1
PERAKITAN TEKNOLOGI BUDIDAYA SEREALIA
Sistem Tanam Legowo Jagung dengan Tumpangsari Kedelai
Teknologi sistem tanam legowo pada tanaman jagung dapat meningkatkan indeks penggunaan lahan dan pendapatan petani. Sistem tanam legowo pada jagung dimana dua baris tanaman dirapatkan (jarak tanam antar-baris dirapatkan), sehingga antara setiap dua baris tanaman lebih longgar, populasi tanaman tidak berbeda dibanding tanpa legowo.
sistem tanam legowo jagung dengan jarak tanam (100 x 50 cm) x 20 cm atau (100 x 40 cm) x 20 cm yang ditumpangsarikan dengan kedelai mempunyai hasil yang relatif lebih tinggi dibanding dengan sistem tanam legowo tanpa tumpangsari.Hal ini disebabkan adanya subsidi N yang berasal dari penambatan N dari tanaman kedelai. Pada bagian baris legowo yang ditanami kedelai 2 baris dapat menghasilkan >0,5 t/ha.
Gambar Tumpangsari jagung dan kedelai system legowo
Pemupukan Jagung Spesifik Lokasi di Lahan Sawah
Teknologi Penentuan Takaran Pupuk Spesifik Lokasi dengan Perangkat PUJS. Pupuk yang diberikan ke dalam tanah tidak semuanya dapat diserap oleh tanaman. Oleh karena itu, penggunaan pupuk anorganik yang diaplikasikan pada lahan sawah tadah hujan harus dihitung dalam satu
2
pola tanam padi-jagung-jagung dengan mempertimbangkan residu pupuk pada setiap musim tanam.
Di sejumlah daerah, petani umumnya memupuk tanaman jagung berdasarkan perhitungan jumlah benih yang ditanam, yaitu 1 kg benih setara dengan 1 zak pupuk, sehingga terdapat kecenderungan penggunaan pupuk N (urea) yang berlebih. Sedangkan penggunaan pupuk P dan K kurang optimal, bahkan sering tidak melakukan pemupukan P dan K, meskipun di lahan tersebut tanaman jagung responsif jika dipupuk dengan P dan K, sehingga penggunaan pupuk menjadi tidak efisien yang berakibat produktivitas tidak optimal. Hasil survey menujukkan bahwa takaran pupuk yang dipakai petani rata-rata 295 – 345 kg N, 0 – 22,5 kg P2O5, dan 0 - 22,5
kg K2O per ha dengan tingkat hasil rata-rata yang diperoleh petani 6,0 – 7,7
t/ha.
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan PUJS dengan analisis tanah P dari rendah sampai tinggi dan ketersediaan K sedang-tinggi dan peluang hasil 9 t/ha, maka rekomendasi takaran pupuk adalah 170 kg N, 30 -60 kg P2O5, dan 33 kg K2O (Rekomendasi spesifik seperti pada Tabel).
Berdasarkan analisis PUJS, penggunaan N akan menurun dan penggunaan P dan K akan meningkat. Pemupukan P di Desa Tonasa dan Sanrobone dan pemupukan K seluruh wlayah di Takalar pada lahan sawah untuk tanaman jagung cukup pada musim tanam I, sedangkan musim tanam ke II tidak perlu pemupukan P dan K.
Teknologi dekomposer untuk pembuatan pupuk organik dari limbah tanaman jagung
Pemanfaatan lahan secara intensif dengan penanaman secara berkelanjutan dapat memperburuk kesuburan dan tekstur tanah. Penambahan bahan organik, selain berfungsi sebagai sumber hara bagi tanaman dalam jangka panjang, juga berfungsi untuk memperbaiki tekstur tanah. Pemanfaatan bahan organik dari limbah tanaman jagung dalam jangka panjang dapat berfungsi sebagai sumber hara bagi tanaman insitu, namun memerlukan proses perombakan limbah tersebut yang cukup lama.
