• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN INTERIOR PLANETARIUM DAN OBSERVATORIUM JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANCANGAN INTERIOR PLANETARIUM DAN OBSERVATORIUM JAKARTA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN INTERIOR

PLANETARIUM DAN OBSERVATORIUM

JAKARTA

Meilisa

Bina Nusantara University, Jalan Kh. Syahdan No.9, Palmerah, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta 11480, (021) 5345830, [email protected]

ABSTRAK

Sebagai satu dari empat planetarium di Indonesia, kondisi Planetarium dan Observatorium Jakarta saat ini cukup memprihatinkan. Planetarium dan Observatorium Jakarta butuh perhatian khusus dalam segi interior sehingga dapat memberi informasi yang lebih baik serta menghibur. Tujuan penelitian adalah merancang interior sebuah planetarium yang edukatif, inspiratif dan menyenangkan sehingga dapat menarik wisatawan lokal maupun asing. Melalui perancangan interior, fasilitas Planetarium dan Observatorium Jakarta akan lebih berkualitas dan akan menarik pengunjung lebih banyak.(M)

Kata kunci : planetarium, observatorium, interior, fasilitas, Jakarta

ABSTRACT

As one of four planetarium in Indonesia, Planetarium and Observatory of Jakarta is in a worst condition. Planetarium and Observatory of Jakarta needs treatment, especially in interior design side so it can gives information in a good way and more entertaning. The purpose of this study is to design an educational, inspirational, and entertaining planetarium so that could attracts local and abroad tourists. Through an interior design, the facilities in Planetarium and Observatory of Jakarta will have a higher quality and attracts more visitors.(M)

(2)

PENDAHULUAN

Ketertarikan manusia terhadap benda-benda langit sudah dimulai sejak dahulu kala. Peradaban Bangsa Babilonia, lalu Yunani dan Romawi Kuno telah melahirkan teori-teori ilmu astronomi. Seiring berjalannya waktu, manusia terus melakukan penelitian terhadap pergerakan serta fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Astronomi kemudian menjadi cabang ilmu pengetahuan modern melalui penemuan teleskop.

Kehadiran planetarium sendiri bermula dari kebutuhan para ilmuwan atau pendidik untuk menjelaskan bagaimana susunan matahari dan planet-planet yang mengitarinya. Perwujudan planetarium juga mengalami perubahan, dari yang awalnya hanya berupa sebuah alat peraga miniatur yang menggunakan mesin jam untuk menggerakannya, hingga akhirnya menjadi seperti sekarang, dimana salah satu ciri khasnya adalah memiliki dome (kubah).

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, bahkan Singapura telah mengemas tampilan planetarium dengan berbagai inovasi; baik dalam segi fisik seperti arsitektural dan interior, fasilitas, serta program acara yang menarik. Penggunaan teknologi-teknologi modern juga turut membuat tampilan planetarium memukau.

Planetarium dan Observatorium Jakarta merupakan salah satu sarana edukasi sekaligus rekreasi, karena di sini pengunjung diajak untuk "berpetualang" menikmati dimensi lain di luar bumi. Akan tetapi Planetarium dan Observatorium Jakarta hanya menawarkan petulangan pada Teater Bintang saja. Oleh karena itu pengunjung kurang tertarik pada area edukasi lain seperti ruang pameran dan perpustakaan yang dihadirkan di Planetarium dan Observatorium Jakarta ini. Sebagai satu dari empat planetarium di Indonesia, kondisi Planetarium dan Observatorium Jakarta saat ini cukup memprihatinkan. Dikutip dari sebuah media online LAPOR, seorang ibu yang menemani anaknya untuk berekreasi ke Planetarium dan Observatorium Jakarta berpendapat bahwa fasilitas Planetarium minim informasi dengan kondisi bangunan yang cukup menyedihkan. (LAPOR, 2013).

Planetarium dan Observatorium Jakarta butuh perhatian khusus dalam segi interior sehingga dapat memberi informasi yang lebih baik serta menghibur. Melalui perancangan interior, fasilitas Planetarium dan Observatorium Jakarta akan lebih berkualitas dan akan menarik pengunjung lebih banyak.

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana menciptakan planetarium dan observatorium sebagai wadah pendidikan sekaligus rekreasi yang mampu menarik wisatawan lokal maupun asing? Bagaimana mendesain fasilitas yang ada di planetarium dan observatorium sehingga dapat digunakan dengan maksimal? Bagaimana penerapan pembagian ruang dan sirkulasi pada planetarium dan observatorium sehingga efektif dan efisien sesuai dengan fungsi dan kebutuhan masing-masing? Bagaimana penerapan faktor green design dalam perencanaan interior sebuah planetarium dan observatorium?

