BAB II TINJAUAN PUSTAKA

15 

Teks penuh

(1)

7 2.1 Kesehatan Reproduksi Remaja

Remaja merupakan harapan dari suatu bangsa, sehingga dapat dikatakan bahwa keadaan remaja saat ini merupakan hal penentu pada masa depan bangsa yang akan datang. Menurut UNFPA (2009), remaja didefinisikan sebagai periode antara 10 sampai 19 tahun, itu adalah perubahan yang berlanjut baik secara fisik, kognitif, perilaku dan psikososial yang ditandai dengan peningkatan otonomi individu, tumbuh rasa identitas dan harga diri serta kemandirian yang progresif.

Masa remaja merupakan peralihan dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa, dimana masa ini juga disebut masa pubertas. Selama masa pubertas ini terjadi perubahan kadar hormonal yang dapat mempengaruhi karakteristik seks sekunder, seperti hormon androgen pada laki-laki dan hormon estrogen pada perempuan (Tarwoto, dkk, 2012).

Tanda-tanda seksual sekunder pada perempuan meliputi pertumbuhan rambut di daerah kemaluan, ketiak dan pada kulit di wajah. Seiring dengan pinggul yang semakin membesar, payudara juga ikut membesar. Kulit menjadi lebih lembut, meningkatnya kelenjar keringat dan meningkatnya kelenjar lemak yang dapat menyebabkan jerawat. Lalu otot yang semakin kuat dan membesar serta suara yang semakin merdu (Widyastuti, dkk, 2011). Berbeda dengan laki-laki yaitu dimana terjadi pertumbuhan pada penis, pembesaran skrotum, perubahan suara yang semakin membesar, pertumbuhan kumis dan jenggot, meningkatnya produksi minyak dan timbunan lemak (Tarwoto, dkk, 2012).

(2)

Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja, sangat diperlukan untuk mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan pada ciri perkembangannya, sifat dan rentang usianya. Remaja pada masa awal yaitu rentang usia 10 sampai 12 tahun, dimana pada masa ini remaja lebih dekat dengan teman sebayanya. Mereka merasa ingin bebas dan mulai berpikir abstrak atau khayal. Sedangkan pada masa remaja tengah yaitu rentang usia 13 sampai 15 tahun. Pada masa ini remaja mulai timbul ketertarikan pada lawan jenisnya, timbul perasaan cinta dan mulai berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas. Dan pada masa remaja akhir yaitu rentang usia 16 sampai 19 tahun, dimana pada masa ini remaja memiliki pencitraan terhadap dirinya, mencari teman sebaya yang lebih selektif, dapat mewujudkan perasaan cinta dengan lawan jenisnya dan memiliki pemikiran yang lebih abstrak atau khayal (Widyastuti, dkk, 2011).

Kesehatan reproduksi remaja sulit dipisahkan dari kesehatan remaja secara keseluruhan, karena gangguan kesehatan remaja akan menimbulkan gangguan pula pada sistem reproduksi. Kesehatan reproduksi menurut WHO dan ICPD dalam Abu Bakar (2014) yaitu tidak hanya terbebas dari kecacatan atau bebas dari penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya tetapi suatu keadaan yang sehat sejahtera baik secara fisik, mental, maupun sosial. Sedangkan kesehatan reproduksi remaja merupakan kondisi sehat dari sistem, fungsi, dan proses alat reproduksi yang dimiliki oleh remaja, yaitu laki-laki dan perempuan usia 10-24 tahun. Dimana pengertian sehat disini tidak semata-mata untuk bebas dari penyakit atau kecacatan tetapi juga sehat secara mental serta sosial kultural (BKKBN-UNICEF, dalam Marmi, 2013).

Kondisi kesehatan reproduksi remaja sangat penting bagi pembangunan nasional karena remaja merupakan aset dan generasi penerus bangsa. Dalam hal ini masyarakat

(3)

internasional menekankan akan pentingnya disetiap negara menyediakan sumber atau saluran yang dapat diakses oleh para remaja dalam memperoleh haknya mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi yang baik dan memadai sehingga terhindar dari informasi yang dapat menyesatkan (Marmi, 2013).

Ada beberapa faktor yang mendasari pentingnya program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), yaitu dimana pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi masih sangat rendah. Hanya 17,1 persen wanita dan 10,4 persen laki-laki mengetahui secara benar masa subur dan risiko kehamilan. Lalu akses untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi masih sangat terbatas, baik dari orang tua, sekolah maupun media massa. Dimana informasi yang menyesatkan dapat memicu perilaku seksual pada remaja yang semakin meningkat dari berbagai media. Ditambah lagi dengan kesehatan reproduksi yang berdampak panjang seperti KTD, penularan penyakit HIV/AIDS, kejadian aborsi dan kehamilan pada usia muda serta penyalahgunaan narkoba (Marmi, 2013).

