• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRESENTASI ARCHEVENT 2014 TEMA: SEJARAH DAN ARSITEKTUR KOTA DALAM MEMBANGUN KARAKTER KOTA BERBASIS LOKALITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PRESENTASI ARCHEVENT 2014 TEMA: SEJARAH DAN ARSITEKTUR KOTA DALAM MEMBANGUN KARAKTER KOTA BERBASIS LOKALITAS"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

PRESENTASI ARCHEVENT 2014

TEMA: SEJARAH DAN ARSITEKTUR KOTA

DALAM MEMBANGUN KARAKTER KOTA BERBASIS LOKALITAS

JUDUL MAKALAH:

PENGEMBANGAN MODEL DESAIN RUMAH RAMAH GEMPA DI DESA JAYAPURA KEC. CIGALONTANG, TASIKMALAYA BERBASIS LOKALITAS ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA

PEMAKALAH: NURYANTO RISKHA MARDIANA

ERNA KRISNANTO

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Disampaikan pada Acara Architecture Event (Archevent)

Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret

(2)

LOCAL GENIUS URANG SUNDA

“PUN SAMPUN,

KA LUHUR

KA SANG RUMUHUN

KA HANDAP

KA SANG BATARA

KA PARA DEWA DEWI

KA SILUMAN

KA SILEMAN

KA DEWA KALAKAY SALAMBAR

ANU NYICINGAN IEU BUMI”

(3)

A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

A. PERISTIWA BENCANA ALAM (GEMPA BUMI, DLL) DI JAWA BARAT YANG BANYAK MENIMBULKAN KERUGIAN BERUPA KERUSAKAN RUMAH TINGGAL;

B. PROGRAM PEMERINTAH TENTANG PEMBUATAN RUMAH TINGGAL RAMAH GEMPA DI DAERAH-DAERAH RAWAN BENCANA (KHUSUSNYA DI JAWA BARAT);

C. POTENSI KEKAYAAN LOKAL JAWA BARAT BERUPA ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA (RUMAH PANGGUNG) YANG DAPAT DIKEMBANGKAN SEBAGAI MODEL RUMAH TINGGAL RAMAH GEMPA;

D. DAERAH-DAERAH DI JAWA BARAT YANG SEBAGIAN BESAR RAWAN TERJADINYA BENCANA, KARENA BERADA PADA LEMPENGAN TANAH YANG LABIL DAN POTENSI TERJADINYA BENCANA, SEPERTI: GEMPA BUMI, DAN LAIN-LAIN.

(4)

B. DEFINISI RUMAH RAMAH GEMPA

RUMAH RAMAH GEMPA YAITU:

Sistem bangunan yang didisain secara khusus baik

arsitektural maupun struktural yang mampu

mengimbangi gaya horisontal dan vertikal

terhadap gerakan bumi (elastisitas) dengan sistem

struktur-konstruksi yang kompak serta pemakaian

material lokal yang ramah lingkungan.

(5)

C. PEMBATASAN MASALAH

A. MODEL DESAIN RUMAH YANG DIMAKSUD ADALAH PANGGUNG (RUMAH BERKOLONG), SEDANGKAN SISTEM STRUKTUR-KONSTRUKSI YANG DITELITI MELIPUTI: PONDASI UMPAK, DINDING, ATAP SERTA PEMAKAIAN MATERIAL LOKAL, SEPERTI: BATU KALI, BAMBU, KAYU, DAUN RUMBIA, IJUK, DAN MATERIAL LOKAL LAINNYA;

B. LOKASI YANG DITELITI ADALAH DESA JAYAPURA, KEC. CIGALONTANG, KAB. TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT. DESA JAYAPURA MERUPAKAN SALAH SATU DESA YANG PALING RAWAN BAHAYA GEMPA DI KAB. TASIKMALAYA;

C. ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA YANG DITELITI YAITU KAMPUNG NAGA DI KAB. TASIKMALAYA, MELIPUTI: BENTUK RUMAH PANGGUNG, PONDASI UMPAK, JENIS-JENIS BENTUK ATAP RUMAH, SISTEM KUDA-KUDA, DINDING, SERTA KEARIFAN LOKAL LAINNYA.;

D. MODEL YANG DIMAKSUD ADALAH MODEL RUMAH PANGGUNG SEBAGAI BANGUNAN KHAS MASYARAKAT SUNDA.

(6)

D. PERUMUSAN MASALAH

A. BAGAIMANAKAH POTENSI ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA YANG DAPAT DIKEMBANGKAN MENJADI MODEL RUMAH TINGGAL YANG RAMAH TERHADAP GEMPA ?;

B. BAGAIMANAKAH MODEL DESAIN RUMAH YANG RAMAH TERHADAP GEMPA BERBASIS LOKALITAS ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA?;

C. BAGAIMANAKAH MODEL DESAIN SISTEM STRUKTUR DAN KONSTRUKSI RUMAH YANG RAMAH TERHADAP GEMPA SERTA PEMAKAIAN MATERIAL LOKALNYA?.