Sehingga didapat tujuan dari penelitian adalah merancang interior sebuah planetarium dan observatorium yang edukatif, inspiratif dan menyenangkan sehingga dapat menarik wisatawan lokal maupun asing, menciptakan sebuah planetarium dan observatorium yang dapat menunjang segala aktifitas yang ada diperlukan sehingga menunjang efisiensi kerja dari pengguna (staff dan pengunjung), merancang sebuah planetarium dan observatorium yang mempertimbangkan kenyamanan flow activity pengguna (staff dan pengunjung), merancang sebuah planetarium dan observatorium menggunakan material yang ramah lingkungan dan sustainable design.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian dilakukan secara langsung; yakni melalui survey lapangan, wawancara, dan observasi; serta secara tidak langsung, yakni melalui studi literatur.

Survey lapangan dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung terkait dengan planetarium dan observatorium. Survey ini dilakukan pada beberapa tempat, yakni Planetarium dan Observatorium Jakarta, Observatorium Bosscha, dan Science Center di

(3)

Trans Studio Bandung. Data survey yang dibutuhkan mencakup foto kondisi lapangan, aktivitas pengunjung, dan flow activity.

Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai planetarium dan observatorium. Informasi seperti sejarah gedung, peraturan gedung, dan kegiatan-kegiatan serta data internal diperoleh dari pihak pengelola.

Mengamati secara langsung berbagai aktivitas yang terjadi di planetarium dan observatorium, seperti interaksi antara pengunjung, petugas, dan pihak-pihak lain yang berada di dalamnya.

Observasi juga dilakukan dengan mengamati kondisi fisik gedung dan kondisi lingkungan sekitar.

Studi literatur dilakukan melalui pengumpulan data-data literatur mengenai sejarah, fungsi, fasilitas pendukung, penataan ruang, dan semua aspek yang dapat membantu perancangan planetarium. Data-data ini diperoleh dari internet dan buku referensi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsep Perancangan

Misteri alam semesta tidak pernah ada habisnya untuk ditelusuri. Sejak peradaban kuno hingga kehidupan modern saat ini manusia terus mencoba mengungkap asal usul keberadaannya. Bahkan manusia menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya dengan alam semesta. Membutuhkan waktu sangat panjang untuk menelusuri satu per satu misteri di alam semesta yang tiada batas ini. Hal tersebut mendasari konsep "Beyond Limits" yang akan diterapkan pada perancangan Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Untuk memudahkan pengunjung dalam memahami segala sesatu mengenai alam semesta yang begitu luas, maka perancangan akan dibuat secara tematik. Pengelompokan area memiliki keunikan tersendiri namun beralur, sehingga pengunjung "diharuskan" untuk menjelajahi area yang telah disediakan untuk publik.

Agar pengunjung dapat menikmati keberadaannya di dalam planterarium, maka perancangan display pun akan dibuat secara interaktif. Pengunjung tidak hanya melihat, namun dapat menyentuh dan merasakan atmosfir planetarium.

Konsep Gaya

Kata-kata yang berhubungan dengan luar angkasa, alam semesta, bintang, dan sebagainya merujuk pada "futuristic". Hal tersebut dilandasi oleh ilmu pengetahuan seputar dunia astronomi yang terus-menerus meneliti kehidupan di luar bumi tersebut. Oleh karena itu gaya "futuristic" dapat mewakili Planetarium sebagai sarana penyebaran ilmu pengetahuan dunia astronomi. "Futuristic" tersebut sekaligus menjadi benang merah dari konsep yang tematik.

"Futuristic" sendiri dapat berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan masa depan, maka elemen-elemen interior pada perancangan planetarium harus mampu memberi sesuatu yang baru dan tidak biasa dilihat di kehidupan sehari-hari. Untuk memperkuat kesan "futuristic", maka penggunaan teknologi juga akan berperan dalam perancangan Planetarium.

Konsep Citra

Dunia luar angkasa merupakan sesuatu yang tidak dapat dicapai manusia dengan mudah secara nyata.. Hanya orang-orang tertentu yang dapat menjelajah ke luar angkasa atau bahkan menapaki kaki di bulan. Sementara sebagai manusia awam, tentunya berbagai konsepsi mengenai luar angkasa dicoba untuk diterjemahkan melalui imajinasi. Didasari oleh pemikiran manusia mengenai luar angkasa itu sendiri, maka pencitraan Planetarium dan Observatorium Jakara ini adalah imajinatif dan fun. Imaginatif berarti dapat membangkitkan alam imajinasi orang-orang yang melihatnya. Perancangan Planetarium dan Observatorium Jakarta ini juga dikemas secara fun atau menyenangkan, sehingga menghindari kesan membosankan.