2.2 Perilaku Seksual Remaja

Masalah seksualitas selalu menarik perhatian untuk dibicarakan karena menyangkut tatanilai kehidupan manusia yang lebih tinggi. Terjadinya kematangan seksual atau alat-alat reproduksi yang berkaitan dengan sistem reproduksi, merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan remaja. Sehingga diperlukan perhatian khusus, karena bila timbul dorongan-dorongan seksual yang tidak sehat dan dapat menimbulkan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab. Perilaku seksual merupakan perilaku yang didorong oleh hasrat seksual yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis. Contohnya antara lain mulai dari berdandan, mengedipkan

(4)

mata, merayu, menggoda, bersiul, berkencan hingga bersenggama (Kusmiran, 2012 dan Sarwono, 2013).

Aktivitas seksual merupakan kegiatan yang dilakukan dalam upaya memenuhi dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ kelamin atau seksual melalui berbagai perilaku. Contoh perilakunya adalah berfantasi, masturbasi, cium pipi, cium bibir, petting, berhubungan intim (intercourse). Berbeda dengan hubungan seksual yaitu merupakan kontak seksual yang dilakukan berpasangan dengan lawan jenis atau sesama jenis. Contohnya masturbasi, onani, fantasi seksual, atau menonton dan membaca buku yang berisi informasi pornografi (Kusmiran, 2012). Akibat yang ditimbulkan dari hubungan seksual pranikah remaja adalah gangguan kesehatan reproduksi yang diakibatkan oleh infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS. Selain itu meningkatkan risiko terhadap penyakit menular seksual seperti gonore, sifilis, dan

herpes genetalis. Akibat lain yang ditimbulkan yaitu remaja perempuan terancam

putus sekolah akibat kehamilan pada usia muda dan dapat melahirkan bayi yang tidak sehat (Pinem, 2009).

Sedangkan akibat yang ditimbulkan dari hubungan seksual bagi keluarga yaitu menimbulkan penilaian yang buruk dipandangan masyarakat, menambah beban ekonomi keluarga, dan berpengaruh kejiwaan pada anak yang akan dilahirkan. Akibat bagi masyarakat adalah meningkatkan putus sekolah bagi remaja perempuan, sehingga kualitas masyarakat menjadi menurun. Dapat meningkatkan angka kematian ibu dan bayi yang merupakan suatu indikator kesehatan di masyarakat serta menambah beban ekonomi masyarakat sehingga berdampak pada menurunnya derajat kesehatan masyarakat (Pinem, 2009).

Kuatnya norma sosial yang menganggap seksualitas adalah tabu akan berdampak pada kuatnya penolakan terhadap usulan agar pendidikan seksualitas dapat

(5)

diintegrasikan kedalam kurikulum pendidikan. Faktanya masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi masih banyak dihadapi oleh remaja, dimana permasalahan tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi remaja dalam melanjutkan kehidupannya (Marmi, 2013).

Permasalahan pertama yaitu perkosaan, yang merupakan suatu modus kejahatan yang sering dialami oleh remaja perempuan, tetapi terkadang juga bisa dialami oleh laki-laki atau sering juga disebut sodomi. Lalu masalah seks bebas, yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan atau pacar. Seks bebas yang dilakukan biasanya pada remaja dibawah usia 17 tahun yang dapat mengakibatkan infeksi menular seksual dan terkena virus HIV, juga dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja perempuan. Lalu masalah berikutnya adalah KTD yang disebabkan dari hubungan seksual pranikah di kalangan remaja. Karena kehamilan yang tidak diinginkan tersebut maka terjadilah aborsi kehamilan.

Aborsi merupakan keluarnya janin dari dalam kandungan sebelum waktunya. Dimana jika aborsi yang dilakukan tidak aman maka akan menimbulkan komplikasi. Jika aborsi kehamilan tidak dilakukan, ini merupakan suatu alasan untuk terjadinya perkawinan pada usia muda. Perkawinan usia muda, khususnya di pedesaan didominasi oleh keputusan orang tua yang menikahkan anak perempuannya pada usia muda karena alasan ekonomi yang rendah. Dimana dampak dari remaja yang hamil dibawah usia 20 tahun dapat mengakibatkan kekurangan gizi dan anemia. Lalu masalah lain yang ditimbulkan dari seksualitas adalah IMS yang sering juga disebut PMS. Dimana penyebarannya melalui hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan, bisa juga melalui hubungan seksual dari mulut, vagina maupun dubur (Marmi, 2013).

