• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jln. Sultan Hairun No. 1 Ambon Telp. (0911) , , , ; Fax

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jln. Sultan Hairun No. 1 Ambon Telp. (0911) , , , ; Fax"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

PENGADILAN NEGERI/TIPIKOR/PHI/

PERIKANAN AMBON KELAS I A

TAHUN 2018

Jln. Sultan Hairun No. 1 Ambon

(2)

KATA PENGANTAR

Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Pengadilan Negeri/PHI/ Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A Tahun 2018 dimaksudkan sebagai salah satu media untuk memberikan informasi mengenai pencapaian kinerja Pengadilan Negeri/PHI/ Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A Tahun 2018. LKjIP Tahun 2018 juga merupakan alat kendali dan alat pengukuran kinerja secara kuantitatif menuju terwujudnya akuntabilitas keuangan negara yang berkualitas.

Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang didokumentasikan dalam Dokumen Penetapan Kinerja menjadi dasar dalam menganalisa pencapaian program atas kegiatan Pengadilan Negeri/PHI/ Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A. Capaian kinerja tahun 2018 yang tertuang dalam Laporan Kinerja merupakan cerminan kinerja dari seluruh komponen pegawai yang ada di lingkungan Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A.

Laporan Kinerja ini memberikan gambaran tentang keberhasilan maupun kegagalan mencapai kinerja yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A Tahun 2018. Penetapan Kinerja tersebut merupakan penjabaran lebih lanjut dari Rencana Strategis ( Renstra) Pengadilan Negeri/PHI/ Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A.

Kami harapkan laporan kinerja ini menjadi media informasi bagi pihak- pihak yang berkepentingan dengan kinerja Pengadilan Negeri/PHI/ Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A sehingga dapat memberikan umpan balik bagi perbaikan kinerja di masa yang akan datang.

LKjIP ini disusun untuk memenuhi surat Sekretaris Mahkamah Agung RI Nomor : 1385/SEK/OT.01.2/11/2018, perihal Penyampaian LKjIP tahun 2018 dan Dokumen Perjanjian Kinerja Tahun 2019, maka Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A telah menyusun Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) tahun 2018 dengan berpedoman pada Peraturan Presiden Nomor : 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah serta Permenpan Nomor : 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

(3)

Demikian LKjIP tahun 2018 Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A disusun sebagai bahan penyusunan LKjIP Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Ambon, Pebruari 2019

KETUA PENGADILAN NEGERI/PHI/TIPIKOR/ PERIKANAN AMBON KELAS I A

(4)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Salah satu azas dalam penerapan tata kepemerintahan yang baik adalah akuntabilitas. Akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban dari amanah atau mandat yang melekat pada suatu lembaga. Dengan landasan pemikiran tersebut, Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A ini disusun.

Laporan ini menyajikan capaian kinerja dari Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A selama tahun 2018 yang merupakan pelaksanaan amanah yang diemban oleh organisasi. Walaupun Inpres No. 7 tahun 1999 mensyaratkan penyusunan suatu laporan akuntabilitas, namun laporan ini juga merupakan kebutuhan kami dalam melakukan analisis dan evaluasi kinerja dalam rangka peningkatan kinerja organisasi secara menyeluruh.

LKjIP Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A tahun 2017 ini menyajikan berbagai keberhasilan maupun kegagalan dalam kegiatan kinerja kami dalam satu tahun. Keberhasilan tersebut tentunya bukan hanya menggambarkan keberhasilan kami sebagai satuan kerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A namun juga menggambarkan keberhasilan seluruh lembaga kepemerintahan, dukungan dunia usaha serta partisipasi aktif masyarakat secara umum. Mewujudkan kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A yang profesional, efektif, efisien dan bersih yang merupakan tujuan utama Instansi Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A.

Namun demikian selain keberhasilan yang telah kami raih, Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A juga mencatat adanya beberapa ketidakberhasilan dalam mewujudkan Peradilan yang profesional, efektif, efisien dan bersih. Beberapa keluhan dari masyarakat pencari keadilan juga menunjukkan adanya kekurangan dan kesempurnaan kami dalam menjalankan tugas. Hal ini tetap akan menjadi catatan bagi seluruh jajaran karyawan/karyawati Pengadilan Negeri Ambon untuk memperbaiki kinerjanya di masa mendatang sehingga kinerja yang dihasilkan kelak dapat memberi manfaat kepada masyarakat pencari keadilan maupun berbagai pihak yang berkepentingan dengan Instansi Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A.

(5)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI RINGKASAN EKSEKUTIF BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

B. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi C. Sistematika Penyajian

BAB II PERENCANAAN KINERJA

A. Perjanjian Kinerja Tahun 2017 BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja B. Realisasi Anggaran BAB IV PENUTUP

Kesimpulan

Lampiran

1. Perjajian Kinerja Tahun 2019 2. Rencana Kinerja Tahun 2018 3. Rencana Kinerja Tahun 2019 4. Tabel Rekapan Data Perkara

5. Fotocopy Sertipikat Akreditasi Penjaminan Mutu

6. SK Ketua Pengadilan Negeri Ambon tentang Pembentukan Tim Penyusun LKjIP Pengadilan Negeri Ambon Tahun 2018.

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) pada dasarnya merupakan sistem manajemen berorientasi pada hasil yang merupakan salah satu instrumen untuk menjadikan instansi pemerintah akuntabel, dapat beroperasi secara efisien, efektif dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungannya; mewujudkan transparansi pada instansi pemerintah; mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan nasional; dan memelihara kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Hal ini dimungkinkan karena dengan menerapkan SAKIP setiap instansi pemerintah harus membuat Rencana Strategis (Strategic Plan), Rencana Kinerja (Performance Plan), Penetapan Kinerja (Performance Agreement) serta Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (Performance Report of Government Agencies) yang secara sistematis akan mengarahkan instansi pemerintah dalam pencapaian tujuannya, pelaksanaan tupoksinya sampai dengan pertanggungjawaban atas hasil kinerjanya.

Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A Tahun 2018 dimaksudkan sebagai perwujudan kewajiban Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A dalam mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi dalam mencapai tujuan dan program yang telah ditetapkan dalam Rencana Kinerja Tahunan, Penetapan Kinerja Tahun 2018 dan juga Rencana Strategis tahun 2015-2019. Laporan ini juga digunakan sebagai umpan balik untuk memicu perbaikan kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A di masa yang akan datang.

Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A yang merupakan salah satu Pengadilan Tingkat Pertama di bawah Pengadilan Tinggi Ambon dalam naungan Direktorat Peradilan Umum di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang

(7)

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, diwajibkan untuk mempertanggung jawabkan tugas dan fungsi, serta perannya dalam pengelolaan sumber daya dan kebijakan yang dipercayakan kepadanya berdasarkan perencanaan strategis yang ditetapkan.

Permasalahan utama (strategic issue) yang sementara dihadapi oleh Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A adalah persoalan sumber daya manusia, dimana jumlah SDM yang ada tidak memadai dibandingkan dengan beban kerja yang ada. Selain itu, kualitas SDM yang ada pun belum maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan. Kesiapan SDM untuk memasuki era teknologi informasi belum sepenuhnya baik. Hal ini dikarenakan pola pikir (mindset) yang masih terfokus pada pola-pola lama. Persoalan lain yang juga menjadi permasalahan utama adalah ketersediaan sarana prasarana yang belum memadai dalam menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pokok. Sarana prasarana dimaksud dalam kaitannya dengan upaya menciptakan kantor modern yang berbasis teknologi informasi.

Kedua permasalahan tersebut di atas, merupakan masalah internal yang seharusnya dapat segera diselesaikan, namun permasalahan utama (strategic issue) lainnya juga yang dihadapi adalah permasalahan dari luar (eksternal) yaitu kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Hal ini terlihat pada begitu banyaknya ketidakpuasan masyarakat yang disampaikan melalui media sosial.

B. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi

Fokus pelaksanaan tugas pokok dan fungsi badan peradilan adalah melaksanakan fungsi kekuasaan kehakiman yang efektif, yaitu memutuskan suatu sengketa/menyelesaikan suatu masalah hukum guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dengan didasari keagungan, keluhuran, dan kemuliaan institusi.

