NGUDUD DAN NGIPOK MENURUT SYAIKH IHSAN MUHAMMAD
DAHLAN AL-JAMPESI KEDIRI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Dalam Program Strata Satu (S-1) Pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)
Oleh: Arifatus Sa’adah NIM : A02211009
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
ABSTRACT
This framework by title smoke and coffee by Mr. Ihsan Muhammad
Dahlan Al-Jampesi Kediri. The explanation include: 1) how about the biography Mr. Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampesi Kediri? 2) how about thing of Mr.
Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampesi Kediri about smoke and coffe? 3) how
about comparative smoke and coffe at the contex healty and thing of Syaikh
Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampesi Kediri?
To answer the formulation problem, the writer use the science of the
religion and metodhe of survey the research are survey, description of manuscript
and the last analysis. And using theory of dialectic materialism.
Therefor the result of research, from the first answer are Mr.Ihsan
Muhammad Dahlan Al-Jampesi Kediri born on 1901 M. And he have a book with
the title of Irsyad Al Ikhwan Libayani Syurb Al-Qahwah Wa Ad-Dukhan. This
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv
TABEL TRANSLITERASI ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... x
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………...……… 1
B. Rumusan Masalah ……… 5
C. Tujuan Penelitian ……… 6
D. Kegunaan Penelitian ……… 6
E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik ……… 7
F. Penelitian Terdahulu ……… 10
G. Metode Penelitian ……… 13
H. Sistematika Bahasan ……… 16
BAB II : BIOGRAFI SYAIKH IHSAN MUHAMMAD DAHLAN AL- JAMPESI
A. Profil Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri... 18
B. Genealogi dan Pesantren Ihsan Jampes Kediri ……… 23
C. Karya – Karya Besar Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi
Kediri ………. 27
BAB III : KITAB IRSHADUL IKHWAN BILBAYANI SHURBIL QAHWAH
WA AD DUKHAN KARYA SYAIKH IHSAN MUHAMMAD
DAHLAN AL-JAMPESI KEDIRI
A. Salinan Syair kitab irshadul ikhwan libayani shurbil qahwa wa
ad-dukhan..………. 34
B. Terjemah dalam bahasa indonesia ………. 37
BAB IV : PERBANDINGAN GUNA ROKOK DAN KOPI BAGI MANUSIA
A. Rokok dan kopi dalam sudut pandang kesehatan ……….. 46
B. Rokok dan kopi dalam sudut pandang Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan
Al-Jampesi Kediri ……… 64
C. Keunikan dari Rokok dan Kopi ……… 68
BAB V : PENUTUP
A. KESIMPULAN ……… 70
B. SARAN ……… 71
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebudayaan indonesia pada masa lampau sampai sekarang adalah
merupakan warisan para leluhur. Budaya adalah sebuah sistem yang
memepunyai konverensi bentuk – bentuk simbolis yang berupa kata benda,
sastra, lukisan, nyanyian, misi, kepercayaan yang berkaitan erat dengan
konsep – konsep estemologi dari sistem pengetahuan masyarakat.1
Disamping itu terdapat warisan budaya yang berupa naskah yang
beraneka ragam dan ditulis dalam berbagai bahasa daerah maupun huruf,
sehingga budaya itu turun temurun sejak zaman dulu hingga sekarang.
Naskah – naskah kuno di Indonesia yang berasal dari berbagai daerah
dengan berbagai macam tulisan serta bahasanya termasuk yang bertulisan
arab ( pegon jawi ) dan bahasa arab sendiri. Banyak yang sudah disimpan
dalam koleksi – koleksi lembaga – lembaga pemerintah maupun swasta
dalam negeri dan luar negeri.2
Naskah adalah semua bahan tulisan tangan yang mengandung suatu
teks yang lengkap atau sebagai alat penyimpan teks. Sedangkan teks adalah
semua yang dimuat di dalam naskah atau kandungan naskah. Naskah
merupakan sesuatu yang kongkrit sehingga perlu dilakukan kehati- hatian
1
Kuntowijiyo, Budaya dan Masyarakat (Yogyakarta: PT.Tiara Wacana Yogya, 1987), xi. 2
Uka Tjandrasasmita, Beberapa Catatan Tentang Naskah – Naskah Kuno Islami Indonesia Dalam Pameran Festifal Istiqlal II (Jakarta: Proyek Pelita Pembinaan Kepurbakalaan dan Peninggalan Nasional Departemen P, dan K, 1995),3.
2
dalam penyimpanan dan memegangnya karena keadaan naskah sangat tua
mudah rusak dan juga dilestarikan. Oleh sebab itu naskah tersebut harus
diletakkan pada sebuah instansi yang mempunyai tujuan untuk melestarikan
budaya peninggalan benda – benda kuno leluhur bangsa yakni musium.
Penelitian terhadap naskah merupakan salah satu wujud adanya usaha
memberikan perhatian terhadapnya sekaligus dalam rangka memelihara dan
melestarikannya.3
Seorang sarjana Australia A. H. Johns menyatakan bahwa
keberhasilan seorang sufi dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara
disebabkan karena gagasan-gagasan mereka tentang mistik sehingga
mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat Indonesia, karena sejak
zaman sebelum Islam, tradisi kebudayaan Hindu di Indonesia sudah
didominasi oleh unsur-unsur mistik.4Dan keberhasilan juga didukung oleh
sikap dan sifat ulama yang kompromis yang tidak menpersoalkan perbedaan
etnis, ras, bahasa, serta letak geografis dan keikhlasannya dalam memberikan
pelayanan sosial hingga menjadikan masyarakat Indonesia haus terhadap
kebatinan Islam yang sangat kaya raya.5
Upaya pelestarian budaya atau kesenian, begitupun yang digunakan
sebagai sarana proses islamisasi di nusantara adalah sebagian bukti
kemampuan mereka dalam melestarikan budaya setempat. Dari beberapa
kesenian tersebut berupa seni bangunan, dalam hal ini yakni bangunan
3
Koes Adiwijajanto, Filologi dan Manuskrip: Menelusuri Jejak Warisan Islam Nusantara
(Surabaya: Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sunan Ampel, 2008), 89. 4
Simuh, Sufisme Jawa (Yogjakarta: Benteng Budaya, 2003),52. 5
Alwi Shihab, Islam Sufistik, Islam dan Pengaruhnya Hingga Kini di Nusantara (Bandung: Mizan, 2001), 40.
3
masjid, seni ukir atau ragam hias, seni sastra, baik tulisan maupun lisan yang
menjadi salah satu bentuk kesenian yang digunakan dalam proses islamisasi.6
Dari pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa manuskrip
adalah sebuah peninggalan masa lalu sebagai alat peradaban yang digunakan
para sufi untuk mengajarkan agama Islam dari ajaran fiqih sampai pada ajaran
tasawuf yang disebarkan oleh para ulama pada masyarakat Nusantara.
Banyaknya jumlah manuskrip membuktikan akan kekayaan karya dan budaya
pada masa penyebaran agama Islam, hingga menjadikan bangsa Indonesia
saat ini mejadi kaya akan budaya dan peradaban dari hasil akulturasi yang ada
di Nusantara. Banyaknya pendatang dari Timur Tengah yang membawa
ajaran baru dan banyaknya ulama yang meneruskan perjuangan para
pendatang sufi dengan berbagai ajaran agama, sangat memiliki peran dan
kontribusi yang besar dalam penyebaran agama Islam di Nusantara, sehingga
Islam berkembang pesat di bumi Nusantara.
Setiap peradaban dunia berawal dari budaya yang terus berkembang
hingga menjadi peninggalan- peninggalan baik yang berupa artefak maupun
kerohanian. Dari begitu banyaknya budaya yang telah ditinggalkan orang
terdahulu, hanya sebagian kecil saja yang sampai pada masa kini, karena
lenyap dan hilangnya budaya atau peradaban tersebut. Namun
peninggalan-peninggalan yang berupa artefak masih dapat kita teliti dan selidiki. Namun
sebaliknya, peninggalan yang berupa kerohanian seperti alam pikiran,
pandangan hidup, kepandaian bahasa dan sastra, hanya dapat diketahui
6
4
apabila berhubungan langsung dengan para pemiliknya. Berhubung tidak
dapat berhungan langsung dengan orang terdahulu, maka harta kerohaniannya
hanya dapat diketahui melalui tulisan-tulisan yang sampai pada tangan kita.7
Kediri merupakan kota yang memiliki banyak Pondok Pesantren, dan
mempunyai karakteristik yang cukup kompleks disegala bidang, baik itu
dibidang kehidupan agama, sosial, budaya, ekonomi, maupun masyarakat.
Salah satu pesantren yang terdapat dikabupaten Kediri tepatnya di Desa Putih
kecamatan Gampengrejo adalah Pondok Pesantren Al-Ihsan Jampes Kediri
sebagai tempat untuk menggali ilmu dan sebagai tempat untuk belajar hidup
mandiri, serta tempat untuk menggali prestasi.
Pondok pesantren Al-Ihsan jampes kediri merupakan salah satu
pondok yang mempunyai karya kitab yang telah mendunia dan merupakan
hasil karya dari Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri, kitab ini
di namakan kitab Irsyadul Ikhwan libayani syurbil qahwa wa ad-dukhan.
Sebuah hasil karya yang begitu fenomenal yang membahas tentang Ngudud (
Merokok ) dan Ngipok ( Ngopi ) juga mengenai hukum sekaligus pemikiran
Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri.
Sebuah naskah klasik yang disebut kitab yang dilahirkan oleh seorang
Syaikh ini merupakan karya yang menyinggung tentang kopi dan rokok,
dalam hal ini KH.Ihsan adalah sosok ulama besar dari kediri di zamannya,
yang cerdas, seorang sufi dan pengarang kitab – kitab ilmu agama. Kitab
karangan yang membesarkan nama beliau adalah kitab Sirajut Tholibinyang
7
5
mengomentari kitab Minhajul ‘Abidin karangan terakhir Imam Ghozali.
Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri, di kalangan pelajar
muslim timur tengah mendapat gelar “Al-Ghozali Ash-Shoghir”, karena
terbukti sebagai seorang ulama yang menguasai tasawwuf secara mendalam.8
Berjudul Irsyadul Ikhwan Libayani Syurbil Qahwa wa
ad-Dukhanpetunjuk tentang penjelasan hukum meminum kopi dan merokok ini
merupakan syarah dari kitab matan yang berjudul tadzkiratul ikhwan fi
bayanil qahwah wa ad-dukhan karya KH.Ahmad Dahlan. Kitab karya
KH.Dahlan tersebut ditulis dalam bentuk rajaz. Rajaz ialah salah satu jenis
syair ( nadzam ). Yang membedakan dengan jenis syair lainnya adalah rajaz
memiliki makna yang mudah dipahami atau maknanya langsung bisa
diterima, tidak bersayap atau memiliki makna ganda yang membutuhkan
penafsiran – penafsiran.
Karena Irsyadul Ikhwan adalah kitab Syarah, maka posisi Syaikh
Ihsan Jampes hanya menjelaskan secara lebih luas apa yang sudah digariskan
oleh KH.Dahlan dalam Tadzkiratul Ikhwan Fi Bayanil Qahwah Wa
al-Dukhan. Dalam arti tidak ada kritik, namun hanya memaparkan argumentasi
KH.Ahmad Dahlan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana biografi Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri ?
8
6
2. Bagaimana pemikiran Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri
mengenai ngudud dan ngipok ?
3. Bagaimana perbandingan Ngudud dan Ngipok dalam konteks ilmu
kesehatan juga menurut Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi
Kediri?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui profil Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi
Kediri.
2. Untuk mengetahui pemikiran Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi
Kediri mengenai ngudud dan ngipok.
3. Untuk memahamiperbandingan Ngudud dan Ngipok dalam konteks ilmu
kesehatan juga menurut Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi
Kediri.
D. Kegunaan Penelitian
Setelah mengadakan kegiatan penelitian sampai dengan disusunnya
penelitian ini, maka penulis berharap agar hasil penelitian ini berguna bagi:
1. Akademik
Adanya penelitian ini diharapkan membantu dalam menambah
wawasan dan pengetahuan dalam penelitian ilmu sejarah kebudayaan
islam bidang sastra. Khususnya terkait dengan manuskrip sesuai dengan
7
dijadikan pengalaman yang berharga dalam penelitian – penelitian
selanjutnya.
2. Kegunaan praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi penting
dalam memahami beberapa permasalahan dalam penelitian ini, yaitu:
a. Mengenai profil pengarang kitab Irsyad al Ikhwan Libayani Syurb al
Qahwah wa ad Dukhan yakni Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan
al-Jampesi Kediri,
b. Mengetahui teks Ngudud dan Ngipok dalam kitab Irsyad al Ikhwan
Libayani Syurb al Qahwah wa ad Dukhan karya Syaikh Ihsan Kediri,
dan
c. Memahami perbandingan antara Ngudud dan Kitab menurut Syaikh
Ihsan dengan ilmu kesehatan serta keunikan diantara keduanya.
Sehingga hasil dari apa yang telah diteliti oleh penulis dapat dipahami
dengan baik.
E. Pendekatan dan Kerangka Teori
Manuskrip koleksi Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi
Kediri adalah salah satu peninggalan kerohanian yang di dalamnya
menjelaskan tentang hukum rokok dan kopi yang disandingakan secara
integral terhadap keduanya. Dan seakan – akan keduanya tidak dapat
dipisahkan juga ditulis dengan budaya pada masa itu, sehingga membutuhkan
analisis untuk mengungkap pemikiran kehidupan sosial dan budaya pada
8
Islam koleksi perpustakaan pondok pesantren ihsan jampes kediri, maka
peneliti membutuhkan sebuah pendekatan dan kerangka teori.
Pendekatan pertama adalah pendekatan sejarah kebudayaan, karena
kebudayaan adalah simbol, nilai dan perilaku. Tugas sejarah kebudayaan
menurut Johan Huizinga dalam “The taks of cultural history”, Men And
Ideals History, The Middle Age, The Nenaissance (New York: Meridian
Books, Ing. 1959) yang dikutip oleh kuntowijoyo. Ia mencari pola – pola
kehidupan, kesenian dan cara berfikir secara bersama – sama dari satu zaman.
“secara bersama – sama” artinya tidak terpisah antara yang satu dengan yang
lain. Untuk keperluan itu harus dicari central consept yang dapat merangkai
ketiganya.9
Menurut Geertz bahwasanya budaya adalah suatu dimensi yang aktif
dan konstituf dari kehidupan sosial. Geertz melihat budaya sebagai “lengkung
simbolis atau blue print” yang seseorang bisa menciptakan dunia mereka
yang bermakna dalam level sekaligus yakni emosi dan kognitif.10 Pada
intinya terdiri dari tiga hal utama yakni sistem pengetahuan kognitif, sistem
nilai atau sistem evaluasi, dan sistem simbol yang memungkinkan pemaknaan
dan interpretasi.11
Pendekatan kedua adalah pendekatan agama, menurut Peter Berger
agama sebagai sebuah proses pembentukan dunia simbol – simbol. Ia mampu
menunjukkan ketergabungan dan kesalingterkaitan antara sosiologi agama
9
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah Edisi Kedua (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 2003), 167.
10
Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto, Teori – Teori Kebudayaan (yogyakarta: Kanisius, 2005),212.
11
9
dan sosiologi pengetahuan.12 Maka dari itu pendekatan ini digunakan karena
dalam kitab Irsyadul Ikhwan libayani syurbil qahwa wa ad-dukhan
menceritakan sebuah fenomena merokok dan minum kopi dan dijadikan
sebagai simbol – simbol religius dan dalam peristiwa itu dijadikan sebagai
makna yang terkandung dalam al-Qur’an.
Pendekatan ketiga adalah pendekatan Filologi, yakni pengetahuan
sastra dalam arti yang luas, antara lain yang mencakup bidang kebahasaan,
kesastraan, dan kebudayaan.13 Maka dari itu metode yang digunakan penulis
terkait dengan obyek pembahasan agar bisa mendeskripsikan tentang kiatb
Irsyadul ikhwan libayani Syurbil qahwa wa ad-dukhansecara eksplisit
maupun implisit karena teks terdiri dari isi dan bentuk. Dalam isi
mengandung ide – ide, atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang
kepada pembaca, sedangkan bentuk berisi muatan cerita atau pelajaran yang
hendak dibaca dan dipelajari.
Masuk pada analisis penelitian, penulis menggunakan teori dialektika
materialisme yang dikemukakan oleh Marx dan Engels, dan tanpa dialektika
materialisme tidak dapat menerangkan dunia realis yang tidak idealis.
Dialektika menjelaskan alam suatu materi (benda) khususnya
mempelajari fenomena akan pergerakan dan interelasi mereka, bukannya
keterasingan dan kestatisannya. Pergerakan dan interelasi (saling
berhubungan adalah dua prinsip paling general dari dialektika).
12
Bryan S Turner, Agama dan Teori sosial: Rangka Pikir Sosiologi Dalam Membaca Eksistensi Tuhan Diantara Gelegar Ideologi – Ideologi Kontemporer Terj. Religion and Shcool Theory
(Yogyakarta: IRCiSoD, 2006),15. 13
Nabila Lubis, NaskahTeks dan Metode Penelitian Filologi (Jakarta: Forum Kajian dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah, 1996), 14.
10
Konsep interelasi adalah prinsip paling umum untuk menerangkan
tentang perkembangan dan fungsi suatu materi. Bahwa sifat saling
bergantungan adalah bentuk universal dari semua kenyataan. Semua yang
Nampak di dunia ini merupakan rangkaian dari suatu materi.14
Dalam pembahasan lebih lanjut, penulis juga menggunakan metode
fenomenologi sebagai penguat dalam penelitian ini. Fenomenologi ini
berusaha mengungkapkan makna sebagaimana yang ditunjukkan gejala itu.15
F. Penelitian terdahulu
Sebelum penulis melakukan penelitian tentang manuskrip dengan
judul Ngudud dan Ngipok Dalam Kitab Irsyadul Ikhwan Libayani Syurbil
al-Qahwa wa ad-Dukhan Karya Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi
Kediri koleksi perpustakaan pondok pesantren Ihsan Jampes Kediri, penulis
menemukan beberapa skripsi yang membahas tentang skripsi manuskrip.
Skripsi tersebut adalah:
1. Skripsi yang diteliti oleh Ahmad Fatoni dengan judul “Ajaran Tauhid Dalam
Manuskrip Bustam Salatin Koleksi Musium Mpu Tantular Sidoarjo, Jawa
Timur”. Mahasiswa Fakultas Adab Jurusan Sejarah Peradabab Islam IAIN
Sunan Ampel Surabaya tahun 2010.Fokus pembahasan pada skripsi ini adalah
manuskrip yang berisi tentang ajaran tauhid milik kanjeng Rahaden Ayu
Pangeran Citera Soma ke enam tahun 1259 Hijriah di Jepara atau pada abad
19 Masehi dan mengenai makna yang terkandung dalam naskah Bustam
14
http://galihyogawahyukuncoro.blogspot.co.id/2015/01/dialektika-filsafat-ilmu.html?m=1 15
11
Salatin tentang ketauhidan ( Rububiyah dan Uluhiyah )dan pemantapan
ideologi dalam islam.
2. Skripsi yang diteliti oleh Dewi Musyarofah dengan judul “Kertas Gedog dan
Tradisi penulisan Manuskrip di Ponorogo”. Skripsi ditulis oleh mahasisiwi
Fakultas Adab Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Ampel
Surabaya tahun 2007.Fokus pembahasan terhadap deskripsi mengenai bahan
manuskrip yakni kertas gedog.
