• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sagacious Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Sosial Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sagacious Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Sosial Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2017"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN. 2355-8911 www.rumahjurnal.net 7 UPAYA MENGEMBANGKAN ASPEK NILAI-NILAI AGAMA DAN MORAL DALAM

MEMBEDAKAN PERBUATAN BAIK DAN BURUK MENGGUNAKAN MODEL EXAMPLES NON EXAMPLES DENGAN VARIASI MEDIA AUDIO VISUAL PADA ANAK

KELOMPOK B DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL 31 BANJARMASIN Metroyadi

Program Pendidikan Guru Prasekolah dan Sekolah Dasar Universitas Lambung Mangkurat

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas guru, aktifitas anak dan hasil capaian perkembangan anak pada aspek nilai-nilai agama dan moral dalam membedakan perbuatan baik dan buruk dengan menggunakan model pembelajaran examples non examples dengan variasi media audio visual pada anak Kelompok B TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin pada tahun ajaran 2016/2017. Jumlah anak yang menjadi subjek penelitian adalah 13 orang terdiri dari 6 orang anak laki-laki dan 7 orang anak perempuan. Penelitian ini menggunaka pendekatan kualitatif, teknik analisis data dilakukan menggunakan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi aktivitas guru dan anak, serta data kuantitatif di peroleh dari lembar hasil capaian perkembangan anak. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pembelajaran dengan menggunakan model examples non examples dengan variasi media audio visual dapat memperbaiki aktifitas guru dengan kategori sangat baik, aktifitas siswa menjadi sangat aktif dan perkembangan aspek nilai-nilai moral dan agama mencapai dengan berkembang sangat baik

Kata Kunci: Example dan non example, nilai moral dan agama PENDAHULUAN

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat penting dilaksanakan bahkan menjadi landasan kuat untuk mewujudkan generasi yang cerdas dan kuat. Taman Kanak-kanak merupakan bagian dari penyelenggaraan PAUD menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Salah satu aspek yang wajib dikembangkan di PAUD yaitu aspek nilai-nilai agama dan moral. Pendidikan nilai-nilai agama dan moral pada program PAUD merupakan pondasi yang kokoh dan sangat penting keberadaannya, jika tertanam dan terpatri dengan baik dalam setiap insan sejak dini dapat memperkuat rasa keimanan dan moral dalam pendidikan selanjutnya. Bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan keagamaan yang dikehendaki dapat menjadi motivasi spiritual bagi bangsa ini dalam rangka

melaksanakan sila-sila lainnya dalam pancasila (Hidayat, 2009).

Nilai-nilai agama dan moral dibina sejak usia dini merupakan masa bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar pendidikan mengatakan kegagalan penanaman nilai-nilai agama dan moral pada seseorang sejak usia dini akan membentuk pribadi dimasa dewasanya. Penanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis, oleh karena itu pendidikan sedini mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama untuk mengembangkan bangsa (Mengawangi, 2009).

Ernes Herms dan Kohlberg merupakan dua orang yang merumuskan tentang teori yang dapat menjelaskan tahapan perkembangan agama dan moral. Tahapan perkembangan agama dan moral pada anak usia dini merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif. Artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya, dengan demikian apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya akan memperoleh hambatan. Ernes Herms mengatakan seseorang akan melewati tiga tahap perkembangan beragama yaitu tingkatan dongeng (usia 3-6 tahun), tingkatan

(2)

8 www.rumahjurnal.net ISSN. 2355-8911 kenyataan (usia 7-15 tahun), tingkatan individu

(usia 15 tahun keatas) (Suryani, 2008).

Sedangkan menurut Kohlberg perkembangan moral anak melalui tiga tingkatan yaitu tingakatan I penalaran moral pra-convensional, tingakatan II penalaran moral convensional, tingakatan III penalaran moral post-convensional (Soetjiingsih, 2012). Perkembangan nilai agama dan moral akan semakin berkembang manakala dipengaruhi oleh faktor luar (eksternal) yaitu factor lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Hidayat, 2003). Oleh karena itu diperlukan perhatian yang besar terhadap faktor-faktor yang diduga mempengaruhi perkembangan nilai agama dan moral.