Amandemen Ketiga Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan sifat dan karakter kekuasaan kehakiman dengan menyatakan 2

(8)

“Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”.1

Di dalam Undang-undang No. 48 Tahun 2009 juga dikemukakan “Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia”.2

1. Kedudukan

Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A adalah suatu Pengadilan Tingkat Pertama di bawah Pengadilan Tinggi Ambon dalam Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum dilingkungan Mahkamah Agung RI yang merupakan salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya3 dengan wilayah hukum yang cukup luas, mencakup

Kota Ambon, sebagian Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Buru Selatan (hasil perubahan setelah pembentukan Pengadilan Negeri Namlea). Namun selain itu Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, PHI dan Pengadilan Perikanan yang berada pada Pengadilan Negeri/ PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A, justru mempunyai wilayah hukum yang mencakup keseluruhan Propinsi Maluku

2. Tugas Pokok

Sesuai dengan Pasal 50 BAB Kekuasaan Pengadilan, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A mempunyai tugas dan wewenang memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di tingkat pertama.

3. Fungsi

Dalam melaksanakan tugas tersebut, Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A memiliki fungsi :

1 Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

(9)

a. Melaksanakan penerapan/penegakan hukum yang mandiri dan berkualitas pada tingkat pertama di wilayah hukum Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A;

b. Memberikan pelayanan dan bantuan tentang hukum bagi masyarakat atau pencari keadilan di wilayah Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A;

c. Memberikan keterangan, pertimbangan dan nasehat tentang hukum kepada instansi pemerintah di wilayah hukum Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A;

d. Memberikan data dan informasi administrasi perkara, personil, finansial dan sarana prasarana baik kepada instutusi internal maupun eksternal dalam hal ini baik kepada masyarakat umum/perseorangan, institusi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dalam dunia pendidikan maupun pihak asing. Dalam hal ini setelah data dan informasi tersebut diseleksi mengacu pada Undang Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

C. Sistimatika Penyajian

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Pengadilan Negeri/PHI/ Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayangunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014.

Sistematika penyajian LKjIP Tahun 2018 sebagai berikut : BAB I Pendahuluan

Menyajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis Pengadilan Negeri /PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A serta permasalahan utama (strategic issue) yang sedang dihadapi Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A.

BAB II Perencanaan Kinerja

Menguraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun 2018. BAB III Akuntabilitas Kinerja

A. Capaian Kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A

(10)

Menyajikan pencapaian kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis yang ditetapkan sesuai dengan hasil pengukuran kinerja. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisa capaian kinerja sebagai berikut :

1. Membandingkan antara target dengan realisasi kinerja tahun 2018; 2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun

2018 dengan tahun 2017 dan tahun 2016;

3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun 2017 dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis;

4. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/ penurunan kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukan;

5. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya;

6. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian pernyataan kinerja.

B. Realisasi Anggaran

Diuraikan realisasi anggaran yang telah digunakan untuk mewujudkan kinerja sesuai dengan dokumen perjanjian kinerja

BAB IV Penutup

Menguraikan kesimpulan umum atas capaian kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan untuk meningkatkan kinerja.

(11)

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. Perjanjian Kinerja Tahun 2018

Perjanjian kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelolanya. Tujuan perjanjian kinerja antara lain adalah untuk meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kinerja aparatur; sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dengan pemberi amanah; sebagai dasar penilaian, penghargaan dan sanksi; sebagai dasar evaluasi kinerja aparatur; sebagai dasar untuk melakukan monitoring, evaluasi dan supervisi; serta sebagai dasar penetapan sasaran kinerja pegawai.

Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A menyusun dokumen Perjanjian Kinerja yang merupakan suatu dokumen pernyataan kinerja/perjanjian kinerja antara atasan dengan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan sumber daya yang dimiliki oleh instansi. Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A telah membuat Perjanjian Kinerja tahun 2018 secara berjenjang sesuai dengan kedudukan, tugas, dan fungsi yang ada. PK ini telah mengacu pada Renstra Pengadilan Negeri/PHI/ Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A 2015 - 2019 yang telah direviuw. Oleh karena itu Indikator-indikator kinerja dan target tahunan yang digunakan dalam penetapan kinerja ini adalah indikator kinerja utama Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A yang telah ditetapkan dan telah diintegrasikan dalam Reviuw Renstra Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A 2015 - 2019 dan Reviuw Indikator Kinerja Utama Tahun 2018.

Perjanjian Kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A Tahun 2018 adalah sebagai berikut :

(12)

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Terwujudnya proses peradilan yang

pasti, transparan dan akuntabel. a. Persentase sisa perkara yang diselesaikan. 100% b. Persentase perkara yang diselesaikan

tepat waktu 96%

c. Persentase Penurunan Sisa Perkara 90% d. Persentase Perkara yang Tidak

Mengajukan Upaya Hukum :  Banding

 Kasasi  PK

80%

e. Persentase Perkara Pidana Anak yang

Diselesaikan dengan Diversi 30%

f. Index responden pencari keadilan

yang puas terhadap layanan peradilan 90% Peningkatan Efektivitas Pengelolaan

Penyelesaian Perkara a. Persentase isi putusan yang diterima oleh para pihak tepat waktu 90% b. Persentase Perkara yang Diselesaikan

melalui Mediasi 15%

c. Persentase berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK

secara lengkap dan tepat waktu 90%

d. Persentase putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus

100%

Meningkatnya Akses Peradilan bagi

Masyarakat Miskin dan Terpinggirkan a. Persentase Perkara Prodeo yang diselesaikan 80% b. Persentase Perkara yang Diselesaikan

di Luar Gedung Pengadilan 80%

c. Persentase Pencari Keadilan Golongan Tertentu yang Mendapat Layanan

Bantuan Hukum (Posbakum) 90%

Meningkatnya Kepatuhan Terhadap

(13)

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja

Pengukuran tingkat capaian kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A dilakukan dengan melakukan perbandingan antara target pencapaian indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam perjanjian kinerja Pengadilan Negeri/ PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A dengan realisasinya, atau dengan kata lain membandingkan antara rencana kinerja (performance plan) yang diinginkan dengan realisasi kinerja (performance result) yang dicapai organisasi. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap penyebab terjadinya perbedaan kinerja (performance gap) yang terjadi, serta tindakan perbaikan yang diperlukan dimasa mendatang. Metode ini bermanfaat untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan misi organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

Untuk menentukan capaian kinerja diperoleh dengan rumus : Capaian = Realisasi x 100 %

Target

Realisasi dan tingkat capaian kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A tahun 2017 berdasarkan hasil pengukurannya dapat dilihat dalam tabel berikut :

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target (%) Realisasi (%) Capaian Kinerja

(%) Terwujudnya proses

peradilan yang pasti,

transparan dan

akuntabel.

a. Persentase sisa perkara yang

diselesaikan. 100 100 100

b. Persentase perkara yang

diselesaikan tepat waktu 96 95,75 99,74

c. Persentase Penurunan Sisa

Perkara 90 42,47 47,19

d. Persentase Perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum :  Banding  Kasasi  PK 80 80 80 68,27 71,29 78,19 85,34 89,12 97,73

(14)

e. Persentase Perkara Pidana Anak

yang Diselesaikan dengan Diversi 30 33,33 111,11

f. Index responden pencari keadilan yang puas terhadap layanan

peradilan 90 95,45 106,05

Peningkatan Efektivitas Pengelolaan

Penyelesaian Perkara

a. Persentase isi putusan yang diterima oleh para pihak tepat

waktu 90 96,32 107,02

b. Persentase Perkara yang

Diselesaikan melalui Mediasi 15 0,76 5,07

c. Persentase berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK

secara lengkap dan tepat waktu 90 61,29 68,10

d. Persentase putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus 100 0 0 Meningkatnya Akses Peradilan bagi Masyarakat Miskin dan Terpinggirkan

a. Persentase Perkara Prodeo yang

diselesaikan 80 0 0

b. Persentase Perkara yang

Diselesaikan di Luar Gedung

Pengadilan 80 47,83 59,78

c.

