• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tikus putih yang memiliki nama ilmiah Ratus novergicus adalah hewan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tikus putih yang memiliki nama ilmiah Ratus novergicus adalah hewan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

7

Tikus putih yang memiliki nama ilmiah Ratus novergicus adalah hewan coba yang sering dipakai untuk penelitian. Hewan ini termasuk hewan nokturnal dan sosial. Salah satu faktor yang mendukung kelangsungan hidup tikus putih dengan baik ditinjau dari segi lingkungan adalah temperatur dan kelembaban. Temperatur yang baik untuk tikus putih yaitu 19° C – 23° C, sedangkan kelembaban 40-70 % (Wolfenshon dan Lloyd, 2013). Data taksonomi tikus yang sudah diketahui menurut Sugiyanto, (1995) pada (Tabel 2.1 ), sedangkan data fisiologi pada (Tabel 2.2) (Wolfenshon dan Lloyd, 2013).

Tabel 2.1 Data Taksonomi Tikus

Taksonomi Tikus Putih

Kingdom Animalia Filum Chordata Klas Mamalia Ordo Rodensia Famili Muridae Subfamili Murinae Genus Rattus Spesies Norvergicus

(2)

Tabel 2.2 Data Fisiologis Tikus Putih (Rattus novergicus) Nilai Fisiologis Kadar

Berat tikus dewasa Jantan 450-520 gram

Betina 250-300 gram Kebutuhan makan 5-10g/100g berat badan Kebutuhan minum 10 ml/100g berat badan

Jangka hidup 3-4 tahun

Temperatur rektar 36° C- 40° C Detak jantung 250-450 kali/ menit Tekanan darah

Sistol 84-134 mmHg

Diastol 60 mmHg

Laju pernafasan 70-115 kali/menit Serum protein (g/dl) 5.6-7.6 g/dl Albumin (g/dl) 3.8-4.8 g/dl Globulin (g/dl) 1.8-3 g/dl Glukosa (mg/dl) 50-135 mg/dl Nitrogen urea darah (mg/dl) 15-21 mg/dl Kreatinin (mg/dl) 0.2-0.8 mg/dl Total bilirubin (mg/dl) 0.2-0.55 mg/dl Kolesterol (mg/dl) 40-130

2.2 Hati

Hati merupakan salah satu organ vital yang memiliki peranan penting dalam metabolisme melalui sifat beberapa sistem enzim yang terlibat dalam transformasi biokimia. Sel utama penyusun hati adalah hepatosit. Hepatosit merupakan sel utama yang bertanggung jawab terhadap peran sentral hati dalam metabolisme. Di dalam hati sel hepatosit terdapat sebanyak 60% dari total sel yang terdapat di dalam hati. Pada struktur hati terdapat lubang yang merupakan pembuluh darah kapiler yang disebut sinusoid, dinding sinusoid mengandung sel

(3)

fagosit yang disebut sel Kupfer yang bertugas memfagositosis dan menghancurkan partikel padat bakteri dalam sel darah mati (Hodgson, 2004). Selain sel-sel tersebut, sel lain yang dapat ditemukan dalam hati normal yaitu sel darah, sel epitelium, limfosit, fibroblast, dan hepatic stellate cells (Malarkey et al, 2005).

Secara anatomi hati terbagi menjadi 4 lobus yaitu lobus kanan, lobus kiri, lobus quadratus dan lobus kaudatus. Masing-masing lobus dibentuk oleh lobulus-lobulus yang merupakan unit fungsional dasar hati. Secara keseluruhan, hati dibentuk oleh sekitar 100.000 lobulus yang terdiri dari hepatosit, saluran sinusoid yang dikelilingi oleh endotel vaskuler dan sel kupfer yang merupakan bagian dari sistem retikuloedotiel. Struktur ini berbentuk heksagonal yang mengelilingi vena sentral, pada setiap sudut heksagonal terdapat traktus portal yang masing-masing mengandung cabang-cabang arteri hepatika, vena portal dan duktus biliaris intra hepatika. Karena garis khayal dari tiap sudut heksagonal sampai ke vena sentral, tiap lobulus terbagi menjadi 6 area yang disebut asinus yang berbentuk segitiga (segitiga kiernan) dengan vena sentral sebagai puncak. Kerja terpenting hati adalah pengambilan komponen bahan makanan yang diantarkan dari saluran cerna melalui pembuluh porta ke dalam hati, detoksifikasi senyawa-senyawa toksik melalui biotransformasi, sebagai pembuat dan penyimpanan hasil metabolisme dan biosintesis, penyerapan asam amino, karbohidrat, protein, lipid, asam empedu, kolesterol, vitamin. Selain itu fungsi hati juga untuk melindungi tubuh terhadap terjadinya penumpukan zat berbahaya dari luar maupun dari dalam. Hati juga merupakan tempat dimana obat dan bahan toksik lainnya dimetabolisme melalui

