BAB 2 LANDASAN TEORI. Pada bab 2 akan dibahas landasan teori dari variabel-variabel yang terkait

Teks penuh

(1)

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pada bab 2 akan dibahas landasan teori dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini. Variabel-variabel tersebut adalah kemacetan, stressor, stres, penyesuaian diri terhadap stres dan psikologi lingkungan.

2.1 Kemacetan Lalu Lintas 2.1.1 Definisi

Kemacetan lalu lintas merupakan suatu keadaan atau situasi yang terjadi dalam satu atau beberapa ruas lalu lintas, dimana arus kendaraan bergerak sangat lambat bahkan terhenti sehingga mengganggu aktifitas dan pergerakan pemakai jalan. Adapun pengertian kemacetan lalu lintas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yakni keadaan tersendatnya bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan karena banyaknya jumlah kendaraan yang telah melebihi kapasitas daripada jalan raya.

2.1.2 Faktor-Faktor Kemacetan

Kemacetan dapat terjadi ketika dipicu oleh faktor-faktor yang menimbulkan sebuah masalah dalam berlalu lintas, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Kualitas Jalan Raya

Kualitas jalan raya termasuk salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemacetan seperti: kerusakan pada keseluruhan atau sebagian ruas jalan serta pemanfaatan ruas jalan yang digunakan tidak sesuai dengan tujuan seharusnya.

(2)

b. Jumlah Kendaraan yang Melebihi Luas Kapasitas Jalan

Berbagai hal menyangkut kondisi kendaraan dapat menjadi penyebab kemacetan yakni jenis kendaraan, ukuran kendaraan, kualitas kendaraan yang melintas serta banyaknya kendaraan yang ada telah melebihi kapasitas kendaraan yang dapat ditampung oleh jalan raya.

c. Sikap, Perilaku dan Kebiasaan Pemakai Jalan

Sikap, perilaku dan kebiasaan pemakai jalan yang kurang tepat ketika menggunakan jalan raya seperti: egois terhadap kepentingan diri, tidak mau mengalah, kasar bahkan menganggap bahwa pelanggaran lalu lintas merupakan situasi yang sudah biasa terjadi. Hal-hal diatas termasuk ke dalam salah satu bagian yang menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas bahkan kecelakaan lalu lintas.

2.2 Stressor

Menurut Gatchel, Baum dan Krantz (1989) stressor merupakan kejadian lingkungan yang menimbulkan stres sehingga memunculkan reaksi terhadap stres, seperti kecemasan, kemarahan dan ketakutan. Menurut Greenberg (2004) Stressor adalah suatu kejadian yang berpotensi menimbulkan reaksi stres. Secara umum stressor merupakan sebuah keadaan yang menimbulkan stres.

Berdasarkan definisi stressor diatas, dapat disimpulkan bahwa kemacetan lalu lintas merupakan sebuah stressor yang dapat menyebabkan stres ketika menghadapinya. Hal ini juga dikemukakan oleh Awake (2010) yang menyatakan bahwa salah satu aspek kehidupan kota yang menimbulkan stres adalah kondisi lalu

(3)

lintas, terutama lalu lintas dengan kepadatan yang menutupi jalan dan menimbulkan polusi udara.

2.3 Stres

2.3.1 Definisi

Setiap individu tidak dapat dilepaskan dari istilah stres. Individu pasti memiliki pengalaman stres dalam kehidupan sehari-harinya. Secara umum stres diartikan sebagai suatu kejadian, baik secara internal maupun eksternal yang melebihi kemampuan individu untuk beradaptasi bahkan stres disadari sebagai keadaan yang tidak menyenangkan.

Menurut Gatchel, Baum dan Krantz (1989) “stress is the process by which environmental events threaten or challenge and organism’s well being and by which that organism responds to this threat” stres merupakan proses dimana suatu kejadian dalam lingkungan tersebut akan mengancam atau menantang kesejahteraan individu serta melihat bagaimana individu berespon terhadap ancaman yang dihadapinya.