Persentase Pencari Keadilan

Golongan Tertentu yang

Mendapat Layanan Bantuan Hukum (Posbakum)

90 100 111,11

Meningkatnya Kepatuhan Terhadap Putusan Pengadilan

Persentase Putusan Perkara Perdata

yang Ditindaklanjuti (dieksekusi) 80 27,03 33,78

Untuk indikator persentase sisa perkara yang diselesaikan diperoleh realisasi sebesar 100% dari target 100% yang ditentukan. Hal ini dikarenakan jumlah sisa perkara yang diselesaikan sebanyak 259 perkara sama dengan jumlah sisa perkara yang harus diselesaikan sebanyak 259 perkara. Dengan demikian capaiannya mencapai 100%.

Untuk indikator persentase perkara yang diselesaikan tepat waktu diperoleh realisasi sebesar 95,75% dari target sebesar 96%. Hal ini disebabkan karena jumlah perkara yang diselesaikan tahun berjalan sebanyak 1.059 perkara, lebih sedikit dari jumlah perkara yang ada sebanyak 1.106 perkara. Sehingga capaiannya sebesar 99,74%

Untuk Indikator persentase penurunan sisa perkara realisasinya sebesar 42,47% dari target yang ditentukan sebesar 90%. Hal ini disebabkan karena jumlah sisa perkara

(15)

yang ada sebanyak 110 perkara lebih sedikit dari jumlah sisa perkara tahun sebelumnya sebanyak 259 perkara. Capaiannya sebesar 47,19%

Untuk indikator persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding, diperoleh realisasi sebesar 68,27% dari target yang ditentukan 80%. Hal ini disebabkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding sebanyak 723 perkara dibandingkan dengan jumlah putusan perkara sebanyak 1.059 perkara. Sehingga capaiannya sebesar 85,34%.

Untuk indikator persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum kasasi, diperoleh realisasi sebesar 71,29% dari target yang ditentukan 80%. Hal ini disebabkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum kasasi sebanyak 755 perkara dibandingkan dengan jumlah putusan perkara sebanyak 1.059 perkara. Sehingga capaiannya sebesar 89,12%.

Untuk indikator persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum PK, diperoleh realisasi sebesar 78,19% dari target yang ditentukan 80%. Hal ini disebabkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum kasasi sebanyak 828 perkara dibandingkan dengan jumlah putusan perkara sebanyak 1.059 perkara. Sehingga capaiannya sebesar 97,73%.

Indikator persentase perkara pidana anak yang diselesaikan dengan diversi ditergetkan sebesar 30%, sedangkan realisasinya sebesar 33,33%. Hal disebabkan karena dari 15 perkara pidana anak yang memenuhi syarat untuk diversi, ada 5 perkara yang dapat diselesaikan dengan diversi. Sehingga capaiannya sebesar 111,11%

Indikator index responden pencari keadilan yang puas terhadap layanan peradilan mencapai 95,45% dari target sebesar 90%. Sehingga capaiannya sebesar 106,05%. Hal ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada akhir bulan Oktober sampai awal bulan Nopember tahun 2018, terhadap 100 orang responden yang diyakini dapat mewakili keseluruhan pengunjung dan pengguna layanan pengadilan.

Indikator persentase isi putusan yang diterima oleh para pihak tepat waktu ditargetkan sebesar 90%, realisasinya sebesar 96,32%. Ini terjadi karena dari 1.059 perkara yang diputus dalam tahun 2018, sebanyak 1.020 putusan perkara yang diterima tepat waktu oleh para pihak. Sehingga capaiannya sebesar 107,02%

(16)

Indikator persentase perkara yang diselesaikan melalui mediasi dapat terealisasi sebesar 0,76% dari target sebesar 15%. Hal ini disebabkan karena dari 263 perkara yang dilakukan mediasi, hanya 2 perkara yang dapat diselesaikan melalui mediasi (mediasi berhasil). Capaiannya sebesar 5,07%

Untuk indikator persentase berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK secara lengkap dan tepat waktu ditargetkan sebesar 90%, sedangkan realisasinya mencapai 61,29%. Hal ini diakibatkan karena jumlah berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK secara lengkap sebanyak 133 berkas perkara dibandingkan dengan berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK sebanyak 217 berkas. Sehingga capaiannya sebesar 68,10%

Untuk indikator persentase putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus, ditargetkan sebesar 100%, namun tidak terealisasi. Sehingga capaiannya 0%

Untuk indikator presentase perkara prodeo yang diselesaikan, ditargetkan sebesar 80%, namun tidaklah terealisasi. Sehingga capaiannya 0%

Untuk indikator persentase perkara yang diselesaikan di luar gedung pengadilan ditargetkan sebesar 80%, realisasinya sebesar 47,83%. Hal ini disebabkan karena jumlah perkara yang diselesaikan di luar gedung pengadilan sebanyak 22 perkara, sementara jumlah perkara yang seharusnya diselesaikan di luar gedung pengadilan sebanyak 27 perkara. Sehingga capaiannya sebesar 59,78%.

Untuk indikator persentase pencari keadilan golongan tertentu yang mendapat layanan bantuan hukum ditargetkan sebesar 90%, dan realisasinya sebesar 100%. Hal ini dikarenakan semua pencari keadilan golongan tertentu yang datang untuk mendapat bantuan hukum sebanyak 143 orang, seluruhnya mendapat bantuan hukum oleh Pos Bantuan Hukum yang ada di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas IA. Sehingga capaiannya sebesar 111,11%

Untuk indikator persentase putusan perkara perdata yang ditindaklanjuti (dieksekusi) ditargetkan sebesar 80%, namun realisasinya hanya sebesar 27,03%. Hal ini disebabkan karena jumlah putusan perkara perdata yang sudah berkekuatan hukum tetap (BHT) dan yang bersifat condemnatoir sebanyak 37 perkara dan yang dieksekusi sebanyak 10 perkara., hal ini mengakibatkan capaiannya sebesar 33,78%.

(17)

0 20 40 60 80 100 120

Target (%) Realisasi (%) Capaian Kinerja (%)

Perbandingan antara target, realisasi dan capaian kinerja tahun 2018, terlihat dalam chart berikut ini :

1. Perbandingan antara target dan realisasi kinerja tahun 2018

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target (%) Realisasi (%)

Terwujudnya proses

peradilan yang pasti, transparan dan akuntabel.

a. Persentase sisa perkara yang

diselesaikan. 100 100

b. Persentase perkara yang diselesaikan

tepat waktu 96 95,75

c. Persentase Penurunan Sisa Perkara 90 42,47

d. Persentase Perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum :

 Banding  Kasasi  PK 80 80 80 68,27 71,29 78,19 e. Persentase Perkara Pidana Anak yang

Diselesaikan dengan Diversi 30 33,33

f. Index responden pencari keadilan yang

puas terhadap layanan peradilan 90 95,45

Peningkatan Efektivitas Pengelolaan Penyelesaian Perkara

a. Persentase isi putusan yang diterima

oleh para pihak tepat waktu 90 96,32

b. Persentase Perkara yang Diselesaikan

melalui Mediasi 15 0,76

c. Persentase berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK secara

lengkap dan tepat waktu 90 61,29

(18)

d. Persentase putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus

100 0

Meningkatnya Akses

Peradilan bagi Masyarakat Miskin dan Terpinggirkan

a. Persentase Perkara Prodeo yang

diselesaikan 80 0

b. Persentase Perkara yang Diselesaikan di

Luar Gedung Pengadilan 80 47,83

c. Persentase Pencari Keadilan Golongan Tertentu yang Mendapat Layanan

Bantuan Hukum (Posbakum) 90 100

Meningkatnya Kepatuhan

Terhadap Putusan

Pengadilan

Persentase Putusan Perkara Perdata yang

Ditindaklanjuti (dieksekusi) 80 27,03

Dari tabel di atas terlihat bahwa terhadap sasaran strategis terwujudnya proses peradilan yang pasti, transparan dan akuntabel ada 6 indikator yang akan dijelaskan sebagai berikut :

 indikator sisa perkara yang diselesaikan antara realisasi telah mencapai target yang ditentukan yaitu 100%.

 indikator perkara yang diselesaikan tepat waktu hanya mencapai 95,75% dari target sebesar 96% (target tidak tercapai).

 indikator penurunan sisa perkara realisasi hanya mencapai 42,47% dari target 90% (tidak mencapai target).

 indikator perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding realisasi sebesar 68,27 tidak mencapai target 80%. Untuk indikator perkara yang tidak mengajukan upaya hukum kasasi realisasi sebesar 71,29% tidak mencapai target 80%. Untuk indikator perkara yang tidak mengajukan upaya hukum PK realisasi juga tidak mencapai target hanya 78,19% dari target 80%.