(4)

Konsep Tematik

Pada area publik yakni area lobby, receptionist, penitipan barang, loket, lounge, waiting area, souvenir shop ambience ruang masih cenderung clean dan terang. Area ini dianalogikan sebagai area yang masih “membumi”. Lalu masuk ke area semi publik, yakni wonder walk, ambience sudah mulai berbeda, nuansa temaram mulai hadir di sini. Wonder walk ini dianalogikan sebagai area transisi dari bumi menuju dunia luar angkasa. Kemudian area temporary exhibition dihadirkan secara terbuka dan berhubungan langsung dengan salah satu tematik museum (Journey to Planetary).

Berikut ini merupakan deskripsi perencanaan konsep tematik pada museum: A. Journey to Planetary

Terdapat 8 buah dome yang diibaratkan sebagai 8 buah planet di tata surya. Dome dapat dimasuki oleh pengunjung dan di dalamnya terdapat layar dengan sistem hologram yang berisi informasi-informasi mengenai planet yang 'disinggahi' pengunjung.

B. Time Machine : Ancient - Modern Astronomi

Menampilkan perjalanan ilmu astronomi dari zaman kuno hingga kini. Replika display legendaris ikonik dari zaman ke zaman di tampilkan di sini seperti Stonehenge, orrery, hingga teleskop. Pengunjung dapat mempraktekan penggunaan dari masing-masing display (alat peraga). Display akan disusun secara beralur, titik "start" dimulai dari zaman kuno dan berakhir di zaman modern.

C. Big Bang Theory

Display ini berupa sebuah stage berbentuk lingkaran, dimana lingkaran tersebut akan menampilkan asal usul dan proses terjadinya teori Big Bang. Tayangan dapat berupa proyektor yang menyorot screen pada lantai atau berupa sistem digital. Pengunjung tidak dapat menginjak lingkaran tersebut dan hanya boleh berdiri melingkari lingkaran. Display ini disaksikan secara vertikal.

D. Galaxy Explorer

Di sini penggunaan teknologi sensor motion digunakan. Pengunjung seolah-olah 'sedang terbang' dan mereka harus menunjuk galaksi mana yang mau disinggahi. Penerapan display seperti ini terdapat di Galeri Indonesia Raya, Grand Indonesia, Jakarta.

E. Hall of Meteorites

Area yang menampilkan display bebatuan meteor yang jatuh di bumi. Display disusun secara melingkar dan pengunjung diajak berkeliling, karena garis start dan finish berbeda.

Konsep Material

Penerapan material di setiap ruang berbeda, tergantung aktifitas dan fungsi ruang tersebut. Selain itu pertimbangan menggunakan material juga didasari oleh kesan ruang yang akan ditampilkan. Material-material yang akan diterapkan merupakan material yang dapat mewakili "futuristic", seperti aluminium, akrilik, dan vinyl.

Konsep Bentuk

Didasari oleh konsep "Beyond Limits", yakni : melebihi batas, tanpa batas. Maka pada desain menghindari bentuk-bentuk yang memiliki sudut siku. Sudut siku dipandang sebagai pemisah atau batas pada sebuah bidang. Oleh karena itu bentuk-bentuk dominan yang akan ditampilkan berupa bentuk-bentuk yang memiliki kurva ataupun bersudut tumpul (edgeless).

(5)

Konsep Warna

Konsep warna yang diterapkan pada interior Planetarium Jakarta menggunakan teori warna analogus hijau kebiruan - biru - ungu kebiruan (blue green – blue - blue violet). Teori warna analogus diambil karena warna ini saling bersebelahan, ada pergerakan (movement) warna dari hijau kebiruan menuju warna ungu kebiruan. Unsur pergerakan ini selaras dengan konsep futuristik, dimana futuristik memang mengandung unsur gerak.

Blue green – blue - blue violet termasuk dalam kategori warna dingin. Warna dingin memiliki keterkaitan dengan warna langit, sehingga cocok diterapkan pada perancangan Planetarium yang merupakan tempat memperagakan susunan benda-benda langit. Warna analogus ini diaplikasikan pada indirect lighting.