(7)

E. ASUMSI

PENELITIAN INI DIASUMSIKAN AKAN MEMBERIKAN MANFAAT BESAR DAN PENGARUH POSITIF BAGI PENINGKATAN PEMAHAMAN DAN KESADARAN MASYARAKAT TENTANG PENTINGNYA TINDAKAN PREVENTIF (PENCEGAHAN DAN PERLINDUNGAN) BAGI MASYARAKAT DALAM HAL KESELAMATAN, KEAMANAN, DAN KENYAMANAN PENGHUNI RUMAH YANG TINGGAL DI DAERAH-DAERAH RAWAN BENCANA, SEPERTI GEMPA BUMI, KHUSUSNYA DI KAB. TASIKMALAYA. SEDANGKAN UNTUK LINGKUP INDONESIA, MAKA PERLU DILAKUKAN PENELITIAN SEJENIS LANJUTAN BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL (LOCAL GENIUS) DAERAHNYA MASING-MASING.

(8)

F. TUJUAN PENELITIAN

A. MENGUNGKAP DAN MENDESKRIPSIKAN POTENSI ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA YANG DAPAT DIKEMBANGKAN MENJADI MODEL RUMAH TINGGAL YANG RAMAH TERHADAP GEMPA BUMI;

B. MENEMUKAN DAN MENGEMBANGKAN MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL YANG RAMAH TERHADAP GEMPA BUMI YANG BERBASISKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA;

C. MENEMUKAN DAN MENGEMBANGKAN MODEL DESAIN SISTEM STRUKTUR DAN KONSTRUKSI RUMAH TINGGAL YANG RAMAH TERHADAP GEMPA BUMI SERTA PEMAKAIAN MATERIAL LOKALNYA.

(9)

G. URGENSI PENELITIAN

PENELITIAN INI SANGAT PENTING DILAKUKAN, KARENA UNTUK MENGUNGKAP POTENSI LOKAL ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA YANG DAPAT DIKEMBANGKAN SEBAGAI MODEL RUMAH TINGGAL YANG RAMAH TERHADAP GEMPA BUMI, KHUSUSNYA DI DAERAH RAWAN BENCANA (GEMPA BUMI). DI SAMPING ITU, PENELITIAN INI JUGA MENJADI JEMBATAN PENGHUBUNG ANTARA PROGRAM PEMERINTAH PUSAT MELALUI BNPB DENGAN BNPBD DI DAERAH DENGAN RINTISAN MODEL-MODEL RUMAH YANG RAMAH TERHADAP BENCANA (GEMPA BUMI), SERTA PENYEDIAAN BANTUAN TENAGA AHLI DESAIN BANGUNAN BAGI MASYARAKAT AWAM.

(10)

H. METODE PENELITIAN

PENELITIAN

INI

MENGGUNAKAN

METODE

DESKRIPTIF DENGAN PENDEKATAN KUALITATIF,

MELALUI DESKRIPSI ATAU MENGGAMBARKAN

KEMBALI HASIL SURVEY LAPANGAN TENTANG

KONDISI SUATU DAERAH YANG MEMILIKI

POTENSI BENCANA ALAM BERUPA GEMPA

BUMI

DAN

KEARIFAN

LOKALNYA

BERUPA

ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA.

DATA DIKUMPULKAN MELALUI WAWANCARA,

DOKUMENTASI, DAN REKONSTRUKSI DESAIN

(FOTO DAN SKETSA LAPANGAN).

(11)

I. HASIL PENELITIAN

DATA UMUM KAB. TASIKMALAYA

a. Kabupaten Tasikmalaya terdiri atas 28

Kecamatan

b. Penduduk 1.838.631 jiwa.

c. Akibat gempa bumi: korban jiwa dan

kerusakan bangunan di hampir seluruh

kecamatan.

d. Menurut catatan Dinas Kesehatan

Kabupaten Tasikmalaya hingga tanggal 5

September 2009:

- 28 kecamatan yang mengalami korban,

salah satunya Cigalontang (terparah)

- hanya 7 kecamatan yang sama sekali tidak

mengalami korban akibat bencana gempa

bumi itu (Ciawi, Indihiang, Salawu, Salopa,

Sukaraja, Cipedes, Panca Tengah).

