Kumpulan Materi Seminar Nasional dan Rakernas Perbarindo 2016 – Perbarindo

27  Download (0)

Teks penuh

(1)

Permasalahan dan Tantangan BPR/BPRS

(2)

Perkembangan Industri BPR

Desember 2013 Desember 2014 Desember 2015 Juni 2016

Perkembangan Keuangan BPR ( milyar)

Total Aset

Dana Pihak Ketiga

Kredit yg Diberikan

 Laju pertumbuhan periode 2011-2015 meningkat 16% dan sampai akhir Juni 2016 mencapai Rp105

triliun (1,6% dari total aset bank umum).

 Dana pihak ketiga meningkat sampai Juni 2016 mencapai Rp70 triliun (70% dalam bentuk deposito).

(3)
(4)
(5)

BPRKU Modal Inti BPR

BPRKU Modal Inti ∑BPR

Total

Sesuai dengan POJK No. 12/POJK.03/2016 tentang

kegiatan usaha dan wilayah jaringan kantor bank

perkreditan rakyat berdasarkan modal inti, BPR

yang

tidak

dapat

memenuhi

ketentuan

permodalan akan dikenakan sanksi pembatasan

• Dari jumlah BPR/S sebanyak 1.797 sebagian besar (1.184 BPR/68%) memiliki Modal Inti (MI) yang terbatas (di bawah Rp 6 M)

• BPR/S dengan MI di bawah Rp 6 M memiliki :

- kinerja cenderung buruk, tercermin dari : NPL/NPF tinggi, BOPO tinggi, ROA rendah (negative)

Kinerja BPR berdasarkan MI

(6)

Keterbatasan Modal

• Kurangnya kemampuan PSP dalam menambah

modal

• PSP kurang memiliki komitmen dalam

pengembangan BPR

• Ekspansi kredit tidak diimbangi dengan

penguatan modal

Akibatnya

• Ketidakmampuan merekrut SDM yang berkualitas dan mengembangkan SDM yang berintegritas

• Tidak mampu dalam pengadaan IT yang handal

• Tidak mampu mengelola secara professional/governance

• Tidak mampu mengembangkan produk dan layanan yang bersaing

Tidak

Kinerja BPR buruk

bahkan mengalami

(7)
(8)

BPRS

BPR

DIR < 1

KOM < 1

DIR & KOM < 1

DIR < 2

KOM < 2

<15 M

149

38

16

8

108

99

15- <50 M

9

1

0

0

6

3

>=50 M

5

1

0

0

1

3

Total

163

40

16

8

115

105

posisi Juli 2016

Pemenuhan Jumlah Pengurus

Kekurangan jumlah pengurus mengakibatkan timbulnya fraud, mismanagement,

keterbatasan pengembangan BPR karena minimnya pengawasan dan ide-ide baru

untuk mengembangkan BPR oleh pengurus

BPRK

Kekurangan Jumlah Pengurus

Memenuhi

∑ BPR

1 Dir

1 Kom

2 Dir

2 Kom

Min 2

%

Min 3

BPR KU 1

1.423

288

210

1.009

70,91

BPR KU 2

174

13

18

142

81,61

BPR KU 3

37

1

2

22

22

35

94,59

10

Total *)

1.634

302

230

22

22

1.186

72,58

10

(9)

Permasalahan SDM BPR dengan modal terbatas :

Kekurangan pengurus

SDM banyak namun terkonsentrasi pada low management dengan kompetensi terbatas

Kompetensi dan pengalaman calon pegawai kurang Kecilnya gaji dan fasilitas yang ditawarkan BPR

Bekerja di BPR belum menjadi pilihan

BPR KU 1 belum memenuhi ketentuan jumlah Direksi sebanyak 20%, jumlah Komisaris 15%

KU 1 memiliki SDM dengan tingkat pendidikan mayoritas SMA

BPR

Presentase Tingkat Pendidikan SDM

Jumlah SDM

S3

S2

S1

D3

SLTA

< SLTA

BPRKU 1

0,1%

0,7%

38,9%

11,6%

44,8%

4,0%

39.994

BPRKU 2

0,1%

0,9%

45,3%

9,6%

40,1%

4,1%

1.539

BPRKU 3

0,0%

1,3%

47,8%

9,4%

38,9%

2,6%

7.915

Total

0,1%

0,8%

42,0%

10,7%

42,6%

3,8%

69.658

(10)
(11)