3. Skripsi yang diteliti oleh Nur Afidah dengan judul“Rubrikasi Dalam
Manskrip Islam Kitab al-Mufid Bernomor Inventaris 2089 M”. Skripsi
tersebut ditulis oleh mahasiswi Fakultas Adab Jurusan Sejarah Peradaban
Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2007.Fokus pembahasan rubrikasi
dalam manuskrip merupakan salah satu langkah di dalam proses penulisan
manuskrip yang penggunaannya dengan memberi tinta warna merah untuk
menambah penekanan pada kalimat khusus di dalam sebuah teks.
4. Skripsi yang ditulis oleh Anis Fujia Lukmaningsih dengan judul“Kisah Unik
Dalam Manuskrip Kitab Mi’raj Nabi Tahun 1778M Koleksi Museum Mpu
Tantular Sidoarjo Jawa Timur”.Skripsi tersebut ditulis oleh mahasiswi
Fakultas Adab Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Ampel
Surabaya tahun 2010.Fokus pembahasan adalah mencakup keunikan –
keunikan peristiwa yang terjadi di dalam manuskrip kitab Mi’raj Nabi tahun
1778M.
5. Skripsi yang ditulis oleh Wahid Chasbullah dengan judul “Aliran – Aliran
12
ditulis oleh mahasiswi Fakultas Adab Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN
Sunan Ampel Surabaya tahun 2010.Fokus pembahasan tentang teks tiga
aliran kaligrafi yakni khatt naskhi, khatt diwani dan khatt farisi.
6. Skripsi yang ditulis oleh Muhimmatus Sholihah dengan judul “Manuskrip
Khutbah Jumat Bulan Ramadan di Masjid Ainul Yaqin Giri Gresik
(StudiAnalisis Peradaban Dalam Manuskrip)”.Skripsi tersebut ditulis oleh
mahasiswi Fakultas Adab Jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan
Ampel Surabaya tahun 2008.Fokus pembahasan adalah perubahan bahasa
pada masa khutbah Ainul Yaqin Giri yang menggunakan bahasa arab yang
lambat laun menjadi bahasa indonesia atau bahasa setempat.
7. Skripsi yang ditulis oleh Farida Hanum dengan judul “Zakat Dalam Teks
Al-Sittin Masalah Pada Manuskrip Bahjatul Ulum Milik Muhammad Roum
Dagangan Madiun (Studi Perbandingan Dengan Teks Modern)”. Skripsi
tersebut ditulis oleh mahasiswi Fakultas Adab Jurusan Sejarah Peradaban
Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2008.Fokus pembahasan
perbandingan isi teks antara dua kitab yakni teks al-sittin masalah pada
manuskrip Bahjatul Ulum dengan kitab al-sittin masalah yang telah dicetak
modern.
Dari beberapa penelitian manuskrip terdahulu yang disebutkan diatas,
peneliti menyimpulkan bahwa pembahasan tentang Ngudud dan Ngipok
pada manuskrip Islam koleksi pondok Pesantren Ihsan Jampes Kediri belum
13
tentang pemikiran Ngudud dan Ngipok yang terdapat dalam manuskrip Islam
koleksi perpustakaan Pondok Pesantren Ihsan Jampes Kediri.
G. Metode Penelitian
Mengetahui dan menerangkan atau meramalkan sebuah naskah dapat
dilakukan dalam beberapa langkah yang harus ditempuh untuk mengawali
proses penelitian filologi,16 dengan melalui survey naskah, deskripsi naskah,
analisa,17 transliterasi, terjemah, dan historiografi.
Hal tersebut ditujukan agar penyusunan laporan dapat tersusun secara
sistematis dan dapat dipahami dengan baik. Berdasarkan metode sejarah yang
merupakan cara atau teknik dalam merekonstruksi peristiwa masa lampau.18
Sehingga langkah – langkah yang penulis tempuh antara lain adalah sebgai
berikut:
1. Survey
Survey ini merupakan langkah awal dalam sebuah penelitian yang akan
ditempuh untuk mendapatkan data yang akan diinginkan. Dalam penelitian
ini, survey dilakukan dengan pengamatan, wawancara dan dokumen
terhadap naskah dengan menghubungi tempat penyimpanan naskah dan
meminta copian dari naskah tersebut juga mencari informasi tentang
naskah tersebut.
16
Lubis, Naskah, Teks, 77-88. 17
Abdur Rahman Hamid dan Muhammad Saleh Madjid, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014), 43.
18
Ibid., 43.
14
Dalam hal tersebut penuilis mendapatkan copian teks naskah Irsyad al
Ikhwan Libayani Syurb al Qahwah wa ad Dukhan dari perpustakaan
pondok pesantren Ihsan Jampes Kediri yang telah disalin oleh santrinya
dan juga telah di digitalkan kitab tersebut.
2. Mendeskripsi naskah
Menyusun deskripsi naskah yang dipilih untuk diteliti. Dalam hal ini kitab
Irsyad al Ikhwan Libayani Syurb al Qahwah wa ad Dukhan menjadi objek
penelusuran manuskrip dipandang dari arah isi daripada kitab tersebut.
3. Analisa
Dari beberapa tahap diatas dalam pendeskripsian terhadap
manuskrip/naskah, kemudian langkah penulis selanjutnya byang akan
dilakukan adalah menginterpretasi atau menganalisis terhadap kitab Irsyad
al Ikhan Libayani Syurb al Qahwah wa ad Dukhan. Dari penjelsan
sebelumnya, penulis akan melakukan analisis ini dengan menggunakan
teori dialektika materialisme. Sehingga proses penulisan skripsi ini dapat
berjalan dengan baik.
4. Transliterasi/transkripsi
Transliterasi adalah penggantian huruf atau pengalihan huruf demi huruf
dari satu abjad ke abjad yang lain. Misalnya dari huruf Arab ke huruf latin
atau lebih singkatnya menyalin teks tersebut.
Alih tulisan yang akan dilakukan ini bertujuan untuk memudahkn penulis
15
mengurangi dan menambahi dari apa yang terdapat dalam manuskrip kitab
Irsyad al Ikhwan Libayani Syurb al Qahwah wa ad Dukhan.
5. Terjemahan
Menerjemah teks, dimana pekerjaan ini dapat dikategorikan sebagai
pekerja seni. Terdapat beberapa cara untuk menerjemahkan teks, antara
lain:
a. Terjemah harfiyah, ialah menerjemahkan dengan menuruti teks
sedapat mungkin, meliputi kata demi kata.
b. Terjemah agak bebas, ialah seorang penerjemah diberi kebebasan
dalam proses penerjemahannya, namun kebebasannya itu masih dalam
batas kewajaran.
c. Terjemah yang sangat bebas, yakni penerjemah bebas melakukan
perubahan, baik menghilangkan bagian, menambah atau meringkas
teks.
Dalam hal ini penulis menggunakan cara penerjemah yang pertama yakni
terjemah harfiyah, sebab cara ini telah diturunkan oleh asatidz pesantren
yang telah membantu mengkaji kitab ini dalam menafsirkannya.
6. Historiografi
Historiografi adalah proses penulisan sejarah terhadap hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh peneliti. Para peneliti bebas dalam
merealisasikan peristiwa – peristiwa sejarah sesuai dengan prinsipnya. Hal
ini bertujuan untuk menyampaikan hasil temuan yang telah didapatkan
16
Dengan demikian dalam meneliti manuskrip kitab Irsyad al Ikhwan
Libayani Syurb al Qahwah wa ad Dukhan, penulis dituntut untuk
melakukan sebuah eksplanasi secara kritis dan mendalam tentang
“bagaimana” dan “mengapa” kitab tersebut mengalami pro dan kontra
dalam sebuah pemikiran dalam laporan tertulis, yang berbentuk skripsi
sebagai hasil akhir dari penelitian.
H. Sistematika Bahasan
Untuk mempermudah pembahasan masalah dalam penelitian ini,
penulis membagi dalam beberapa bab, dan beberapa sub bab yang terdapat
pada setiap babnya. Untuk lebih jelasnya, sistematika dalam pembahasan
dalam penelitian ini sebagai berikut :
Pada bab pertama ini bertujuan untuk mengantarkan secara sekilas,
yang meliputi secara global yaitu : latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, kegunaan penelitian, pendekatan dan kerangka teori,
penelitian terdahulu, metode penelitian dan sisitematika bahasan.
Pada bab kedua ini mengenai biografi Syaikh Ihsan Muhammad
Dahlan al-Jampesi Kediri. Pada bab ini membahas tentang beberapa sub bab
mengenai a). Profil Syaikh Ihsan Muhammad dahlan al-Jampesi kediri, b).
Genealogi Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri, c). Profil
Pondok Pesantren Ihsan Jampes Kediri, d). Karya – karya besar Syaikh Ihsan
Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri.
Pada bab ketiga ini menjelaskan tentang pemikiran Syaikh Ihsan
17
irsyadul ikhwan libayani syurbil qahwa wa ad-dukhan, b). Terjemah dalam
bahasa indonesia.
Pada bab keempat ini menjelaskan mengenai a). rokok dan kopi dalam
sudut pandang kesehatan, b). rokok dan kopi dalam sudut pandang Syaikh
Ihsan Muhammad Dahlan al Jampesi Kediri, c). keunikan dari rokok dan
kopi.
Dalam bab kelima ini menjadi bab terakhir yang di dalamnya berisi
18
BAB II
BIOGRAFI SYAIKH IHSAN MUHAMMAD DAHLAN AL-JAMPESI KEDIRI
A. Profil Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri
KH.Ihsan lahir pada tahun 1901 masehi, dimasa kecilnya bernama Bakri. Ia
adalah anak kedua dari KH.Dahlan dan Nyai Artimah. kedua orang tuanya
bercerai selagi ia masih berusia 5 Tahun, ibunya lalu kembali ke desanya
Banjarmelati kota Kediri. Bersama adiknya, Dasuki ia di besarkan oleh
neneknya di Jampes. Sedangkan adiknya yang bernama Marzuqi (lahir
beberapa bulan setelah perceraian kedua orang tuanya) ikut dengan ibunya.
