PENGARUH LOGAM BERAT PB TERHADAP PROFIL
PENGARUH LOGAM BERAT PB TERHADAP PROFIL
PROTEIN ALGA MERAH (
PROTEIN ALGA MERAH (
Gracillaria
Gracillaria
sp.)
sp.)
DOSEN PEMBIMBING:
DOSEN PEMBIMBING:
1.
1.
KRISTANTI
KRISTANTI
INDAH.P.,S.si.,M.si
INDAH.P.,S.si.,M.si
2.
2.
TUTIK
TUTIK
NURHIDAYATI.,S.si.,M.si
NURHIDAYATI.,S.si.,M.si
OLEH:
OLEH:
HENNY ANDHINI OKTAVIA (1504 100 022)
HENNY ANDHINI OKTAVIA (1504 100 022)
TUGAS AKHIR SB 1358PENDAHULUAN
Gracilaria sp. termasuk kelompok alga merah yang merupakan
organisme autotrof yang belum mempunyai akar, batang dan daun
yang sebenarnya
Secara alami Gracilaria sp. hidup dengan melekatkan thallusnya
pada substrat
Gracilaria sp. dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan,
industri gel, adsorben logam berat, pembuatan bir, sumber
potensial senyawa bioaktif
Timbal (Pb) adalah unsur kimia termasuk logam berat yang
Timbal (Pb) adalah unsur kimia termasuk logam berat yang
digunakan sebagai bahan additive bensin dan dapat bersifat racun
digunakan sebagai bahan additive bensin dan dapat bersifat racun
Logam
Logam
Pb
Pb
thallus
thallus
Gracilaria
Gracilaria
sp.
sp.
diikat
diikat
oleh
oleh
metalotionin
metalotionin
pada
pada
thallus
thallus
Logam Pb dapat menyebabkan pigmen thallus menjadi semakin sedikit,
pemberian Pb sebesar 0,1 ppm dengan lama pemaparan 7 hari menyebabkan
kadar klorofil dan fikoeritrin menurun. Untuk klorofil dari 128,70 mg/kg menjadi
95,30 mg/kg sedangkan fikoeritrin dari 66,10 mg/kg menjadi 53,45 mg/kg
(Muslihatin, 2006). Jadi, semakin menurun kadar klorofil alga maka protein
yang terdapat dalam tubuh alga juga akan semakin menurun.
PERUMUSAN MASALAH
PERUMUSAN MASALAH
Apakah akan terjadi perubahan profil protein pada
Apakah akan terjadi perubahan profil protein pada
Gracilaria
Gracilaria
sp. yang sp. yang tercemar logam berat Pb dibanding pada kondisi normaltercemar logam berat Pb dibanding pada kondisi normal
BATASAN MASALAH
BATASAN MASALAH
Batasan masalah pada penelitian adalah profil protein pada
Batasan masalah pada penelitian adalah profil protein pada
Gracilaria
Gracilaria
sp. dengan SDS
sp. dengan SDS
-
-
PAGE elektroforesis
PAGE elektroforesis
TUJUAN
TUJUAN
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui profil protein
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui profil protein
Gracilaria
Gracilaria
sp. yang sp. yang tercemar logam berat Pbtercemar logam berat Pb
MANFAAT
MANFAAT
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan informasi awal t
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan informasi awal tentang entang daya absorpsi
daya absorpsi
Gracilaria
Gracilaria
sp. terhadap logam berat Pb berdasar pada profil sp. terhadap logam berat Pb berdasar pada profil proteinTIJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Gracillaria sp.
Divisio
: Rhodophyta
Classis
: Florideophyceae
Ordo
: Gracillariales
Familia
: Gracillariaceae
Genus
: Gracillaria
Species
: Gracilaria sp.
(Cavalier-Smith,1998)Budidaya
Budidaya
Gracilaria
Gracilaria
sp.
sp.
