullying. Bullying dikenal sebagai masalah sosial yang terutama ditemukan di kalangan anak sekolah.

Melalui penelitian ini, penulis mencoba menelaah bagaimana perilaku bullying (tindakan kekerasan) yang terjadi di kalangan siswa SMA Sinar Husni Medan, dan dalam penelitian ini dilakukan melalui pendekatan teori sosiologi. Berdasarkan pembahasan latar belakang masalah yang telah di jelaskan, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah :

(11)

2. apa faktor penyebab terjadinya perilaku bullying ?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah diatas adalah:

1. Untuk mengetahui adakah korelasi antara hubungan pertemanan dengan perilaku bullying.

2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya perilaku bullying.

1.4. Manfaat penelitian

Setiap penelitian diharapkan mampu memberikan manfaat baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, terlebih lagi untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Adapun manfaat yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan konstribusi baik secara langsung ataupun tidak langsung bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kepustakaan Departemen Sosiologi khususnya untuk menambah kajian tentang tindakan bullying.

2. Manfaat praktis, diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan penulis dalam membuat suatu karya ilmiah dan dapat menjadi bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya, agar diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat tentang perilaku bullying yang terjadi di kalangan siswa SMA.

(12)

1.5. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan suatu kesimpulan sementara yang masih harus dibuktikan kebenarannya. Sugiyanto (2004) menjelaskan hipotesis adalah dugaan sementara mengenai sesuatu hal yang perlu diuji kebenarannya. Dengan kata lain hipotesis juga dapat dikatakan sebagai kesimpulan sementara dari suatu hubungan variabel dengan variabel lainnya sehingga hipotesis dapat dikatakan sebagai suatu perkiraan ataupun dugaan yang melekat pada variabel yang bersangkutan. Secara teknis, hipotesis dapat didefinisikan sebagai pernyataan mengenai populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.

Di dalam perumusan hipotesis pada penelitian ini menggunakan hipotesis dua arah yaitu hipotesis alternatif dan hipotesis nol. Dimana hipotesis menjadi benar jika hipotesis alternatif terbukti kebenarannya. Maka dari itu, ada pun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ho: Tidaknya adanya hubungan pengaruh pertemanan terhadap perilaku bullying di kalangan siswa SMA..

Ha: Adanya hubungan pengaruh pertemanan terhadap perilaku bullying di kalangan siswa SMA.

1.6. Defenisi konsep

Dalam sebuah penelitian ilmiah, defenisi konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian. Konsep adalah defenisi abstrak mengenai gejala, realita atau suatu pengertian yang nantinya akan menjelaskan suatu gejala (Moleong,1997:67). Di samping mempermudah dan memfokuskan

(13)

lanjuti penelitian tersebut serta menghindari timbulnya kekacauan akibat kesalahan penafsiran dalam penelitian. Untuk menjelaskan maksud dan pengertian konsep-konsep yang terdapat dalam penelitian ini, maka dibuat batasan-batasan konsep yang dipakai sebagai berikut:

1. Perilaku

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari individu seperti berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, dan sebagainya, yang dapat di amati secara langsung maupun yang tidak dapat di amati oleh pihak luar.

2. Bullying (Perilaku Kekerasan)

Bullying merupakan suatu bentuk ekspresi, aksi atau perilaku kekerasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri. Dimana ada hasrat untuk melukai, menakuti atau membuat orang tertekan, trauma dan tidak berdaya. Bullying biasanya dilakukan berulang sebagai ancaman atau paksaan terhadap orang lain yang jika dilakukan terus menerus akan menimbulkan trauma.

3. Pertemanan

Pertemanan adalah suatu hubungan antara dua orang atau lebih yang menunjukkan perilaku kerjasama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Pertemanan memang berbeda tingkatannya dengan persahabatan, terutama dalam cara berkomunikasi dan ikatan yang terbentuk.

(14)

Kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan bersama, berinteraksi satu sama lain dalam jangka waktu tertentu dan jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga setiap anggotanya saling mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut

5. Siswa (pelajar)

Siswa merupakan pelajar yang duduk di meja belajar strata sekolah dasar, menengah pertama, maupun menengah atas, yang secara khusus diserahkan oleh kedua orangtuanya untuk mengikuti pembelajaran yang diselenggarakan disekolah dengan tujuan meningkatkan potensi diri, menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, berketerampilan, berpengalaman, berkepribadian dan berakhlak mulia.

1.7. Variable Penelitian

Variabel merupakan segala sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan penelitian. Sering pula dinyatakan variabel penelitian sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti (Suryabrata, 1995:72). Dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu variabel bebas atau independent variabel (X) dan variable terikat atau dependent variable (Y). Veriabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain, sedangkan variabel terikat yaitu variabel yang dipengaruhi. Dalam penelitian ini penjabaran variabel sebagai berikut:

X =Variabel bebas yakni hubungan pertemanan Y1 =Variabel terikat perilaku bullying

(15)

Skema Variabel Penelitian

1.8. Operasional Variabel

Defenisi operasional adalah spesifikasi kegiatan peneliti dalam mengukur atau memanipulasi suatu variabel. Defenisi operasional memberikan batasan atau arti suatu variabel dengan merinci hal yang harus dikerjakan oleh peneliti untuk mengukur variabel tersebut (Sarwono, 2006).

1. Variabel bebas (X)

Variabel bebas sebagai pengaruh atau penyebab dari variabel lain. Variabel bebas merupakan variabel yang diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang di observasi (Sarwono, 2006 : 54). Variabel X dalam penelitian ini adalah hubungan Pertemanan, Adapun yang menjadi indikator variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu: 1. Kecocokan

2. Intensitas Interaksi 3. Kepercayaan 4. Kepedulian

2. Variabel terikat(Y):

Variabel terikat adalah akibat dari variabel yang mendahuluinya, Variabel terikat adalah variabel yang memberikan reaksi jika dihubungkan dengan variabel

Variabel Bebas (Hubungan Perteman)

Variabel Terikat (Perilaku Bullying)

(16)

bebas. Variabel terikat adalah variabel yang variabelnya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas (Sarwono, 2006 : 54). Variabel Y dalam penelitian ini adalah Perilaku Bullying, adapun yang menjadi indikator variabel terikat dalam penelitian ini adalah :

1. Tindakan bullying fisik 2. Tindakan bullying verbal 3. Tindakan bullying non verbal 4. Tindakan cyberbullying

1.9. Bagan Operasional Variabel Tabel 1.2.

Operasional Variabel

Jenis Variabel Indikator Skala

Variabel X

Hubungan Pertemanan

Kecocokan Skala Rasio

Intensitas Interaksi Skala Rasio

Kepercayaan Skala Rasio

Kepedulian Skala Rasio

Variabel Y Perilaku Bullying

Tindakan bullying fisik Skala Rasio Tindakan bullying verbal Skala Rasio Tindakan bullying non

verbal

Skala Rasio

Figur

Memperbarui...

Related subjects :