Bakri dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga pesantren.
Walau begitu ia tidak hanya bergaul dengan kalangan anak – anak pesantren
dan keluarga kyai, tetapi juga dengan orang – orang komunitas luar pesantren.
Semenjak kecil, Bakri mempunyai kecerdasan fikiran dan daya ingat yang
mengagumkan. Pada masa remajanya, Bakri menggemari bidang seni dan satra
jawa. Ia sangat gemar nonton pertunjukan wayang kulit. Dimanapun ada
pertunjukan kesenian Jawa ini, disitu tentu Bakri berada. Tak pernah ada
pertunjukan wayang di daerahnya yang terlewatkan begitu sajatanpa ia tonton,
baik yang dipentaskan oleh dalang – dalang senior maupun para dalang pemula
yang baru saja bisa berpentas. Maka sangat wajar kalau kemudian ia menjadi
faham betul akan cerita – cerita perwayangan dan karakter dari tokoh –
19
disempurnakan oleh sunan kalijaga itu, sehingga dia punya hobi
mengumpulkan beberapa anak wayang dan dengan koleksi anak – anak
wayangnya itu seringkali ia mempertunjukkan kemampuannya mendalang
dihadapan kawan – kawannya.19
Dalam petualangan masa mudanya bersama kawan – kawannya yang
beraneka ragam latar belakangnya itu, Bakri mempunyai hobi sangat tercela
yaitu bermain judi. Ia sangat mahir bermain beraneka macam permainan yang
bersifat adu nasib itu, akan tetapi sepandai – pandai orang bermain judi,
nasiblah yang menentukan kemenangannya.20
Bakri yang selama ini mendapatkan pendidikan agama hanya dari
keluarganya, terutama nenek dan ayahnya, kemudian mulai belajar ilmu – ilmu
agama melalui lembaga pesantren. Untuk yang pertama kali, ia belajar di
pondok pesantren Bendo Pare Kediri yang diasuh oleh pamannya sendiri,
KH.Khozin, kemudian pindah ke pesantren lain dan selanjutnya beberapa kali
pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya.
Diantaranya Bakri pernah menimba ilmu di beberapa pesantren seperti di
bawah ini :
1. Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri),
2.Pondok Pesantren Jamseran Solo,
3.Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang,
19
KH.Busrol Karim A Mughni, Syekh Ihsan Bin Dahlan Jampes Kediri (Jampes Kediri: cetakan ke-9 oktober 2012),23-24.
20
Ibid, hal.26
20
4.Pondok Pesantren Mangkang Semarang,
5.Pondok Pesantren Punduh Magelang
6.Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk,
7.Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para
Ulama’.21
Bakri tidak pernah tinggal di suatu pesantren dalam jangka waktu yang
lama. Dalam pergaulan di pondok – pondok pesantren Bakri tidak pernah
merasa tinggi hatiatau sebagai orang yang lebih terhormat daripada temannya
lantaran ia sebagai putra seorang kyai yang sudah terkenal dimasa itu.
Bakri mengakhiri belajarnnya diberbagai pesantren sewaktu ayahnya
menghendaki dai untuk membantu mengajar di pesantrennya sendiri, pondok
Jampes. Pada Tahun 1926, Bakri berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan
ibadah haji, semenjak itu namanya berganti menjadi KH.Ihsan. setelah ayahnya
wafat pada tahun 1928. Pesantren Jampes kemudian dipimpin oleh KH.Kholil
adik dari KH.Dahlan yang pada masa kecilnya bernama Muharrar.
Tak lama sepeninggal ayahnya, KH.Ihsan lalu mengakhiri masa
lajangnya. Ia menikah dengan seorang gadis dari desa Sumberejo
poncokusumo Malang, namun hanya sampai beberapa waktu lalu mereka
berpisah. Lalu menikah dengan putri KH.Muhyin dari desa durenan trenggalek
yang masih memiliki hubungan famili denganya. Pernikahan ini juga berakhir
dengan perceraian (bekas istrinya ini kemudian dinikahi oleh KH.Jazuli
21
21
Ustman pengasuh pesantren ploso Kediri). Selanjutnya ia menikah lagi dengan
seorang gadis dari desa Kapu Pagu Kediri yang juga berakhir dengan
perpisahan dan kemudian mempesunting seorang gadis dari desa Polaman
Kediri dan inipun tidak berlanjut.
Pada tahun 1932, kepemimpinan pesantren Jampes diserahkan oleh
KH.Kholil kepada KH.Ihsan. semenjak itulah KH.Ihsan memikul tanggung
jawab besar sebagai pengasuh pesantren jampes. Pada tahun 1932, KH.Ihsan
yang telah dikenal sebagai kyai pengasuh pesantren jampes menikah lagi
dengan seorang gadis dari desa Kayen Kidul kecamatan Pagu Kediri yang
kemudian menjadi pendamping beliau seterusnya. Isterinya yang kelima ini
bernama Surati (Hj.Zaenab) puteri dari H.Abdurrahman, salah seorang alumni
pesantren jampes yang menjadi murid almarhum KH.Dahlan. Selain itu,
KH.Ihsan mempunyai hobi menulis (mengarang). Waktu – waktu beliau
bilamana tidak digunakan untuk membaca /muthalaáh, maka digunakan untuk
menulis. Sudah barang tentu yang selalu beliau tulis adalah naskah – naskah
yang bertema keagamaan, sesuai dengan kedudukan beliau sebagai kyai
pengasuh pondok pesantren.22
Untuk melengkapi pendidikan di dalam pondok pesantren yang sudah
terbilang besar diwaktu itu, maka pada tahun 1942, KH.Ihsan mendirikan
sebuah madrasah yang diberi nama Mafatihul Huda( MMH ). Madrasah ini
terdiri dari tujuh jenjang kelas dan kedua dinamakan sifir awal dan tsani, yaitu
22
Ibid,38-39
22
merupakan masa persiapan untuk memasuki madrasah lima tahun berikutnya (
kini menjadi 12 jenjang, yakni Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah).
Madrasah yang baru didirikan itu diselenggarakan pada sore hari dan
ditempatkan dibeberapa komplek asrama pondok.Baru beberapa tahun
kemudian madrasah ini memiliki gedung sendiri dan diselenggarakan dipagi
hari.23
Tepat pada hari senin pukul 12 tanggal 25 Dzulhijjah 1371H atau 16
september 1952, KH.Ihsan dipanggil oleh Allah swt untuk selama – lamanya
dengan diiringi deraian air mata dari para keluarga dan santri yang masih
sangat membutuhkan bimbingan dan pendidikannya.
Memang seperti sabda Nabi saw : “Sesungguhnya Allah tidak mengambil
ilmu (dari kalangan umat manusia) dengan mencabutnya dari dada (hati) para
ulama, akan tetapi akan mengambilnya dengan lantaran mewafatkan mereka,
sehingga jika sudah tak ada lagi seorang alim di bumi ini, maka manusia akan
mengangkat para pemimpinnya dari orang – orang bodoh. Dan jika pemimpin
– pemimpinnya itu ditanya, maka akan memberikan fatwa tanpa berdasarkan
ilmu. Mereka itu sesat dan menyesatkan.”
Jenazah beliau dimakamkan pada sore hari itu juga disebelah makam
ayahnya di pemakaman khusus di desa putih yang berjarak 1KM disebelah
selatan Jampes, tempat dimana disitu para keluarga dimakamkan.24
23
Ibid, hal.52 24
Ibid, hal.80
23
B. Genealogi dan Pesantren Ihsan Jampes Kediri
KH.Ihsan adalah putera pendiri pesantren Jampes yang bernama
KH.Dahlan bin Saleh. Beliau dilahirkan di Jampes pada tahun 1901 sebagai anak
kedua dari 14 bersaudara. Kakek KH.Ihsan (Ayah dari KH.Dahlan) yang bernama
K.Saleh berasal dari bogor jawa barat yang pada masa mudanya menuntut ilmu di
berbagai pesantren di jawa timur, dimana dia mempunyai saudara lelaki (kakak)
bermukim di propinsi ini bernama ujung Mahmud yang bertempat tinggal di
kawasan surabaya.
Beberapa tahun lamanya Saleh muda belajar di jawa timur, sampai
akhirnya dia menikah dengan seorang gadis bernama Istianah binti KH.Mesir dari
desa Durenan kab.Trenggalek.
Istianah adalah anak kesembilan dari sepuluh putera puteri
KH.Mesir.diantara saudara – saudara Istianah ialah KH.Mahyin, mertua
KH.Jazuli Ustman pendiri pesantren Al Falah Ploso Kediri.
Adapun KH.Mesir, ayah Istianah itu adalah putera kedua dari enam belas
bersaudara putera puteri K.Yahuda, seorang tokoh ulama dari Ds.Nogosari
Kec.Lorog Kab.Pacitan yang masih keturunan dari panembahan senapati, pendiri
kerajaan Mataram pada akhir abad ke 16.
Sesudah menikah dengan Istianah, Saleh yang biasa dipanggil sehari –
harinya dengan Ujang Saleh itu kemudian bertempat tingal di Desa Ngadi
Kec.Mojo Kediri, kurang lebih 18 KM di selatan kota tersebut. Sampai saat ia
24
Semarum Kec.Durenan Kab.Trenggalek. dia meninggalkan empat putera, masing
– masing ialah Mubarok, Mabari, Muhajir, Muhaji.