(6)

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual

Kesehatan merupakan suatu kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia sejak zaman dahulu kala. Telah banyak dilakukan upaya-upaya untuk menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan diri maupun kelompok. Perilaku kesehatan merupakan elemen yang paling penting bagi kesehatan dan keberadaan manusia. Perilaku kesehatan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut teori Lawrence Green perilaku manusia dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pendukung (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing factors). Faktor predisposisi yaitu faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu perilaku, yang mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, sosial dan ekonomi (Priyoto, 2014).

Faktor pendukung (enabling factors) meliputi semua karakter lingkungan dan semua sumber daya atau fasilitas yang mendukung atau memungkinkan terjadinya suatu perilaku. Sedangkan Faktor pendorong atau penguat (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat terjadinya perilaku antara lain tokoh masyarakat, teman atau kelompok sebaya, peraturan, undang-undang, surat keputusan dari para pejabat pemerintahan daerah atau pusat (Notoatmodjo, 2014).

Sedangkan menurut teori Social Learning dari Bandura perilaku manusia dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan dan faktor personal. Faktor lingkungan mengacu pada faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang yang terdapat pada lingkungan sosial dan fisik seperti keluarga, teman dan kolega. Dimana lingkungan fisik adalah ukuran ruangan, suhu atau ketersediaan makanan tertentu.

(7)

Lingkungan dan situasi membentuk kerangka konsep untuk memahami perilaku (Priyoto, 2014).

Faktor personal atau kognitif adalah dimana seseorang belajar tidak hanya belajar dari pengalaman mereka sendiri juga dengan mengamati tindakan orang lain dan hasil dari tindakan tersebut. Terdapat enam konsep penting dalam teori ini, yang pertama yaitu reciprocal etermininism (determinan timbal balik) yang artinya perubahan perilaku ditentukan dari interaksi antara manusia dan lingkungan. Lalu konsep kedua yaitu behavioral cavability yang artinya jika seseorang akan melakukan suatu perilaku maka orang tersebut harus tahu dan memiliki kemampuan untuk melakukannya. Konsep selanjutnya adalah expectation (harapan) merupakan sesuatu yang diharapkan seseorang sebagai hasil dari perubahan perilaku. Reinforcement (dorongan) merupakan tanggapan terhadap perilaku seseorang yang dapat meningkatkan kesinambungan perilaku (Priyoto, 2014).

Lalu konsep selanjutnya adalah observasi yang menjelaskan tentang kepribadian seseorang yang berkembang melalui proses pengamatan. Dan konsep kognitif terakhir adalah self efficacy (efikasi diri) yang merupakan konsep inti dalam pelaksanaan teori kognitif sosial promosi kesehatan. Efikasi diri adalah keyakinan bahwa seseorang dapat dengan sukses melakukan suatu perilaku. Seseorang dengan efikasi diri yang tinggi atau lebih percaya diri terhadap kemampuan mereka dalam melakukan perubahan perilaku akan berusaha melakukannya dengan mudah, dengan intensitas yang lebih besar dan lebih mantap merespon kegagalan awal daripada orang dengan efikasi diri yang rendah (Priyoto, 2014).

Efikasi diri juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Efikasi tinggi atau rendah dapat dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif, sehingga akan menghasilkan kemungkinan berperilaku. Menurut Bandura,

(8)

bahwa efikasi diri yang tinggi dengan lingkungan yang responsif akan menghasilkan tingkah laku yang sukses melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya, sehingga hubungan antara efikasi diri terhadap perilaku seksual terdapat hubungan yang signifikan (Musthofa dan Winarti, 2010).

Perubahan tingkah laku dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber yakni Pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance

accomplishment), pengalaman vikarius (vicarious experience), persuasi sosial (social persuation), dan pembangkitan emosi (emotional/psysilogical states) (Priyoto, 2014).