(12)

I. HASIL PENELITIAN

(13)
(14)

I. HASIL PENELITIAN

Nama Kecamatan 1. Pagerageung 2. Ciawi 3. Rajapolah 4. Cisayong 5. Cigalontang 6. Leuwisari 7. Indihiang 8. Cipedes 9. Salawu 10. Singaparna 11. Cihideung 12. Tawang 13. Kawalu 14. Cibeureum Nama Kecamatan 15. Manonjaya 16. Cineam 17. Taraju 18. Sodonghilir 19. Sukaraja 20. Salopa 21. Bojonggambir 22. Bantarkalong 23. Cibalong 24. Cipatujah 25. Karangnunggal 26. Cikatomas 27. Pancatengah 28. Cikalong

(15)

I. HASIL PENELITIAN

DATA KORBAN GEMPA DI KEC. CIGALONTANG

Meninggal

: 4 jiwa

Luka berat

: 31 orang

Luka ringan

: 89 orang

Pasien dirawat di Rumah Sakit : 12 orang

Pasien dirawat di puskesmas : 10 orang

Jumlah balita

: 2.062

Jumlah bumil

: 188

(16)

I. HASIL PENELITIAN

Jenis Bangunan Rusak Berat Rusak Ringan

Jumlah

Rumah Penduduk 4.400 7.893 12.293

Rumah Dinas Kesehatan 4 2 6

Sekolah 66 251 317

Masjid 111 171 282

Kantor Pemerintah 14 38 52

(17)

I. HASIL PENELITIAN

FOTO KERUSAKAN BANGUNAN:

RUMAH TINGGAL

(18)

I. HASIL PENELITIAN

FOTO KERUSAKAN BANGUNAN:

RUMAH TINGGAL

(19)

I. HASIL PENELITIAN

FOTO KERUSAKAN BANGUNAN:

RUMAH TINGGAL

(20)

I. HASIL PENELITIAN

FOTO KERUSAKAN BANGUNAN:

RUMAH TINGGAL

(21)

I. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: DENAH

DAPUR KAMAR TIDUR KAMAR TIDUR KAMAR TIDUR RUANG KELUARGA RUANG TAMU KM/WC

(22)

I. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: PONDASI

(23)

I. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: PONDASI

(24)

I. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: PONDASI-LANTAI

(25)

I. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: RANGKA KUDA-KUDA

(26)

J. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: RANGKA DINDING

(27)

J. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: RANGKA KUDA-KUDA

(28)

J. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: RANGKA KUDA-KUDA

(29)

J. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: RANGKA RUMAH

(30)

I. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: TAMPAK

(31)

I. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: TAMPAK

(32)

I. HASIL PENELITIAN

MODEL DESAIN RUMAH TINGGAL

RAMAH GEMPA: TAMPAK

(33)

I. HASIL PENELITIAN

(34)

I. HASIL PENELITIAN

(35)

I. HASIL PENELITIAN

(36)

I. HASIL PENELITIAN

(37)

I. HASIL PENELITIAN

(38)

I. HASIL PENELITIAN

(39)

I. HASIL PENELITIAN

(40)

I. HASIL PENELITIAN

(41)

I. HASIL PENELITIAN

(42)

I. HASIL PENELITIAN

(43)

I. HASIL PENELITIAN

(44)

J. PEMBAHASAN HASIL

1. Potensi arsitektur tradisional Masyarakat Sunda sangat besar peluangnya untuk dikembangkan menjadi model desain rumah tinggal yang ramah terhadap bahaya gempa bumi, khususnya di daerah-daerah yang rawan terhadap gempa seperti di Kecamatan Cigalontang, Kab. Tasikmalaya-Jawa Barat. Potensi tersebut didasarkan pada beberapa criteria, yaitu: (1) Bentuk panggung pada bangunan arsitektur tradisional Sunda yang simpel dengan pondasi tatapakan yang mampu mengimbangi gerakan horisontal-vertikal gempa bumi, karena letaknya di atas permukaan tanah; (2) Bentuk panggung juga menjadi inspirasi bagi model rumah yang ramah terhadap gempa bumi, karena strukturnya yang cenderung ringan dengan dominasi bahan yang ringan, seperti papan, bilik bambu, kuda-kuda dari bambu, dan lantai talupuh; (3) Bentuk kolong pada struktur rumah panggung berfungsi

sebagai penjaga keseimbangan antara bangunan dengan gerakan lempeng tanah, sehingga tetap ramah (mampu mengimbangi) terhadap gaya yang ditimbulkan oleh gempa;

(45)