Desa Ngadi waktu itu termasuk daerah yang rawan kejahatan. Oleh
karenanya Ny.Istianah mencari tempat tinggal yang baru, karena telah dirasa
cocok maka beliau berpindah di suatu desa ditepi sungai Brantas di barat laut
Kota Kediri yang dibelah oleh jalan propinsi yang menghubungkan Kediri dengan
Surabaya, yaitu Ds.Putih Kec.Gampengrejo Kab.Kediri (tempat pesantren Al
Ihsan Jampes sekarang). Dan ikut pindah pula bersamanya saudara sepupu yang
bernama Nyai Ba’in yang kemudian bertempat tinggal sekitar 100 m sebelah
timur rumah Istianah di desa baru itu.Pemiliha lokasi tempat tinggal yang baru ini,
adalah atas petunjuk adiknya yang bernama Sureh, adiknya ini dikenal ahli
dibidang ilmu hikmah dan kanuragan.
Ny.Istianah adalah seorang wanita yang tumbuh dalam suasana religiusdan
keilmuan agama yang tinggi, oleh karena itu dia yang mahir mengaji kitab Tafsir
Jalalain, dalam mendidik anak – anaknya selalu menekankan kepada ajaran -
ajaran agama.
Kemudian Mubari (KH.Dahlan) menikah dengan seorang yang bernama
Artimah namun pernikahan tersebut tidak berlanjut, mereka bercerai setelah
dikaruniai empat anak, masing – masing ialah :
1. Anak perempuan yang meninggal sewaktu masih kecil.
2. Bakri, yang kelak terkenal dengan nama KH.Ihsan.
3. Dasuki (setelah menikah bertempat tinggal di Desa Jasem Mojo Kediri –
25
4. Marzuqi, yang kelak dikenal dengan nama KH.Marzuqi, pengasuh pondok
pesantren Lirboyo Kediri (wafat 1975)
KH.Dahlan kemudian menikah lagi dengan seorang gadis dari Banaran Pare
Kediri, bernama Maryam puteri KH.Sholeh pengasuh pondok pesantren Banaran
Pare. Dari pernikahannya yang kedua ini dia mendapatkan beberapa putera –
puteri, yaitu :
1. Khozin
2. Ruqayah
3. Tubaji
4. Maslamah
5. Halwiyah
6. Muhsin ( kelak dikenal sebagai KH.Muhsin).
7. Muslim
8. Aminah
9. Anak perempuan yang meninggal sewaktu dilahirkan.
KH.Dahlan adalah seorang kyai yang piawai dalm ilmu falak
(Astronomi).Pada masa belajarnya, beliau pernah secara khusus menekuni ilmu
ini di sebuah pesantren di Jawa Tengah. KH.Dahlan dikenal pula sebagai seorang
sufi yang menekankan ajaran tasawuf kepada para santri dalam kehidupan mereka
sehari – hari di pesantrennya, sehingga kehidupan para santri di dalam pondok
sangat kental warna tasawwufnya. KH.Dahlan wafat pada tanggal 25 syawal di
26
panjatkan dalam setiap doánya kepada Allah tak lain ialah agar anak cucunya
menjadi orang – orang berilmu yang selalu mengamalkan ilmu – ilmu yang
dimilikinya.
Setelah kepergian KH.Dahlan kemudian kepemimpinan pesantren digantikan
sementara oleh adik KH.Dahlan yakni KH.Khozin, akan tetapi tidak berlangsung
lama kemudian Bakri telah menyelesaikan rihlah ilmiahnya. Sehingga pada tahun
1932 M, Bakri telah menjadi pengasuh utuh pondok pesantren jampes. Tak lama
setelah beliau menjadi pengasuh pondok Jampes, beliau menunaikan ibadah haji
dan berganti nama menjadi KH.Ihsan.
Kepemimpinan KH.Ihsan ini menjadikan pesantren semakin berkembang
dengan pesat, tak hanya sebagai seorang yang patut di taati sebagai kyai, akan
tetapi beliau juga dikenal sebagai penulis kitab – kitab yang begitu fenomenal
pada masanya, bahkan beliau sempat dijuluki “Ghozali Shagir” oleh mahasiswa di
Al-Azhar Kairo.25KH.Ihsan tidak menurunkan anak terkecuali dari Isterinya yang
bernama Hj.Zainab.beliau menurunkan delapan putera – puteri, yaitu:
1. Husniyah (meninggal sewaktu masih kecil).
2. Hafsah
3. Muhammad
4. Abdul Malik
5. Rumaisa
6. Mahmudah
25
27
7. Anisah
8. Nusaiziyah26
C. Karya – Karya Besar Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri
a. Tasrih Al ‘Ibarat
Pada tahun 1929, beliau menulis sebuah kitab dibidang ilmu falak
(astronomi) yang diberi judul Tasrih Al ‘Ibarat Syarah/penjabaran dari
kitab karya KH.Ahmad Dahlan Semarang yang berjduul Natijat al
Miqat.
Sebagaimana pernah disinggung, ayah KH.Ihsan (KH.Dahlan)
adalah seorang kyai yang sangat mahir dibidang ilmu falak yang pada
masa mudanya telah pernah mengkhususkan diri memperdalam ilmu ini
kepada seorang kyai ahli ilmu falak disuatu pondok pesantren di Jawa
Tengah.Rupanya ilmu Astronomi tidak luput pula dari perhatian
KH.Ihsan.dimasa mudanya beliaupun menekuni ilmu ini di pesantren
Jamseran Salatiga.
Kitab falak karya KH.Ihsan ini menjelaskan tentang cara
penggunaan kuadran/rubu’, suatu alat kuno perlengkapan ilmu falak
yang berbentuk seperempat lingkaran dengan sisi lengkung 90 drajat.
Pada bab akhir kitab ini, kuadran tersebut digunakan untuk mengetahui
awal dan akhir waktu – waktu 5 shalat fardhu.
26 Ibid,82.
28
Kitab Tasrih Al ‘Ibarat pernah diterbitkan oleh sebuah penerbit
dikota Kudus dengan isi setebal 48 halaman.
Berkaitan dengan keahlian dibidang ilmu falak ini, di pondok
jampes, jadwal waktu sholat lima waktu dibuat sendiri oleh KH.Ihsan.
demikian pula penetapan awal bulan – bulan hijriyah khususnya yang
menyangkut peribadatan yakni, Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.
Bahkan jadwal waktu – waktu shalat dan penetapan awal – awal bulan,
semenjak berdirinya pondok Jampes, juga dibuat sendiri oleh
KH.Dahlan yang pandai pula di bidang ilmu astronomi ini.
Hanya saja dizaman itu belum banyak kyai yang menggunakan
hisab kontemporer, sehingga dalam menentukan awal bulan – bulan
yang berkaitan dengan peribadatan tersebut KH.Ihsan menggunakan
metode hisab taqribi dari kitab – kitab acuan seperti sulam Al nayirain
(Muhammad Mansur bin Muhammad DAmiri Al Batawi), Al Qawaid
Al FAlakiyah (Abdul Fatah Assayid AttunyAl Falaky Al Misry),
Tadzkirotul Ikhwan (KH.Dahlan Semarang) dan lain – lainnya. Khusus
daam menentukan bulan syawal dengan model hisab tersebut KH.Ihsan
mematok standar 6 drajat. Ini karena menurut para ulama untuk
menetapkan awal bulan syawal, hilal harus dilihat minimal oleh dua
orang saksi. Berbeda dengan awal bulan – bulan yang lain yang cukup
dengan hanya seorang saksi.27
b. Siraj Al Thalibin
27
Ibid, hal.39-41.
29
Selanjutnya pada tahun 1932, diwaktu menduda setelah perceraian
dari pernikahannya yang keempat, beliau menulis sebuah kitab dibidang
ilmu tashawwuf yang kemudian membuat beliau menjadi terkenal itu
yaitu kitab Siraj Al Thalibin. Kitab ini merupakan syarah dari kitab
karangan terakhir Imam Al Ghazali : Minhaj Al ‘Abidin. Dari karya Al
Ghazali yang hanya sebanyak 93 halaman, dijabarkan dan dianalisis
oleh KH.Ihsan menjadi uraian sebanyak lebih dari 1000 halaman
melalui kitab karyanya ini. Kitab Siraj Al Thalibin disusun beliau dalam
waktu yang relative singkat, yakni kurang dari masa delapan bulan.
Kitab ini diterbikan pertama kali pada tahun 1936 oleh penerbit An
Nabhaniyah Surabaya milik Salim Nabhan bersaudara yang dicetak di
percetakan Musthafa Al Babi Al Halabi di Kairo Mesir.
Sebelum diterbitkan, kitab Siraj Al Thalibin terlebih dahulu
disodorkan oleh KH.Ihsan kepada kyai – kyai terkenal dimasanya agar
mereka berkenan mengoreksidan mentashihnya. Diantara kyai – kyai
itu adalah KH.Hasyim Asy’ari pengasuh pesantren Tebu Ireng
Jombang, KH.Abdurrahman bin Abdul Karim pengasuh pesantren
Sekar Putih Nganjuk, KH.Muhammad Yunus, kota Kediri, KH.Abdul
Karim pengasuh pesantren Hidayatul Mubtadiin Kediri, pamannya
sendiri KH.Khozin pengasuh pesantren Benda Pare Kediri dan lain –
lainnya. Ternyata mereka meresponnya dengan pujian yang luar
biasa.Mereka bukan hanya memuji kitab yang disodorkannya itu, tapi
30
usianya sebaya dengan umur almarhum ayah KH.Ihsan misalnya, di
halaman resensi kitab ini menyebut pengarangnya sebagai orang alim
alamah yang ahli dibidang sastra.
KH.Ihsan dikenal sebagai ulama sufi lantaran kitab karanganya ini.
Ayah beliau sendiri, KH.Dahlan adalah seorang sufi yang tidak hanya
mengamalkan ajaran tasawwuf buat dirinya sendiri tapi juga
menekankan ajaran inikepada para santrinyadalam kehidupan mereka
sehari – hari sehingga pondok Jampes dikenal sebagai pondok tasawuf
atau pondok sufi.