(4)

darah (Sativani, 2010). Karena fungsi hati yang sangat penting bagi tubuh, apabila terjadi kerusakan ini dapat berdampak pada fungsional dan struktur anatomis hati. Kerusakan akibat obat-obatan khususnya terdapat dalam klirens dan bioransformasi obat-obat yang dimetabolisme, seperti peningkatan asam lemak yang dimobilisasi dari jaringan adiposa dapat dipicu oleh glukokortikoid, selain itu lipogenesis dan peningkatan produksi glukosa dalam hati yang diikuti terjadinya katabolisme protein (Olefsky, 1975).

Apabila terjadi kelebihan lipogenesis bisa menyebabkan sintesis protein terhambat sehingga terjadi disagregasi ribosom dan penurunan sintesis protein yang berkaitan dengan kegagalan produksi ATP, dan tanpa ATP sel tidak mampu melaksanakan fungsi vitalnya. Adapun gambar preparat hati yang normal dan mengalami perubahan. Gambar bisa dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 K0. gambar histologi hati yang normal di gambar K0 terdapat vena centralis dan sel hepatosit. P1. gambar mengalami kerusakan namun tidak parah pada gambar P1 terdapat degenerasi parenkimatosa, P2. pada gambar P2 terdapat binuklear dan degenerasi hidropik, P3 gambar preparat hati yang mengalami kerusakan terparah yaitu adanya nekrosis. ( Prasetiawan dkk, 2012).

(5)

2.3 Deksametason

Deksametason mulai dikenal pada tahun 1950. Deksametason termasuk salah satu obat yang digunakan secara luas dalam dunia kesehatan. Meskipun efek samping deksametason sangat besar, masih banyak masyarakat yang memakai deksametason. Hal itu disebabkan karena harga deksametason masih relatif murah dan mudah didapat (Samsuri et al, 2011 ).

Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid sintetik yang kerjanya kurang lebih dari 36-72 jam (Olefsky , 1975), serta deksametason mempunyai potensi anti inflamasi yang sangat kuat. Kortikosteroid merupakan hormon yang secara alami dibentuk dibagian korteks adrenal. Hormon ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu glukokortikoid yang berarti peningkatan konsentrasi glukosa darah sekitar 50% serta mengubah protein menjadi glikogen di hati dan mineralkortikoid yaitu memiliki fungsi mempengaruhi reabsorpsi/penyerapan natrium. Deksametason termasuk ke dalam kelompok glukokortikoid (Olson, 2004). Kortikosteroid diambil dari asam kolat ternak atau dari steroid sapogenin yang ditemukan pada tumbuhan (Katzung, 2012). Adapun data farmakokinetik yang telah dilaporkan oleh Widodo dkk (1993), bahwa ketersediaan biologi = 80 %, waktu paruh = 3 jam, Vd=0,8 L/Kg, eliminasi sekitar 3% terjadi di renal tanpa di rubah kemudian sisanya dimetabolisme di hati.

Deksametason memiliki efek farmakologis yang luas dan dapat digunakan untuk berbagai macam penyakit sehingga seringkali disebut sebagai obat dewa. Karena harganya yang murah dan mudah didapat mengakibatkan

(6)

deksametason masih menjadi obat andalan untuk terapi inflamasi (Samsuri et al, 2011). Deksametason yang merupakan salah satu obat golongan kortikosteroid sintetik yang banyak digunakan masyarakat, tetapi dalam penggunaan dalam jangka waktu yang lama akan mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein dan lemak, dan juga mempengaruhi sistem kardiovaskular otot lunak sistem saraf dan organ lain, termasuk hati. Jika terjadi kerusakan pada hati dapat berdampak pada fungsional dan struktur anatomis hati. Kerusakan yang terjadi akibat pemberian deksametason terhadap hati meliputi degenerasi parenkimatosa, degenerasi hidropik, dan nekrosis (Sativani, 2010). Struktur deksametason dapat dilihat pada Gambar 2.2

Gambar 2.2 Struktur deksametason ( Iskandarsyah dkk, 2003)

2.4 Vitamin E

Vitamin merupakan senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk mempertahankan kesehatan dan seringkali bekerja sebagai kofaktor untuk enzim metabolisme (Dewoto, 2009). Vitamin dibedakan menjadi dua golongan yaitu vitamin larut lemak dan vitamin larut air (Dewoto, 09).

(7)

Vitamin E merupakan salah satu vitamin yang larut dalam lemak dan berfungsi sebagai antioksidan (Brigelius-Flohe, 1999). Antioksidan merupakan senyawa yang dapat mencegah proses oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas, contohnya berupa efek samping pemberian deksametason. Sebenarnya di dalam tubuh sudah dapat menghasilkan antioksidan namun jumlahnya tidak mencukupi untuk menetralkan radikal bebas. Oleh karena itu, sangat memerlukan antioksidan dari luar berupa makanan atau suplemen (Sibue, 2006) . Secara struktur vitamin E memiliki empat tokoferol dan empat tokotrienol (Brigelius-flohe, 1999). Struktur vitamin E dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Struktur Vitamin E A. kelompok tocopherol. B. Kelompok tocotrienol (Brigelius-flohe, 1999)

Vitamin E digabungkan dengan kilomikron (lipoprotein) di dalam dinding usus yang sebelumnya diserap secara difusi pasif, setelah digabungkan di dinding usus kemudian vitamin E diserap oleh sistem limfatik. Dari sistem ini vitamin E kemudian bergabung dengan saluran darah untuk ditransportasikan ke hati. Kemudian hati akan memasangkan vitamin E ini dengan VLDL (very low-density

(8)

lipoprotein).dan selanjutnya VLDL dipecah oleh lipoprotein lipase menghasilkan LDL (low-density lipoprotein). LDL secara bebas bertukaran vitamin E dengan HDL (high density lipoprotein) yang kemudian bersama-sama di sirkulasi mendistribusikan vitamin E ke dalam jaringan (Papas, 2008).

Gambar

Gambar 2.1   K0.  gambar  histologi  hati  yang  normal  di  gambar  K0  terdapat  vena centralis dan sel hepatosit
Gambar 2.2 Struktur deksametason ( Iskandarsyah dkk, 2003)
Gambar  2.3  Struktur  Vitamin  E  A.  kelompok  tocopherol.  B.  Kelompok  tocotrienol (Brigelius-flohe, 1999)

Referensi

Dokumen terkait

atau pare merupakan salah satu tanaman obat tradisional antara lain digunakan untuk penurun panas, obat. cacing, sakit saat haid, pembersih darah, memperlancar ASI,

Dosis, jumlah, cara, waktu dan lama pemberian obat harus tepat. Apabila salah satu dari empat hal tersebut tidak dipenuhi maka dapat menyebabkan efek terapi dari obat tidak bisa

Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: indikasi, cara dan waktu pemakaian obat yang tepat, cara penyimpanan, jangka waktu pengobatan, efek samping,

Metode ini melibatkan fungsi persepsi, interpretasi dan reaksi motor. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan pengukuran waktu reaksi. Waktu reaksi adalah

917/MENKES/PER/X/1993 Tentang Daftar Wajib Obat Jadi, bahwa yang dimaksud dengan golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketetapan

Adapun kekurangan pengobatan sendiri adalah obat dapat membahayakan kesehatan apabila tidak digunakan sesuai dengan aturan, pemborosan biaya dan waktu apabila salah

Efek samping obat tradisional relatif kecil jika digunakan secara tepat, yang meliputi kebenaran bahan, ketepatan dosis, ketepatan waktu penggunaan, ketepatan cara

• Apabila obat anti-psikosis tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan obat anti-psikosis lain