No. Perkembangan

Tahun

2014 2015 Agustus 2016

Fraud Self Liquidation MisManagement

BPRK BPRS BPRK BPRS BPRK BPRS

Penyebab BPR CIU

16 BPR (89%)

memiliki MI < Rp3M

Terjadi fraud (deposito fiktif, rekayasa kredit,

penggelapan angsuran kredit, rekayasa pemberian kredit, penggelapan hasil penjualan AYDA)

Lemahnya internal control (tidak memiliki SPI) Intervensi PSP

Fraud

merupakan

faktor dominan

yang menyebabkan

BPR dilikuidasi

Cabut izin usaha terhadap BPR yang bermasalah merupakan upaya untuk

menciptakan industri BPR yang sehat sehingga

dapat melayani

(12)
(13)

KELEMAHAN DALAM SISTEM IT

Beberapa kelemahan yang terdapat dalam system IT yang dapat mengakibatkan terjadinya fraud atau error :

1. Sistem tidak dapat memvalidasi data yang telah diinput.

2. Sistem yang dimiliki masih memungkinkan untuk diintervensi atau dimanipulasi. 3. Tidak ada otorisasi baik untuk kegiatan operasional harian maupun khusus.

4. Tidak ada limit jumlah transaksi yang dapat dilakukan Teller tanpa melalui otorisasi.

0% 0% 4%

Sistem

Pengelolaan

Transaksi dan Administrasi

yang

umum

diterapkan

pada

BPR

adalah

Komputerisasi, sekitar 94%

BPR menggunakan sistem

komputerisasi.

(14)

GAMBAR LACK

DAMPAK DARI KELEMAHAN BPR

1. Terbatasnya produk dan

layanan yang disediakan

2. Sulitnya mendapatkan

sumber dana murah

tingginya biaya dana

3. Tidak tercapainya

economic

of scale

menyebabkan

inefisiensi

4. Biaya overhead yang tinggi

disebabkan oleh biaya

(15)

Komponen Biaya Dana BPRK Nominal Share Beban bunga kontraktual

i. Tabungan 487.453 11,23%

ii. Deposito 2.652.178 61,12% iii. Simpanan dari bank lain 175.166 4,04%

iv. Pinjaman yang diterima 0,00%

a. Dari Bank Indonesia 88 0,00%

b. Dari Bank Lain 855.619 19,72% c. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank 31.135 0,72%

v. Pinjaman Subordinasi 4.442 0,10%

vi. Lainnya 90.217 2,08%

Komponen Biaya Dana BPR/BPRS

Nominal dalam Rp juta

Komponen Biaya Dana BPRS Jumlah Share

A. Pihak Ketiga Bukan Bank:

1.Tabungan Mudharabah 19.784 6,41%

2.Deposito Mudharabah 179.689 58,23%

3.Lainnya 5.514 1,79%

B. Bank-Bank Lain

1.Tabungan Mudharabah 2.368 0,77% 2.Deposito Mudharabah 23.065 7,47%

3.Lainnya 78.171 25,33% Jumlah Bagi Hasil 308.590 100,00%

Biaya dana terbesar bersumber dari dana mahal bunga deposito dan pinjaman dari bank lain

Struktur Sumber Dana BPRK Nominal Share

Tabungan 21.326.849 24,18%

Deposito 50.247.898 56,97%

Penempatan dariBank Lain 3.647.612 4,14%

Pinjaman Bank Lain 12.983.374 14,72%

Total Sumber Dana BPR 88.205.733 100,00%

Kurangnya produk dan layanan

keterbatasan sumber dana

(16)

Komponen Biaya Overhead BPR/BPRS

8. Biaya Penyusutan/Amortisasi Aset dan Inventaris 188.909 3,73 9. Biaya Overhead Lainnya : 0,00 a. Biaya Barang/Jasa dan Administrasi 650.296 12,83 b. Lainnya 164.943 3,26