Disebutkan dalam kitab ini bahwa seorang hamba Allah yang
hendak menjalankan ibadah, jika diibaratkan orang yang hendak
berjalan menuju suatu tempat tujuan, ia harus terlebih dahulu
menempuh dan melewati satu persatu beberapa jalan terjal/’aqabah
yang dituturkan kitab ini. Ia tidak akan bisa sampai ketempat tujuan
tanpa melewati kesemua ‘aqabah itu yang jumlahnya ada 7 (tujuh).
Dari tujuh aqabah yang dituturkan pengarang kitab siraj al thalibin,
ada 16 perkara yang tercakup dalam aqabah – aqabah tersebut yang
harus dilakukan atau dilawan ataupun ditaklukan oleh orang – orang
yang hendak beribadah agar mendapatkan imbalan dari Allah
sebagaimana yang diharapkan.
Selain menguraikan panjang lebar mengenai aqabah yang menjadi
31
menuturkan kisah – kisah para Nabi, para sufi dan lain – lainnya yang
dapat dijadikan teladan bagi pembacanya.28
c. Manahij Al Imdad
Pada tahun 1940, beliau menulis lagi sebuah kitab yang diberi judul
Manahij Al Imdad syarh Irsyad Al ‘Ibad karya Syeikh Zainuddin Al
Malibari (982H).
Dari kitab Irsyad Al ‘Ibad yang setebal 118 halaman, oleh KH.Ihsan
diperjelas, diberi komentar dan analisis melalui tulisannya ini menjadi
lebih dari 1000 halaman. Kitab Manahij Al ‘Imdad terdiri dari dua jilid,
masing – masinng berisi 526 dan 559 halaman. Kitab ini menguraikan
tiga pokok ajaran islam yaitu keimanan, hukum – hukum syari’at dan
tasawwuf/akhlak.
Pada bab pertama, kitab ini dibuka dengan penjelasan tentang rukun
– rukun iman yang enam. Dibidang hukum – hukum syariat dan fiqih
dimulai dengan pembahasan wudhlu lalu diteruskan ke permasalahan
shalat, zakat, puasa, haji dan lain – lainnya. Sedangkan dibidang
tasawwuf, kitab ini menjelaskan tentang keutamaan zuhud, syukur,
khauf/takut kepada Allah swt dan keburukan – keburukan riya, dengki,
amarah, menggunjing orang, membanggakan amal dan lain – lainnya.
Dalam menguraikan materi fiqih, kitab ini tidak menjelaskannya
hanya secara legal formal sebagaimana kitab fiqih pada umumnya,
tetapi juga disertai penjelasan berbagai makna dan hukum serta
28
Ibid, hal.48
32
fadhilah/keutamaannya, bahkan disertai berbagai cerita teladan sebagai
pendukungnya.
Ketika KH.Ihsan wafat, kitab Manahij Al Imdad belum sempat
diterbitkan, karena tidak lama setelah kitab ini selesai ditulis, negeri
dilanda peperangan dan pertikaian dengan negeri bekas penjajah yang
berkepanjangan, mulai dari tahun 1942 hingga menjelang tahun 1950.
Tidak lama setelah negeri ini tenang KH.Ihsan wafat.
Pada tahun 1980 an, kitab Manahij Al Imdad dibawa gus Dur
(KH.Abdurrahman Wahid) untuk diserahkan kepada syeikh Yasin Al
Fadangi di Mekah agar diusahakan untuk dapat diterbitkan. Namun
sebelum niat itu terlaksana, ulama asal padang yang mukim di Mekah
ini keburu wafat pada tahun 1990. Akhirnya keluarga KH.Ihsan
berusaha menerbitkan sendiri kitab syarah Irsyad Al Ibad ini pada tahun
2005.29
d. Irsyad Al Ikhwan
Masih ada lagi tulisan beliau lainnya, yaitu sebuah kitab yang diberi
judul Irsyad Al Ikhwan fi Syurbi Al Qahwati wa Al Dukhon, sebuah
kitab setebal 48 halaman yang khusus membicarakan tentang minum
kopi dan merokok ditinjau dari hukum islam.
KH.Ihsan adalah seorang perokok dan gemar pula minum kopi. Ada
seorang ulama di Jawa Timur mengeluarkan fatwa mengharamkan
29
Ibid, hal. 48-50
33
orang – orang muslim minum kopi dan merokok. Hal ini kemudian
mengilhami beliau untuk menulis kitab ini.
Irsyad Al Ikhwanmengupas perbedaan pendapat para ulama tentang
minum kopi dan merokok dan yang paling seru adalah perbedaan
pendapat mengenai hukum merokok.Disitu dituturkan, ada ulama yang
berpendapat bahwa merokok itu relative, tergantung dari dampak yang
ditimbulkannya.Jika merokok buat sseorang mngakibatkan perbuatan
haram, maka merokok hukumnya haram bagi orang yang
bersangkutan.begitu pula apabila dapat menimbulkan perbuatan makruh
atau mubah, dan tanpa kecuali jika dapat mendorong semangat pada
perbuatan ibadah, maka merokok bagi yang besangkutan tergolong
ibadah pula.
Akan tetapi pada garis besarnya, perbedaan hukum merokok berkisar
antara haram, makruh dan mubah.Di dalam kitab Isyad ini pengarang
mengunggulkan pendapat yang menyatakan makruh selama tidak ada
dampak kemudharatan yang nyata dari perbuatan merokok itu.30
30
Ibid, Hal.51.
34
BAB III
KITAB IRSYADUL IKHWAN LIBAYANI SYURBIL QAHWAH WA AD DUKHAN KARYA SYAIKH IHSAN MUHAMMAD DAHLAN
AL-JAMPESI KEDIRI
A. Salinan Syair kitab irshadul ikhwan libayani shurbil qahwa wa ad-dukhan31
35
16.ﺔﺪ ﺎ ام ﺎھ ﻰ # ﺔ ﺎ و ﺎ واﺎ
17.ﺪ وا اﻰ # ﺔ ﺎ ﻰ ا ﺄ ك
18.د ﺎ نﻮ ﻮ ﺎ ا # ﻮ ھﻮطﺎ
Bab 2.b 1. ﻲﺎ ﻮاﻲﻮ امﮭ # نﺎ د اﻰ مﺮ ﻮ
2. ﮫ ك ﺬا ﮭ ﻮ ﻰ # ﺔﺎ ﺮﮫ نا ﻰ
3. نﺎ د ا ﺮ , ﺎ ﺎ # ناﻮ اﺔ ﺎھﺎ ﺪ
4. هﺮﺮ ﺬا ىﺮوﮭ اﻰ # هﺮ ﺎ ﮭﺎ ﺮﺎ ﮫ
5. ﺎ ﮭاﮫﺮ ﺮ ﺎ # ﺎ ﮭ ﻮ ﺎ ﺮ اﺎ
6. اﺪﺎ ا اﺮ اﻰ # ﻮ اكﺬﻰا ھﻮ
7. ﺔ ﻮ ا ﻮاﺪﺪ ﻮ # ﺔ ﻮ اﺎ ن ﺔ ﺎ
8. ﺎ ﻮ ن رﺎ من # ﺎ ﮭ ﻮ ﻰ
9. ﮫ اﺎ اﺬﺎ ﺎ اﺀﻮ # ﮫ ﻰ ﮫﻮ
10.ﺎ ﺪﺎﻮ ﺎ ﮫ اﺪ ﺎﻮ # ﺎ ا ﺎ ا اﺮﻮ
11.ﺮﮭ اﺚﺎ ا # ﺮ ﺬ ﺔ اﻰ ﺎ ﻮ
12.ﺎ ﺮ اﺪﻮ ﺎ ﺮ ﻮ ﺜ # ﺎ ﺎ ا ىﺬاﻰ
13.ﮫ ﮫ ﺎھ ﻰ # ﺜﮫﻮﺪ ﺮ اﺔ
14. ان ياﺮ ﺎ ا # ﺮ ا ﺪا ﺪ ﻮ اﺬ
15. ﻮاداﺪ ا ا # اﺎ
16.ﺮ ﺎ ﺎ ﻮ ﺎ ﻮ # ﺮﻮﮭ امﺎ ﺎ ﺮﺆ ﺎ
17.ﺮﺮ ا دأ ﮫﺮ ﻰ نﺎ د # ﺮﮭ كﺎ ﺮﺎ ﻰاﻰ
18.ﺎ ﺮ ﺜ ﺎ ﻮا # ﺎ ﺰ د ﺔ ﺮ ﮫ ﻮا
36
20.ﺀﺎ اﻰﺄ ﻮ ت ﺮا ﺜ # ﻰ بﺎ ات ﺮ ﺎ ت
21. ﻮا اةﺮﺎاﺜ غﺎ ﺪﻰا # اﺪ اوھ
22. ﺮ ا ﺎ ا ﺬاھ # ﺮ انو ا و ﺬا
Bab 3.c 1. ماﺮ اﺔ ﺔ أ # ماﺮ امﺪ ﺮ ﻮ
2. ﺎ اﻰﺮ ﻰ اﮫھﺬ # ﻰ ﺎ اﻰ اد ﮭ
3. ﺔ ﺬا ﺎ د ا ﺮ # ﺔ ﺎﻹا ﺔﺎ ﺮﮫ
4. ﺔ ﮭﺎ اﻰ انﺎ ا وا # ﺔ اﻲ اﺮ ا ﮭ و
5. اﺎ م ﮫﺮ و # ﻰ ﺎ ا ﺎ و يﻮﺎ ﺮ ﻮا
6. ﮫ ﺎ ئﺮ اﺮ ﻮھ # ﮫ ﺬا ﮫ ﺮ ﺎ ا
7. كﺎ ﺮ ﻰ اﺔ ا # ىﺬﻮ ىﺬ ن ﺎ
8. كﺎا ﻮ ﻲ ﻮھﺎ ﻰﻮ # ﻰا ﺎ ﺄ ا
9. كاﺮﺪﻮاﺮ ح ﻮﻮﺬ # ﻮكاﺬ ﻮﻮﺬﮫ ﺮ ﺎ
10.كﺎ اﮫ ﺬا ﻮﮫﺎ اﻮ # ﺎ ھد ﮭﺎ اﺮﺜ ﺎ ﻮا
11. ھﻮاﺮاﺮ ﺎ ﻮ اﺎﻮ # ﮫ ﻮ اﻰ ﺮﻮ ﮫ ﻮ
12.كﺎ ﻮقﺎ ا ﺎ ھ ﻮا # ﺮﮭ ﻮا ﻮاكاﺬ ﺎ ﺎ
13.ك د ﺎھ هﻮ ﺮ ﻮ # ﺔ ﻮا ﺜاد ھﺔ اﻰﻮ
14.ك اقﻮ ﮫ ﺔ ﺎﻹا # ﮫ اقﺎ ﻮا
15. ﺪ ﺪ ﺔھاﺮ ﻮ # ماﺮ اﺎ نﺎ ا ﻮ ﻮ