Untuk elemen interior lantai, dinding, ceiling menggunakan warna monokrom putih – abu - hitam. Warna–warna netral ini dipilih agar warna analogus dari lighting dapat muncul dengan maksimal. Disamping itu, warna putih dan abu-abu juga dapat mengutkan kesan futuristik.

Konsep Furniture

Furniture khusus akan difokuskan untuk display benda pamer pada temporary exhibition. Furniture untuk display ini akan dirancang dengan sistem modular sehingga akan mudah untuk divariasikan. Untuk display pameran temporer, dibuat dengan sistem knock down sehingga memudahkan bongkar pasang dan menghemat tempat penyimpanan.

Furniture untuk ruang teater berupa kursi khusus yang dapat diatur sudut kemiringan sandaran. Kursi pada ruang multimedia merupakan kursi yang dapat bergerak sesuai dengan program yang telah diatur.

Furniture di ruang lain banyak menggunakan furniture custom-made agar lebih mendukung konsep keseluruhan interior planetarium. Furniture custom ini banyak menggunakan garis lengkung, bergaya futuristic sehingga. Untuk ruang private, multimedia, perpustakaan, ruang teknik,dan teater dapat menggunakan furniture mass production yang terdapat di pasaran.

Konsep Pencahayaan

Pencahayaan berperan penting dalam menciptakan ambience. Ruang khusus seperti museum, akan lebih redup dan pencahayaan di sini akan difokuskan pada benda pamer dengan menggunakan lampu sorot atau indirect lighting jenis LED. Sumber cahaya juga dapat berasal dari proyektor yang diproyeksikan ke dinding, layar, atau lantai, serta wide screen di area interaktif. Untuk teater dan ruang multimedia harus gelap demi kelangsungan pertunjukan. Sumber cahaya hanya berasal dari indirect lighting. yang dinyalakan sebelum dan setelah pertunjukan selesai. Indirect lighting ini sebaiknya menggunakan dimmer agar tingkat terangnya dapat diatur sehingga lebih dramatis. Sumber cahaya saat pertunjukan hanya berasal dari proyektor atau layar.

Untuk ruangan lain secara garis besar akan menggunakan general lighting dengan warna cahaya yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Konsep Penghawaan

Mengingat gedung ini berlokasi di Jakarta dan berhawa panas saat siang hari, maka penghawaan perlu diperhatikan, terutama area-area yang dilalui pengunjung. Hawa sejuk tentu akan membuat siapa pun betah untuk berlama-lama di dalam sebuah ruangan. Pada area-area publik, akan menggunakan AC sentral, sehingga AC akan dinyalakan serempak saat jam operasional saja. Sementara penghawaan pada ruang utama yakni teater dan ruang relay menggunakan AC split. AC di ruang ini harus selalu nyala guna menjaga mesin proyektor dari lembab dan panas. Suhu AC sekitar 16ºC. Ruang museum dan perpustakaan meggunakan AC sentral. Ruangan ini harus sejuk untuk mencegah timbulnya jamur dan serangga yang dapat merusak benda koleksi.

(6)

Konsep green design yang diterapkan pada perancangan Planetarium dan Observatorium Jakarta antara lain:

1) Untuk ruangan atau area yang membutuhkan tingkat cahaya yang terang, akan

memanfaatkan pencahayaan alami, sebab arsitektur gedung Planetarium dan Observatorium Jakarta memiliki banyak jendela sehingga sinar matahari banyak masuk ke gedung ini. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela gedung akan dikendalikan dengan menggunakan dinding partisi tambahan. Penambahan dinding partisi ini akan menambah nilai estetis ruang, sebab terjadi permainan antara cahaya matahari dan bayangan motif partisi.

2) Untuk pencahayaan di ruang khusus seperti museum, teater, dan multimedia menggunakan lampu LED yang lebih tahan lama dan hemat energi. Tipe lampu LED yang digunakan adalah strip dan spotlight.

3) Display untuk benda pamer dirancang secara modular agar dapat divariasikan sesuai kebutuhan, sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang.

4) Penggunaan teknologi sensor motion, dimana area interaktif dapat beroperasi saat ada yang melintas atau menggerakaannya saja.

Gambar 1 Perspektif Lobby 1

(7)

SIMPULAN DAN SARAN

Hingga saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang tertarik dengan dunia astronomi. Sangat disayangkan belum banyak wadah atau sarana yang mampu menampung ketertarikan masyarakat tersebut di Indonesia.