J. PEMBAHASAN HASIL

2. Model desain arsitektur rumah tinggal yang ramah terhadap gempa bumi, didasarkan pada beberapa konsep, yaitu:

(1)Melakukan penggalian potensi kekayaan alam dan kearifan lokal masyarakat Kecamatan Cigalontang, seperti: bentuk asli rumah tinggal masyarakatnya, kondisi geografis tempat

tinggalnya (kondisi tanah), budaya dan tradisinya, serta teknik membangun rumah tinggalnya; (2) Mengetahui ketersediaan bahan-bahan bangunan yang ada di sekitar lingkungan yang dapat digunakan dalam proses membangun, seperti: kayu,

bambu, batu untuk pondasi tatapakan, serta bahan alam lainnya; (3) Menggali kekayaan arsitektur tradisional Sunda yang ada di Kampung Naga-Tasikmalaya sebagai prototipe kampung Masyarakat Sunda yang memiliki bangunan-bangunan khas seperti panggung sebagai inspirasi model desain rumah tinggal yang ramah terhadap bahaya gempa bumi;

(46)

J. PEMBAHASAN HASIL

3. Model desain bentuk struktur dan konstruksi rumah tinggal yang ramah terhadap getaran gempa bumi di Kecamatan Cigalontang, Kab. Tasikmalaya-Jawa Barat didasarkan pada pertimbangan berikut: (1) Konstruksi menggunakan sistem lantai rumah yang melayang dengan bentuk panggung dengan menggunakan pondasi tatapakan (umpak) dari batu atau balok

kayu. Sistem ini didasarkan pada pemahaman kosmologi Masyarakat Sunda tentang pembagian tiga dunia; bawah,

tengah, atas, sehingga lantai rumahnya tidak menempel pada tanah dan pondasinya tidak ditanam di dalam tanah, karena dianggap mengubur diri hidup-hidup; (2) Struktur pada desain rumah tinggal ramah gempa menggunakan struktur rangka yang ringan dari bahan-bahan lokal, seperti bambu dan kayu yang digunakan untuk rangka kuda-kuda, dinding,

(47)

K. KESIMPULAN

A. Rumah panggung pada arsitektur Tradisional Sunda memiliki keunggulan, antara lain mampu mengimbangi gerakan horisontal-vertikal terhadap gerakan gempa bumi (elastisitas). Hal ini dapat dilihat pada penggunaan pondasi umpak dan kolong pada rumah panggung yang cenderung lebih lentur. Secara arsitektural, rumah

panggung dapat dijadikan alternatif dalam desain rumah yang ramah terhadap bahaya gempa bumi. Sistem

struktur-konstruksi yang sederhana tetapi tetap kompak, serta pemakaian material lokal yang ramah lingkungan

justru menjadi pilihan terbaik dalam antisipasi gempa bumi untuk melindungi penghuninya. Disamping itu, bentuk atap yang unik seperti julang ngapak, badak heuay, jolopong, capit gunting, dan tagog anjing menambah bentuk rumah ramah gempa tersebut semakin indah

(48)

K. KESIMPULAN

B. Pengembangan model arsitektur pada rumah tinggal yang ramah terhadap bahaya gempa bumi dapat dilakukan dengan cara menggali arsitektur lokal Masyarakat Sunda yang ada di Kampung Naga, seperti: bentuk rumah panggung, bentuk atapnya (julang ngapak dan jolopong), pola perletakkan bangunan dengan sistem sengkedan (terasering), tradisi ngadegkeun imah berupa upacara selamatan sebagai upaya untuk mengharmoniskan antara manusia dengan kekuatan yang tidak teraga. Sedangkan pengembangan bentuk struktur dan konstruksi rumah tinggal yang ramah terhadap gempa bumi di Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang,

Kab. Tasikmalaya-Jawa Barat dapat dilakukan dengan cara mengkombinasikan antara struktur dan konstruksi lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat sekitar dengan struktur dan konstruksi lokal yang ada di Kampung Naga.

(49)

L. REKOMENDASI

1. Perlu dukungan dari pemerintah daerah setempat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bahaya (BNPB) khususnya bahaya gempa bumi untuk merumuskan formula khusus

tentang model-model desain rumah tinggal yang ramah teradap bahaya gempa bumi, khususnya di daerah-daerah yang rawan terhadap gempa bumi;

2. Pemerintah pusat dan daerah harus bekerjasama dalam

melakukan penelusuran daerah-daerah potensi gempa bumi khususnya di Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu daerah yang rawan terhadap gempa bumi untuk mencari masukan sebagai bahan pertimbangan bagi pengembangan model desain raumah yang ramah terhadap bahaya gempa bumi yang disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakatnya,

(50)