 Indikator perkara pidana anak yang diselesaikan dengan diversi realisasi 33,33% dari target 30% sehingga melampaui target yang ditentukan.

 Indikator indeks responden pencari keadilan yang puas terhadap layanan peradilan realisasi sebesar 95,45% lebih besar dari target 90%

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa terhadap sasaran terwujudnya proses peradilan yang pasti, transparan dan akuntabel ada 1 indikator yaitu sisa perkara yang diselesaikan, yang telah mencapai target yang ditentukan, dan 2 indikator yaitu indeks responden pencari keadilan yang puas terhadap layanan peradilan dan perkara pidana

(19)

anak yang diselesaikan dengan diversi yang melampaui target yang ditentukan. Sedangkan 3 indikator lainnya tidak mencapai target yang ditentukan.

Selanjutnya untuk sasaran peningkatan efektivitas pengelolaan penyelesaian perkara ada 4 indikator yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Indikator isi putusan yang diterima oleh para pihak tepat waktu, dengan realisasi sebesar 96,32% telah melampaui target yang ditentukan sebesar 90%

 Indikator perkara yang diselesaikan melalui mediasi, realisasinya sebesar 0,76%, sehingga tidak mencapai target 15% yang ditentukan

 Indikator berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK secara lengkap da tepat waktu, realisasinya sebesar 61,29% sehingga tidak mencapai target 90%  Indikator putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses

secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus tidak terealisasi dengan target sebesar 100%

Dari 4 indikator yang dijelaskan di atas, hanya 1 indikator yang melampaui target yang ditentukan yaitu indikator isi putusan yang diterima oleh para pihak tepat waktu, sementara 3 indikator lainnya tidak mencapai target yang ditentukan, bahkan ada 1 indikator yang tidak terealisasi sama sekali.

Sasaran Meningkatnya Akses Peradilan Bagi Masyarakat Miskin dan terpinggirkan mempunyai 3 indikator yaitu :

 Perkara Prodeo yang diselesaikan, tidak terealisasi dengan target sebesar 80%.  Perkara yang diselesaikan di luar gedung pengadilan tidak mencapai target yang

ditentukan sebesar 80% dengan realisasi 47,83%

 Pencari Keadilan Golongan Tertentu yang mendapat layanan bantuan hukum (Posbakum) mencapai target sebesar 90% dengan realisasi sebesar 100%

Untuk sasaran ini, 1 indikator telah mencapai target, 1 indikator tidak mencapai target dan 1 indikator lainnya tidak terealisasi.

Sasaran Meningkatnya Kepatuhan terhadap putusan pengadilan memiliki 1 indikator yaitu Putusan perkara Perdata yang ditindaklanjuti (eksekusi), yang tidak mencapai target sebesar 80%, karena realisasi hanya sebesar 22,03%, dengan demikian sasaran ini juga tidak tercapai.

(20)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Target (%) Realisasi (%)

Terhadap sasaran dan indikator yang ada dalam perjanjian kinerja tahun 2018 apabila dibandingkan antara target dan realisasi maka dapat terlihat bahwa secara keseluruhan realisasi tidak mencapai target yang ditentukan.

Perbandingan realisasi tahn 2018 dan target dapat terlihat dalam chart berikut :

2. Perbandingan antara realisasi kinerja serta capaiannya dengan tahun sebelumnya

No Indikator Kinerja

Realisasi Kinerja (%) Capaian Kinerja (%)

2018 2017 2016 2018 2017 2016

1. a. Persentase sisa perkara

yang diselesaikan. 100 98 99,75 100 98 100

b. Persentase perkara yang

diselesaikan tepat waktu 95,75 95 75,03 99,74 98 95

c. Persentase Penurunan

Sisa Perkara 42,47 -29 - 47,19 -32 -

d. Persentase Perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum :  Banding  Kasasi  PK 68,27 71,29 78,19 99 99 99 - - - 85,34 89,11 97,73 123 123 123 - - - e. Persentase Perkara Pidana

Anak yang Diselesaikan

(21)

f. Index responden pencari keadilan yang puas terhadap layanan peradilan

95,45 95 - 106,05 105 -

2. a. Persentase isi putusan yang diterima oleh para

pihak tepat waktu 96,32 99 100 107,02 110 100

b. Persentase Perkara yang Diselesaikan melalui

Mediasi 0,76 0 8,47 5,07 0 12,1

c. Persentase berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK secara lengkap dan tepat waktu

61,29 83 97,31 68,10 92 97

d. Persentase putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus

0 0 - 0 0 -

3. a. Persentase Perkara

Prodeo yang diselesaikan 0 0 - 0 0 -

b. Persentase Perkara yang Diselesaikan di Luar

Gedung Pengadilan 47,83 68 - 59,78 85 -

c. Persentase Pencari Keadilan Golongan Tertentu yang Mendapat Layanan Bantuan Hukum (Posbakum)

100 100 - 111,11 111 -

4. Persentase Putusan Perkara Perdata yang Ditindaklanjuti

(dieksekusi) 27,03 0 - 33,78 0 -

Perbedaan indikator kinerja pada setiap tahunnya yang diakibatkan oleh adanya reviuw terhadap Indikator Kinerja Utama (IKU), oleh sebab itu ada beberapa indikator yang tidak dapat dinilai realisasi dan capaiannya pada tahun sebelumnya. Misalnya indikator kinerja Perkara Pidana Anak yang Diselesaikan dengan Diversi yang merupakan indikator hasil reviuw, sehingga tidak dapat dinilai realisasinya pada tahun-tahun sebelumnya.

Dari realisasi dan capaian kinerja sejak tahun 2015 sampai dengan 2018 terlihat bahwa terjadi fluktuasi pada realisasi dan capaian kinerja di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A.

3. Perbandingan realisasi kinerja dengan dengan target jangka menengah dalam 16

(22)

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi Tahun 2018 (%) Target Jangka Menengah (%) Terwujudnya proses

peradilan yang pasti,

transparan dan

akuntabel.

a. Persentase sisa perkara yang diselesaikan. 100 100 b. Persentase perkara yang diselesaikan tepat

waktu 95,75 80

c. Persentase Penurunan Sisa Perkara 42,47 80

d. Persentase Perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum :  Banding  Kasasi  PK 68,27 71,29 78,19 70 70 70 e. Persentase Perkara Pidana Anak yang

Diselesaikan dengan Diversi 33,33 30

f. Index responden pencari keadilan yang

puas terhadap layanan peradilan 95,45 90

Peningkatan Efektivitas Pengelolaan

Penyelesaian Perkara

a. Persentase isi putusan yang diterima oleh

para pihak tepat waktu 96,32 90

b. Persentase Perkara yang Diselesaikan

melalui Mediasi 0,76 15

c. Persentase berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK secara lengkap dan tepat waktu

61,29 90

d. Persentase putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus

0 90

Meningkatnya Akses

Peradilan bagi

Masyarakat Miskin dan Terpinggirkan

a. Persentase Perkara Prodeo yang

diselesaikan 0 70

b. Persentase Perkara yang Diselesaikan di

Luar Gedung Pengadilan 47,83 80

c. Persentase Pencari Keadilan Golongan Tertentu yang Mendapat Layanan Bantuan Hukum (Posbakum)

100 90

Meningkatnya

Kepatuhan Terhadap Putusan Pengadilan

Persentase Putusan Perkara Perdata yang

Ditindaklanjuti (dieksekusi) 27,03 50

Data pada tabel di atas menunjukan bahwa realisasi sebagian besar indikator kinerja pada tahun 2018 tidak memenuhi target jangka panjang yang ditetapkan dalam renstra 2015 - 2019. Walaupun ada beberapa indikator kinerja yang realisasinya melampaui target yang ditentukan, diantaranya adalah indikator Perkara Pidana Anak yang Diselesaikan dengan Diversi, indikator Index responden pencari keadilan yang puas terhadap layanan peradilan dan indikator Persentase isi putusan yang diterima oleh para pihak tepat waktu.

(23)

0 20 40 60 80 100

Realisasi Tahun 2018 (%) Target Jangka Menengah (%)

Perbandingan antara realisasi kinerja tahun 2018 dengan target jangka menengah di dalam dokumen renstra terlihat dalam chart berikut ini :

4. Analisa penyebab keberhasilan/ kegagalan

Secara umum, tingkat capaian kinerja tahun 2017 di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A berada dalam kategori kurang baik, dikarenakan dari 14 indikator yang digunakan untuk melakukan penilaian, ada 9 indikator yang tidak mencapai target yang ditetapkan, 2 indikator yang mencapai target dan 3 indikator yang melampaui target.

Analisa penyebab keberhasilan terhadap capaian kinerja masing-masing indikator kinerja di atas dapat disampaikan sebagai berikut :

a. Persentase sisa perkara yang diselesaikan mencapai 100%, sesuai dengan target yang ditetapkan. Hal ini diakibatkan karena adanya keharusan untuk menyelesaikan sisa perkara tahun sebelumnya (tahun 2017), disamping itu adanya pengawasan yang dilakukan terus menerus baik internal maupun eksternal.

b. Persentase perkara yang diselesaikan tepat waktu mencapai 95,75%, kurang dari target yang ditetapkan sebesar 96%. Hal ini disebabkan karena tingkat kepatuhan para pihak terhadap jadwal serta agenda persidangan yang telah ditentukan. Karena data yang ada menunjukan bahwa sebagian besar perkara yang terlambat adalah perkara perdata gugatan.

(24)

c. Persentase Penurunan Sisa Perkara, realisasinya sebesar 42,47%, kurang dari target yang ditetapkan yaitu 90%. Dari data yang diambil pada kepaniteraan yang ada di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A menunjukan bahwa sisa perkara di tahun 2017 lebih banyak dari sisa perkara tahun 2018. Hal ini diakibatkan oleh perkara masuk di akhir tahun sehingga perkara tersebut tidak terselesaikan dan menjadi sisa perkara di tahun berikutnya.

d. Persentase Perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding, kasasi dan PK ditargetkan sebesar 80% untuk masing-masing upaya hukum, dan realisasinya sebesar 68,27% untuk upaya hukum banding, 71,29% untuk upaya hukum kasasi dan 78,19% untuk upaya hukum PK. Realisasi upaya hukum tidak mencapai target. Hal ini menunjukan bahwa putusan yang ada tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat sehingga mengajukan upaya hukum baik banding, kasasi maupun peninjauan kembali (PK).

e. Persentase indikator Perkara pidana anak yang diselesaikan dengan diversi, ditargetkan sebesar 30%, realisasinya sebesar 33,33%. Hal ini disebabkan oleh adanya keinginan dari korban maupun keluarga korban untuk menyelesaikan secara diversi.

f. Persentase Indikator Index responden pencari keadilan yang puas terhadap layanan peradilan ditargetkan sebesar 90%, dan realisasinya sebesar 95,45%. Data ini diperoleh dari hasil Survei Kepuasan Masyarakat yang dilakukan oleh Tim Survei Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A pada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2018.

g. Indikator Isi putusan yang diterima oleh para pihak tepat waktu ditargetkan sebesar 90% dan realisasinya sebesar 96,32%. Ini dapat terjadi karena pada saat pembacaan putusan hampir semua pihak yang berperkara selalu hadir sehingga isi putusan dapat langsung diterima oleh para pihak. Selain itu para Jurusita/Jurusita Pengganti telah diinstruksikan untuk segera memberitahukan isi putusan kepada para pihak sesuai waktu yang telah ditentukan dan setelahnya harus di-upload kedalam SIPP. h. Selanjutnya terhadap indikator Perkara yang diselesaikan melalui mediasi,

ditargetkan sebesar 15% namun realisasinya sebesar 0,76%. Data mediasi di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A bahwa selama tahun

(25)

2018 ada 2 perkara yang berhasil diselesaikan melalui mediasi. Terhadap hal ini dapat dijelaskan bahwa mediasi dapat berhasil tergantung niat baik para pihak yang berperkara. Walaupun hakim mediator telah berupaya untuk melakukan mediasi, namun ketika para pihak tetap bersikeras untuk melanjutkan perkara maka dipastikan mediasi tidak akan berhasil dan perkara akan tetap dilanjutkan.

i. Indikator Berkas perkara yang diajukan banding, kasasi dan PK secara lengkap dan tepat waktu ditargetkan sebesar 90% dan realisasinya sebesar 61,29%. Hal ini diakibatkan oleh karena proses administrasi perkara (yang diajukan upaya hukum banding, kasasi, PK) yang berjalan lambat, banyaknya pihak yang berperkara dalam 1 perkara sehingga pemberitahuan upaya hukum sering berjalan lambat, selain itu ketidaktelitian petugas pemberkasan upaya hukum juga menjadi faktor tidak lengkapnya berkas upaya hukum.

j. Selanjutnya untuk indikator Putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus, ditargetkan sebesar 100%, namun realisasinya 0%. Hal ini dikarenakan ketika pembacaan putusan perkara Tipikor, putusannya sendiri belumlah siap sehingga tidak bisa langsung diupload dalam website.

k. Sedangkan untuk indikator Perkara prodeo yang diselesaikan ditargetkan sebesar 80% namun realisasinya 0%. Terhadap hal ini dapat dijelaskan bahwa selama tahun 2018 tidak ada perkara prodeo yang masuk di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A.

l. Terhadap indikator Perkara yang diselesaikan di luar gedung pengadilan ditargetkan sebesar 80% dan realisasinya sebesar 47,83%. Seluruh perkara yang diselesaikan di luar gedung pengadilan dalam tahun 2018 adalah perkara pidana dan perdata yang disidangkan di zittingplaats Namlea dan Saparua, namun tidak semua perkara dari Namlea dan Saparua disidangkan di zittingplaats karena anggaran tidak mencukupi untuk melakukan sidang di zittingplaats yang ada.

m. Indikator Pencari keadilan golongan tertentu yang mendapat layanan bantuan hukum (LBH) ditargetkan sebesar 90% dan realisasinya sebesar 100%. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut, bahwa para pencari keadilan golongan tertentu yang 20

(26)

Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A seluruhnya tertangani dan mendapat layanan dari Posbakum yang ada di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A. Selama tahun 2018 Posbakum di Pengadilan Negeri/ PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A menangani 143 perkara.

n. Indikator Putusan perkara perdata yang ditindaklanjuti ditargetkan sebesar 80%, dan realisasinya sebesar 27,03%, Hal ini dikarenakan dari 37 perkara yang sudah berkekuatan hukum tetap dan bersifat condemnatoir hanya 10 perkara yang ditindaklanjuti (eksekusi).

5. Analisa atas efisiensi penggunaan sumber daya

Sumber daya manusia yang tersedia di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A sebenarnya belum mencukupi karena jumlah seluruh pegawai dari Ketua sampai tenaga kontrak sebanyak 92 orang, dan hal inilah yang seharusnya menjadi faktor pendukung utama dalam efisiensi penggunaan sumber daya manusia.

Dari sisi sarana prasarana, juga belum memadai, terutama kebutuhan akan sarana prasarana alat pengolah data. Akan tetapi dengan sarana parasarana yang ada tidaklah menyurutkan semangat untuk mencapai perjanjian kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya.

6. Analisa program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian pernyataan kinerja

Selama tahun 2018, ada beberapa kegiatan yang yang menunjang keberhasilan pencapaiankinerja yaitu :

 Program Akreditasi Penjaminan Mutu

Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A diberi nilai A dalam penilaian akreditasi yang dilakukan oleh Dirjen Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung RI pada tahun 2018

 Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)

Walaupun dalam pelaksanaannya masih terdapat banyak kekurangan, namun dengan penerapan Pelayanan Terpadu satu Pintu, pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan bisa lebih baik.

(27)

 Pelaksanaan Sidang dengan cara Zettingplaats.

Hal ini terlaksana atas koordinasi dengan Kejaksaan Negeri Buru dan Cabang Kejaksaan Negeri Ambon di Saparua

 Pos Bantuan Hukum (Posbakum)

Perjanjian Kerjasama antara Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas IA dengan Yayasan Pos Bantuan Hukum Ambon tentang Penyediaan Pemberi Bantuan Hukum Pada Pos Bantuan Hukum Pengadilan Negeri /PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas IA Nomor : 01/PPK-PN.AB/KS.00/II/2018 tanggal 6 Pebruari 2018

 Pelaksanaan Aplikasi SIPP

Aplikasi SIPP (Sistim Informasi Penelusuran Perkara) merupakan aplikasi yang wajib digunakan oleh semua Pengadilan.

B. Realisasi Anggaran

Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara khusunya di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas IA adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan yang memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan sasaran dengan mengikuti standar–standar akuntansi pemerintah yang telah diterima secara umum. Laporan pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disampaikan berupa laporan keuangan tentang realisasi anggaran.

Pada prinsipnya, pengelolaan anggaran yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas IA mengacu pada asas-asas umum pengelolaan keuangan Negara sebagaimana dijabarkan oleh Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara ke dalam asas-asas umum seperti asas tahunan, universalitas, asas kesatuan dan asas spesialitas maupun asas-asas baru sebagai pencerminan best practice (penerapan landasan-landasan yang baik) dalam pengelolaan keuangan Negara seperti : akuntabilitas hasil, profesionalitas, proporsionalitas, keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara, pemeriksaan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri.

(28)

Alokasi anggaran yang diterima oleh Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A pada DIPA 01 (099706) tahun 2018 berjumlah Rp. 15.840.562.000.- (Lima belas miliar delapan ratus empat puluh juta lima ratus enam puluh dua ribu rupiah), dengan rincian sebagai berikut :

No Kegiatan Pagu Awal Pagu Revisi Realisasi % Sisa %

(Rp) (Rp) 1 Belanja Pegawai 13.935.758.000 13.935.758.000 13.482.371.857 97 453.386.143 3 2 Belanja Operasional dan Pemelharaan Kantor 1.617.476.000 1.752.281.000 1.728.815.911 99 23.465.089 1 2 Belanja Barang Non Operasional 35.523.000 35.523.000 33.419.850 94 2.103.150 6 3 Belanja Modal 117.000.000 117.000.000 116.892.000 99,90 108.000 0,1 JUMLAH 15.709.957.000 15.840.562.000 15.361.499.618 96,98 479.062.382 3,02

Untuk realisasi anggaran tahun 2018 sampai dengan tanggal 31 Desember 2018, Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas IA telah mencapai96,98 %dari total anggaran di dalam DIPA 01 (099706) Tahun 2018, yaitu senilai Rp. 15.361.499.618,- (Lima Belas Miliar Tiga Ratus Enam Puluh Satu Juta Empat Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu Enam Ratus Delapan Belas Rupiah), dengan rincian sebagai berikut :

1. Belanja Pegawai

Anggaran yang tersedia dalam DIPA pegawai tahun 2018 sebesar Rp. 13.935.758.000,- dengan rincian sebagai berikut :

Akun Belanja Pegawai Pagu Realisasi % Sisa %

511111 Belanja Gaji Pokok PNS 4.182.749.000 4.137.578.880 98,92 45.170.120 1,08 511119 Belanja Pembulatan Gaji PNS 73.000 66.492 91,08 6.508 8,92 511121 Belanja Tunj.Suami/Istri PNS 315.635.000 307.041.272 97,28 8.593.728 2,72 511122 Belanja Tunj.Anak PNS `103.853.000 100.169.044 96,45 3.683.956 3,55 511123 Belanja Tunj.Struktural PNS 43.720.000 41.920.000 95,88 1.800.000 4,12 511124 Belanja Tunj.Fungsional PNS 4.507.490.000 4.445.790.000 98,63 61.700.000 1,37 511125 Belanja Tunj.PPh PNS 846.407.000 657.942.369 77,73 188.464.631 22,27 511126 Belanja Tunj.Beras PNS 244.359.000 234.640.800 96,02 9.718.200 3,98 511129 Belanja Uang Makan PNS 784.264.000 738.168.000 94,12 46.096.000 5,88 511151 Belanja Tunj.Umum PNS 99.508.000 94.555.000 95,02 4.953.000 4,98 511157 Belanja Tunj.Kemahalan

Hakim

547.200.000 516.000.000 94,30 31.200.000 5,70 511158 Belanja Tunj.Hakim Ad Hoc 2.260.500.000 2.208.500.000 97,70 52.000.000 2,30

(29)

2. Belanja Barang

a. Belanja Barang Operasional

Akun Belanja Barang Pagu Realisasi % Sisa %

521111 Belanja Keperluan Perkantoran 420.636.000 420.583.750 99,99 52.250 0,01 521811 Belanja Barang untuk

persediiaan barang konsumsi

186.300.000 186.182.800 99,94 117.200 0,06 521111 Belanja Keperluan

Perkantoran

101.284.000 100.037.469 98,77 1.246.531 1,23 521114 Belanja Pengiriman Surat

Dinas Pos Pusat Pos Pusat

12.000.000 11.636.300 96,97 363.700 3,03 522111 Belanja Langganan Listirk

Satuan Kerja

192.000.000 175.550.483 91,43 16.449.517 8,57 522112 Belanja Langganan Telepon 9.600.000 7.064.407 73,59 2.535.593 26,41 523111 Belanja Biaya Pemeliharaan

Gedung dan Bangunan dan Mesin

316.061.000 316.048.520 100 12.480 0,00 523119 Belanja Biaya Pemeliharaan

Gedung dan Bangunan Lainnya

68.032.000 67.915.000 99,83 117.000 0,17

523121 Belanja Biaya Pemeliharaan Peralatan dan Mesin

109.916.000 109.857.132 99,95 58.868 0,05

521115 Honor Operasional Satuan Kerja

54.600.000 54.600.000 100 0 0,00 521119 Pakaian Dinas Pegawai 46.784.000 46.784.000 100 0 0,00 521119 Belanja Pakaian Dinas

Satpam,Pengemudi,

Pramubakti, cleaning service

10.280.000 10.280.000 100 0 0,00

521119 Belanja Barang Operasional Lainnya 14.983.000 12.501.050 83,43 2.481.950 16,57 522141 Belanja Sewa Cukai Meterai 75.000.000 75.000.000 100 0 0,00 521111 Belanja Keperluan Perkantoran 25.600.000 25.600.000 100 0 0,00 521114 Belanja Pengiriman Surat

Dinas Pos Pusat 3.000

3.000.000 3.000.000 100 0 0,00 521811 Belanja Barang untuk

persediiaan barang konsumsi

16.115.000 16.115.000 100 0 0,00 522111 Belanja Langganan Listirk

Satuan Kerja

4.500.000 4.470.000 99,33 30.000 0,67 522112 Belanja Langganan Telepon 3.000.000 3.000.000 100 0 0,00 522113 Belanja Langganan Air 1.500.000 1.500.000 100 0 0,00

(30)

523111 Belanja Biaya Pemeliharaan Gedung dan Bangunan

dan Mesin

45.300.000 45.300.000 100 0 0,00

523121 Belanja Biaya Pemeliharaan Peralatan dan Mesin

11.040.000 11.040.000 100 0 0,00

524111 Belanja Perjalanan Biasa 24.750.000 24.750.000 100 0 0,00

JUMLAH 1.752.281.000 1.728.815.911 98,66 23.465.089 1,34

b. Belanja Barang Non Operasional

Akun Belanja Barang Pagu Realisasi % Sisa %

521119 Belanja Barang Operasional Lainnya

724.000 640.000 88,39 84.000 11,61 522191 Belanja Jasa Lainnya 800.000 204.400 25,55 595.600 74,45 521211 Belanja Bahan 14.400.000 13.359.450 92,77 1.040550 7,23 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota

3.300.000 2.920.000 88,48 380.000 11,52 521119 Belanja Barang Non

Operasional Lainnya

16.299.000 16.296.000 99,98 3.000 0,02

JUMLAH 35.523.000 33.419.850 94,08 2.103.150 5,92

3. Belanja Modal

Akun Belanja Modal Pagu Realisasi % Sisa %

532111 Belanja Modal Peralatan dan Mesin

117.000.000 116.892.000 99,90 108.000 0,1

JUMLAH 117.000.000 116.892.000 99,90 108.000 0,1

Selanjutnya, alokasi anggaran yang diterima oleh Pengadilan Negeri/PHI/ Tipikor/Perikanan Ambon Kelas IA DIPA 03 (099707) tahun 2018 berjumlah Rp. 368.477.000.- (Tiga ratus enam puluh delapan juta empat ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah), dengan rincian sebagai berikut :

No Kegiatan Pagu Awal Pagu Revisi Realisasi % Sisa %

(Rp) (Rp)

(31)

Untuk realisasi anggaran tahun 2018 sampai dengan tanggal 31 Desember 2018, Pengadilan Negeri Ambon telah mencapai 97,76 % dari total anggaran di dalam DIPA 03 (099707) Tahun 2018 yaitu senilai Rp 360.231.428,- (Tiga ratus enam puluh juta dua ratus tiga puluh satu ribu empat ratus dua puluh delapan rupiah), dengan rincian sebagai berikut :

1. Belanja Barang

Anggaran yang tersedia dalam DIPA (03) tahun 2018 sebesar Rp. 368.477.000,- dengan rincian sebagai berikut :

Akun Belanja Barang Pagu Realisasi % Sisa %

522131 Belanja Jasa Konsultan 48.000.000 48.000.000 100,00 0 0,00 524111 Belanja Perjalanan Biasa 62.000.000 61.965.828 99,94 34.172 0,06 521211 Belanja Bahan 10.500.000 10.438.200 99,41 61.800 0,59 521811 Belanja Barang untuk

Persediaan Barang Konsumsi 30.570.000 30.570.0000 100,00 0 0,00 521211 Belanja Bahan 93.300.000 93.299.000 100,00 1.000 0,00 521211 Belanja Bahan 16.000.000 15.914.700 99,47 85.300 0,53 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 2.000.000 2.000.000 100,00 0 00,00 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 2.900.000 2.870.000 98,97 30.000 1,03 521114 Belanja Pengiriman Surat

Dinas Pos Pusat 2.500.000 2.488.000 99,52 12.000 0,48 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 7.000.000 7.000.000 100,00 0 0,00 521114 Belanja Pengiriman Surat

Dinas Pos Pusat 5.000.000 4.999.200 99,98 800 0,02 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 6.000.000 6.000.000 100,00 0 0,00 521211 Belanja Bahan 1.800.000 1.737.300 96,52 62.700 3,48 521811 Belanja Barang Untuk

Persediaan Barang Konsumsi 29.010.000 28.980.000 99,90 30.000 0,10 521211 Belanja Bahan 6.170.000 5.672.400 91,94 497.600 8,06 521211 Belanja Bahan 3.000.000 2.986.100 99,54 13.900 0,46 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 700.000 700.000 100,00 0 0,00 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 2.150.000 2.138.000 99,44 12.000 0,56 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 800.000 780.000 97,50 20.000 2,50 521114 Belanja Pengiriman Surat

Dinas Pos Pusat 1.500.000 1.500.000 100,00 0 0,00 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 6.000.000 5.970.000 99,50 30.000 0,50 521114 Belanja Pengiriman Surat

Dinas Pos Pusat 2.400.000 2.400.000 100,00 0 0,00 524113 Belanja Perjalanan Dinas 1.400.000 1.400.000 100,00 0 0,00

(32)

521211 Belanja Bahan 280.000 225.000 80,36 55.000 19,64 521811 Belanja Barang untuk

Persediaan Barang Konsumsi 560.000 470.000 83,93 90.000 16,07 524111 Belanja Perjalanan Biasa 1.890.000 420.000 22,22 1.470.000 77,78 524111 Belanja Perjalanan Biasa 1.890.000 800.000 42,33 1.090.000 57,67 521211 Belanja Bahan 150.000 120.000 80,00 30.000 20,00 522151 Belanja Jasa Profesi 200.000 0 0,00 200.000 100,00 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 167.000 150.000 89,82 17.000 10,18 521211 Belanja Bahan 210.000 195.000 92,86 15.000 7,14 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 300.000 300.000 100,00 0 0,00 521114 Belanja Pengiriman Surat

Dinas Pos Pusat 700.000 700.000 100,00 0 0,00 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 700.000 400.000 57,14 300.000 42,86 521219 Belanja Barang Non

Operasional Lainnya 600.000 0 0,00 600.000 100,00 521211 Belanja Bahan 140.000 0 0,00 140.000 100,00 521811 Belanja Barang untuk

Persediaan Barang Konsumsi 160.000 0 0,00 160.000 100,00 522151 Belanja Jasa Profesi 200.000 0 0,00 200.000 100,00 524113 Belanja Perjalanan Dinas

Dalam Kota 150.000 0 0,00 150.000 100,00 521219 Belanja Barang Non

Operasional Lainnya 850.000 0 0,00 850.000 100,00 521211 Belanja Bahan 7.210.000 6.663.900 92,43 546.100 7,57 524111 Belanja Perjalanan Biasa 11.420.000 10.248.800 89,74 1.171.200 10,26

(33)

BAB IV

P E N U T U P

Kesimpulan

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A Tahun 2018 merupakan wujud akuntabilitas, kredibilitas dan transparansi kinerja Lembaga Peradilan. LKjIP Tahun 2018 ini bersifat pelaporan terhadap suatu bentuk pencapaian kinerja (performance result) selama tahun 2018 yang diperbandingkan dengan rencana kerja (performance plan) Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A tahun 2018.

Dengan menganalisa capaian kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A tahun 2018 maka diharapkan adanya suatu langkah nyata untuk meningkatkan kualitas kinerja Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A sebagai Institusi Pengadilan Tingkat Pertama yang lebih berwibawa, mandiri dan hasil putusan yang lebih mencerminkan rasa keadilan.

Dari capaian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa capaian yang diperoleh dalam kurun waktu tahun 2018 sangat kurang dan belum memenuhi keinginan yang diharapkan bahkan masih jauh dari target yang ditetapkan. Terlihat bahwa dari 14 indikator kinerja utama yang ditetapkan sebagai ukuran untuk menilai realisasi dan capaian kinerja di Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Ambon Kelas I A, maka ada 3 indikator yang realisasinya melampaui target yang ditentukan, 2 indikator yang realisasinya mencapai target yang ditentukan dan 9 indikator yang realisasinya tidak mencapai target yang ditentukan. Dan ini mengindikasikan bahwa belum ada komitmen yang baik dari seluruh komponen yang ada untuk memperbaiki kinerjanya.

Namun terhadap indikator yang telah melampaui target yang ditentukan diharapkan dapat menjadi pemicu untuk lebih memperbaiki dan meningkatkan kinerja di masa yang akan datang. Namun inilah capaian yang boleh diraih oleh Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/ Perikanan Ambon Kelas I A pada tahun 2018.

(34)

Sementara untuk realisasi anggaran, Pengadilan Negeri/PHI/Tipikor/Perikanan Kelas I A Ambon dari DIPA 01 realisasinya sebesar 96,98 %. Untuk DIPA 03 realisasinya sebesar 97,76 %. Capaian ini lebih besar dari target sebesar 95% yang ditentukan.

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan di masa yang akan datang untuk meningkatkan kinerja antara lain :

1. Pengawasan dan kontrol secara langsung yang dilakukan secara berjenjang terhadap kinerja pegawai

2. Pembinaan secara rutin dan berjenjang 3. Evaluasi kinerja secara rutin

(35)

Sasaran Strategis :

Terwujudnya proses peradilan yang pasti transparan dan akuntabel Jumlah

Sisa Perkara

Tahun 2017

Jumlah Perkara Tahun 2017 yang putus di Tahun 2018

Jumlah Sisa Perkara Tahun 2017 Yang Belum Putus di Tahun 2018 Jumlah Perkara Yang Masuk di Tahun 2018 Jumlah Perkara Tahun 2018 yang Putus Jumlah Sisa Perkara Tahun 2018 Yang Belum Putus Jumlah Perkara Tahun 2018 Yang Tidak Banding Jumlah Perkara Tahun 2018 Yang Tidak Kasasi Jumlah Perkara Tahun 2018 Yang Tidak PK Jumlah Perkara Pidana Anak yang memenuhi syarat untuk diversi Jumlah Perkara Pidana Anak Tahun 2018 Yang Diversi Indeks Kepuasan Pencari Keadilan Tahun 2018 259 259 0 1.106 1.059 149 723 755 828 15 5 95,45 Sasaran Strategis :

Peningkatan Efektivitas Pengelolaan Penyelesaian Perkara jumlah Isi Putusan Yang Diterima Para Pihak Tepat Waktu

Jumlah Perkara Tahun 2018 Yang Putus Jumlah Perkara Perdata Gugatan Yang Masuk Tahun 2018 Jumlah Perkara Mediasi Berhasil Jumlah Perkara Tahun 2018 Yang Dimohon Banding Jumlah Perkara Tahun 2018 Yang Dimohon Kasasi Jumlah Perkara Tahun 2018 Yang Dimohon PK Jumlah Berkas Perkara Banding Yang Dikirim Jumlah Berkas Perkara Kasasi Yang Dikirim Jumlah Berkas Perkara PK Yang Dikirim Jumlah Perkara Tipikor Tahun 2018 yang Putus Jumlah Perkara Tipikor Yang Setelah Diputus Langsung Diupload 1.020 1.059 263 2 113 81 23 84 46 3 17 0

(36)

Sasaran Strategis :

Peningkatan Akses Peradilan Bagi Masyarakat Miskin dan Terpinggirkan Jumlah perkara Prodeo Tahun 2018 Jumlah Perkara Prodeo Tahun

2018 yang Putus

Jumlah Perkara Yang Masuk Dari Zittingplaats Tahun 2018

Jumlah Perkara Yang Disidangkan Di

Zittingplaats

Jumlah Perkara Yang Ditangani oleh Posbakum

Tahun 2018

Jumlah Pencari Keadilan Golongan Tertentu Yang Datang Di Posbakum 0 0 46 22 143 143 Sasaran Strategis :

Peningkatan Kepatuhan Terhadap Putusan Pengadilan

Jumlah Perkara Perdata Tahun 2018 Yang Telah Putus dan Telah Dieksekusi Jumlah Perkara Perdata Tahun 2018 Yang Telah Putus dan Berkekuatan Hukum Tetap dan

bersifat condemnatoir

(37)

1.a Persentase sisa perkara yang diselesaikan :

= Jumlah sisa perkara yang diselesaikan x 100% Jumlah sisa perkara yang harus diselesaikan

= 259 x 100% 259

= 1 x 100% = 100%

1.b Persentase perkara yang diselesaikan :

= Jumlah perkara yang diselesaikan tahun berjalan x 100% Jumlah perkara yang ada

= 1.059 x 100% 1.106

= 0,96 x 100%

= 96%

1.c Persentase penurunan sisa perkara :

= Sisa perkara tahun sebelumnya - sisa perkara tahun berjalan x 100% Sisa perkara tahun sebelumnya

= 259 - 149 x 100% 259 = 110 x 100% 259 = 0,42 x 100% = 42%

1.d Persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding :

= Jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding x 100% Jumlah putusan perkara

= 723 x 100% 1.059

= 0,68 x 100%

= 68%

Persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum kasasi :

(38)

= 0,71 x 100%

= 71%

Persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum PK :

= Jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum PK x 100% Jumlah putusan perkara

= 828 x 100% 1.059

= 0,78 x 100%

= 78%

1.e Persentase perkara pidana anak yang diselesaikan dengan diversi :

= Jumlah perkara pidana anak yang diselesaikan dengan diversi x 100% Jumlah perkara pidana anak yang memenuhi syarat untuk diversi

= 5 x 100% 15

= 0,33 x 100%

= 33%

1.f Indeks responden pencari keadilan yang puas terhadap layanan peradilan: = 95,45%

2.a Persentase isi putusan yang diterima oleh para pihak tepat waktu : = Jumlah isi putusan yang diterima tepat waktu x 100%

Jumlah putusan = 1.020 x 100%

1.059

= 0,96 x 100%

= 96%

2.b Persentase perkara yang diselesaikan melalui mediasi :

= Jumlah perkara yang diselesaikan melalui mediasi x 100% Jumlah perkara yang dilakukan mediasi

= 2 x 100% 263

(39)

2.c Persentase berkas perkara yang diajukan banding,kasasi,PK secara lengkap dan tepat waktu : = Jumlah berkas perkara yang diajukan banding,kasasi dan PK secara lengkap x 100% Jumlah berkas perkara yang dimohonkan banding,kasasi dan PK

= 133 x 100% 217

= 0,61 x 100%

= 61%

2.d Persentase putusan perkara yang menarik perhatian masyarakat yang dapat diakses secara online dalam waktu 1 hari setelah diputus :

= Jumlah putusan perkara tipikor yang diupload dalam website x 100% Jumlah perkara tipikor yang diputus

= 0 x 100% 17

= 0 x 100%

= 0 %

3.a Persentase perkara prodeo yang diselesaikan :

= Jumlah perkara prodeo yang diselesaikan x 100% Jumlah perkara prodeo

= 0 x 100% 0

= 0 x 100%

= 0 %

3.b Persentase perkara yang diselesaikan di luar gedung pengadilan :

= Jumlah perkara yang diselesaikan di luar gedung pengadilan x 100% Jumlah perkara yang seharusnya diselesaikan di luar gedung pengadilan

= 22 x 100% 46

= 0,48 x 100% = 48 %

3.c Persentase pencari keadilan golongan tertentu yang mendapat layanan bantuan hukum (LBH) : = Jumlah pencari keadilan gol. tertentu yang mendapat layanan bantuan hukum x 100%

(40)

= 1 x 100% = 100%

4. Persentase putusan perkara perdata yang ditindaklanjuti :

= Jumlah putusan perkara yang ditindaklanjuti (dieksekusi) x 100% Jumlah putusan perkara perdata yang sudah BHT dan bersifat condemnatoir = 10 x 100%

37

= 0,27 x 100%

Referensi

Dokumen terkait

Sumber: https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2379-penimbun-obat-penjahat-kemanusiaan Bagian struktur teks editorial yang tersaji dalam kutipan teks

Subjek MP yang merupakan juara POPNAS saat duduk di bangku SMA merupakan atlet yang berasal dari Jawa Timur. Keinginan MP untuk meningkatkan kemampuan di tenis

Pelaksanaan discharge planning yaitu tindakan yang dilakukan perawat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta untuk mempersiapkan pasien dan keluarga dalam perawatan lanjutan di rumah

Selalu ada ketika peneliti galau maupun senang, terima kasih buat nasehat-nasehat yang sudah diberikan bagi peneliti, selalu kasih support agar skripsi ini cepat

Dalam paradigma pers bebas, khalayak benar – benar memiliki otoritas dalam menentukan media massa yang memiliki kredilitas dalam pemberantasan korupsi sebagai

Pada kepercayaan tokoh muncul kepercayaan yang dipercayai oleh tokoh dalam cerpen tersebut, yaitu kepercayaan tentang senandung kesedihan yang diberikan semenjak

Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala bimbingan, rahmat, dan karunia- Nya selama di Universitas Mercu Buana Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Perencanaan dan

Risk collision yang menunjukkan peluang kapal tersebut akan menubruk kapal lain dihitung dengan parameter Closest Point of Approach (DCPA) dan Time to Closest Point of Approach