Aisyah et al. (2014) mengatakan Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Dengan demikian, sejak dini anak-anak perlu dirawat dan dididik dengan nilai-nilai moral agama, seperti nilai-nilai keluarga dan kebajikan agar anak-anak tumbuh menjadi anak yang kokoh, dan berkarakter baik. Perkembangan moral dan nilai-nialai agama pada diri anak Taman Kanak-kanak dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi anak dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya, mengenalkan dan menghargai perbedaan di lingkungan tempat anak hidup, mengenalkan peran gender dengan orang lain, serta mengembangkan kesadaran anak akan hak dan tanggung jawabnya. Puncak yang diharapkan dari tujuan pengembangan moral anak pada Taman Kanak-kanak adanya keterampilan afektif anak itu sendiri, yaitu keterampilan utama untuk merespon orang lain dan dapat membedakan mana perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang salah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 tahun 2009 tentang standar pendidikan anak usia dini, anak yang berada pada rentang usia 5-<6 tahun ditingkatan pencapaian perkembangannya anak sudah mampu dalam membedakan perbuatan baik dan buruk, namun pada kenyatan terjadi di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin, pada kelompok B, usia 5-<6 tahun masih banyak anak yang belum mampu menggembangkan aspek nilai-nilai agama dan moral dalam membedakan perbuatan baik dan buruk. Anak yang tidak dapat membedakan perbuatan baik dan buruk akan berdampak pada pembentukkan kepribadiannya selanjutnya.

Untuk mengatasi hal tersebut peneliti mencoba menelaah pola belajar anak dengan

media yang lebih menarik dan pemilihan model pembelajaran yang tepat sehingga proses kegiatan pembelajaran berjalan lebih efektif dan efesien, serta menyenangkan, dan untuk mencapai hasil yang optimal. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat membekakan perbuatan baik dan buruk adalah dengan menggunakan model examples non examples dengan variasi media audio visual.

METODOLOGI

Metodologi hendaknya memberikan gambaran tentang pencapain tujuan penelitian (Dalle, 2010). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, untuk melihat bagaimana aktifitas guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran, Teknik analisis data dilakukan dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi aktivitas guru dan anak, serta data kuantitatif di peroleh dari lembar hasil belajar yang di kumpulkan kemudian disajikan dalam bentuk tabel persentasi. Data kualitatif diperoleh dari lembar observasi tersebut diolah dengan cara: data tentang aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran melalui model Examples Non Examples dengan Variasi Media Audio Visual di peroleh dengan memberikan penilaian berupa skor pada setiap aspek yang diobservasi.

Penelitian ini dilaksanakan dua siklus dengan empat kali pertemuan setiap akhir pertemuan dilakukan refliksi untuk perbaikan selanjutnya, pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas dilakukan dengan empat Tahap dimulai dari; (a) Menyusun Rencana Tindakan, (b) Pelaksanaan Tindakan, (c) Pengamatan, dan (d) Refleksi.

Penelitian ini dilaksanakan Pada Anak Kelompok B di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin Tahun Pelajaran 2016/2017, Jumlah anak yang menjadi subjek penelitian adalah 13 orang terdiri dari 6 orang anak laki-laki dan 7 orang anak perempuan. Penelitian dilakukan pada bidang pengembangan nilai-nilai moral dan agama dengan menggunakan model pembelajaran Examples Non Examples dengan Variasi Media Audio Visual.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian tindakan kelaas ini menggunakan model pembelajaran examples non examples dengan variasi media audio visual pada pencapaian aspek nilai-nilai agama dan moral anak dalam membedakan baik dan buruk pada anak kelompok B di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin.

(3)

ISSN. 2355-8911 www.rumahjurnal.net 9 Aktivitas Guru

Aktivitas guru pada setiap pertemuan dalam pembelajaran terjadi perbaikan, hal ini dapat dilihat dari hasil lembar observasi guru yang dilakukan observer. pada siklus I pertemuan 1 aktivitas guru mendapatkan skor 18 dengan kategori cukup baik, pada pertemuan 2 meningkat dengan skor 24 kategori baik kemudian pada siklus II pertemuan 1 meningkat lagi menjadi skor 31 dengan ketegori sangat baik, terjadi perbaikan dan peningkatan aktifitas guru ini karena dilakukan refliksi kemudian ditindaklanjuti pada pertemuan selanjutnya untuk dilakukan perbaikan pada pelaksanaan langkah-langkah model pembelajaran.