Metode dasar (
Metode dasar (
bottom method
bottom method
)
)
Di dalam tambak dengan menebarkan bibit pada dasar tambak.
Di dalam tambak dengan menebarkan bibit pada dasar tambak.
Metode lepas dasar (
Metode lepas dasar (
off bottom method
off bottom method
)
)
Yaitu dengan mengikatkan bibit rumput laut pada tali
Yaitu dengan mengikatkan bibit rumput laut pada tali
-
-
tali yang dipatok secara
tali yang dipatok secara
berjajar
berjajar
-
-
jajar di daerah perairan laut dengan kedalaman antara 30
jajar di daerah perairan laut dengan kedalaman antara 30
-
-
60 cm.
60 cm.
Rumput laut ditanam di dasar perairan.
Rumput laut ditanam di dasar perairan.
Metode
Metode
rakit
rakit
apung
apung
(
(
floating rack method
floating rack method
)
)
Dikerjakan dengan mengikat bibit rumput di tali
Dikerjakan dengan mengikat bibit rumput di tali
-
-
tali yang diikatkan di patok
tali yang diikatkan di patok
-
-patok dalam posisi seperti melayang di tengah
patok dalam posisi seperti melayang di tengah
-
-
tengah kedalaman perairan.
tengah kedalaman perairan.
Metode rawai (
Metode rawai (
longline method
longline method
)
)
Dikerjakan dengan cara mengikatkan bibit
Dikerjakan dengan cara mengikatkan bibit
-
-
bibit rumput laut dalam posisi
bibit rumput laut dalam posisi
vertikal (tegak lurus) pada tali
Logam
Logam
Berat
Berat
Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh dari laut, erosi ba
Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh dari laut, erosi ba
tuan
tuan
tambang, vulkanisme
tambang, vulkanisme
Pencemaran logam berat ini menimbulkan berbagai permasalahan
Pencemaran logam berat ini menimbulkan berbagai permasalahan
diantaranya:
diantaranya:
Berhubungan dengan estetika (perubahan bau, warna dan rasa
Berhubungan dengan estetika (perubahan bau, warna dan rasa
air)
air)
Berbahaya bagi kehidupan tanaman dan binatang
Berbahaya bagi kehidupan tanaman dan binatang
Berbahaya bagi kesehatan manusia
Berbahaya bagi kesehatan manusia
Absorbsi Timbal (Pb) Pada Organisme Laut
Absorbsi Timbal (Pb) Pada Organisme Laut
Lapisan membran pada alga terdiri dari lipid
Lapisan membran pada alga terdiri dari lipid
bilayer
bilayer
dimana permukaannya mengandung lapisan yang dapat
dimana permukaannya mengandung lapisan yang dapat
mengikat ion
mengikat ion
-
-
ion yang akan diserap. Ion logam akan masuk
ion yang akan diserap. Ion logam akan masuk
kedalam sel dengan cara penetrasi kedalam lapisan lipid.
kedalam sel dengan cara penetrasi kedalam lapisan lipid.
Semakin banyak Pb yang terikat pada dinding sel maka akan
Semakin banyak Pb yang terikat pada dinding sel maka akan
semakin banyak pula Pb yang dapat masuk ke dalam sel.
semakin banyak pula Pb yang dapat masuk ke dalam sel.
Interaksi antara logam dengan permukaan thallus yang
Interaksi antara logam dengan permukaan thallus yang
melibatkan ikatan elektrostatik dapat meningkatkan absorbsi
melibatkan ikatan elektrostatik dapat meningkatkan absorbsi
logam pada permukaan sel.
METODOLOGI
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Juni 2009.
Gracillaria sp. dibudidayakan dalam skala laboratorium di
Laboratorium Zoologi Program Studi Biologi Fakultas MIPA ITS.
Analisis kandungan Pb dilakukan di Balai Penelitian dan
Konsultasi Industri (BPKI) Surabaya.