16.ﻰﮭ اىﺬىﻮﺎ ﺮ ا ﺎ ا ﻮ # ﻰﮭ اﻰ اﺮ اهﺮا
17.ﮫ ﺮ ﺮﺜ ﺔ ﮭﺎ ﻰ # ﺔ ﺎ ﻰ د ﺮ ا ﮭ ﻮ
37
19. ا ﺬاھى ﻮ ﻮ # حﺎ اى ﮫ عﺎ ا
20.ﺎﺎ د أنا ﻮاا # ﻰ اﻰ ﮭ ﻮ ﻮا
21.ﺔ ﺎﻹﺎ ﮫﺄ ﻰ ﻮا # ﺔ ﺎ ﺎ ﺎ
22.نﺎ ا ﺔ ﺎ ﻰ # نﻮ ﺎ ﻮ ﺪﻮ
23.ﺎ ﺎ ط ﺬا ھﻮ # ﺎ اﻰ ﺀﺮ اﺮ
24.ﺮﺮ ﮫﺄ ﻰ ا # ىﺮﻮﮭ اﻰ ا ﮭ ﻮ
25.ا أﻮﺮﺎ ﺪ ﻰ هﺮ # اﻮﮫ ا
26. د كﺬا ﻰ ا # ﺎﺪ ىﻮ ىﺬا ﺬاھ
27.ﺔ ا ﺔ ﺎ # ﺔ ﺎ ا ﺔ
28.ﺮﮭ ا ﮫ ﺮ # ةﺮﮭ ﺪ سﺎ ا ﻮ ﺎ و
29.ﮫ ﮫ ىﺪ ا وا# ة هﺪ ﻲ ﺮ ىﺪ ا ﻰ
30. ﮫ # ﻮ ا اﺪھ ﺎ و
31. ﺜ ا ﮫ ﺎ ط ﺎ ﮫ # ﺚ ﺪ ﺎ
32.رﻮﮭ ا نﺎ ﺪ ا بﺮ # ىﺮﮭ ا لﺎ نﺎ ا ﺔ ﺎ ﻰ
33. ا ﺪ ﺮ و # نا ﮫ
34.م ا ﺔ ا هﺮﮭظا # ﺮ ا لو ﺆ ﺪ كاﺪ
B. Terjemah dalam bahasa indonesia
Bab 1.a Kopi dan rokok: (Sejarah, polemik, dan khasiat)
1. Hukum merokok dan minum kopi # diperselisihkan ulama seperti
dibawah ini
2. Berdebat mereka antara halal dan haram # hingga masing – masing
38
3. Diantara para sahabat, tembakau disebut at-tinbȃk # sebagian mereka
menyatakan mauquf secara mutlak
4. Demikian pula kopi # pada awal abad ke sepuluh jadi polemik
5. Banyak ulama mengharamkan # sebab mengandung kemudharatan
6. Ulama terakhir adalah Syaikh ‘Abtawy yang muliah dari negeri Syiria
# dan Syaikh Ibnu Sulthan yang diliputi keagungan
7. Sedangkan di Mesir, ada Ahmad bin Ahmad # pengikut ayahnya yang
terhormat
8. Mayoritas ulama tegas berpendapat # bahwa kopi min al-mubȃḫȃt dan
terjadilah kata sepakat
9. Berpeganglah engkau dengannya # dan dari pengetahuan jangan
engkau berpaling muka
10.Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Hajar # juga Ar-Ramlikeduanya
mencuplik pendapat mengkilap dari sang pemilik kitab al-‘Ubȃb
11.“kopi tak membuat hilang akal # ingatlah itu. Justru ia menimbulakan
semangat jiwa tanpa menimbulkan bahaya
12.Bahkan terkadang membantu sesiapa untuk giat bekerja # demikian
kesimpulannya
13.Terimalah pendapat ini # karena demikian itulah hukum kopi
14.Jika perbuatanmu adalah sebuah ketaatan meminum kopi itu jadi
ketaatan # pahamilah, jika amal kerjanya mubah saja maka mubah pula
39
16.Minumlah kopi setiap waktu # sebab bagi peminumnya ada lima
faedah didalamnya
17.Membakar semangat melancarkan cerna # menghilangkan dahak
18.Membaguskan pernafasan # dan membantu tujuan
Bab 2.b (Ulama yang mengharamkan rokok)
1. Sekelompok ulama telah mengharamkannya # diantara mereka al-Qalyubi
dan al-Laqqani
2. Hingga sebagian ulama mengabarkan # bahwa dia memiliki risalah
3. Yang berjudul Nashȋḫȃh al-Ikhwȃn # bi al-Ijtinȃb li Syarb ad Dukhȃn
4. Tapi ini ditentang ulama sejaman # Ali al-Ajhuri dengan dua risalah
5. Tentang hal – hal yang tidak bahaya # lagi halal menikmatinya
6. Sekelompok ulama sufi # melontarkan pendapat yang sama
7. Maksudku haram, bukan halal # bahkan dengan keras tanpa ragu
8. Seorang diantara mereka melempar kata # “siapa tak bertobat sebelum 40
hari menjelang matinya
9. Dikhawatirkan ia mati su’ul khatimah # naudzubillah
10.Ibnu ‘Alan sepakat ini # sedang Abdullah Basudan meanambahi
11.ﺳsegala kandungan hasyisy hanyalah khabȃits sementara berbagai penyakit
jelas menjangkit # pada para penikmat tembakau seandainya paham
engkau”
12.Ibnu Hajar berbicara tembakau # dan menghukuminya sebagai barang
40
13.Tak ragulah kami dengan pendapat ini sebab dia tidak hidup # kecuali
setelah abah kesepuluh hijriy
14.Sementara guru kami tercinta # yang tinggi ilmunya lagi mulia
15.Telah menukil bahwasanya # sejarawan masa zhuhur
16.Yang telah mengatakan ucapan indah # yang disusun dalam bentuk sajak
“sejak tembakau ada # menghisapnya sungguh sumber bahaya”
17.Dan guru juga kukuh mengharamkan # menghirup atau menghisapnya
sama dalam hukumnya
18.Syaikh Ali berkata, “dari rokok menjauhlah!” # apakah ada isyarat
tentangnya dalam kitabullah
19.Aku katakan, “aku takkan pernah mengalahkan kitab-Nya # dari lain
perkara lalu pada hari kiamat kukan tahu pahala-Nya”
20.Menghirup lebih jelek dibanding menghisap # karena napas tentu terbawa
ke otak
21.Dan saat itu juga berpengaruh pada panca indera demikianlah tingkah
setan terkutuk lagi tercela # dan demikian, pembahasan haramnya rokok
telah sempurna
Bab .3 ulama yang nenghalalkan rokok
1. para imam yang terpandang # Telah menjelaskan
2. Bahwa rokok tidaklah haram # Diantara mereka, Abd al-Ghani an-Nablisi
3. Seorang murabbi bermadzhab hanafi # Dia punya risalah
41
5. Yang lain bernama asy-syabramalis # Juga syaikh as- Sulthan al- Halab
yang pintar
6. Al- Barmawi berkata,“al – babali berkomentar # Bahwa rokok hukumnya
halal.
7. Keharamannya bukan karena ia memnag haram# Namun sebab unsur luar
yang datang.”
8. wahai engkau yang mennyangka # Banyak amal dan ilmu
9. Yakni umat Muhammad # Yang mengharamkan tembakau
10.Pradugamu atas apa yang ku kata # Sungguh keliru
11.Bukanlah dusta kata – kataku itu # Sungguh, mereka yang benar berilmu
12.Takkan mengharamkan # Tidak pula mereka
13.Yang ahli meneliti dan menyimpulkan # Sayang, diantara mereka
14.Banyak yang tak tahu sifat – sifat tembakau # Gegabah pula
menganggapnya kotor
15.Dan melempar caci mereka bicara # Tentang lemahnya badan karenanya
16.Juga tentang pikiran yang terancam # dan kebinasaan
17.Diatas sifat – sifat itu mereka memutuskan # Dan tersebarlah fatwa
18.Kepada yang fâsiq maupun yang nâsik # Padahal, sifat – sifat itu tiada lain
19.Hanya sebatas klaim # Dan dengannya,
20.Mereka mengharamkan rokok # Lalu menutupi manfaatnya
21.Selama tembakau tetap pada sifat asalnya # Mentari kebolehan
meneranginya dari angkasa
42
23.Bahkan hukum makruhpun hilang # Asy – syahbramalis juga menguatkan
ini
24.Demikian, Selesailah perkataan imam al – barmawi # Diantara yang
menghalalkan,
25.Ar – rusyd dalam ẖâsyiyah ‘alâ nihâyah # Kitab yang punya banyak
berkah
26.“sebab tiada dalil sebagi pijakan # Untuk mengharamkan
27.Maka menghisap dan mengambil manfaat adalah mubah.” # Kebenaran
ini, camkanlah.