3
Mikroorganisme dekomposer yang diperoleh dapat merombak limbah batang tanaman jagung secara cepat, sehingga limbah tanaman dapat diproses insitu dan tidak perlu lagi mengangkut limbah keluar lahan. Dengan demikian usahatani jagung efisien dan menjaga tingkat produktivitas lahan sehingga usahatani jagung akan berkelanjutan. Hasil penelitian telah diperoleh 6 mikroorganisme yang efektif dan cepat dalam membuat pupuk organik berbahan biomas jagung.Hasil penelitian Balitsereal Maros, telah diperoleh mikroorganisme yang efektif dan cepat dalam membuat pupuk organik berbahan biomas jagung.Hasil seleksi cendawan dari berbagai lokasi di Sulawesi Selatan diperoleh cendawan O5 yang lebih bak dibanding EM4. Cendawan dekomposer O5 mampu menghasilkan kompos dengan kandungan N lebih tinggi dan C/N lebih rendah dibandingkan EM4.
Hama dan Penyakit Serealia Formulasi Biopestisida
Bacillus subtilis merupakan fungisida biologi (biofungisida) yang banyak digunakan untuk pengendalian penyakit jamur. Bakteri saprofit ini mengendalikan serangan jamur, layu dan busuk akar. Pada tahun 2014, penelitian Bakteri Bacillus subtilis danTM4 telah diformulasikan dalam bentuk tepung dan diuji efektifitasnya di laboratorium terhadap cendawan Rhizoctonia soloni, Fusarium moniliforme, dan Bipolaris maydis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. subtilisTM4 mampu menekan perkembangan serangan cendawan Rhizoctonia soloni, Fusarium moniliforme, dan Bipolaris maydis.Pengujian yang dilakukan di rumah kaca, menunjukkan bahwa formulasi B. subtilisTM4 mampu memberikan vigor tanaman yang lebih baik, meningkatkan berat segar tanaman, dan mampu menekan perkembangan cendawan patogen R. solani.
Biofungisida lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan oleh penyakit yang disebabkan oleh jamur adalah Trichoderma sp. dan
Gliocladium sp. Efektifitas daya hambat dari kedua biofungisida tersebut di
4
intensitas serangan penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung sebesar 63,31– 69,7%. Sementara itu Gliocladium sp mampu menurunkan intensitas serangan penyakit busuk pelepah sebesar 23,34% – 54,29 %.
Gambar 14.Formulasi Trichoderma dan Gliocladium
Penelitian Hama dan Penyakit Tanaman Gandum
Penelitian identifikasi hama dan penyakit tanamam gandum di laksanakan di Malino Sulawesi Selatan. Terdapat sejumlah hama yang teridentifikasi menyerang tanaman gandum adalah belalang (Locusta migratoria L), werengdaun (Peregrinus maidis Ashmed), ulat grayak (Mithymna separate Walker), dan pengorok daun (Liriomyza spp.), dan ulat jengkal. Jenis hama yang banyak ditemukan pada varietas Dewata yang diuji adalah penggorok daun dengan populasi imago mencapai 29,17 ekor/5 kali ayunan ganda.
Adapun penyakit yang umum menyerang tanaman gandum pada fase vegetatif dan generatif adalah masing-masing bercak daun Helminthosporium, hawar daun Alternaria sp., (Gambar7) dan penyakit hawar malai (Fusarium sp.) yang menyerang malai (Gambar 8).
Hasil identifikasi yang dilakukan di laboratorium penyakit Balitsereal menunjukkan bahwa patogen penyebab penyakit bercak daun Helminthosporium adalah H. sativum (Gambar 6.a.).Sedangkan penyebab hawar daun Alternaria adalah A. triticina (Gambar 6.b.), serta penyebab hawar malai adalah Fusarium equiseti (Gambar 11).
5 (a) (b) a (c) G
Gambar 11.Bentuk konidia H. sativum (x100) dari tanaman gandum (a). Bentuk konidiaA. triticina (x100) dari tanaman gandum (b), Bentuk konidia F. equiseti (x200) dari tanaman gandum (c)
6
Gambar 13.Gejala serangan hawar malai pada tanaman gandum.
BENIH SUMBER SEREALIA
Produksi benih sumber dan distribusinya
Dalam rangka mendukung ketersediaan benih sumber serealia di Indonesia, Badan Litbang Pertanian telah membentuk unit pengelola benih sumber (UPBS) yang memproduksi benih sumber serealia klas BS dan FS dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu berbasis ISO 9001: 2008. Pengembangan sistem produksi dan distribusi benih sumber serealia dengan penerapan manajemen mutu dilakukan dengan tujuan : (1). memproduksi benih sumber serealia (jagung, sorgum, gandum) klas BS dan FS dengan penerapan SMM, (2). mengevaluasi UPBS berbasis sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001-2008 dalam produksi dan distribusi benih sumber serealia dengan menerapkan dan memanfaatkan laboratorium terakreditasi berbasis ISO/IEC 17025: 2008.