L. REKOMENDASI

3. Penelitian lebih luas perlu dilakukan untuk mengetahui

potensi arsitektur tradisional Sunda yang dapat dikembangkan menjadi bangunan-bangunan yang ramah terhadap bahaya gempa bumi untuk bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai fasilitas publik lainnya, seperti perkantoran, Pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Penelitian lanjutan juga perlu dilakukan dengan fokus pada struktur rumah Panggung berdasarkan pendekatan ilmu sipil;

4. Membuat buku panduan untuk memetakan daerah-daerah mana saja yang rawan (berpotensi) terhadap bahaya gempa bumi di Provinsi Jawa Barat sebagai pegangan untuk

mengantisipasinya melalui desain rumah tinggal yang ramah gempa bumi;

(51)

L. DAFTAR PUSTAKA

1. Angus J. Mc. Donald (1998): Structure and Construction in Architecture, John Willey Publishing, America.

2. Kementrian Pekerjaan Umum RI (2008); Pedoman Bangunan Tahan Gempa di

Daerah Rawan Bencana, Jakarta.

3. Frick, Heinz & Hesti M, Tri, 2006 : Pedoman Bangunan Tahan Gempa. Kanisius. Yogyakarta

4. Frick, Heinz & Purwanto, LMF, 2002 : Sistem Bentuk Struktur Bangunan. Kanisius. Yogyakarta

5. Frick, Heinz, 2002 : Sistem Struktur dan Utilitas Bangunan. Kanisius. Yogyakarta 6. Suryamanto, 2002 : Struktur dan Konstruksi Bangunan Bertingkat Rendah. ITB. 7. Soegihardjo R., B.A.E. (1987): Gambar-Gambar Dasar Ilmu Bangunan; untuk

Teknik, Sekolah Tehnik Menengah, Fakultas Tehnik dan Praktek. Yogyakarta.

8. Soemadi R (1987): Ilmu Konstruksi Bangunan Gedung; Untuk Mahasiswa

Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur dan Sipil. Djambatan, Jakarta.

9. Adimihardja, Kusnaka dan Purnama Salura (2004): Arsitektur dalam Bingkai

Kebudayaan. Cetakan Pertama. Forish Publishing, Bandung.

10. Fajria Rif’ati, Heni (2002): Kampung Adat dan Rumah Adat di Jawa Barat. Dinas

Kebudayaan dan Pariwisata-Jawa Barat. Disbudpar, Jawa Barat.

11. Garna, Yudistira (1984): Pola Kampung dan Desa, Bentuk serta Organisasi

Rumah Masyarakat Sunda. Pusat Ilmiah dan Pengembangan Regional (PIPR)

Jawa Barat, Bandung.;

12. Nuryanto (2012): Desain Desa Wisata di Kab. Bandung Berbasisiakn Arsitektur

Tradisional Sunda. Laporan Penelitian Teknik Arsitektur, Jurusan Pendidikan

(52)

TERIMAKASIH

Gambar

FOTO KERUSAKAN BANGUNAN:
FOTO KERUSAKAN BANGUNAN:
FOTO KERUSAKAN BANGUNAN:
FOTO KERUSAKAN BANGUNAN:

Referensi

Dokumen terkait

Menu List Activity.java (Menampilkan List Per Item) package dea.android.sispakgi; import android.app.ListActivity; import android.content.Intent; import android.os.Bundle;

Kita beri Clarias yang mengandung lebih banyak tepung dari kepala ikan lele,” ungkap Annis?. Salah satu produk biskuit olahan

Jadi post partum sectio caesaria atas indikasi letak sungsang adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu dimana kelahiran janinnya dilakukan

Varietas padi Fatmawati dapat ditransformasi dengan perantaraan Agrobacterium menggunakan eksplan berupa embrio muda. Penggunaan asetosiringon 100 µM pada media kokultivasi dan

Pengujian pengaruh bahan ekstrak secara in vivo dilakukan dengan 3 perlakuan ekstrak, yaitu ekstrak campuran gambir + pinang + sirih + kapur sirih konsentrasi total 0.005% dalam

tengah bentang spesimen BCW-1/2b Retak awal terjadi pada beban 2 ton ditandai dengan munculnya retak rambut pada bagian tarik balok. Tulangan tarik mulai leleh pada beban 2,8

Berdasarkan permasalahan diatas perlu dilakukan penelitian yang bersifat eksperimen dengan konseling Keluarga Berencana, khususnya konseling KB pada ibu hamil trimester

Organisasi ini bersifat mandiri dan terbuka bagi semua guru mata pelajaran baik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), guru tidak tetap (guru honor) dilingkungan