28.kudengar kata – kata mereka, # “jelek sekali jika kau merokok!”
29.Aku katakan, “tidaklah jelek. # Hukum asalnya mubah!
30.Bahkan terkadang # Membantu seseorang mendapat fashahah
31.Sedang orang lain jadi semangat.” # Demikian, hati – hati mereka
berpendapat
32.Diantara mereka, syaikh ali al- ajhuri # Yang berfatwa bahwa rokok halal
pasti Kecuali bagi yang hilang kesadaran # Atau badan terbahayakan
33.Demikian telah berpendapat # Orang yang dalam fatwanya
34.Mencapai derajat wajib # Pendapat sama dikeluarkan oleh mereka yang
punya kepantasan.
35.Bagi ulama madzhab hanafi # Juga madzhab hanbali
36.Ulama madzhab syafi’I # Juga para ulama berilmu tinggi
37.Juga bagi beberapa orang-orang biasa, # Telah masyhur bahwa
43
38.Telah diarahkan jumhur ulama biasa # Hanya bagi yang jasatnya
39.Terkena kemadharatan # Atau bagi orang
40.Yang karenanya sadarnya hilang # Dan segala hal yang bertentangan
41.Dengan nukilan pendapat ini # Jangan engkau cenderungi di dalam hati
42.Apalagi, segenap hadits tentang keharamannya # Menurut para ulama
Pasti hadits batal adanya
43.dalam kitab ghâyah al-bayân # Al-ajhuri mengatakan
44.Menghisap rokok dihalalkan # Tapi bila tidak menghilangkan kesadaran
45.Dan tubuh sama sekali tak terbahayakan # Dengan dua hal itu,
46.Keharman terkadang ditakwilkan # Oleh para imam yang punya
kemasyhuran
47.Dengan dua hal yang sama # Syaikh ibnu al- hanafi berfatwa
48.Juga ahmad al-maliki yang luas ilmunya # Dan sekelompok imam kita
49.Seperti alia az-zayadi # Yang telah memahamkannya Kepada kita
50.demikian pula pendapat âl ârif billâh # Syaikh al – manawi syam al –
millah
51.Berkata pula asy-syaubari # Senada pernyataan yang disebut tadi
52.“bukan karena zat rokok itu sendiri # Sehingga haram menghisapnya.
53.Tapi mubah itulah hukumnya.” # “lain rokok haram karena zatnya
54.Tak lain klaim yang tiada dalil # Motifnya asal berbeda
55.Supaya gampang perkaranya.” # Demikian sang syaikh
56.Yang tinggi derajatnya berfatwa # Yang sangat alimnya, Ismâil
44
57.dia berkata bahwa tiada haram Menghisapnya, # seperti telah disebutkan
58.Perkata diakhir kitabnya Syaikh ali al – ajhuri yang bersih jiwa:
59.Sebagian ulama melontarkan kata – kata: # “yang wira’I lebih baik
mengharamkannya.”
60.Tapi dibantahlah ini Oleh al – ‘izzi ibn abd as-salam # Dijelaskannya apa
yang telah terucapkan
61.“tidaklah menghisapnya haram, sepanjang tak hilang kesadaran, #
Sebagaimana disebutkan.
62.Tidak haram karena dzat # Telah jadi mufakkat Ulama empat madzhab.”
63.Untuk pendapat ini, # Kau bukalah telinga hati
64.yang muáttamad adalah makruh # Seperti pendapat yang faqih, al- bajuri
65.Tapi terkadang menjadi wajib # Jika orang yang meninggalkannya
66.Tahu adanya bahaya # Hukum haram juga bisa ada
67.Jika perokok membeli dengan harta # Yang dibutuhkan untuk nafkah
keluarga
68.Demikian, pendapat al-bajuri # Telah sempurna
69.Sekelompok imam sepakat dengannya # Seperti muridnya,
70.Abd al-hamid dipinggir at-tuẖfah # Mereka semua adalah para ulama
Yang tinggi derajatnya
71.di antara merekaa, asy- syarqawi # Yang meninjau pendapat al – qalyubi
72.Juga al – kurdi dalam al – fatáwí # Jelaslah dalam perkara rokok
73.Yang didebatkan Bahwa munculnya keharaman # Hanya bagi insan yang
45
74.Bahwa madu haram bagi orang yang darahnya panas # demikian ulama
telah menetapkan hendaknya engkau merenungkan
75.di antara mereka, as-sa’id babshil # Sang faqih yang bertaqwa nan kamil
76.Juga syaikh ibn musa an-nasawi # Yang dikenal orang dengan nama
al-mu’ri
77.Keduanya berfatwa, Merokok boleh sajab# Tapi hukum makruh
menyertainya Itu jika jiwanya tidak tertawan # Sekiranya ia mampu
meninggalkan
78.Namun jika tidak Hukumnya pun tak demikian # Inilah fatwa paling sahih
46
BAB IV
PERBANDINGAN GUNA ROKOK DAN KOPI BAGI MANUSIA
A. Rokok dan kopi dalam sudut pandang kesehatan
Sewaktu Columbus mendarat di dunia baru pada tanggal 11 oktober
1492, dia di suguhi dengan daun tembakau oleh penduduk setempat. Banyak
bukti yang terdokumentasi yang mendukung kebenaran secara ilmiah, sehingga
umumnya kalangan akademis mengaku bahwa tembakau dikenal pertama kali
oleh peradaban indian di amerika. Sekalipun ada pendapat yang mnegtakan
bahwa orang cina telah menanam dan menggunakan tembakau jauh sebelum
ditemukannya benua amerika, tidak cukup dokumen autentik yang
mendukungnya. Tetapi orang indian di amerika telah terbukti menggunaknnya
sejak lama.32
Penuturan yang hampir sama juga di ungkapkan oleh Simon Bambang
Sumarno. Ia menyatakan bahwa tulisan awal tentang tembakau berasal dari
Christoporus Columbus tahun 1942, yang melaporkan penduduk asli Benua
Amerikasenang menghisap tembakau untuk mengusir rasa letih. Daun
tembakau juga digunakan untuk keperluan upacara ritual dan bahan
pengobatan di kalangan suku Indian.Kemudian para penakluk dan penjelajah
dari eropa mulai menghisap daun tembakau sehingga kebiasaan ini menyebar
keseluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia.33
32
Dr.Ronald Hutapea SKM Ph.D, Why Rokok tembakau dan peradaban manusia (Jakarta: Bee Media Indonesia 2013),1.
33
47
Sudah bukan rahasia lagi, bahwa yang menyebabkan rokok menjadi
kian gencar dilarang di berbagai Negara, termasuk Indonesia, adalah karena
melihat dampak buruk yang diakibatkannya terhadap kesehatan. Sejumlah
kajian menyangkut masalah kontroversi hukum rokok ditingkat ulama islam
pun tidak lepas dari pertimbangan yang sama, yaitu bahaya besar yang ditebar
setiap batang rokok.
Ulama – ulama salaf klasik yang cenderung mengharamkan rokok
sudah memahami betul betapa besar kerugian yang akan diterima seorang
perokok. Seperti pendapat Ahmad Basudan yang mengutip pernyataan
Al-Allamah Ibn Hajar, bahwa polemic tentang hukum rokoksebenarnya sudah
selesai, yaitu haram karena unsur – unsur penyakit yang
dikandungnya.Ketetapan ini, lanjutnya, tidak perlu diragukan lagi, karena
semenjak abad ke-10 tak satupun ditemukan pendapat selain yang di atas
(haram).
Pendapat tersebut diperkuat oleh Syaikh Al-Qitb Al-Hadda Al-Nasib
yang menyatakan, bahwa “pada dasarnya, semenjak awal kedatangan rokok
dari Eropa ke Negara – Negara islam pada tahun 1012H, sebenarnya sudah
diketahui dampak buruk yang ditimbulkannya. Ulama – ulama kedokteran
islam yang telah melakukan penelitian memiliki pendapat yang tidak jauh
berbeda dengan hasil hasil penelitian yang dilakukan di Eropa, bahwa “rokok
memang menimbulkan dampak negative terhadap kesehatan”.
Dan benar, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh sejumlah tim
48
benar berbahaya. Kajian dan penelitian tersebut kembali dilakukan secara lebih
serius lagi setelah memasuki abad ke -20, terutama pada kisaran tahun 1950-an
dan 1960-an.
Dari hasil penelitian tersebut ditemukan, bahwa rokok benar – benar
mengandung racun yang cukup berbahaya yang dpat menimbulkan berbagai
macam penyakit. Seperti hasil penelitian yang telah dilakukan the royal collage
of physician of London di inggris pada tahun 1960 dan the surgeon of general’s
advisory committee on smoking and health di amerika serikat pada tahun 1964.
Dua penelitian tersebut menemukan titik singkron dengan hasil laporan, bahwa
merokok menyebabkan penyakit kanker paru – paru, bronchitis, serta berbagai
penyakit lainnya (Romli,1995).
Disinyalir bahwa darah balita dari ibu perokok mengandung
nikotin.Dari hasil riset yang dilakukan oleh Dr.Frederica dari Columbia
University Schoolof public healt membuktikan, bahwa merokok dapat
mengakibatkan dampak yang buruk bagi bayi.Hal ini dipertegas oleh
penelitianyang dilakukan oleh the international herald tribune yang
mengungkapkan bahwa bahan – bahan karsinogenik akbat rokok berpotensi
sebagai pencetus kanker dan sangat mengganggu kesehatan masyarakat.
Komponen hidrokarbon yangterdapat pada asap rokok merupakan
pemicu utama terjangkitnya penyakit kanker. Hasil tes darah menunjukkan
bahwa anak – anak yang ibunya tidak merokok, poliaromantik hidrokarbon