BPR memiliki biaya tenaga kerja yang tinggi disebabkan oleh sistem jemput bola, tercermin dari rekening tabungan sebanyak 10.401.949 dengan saldo rata-rata sebesar Rp2 juta dan rekening kredit mikro sebanyak 1.474.538 dengan rata-rata baki debet sebesar Rp14 juta

JenisKredit BPR Nominal

Jml Rek %

UMKM 1.638.944 54,29 37.209.673

Mikro 1.464.508 48,51 20.462.993

Kecil 149.166 4,94 8.820.325

Menengah 25.270 0,84 7.926.355

Non-UMKM 1.380.167 45,71 42.037.307

TOTAL 3.019.111 100,00 79.246.980

Nama Rekening Jumlah Share

Pemeliharaan Dan Perbaikan Aktiva Tetap Dan

Inventaris 7.605 1,74% J. Penyusutan/Penyisihan/Amortisasi 56.501 12,93% K. Biaya Barang Dan Jasa 40.026 9,16% L. Lainnya 31.546 7,22% Beban Operasional 437.095 100,00%

(17)
(18)

Penurunan suku

bunga kredit

menjadi single digit

Penyaluran KUR

dengan bunga 9%

Kewajiban

Penyaluran Kredit

UMKM oleh Bank

Umum

LAKU PANDAI

Masyarakat

Ekonomi Asean

Persaingan dengan

LK lain (Koperasi,

LKM)

(19)

KREDIT USAHA RAKYAT 2016

1. Per 30 Desember 2015, suku bunga 9% dimana selisih antara bunga yang seharusnya diterima bank

dengan bunga yang dibayar oleh debitur menjadi subsidi pemerintah (berkisar antara 3-7%)

2. Skema : KUR Mikro (maksimal Rp25jt), KUR Retail (maksimal Rp500jt), dan KUR TKI (maksimal Rp25jt)

3. Menggunakan online system SIKP (Sistem Informasi Kredit Program) sebagai basis data UMKM.

TARGET 2016 : 100

120 T

Subsidi pemerintah dalam bentuk bunga akan meningkatkan minat masyarakat

terhadap KUR.

(20)

Jenis Usaha Posisi Juli 2016

Suku bunga ≤ 9% Suku bunga > 9% TOTAL

Rek Nominal Nomin al/Rek

Rek Nominal Nomin al/Rek

% Rek Nominal Nominal /Rek

Mikro 31.411 577.464 18 1.433.097 19.885.529 14 26 1.464.508 20.462.993 14

Kecil 5.963 350.507 59 143.203 8.469.818 59 11 149.166 8.820.325 59

Menengah 642 238.366 371 24.628 7.687.989 312 10 25.270 7.926.355 314

Non UMKM 41.221 2.176.840 53 1.338.946 39.860.467 30 53 1.380.167 42.037.307 30

Jumlah 79.237 3.343.178 42 2.939.874 75.903.802 26 100 3.019.111 79.246.980 26 Terdapat potensi perpindahan kredit dari BPR ke Bank Umum bagi kredit BPR dengan suku bunga di atas 9% sebesar Rp76 T, terutama pada kredit mikro yang menjadi pangsa pasar KUR sebesar Rp 19,9 T (26% dari total kredit).

dalam Rp juta

POTENSI PERPINDAHAN KREDIT BPR

KE SKIM KUR

(21)

Melalui PBI No. 14/22/PBI/2012, Bank Indonesia mewajibkan setiapBank Umum

untuk menyalurkan Kredit atau pembiayaan UMKM paling rendah 20% dari total

kredit atau pembiayaan yang disalurkan, dengan tahapan sebagai berikut :

TANTANGAN

PERSAINGAN

DI

PASAR

KREDIT

PELUANG

Tahun

Ketentuan

Penyaluran

Kredit

UMKM

Bagi

Bank

Umum

2015

Paling Kurang 5%

dari

total

kredit

atau

pembiayaan

2016

Paling Kurang 10%

dari

total

kredit

atau

pembiayaan

2017

Paling Kurang 15%

dari

total

kredit

atau

pembiayaan

2018

Paling Kurang 20%

dari

total

kredit

atau

pembiayaan

KEWAJIBAN

PEMBERIAN

KREDIT

UMKM

(22)

LAKU PANDAI (POJK

No.