Aspek-aspek efikasi diri menurut Corsini dibagi menjadi empat aspek. Pertama adalah aspek kognisi, merupakan kemampuan seseorang dalam memikirkan cara-cara untuk merancang tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Lalu aspek motivasi, merupakan kemampuan seseorang untuk memotivasi diri melalui pikiran untuk melakukan suatu tindakan dan keputusan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Aspek ketiga yaitu aspek afeksi, merupakan kemampuan seseorang dalam mengatasi emosi yang timbul pada diri sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dan aspek keempat adalah aspek seleksi, merupakan kemampuan seseorang dalam menyeleksi tingkah laku dan lingkungan yang tepat sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan (Widjaja, 2010).

Teori perilaku lainnya menurut M. Rosenstock yaitu teori Health Belief Model. Menurut teori ini perilaku individu dipengaruhi oleh persepsi dan kepercayaan individu itu sendiri tanpa memandang persepsi dan kepercayaannya tersebut sesuai atau tidak dengan realitas. Teori ini dituangkan dalam lima segi pemikiran dalam diri individu, yang mempengaruhi pengambilan suatu keputusan. Pemikiran yang pertama

(9)

yaitu Perceived Susceptibility yang merupakan risiko pribadi atau kerentanan. Kerentanan disini adalah salah satu persepsi yang lebih kuat dalam mendorong orang untuk mengadopsi perilaku sehat (Priyoto, 2014).

Pemikiran kedua yaitu Perceived Severity yang berkaitan dengan kepercayaan individu tentang keparahan suatu penyakit. Lalu Perceived Benefits yang berkaitan dengan manfaat yang akan dirasakan jika mengadopsi perilaku yang dianjurkan. Keempat yaitu Perceived Barriers yang merupakan hambatan yang dirasakan karena perubahan perilaku adalah bukan sesuatu yang dapat terjadi dengan mudah. Dan terakhir yaitu Cues to Action, yang merupakan isyarat untuk bertindak. Maksudnya disini adalah peristiwa-peristiwa, orang atau hal-hal yang mengubah orang untuk mengubah perilaku mereka (Priyoto, 2014).

Teori perilaku keempat menurut Martin Fishbein dan Icek Ajzen yaitu Theory of

Reasoned Action yang dimana teori ini menghubungkan antara keyakinan (belief),

sikap (attitude), kehendak (intention) dan perilaku (behavior). Secara sederhana teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila seseorang memandang perbuatan itu positif dan bila seseorang itu percaya bahwa orang lain ingin agar dirinya melakukan hal tersebut (Priyoto, 2014).

Perubahan perilaku merupakan proses yang sirkular. Model Transteoritical adalah model perubahan yang sengaja dilakukan dan berfokus pada pengambilan keputusan individu. Dimana orang-orang pada tingkatan yang berbeda akan membutuhkan strategi dan pesan yang berbeda. Tingkatan perubahan yaitu dimulai dari tahap Pre-contemplation, yaitu langkah dimana orang-orang tidak mempunyai keinginan untuk bertindak dimasa depan. Tahapan kedua yaitu Contemplation, dimana orang-orang berkeinginan untuk berubah. Mereka sadar akan pentingnya mengubah perilaku. Preparation yaitu langkah dimana orang-orang berkeinginan untuk bertindak

(10)

dimasa mendatang. Mereka mengambil keputusan penting dari masa lalunya. Lalu tahapan selanjutnya adalah Action, langkah dimana orang sudah memodifikasi secara spesifik antara pikiran dengan perilaku. Dan tahapan terakhir yaitu Maintenance, suatu langkah yang mana diperkirakan untuk perilaku terakhir. Ketika hasil dari

maintenance positif maka akan mengubah perilaku yang lebih baik dan akan terjadi

perhentian atau termination (Priyoto, 2014).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryoputro tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di Jawa Tengah yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu terdiri dari pengetahuan, aspek-aspek kesehatan reproduksi, sikap terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, perilaku, kerentanan yang dirasakan terhadap resiko, kesehatan reproduksi, gaya hidup, pengendalian diri, aktifitas sosial, rasa percaya diri, usia, agama, dan status perkawinan. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari kontak dengan sumber-sumber informasi, keluarga, sosial-budaya, nilai dan norma sebagai pendukung sosial untuk perilaku tertentu (Suryoputro, dkk, 2006).

Tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi sikap dalam kehidupan sehari-hari termasuk bersikap terhadap seks pranikah (Notoatmodjo, 2014). Pengetahuan seseorang tentang suatu obyek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan juga aspek negatif, kedua aspek ini akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan obyek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap obyek tertentu (Wawan dan Dewi, 2011).

Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga dimana hal tersebut

(11)

diperkuat oleh teori Green bahwa pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang menentukan terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2014).

