• Tidak ada hasil yang ditemukan

B1J010004 11.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "B1J010004 11."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

Syzygium termasuk dalam suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang berasal dari Asia Tenggara. Syzygium dibagi menjadi dua kelompok yakni jambu air kecil atau dikenal dengan Syzgium aquaeum dan jambu air besar atau Syzgium

samarangense. Kedua kelompok tersebut dibagi lagi lebih spesifik. Kultivar jambu

air besar yakni: jambu Semarang, Madura, Lilin (super manis), Apel dan Cincalo (merah dan hijau/putih) dan jambu air kecil adalah: Camplong (Bangkalan), Kancing, Mawar (jambu Keraton), Sukaluyu, Baron, Kaget, Rujak, Neem, Lonceng (super lebat), dan Manalagi (tanpa biji). Beberapa kultivar bahkan sukar dibedakan, sehingga keduanya kerap dinamai dengan nama umum jambu air (Prihatman, 2000).

Syzygium merupakan salah satu jenis buah yang cukup populer dikalangan masyarakat Indonesia. Buah musiman ini memiliki kandungan air yang tinggi dengan rasa yang manis. Jambu semarang dan jambu air memiliki pohon dan buah yang hampir serupa. Menurut Widodo et al. (2011) terdapat perbedaan antara

Syzygium samarangense dan Syzygium aqueum dengan cirri karakter sebagai berikut.

S. samarangense : pohon kecil sampai besar; umumnya permukaan atas pertulangan

daun samping rata; bentuk buah bervariasi ada yang melonceng, membulat, membulat telur, membentuk kubah, memipih, dan lain-lain; warna buah bervariasi mulai dari hijau tua, hijau muda, putih, kekuningan, merah jambu muda, merah jambu tua, merah, kecoklatan, dan kehitaman; rasa buah manis bercampur sepet; buah umumnya dimakan hama. Sedangkan untuk S. aqueum : umumnya pohon kecil; permukaan atas pertulangan daun samping beralur; bentuk buah kurang bervariasi hanya membentuk kancing dan melonceng; warna buah merah muda keputihan, merah muda, merah, dan merah tua; rasa buah asam, kalau sangat tua kadang-kadang menjadi sedikit manis; buah umumnya tidak dimakan hama.

Ruang lingkup taksonomi tumbuhan meliputi identifikasi, klasifikasi dan diskripsi. Taksonomi berlandaskan karakter yang dapat dilihat, diukur, dihitung. Bukti taksonomi berdasarkan sifat dan ciri morfologi memberikan jalan tercepat dalam menunjukkan keanekaragaman dunia tumbuhan dan dapat dipakai sebagai sistem pengacuan yang dapat menampung pernyataan data dari bidang lainnya. Meskipun demikian bukan berarti ciri-ciri lainnya tidak dapat dipergunakan sebagai dasar dalam mencari bukti taksonomi (Lawrence, 1964; Davis & Heywood, 1963). Menurut Sheahan & Chose (1996) menyatakan bahwa keragaman morfologi pada

(2)

2

suatu tumbuhan dapat ditegaskan dengan bukti anatominya. Pridgeon (1982) menyebutkan bahwa struktur mikroskopik sering dianggap sebagai penunjang pada data standar morfologi. Hal ini sesuai dengan pendapat Steven (1994) dan Behnke et al (2002) dalam Purwantoro (2004) mengatakan bahwa anatomi organ vegetatif berperan penting serta dianggap dapat memberikan kontribusi dalam karakteristik takson pada tingkat hirarki yang berbeda dalam penelitian taksonomi tumbuhan. Karakter anatomi yang biasa digunakan untuk membedakan antar kultivar tersebut meliputi epidermis, kutikula, papilla, trikoma, stomata ( indeks dan kerapatan) serta lapisan palisade.

Hariyanto (2003) dan Widodo (2010) menyatakan bahwa banyak bermunculan kultivar baru dari jambu akibat adanya pemuliaan dan seleksi untuk menghasilkan jambu jenis unggul. Oleh sebab itu diperlukan penelitian-penelitian pendukung untuk melengkapi data-data dari berbagai sumber bukti taksonomi agar

database yang tersedia untuk jambu semakin lengkap.

Penelitian ini dilakukan karena masih kurangnya informasi mengenai karakter anatomi daun S. samarangense dan S. aqueum serta hubungan kemiripannya berdasarkan anatomi daun. Penelitian S. samarangense dan S. aqueum yang membahas keanekaragaman dan hubungan kemiripannya baru didasarkan pada karakter morfologi dan molekuler saja.

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka masalah yang perlu dikaji lebih mendalam, yaitu:

1. Bagaimanakah karakteristik anatomi daun antara Syzygium samarangense dan

Syzygium aqueum.

2. Bagaimana hubungan kemiripan antara Syzygium samarangense dan Syzygium

aqueum berdasarkan karakter anatomi daunnya.

Adapun tujuan penelitian yang diamati antara lain, yaitu:

1. Mengetahui karakteristik anatomi daun antara Syzygium samarangense dan

Syzygium aqueum.

2. Mengetahui hubungan kemiripan Syzygium samarangense dan Syzygium aqueum berdasarkan karakter anatomi daunnya.

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat perbedaan aktivitas antioksidan pada sediaan lipstik likuid ekstrak etanol kulit buah naga merah dengan konsentrasi yang bervariasi. Kulit Buah

Baris ketiga berisi N buah bilangan bulat dipisahkan spasi, yaitu urutan petak warna hasil akhir lipatan apabila dilihat dari sisi samping kertas ketika permukaan kertas menghadap

Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter morfologi tanaman ubi kayu Juray yaitu, warna batang abu-abu, diameter batang besar (3.4 cm), permukaan batang

Keluarga Bastian dan Bintang, memiliki artistik dengan warna-warna yang lebih cerah dan bervariasi, seperti warna-warna merah, kuning, biru dan warna- warna pastel.. Hal

Warna merah untuk buah yang sudah agak tua bewarna hitam waktu masih muda tidak lengket.Banyak Tumbuh di daerah dataran agak tinggi ( lereng gunung ) pohon jeronang ini

Pohon, kayu lunak dan tidak kuat, batang bulat, warna batang putih kotor, daun majemuk, hijau tua yang menarik, bunga berwarna merah menyala, buah polong, keras

Selain itu mekanisme kerja ekstrak batang tanaman buah naga merah sebagai inhibitor akan teradsorpsi pada permukaan spesimen baja dan membentuk lapisan pelindung sehingga menghambat

2014 menambahkan bahwa, pada umumnya pohon inang yang disukai oleh paku epifit adalah jenis inang yang memiliki tekstur kulit tebal, beralur maupun berserabut dan memiliki kulit yang