Menurut Sanjaya (2009) dalam buku Suriansyah & Aslamiah (2011) strategi pengajaran merupakan rangkaian kegiatan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ia juga menyatakan bahwa model pembelajran dapat meningkatkan prestasi belajar anak, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.

Aisyah et al. (2014) menjelaskan bahwa suatu pembelajaran akan disebut dengan berjalan dan berhasil secara baik apabila pembelajaran itu mampu mengubah diri anak didik dalam arti luas serta mampu menumbuh kembangkan kesadaran anak didik selama proses pembelajran dapat dirasakan manfaatnya secra langsung bagi perkembangan dirinya.

Keberhasilan guru dalam pengajaran akan menunjang pada keberhasilan siswa dalam belajar. Sebagai mana pendapat abin Syamsuddin (2003) bahwa efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah tergantung pada peran guru. Hal ini di dukung juga oleh pendapat Usman dan Setiawati (2001) bahwa kondisi pembelajaran yang efektif yaitu kondisi dimana proses pembelajaran melibatkan siswa secara aktif. Selain itu Anitah (2008) juga berpendapat bahwa belajar merupakan aktivitas, yaitu aktivitas mental maupun sosial.

Menurut Badawi dalam (Suryosubroto, 2009) salah satu keberhasilan aktivitas guru dalam proses pembelajaran adalah guru harus mampu menampilkan yang terbaik pada saat mengajar. misalnya guru sangat menguasai materi pembelajaran menggunakan media dan metode pembelajaran.

Perbaikan tugas guru dalam mengajar tidak lepas dari peranan guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang efektif bagi anak. kegiatan pembelajaran di kelas ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas penggunaan media dan sumber belajar dan penggunaan metode dan strategi pembelajaran. semua kegiatan tersebut menuntut kemampuan guru dalam pelaksanaannya (Risnawati et al., 2012)

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan model examples non examples dengan variasi media audio visual dapat meningkatkan aktivitas guru dalam mengembangkan aspek nilai-nilai agama dan moral dalam membedakan perbuatan baik dan buruk. Hal ini didukung oleh hasil penelitian sebelumnya, yaitu:

Hasil Penelitian Hairin (2014) dengan judul “Upaya Mengembangkan Aspek Nilai-nilai Agama dan Moral dalam Mengenal Berprilaku Baik dan Sopan Menggunakan Model Examples Non Examples”. Memperoleh skor 30 (Sangat Baik), kemudian diperkuat hasil penelitian Hazizah (2014) dengan judul Upaya “Mengembangkan Aspek NAM dalam Membedakan Prilaku Baik dan Buruk Menggunakan Model Examples Non Examples dengan Media Boneka Jari”. Mencapai hasil optimal dimana pada akhir siklus I aktifitas guru diperoleh nilai rata-rata 75% dan meningkat pada akhir siklus II dengan mencapai nilai rata-rata 93%.

Aktivitas Anak

Berdasarkan data dari beberapa kali pertemuan menunjukkan terjadi peningkatan aktivitas anak dalam pembelajaran pada pengembangan aspek nilai dan moral. Pada siklus I pertemuan 1 aktifitas anak mencapai 46% dengan kategori cukup aktif, pada pertemuan 2 mencapai 69% kategori aktif dan terakhir pada siklus 2 pertemuan mencapai 92% kategori sangat aktif. Berarti peningkatan aktifitas anak telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan minimal mencapai 82% dengan kategori sangat aktif.

Terjadi peningkatan aktifitas ini anak lebih aktif dalam diskusi, kerja kelompok dan lebih berani dalam mengeluarkan pendapat serta mampu memecahkan permasalah sendiri. Menurut Kurnia (2007) Peserta didik adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta

(4)

10 www.rumahjurnal.net ISSN. 2355-8911 didik dapat berubah karena interaksi dan saling

pengaruh antar sesama peserta didik maupun dengan orang dewasa lainnya.