Sikap merupakan konsep yang paling penting dalam psikologi sosial yang membahas unsur sikap baik individu maupun kelompok. Sikap merupakan reaksi atau respon dan pandangan-pandangan seseorang untuk bertindak yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau obyek (Notoatmodjo, 2014 dan Purwanto dalam Wawan dan Dewi, 2011).

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap seseorang untuk berperilaku yang pertama adalah pengalaman pribadi. Sikap seseorang yang dipengaruhi dengan pengalaman pribadi akan meninggalkan kesan yang kuat, sehingga sikap akan lebih mudah terbentuk dengan pengalaman pribadi. Lalu yang kedua sikap dipengaruhi oleh orang yang dianggap penting, dimana individu cenderung untuk memiliki sikap yang searah dengan orang yang dianggap penting. Faktor ketiga yaitu pengaruh kebudayaan, tanpa disadari kebudayaan telah mewarnai sikap individu di dalam masyarakat. Lalu yang keempat adalah faktor media massa, peran dari media massa sangat memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan sikap masyarakat. Lembaga pendidikan dan lembaga agama juga sangat berperan penting dalam penentuan sikap yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Faktor yang lainnya yaitu emosional, kadang kala sikap merupakan suatu pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai mekanisme pertahan ego (Wawan dan Dewi, 2011).

Sikap sangat berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan seseorang. Sikap seseorang terhadap suatu objek menunjukan pengetahuan orang tersebut terhadap

(12)

objek yang bersangkutan. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa remaja yang mempunyai pengetahuan baik tentang kesehatan reproduksi maka mereka akan cenderung mempunyai sikap positif, kecenderungan menghindari perilaku seksual, dan begitu pula sebaliknya (Juliani, dkk, 2014).

Sikap remaja dan perilaku ditentukan oleh faktor individu dan sosial seksual. Pengetahuan, efikasi diri, dukungan orang tua teman sebaya dan pengaruh media yang sering ditemukan sebagai prediktor kuat dari perilaku seksual remaja. Dari remaja pengetahuan ditemukan sebagai prediktor yang konsisten. Perilaku remaja berisiko terutama disebabkan oleh kurangnya informasi kesehatan reproduksi yang gagal diberikan orang tua atau sekolah (Situmorang, dkk dalam Widyastari, 2014).

2.4 Bentuk-bentuk dan Dampak Perilaku Seksual

Perilaku seksual merupakan segala bentuk tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk dari perilaku seksual ini bermacam-macam antara lain berkencan, bercumbu, dan bersenggama (Sarwono, 2013). Dimana objek seksual dari perilaku ini bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Cara-cara yang biasa dilakukan remaja untuk menyalurkan dorongan seksualnya, antara lain: bergaul dengan lawan atau sesama jenis, berdandan untuk menarik perhatian, menyalurkannya melalui mimpi basah, berkhayal atau berfantasi tentang seksual, mengobrol tentang seksual, menonton film pornografi, masturbasi atau onani, melakukan hubungan seksual non penetrasi (berpegangan tangan, berpelukan, cium pipi, cium bibir, cumbuan berat,

petting), melakukan aktivitas penetrasi (intercourse), dan menahan diri dengan

berbagai cara atau menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas misalnya dengan berolahraga (PKBI, 2008, Sarwono, 2013 dan Kusmiran, 2012).

(13)

Berfantasi seksual merupakan perilaku yang normal dilakukan. Fantasi merujuk pada citra mental seseorang, objek atau situasi. Meskipun tidak selalu melibatkan komponen seksual tetapi mungkin saja didasarkan pada pengalaman masa lalu atau hanya imajinasi. Memiliki fantasi tentang perilaku seksual tertentu tidak berarti orang tersebut benar-benar berharap akan melakukan atau akan menyukai perilaku tersebut. Dampak dari berfantasi seksual adalah aktivitas seksual, ini bisa berlanjut ke kegiatan lainnya, seperti: masturbasi, berciuman, dan aktivitas lainnya. Bentuk dari perilaku seksual lainnya adalah berpegangan tangan, yang merupakan perilaku seksual yang tidak terlalu menimbulkan rangsangan seksual yang kuat, namun dampak yang ditimbulkan biasanya muncul keinginan untuk mencoba aktivitas seksual lainnya hingga kepuasan seksual dapat tercapai. Berpelukan biasanya dapat membuat jantung berdegup lebih kencang dan menimbulkan rangsangan seksual pada individu. Berpelukan juga dapat memberikan dampak pada perasaan, dimana menjadi lebih aman, nyaman, dan tenang. Kategori dari perilaku seksual risiko rendah dimana remaja yang melakukan aktivitas seksual seperti berfantasi seksual, berpegangan tangan dan berpelukan (PKBI, 2008, Darmasih, 2009, Suandi, 2011 dan Sarwono, 2013).