Sebagai salah satu sarana pendidikan sekaligus rekreasi, Planetarium dan Observatorim Jakarta seharusnya mampu mewadahi ketertarikan masyarakat melalui fasiltas-fasilitas yang berkualitas dan menyenangkan. Melalui konsep "Beyond Limits",

Gambar 3 Perspektif Museum & Ruang Pamer 1

Gambar 4 Perspektif Museum & Ruang Pamer 2

(8)

gedung Planetarium dirancang agar pengunjung menikmati petualangan luar angkasa tidak hanya di pertunjukan teater. Konsep tematik perancangan interior membawa pengunjung untuk memahami seluk-beluk alam semesta ini secara interaktif.

Dengan demikian perancangan interior Planetarium dan Observatorium Jakarta diharapkan mampu menjadi wadah edutainment yang menginspirasi dan membangkitkan imajinasi sehingga menarik wisatawan lokal maupun asing.

REFERENSI

Tim Redaksi Ilmu Pengetahuan Popoler. (2005). Ilmu Pengetahuan Populer. Jakarta: CV Prima Printing

Tim Editorial Paramon. (2007). Essential Atlas of Astronomy. Jakarta: PT. Grasindo Sutaarga, Amir (1959). Persoalan Museum di Indonesia. Jakarta

Arifin, Max (1979). Teater Sebuah Perkenalan Dasar. Jakarta

Ham, Roderick. (1987). Theatre Planning ABTT. London: The Architectural Press.

Panero, J., Zenik, M. (1979). Human Dimension & Interior Space. Great Britain : The Architectural Ltd

Tim Editor Planetarium dan Observatorium Jakarta. (2012). Planetarium & Observaotrium Jakarta Tempat Wisata Pendidikan. Jakarta : Planetarium dan Observatorium Jakarta Renny. 16 Desember (2013). Fasilitas Planetarium Jakarta Kurang Memadai. LAPOR, diakses 31 Maret 2014 dari https://lapor.ukp.go.id

Tim Penyusuun Planetarium dan Observatorium Jakarta. 2009. Planetarium dan Observatorium Jakarta, diakses 31 Maret 2014 dari https://planetariumjkt.com

Tim Redaksi Langit Selatan. (2010). Planetarium, diakses 31 Maret 2014 dari http://langitselatan.com

Tim Redaksi Planetariums Club. Sejarah Planetarium, diakses 29 Maret 2014 dari http://planetariumsclub.org

Tim Redaksi Koran Anak Indonesia. (2010). Planetarium Tempat Simulasi Benda Angkasa, diakses 27 Maret 2014 dari http://korananakindonesia.com

Nabta Playa First Observatory In Human History diakses dari http://www.onislam.net The First Observatories diakses dari http://brunelleschi.imss.fi.it

Tim Editor Observatorium Bosscha ITB. (2001). Observatorium Bosscha: 50 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia dan World Space Week 2001. Lembang

Tim Editor Adler Planetarium. (2007). Exhibitis, diakses 29 Maret 2014 dari http://www.adlerplanetarium.org

RIWAYAT PENULIS

Meilisa lahir di Kota Jakarta pada 8 Juli 1992. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Bina

Gambar

Gambar 1 Perspektif Lobby 1
Gambar 3 Perspektif Museum & Ruang Pamer 1

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep peserta didik yang dibelajarkan dengan model PjBL lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pemahaman konsep

Tujuan disusunnya peta mutu pendidikan (capaian Standar Nasional Pendidikan) Kabupaten Tabanan adalah untuk mengetahui gambaran ketercapaian mutu pendidikan Kabupaten Tabanan

alam melakukan pembangunan perumahan "ormal di 3ndonesia, Perum Perumnas selaku penyelenggara proyek pembangunan mempunyai prosedur atau tahapan dalam mewu!udkan kawasan

Hasil penelitian kecerdasan emosional, dan budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap sikap etis mahasiswa Penelitian yang dilakukan oleh Aprillawati dan Alit Suardana

Kemitraan adalah kerjasama antara usaha kecil dengan menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha

buku ini banyak dinikmati pembaca karena banyak mengangkat hal yang  buku ini banyak dinikmati pembaca karena banyak mengangkat hal yang  berkenaan dengan sosok masyarakat kecil

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan yakni 1) kemandirian belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 3 Gowa berada pada

Paine (1992: 32-33) keuntungan foto udara condong dibandingkan dengan foto udara vertikal yaitu (1) suatu foto condong meliputi kawasan yang lebih luas dari pada kawasan