Pada hakikatnya anak adalah makhluk individu yang membangun sendiri pengetahuannya. Secara teoritis berdasarkan aspek perkembangannya, seorang anak dapat belajar dengan sebaik-baiknya apabila kebutuhan fisiknya dipenuhi dan mereka merasa aman dan nyaman secara psikologis, Selain itu yang perlu diperhatikan anak dapat membangun pengetahuannya sendiri, anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak-anak lainnya, anak-anak belajar melalui bermain, minat anak dan rasa keingintahuan nya memotivainya untuk belajar sambil bermain serta variasi individual dalam perkembangan dan belajar ( Sujiono et al., 2012).

Pendapat di atas berdasarkan teori, anak aktif dalam melakukan berbagai kegiatan, baik fisik maupun mental, dan guru yang mendukung keterlibatan anak dalam belajar melalui permainan. Kata-kata dan penjelasan memegang peranan penting untuk meningkatkan keterlibatan anak (Suriansyah & Aslamiah, 2011).

Meningkatkan aktivitas anak saat mengikuti pembelajaran yang tidak terlepas dari karakteristik yang dimiliki anak usia dini. Mustaffa (Solehudin, 2000) mengungkapkan bahwa karakteristik anak usia dini diantaranya adalah aktif memperhatikan segala sesuatu tetapi dengan rentang atensi yang pendek. Dengan karakteristik tersebut, anak-anak selalu aktif selama mengikuti proses pembelajaran.

Hal diatas sejalan dengan pendapat Suci (2003) bahwa model pembelajaran kooperatif tipe example Non example adalah “tipe pembelajaran yang mengaktifkan siswa dengan cara guru menempelkan contoh gambar-gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan gambar lain yang relevan dengan tujuan pembelajaran, kemudian anak disuruh untuk menganalisisnya dan mendiskusikan hasil analisisnya”

Sedangkan karakteristik anak lainnya menurut Masitoh et al. (2014) adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar, anak usia dini banyak memperhatikan, dan mempertanyakan berbagai hal yang sempat dilihat dan didengarnya, terutama terhadap hal-hal yang baru. Begitu juga Djamarah (2011) menyatakan bahwa minat merupakan kecendrungan yang menetapkan untuk memperhatikan dan mengenang berbagai aktivitas. seseorang yang

berminat terhadap suatu aktivitas yang memperhatikan aktivitas ini dan secara konsisten dengan rasa senang. Dalam penelitian ini menggunakan media audio visual yang mana menurut Arsad (2009) media audio visual merupakan media yang baik dan dianggap lebih menarik karena mengandung kedua unsur jenis media yang dapat didengar dan dilihat anak .

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan model examples non examples dengan variasi media audio visual dapat meningkatkan aktivitas anak dalam mengembangkan aspek nilai-nilai agama dan moral dalam membedakan perbuatan baik dan buruk. Hal ini didukung oleh penelitian-penelitian yang sebelumnya Penelitian Hairin (2015) dengan judul “Upaya Mengembangkan Aspek Nilai-nilai Agama dan Moral dalam Mengenal Berprilaku Baik dan Sopan Menggunakan Model Examples Non Examples”. Meningkat aktivitas anak sebanyak 84,37% dengan kategori sangat aktif.

Begitu juga Hazizah (2014) dengan judul “Mengembangkan Aspek NAM dalam Membedakan Prilaku Baik dan Buruk Menggunakan Model Examples Non Examples dengan Media Boneka Jari”. Mencapai hasil optimal dimana pada akhir siklus I aktifitas anak diperoleh nilai rata-rata 75% dan meningkat pada akhir siklus II dengan mencapai nilai rata-rata 97%.

Hasil penelitian ini lagi diperkuat Risdana (2015) dengan judul “Mengembangkan Aspek Nilai Agama dan Moral Anak Melalui Terbiasa Berprilaku Sopan Santun dengan Model Examples Non Examples dan Metode Bercerita”dan metode bercerita. Mencapai hasil optimal dimana pada siklus II pertemuan I dengan kriteria “sangat aktif”

Hasil Capaian Perkembangan Nilai-nilai Agama dan Moral Anak

Berdasarkan hasil capaian perkembangan anak pada aspek nilai-nilai agama dan moral dapat dilihat sebagai berikut, pada siklus 1 pertemuan 1 memperoleh (Berkembang Sesuai Harapan) dengan capaian 46%, pada pertemuan 2 terjadi peningkatan dengan memperoleh (Berkembang Sesuai Harapan) 38% dan (Berkembang Sangat Baik) 31% (69%), pada siklus 2 pertemuan 1 terjadi peningkatan

(Berkembang Sesuai Harapan) 8% dan

(Berkembang Sangat Baik) 84% (92%) terjadi peningkatan capaian perkembangan pada aspek

(5)

ISSN. 2355-8911 www.rumahjurnal.net 11 nilai-nilai agama dan moral. Keberhasilan ini

telah mencapai indikator yang ditetapkan sebesar 85% pada kategori (Berkembang Sesuai Harapan) dan (Berkembang Sangat Baik).

Terjadinya peningkatan dalam capaian perkembangan tidak terlepas dari peran guru melakukan inovasi dalam pembelajaran membuat anak selalu aktif dan menyenangkan. Menurut Santoso (2010), Hasil dari belajar tidak hanya dipengaruhi faktor pendidik saja, faktor peserta didik juga mempengaruhi hasil dari belajar. Proses perubahan yang terus menerus terjadi dalam diri individu yang tidak ditentukan oleh keterunan, tetapi lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor dari luar.

Guru perlu melakukan sesuatu untuk kelasnya, mengelola kelas dengan baik, menggunakan pembelajaran dengan memberikan contoh-contoh dan tidak contoh, dan memperbaiki hasil belajar agar perkembangan pada aspek nilai-nilai agama dan moral dapat berkembang dengan baik dapat membedakan perbuatan mana yang baik dan buruk.

Menggunakan model pembelajaran Contoh dan tidak contoh (examples non examples) dengan variasi media audio visual dapat meningkatkan hasil perkembangan nilai-nilai agama dan moral anak dalam membedakan perbuatan baik dan buruk. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian-penelitian yang sebelumnya, yaitu pada Penelitian Hairin (2014) dengan judul “Upaya Mengembangkan Aspek Nilai-nilai Agama dan Moral dalam Mengenal Berprilaku Baik dan Sopan Menggunakan Model Examples Non Examples”. mempunyai keberhasilan sebanyak 84,37%, begitu juga hasil penelitian Hazizah (2014) dengan judul “Mengembangkan Aspek NAM dalam Membedakan Prilaku Baik dan Buruk Menggunakan Model Examples Non Examples dengan Media Boneka Jari”. Mencapai hasil optimal dimana pada akhir siklus I aktifitas anak diperoleh nilai rata-rata 75% dan meningkat pada akhir siklus II dengan mencapai nilai rata-rata 97%.

Kemudian diperkuat lagi hasil penelitian Risdana (2015) dengan judul “Mengembangkan Aspek Nilai Agama dan Moral Anak Melalui Terbiasa Berprilaku Sopan Santun dengan Model Examples Non Examples dan Metode Bercerita”.. Mencapai hasil optimal dimana pada siklus II pertemuaan memperoleh bintang ( ) dengan kategori berkembang sesuai

harapan (BSH) dan bintang ( ) berkembang sangat baik (BSB).

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada siklus I dan siklus II menunjukan aktifitas guru, aktifitas anak dan hasil pencapai perkembangan pada aspek nilai-nilai agama dan moral serta membedakan baik dan buruk telah mampu mencapai indikator yang telah ditetapkan. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran examples non examples dengan variasi media audio visual pada pencapaian aspek nilai-nilai agama dan moral anak dalam membedakan baik dan buruk pada anak kelompok B di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin, dapat dikatakan berhasil penelitian ini karena mampu mengembangkan Aspek nilai-nilai agama dan moral serta mampu membedakan baik dan buruk.

Penggunaan model pembelajaran examples non examples dengan variasi media audio visual pada pencapaian aspek nilai-nilai agama dan moral anak dalam membedakan baik dan buruk, disarankan dapat menjadi alternatif pemelihan untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif. Sehingga tercipta pembelajaran yang aktif dan menyenangkan tentunya dapat meningkat kualitas hasil pembelajaran

DAFTAR RUJUKAN

Aisyah, S., Tatminingsih, S., Amimi, M., Chandrawati, T., & Setiawan, D. (2014).

Pembelajaran terpadu. Tanggerang:

Universitas Terbuka

Dalle, J. (2010). Metodologi umum penyelidikan reka bentuk bertokok penilaian dalaman

dan luaran: Kajian kes sistem

pendaftaran siswa Indonesia. Thesis PhD

Universiti Utara Malaysia.

Hamdanah. (2014). Upaya mengembangkan kemampuan keterampilan bercerita anak usia dini dalam menceritakan kembali cerita dongeng yang telah didengar melalui metode story telling yang dibantu dengan media audio visual di kelompok a

pada tk islam madinaturramlah

banjarmasin. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin: PG PAUD ULM

Hazizah, (2014). Upaya Mengembangkan Aspek NAM dalam Membedakan Prilaku baik dan Buruk Mengguakan Model Examples

(6)

12 www.rumahjurnal.net ISSN. 2355-8911 Pada Kelompok B di TK Kecamatan Batu

Ampar. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin: PG-PAUD ULM

Hidayat, O. S. (2003). Metode pengembangan

moral dan nilai-nilai agama. Jakarta:

Universitas Terbuka

Hidayat, O. S. (2006). Metode pengembangan

moral dan nilai-nilai agama. Jakarta:

Universitas Terbuka

Hidayat, S. (2002). Metode penelitian. Bandung: Mandar Maju

Masitoh., Djoehaeri, H., & Setiasih, O. (2014).

Strategi pembelajaran tk. Jakarta:

Universitas Terbuka

Mengawangi, R. (2009). Pendidikan karakter solusi tepat untuk membangun bangsa. Jakarta: Indonesia Hertuge Funditation Risdana. (2015). Upaya mengembangkan aspek

nilai-nilai agama dan moral anak melalui terbiasa berprilaku sopan santun dengan model examples non examples dan metode bercerita di tk azkia insan banjarmasin. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin: PG-PAUD ULM

Risnawati S, Rini, & Ghufron. (2012). Gaya

belajar: Kajian teoritik. Yogjakarta:

Pustaka Pelajar

Sanjaya, W. (2009). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Prenada

Soetjingsih. (2012). Tumbuh kembang anak. Jakarta: EGC

Suci, R. (2013). Model pembelajaran examples

non examples.

riensuci99.blogspot.co- id/2012/04/model-pembelajaran-examples-non-examples.html2m=1. Diakses pada tanggal 13 Februari 2016 Sujiono, Nurani, Y., & Sujiono, B. (2010).

Bermain kreatif berbasis kecerdasan jamak. Jakarta: Indeks

Suriansyah, A., & Aslamiah. (2011). Strategi

pembelajaran anak usia dini.

Banjarmasin: Comdes

Suryani, E., & Widyasih, H. (2008). Psikolgi ibu

dan anak. Yogyakarta: Fitramaya

Suryasabroto. (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta Usman, & Setiawati. (2001). Upaya optimalisasi

kegiatan belajar mengajar. Bandung:

Referensi

Dokumen terkait

menyelenggarakan pemilihan umum mempunyai tugas dan wewenang. Adapun tugas dan wewenang Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten di atur dalam Undang-undang. Terkait tugas dan

Analisis data menggunakan analisis varian klasifikasi tunggal (ANAVA) dan dilanjut uji Tukey untuk menganilisis uji inderawi, serta rerata untuk menganalisis uji

Observasi SPBK untuk tanggal24 April2017menunjukan sebagian besar Provinsi Bengkulu,Jawa Timur, Bali, NTT dan sebagian kecil Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera

Dalam perancangan “Robot IP Network yang dikendalikan melalui website” , telah mengahasilkan prototipe robot yang diberi nama “ROBIN” , Robot dapat di kontrol dengan baik

Berbeda dengan penelitian oleh Saleh, Rachmad dan Susilowati (2004), Hilmi dan Ali (2008), Renata (2011) dan Awalludin (2011) menyatakan bahwa ukuran perusahaan

Program pemberian tablet besi (Fe) pada wanita hamil yang menderita anemia kurang menunjukan hasil yang nyata disebabkan oleh kepatuhan minum tablet besi (Fe)

Yan’s Fruits and Vegetable adalah harga jual yang stabil, posisi tawar dapat meningkat dibandingkan dengan memasarkan sendiri produknya ke pasar tradisional, dan perusahaan

Inisialisasi target yang dimaksudkan disini merupakan penginisialisasian target klasifikasi yang akan dilakukan. Karena tujuan akhir dalam penelitian ini adalah