Lazarus dan Folkman (1984) menyatakan bahwa stres didefinisikan sebagai hasil dari penilaian individu terhadap masalah yang ada di lingkungan dan sumber daya yang dimilikinya untuk kemudian melakukan strategi penyesuaian yang efektif, guna menghasilkan dampak yang baik bagi kesehatan dan kebahagiaan individu tersebut. Terdapat empat komponen dalam proses stres yakni sumber stres (stressor), lingkungan, individu dan hasil yang terjadi (Lazarus & Folkman, 1984).

Dari berbagai definisi-definisi yang ada, disimpulkan bahwa stres merupakan sebuah keadaan tidak menyenangkan yang mengancam

(4)

kesejahteraan hidup seorang individu dan melihat bagaimana individu tersebut berespon atas ancaman yang dihadapinya.

2.3.2 Tanda-Tanda Stres

(Vlisides, eddy dan mozy dalam rice, 1999) mengatakan bahwa stres ditandai dengan gejala-gejala berupa;

a. Respon Perilaku : menghindar, menunda-nunda pekerjaan, menarik diri, pola tidur tidak teratur, pola makan berubah.

b. Respon Emosi : mudah cemas pada berbagai situasi, depresi, mudah marah, putus asa, ketakutan.

c. Respon Kognisi : motivasi yang rendah, sulit berkonsentrasi, ragu-ragu, bingung, pikiran penuh atau kosong.

d. Respon Fisik : merasa lelah, badan lemah, sakit kepala sebelah, otot yang kaku, nyeri pada dada, gangguan lambung, serta menstruasi yang terganggu.

2.4 Penyesuaian Diri Terhadap Stres (Coping Stress) 2.4.1 Definisi

Penyesuaian diri merupakan usaha seseorang dalam menghadapi stres dan mengatasi ancaman maupun tantangan (Pestonjee dalam jati, 2006). Lazarus dan Folkman (1984) menyatakan bahwa strategi penyesuaian diri terhadap stres merupakan sebuah upaya kognitif dan perilaku untuk mengatasi hal-hal yang menjadi sumber stres bagi individu tersebut. Lazarus dan Folkman (dalam Sarafino, 1998) mendefinisikan penyesuaian diri terhadap stres sebagai “Process by which people try to manage the perceived discrepancy between the demands and resources they appraise in a stressfull situation”.

(5)

Singkatnya penyesuaian diri terhadap stres merupakan sebuah tindakan seseorang yang dapat menguasai, men-toleransi, mengurangi atau meminimalisir pengaruh dari sumber stres yang meliputi strategi tingkah laku dan psikologis (Ciccarelli & Meyer, 2006). Penyesuaian diri melibatkan cakupan luas dari segi strategi, keterampilan dan kemampuan yang efektif dalam pengelolaan suatu peristiwa penyebab stres (Johnston et al, 2003). Maka strategi yang efektif untuk dilakukan yakni sebuah strategi yang membantu seseorang untuk bertoleransi dan menerima situasi menekan serta tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (Lazarus & Folkman, 1984).

Menurut Ayers, Sandler, West & Roosa (1996) dalam mengatasi stres harus dilakukan secara aktif dengan melibatkan kognisi yang positif. Aspek-aspek yang ada dalam mengatasi stres secara aktif adalah :

1. Pembuatan Keputusan berdasarkan pemikiran (Cognitive Decision Making), yakni merencanakan langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah dengan jalan yang terbaik.

2. Pemecahan Masalah (Direct Problem Solving), yakni usaha untuk memperbaiki situasi yang menimbulkan masalah dengan cara berbuat sesuatu untuk menjadikan keadaan lebih baik.

3. Melihat Sebuah Pemahaman (Seeking Understanding), yakni usaha menemukan makna dari masalah yang sedang dihadapi sehingga dapat mengerti tujuan dari masalah tersebut dengan baik dan dapat mengatasinya dengan cara yang tepat.

4. Penataan Secara Positif (Positive Cognitive Restructuring), yakni berpikir lebih positif dalam memandang masalah sehingga dapat lebih optimis

(6)

mengenai kehidupan masa depan serta mampu mengontrol masalah yang akan dihadapinya.

2.4.2 Macam-macam bentuk Penyesuaian Diri Terhadap Stres

Lazarus dan Folkman (1988) menyatakan bahwa bentuk penyesuaian diri terhadap stres terbagi ke dalam dua kategori besar yakni :

1. Problem Focused Coping

Adalah berbagai macam usaha untuk mengatasi stres dan masalah yang ada dengan cara mengatur atau mengubah lingkungan yang berfokus pada masalah yang timbul dan menjadi tekanan. Dapat dikatakan bahwa strategi ini merupakan sebuah usaha-usaha aktif yang dilakukan oleh individu untuk menghilangkan sumber stres.

2. Emotion Focused Coping

Adalah berbagai usaha untuk mengatasi stres dengan berfokus pada pengaturan respon emosi negatif individu, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan dampak yang ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan tersebut.

Individu cenderung menggunakan strategi problem focused coping dalam menghadapi masalah yang dapat dikontrol atau ketika individu memiliki persepsi bahwa sumber stres yang dihadapi dapat diubah (Sarafino, 1998). Sebaliknya individu akan menggunakan strategi emotion focused coping untuk menghadapi masalah yang sulit dikontrol (Lazarus & Folkman, 1984).Terkadang, kedua cara tersebut digunakan secara bersamaan, namun tidak semua strategi tersebut pasti digunakan oleh individu (Taylor, 1991).

Sedangkan Lahey (2007) membagi strategi penyesuaian diri ke dalam dua kategori yaitu effective coping dan ineffective coping. Effective

(7)

coping merupakan sebuah usaha dalam menghilangkan sumber stres atau mengontrol reaksi yang dihasilkan dari stres tersebut (lahey, 2007). Sebaliknya ineffective coping adalah sebuah upaya untuk menghilangkan ketidaknyamanan yang dihasilkan, namun tidak menimbulkan solusi jangka panjang bahkan memperburuk suasana. Effective coping dibagi kembali ke dalam beberapa tindakan yakni:

a. Penghapusan Stres (Removing Stress)

Menghilangkan sumber dari stres tersebut dengan cara analisis mendalam untuk menentukan penyebab utama dari sumber stres yang sesungguhnya, sehingga tidak menimbulkan masalah baru.

b. Menghadapi Dengan Logika (Cognitive Coping)

Menghilangkan sumber stres tersebut dengan mengubah cara pandang atau cara berpikir terhadap kejadian yang memicu terjadinya stres. c. Menjaga Reaksi daripada Stres (Managing Stress Reaction)

Menghilangkan sumber dari stres tersebut dengan mengatur psikologis dan reaksi psikologis. Hal ini dilakukan ketika sumber stres tidak dapat diubah atau dihilangkan.

Lahey (2007) juga menyatakan bahwa terdapat penyesuaian diri yang tidak efektif disebut dengan ineffective coping yang dibagi ke dalam beberapa tindakan:

a. Menghindar (Withdrawal)

Ketika menghadapi stres seringkali individu tidak ingin melewatinya, sehingga mengalami kecenderungan untuk menghindar dari sumber stres tersebut. hal seperti ini merupakan sebuah kondisi dalam tindakan ini yakni sebuah usaha untuk menghilangkan stres yang bersifat sementara.

(8)

b. Agresi (Aggresion)

Sebuah reaksi dengan tindakan yang agresif terhadap situasi yang mengakibatkan stres.

c. Pengalihan Stres berdasarkan Keinginan Diri (Self Medication)

Sebuah usaha menghilangkan stres dengan cara meredam reaksi emosi dan menggunakan minuman keras. Hal ini menjadi sebuah cara yang tidak efektif dikarenakan tidak akan menghilangkan stres namun menimbulkan masalah baru yakni di bidang kesehatan.

d. Mekanisme Pertahanan Diri (Defence Mechanism)

Merupakan sebuah pembentukan pertahanan yang dibangun terhadap tekanan yang tidak nyaman untuk individu tersebut. Seperti ketika sedang mengendarai motor dituntut untuk tiba di kantor lebih cepat, maka individu tersebut akan membentuk pertahanan diri dengan melakukan kecurangan-kecurangan, seperti menaiki jalur trotoar pejalan kaki atau melawan arah arus jalan.

2.4.3 Strategi Penyesuaian Diri Terhadap Stres

Individu memerlukan kemampuan (skill) dan strategi untuk mengatasi suatu masalah serta mampu mengatur respon emosional terhadap kondisi yang mengakibatkan stres. Suatu studi yang dilakukan oleh Folkman et al (dalam Taylor, 1991) menyatakan bahwa terdapat delapan strategi penyesuaian diri terhadap stres yang merupakan bagian daripada problem focused coping dan emotion focused coping.

Yang termasuk ke dalam strategi problem focused coping yakni:

a. Mengatasi Dengan Resiko (Confrontative Coping), merupakan sebuah usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan

(9)

dengan cara agresif, tingkat kemarahan yang tinggi serta pengambilan resiko.

b. Mencari Dukungan Sosial (Seeking Social Support), merupakan sebuah usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dengan cara memiliki bantuan informasi melalui orang lain.

c. Pemecahan Masalah (Plantfull Problem Solving), merupakan sebuah usaha untuk mengubah keadaan yang menekan secara hati-hati, bertahap dan menggunakan analisis.

Sedangkan cara pengambilan strategi yang termasuk ke dalam emotion focused coping, diantaranya adalah:

a. Kontrol Diri (Self Control), merupakan sebuah usaha untuk mengatur perasaan yang dirasakan ketika menghadapi situasi yang menekan. b. Pemberian Jarak (Distancing), merupakan sebuah usaha untuk tidak

terlibat ke dalam permasalahan. seperti menghindari masalah, menganggap tidak terjadi apa-apa, membangun pikiran positif serta menganggap masalah sebagai sesuatu yang menyenangkan.

d. Penilaian Positif (Positive Reappraisal), merupakan sebuah usaha dalam mencari makna positif dari permasalahan dengan berfokus pada mengembangkan diri serta melibatkan hal-hal yang bersifat religius.

e. Penerimaan Tanggung Jawab (Accepting Responsibility), merupakan sebuah usaha dalam menyadari tanggung jawab diri atas permasalahan yang dihadapi, mencoba menerima permasalahan tersebut serta merubah permasalahan tersebut menjadi sebuah hal yang lebih baik.

(10)

f. Penghindaran (Escape/Avoidance), merupakan sebuah usaha dalam mengatasi situasi menekan, dengan cara melarikan diri atas situasi tersebut dengan cara memusatkan perhatian pada hal-hal lain, seperti makan, minum, rokok bahkan obat-obatan.

2.4.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Strategi Penyesuaian Diri Terhadap Stres

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dalam pemilihan strategi penyesuaian diri yakni:

a. Jenis Kelamin

Pada penelitian yang dilakukan oleh Lazarus, Folkman & Pearlin dalam Francis (2002), dijelaskan bahwa terdapat perbedaan dalam strategi mengatasi stres antara laki-laki dan perempuan. Pada perempuan pemilihan strategi penyesuaian diri yang dilakukan cenderung berpusat pada emosi (emotion focused coping), sedangkan pemilihan strategi penyesuaian diri yang dikenakan oleh laki-laki berpusat kepada permasalahan (problem focused coping).

b. Usia

Terhadap subjek dengan rentangan usia antara 45 hingga 65 tahun, tidak menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dalam pemilihan strategi penyesuaian diri terhadap stres (Folkman & Lazarus dalam Francis, 2002). Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Pearlin dan Schooler dalam Francis (2002), menyatakan bahwa pada subjek dengan rentangan usia 18 hingga 65 tahun, menunjukan

(11)

hasil yang berbeda antara individu dalam golongan muda serta individu dalam golongan tua.

c. Pendidikan

Pada penelitian yang dilakukan oleh Billing dan Moss dalam Francis (2002), menyatakan bahwa individu dengan tingkat pendidikan yang baik akan memilih perilaku strategi penyesuaian diri yang berpusat pada masalah (problem focused coping). Sebaliknya individu yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah, akan cenderung memakai perilaku penyesuaian diri yang berpusat pada emosi (emotion focused coping).

d. Faktor Situasional

Situasi yang berbeda tentunya akan menimbulkan pemilihan strategi penyesuaian diri yang disesuaikan dengan kondisi tersebut. Sehingga pemilihan strategi penyesuaian diri akan berbeda antara situasi satu dengan situasi lainnya (Moss dalam Francis, 2002).

e. Penilaian Terhadap Situasi yang Dihadapi

Sebuah cara pandang individu dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan strategi penyesuaian diri. Jika penilaian mengenai situasi tersebut dapat diubah dengan cara mengurangi atau mengatasi tuntutan yang ada, individu akan cenderung mengambil strategi yakni problem focused coping. Sedangkan jika penilaian terhadap situasi tersebut berada di luar kontrol individu tersebut atau bersifat alami, maka strategi yang digunakan cenderung ke dalam emotion focused coping.

(12)

Dari berbagai penjabaran diatas, peneliti mendapati usia, faktor situasional dan penilaian terhadap situasi yang mempengaruhi suatu pemilihan strategi penyesuaian diri terhadap stres, karena dalam penelitian ini diambil sampel individu yang melewati Jalan Rawa Belong.

2.5 Psikologi Lingkungan 2.5.1 Definisi

Baron dan Bryne (dalam Fattah, 2010) menyatakan bahwa psikologi lingkungan merupakan sebuah ilmu disiplin yang membahas hubungan antara dunia fisik dan tingkah laku manusia. Fisher, Bell & Baum (dalam Fattah, 2010) mendefinisikan psikologi lingkungan sebagai ilmu mengenai saling dan hubungan antara tingkah laku dengan lingkungan buatan ataupun alamiah. Sarlito (1992) menyatakan bahwa psikologi lingkungan berusaha mempelajari bagaimana motivasi, sikap, perasaan dari manusia terhadap lingkungannya. Pada akhirnya psikologi lingkungan diharapkan dapat meramalkan dan merekayasa perilaku manusia demi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Selain itu, psikologi lingkungan merupakan sebuah bidang psikologi yang menggabungkan dan menganalis transaksi serta tata hubungan dari pengalaman dan tindakan manusia dengan aspek-aspek dari lingkungan yang terkait (Wibowo, 2009).

2.5.2 Kota Sebagai Gelaja Psikologis

Pada umumnya kota dikenal dengan pusat pengangguran, kemiskinan, polusi, kebisingan, kenakalan, kemacetan lalu lintas dan berbagai keadaan lainnya. Walaupun terjadi hal sedemikian rupa, bukanlah menjadi alasan bagi individu untuk tidak datang ke dalam kota. Berbagai fasilitas serta hiburan dan pekerjaan yang berdomisili di daerah kota menjadi

(13)

sebuah alasan yang kuat bagi banyak individu. Namun permasalahannya adalah arus urbanisasi yang ada yakni perpindahan penduduk menyebabkan jumlah individu yang melebihi daya tampung dan mengakibatkan perasaan sesak serta stres pada individu lainnya.

Menurut Lazarus (1984) sumber stres berupa kepadatan dan kesesakan merupakan salah satu pemicu yang terdapat di dalam kota. 2.5.3 Teori Stres Lingkungan

Gambar 2.1 Mekanisme Stres Sumber: Fattah (2010)

Keterangan :

S : Sumber atau stimulus yang mengancam kesejahteraan seseorang. Seperti: suara bising, panas atau kepadatan tinggi. P : Proses transaksi antara sumber stres dengan kapasitas diri. Seperti: sumber tekanan lebih besar daripada kapasitas diri, maka akan timbul stres negatif. Sebaliknya, jika kapasitas diri lebih besar daripada sumber tekanan, maka tidak akan menyebabkan stres.