19

Tahun

2014)

Kegiatan Laku Pandai (POJK No.19 Tahun 2014)

Produk

•Tabungan Basic Saving Account;

•Kredit mikro;

•Asuransi mikro;

•Produk lainnya berdasarkan persetujuan OJK

Agen

•Perorangan

•Badan Hukum

Laku Pandai menjadi pesaing utama BPR karena

produk yang ditawarkan (tabungan BSA dan

kredit mikro) sama dan menggunakan

mekanisme yang lebih agresif (jemput bola).

BPR KU 3 memiliki kesempatan untuk menjadi

penyelenggara LAKU PANDAI dengan

persyaratan tertentu, sedangkan BPR KU 1 dan

KU 2 hanya boleh menjadi agen

Posisi Juni 2016

(23)

Masyarakat Ekonomi Asean

Aliran barang, jasa, investasi,

tenaga kerja terdidik dan aliran

modal yang lebih bebas.

Peraturan kompetisi, perlindungan

konsumen, hak atas kekayaan

intelektual,

pengembangan

infrastruktur, perpajakan dan

e-commerse,

dibuat

untuk

meningkatkan daya saing

DENGAN ADANYA MEA, MAKA :

Terbukanya akses pemodal asing akan meningkatkan

permodalan Bank Umum maupun LKNB lain yang boleh

dimiliki asing, namun peluang tersebut tertutup bagi

BPR/S yang tidak boleh dimiliki asing.

Menguatnya permodalan Bank Umum maupun LKNB

lain akan meningkatkan daya saing, di samping

brand

awareness

masyarakat terhadap BPR/S yang masih

rendah sehingga BPR/S akan semakin sulit bersaing.

Pelaku pasar dalam negri yang merupakan pangsa

pasar BPR banyak bersaing dengan produk impor

(24)

Redesign Posisi BPR

1. Apakah BPR telah menjalankan peran sesuai dengan tujuan pendirian sebagaimana diamanatkan dalam UU Perbankan?

2. Apakah ketentuan yang mengatur BPR berdampak positif atau justru merupakan penghambat dalam mendorong kinerja dan kontribusi BPR dalam perekonomian daerah?

3. Mampukah BPR beradaptasi dengan perubahan yang cepat dalam sistem keuangan dan menghadapi perkembangan teknologi saat ini?

4. Perlukah dilakukan redesign posisi BPR dalam sistem keuangan atau deregulasi terhadap industri BPR?

5. Apabila posisi BPR semakin lemah dan kontribusi BPR dalam sistem keuangan sulit untuk ditingkatkan, masihkah keberadaan BPR diperlukan dalam perekonomian Indonesia?

(25)

A

RAH

P

ENGEMBANGAN

BPR

• Bank Umum: Dukungan (1) infrastruktur, a.l. networking, capacity building, dan (2) kerjasama jasa-jasa perbankan, a.l. sistem pembayaran, e-cash, j-b bank notes

• IKNB: produk keuangan non bank

• Persh Sekuritas: produk pasar modal

• Pemerintah: (1) BPN: Pembuatan akta/serifikat agunan debitur, (2) Kemendagri: Akses Identitas Tunggal

• Perusahaan ICT:

REGULASI/KEBIJAKAN

• Penguatan permodalan, GCG & MR

• Dukungan akselerasi aspek bisnis yang ingin dikembangkan BPR

ASPEK BISNIS

Branding/ positioning

• Peningkatan aneka layanan jasa-jasa perbankan

• Efisiensi

• Penurunan cost of fund

• Penambahan nasabah

(26)

Perusahaan

• Dukungan Kebijakan/ regulasi

• Perizinan

• Dukungan regulasi

• Capacity building

• E-learning

• Sertifikasi

Lembaga Negara Terkait

• Penyediaan/ Sinergi/ standarisasi infrastruktur

• Etalase produk keuangan

Liquidity Support

Capacity Building

• Dukungan Infrastruktur

Lingkage Programs

Share bisnis

Capacity building

• Pembuatan serifikat agunan debitur

• Single Identity

(27)

Figur

GAMBAR LACK

GAMBAR LACK

p.14

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di