Perilaku seks berikutnya adalah cium kering yang berupa sentuhan pipi dengan pipi dan pipi dengan bibir. Dampak dari cium pipi bisa mengakibatkan imajinasi atau fantasi seksual menjadi berkembang disamping menimbulkan perasaan sayang jika diberikan pada situasi tertentu dan bersifat sekilas, selain itu juga dapat menimbulkan keinginan untuk melanjutkan kebentuk aktivitas seksual lainnya yang lebih dapat dinikmati. Tahapan perilaku setelah cium kering biasanya menjadi cium basah, yang merupakan aktivitas seksual berupa sentuhan di bibir. Dampak dari aktivitas ciuman bibir dapat menimbulkan sensasi seksual yang kuat yang membangkitkan dorongan seksual yang tidak terkendali, selain itu juga dapat memudahkan penularan penyakit

(14)

yang ditularkan melalui mulut. Dan apabila dilakukan secara terus menerus dapat menimbulkan ketagihan. Menonton video porno juga dapat menimbulkan hasrat dan dorongan seksual remaja pada lawan jenisnya. Ketidakmampuan untuk menahan dorongan seksual ditambah dengan keinginan besar untuk mencoba-coba dapat menjerumuskan remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah. Perilaku remaja mulai dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman dan menonton video porno termasuk dalam kategori perilaku seksual risiko sedang (PKBI, 2008, Darmasih, 2009, Suandi, 2011 dan Sarwono, 2013).

Meraba bagian tubuh yang merupakan kegiatan meraba bagian-bagian sensitif rangsangan seksual, seperti: payudara, leher, paha atas, vagina, penis, anus, dan lainnya.Dampak dari tersentuhnya bagian paling sensitif tersebut akan menimbulkan rangsangan seksual sehingga melemahkan kontrol diri dan akal sehat akibatnya bisa melakukan aktivitas seksual selanjutnya seperti cumbuan berat dan intercourse. (Sarwono, 2013). Lalu perilaku seksual lainnya yaitu petting merupakan keseluruhan aktivitas seksual non intercourse (hingga menempelkan alat kelamin). Dampak dari

petting ini yaitu timbulnya ketagihan dan lebih jauhnya adalah kehamilan karena

cairan pertama yang keluar pada saat terangsang pada laki-laki sudah mengandung sperma dalam kadar terbatas), risiko terkena IMS dan HIV/AIDS juga cukup tinggi, jika berlanjut ke intercourse (senggama) secara psikologis menimbulkan perasaan cemas dan bersalah dengan adanya sanksi moral atau agama, bagi laki-laki mungkin dapat memuaskan kebutuhan seksualnya sedangkan bagi wanita bisa menyebabkan rusaknya selaput dara (PKBI, 2008).

Perilaku oral seks merupakan perilaku seksual yang memasukkan alat kelamin kedalam mulut pasangannya atau lawan jenis. Tipe ini saat sekarang banyak dilakukan oleh remaja untuk menghindari terjadinya kehamilan (PKBI, 2008). Tipe hubungan

(15)

seksual model oral genital ini merupakan alternatif aktivitas seksual yang dianggap aman oleh remaja masa kini (PKBI, 2008). Lalu tahapan berikutnya yaitu masturbasi dan onani, yaitu perilaku seksual yang merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual. Perilaku ini secara psikologis menimbulkan dilema perasaan antara perasaan bersalah dan perasaan puas. Tahap perilaku seksual yang terakhir adalah

sexual intercourse atau senggama yaitu aktivitas seksual dengan memasukkan alat

kelamin laki-laki kedalam alat kelamin wanita. Dampak dari hubungan seksual yang dilakukan sebelum saatnya adalah perasaan bersalah dan berdosa terutama pada saat kali pertama, ketagihan, kehamilan, sehingga terpaksa menikah atau aborsi, kematian dan kemandulan akibat aborsi, risiko terkena IMS dan HIV/AIDS, dan sanksi sosial, moral serta agama. Perilaku remaja mulai dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, menonton video porno hingga melakukan hubungan seksual termasuk dalam kategori perilaku seksual risiko tinggi (PKBI, 2008, Darmasih, 2009, Suandi, 2011 dan Sarwono, 2013).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :