• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

29

Penelitian dilakukan di Kecamatan Godean dengan 3 kelurahan, yaitu Kelurahan Sidoarum, Sidoagung, dan Sidoluhur. Penelitian dilaksanakan periode waktu Mei hingga Juni 2015 dengan jumlah responden sebanyak 115 responden memenuhi kriteria inklusi.

4.1. Karakteristik Responden

Karakteritik responden yang dibahas dalam penelitian ini berupa jenis kelamin, status perkawinan, usia, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan.

Tabel4.1. Distribusi Data Karakteristik Responden Karakteristik Responden n(%) Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan 45(39,1%) 70(60,9%) Status Pernikahan Lajang Menikah 3(2,6%) 112(97,4%) Usia 17-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun 56-65 tahun >65 tahun 6(5,2%) 25(21,7%) 37(32,2%) 32(27,8%) 10(8,7%) 5(4,3%) Pendidikan Tidak bersekolah SD SMP/Sederajat SMA/Sederajat Diploma Sarjana Pascasarjana 0(0%) 16(13,9%) 22(19,1%) 55(47,8%) 9(7,8%) 13(11,3%) 0(0%)

(2)

Tabel4.1. Distribusi Data Karakteristik Responden(lanjutan) Karakteristik Responden n(%) Pekerjaan Buruh Petani Pedagang Pegawai Swasta PNS Pensiunan Ibu RT Lainnya 18(15,7%) 3(2,6%) 22(19,1%) 11(9,6%) 4(3,5%) 4(3,5%) 44(38,3%) 9(7,8%) Pendapatan < 1 juta 1-3 juta 3-5 juta 5-7 juta >7 juta 63(57,3%) 37(33,6%) 7(6,4%) 1(0,9%) 2(1.8%) Total responden 115(100%)

4.1.1. Jenis Kelamin dan Status Pernikahan

Jenis kelamin dan status pernikahan adalah 2 hal yang berkitan erat dengan karakteristik setiap individu. Jenis kelamin terdiri dari laki – laki dan perempuan, sedangkan status pernikahan terdiri dari menikah dan lajang.

Berdasarkan Tabel 4.1 dari 115 responden yang berpartispasi dalam penelitian tersebut terdiri dari 45 responden laki – laki dengan persentase 39,1% dan 70 responden perempuan dengan persentase 60,9%. Hasil ini menunjukkan perempuan lebih banyak menjadi responden dibandingkan laki – laki. Peneliti berasumsi hal ini terjadi dikarenakan penelitian yang bersifat accidental

sampling dengan menemui sampel langsung ke rumah. Penelitian yang

berlangsung dalam hari aktif kerja lebih banyak dibanding hari liburan menyebabkan penemuaan sampel yang bersedia menjadi responden lebih banyak perempuan dikarenakan laki – laki lebih aktif dalam bekerja dan tidak berada dirumah.

Status pernikahan yang berhasil didapat dari penelitian tersebut terdiri dari 2,6% responden berstatus lajang dan 97,4% responden berstatus menikah. Kriteria inklusi yang mengharuskan responden berusia diatas 17 tahun menjadi

(3)

batasan dalam pemilihan responden. Usia > 17 tahun memiliki kemungkinan lajang lebih rendah dibandingkan usia <17 tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hertog (2006) dikutip dari Maemunah (2008), menyatakan usia 18,8 tahun merupakan usia kawin di Jawa Tengah(40). Hal inilah yang menyebabkan responden terbanyak dalam penelitian ini berada dalam status menikah.

4.1.2 Usia

Usia merupakan batasan waktu yang telah diperoleh sejak lahir hingga penelitian tersebut dilakukan yang dinyatakan dalam tahun (41). Usia besar dari 10 tahun dinamakan remaja, 18-40 tahun dinamakan dewasa dan besar 40 tahun dinamakan usia madya(41).

Usia responden yang mendominasi dalam penelitian ini berdasarkan tabel 4.1 adalah usia dewasa dan usia madya dengan rentang usia ≥ 18 tahun. Usia dewasa dan madya memungkinkan seseorang untuk berpengalaman lebih baik dibandingkan dengan mereka yang berusia remaja atau lebih kecil, namun usia tidak bisa menjadi patokan seseorang memiliki pengetahuan, sikap , dan tindakan yang baik dalam melakukan sesuatu hal.

4.1.3 Tingkat Pendidikan

Pendidikan adalah usaha dalam pengembangan kemampuan dan kepribadian yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (42). Menurut Redja Mudyaharjo (2001) dikutip dari Eka (2009) pendidikan merupakan suatu kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan yang dilakukan secara sadar oleh keluarga, masyarakat, maupun pemerintah(43) . Pendidikan memiliki tingkatan yang berjalan secara bertahap dari pendidikan terbawah hingga tertinggi.

Tingkatan pendidikan dalam penelitian ini dibagi dalam beberapa kategori diantaranya tidak bersekolah, SD, SMP/sederajat, SMA/sederajat, Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana.

Tabel 4.1 memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan yang mendominasi adalah tingkat pendidikan SMA. Hasil tabel 4.1 juga menunjukkan

(4)

keberagaman dalam tingkat pendidikan responden Kecamatan Godean. Keberagaman ini sangat memungkinkan hasil yang didapat sangat mewakili populasi di Kecamatan Godean, karena akan mampu memperlihatkan hasil yang beragam dan baik untuk di analisis. Widiastuti (2005) dikutip dari Eka (2009) menyatakan bahwa masyarakat yang berpendidikan tinggi lebih berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan dengan status kesehatan yang lebih baik(43).

4.1.4 Pekerjaan

Kategori pekerjaan yang dilakukan pengambilan data oleh peneliti diantaranya buruh, petani, pedagang, pegawai swasta, PNS (pegawai negeri sipil), pensiunan, ibu rumah tangga, dan profesi lain – lain.

Hasil data ini menunjukkan dari 115 responden yang ada pekerjaan responden tertinggi adalah ibu rumah tangga, dan pekerjaan responden terendah adalah petani.

Ibu rumah tangga menjadi responden tertinggi dalam penelitian ini dikarenakan kebiasaan ibu rumah tangga yang beraktivitas di rumah memudahkan peneliti untuk menemukan ibu rumah tangga sebagai sampel target. Hasil yang menunjukkan responden terendah adalah petani dikarenakan penelitian yang dilakukan pada jam aktivitas pertanian sedang berlangsung, sehingga ibu rumah tangga yang beraktivitas di rumah adalah sampel yang paling memungkinkan untuk ditemui secara accident (kebetulan) dan petani adalah sampel yang hanya akan bisa ditemui saat penelitian dilakukan pada malam hari.

4.1.5 Pendapatan

Pendapatan terdiri dari berbagai macam tingkatan, mulai dari pendapatan terendah hingga tertinggi. Peneliti mengkategorisasi nilai pendapatan mulai dari kurang dari 1 juta, 1-3 juta, 3-5 juta, 5-7 juta, dan 7 juta.

Dominasi pendapatan responden di Kecamatan Godean adalah kurang dari 1 juta. Hasil penelitian ini sejalan dengan pekerjaan responden yang didominasi oleh kalangan menengah ke bawah karena didasari oleh pendapatan merupakan

(5)

suatu hasil yang didapatkan dari penyerahan barang atau jasa yang biasa disebut pekerjaan(44).

Responden yang kebanyakan Ibu rumah tangga biasanya hanya melakukan aktivitas rumahan dalam membantu penghasilan suami, dan mereka yang petani sangat bergantung terhadap keadaan iklim dan musiman dalam pengolahan pertanian. Sebagian petani yang menjadi responden juga bukanlah orang yang memiliki persawahan didaerah tersebut, namun adalah buruh tani dalam persawahan orang lain sehingga penghasilan yang mereka dapatkan relatif rendah.

Buruh dan pedagang juga mendominasi dalam pekerjaan masyarakat di Kecamatan Godean, hal ini berkaitan dengan letak strategis Kecamatan Godean yang memiliki sebuah pasar tradisional yang disebut pasar Godean yang banyak menampung pedagang serta beberapa perusahaan kecil mulai dari batu bata, genteng yang banyak menampung buruh – buruh pekerja. Dominasi pekerjaan menengah kebawah inilah yang sejalan dengan pendapatan responden yang juga relatif rendah.

4.2. Tingkat Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Rutinitas dan Keberadaan Jentik

Gambaran hasil persentase tingkat pengetahuan, sikap, tindakan, rutinitas dan keberadaan jentik ditunjukkan pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.2 Distribusi Data Tingkat Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Rutinitas dan Keberadaan Jentik Variabel Independen n(%) Pengetahuan Baik Sedang Buruk 62(53,9%) 50(43,5%) 3 (2,6%)

(6)

Tabel 4.2 Distribusi Data Tingkat Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Rutinitas dan Keberadaan Jentik (lanjutan)

4.2.1 Tingkat Pengetahuan Responden Mengenai DBD

Tingkat pengetahuan merupakan suatu hal untuk mengukur seberapa jauh seseorang mampu untuk memahami, mendalami dan memperdalam perhatian dalam menghadapi konsep – konsep baru(23).

Tabel 4.2. menujukkan terdapat 3 kategori baik dan buruk dalam segi pengetahuan. Hasil menunjukkan kategori pengetahuan baik lebih banyak sekitar 9 responden dibandingkan kategori sedang dan buruk. Nilai pengetahuan kategori baik dengan jumlah 62 responden dengan persentase 53,9%, nilai pengetahuan kategori sedang jumlah 50 responden dengan persentase 43,5% buruk dan kategori buruk dengan jumlah 3 responden dengan persentase 2,6%. Hal ini sejalan dengan tingkat pendidikan responden yang semuanya pernah mendapat pendidikan sekolah.

Tabel 4.3 Distribusi Data Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Responden Tiap Pernyataan Pengetahuan Mengenai DBD

Pernyataan Benar n(%)

1. DBD disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypty 114(99,1%) Variabel Independen n(%) Sikap Positif Negatif 102(88,7%) 13 (11,3%) Tindakan Positif Negatif 101(87,8%) 14 (12,2%) Rutinitas Positif Negatif 67 (58,3%) 48 (41,7%) Keberadaan Jentik Ada Tidak ada 21 (18,3%) 94 (81,7%) Total Responden 115(100%)

(7)

Tabel 4.3 Distribusi Data Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Responden Tiap Pernyataan Pengetahuan Mengenai DBD (lanjutan)

Pernyataan Benar n(%)

2. Siklus hidup nyamuk selama satu minggu 3. Nyamuk berkembang biak di air menggenang 4. DBD tidak mengenal usia

5. Wabah DBD dimulai saat cuaca panas 6. DBD merupakan penyakit seperti flu

7. Tanda dan gejala DBD adalah demam tinggi, mengigil (rasa dingin), sakit kepala yang hebat, sakit pada otot dan sendi

8. DBD menular melalui darah

9. Siklus penularan DBD adalah manusia-nyamuk-manusia

10. Waktu nyamuk menularkan DBD 11. Cara menanggulangi DBD

12. Abate untuk membunuh larva nyamuk 13. Gerakan 3M

14. Vaksin untuk DBD

15. Parasetamol sebagai pilihan untuk DBD 16. DBD menimbulkan kematian 93 (80,9%) 108(93,9%) 113(98,3%) 66(57,4%) 46(40%) 108(93,9%) 66(57,4%) 92(80%) 59(51,3%) 109(94,8%) 100(87%) 112(97,4%) 75(65,2%) 67(58,3%) 110(95,7%)

Hasil Tabel 4.3 memperlihatkan lebih dari 100 responden memiliki pengetahuan yang benar mengenai DBD disebabkan oleh nyamuk Aedes

aeqypti, nyamuk berkembang biak di air menggenang, DBD tidak mengenal

(8)

membunuh larva nyamuk, gerakan 3M dan DBD menimbulkan kematian. Beberapa hal ini dapat dipahami responden karena hal ini biasanya telah diajarkan pada tngkat sekolah dasar. Hal ini sejalan dengan responden yang seluruhnya pernah menempuh pendidikan SD (Sekolah Dasar).

Pengetahuan yang paling sedikit diketahui responden yaitu DBD merupakan penyakit seperti flu yaitu hanya sebanyak 46(40%) responden menjawab benar. Hal ini sesuai dengan konsep bahwa kebanyakan tenaga kesehatan seperti Dokter sering salah dalam diagnosa dikarenakan DBD memiliki kecenderungan gejala awal seperti flu dan tipes(45). Keadaan ini juga terdapat pada responden yang mengikuti penelitian ini, sebagian besar dari mereka juga salah membedakan antara flu dan juga DBD. Sebagian besar responden beranggapan bahwa DBD tidak memiliki gejala seperti flu. Keadaan ini mengakibatkan banyak dari mereka yang terlambat dalam penanganan pertama DBD, dan banyak dari masyarakat di Kecamatan Godean yang mengalami keparahan hingga kematian di Kecamatan Godean.

Pengetahuan masyarakat tentang waktu penularan yang dilakukan nyamuk juga termasuk minim hampir dari setengah responden salah dalam menjawab. Responden yang menjawab salah beranggapan bahwa nyamuk penularan virus

dengue hanya beraktivitas pada pagi hari. Hasil ini bertentangan dengan

konsepnya bahwa nyamuk aedes aegypti melakukan penularan pada siang (pukul 09.00 – 10.00) sampai petang hari (pukul 16.00 – 17.00)(46). Kesalahan informasi ini dapat terjadi dikarenakan penyerapan masyarakat terhadap informasi yang ada tidak terlalu sempurna, ataupun biasnya pengetahuan warga yang hanya mendapatkan info secara tidak langsung dari televisi, radio ataupun pembicaraan warung kopi(47).

4.2.2. Sikap Responden Mengenai DBD

Hasil penelitian yang terdapat pada Tabel 4.2 terkait sikap responden baik yaitu 102 responden dengan persentase 88,7% dan buruk yaitu dengan 13 responden dengan persentase 11,3%. Hasil penelitian terkait sikap responden menunjukkan jumlah responden dengan sikap baik dalam pencegahan demam

(9)

berdarah dengue mendominasi jumlah responden.

Tabel 4.4.Distribusi Data Frekuensi dan Persentase Sikap Responden Tiap Pernyataan Sikap Mengenai DBD

Pernyataan Positif n(%)

1. Pentingnya (fogging)untuk mencegah DBD 2. Tanggungjawab pencegahan DBD oleh petugas

kesehatan dan pemerintah daerah

3. Pemberantasan larva nyamuk adalah tindakan sia- sia

4. Pengobatan DBD dengan segera tidak perlukan sebab tidak ada obat yang menyembuhkannya 5. Peran masyarakat paling penting dalam

penanggulangan DBD

6. Pengurasan bak mandi adalah sia- sia 7. Penaburan bubuk abate dirasa tidak perlu

8. Tidak ada waktu dalam penguburan barang bekas

9. Pentingnya gerakan 3M dalam mencegah DBD 10. Ketakutan terhadap DBD 110(95,7%) 80 (69,6%) 101(87,8%) 100(87%) 114(99,1%) 104(90,4%) 93(80,9%) 103(89,6%) 113(98,3%) 101(87,8%)

Tabel 4.4 memperlihatkan hasil jawaban sikap responden terhadap pertanyaan sikap yang diberikan yaitu > 80 responden menjawab positif setiap pertanyaan. Pernyataan sikap yang paling banyak positif yaitu pertanyaan ke 5 tentang masyarakat memiliki peranan penting dalam penggulangan DBD dengan responden menjawab setuju .Hal ini mengindikasikan hampir seluruh

(10)

responden setuju untuk sikap masyarakat memiliki peranan paling penting dalam penanggulangan DBD. Kesalahan sikap terbanyak yaitu terjadi pada sebagian responden yang beranggapan bahwa pencegahan DBD adalah tanggung jawab petugas kesehatan dan pemerintah daerah.

Peneliti berasumsi responden bersikap seperti ini dikarenakan masih kurangnya kesadaran responden untuk menjadi garda terdepan dalam pengatasan DBD. Hal ini dapat muncul dari responden – responden yang berfikiran pemerintah adalah tonggak awal dan yang paling bertanggungjawab dalam pengatasan setiap permasalahan masyarakat. Sikap responden seperti ini pada dasarnya bertentangan dengan konsep bahwa peran serta masyarakat sangat diperlukan dan menjadi hal utama dalam pemutusan rantai penularan penyakit DBD. Peran serta dapat terwujud dan bergantung dengan adanya sikap pada masing – masing individu(48).

4.2.3. Tindakan Responden Mengenai DBD

Tindakan merupakan suatu bentuk nyata dari perilaku yang sifatnya terbuka, aktif dan dapat diamati secara langsung(23)

Hasil penelitian pada Tabel 4.2 menunjukkan tindakan responden yang positif terdiri dari 101 responden dengan persentase 87,8% dan tindakan negatif responden terdiri dari 14 responden dengan persentaase 12,2%. Responden dengan tindakan positif jauh lebih besar dari pada responden dengan tindakan negatif. Hasil mengindikasikan responden penelitian memiliki tindakan baik dan melakukan tindakan tersebut dalam bentuk bukti data hasil jawaban pertanyaan.

Tindakan baik responden warga Kecamatan Godean hadir dari kerjasama intensif para jumantik dengan RT setempat. Program jumantik yang berjalan setiap minggunya untuk mendata dan sekaligus memberikan pengarahan, sedikit demi sedikit membawa perubahan baik pada tindakan aktif atau perilaku masyarakat Kecamatan Godean. Tindakan baik responden juga muncul dengan mulai sadarnya responden bahwa keparahan DBD atau endemic DBD yang telah melekat pada Kecamatan Godean harus segera di hapuskan.

(11)

Tabel 4.5.Distribusi Data Frekuensi dan Persentase Tindakan Responden Tiap Pernyataan Tindakan Mengenai DBD

Pernyataan Positif n(%)

1. Penutupan dengan segera tempat penampungan air

2. Pembersihan bak penampungan air terdapat terdapat jentik – jentik

3. Pemeriksaan terhadap sampah dan limbah yang menghambat aliran air di sekitar rumah

4. Pembuangan ke tempat sampah 5. Partisipasi dalam pencegahan DBD.

6. Pemeriksaan jentik nyamuk di tempat penampungan air

7. Pemeriksaan dan pembersihan saluran air/talang air ketika musim hujan.

110(95,7%) 113(98,3%) 109(94,8%) 101(87,8%) 102(88,7%) 107(93%) 93(80,9%)

Tabel 4.5 menunjukkan hasil sebaran penyataan yang sangat positif. Besar dari 90 responden melakukan tindakan positif PSN-DBD, mulai dari menutup penampungan air, pengatasan keberadaan jentik, memeriksa dan mengatasi sampah sebagai salah satu perkembangan jentik baik itu yang menumpuk ataupun yang mengganggu setiap aliran air yang ada.

Tindakan terbanyak dilakukan responden adalah penutupan segera tempat penampungan air 110(95,7%). Tindakan ini adalah tindakan yang paling mudah dan biasa dilakukan responden. Tempat penampungan air yang banyak memiliki penutup mengharuskan responden secara tidak langsung untuk terbiasa dalam menutupnya kembali setelah penggunaan.

(12)

Pemeriksaan Jentik nyamuk di tempat penampungan air adalah salah satu tindakan positif yang banyak dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Godean. Hal ini terjadi lewat peran sentral Jumantik (Juru Pengamat Jentik). Tugas khusus jumantik untuk melakukan pelaporan setiap bulan ke Puskesmas, mengharuskan Jumantik untuk selalu intensif melakukan pemantauaan jentik . Keadaan ini menyebakan frekuensi pertemuan jumantik dan warga sangatlah tinggi. Kegiatan jumantik dalam melakukan pengamatan dirumah warga mengakibatkan warga lebih memahami apa yang harus dilakukan. Hal inilah yang menjadikan warga terbiasa untuk melakukan pemantauaan jentik.

Pembersihan dan pemeriksaan saluran air atau talang ketika musim hujan adalah tindakan paling minim yang dilakukan responden di Kecamatan Godean. Keadaan ini terjadi karena saluran air dan talang yang susah untuk dijangkau. Beberapa dari responden memaparkan bahwa saluran air mereka ada yang dikubur ditanah, ataupun di pasang diatas atap. Untuk saluran air seperti selokan ataupun got kebanyakan dari warga di Kecamatan Godean tidak memiliki saluran air didepan rumah. Keadaan ini mengakibatkan warga hanya melakukan pembersihan atau pemeriksaan jika terjadi sumbatan saja.

4.2.4. Rutinitas Responden dalam Penanganan DBD

Kategorisasi dalam penentuan data rutinitas responden dalam penelitian terdiri dari kategori positif dan negatif.

Hasil penelitian yang terdapat pada Tabel 4.2 menunjukkan rutinitas responden dalam pemberantasan sarang nyamuk dengan kategori responden positif adalah 67 responden dengan persentase 58,3% dan kategori responden negative adalah 48 responden dengan 41,7 %.

Tabel 4.6.Distribusi Frekuensi dan Persentase Rutinitas Responden Tiap Pernyataan Rutinitas Mengenai DBD

Pernyataan Positif n(%)

(13)

Tabel 4.6.Distribusi Frekuensi dan Persentase Rutinitas Responden Tiap Pernyataan Rutinitas Mengenai DBD (lanjutan)

Pernyataan Positif n(%)

2. Kegiatan menguras bak mandi/wc 1 kali seminggu

3. Kegiatan menguras drum/ember 1 kali seminggu

4. Penguburan barang bekas 5. Pembuangan barang bekas

6. Pemanfaatan dan pengolahan barang bekas 7. Penutupan tempat penampungan air

8. Penutupan tempat penampungan air oleh keluarga

9. Pemakaiaan bubuk abate dalam jangka waktu 3 bulan

10. Pembersihan talang/saluran air 1 minggu sekali

11. Pembersihan angin-angin/ventilasi rumah 1 minggu sekali 112(97,4%) 108(93,9%) 94(81,7%) 93(80,9%) 68(59,1%) 108(93,9%) 107(93%) 51(44,3%) 74(64,3%) 78(67,8%)

Hasil data pada Tabel 4.6 menunjukkan bentuk tindakan berkelanjutan yang dilakukan responden di Kecamatan Godean. Hasil ini menunjukkan bentuk tindakan berkelanjutan (rutinitas) yang paling banyak dilakukan oleh responden di kecamatan Godean adalah melakukan kegiatan menguras bak mandi/WC, ember 1 kali dalam seminggu dengan 112(97,4%), 108(93,9%) responden dan penutupan tempat penampungan air dengan 108(93,9%) responden. Peneliti berasumsi sebuah kegiatan berkelanjutan itu akan selalu hadir dari suatu kebiasaan dan mudah untuk dilakukan. Asumsi ini membawa peneliti untuk

(14)

menyimpulkan kegiatan menguras bak mandi/wc ini adalah hal yang lumrah dan mudah untuk dilakukan sehingga sebagian responden bertindak positif dengan melakukan hal ini.

Penggunaan bubuk Abate 3 bulan sekali adalah rutinitas positif yang paling rendah dilakukan responden di Kecamatan Godean, yaitu sebanyak 51(44,3%) responden. Sebagian besar dari responden masih khawatir penggunaan air bersamaan dengan pemberian bubuk abate, sehingga cara – cara mudah seperti menguras dan melakukan penutupan tempat penampungan air lebih menjadi pilihan masyarakat di Kecamatan Godean.

Pemanfaatan dan pengolahan barang bekas juga menjadi rutinitas yang rendah yang dilakukan mayarakat di Kecamatan Godean, membuang barang bekas adalah rutinitas yang lebih mereka sukai. Tidak terdapat bimbingan dan sarana pengolahan serta kesibukan kerja ataupun mengurus rumah tangga mengakibatkan kegiatan pemanfaatan dan pengolahan sangat sedikit dilakukan.

4.2.5 Keberadaan Jentik

Keberadaan jentik menjadi salah satu variabel penentu dan titik ukur dalam penelitian yang dilakukan. Keberadaan jentik di suatu daerah atau tempat mengindikasikan terdapatnya populasi nyamuk yang berpotensi terhadap timbulnya kejadian demam berdarah dengue(6).

Keberadaan jentik pada suatu rumah dalam penelitian tersebut di kategorisasi menjadi 2 yaitu ada dan tidak ada. Hasil penelitian yang terdapat pada Tabel 4.2 menunjukkan 21 (18,3%) rumah responden ada jentik dan 94(81,7%) rumah responden tidak ada jentik atau bebas jentik. Hasil penelitian dari Parida,dkk (2012) didapatkan nilai rumah responden terdapat jentik yang lebih rendah, yaitu 5 (5%) rumah ada jentik dan 95 (95%) rumah tidak terdapat jentik(49). Keberadaan jentik di Kecamatan Godean ini termasuk tinggi, peneliti berasumsi banyak hal menyebabkan keberadaan jentik di Kecamatan Godean masih tergolong tinggi diantaranya ada warga yang memiliki pengetahuan yang baik namun tidak mampu untuk melakukan tindakan yang baik, banyak warga yang masih bersikap dengan beranggapan bahwa peran serta dalam pengatasan

(15)

keberadaan jentik adalah tugas dari pemerintah, masih adanya warga yang melakukan tindakan baik namun tidak mampu untuk mempertahankan keberlanjutan dan konsistensi tindakan baik tersebut, karena pada dasarnya tindakan baik tidak akan berefek banyak jika frekuensi tindakan sangat rendah.

4.3. Distribusi Kontainer Positif Jentik

Gambar 4.1. Data Kontainer kecamatan Godean

Gambar 4.1 menunjukkan kontainer yang diperiksa sebanyak 231 kontainer. Dari 231 kontainer ditemukan kontainer positif jentik dengan 23 kontainer. Persentase nilai yang didapatkan yaitu 10% kontainer positif jentik dan 90% kontainer negatif jentik.

Perbandingan penemuan jentik dengan semua kontainer yang diperiksa menunjukkan nilai 1/9,9. Hasil ini memperlihatkan bahwa lebih kurang dari setiap 10 kontainer yang diperiksa terdapat 1 kontainer positif jentik dan 9 kontainer negatif jentik. Kontainer adalah hal paling memungkinkan untuk menunjukkan keberadaan jentik. Masih adanya jentik pada kontainer haruslah menjadi perhatian serius. Tanpa adanya perhatian dalam pengguanaan kontainer secara tepat dapat mengakibatkan keberadaan jentik menjadi tidak terkontrol. Pengurangan penggunaan kontainer ataupun penggunaan kontainer secara bijaksana dan sesuai dengan cara pencegahan demam berdarah dengue akan dapat memperkecil keberadaan jentik. Kegiatan penutupan kontainer berisi air, pengurasan kontainer secara berkelanjutan, pemberian bubuk abate dan tindakan –

23

208

(16)

tindakan positif lainnya akan mampu untuk mengurangi dan menekan keberadaan jentik pada kontainer.

4.4. Indikator Keberhasilan Pencegahan DBD ( ABJ, HI, CI, dan BI )

Gambar 4.2.Nilai ABJ, HI, CI, dan BI Kecamatan Godean Ket: Merah = ABJ, Kuning = HI, Hijau = CI, dan Biru= BI.

Hasil gambar 4.1. menunjukkan persentase indikator keberhasilan pencegahan Demam Berdarah Dengue. Indikator ini dinilai dengan mengolah data persentase antara kontainer postif jentik terhadap seluruh kontainer yang diperiksa yang disebut CI, data persentase antara rumah positif larva terhadap seluruh rumah yang diperiksa yang disebut HI serta data persentase jumlah kontainer positif jentik dalam seratus rumah/ sebanyak rumah yang di periksa menjadi responden inklusi(50).

Nilai angka bebas jentik (ABJ) yang didapat adalah 81,73% . Hasil ini menunjukkan nilai yang <95% yang menandakan bahwa angka bebas jentik yang sangat rendah dan memungkinkan tingginya keberadaan vektor disuatu daerah. Nilai ABJ yang baik dalam langkah pencegahan DBD adalah > 95%(18).

Nilai HI, CI, dan BI berturut –turut adalah 18,26%, CI 9,95%, dan BI 20% dan termasuk dalam kategori kepadatan jentik sedang(38). Nilai HI > 5% dan atau BI >20% menandakan lokasi tersebut sensitive terhadap infeksi dengue dan

0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% ABJ HI CI BI 81.74% 18.26% 9.96% 20%

INDIKATOR KEBERHASILAN

PENCEGAHAN DBD

(17)

diperlukan sebuah tindakan dan langkah – langkah pencegahan yang lebih memadai(19).

Berdasarkan hal tersebut disimpulkan Kecamatan Godean termasuk kategori tempat dengan kepadatan jentik sedang dan memiliki angka bebas jentik yang rendah serta memiliki kerentanan infeksi dengue. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Prasetyowati,dkk (2014) yang memperlihatkan kerentanan infeksi dengue dan kemungkinan tingginya keberadaan vektor DBD dengan data hasil HI 29,8%, BI 47,7%, CI 61,4%, dan ABJ 70,2%(51).

4.5 Hubungan Usia, Pendidikan, Pekerjaan dan Pendapatan terhadap Tindakan PSN DBD

Tabel 4.7 Distribusi data hubungan usia, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan terhadap tindakan PSN DBD

Variabel Kategori Tindakan Total Nilai (sig) Positif (n%) Negatif (n%) Usia 17-25tahun 26-35tahun 36-45tahun 46-55tahun 56-65tahun >65 tahun 3(50%) 22(88%) 35(94,60%) 27(84,37%) 9(90%) 5(100%) 3(50%) 3(12%) 2(5,40%) 5(15,63%) 1(10%) 0(0%) 6(100%) 25(100%) 37(100%) 32(100%) 10(100%) 5(100%) 0,305 Pendidikan Rendah Menengah Tinggi 15(93,75%) 67(87%) 19(86,36%) 1(6,25%) 10(13%) 3(13,64%) 16(100%) 77(100%) 22(100%) 0,539 Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja 54(80,60%) 47(97.91%) 13(19,40) 1(2,09%) 67(100%) 48(100%) 0,005 Pendapatan >UMK <UMK 49(92,45%) 52(83,87%) 4(7,55%) 10(16,13) 53(100%) 62(100%) 0,163 Jumlah 101(87,83%) 14(12,17%) 115(100%)

4.5.1 Hubungan antara Usia dengan Tindakan PSN DBD

(18)

terhadap tindakan PSN - DBD. Pengujian dengan pilihan uji spearman’s rho. Hasil penelitian signifikansi > 0,05 bermakna H0 di terima, sedangkan signifikansi < 0,05 bermakna H0 ditolak. H0 diterima menandakan tidak terdapatnya hubungan sedangkan H0 ditolak mengindikasikan terdapatnya hubungan yang bermakna(30).

Hasil Tabel 4.7. menunjukkan nilai signifikansi >0,05 yaitu 0,305. Hasil analisis ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ni nyoman dan I Made (2014) yang menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,368 yang berarti > 0.05 manadakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan tindakan PSN – DBD(52).

Hasil penelitian ini berbanding terbalik dengan konsep yang ada. Teori Green dalam kutipan Kristin,dkk menyebutkan bahwa umur merupakan suatu faktor predisposisi terjadinya perubahan perilaku. Dengan perbedaan usia akan mempengaruhi seseorang dalam melakukan perilaku kesehatan. Semakin matang usia seseorang akan menyebabkan seseorang mampu berfikir lebih baik. Dengan kematangan usia pulalah seseorang akan mampu untuk memiliki perilaku yang terbaik untuk mencapai tujuan yang baik(53). Konsep ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Monintja (2015) yang menunjukkan nilai signifikansi < 0.05 yaitu sebesar 0,011 yang menadakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan tindakan PSN DBD(54).

Hasil penelitian yang menunjukkan makna berbeda dengan konsep yang ada disebabkan berbagai faktor. Dilihat dari kelompok usia 46-55 tahun dibandingkan dengan kelompok usia dibawah yaitu kelompok usia 36 – 45 tahun memperlihatkan kelompok usia 46 – 55 tahun memiliki tindakan negatif yang lebih tinggi, yaitu dengan persentase 15,62% responden lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 36-45 tahun yang hanya 5,40% responden. Hasil pendalaman data didapatkan bahwa dari 15,62% responden tersebut 9,37% diantaranya memiliki pengetahuan yang kurang maksimal atau sedang hingga buruk dan 6,25% diantaranya berpengetahuan baik namun bekerja sebagai buruh dan pedagang yang begitu menyita waktu.

(19)

Pengetahuan yang buruk akan menghalangi seseorang untuk mampu bertindak positif, ketidakpahaman akan sesuatu tindakan akan berefek terhadap keengganan dalam melakukan tindakan tersebut, hal inilah yang menyebabkan mereka dengan usia lebih tinggi tetap tidak mampu bertindak positif dikarenakan kurangnya pengetahuan terkait tindakan positif tersebut. Pekerjaan sebagai buruh dan pedagang adalah pekerjaan yang hampir tidak mengenal hari libur dan juga sangat terpatok rutinitas waktu. Buruh merupakan pekerjaan yang hamper menghabiskan separuh hari untuk bekerja dikarenakan target-target perusahaan yang mengharuskan buruh bekerja maksimal. Pedagang juga memperlihatkan hal yang sama, pekerjaan sebagai pedagang mampu menghabiskan waktu mulai dari persiapan, perencanaan, pengadaan, proses jual – beli, perhitungan untung – rugi, evaluasi dan hal lain yang berlangsung sepanjang hari. Faktor – faktor inilah yang masih menyebabkan seseorang meskipun memiliki kematangan usia, dengan adanya pengetahuan yang buruk dan kesibukan yang tidak bisa ditoleransi menyebabkan tindakan positif yang dilakukan menjadi terhambat

4.5.2 Hubungan antara Pendidikan terhadap Tindakan PSN DBD

Tabel 4.7 menunjukkan hasil pengujian hubungan antara variabel pendidikan terhadap Tindakan PSN DBD. Pengujian dengan pilihan uji spearman’s rho. Hasil penelitian signifikansi > 0,05 bermakna H0 di terima, sedangkan signifikansi < 0,05 bermakna H0 ditolak. H0 diterima menandakan tidak terdapatnya hubungan sedangkan H0 ditolak mengindikasikan terdapatnya hubungan yang bermakna(30).

Hasil penelitian pada tabel 4.7 menunjukkan nilai signifikansi >0,05 yaitu 0,539. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan terhadap tindakan PSN-DBD. Muttia (2013) dalam penelitiannya menunjukkan hal yang berbeda, dimana dari hasil penelitian didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,033 yang berarti terdapat hubungan antara pendidikan dengan tindakan PSN-DBD(55). Cahyo (2006) dikutip dari Nia dan Yuli dalam penelitiannya memperlihatkan hasil yang sejalan dengan Muttia (2013) yang

(20)

menunjukkan bahwa adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktik pencegahan penyakit(56).

Latar belakang pendidikan yang tinggi pada dasarnya akan membawa seseorang untuk dapat meningkatkan perilaku dan sikapnya. Notoatmodjo(2013) dalam Nia dan Yuli menyatakan hal yang sama bahwa tindakan merupakan sebuah respon internal setelah adanya pemikiran, tanggapan, sikap batin dan wawasan(56). Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin mudah dalam menerima dan mengembangkan pengetahuan dan tekhnologi sehingga mampu untuk bertindak positif dengan kematangan pengetahuan yang dimilikinya(57).

Hasil penelitian yang bertolak belakang dengan konsep yang ada tersebut dapat disebabkan berbagai faktor. Tabel 4.7 menunjukkan terdapat responden dengan pendidikan sedang tetap bertindak negative sebesar 13%. Hasil ini menunjukkan hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan rendah dengan tindakan negative hanya 6,25%.Pendalaman data yang dilakukan dari 13% responden tersebut 6,5% responden belum berpengetahuan baik. 6,5% responden lainnya berpengetahuan baik namun bekerja sebagai buruh dan pedagang.

Pendidikan yang tinggi belum menjamin seseorang memiliki pengetahuan yang cukup.Pengetahuan yang tinggi biasanya dipengaruhi oleh pendidikan yang tinggi, namun tidak semua mereka yang berpendidikan tinggi yang mampu mengetahui banyak hal. Fokus pendidikan berbeda dapat menyebabkan perbedaan pengetahuan seseorang. Berkaitan dengan DBD, Mereka yang lulusan SMA kemungkinan memiliki fokus pembelajaran yang lebih baik terkait DBD dibandingkan dengan mereka yang lulusan SMK. Hal ini dapat terjadi dikarenakan focus keilmiahan lebih banyak diajarkan pada lembaga SMA dibandingkan SMK yang lebih berfokus pada keterampilan siswanya. Lingkungan komunikasi dan fokus pembelajaran inilah yang menyebabkan perbedaan pengetahuan diantara responden.

(21)

Faktor kesibukan kerja seperti pekerjaan – pekerjaan yang menyita waktu seperti buruh dan pedagang juga tidak dapat dipisahkan dari faktor pemungkin seseorang meskipun berpendidikan tinggi dan berpengetahuan baik tetap tidak mampu untuk bertindak positif.

Tabel 4.7 juga menunjukkan responden dengan pendidikan rendah mampu untuk bertindak positif sebesar 93,75%. Pendalaman data yang dilakukan didapatkan bahwa dari 93,75% responden tersebut, 43,75% responden memiliki pengetahuan baik dan 56,25% responden lainnya berpengetahuan sedang hingga buruk namun bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Pendidikan yang rendah belum tentu menyebabkan seseorang memiliki pengetahuan yang rendah. Pengetahuan dapat dihasilkan dari banyak hal, mulai dari tempat bekerja, interaksi sosial di masyarakat dan berbagai program penyuluhan. Hal ini menandakan bahwa meskipun seseorang berpendidikan rendah, namun dengan pengetahuannya yang baik seseorang tersebut tetap mampu untuk bertindak positif.

Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang memungkinkan seseorang untuk selalu berinteraksi dengan jumantik. Kegiatan tindakan PSN-DBD yang dilakukan jumantik setiap minggunya dirumah – rumah warga secara tidak langsung membawa ibu rumah tangga yang selalu ada dirumah untuk bertindak positif dalam PSN – DBD tanpa disadarinya. Hasil ini menyimpulkan bahwa meskipun seseorang berpendidikan rendah dan berpengetahuan buruk tetap akan mampu untuk bertindak positif PSN-DBD saat profesinya selalu berada dirumah dan selalu berinteraksi dengan jumantik.

4.5.3 Hubungan antara Pekerjaan Terhadap Tindakan PSN DBD

Tabel 4.7 menunjukkan hasil pengujian hubungan antara variabel pekerjaan terhadap Tindakan PSN - DBD. Pengujian dengan pilihan uji spearman’s rho. Hasil penelitian signifikansi > 0,05 bermakna H0 di terima, sedangkan signifikansi < 0,05 bermakna H0 ditolak. H0 diterima menandakan tidak terdapatnya hubungan sedangkan H0 ditolak mengindikasikan terdapatnya

(22)

hubungan yang bermakna(30).

Hasil analisis data menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,010 disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan tindakan PSN- DBD. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Muttia (2013) yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan terhadap perilaku PSN-DBD pada ibu dengan nilai signifikansi 0,021(55).

Notoadmodjo dalam Monintja(2015) dengan konsepnya menyatakan hal yang sejalan dengan penelitian ini mengatakan bahwa pekerjaan memiliki pengaruh terhadap pengetahuan seseorang. Lingkungan pekerjaan memberikan pembelajaran tersendiri terhadap seseorang sehingga seseorang tersebut memiliki pengalaman dan pengetahuan yang baik secara langsung maupun tidak langsung(54).

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang mampu untuk bertindak positif dalam PSN-DBD. Pendalaman data yang dilakukan peneliti menemukan sebuah hasil bahwa dari 67 responden yang aktif bekerja 80,60% memiliki tindakan positif terhadap PSN – DBD. Dari 80,60% responden tersebut sebagian besar memiliki pendidikan sedang hingga tinggi dan memiliki pengetahuan yang baik mengenai DBD. Hasil ini semakin menunjukkan bahwa mereka yang bekerja adalah mereka yang memiliki pendidikan sedang- tinggi dan pengetahuan yang baik sehingga mampu untuk melakukan tindakan positif. Faktor lainya yang memungkin responden yang bekerja memiliki tindakan positif adalah pengetahuan yang tinggi yang berasal dari pengalaman dengan interaksi yang terjadi antara responden saat bekerja dengan banyak kalangan sehingga pertukaran informasi lebih baik lagi dan didapatkanlah pengetahuan yang maksimal sehingga tindakan positif dapat terbentuk dengan sangat baik.

Hasil berbeda didaptkan oleh penelitian Monintja (2015) yang meneliti tentang hubungan antara karakteristik individu, pengetahuan dan sikap dengan tindakan PSN –DBD masyarakat Kelurahan Malalayang I Kecamatan Malalayang Kota Manado yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan tindakan PSN – DBD. Harmani dan Harmal

(23)

(2013) dikutip dari Monintja (2015) memperlihatkan hal yang sama yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik ibu terhadap perilaku pencegahan penyakit DBD di Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, dibuktikan dengan nilai signifikansi > 0,05 yaitu 0,499(54).

Tabel 4.7 juga menunjukkan masih adanya mereka yang bekerja namun tetap memiliki tindakan negatif. Terdapat responden aktif bekerja memiliki tindak negatif PSN-DBD sebesar 19,40% responden. Dari hasil pendalaman data didapatkan bahwa 8,95% responden diantaranya berpengetahuan sedang dan buruk sehingga tidak mengetahui secara maksimal mengenai demam berdarah

dengue. Pengetahuan yang maksimal adalah hal yang sangat penting yang

akan membawa seseorang untuk melakukan tindakan yang tepat. Dan 10,45% responden lainnya memiliki pengetahuan baik namun memilliki pekerjaan yang hampir tidak mengenal hari libur dan juga sangat terpatok rutinitas waktu yaitu sebagai buruh dan pedagang. Keadaan pekerjaan seperti inilah yang menyebabkan seseorang dengan status bekerja dan memiliki pengetahuan baik tetap tidak mampu untuk melakukan tindakan positif dikarenakan kesibukan dalam pekerjaannya.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian dari hasil penelitian pada tabel 4.7 menunjukkan diantara responden dengan status tidak bekerja terdapat (97,91%) memiliki tindakan positif . Pendalaman data dari (97,91%) responden tersebut hampir seluruhnya berpendidikan tinggi dan (51,06%) lainnya berpengetahuan tinggi. Hasil ini jelas memperlihatkan bahwa meskipun seseorang tidak bekerja belum tentu seseorang tersebut tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang baik sehingga upaya tindakan positif tetap mampu dilakukan. Kesimpulannya, bahwa pekerjaan memiliki hubungan terhadap tindak postif seseorang dalam PSN – DBD, namun ada berbagai faktor yang menyebabkan beberapa diantaranya menghasilkan hal yang berbeda.

(24)

4.6.4. Hubungan Antara Pendapatan Terhadap Tindakan PSN DBD

Tabel 4.7 menunjukkan hasil pengujian hubungan antara variabel pendapatan terhadap Tindakan PSN - DBD. Pengujian dengan pilihan uji spearman’s rho. Hasil penelitian signifikansi > 0,05 bermakna H0 di terima, sedangkan signifikansi < 0,05 bermakna H0 ditolak. H0 diterima menandakan tidak terdapatnya hubungan sedangkan H0 ditolak mengindikasikan terdapatnya hubungan yang bermakna(30).

Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi >0.05 yaitu 0,163 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pendapatan dengan tindakan PSN- DBD. Hasil yang sama juga diapaparkan Muttia (2013) yang menunjukkan nilai signifikansi >0.05 yaitu 0,150 hasil ini berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara pendapatan terhadap tindakan PSN – DBD(55).

Tabel 4.7 memperlihatkan bahwa mereka dengan pendapatan >UMK bertindak positif lebih besar dibandingkan dengan mereka yang berpendapatan <UMK yaitu sebesar 92,45% berbanding 83,87%. Pendapatan yang tinggi membawa seseorang untuk dapat bertindak maksimal dalam tindakan PSN-DBD. Kesanggupan membeli alat dan bahan yang berfungsi untuk memaksimal tindakan PSN-DBD menyebabkan seseorang dengan pendapatan baik akan mampu untuk bertindak positif lebih baik.

Tabel 4.7 juga memperlihatkan masih tingginya persentase responden bertindak positif meskipun berpendapatan <UMK, yaitu sebesar 83,87%. Banyak faktor diluar pendapatan yang menyebabkan seseorang dengan pendapatan rendah tetap mampu bertindak positif. Pendalaman data yang dilakukan peneliti dari sekitar 83,87% responden tersebut sebagian besar responden dengan pendidikan sedang hingga tinggi. Pendidikan sedang hingga tinggi adalah pendidikan yang tealh melewati pendidikan dasar. Berbagai macam pengalaman pendidikan kesehatan telah ditempuh oleh mereka yang telah memasuki jenjang pendidikan sedang hingga tinggi. Mico dan Ross(1975) dikutip dari Machfoedz dan Eko (2005) menyatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah sebuah penerapan ilmu dalam merubah perilaku kesehatan(58).

(25)

Jadi meskipun seseorang tidak memiliki pendapatan yang besar namun dengan pendidikan kesehatan yang baik akan tetap mampu membawa seseorang untuk berprilaku positif untuk kesehatan yang lebih baik.

Faktor lain yang menyebabkan tidak ada hubungan antara pendapatan dan tindakan PSN-DBD adalah sebagian besar dari tindakan positif PSN-DBD adalah kegiatan yang tidak memerlukan biaya. Hal ini mengindikasikan bahwa kurangnya ketersediaan biaya seseorang tidak akan menghalangi untuk bertindak positif dalam PSN-DBD. Mereka yang memiliki biayapun belum tentu mampu melakukan tindakan positif , karena kembali konsep bahwa perilaku positif akan hadir dari motivasi dan niat, dan biaya hanyalah sebagai pendukung maksimalnya sebuah tindakan.

4.6 Hubungan Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Rutinitas terhadap Keberadaan Jentik

Tabel 4.8 Distribusi data hubungan Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Rutinitas terhadap Keberdaan Jentik

Variabel Kategori Keberadaan Jentik Total Nilai (Signifikansi) Ada (n%) Tidak Ada (n%) Pengetahuan Baik Sedang Buruk 11(17,74%) 10(20%) 0(0%) 51(82,26%) 40(80%) 3(100%) 62(100%) 50(100%) 3(100%) 0,977 Sikap Positif Negatif 17(16,66%) 4(30,77%) 85(83,34%) 9(69,23%) 102(100%) 13(100%) 0,219 Tindakan Positif Negatif 13(12,87%) 8(57,14%) 88(87,13%) 6(42,86%) 101(100%) 14(100%) 0,000 Rutinitas Positif Negatif 11(16,42%) 10(20,84%) 56(83,58%) 38(79,16%) 67(100%) 48(100%) 0,550 Jumlah 21(18,26%) 94(81,74%) 115(100%)

4.6.1 Hubungan antara pengetahuan dengan keberadaan jentik

Tabel 4.8 menunjukkan hasil pengujian hubungan antara variabel pengetahuan terhadap keberadaan jentik. Pengujian dengan pilihan uji spearman’s rho. Hasil penelitian signifikansi > 0,05 bermakna H0 di terima, sedangkan signifikansi < 0,05 bermakna H0 ditolak. H0 diterima menandakan tidak terdapatnya hubungan sedangkan H0 ditolak mengindikasikan terdapatnya

(26)

hubungan yang bermakna(30).

Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi > 0,05 yaitu 0,977. Nilai signifikansi > 0,05 menandakan Ho diterima dan disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan keberadaan jentik. Hasil penelitian ini sejalan dengan Al Richa Nasir 2014 yang memiliki nilai signifikansi > 0,05 yaitu 0,309(42). Penelitian lain oleh Rajabasa, Bandar Lampung diperoleh nilai signifikansi > 0,05 yaitu 0,325. Hasil penelitian Yudhaastuti dan Anny (2005) dikutip dari Aisah,dkk memperlihatkan hasil yang berbeda dimana terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan keberadaan jentik dengan nilai signifikansi =0,001 atau < 0,05(25).

Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan keberadaan jentik disebabkan berbagai faktor. Tabel 4.8 memperlihatkan mereka dengan pengetahuan buruk memiliki persentase lebih besar tidak terdapat jentik dibandingkan dengan mereka yang berpengetahuan sedang hingga baik dengan persentase 100%. Pendalaman data yang dialkuakn peneliti sebagian besar diantaranya memiliki tindakan positif. Tabel 4.8 juga menunjukkan terdapat 17,74% responden dengan pengetahuan baik namun terdapat jentik , pendalaman data yang dialkuakn didapatkan bahwa sebagian besar memiliki tindakan dan rutinitas yang negatif.

Pengetahuan tertentu tentang kesehatan mungkin penting sebelum tindakan kesehatan pribadi terjadi, tetapi hal tersebut tidak akan terjadi tanpa dukungan motivasi yang tinggi untuk bertindak atau dasar pengetahuan yang cukup untuk menunjang hal tersebut(5). Keadaan tersebut memungkinkan seseorang yang berpengetahuan tidak baik mampu melakukan sebuah tindakan yang lebih baik dalam pemberantasan keberadaan jentik dibandingkan yang berpengetahuan baik karena didasari oleh niat dan motivasi. Hal lain yang mendasari adalah bahwa pengetahuan hakekatnya dibentuk dari pengalaman yang berulang – ulang, namun memiliki pengetahuan tentang sesuatu hal bukan berarti mengerti akan sesuatu tersebut(59). Seseorang dengan pengetahuan baik tentang DBD belum tentu mampu untuk bertindak baik dalam pengatasan keberadaan jentik karena tidak memahami apa yang harus dilakukan dan

(27)

bagaimana cara pengatasan yang tepat dalam mengurangi keberadaan jentik. Penanggulangan DBD harus dimulai dengan pengatasan keberadaan jentik. Langkah awal terpenting yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah memiliki pengetahuan yang cukup dan juga mampu memahami apa yang diketahui sehingga masyarakat lebih tepat dalam mengambil tindakan pencegahan demam berdarah dengue melalui pemberantasan keberadaan jentik. Puskesmas dengan program jumantik (juru pemantau jentik) atau program edukasi diharapkan mampu berperan penting dalam pemberian informasi yang tepat dan memberikan pemahaman yang sesuai sehingga masyarakat sebagai garda terdepan dalam pengatasan demam berdarah dengue mampu melakukan hal yang seharusnya.

4.6.2 Hubungan antara Sikap dengan Keberadaan Jentik

Tabel 4.8 menunjukkan hasil pengujian hubungan antara variabel sikap terhadap keberadaan jentik. Pengujian dengan pilihan uji spearman’s rho. Hasil penelitian signifikansi > 0,05 bermakna H0 di terima, sedangkan signifikansi < 0,05 bermakna H0 ditolak. H0 diterima menandakan tidak terdapatnya hubungan sedangkan H0 ditolak mengindikasikan terdapatnya hubungan yang bermakna(30). Hasil analisis hubungan antara sikap dengan keberadaan jentik di kecamatan Godean. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi > 0,05 yaitu 0,219. Nilai signifikansi > 0,05 menandakan Ho diterima dan disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan keberadaan jentik. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Jochlin dan Zaenal (2015) dimana nilai signifikansi yang didapat > 0,05 yaitu 0,075 sehingga keputusan Ho diterima. Hal ini berarti sejalan bahwa tidak ada hubungan antara sikap dengan keberadaan jentik penular DBD. Penelitian Ririh dan Anny (2005) dikutip dari Jochlin dan Zaenal (2015) menunjukkan hal yang sama dengan menyatakan bahwa tidak ada hubungan antar sikap dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aeqypti di kelurahan Wonokusumo dengan nilai p Value (0,113)(5).

(28)

disebabkan oleh berbagai faktor. Tabel 4.8 menunjukkan responden yang bersikap positif masih ada 16,66% responden dengan terdapat jentik. Pendalaman data yang dilakukan bahwa dari 16,66% responden tersebut didapatkan bahwa 6,86% responden diantaranya memiliki pengetahuan yang sedang hingga buruk, dan 6,86% responden dengan tindakan yang negatif, dan 2,94% responden lainnya menunjukkan hal sebaliknya. Hasil ini memperlihatkan bahwa mereka yang memiliki sikap yang positif belum tentu akan memiliki pengetahuan yang baik sehingga tidak mengetahui tindakan positif yang seharusnya dilakukan. Begitu juga dengan mereka yang memiliki sikap yang baik namun tidak mampu untuk bertindak positif, karena pada dasarnya sebuah tindakan positif tidak cukup hanya dengan pengetahuan yang baik dan sikap positif, harus selalu ada tindakan yang akan dapat hadir dari mereka yang memiliki niat dan motivasi.

Azwar (2008) mendefenisikan sikap sebagai bentuk predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial,atau secara sederhana dapat didefenisikan sebagai respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan(26). Sikap juga dapat disimpulkan sebagai suatu respon seseorang dengan disertai adanya persaan tertentu terhadap suatu objek atau situasi(23) .Perasaan ini akan mendasari seseorang untuk mengatakan sebuah opini dari pada keadaan sebenarnya, sehingga hal ini mengakibatkan banyak kejanggalan sikap yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya di lakukan(23). Sikap responden adalah sesuatu hal yang tertutup, jadi meskipun responden setuju terhadap sikap positif dalam pengatasan keberadaan jentik namun belum tentu responden mampu melakukan sikap yang sesuai dengan yang disetujui(18).

Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya sikap yang merupakan faktor predisposisi sebuah tindakan akan membawa seseorang untuk mampu bertindak positif dan menghasilkan pemberantasan keberadaan jentik sehingga keberadaan jentik dapat di kurangi. Namun tetap terdapat berbagai hal yang menyebabkan sikap tidak berhubungan dengan keberadaan jentik. Mulai dari faktor pengetahuan yang kurang maksimal(sedang hingga buruk), tindakan yang buruk

(29)

yang bertolak belakang dengan sikap dan faktor sikap yang selalu hadir berdasarkan opini menjadikan dasar yang buruk dalam pemberantasan keberadaan jentik. Sehingga meskipun seseorang telah memiliki sikap positif namun keberadaan jentik tetap tidak dapat dicegah.

4.6.3 Hubungan antara Tindakan dengan Keberadaan Jentik

Tabel 4.8 menunjukkan hasil pengujian hubungan antara variabel tindakan terhadap keberdaan jentik. Pengujian dengan pilihan uji spearman’s rho. Hasil penelitian signifikansi > 0,05 bermakna H0 di terima, sedangkan signifikansi < 0,05 bermakna H0 ditolak. H0 diterima menandakan tidak terdapatnya hubungan sedangkan H0 ditolak mengindikasikan terdapatnya hubungan yang bermakna(30). Hasil analisis hubungan antara tindakan dengan keberadaan jentik di kecamatan Godean menunjukkan nilai signifikansi < 0,05 yaitu 0,000 disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tindakan dengan keberadaan jentik. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yudhastuti dan Anny (2005) yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara tindakan responden dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aeqypti. Nilai signifikansi yang didapat adalah < 0,05 dengan hasil yaitu p= 0,001(6). Hasil penelitian Aisah et al menunjukkan nilai signifikansi < 0,05 mempertegas kesimpulan bahwa adanya hubungan antara tindakan dengan keberadaan jentik(25).

Perilaku aktif atau tindakan pada dasarnya adalah sesuatu yang dapat dipelajari(23). Notoatmodjo(1993) dikutip dari Yudhastuti dan Anny (2005) menyatakan perilaku atau tindakan masyarakat memiliki peranan penting dalam mempengaruhi lingkungan(6). Tindakan yang baik dalam pencegahan DBD akan mengurangi tingkat keberadaan jentik, dan tindakan buruk dalam pencegahan DBD akan mempertinggi tingkat keberadaan jentik. Penyelidikan – penyelidikan epidemiologis yang meningkat pada beberapa tahun terakhir ini juga membuktikan bahwa terdapat hubungan antara tindakan seseorang terhadap peningkatan angka dan penyebaran penyakit(60).

Hasil penelitian hubungan pengetahuan dan sikap dengan keberadaan jentik yang menunjukkan tidak adanya hubungan diantara keduanya,

(30)

menghasilkan kesimpulan bahwa pengetahuan yang baik belum tentu mampu mengatasi masalah kesehatan masyarakat dan lingkungan, namun tindakan yang baik akan menghasilkan dampak yang signifikan baik terhadap perubahan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Perubahan perilaku aktif atau tindakan adalah hal pokok dalam pengatasan berbagai permasalahan kesehatan secara umum maupun lingkungan kesehatan. Dasarnya bahwa perilaku aktif atau tindakan berkaitan dengan prinsip – prinsip sehat atau kesehatan (54).

Pendalaman data yang dilakukan peneliti, dari tabel 4.8 menunjukkan masih adanya responden bertindak positif namun tetap terdapat jentik. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor diluar variable yang dianalisis juga dapat berpengaruh. Hasilnya dari 12,87% responden dengan tindakan positif namun terdapat jentik beberapa diantaranya memiliki rutinitas atau konsistensi keberlanjutan tindakan positif yang buruk sebgaian lainnya sudah baik namun masih terdapat jentik. Faktor cuaca yang tidak menentu dan susahnya dalam pengawasan kontainer yang terlalu banyak menyebabkan sebagian dari responden masih terdapat jentik meskipun telah bertindak positif.

4.6.4 Hubungan antara rutinitas dan Keberadaan Jentik

Rutinitas pada dasarnya adalah hal yang sama dengan tindakan. Rutinitas lebih berperan pada suatu keberlanjutan tindakan yang terjadi secara nyata dan konsisten.

Tabel 4.8 menunjukkan hasil pengujian hubungan antara variabel rutinitas terhadap keberdaan jentik. Pengujian dengan pilihan uji spearman’s rho. Hasil penelitian signifikansi > 0,05 bermakna H0 di terima, sedangkan signifikansi < 0,05 bermakna H0 ditolak. H0 diterima menandakan tidak terdapatnya hubungan sedangkan H0 ditolak mengindikasikan terdapatnya hubungan yang bermakna(30). Hasil analisis hubungan antara rutinitas (tindakan berkelanjutan) dengan keberadaan jentik di kecamatan Godean. Hasil penelitian menunjukkan nilai p > 0,05 yaitu 0,550 disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara rutinitas dengan keberadaan jentik. Hasil penelitian ini berkebalikan

(31)

dengan penelitian Widagdo,dkk (2008) dikutip dari Setyo (2009) di kelurahan Sondol Wetan Semarang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara PSN 3-M plus di bak mandi, ember dan gentong plastik dengan jumlah keberadaan jentik(61). Hasil penelitian Setyobudi (2011) dikutip dari Aisah,dkk(2013) menunjukkan hasil yang sama, bahwa partispasi dalam PSN termasuk hal yang sangat berhubungan dengan keberadaan jentik(25). Hasil penelitian Putry (2013) responden yang menguras tempat penampungan air yang < 1 x seminggu dan ditemukan jentik di rumah dengan persentase (71,4%) dan yang menguras tempat penampungan > 1 seminggu ditemukan jentik sebanyak (42,2%), begitu juga dengan praktek menyingkirkan barang – barang bekas hasil signifikansinya menunjukkan nilai masing – masing yaitu 0,013, 0,032 yang berarti nilai signifikansi < 0,05 yang mengindikasikan terdapat hubungan antara rutinitas ( tindakan berkelanjutan dengan keberadaan jentik (62).

Tindakan yang berkelanjutan (rutinitas) memegang peran penting dalam pencegahan DBD. Konsistensi dalam tindakan yang baik akan menghasilkan pengatasan masalah kesehatan yang baik pula, namun inkonsistensi dalam tindakan akan memberikan hasil yang tidak signifikan terhadap perubahan keadaan kesehatan secara umum maupun lingkungan kesehatan.

Hasil penelitian yang tidak menunjukkan hubungan antara rutinitas dengan keberadaan jentik menunjukkan bukti bahwa faktor predisposisi seperti pengetahuan dan sikap akan mendukung pengaruh terhadap perubahan keadaan sebenarnya dalam perilaku atau tindakan berupa rutinitas(23). Responden yang awalnya memiliki nilai hubungan yang bermakna antara tindakan yang dilakukan dengan keberadaan jentik menunjukkan hasil yang berbeda saat tindakan tersebut dilakukan secara berkelanjutan (rutinitas) . Hal ini terjadi akibat pemahaman yang kurang tentang pengetahuan. Sebagian besar masyarakat tahu tapi tidak mampu untuk memahami. Begitu juga dengan hal ini, kebanyakan dari masyarakat mengetahui pentingnya sebuah tindakan tapi tidak memahami bahwa tindakan tersebut harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Keadaan inilah yang menyebabkan perbedaan hasil antara tindakan dan rutinitas terhadap keberadaan jentik.

Gambar

Tabel  4.1  memperlihatkan  bahwa  tingkat  pendidikan  yang  mendominasi  adalah  tingkat  pendidikan  SMA
Tabel  4.2  Distribusi  Data  Tingkat  Pengetahuan,  Sikap,  Tindakan,  Rutinitas  dan  Keberadaan Jentik  Variabel Independen  n(%)  Pengetahuan  Baik  Sedang  Buruk  62(53,9%) 50(43,5%) 3  (2,6%)
Tabel  4.2  Distribusi  Data  Tingkat  Pengetahuan,  Sikap,  Tindakan,  Rutinitas  dan  Keberadaan Jentik (lanjutan)
Tabel  4.3  Distribusi  Data  Frekuensi  dan  Persentase  Pengetahuan  Responden  Tiap Pernyataan  Pengetahuan Mengenai DBD (lanjutan)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tindakan peneliti bertindak sebagai guru dalam tahapan ini adalah melaksanakan pembelajaran Idghom Mitsli. Setelah mengucapkan salam kemudian melakukan pengecekan kepada

Pengamatan dilakukan oleh guru kelas pada waktu yang bersamaan saat peneliti melakukan tindakan untuk meningkatkan hasil belajar dan memperbaiki sikap siswa siswa kelas IV

a. Assurance/Jaminan adalah kemampuan untuk melakukan layanan / jasa yang diharapkan secara bertanggung jawab dan tepat. Dilihat dari pengetahuan dan ketepatan dalam

Di alur pelayaran sempit jika penyusulan hanya dapat dilakukan jika kapal yang disusul itu melakukan tindakan untuk memungkinkan kapal lain lewat dengan aman, maka kapal yang

Hasil refleksi dari hasil tindakan pada siklus I selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk melakukan bimbingan kolaboratif dengan pendekatan individual terhadap

1) Sistem pengolahan air limbah yang ada di permukiman dinilai Buruk oleh masyarakat (50%), hal ini timbul karena dari program KOTAKU sendiri telah melakukan program

dengan melihat hasil capaian pada siklus I dan melakukan perbaikan tindakan. Perbaikan yang dilakukan meliputi:. 1) Guru melakukan pembagian kelompok dengan

Hampir menabrak rumpon ketika cuaca buruk Dapat dilihat dari kejadian diatas dimana Mualim jaga anjungan sudah melakukan pengamatan keliling dengan benar dan maksimal sesuai dengan