Analisis profil protein
Gracillaria sp. dilakukan di Laboratorium Sentral Ilmu Hayati
SKEMA KERJA
Persiapan Media Budidaya
Gracilaria sp. diambil dengan cara memotong bagian vegetatif
Ditanam dalam akuarium berukuran 40x30x30 cm dan berisi air tambak (air tambak disaring terlebih dahulu) kemudian diperlakukan dengan menggunakan PbCl2
Bibit dikultivasi di dalam akuarium dengan volume air tambak sebanyak 30 liter. Metode kultivasi bibit menggunakan metode gantung yang telah dimodifikasi sesuai keadaan akuarium
PbCl2 dilarutkan dalm media kultivasi dengan konsentrasi (x + 0) ppm; (x + 0,03) ppm; (x + 0,06) ppm dan (x + 0,09) ppm
Dilakukan pemupukan dengan campuran pupuk urea, TSP dan ZA dengan perbandingan 1:1:1
Dianalisis kandungan Pb dalam thallus
Gracillaria sp. menggunakan Atomic Absorbtion Spectrofotometry (AAS)
Analisis kandungan protein dengan metode Elektroforesis
Analisis Kandungan Pb
Dilarutkan dalam 25 ml HCL encer 10% dan 10 ml HNO3 pekat 65%
Dipanaskan dan diaduk sampai abu terlarut sempurna
Dimasukkan dalam labu ukur 50 ml dan ditambahkan aquades sampai tanda batas
Disaring menggunakan kertas saring dan dimasukkan ke dalam AAS dengan pipa kapiler
Konsentrasi Pb diukur dengan panjang gelombang 217 nm
Hasil
Sampel Gracillaria sp. dikeringkan pada suhu 1200C dan diabukan
Persiapan Alat Elektroforesis
Perangkat Elektroforesis (Biorad ®) dirangkai
Diambil sisir setelah padat dan siap digunakan
Dimasukkan sisir pembentuk sumuran diantara plat, didiamkan 10 menit
Dibuang lapisan akuades dan diganti dengan gel penumpuk
Diisikan 6 ml larutan gel pemisah pada plat, dilapisi 1 ml akuades dan didiamkan 15 menit
Pengamatan Profil Protein
Isolasi protein Gracilaria sp.
Gracilaria sp. dicuci dengan aquades
steril, ditimbang ± 0.1 gram
Dipotong-potong, digerus dan ditambahkan buffer ekstrak 500 µl
Homogenat yang dihasilkan, dipindah dalam eppendorf yang telah diisi 250 µl buffer ekstrak
Ditambahkan 26 µl PMSF 40 mM Di vortex
Di inkubasi selama 1 jam dalam refrigerator sambil sesekali di vortex
Disentrifuge dengan kecepatan 13.000 rpm pada suhu 40C selama 5 menit
Supernatan dipindah ke tabung baru,pelet disuspensikan dengan 500 µl buffer ekstrak dan 26 µl PMSF 40 mM
Di vortex Di inkubasi selama 1 jam dalam
refrigerator sambil sesekali di vortex
Disentriguse dengan kecepatan 13.000 rpm pada suhu 40C selama 5 menit
Supernatan yang didapat dicampur dengan
supernatan pertama Supernatan dipresipitasi dg TCA 20% Supernatan
Elektroforesis SDS-PAGE
Dilakukan pencucian dengan larutan pencuci
Supernatan dicampur dengan buffer sampel sebanyak 6 µl dipanaskan dalam air mendidih 2 menit
Supernatan dimasukkan pada sumuran gel 25 µl/sumuran
Gel dilepas dan diwarnai dengan kromasi blue
Dilakukan running sampai warna biru menyentuh dasar gel, dihentikan
Bak bufer atas dan bawah diisi buffer elektroda
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perlakuan
Konsentrasi Pb pada Gracillaria sp.
Hari ke 0 Hari ke 5 Serapan Pb
A 0.06 0.074 0.014
B 0.06 0.081 0.021
C 0.06 0.086 0.026
D 0.06 0.098 0.038
Ket : A adalah air tambak + 0 ppm Pb B adalah air tambak + 0.03 ppm Pb C adalah air tambak + 0.06 ppm Pb D adalah air tambak + 0.09 ppm Pb
Akumulasi Timbal (Pb) pada Thallus Gracillaria sp. Tabel 4.1
Perlakuan
Konsentrasi Pb hari ke-0 ( ppm )
Konsentrasi Pb hari ke-5 ( ppm ) Selisih Konsentrasi Pb ( ppm) A 0.010 0.011 -0.001 B 0.040 0.032 0.008 C 0.070 0.064 0.006 D 0.100 0.088 0.012
Konsentrasi Pb pada media Tabel 4.2
Ket : A adalah air tambak + 0 ppm Pb B adalah air tambak + 0.03 ppm Pb C adalah air tambak + 0.06 ppm Pb D adalah air tambak + 0.09 ppm Pb
Berdasarkan Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 bahwa semakin tinggi
konsentrasi Pb yang diberikan maka semakin tinggi pula
penyerapan yang dilakukan oleh thallus. Pada perlakuan B dengan
penambahan Pb sebesar 0.03 ppm, Gracillaria sp. dapat menyerap
Pb sebanyak 0.021 ppm, sedangkan pada perlakuan C dengan
penambahan Pb sebesar 0.06 ppm Gracillaria sp. dapat menyerap
Pb sebanyak 0.027 ppm dan pada perlakuan D dengan
penambahan Pb sebesar 0.09 ppm Gracillaria sp. dapat menyerap
Pb sebanyak 0.038 ppm.
Selisih konsentrasi Pb pada media tidak terlalu banyak, hal tersebut
PROFIL PROTEIN
MARKER A B C D 221 150 100 75 50 35 25 15 10 167 67 38 6 164 67 38 6 167 59 38 32 6 164 67 38 32 6Ket : A adalah air tambak + 0 ppm Pb B adalah air tambak + 0.03 ppm Pb C adalah air tambak + 0.06 ppm Pb D adalah air tambak + 0.09 ppm Pb
Berdasarkan Tabel tersebut dapat diketahui bahwa pada perlakuan B, C
dan D apabila dibandingkan dengan kontrol (A) terdapat perbedaan pita protein.
Perbedaan pita protein tersebut di asumsikan sebagai protein baru yang
terbentuk.
Protein baru tersebut adalah protein dengan berat molekul 164 kDa yang
ditemukan pada perlakuan B dan D, berat molekul 59 kDa ditemukan hanya pada perlakuan C dan berat molekul 32 kDa yang ditemukan pada
perlakuan C dan D.
Pola pita protein pada perlakuan B, C dan D apabila dibandingkan dengan A (kontrol) terdapat perbedaan, ada pita protein yang tebal dan ada pita
protein yang tipis.
Adanya perbedaan tebal tipisnya pola pita protein menunjukkan bahwa adanya perbedaan dalam kandungan proteinnya.
Pada perlakuan B, C dan D apabila dibandingkan dengan kontrol (A)
terdapat perbedaan pita protein.
Pada perlakuan B jika di bandingkan dengan kontrol (A) perbedaan pita
proteinnya yaitu dengan berat molekul 164 kDa, pada perlakuan C pita protein dengan berat molekul 59 kDa dan 32 kDa, dan pada perlakuan D yaitu 164 kDa dan 32 kDa.
Tidak ditemukannya protein-protein pada tiap perlakuan (B, C, dan D)
tersebut diduga mengalami degradasi protein. Degradasi protein di
mungkinkan terjadinya denaturasi protein, hal tersebut terjadi disebabkan karena peningkatan konsentrasi logam Pb.