Pada tahun 2014, UPBS Balitsereal memproduksi benih benih penjenis (BS), benih dasar (FS) dan F1 hibrida jagung. Benih klas BS jagung yang dihasilkan sebesar 8.135 kg. Benih klas FS dan F1 hibrida yang dihasilkan masing-masing 15.875 kg dan 6.025 kg. Sementara itu benih sorgum klas BS yang dihasilkan adalah sebesar 4.808 kg. BS varietas gandum yang diproduksi adalah 388 kg (Tabel 14, 15, 16, dan17).
Tabel 14. Produksi Beberapa VUB Jagung Klas BS, 2014 dan Hibrida F1
Varietas Luas (ha) Target hasil (kg) Hasil Benih (kg) Lokasi Lamuru 1,0 1000 2.130 KP. Bajeng Bisma 1,0 1000 1.285 KP. Bajeng Srikandi Kuning 1,0 1000 1.855 KP. Bajeng Sukmaraga 1,0 1000 1.165 KP. Bajeng
Pulut URI 1,0 1000 1.700 KP. Bajeng
7
Bima 19 URI dan Bima 20 URI
3,0 9000 6.025 Malang, Jatim
Tabel 15 . Produksi Beberapa VUB Jagung Klas FS, 2014
Varietas Luas (ha) Target hasil (kg) Hasil Benih (kg) Sukmaraga 2,0 4000 4.725 Arjuna 1,0 2000 1.534 Bisma 1,0 2000 1.980 Lamuru 1,0 2000 3.020 Srikandi Putih 1,0 2000 895 Gumarang 1.0 2000 645 Anoman 1.0 2000 3.080 Jumlah 8.0 16.000 15.879
Tabel 16. Produksi Beberapa VUB Sorgum tahun 2014
Varietas Luas
(ha) Target hasil (kg)
Hasil Benih (kg) Super-1 0,5 1.000 1.220 Super-2 0,5 1.000 595 Numbu 0,5 1.000 2.485 Kawali 0,5 1.000 508 Jumlah 2,00 2.000 4.808
Tabel 17. Produksi Beberapa VUB Gandum tahun 2014
Varietas Luas (ha) Hasil Benih (kg) Nias 0,3 134 Selayar 0,4 119 Dewata 0,4 135 Jumlah 1,00 388
8 Distribusi Benih Tahun 2014
Distribusi benih jagung klas BS tahun 2014 sebanyak 6.160,45
kg dengan total distribusi terbanyak berturut-turut varietas Sukmaraga, Lamuru, Pulut URI, Bisma, Arjuna, sisanya adalah varietas lain.
Benih jagung klas FS yang terdistribusi tahun 2014 sebanyak 12.619,9 kg, dengan total distribusi benih terbesar berturut-turut varietas Lamuru, Bisma, dan Srikandi Kuning.
Distribusi benih sorgum sepanjang tahun 2014 sebanyak 3.196,9 kg, dengan total benih sorgum terbanyak terdistribusi ialah varietas Numbu dan Kawali. Sedangkan benih gandum yang terdistribusi sebanyak 362,5 kg.
Tabel. Distribusi benih klas BS dan FS jagung tahun 2014
NO PROVINSI BS (kg) FS (kg)
BPTP DINAS PENANGKAR BPTP DINAS PENANGKAR
1 Aceh 107 50 15 6 2 Sumatera Utara 100 15 5 2 3 Sumatera Barat 25 12 4 Bengkulu 60 5 Riau 51 1 6 Kepulauan Riau 7 Jambi 20 5 8 Sumatera Selatan 1 52 9 Lampung 110 88 10 Bangka Belitung 27 20 11 Jakarta 20 12 Jawa Barat 1 10 44 6 11 1 13 Banten 40 15 14 Jawa Tengah 35 26 73 43 15 Yogyakarta 10 20 16 Jawa Timur 332 25 2 287 17 Kalimantan Barat 100 23 20 18 Kalimantan Tengah 40 19 Kalimantan Selatan 135 675 120 40 20 Kalimantan Timur 25 66 10 21 Kalimantan Utara 22 Bali 10 10 23 NTB 75 5 30 60
9 24 NTT 10 35 101 40 5 180 25 Sulawesi Barat 1 7.5 29 26 26 Sulawesi Utara 105 40 20 27 Sulawesi Tengah 20 30 26 10 50 110 28 Sulawesi Selatan 21 128 1013.45 75 174 2022 29 Sulawesi Tenggara 20 20 30 Gorontalo 45 57 60 237 31 Maluku 18 40 95 32 Maluku Utara 14 7 50 125 4 33 Papua 100 12 31 45 34 Papua Barat TOTAL 1019 316 2931.95 681 609 2919
Pendampingan dan Evaluasi Penerapan Komponen Teknologi PTT dalam SL-PTT jagung
Pendampingan pelaksanaan SL-PTT dilaksanakan dalam bentuk bantuan benih untuk display beberapa varietas, pendampingan langsung pelaksanaan SL-PTT, pelatihan-pelatihan bagi PL II dan kelompok tani, serta magang produksi benih jagung hibrida bagi staf BPTP. Evaluasi Pelaksanaan SL-PTT jagung dilakukan dengan melihat permasalahan dalam pelaksanaan SL-PT jagung yaitu:
1. Bantuan benih ditentukan di pusat (Jakarta) sehingga benih tidak tepat waktu, jenis dan jumlah
2. Koordinasi dan komunikasi antar institusi yang terlibat lemah.Belum adanya sistem yang terintegrasi dalam pengawalan antara Dinas Pertanian dengan BPTP dan Bakorluh/ Bapeluh
3. Materi pelatihan pemandu lapangan belum sepenuhnya menyesuaikan dengan kondisi lapangan, disisi lain kondisi lapangan sangat heterogen
4. Pengetahuan dan keterampilan para pemandu masih lemah. Jumlah kelompok tani relatif banyak sedangkan petugas pembina/pendamping relatif terbatas, sehingga pengawalan oleh pemandu lapangan belum optimal
10
5. Pemahaman PTT masih rendah, PTT dipahami identik dengan penggantian varietas atau bantuan benih
6. Varietas yang diminta adalah varietas hibrida yang sering ditanam petani, dan kesulitan untuk introduksi varietas baru meskipun varietas tersebut mempunyai potensi hasil yang lebih tinggi
7. Adanya pemahaman bahwa 1 unit SL adalah 1 kelompok, sehingga bantuan benih dibagi rata keseluruh anggota kelompok yang lahannya lebih dari batasan luasan 1 unit SL jagung hibrida 15 ha 8. Banyak dijumpai pelaksana SL-PTT adalah petani penggarap, tidak
mempunyai kewenangan yang penuh atas lahannya.
9. Tidak adanya kontinuitas pembinaan pasca pelaksanaan SL-PTT 10. Penerapan paket teknologi anjuran belum dapat diterapkan secara
optimal oleh petani karena keterbatasan modal
Penguatan Sistem Benih Sumber Jagung
Penguatan sistem kelembagaan yang dilaksanakan oleh Balitsereal dengan 2 cara. Alternatif pertama: Balisereal sebagai penghasil benih sumber (BS dan FS) bekerjasama langsung dengan penangkar benih binaan. Dalam kerjasama ini Balitsereal yang langsung mendampingi penangkar binaan dan menyediakan sarana produksi dan transfer teknologi budidaya (mulai dari tanam sampai panen) dengan melibatkan juga BPSB dan instansi terkait (Diperta, PEMDA dan/atau LSM-LSM) agar pendistribusian benih tepat sasaran dan waktu.
Alternatif kedua: Balitsereal sebagai pemulia yang menghasilkan
benih jagung (Breeder Seed) memperbanyak benihnya untuk menghasilkan benih dasar selanjutnya hasil benih dasar ini dikirim/dilanjutkan oleh BPTP dengan mandat membina penangkar benih menggunakan benih kelas BP/Benih Pokok sebagai penguatan benih sumber di provinsi-provinsi. Pendistribusian benih hasil tangkaran dikelola oleh BPTP.