R : Reaksi yang melibatkan komponen emosional, pikiran, fisiologis dan perilaku.

(14)

2.6 Kerangka Berpikir

Berikut terpampang bagan dan penjelasan deskriptif daripada proses kerangka berpikir :

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Penjelasan deskriptif mengenai proses kerangka berpikir

Berangkat dari sebuah pengertian bahwa setiap individu menginginkan pemenuhan kebutuhan. Dalam pemenuhan tersebut dibutuhkan berbagai pendukung, salah satunya adalah transportasi. Namun transportasi yang disediakan ternyata tidak menjadi sebuah sistem transportasi yang membantu, sebaliknya merupakan sebuah sistem transportasi yang mengancam kesejahteraan. Faktor tersebut menjadi sebuah alasan bagi para pengguna jalan untuk menggunakan kendaraan bermotor roda dua (motor) ataupun kendaraan bermotor roda empat (mobil) dalam melakukan berbagai kegiatan. Semakin banyaknya kendaraan yang melintas di jalan raya tidak diimbangkan dengan pertambahan ruas/luas jalan, sehingga menimbulkan dampak baru yakni kemacetan. Kemacetan merupakan sebuah sumber yang dapat menimbulkan stres. Untuk dapat mengatasi stres ketika menghadapi kemacetan, dibutuhkan sebuah strategi dalam penyesuaian diri terhadap stres.

• Individu baik

laki-laki dan

perempuan

menginginkan

pemenuhan

kebutuhan

Kebutuhan

• Sistem

transportasi

tidak baik

Sistem

• Kemacetan

Stressor •Problem FC •Emotion FC Penyesuaian Diri Terhadap Stres

(15)

2.7 Hipotesis

Hipotesis yang dipakai dalam penelitian ini adalah hipotesis perbedaan, dipilih karena peneliti ingin melihat perbedaan strategi penyesuaian diri terhadap stres antara laki-laki dan perempuan yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua (motor) dengan yang menggunakan kendaraan bermotor roda empat (mobil) dalam menghadapi kemacetan lalu lintas.

Hipotesis Alternatif (Ha) :

a. Ada perbedaan penggunaan strategi emotion focused coping antara pengendara yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua (motor) dan pengendara yang menggunakan kendaraan bermotor roda empat (mobil).

b. Ada perbedaan penggunaan strategi emotion focused coping antara laki-laki dan perempuan.

c. Ada perbedaan penggunaan strategi emotion focused coping berdasarkan interaksi jenis kelamin dengan jenis kendaraan yang digunakan.

d. Ada perbedaan penggunaan strategi problem focused coping antara pengendara yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua (motor) dan pengendara yang menggunakan kendaraan bermotor roda empat (mobil).

e. Ada perbedaan penggunaan strategi problem focused coping antara laki-laki dan perempuan.

(16)

f. Ada perbedaan penggunaan strategi problem focused coping berdasarkan interaksi jenis kelamin dengan jenis kendaraan yang digunakan.

Hipotesis Null (Ho) :

a. Tidak ada perbedaan penggunaan strategi emotion focused coping antara pengendara yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua (motor) dan pengendara yang menggunakan kendaraan bermotor roda empat (mobil).

b. Tidak ada perbedaan penggunaan strategi emotion focused coping antara laki-laki dan perempuan.

c. Tidak ada perbedaan penggunaan strategi emotion focused coping berdasarkan interaksi jenis kelamin dengan jenis kendaraan yang digunakan.

d. Tidak ada perbedaan penggunaan strategi problem focused coping antara pengendara yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua (motor) dan pengendara yang menggunakan kendaraan bermotor roda empat (mobil).

e. Tidak ada perbedaan penggunaan strategi problem focused coping antara laki-laki dan perempuan.

f. Tidak ada perbedaan penggunaan strategi problem focused coping berdasarkan interaksi jenis kelamin dengan jenis kendaraan yang digunakan.

Figur

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir

Gambar 2.2

Kerangka Berpikir p.14

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :