• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pinisi: Journal of Teacher Professional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pinisi: Journal of Teacher Professional"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Pinisi: Journal of Teacher Professional https://ojs.unm.ac.id/TPJ

Volume 2, Nomor 1 April 2021 e-ISSN: 2723-1631

DOI.10.26858

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VI SD NEGERI 329 PALAMBARAE KABUPATEN BULUKUMBA DENGAN

MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE TGT

Cahir1,

1SD Negeri 329 Palambarae

Email: [email protected] mailto:[email protected]

Artikel info Abstrak Artikel history:

Received; 1-04-2021 Revised:02-04-2021 Accepted;28-04-2021 Published,4-04-2021

Peningkatan Hasil Belajar bahasa Indonesia Siswa Kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba Dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe TGT. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan Hasil Belajar bahasa Indonesia Siswa Kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba Dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe TGT. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VISD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba sebanyak 20 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan pemberian tugas mengerjakan soal-soal serta tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1). Tingkat penguasaan materi ajar siswa kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba dengan nilai rata-rata pada siklus I 64,60 dengan kategori sedang dan pada siklus II memperoleh nilai rata-rata 76,05 dengan kategori tinggi dan (2). Tingkat kemajuan belajar siswa pada siklus I mengalami peningkatan pada siklus II.Ini menandakan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa VISD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT

Key words:

Hasil belajar, Bahasa

Indonesia, kooperatif, TGT artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY-4.0

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, pengangkatan manusia ke taraf yang lebih tinggi. Di dalamnya terdapat pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Artinya pendidikan adalah usaha membawa manusia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual dari sifat alami manusia (humanistik). Proses pendidikan hendaknya memberi tempat kepada proses pemberdayaan diri. Dengan self awareness dan self insight peserta didik dapat terhubung dengan dirinya dan mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya. Di satu sisi, belajar adalah

(2)

memahami bagaimana individu berbeda dengan yang lain. Di sisi lain, memahami bagaimana menjadi manusia seperti manusia lain (Setyawan, 2007: 6).

Kurikulum berisi pembelajaran yang humanistik harus menyediakan ruang bagi eksplorasi masalah kamanusiaan, membantu peserta didik menghadapi masalah kehidupan sehari-hari. Karena itu, menurut Setyawan (2007: 6) perlu dikembangkan pembelajaran tentang proses dan keahlian yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan.

Berdasarkan observasi awal, keterampilan menulis merupakan keterampilan yang kurang diminati oleh siswa kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba dibandingkan 3 (tiga) keterampilan berbahasa lainnya. Pengamatan awal khususnya siswa kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba lebih menyukai dan menguasai pembelajaran menyimak, berbicara, dan membaca. Hal ini dapat terlihat, misalnya pada saat pembelajaran menyimak dan membaca cerpen, siswa mampu mengungkapkan kembali isi cerpen, begitu juga pembelajaran berbicara, siswa mampu mengungkapkan hal-hal yang menarik dari biaografi tokoh sementara dalam pembelajaran menulis, siswa cenderung merasa kesulitan dalam mengekspresikan pikirannya dalam tulisan. Beberapa alasan siswa berkaitan dengan sulitnya menentukan tokoh yang ada dalam drama yang akan mereka tulis, kehabisan ide ketika sudah sampai ditengah jalan cerita dan sulitnya mencari inspirasi.Antusiasme siswa juga masih kurang, hal ini desebabkan siswa masih kurang menggunakan ejaan yang disempurnakan (EYD) dalam naskah yang mereka tulis. Pembelajaran menulis ini sangat perlu dimiliki oleh siswa agar pembelajaran menulis naskah drama bermanfaat tidak hanya bagi siswa tetapi juga keseluruhan pembelajaran. Pengajaran sastra dikatakan berhasil seandainya dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh.

Salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan formal adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar bahasa Indonesia siswa masih sangat rendah dibandingkan dengan mata pelajaran lain.

Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat nilai rata-rata ulangan harian 1 mata pelajaran bahasa Indonesia pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018 siswa kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba hanya memperoleh 57,91. Menyadari keadaaan tersebut, berbagai usaha telah ditempuh oleh pemerintah bersama-sama dengan tenaga pendidik untuk memecahkan masalah di atas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kecemasan siswa terhadap bahasa Indonesia, maupun dengan upaya-upaya berbaikan proses pembelajaran dan lain-lain.

Sekolah Dasar (SD) Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba yang merupakan salah satu lembaga pendidikan formal juga tidak terlepas dari persoalan rendahnya hasil belajar bahasa Indonesia siswa. Berbagai langkah telah diupayakan untuk memecahkan persoalan ini. Langkah-langkah yang telah ditempuh oleh guru yang bersangkutan di antaranya dengan menggunakan metode-metode dan teknik pengajaran dan pemberian bimbingan belajar, yang kesemuanya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu

(3)

metode tersebut adalah model pembelajaran kooperatif yang juga merupakan salah satu metode yang selama ini penulis terapkan. Arends (2001) membedakan pembelajaran kooperatif dalam empat pendekatan, yaitu Student Teams Achievement Division (STAD), Jigsaw, Investigasi Kelompok, dan pendekatan struktural. Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda (tidak homogen).

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin, dkk di Universitas John Hopkin, Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson, dkk di Universitas Texas, Investigasi kelompok dikembangkan pertama kali oleh Thelan, kemudian dipertajam oleh Sharan, dkk di Universitas Tel Aviv dan pendekatan struktural dikembangkan oleh Spencer Kagan (Muslimin, 2000). Pada pendekatan struktural, struktur yang diberikan sebagai alternatif terhadap struktur kelas konvensional seperti resitasi, di mana guru mengajukan pertayaan kepada seluruh kelas dan siswa memberikan jawaban setelah mengangkat tangan dan ditunjuk. Salah satu pendekatan struktural adalah Team Games Tournament (TGT). Pendekatan struktural TGT menekankan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang (permainan) untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur TGT melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Bertitik tolak dari pemaparan di atas, maka peneliti mencoba untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul “Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba dengan menggunakan Model Kooperatif Tipe TGT”. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, dirumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu

‘’Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT Siswa Kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) berbaris kelas yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba pada semester genap Tahun Pelajaran 2017/2018 dengan jumlah siswa 20 orang. Langkah kerja dalam penelitian ini adalah per siklua yaitu Siklus I dan siklus II dan ini berlangsung selama 2 minggu (4 pertemuan) dengan beberapa siklus kecil di dalamnya. Materi pelajaran yang dibahas pada Siklus I ini terdiri atas bahan kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Adapun Teknik pengumpulan data adalah Data mengenai sikap, minat serta kesungguhan siswa dalam mengikuti Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT diambil dengan teknik observasi, yaitu pengamatan langsung yang dilakukan penulis kepada siswa yang menjadi subjek penelitian. Pengamatan ini dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Data telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Untuk data kuantitatif digunakan statistik deskriptif, sedangkan untuk jenis data kualitatif digunakan katerigorisasi. Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori skor adalah skala 5. Menurut Nurkancana (Amiruddin, 1998:20). Skala 5 adalah suatu pembagian tingkatan yang terbagi atas lima kategori yaitu: tingkat penguasaan 85% sampai 100% dikategorikan “sangat tinggi”,

(4)

65% sampai 84% dikategorikan “tinggi”, 55% sampai 64% dikategorikan “sedang”, 35% sampai 54% dikategorikan “rendah”, 0% sampai 34% dikategorikan “sangat rendah”.

Kriteria keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah terjadinya pencapaian hasil belajar siswa minimal berada pada kategori tinggi ( ) baik ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus maupun dari segi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini akan dibahas secara rinci hasil analisis data sesuai dengan data yang diperoleh dilapangan dengan hasil Analisis deskripsi terhadap skor hasil belajar siswa pada tes akhir Siklus I dan siklus II. Berdasarakan hasil penelitian ditemukan menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa setelah diberikan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah 65,60 dari skor ideal (total) yang mungkin dicapai yaitu 100, sedangkan skor terendah 55,00 dan yang tertinggi 75,00 dengan rentang skor 20 dan standar deviasi 5,481. bahwa tak seorangpun siswa yang berada pada kategori rendah sekali, rendah maupun kategori tinggi sekali, siswa yang berada dalam kategori sedang sebanyak 5 orang atau 30,00% dan siswa yang berada pada kategori tinggi sebanyak 15 orang atau 70,00%. Dan skor rata-rata hasil belajar siswa setelah diadakan bimbingan kelompok pada siklus I adalah 65,12. Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam lima kategori maka berada dalam kategori sedang. Pada siklus II menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa setelah diberikan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah 76,05 dari skor ideal (total) yang mungkin dicapai yaitu 100, sedangkan skor terendah 65,00 dan yang tertinggi 90,00 dengan rentang skor 25 dan standar deviasi 7,323. bahwa tak seorangpun siswa yang berada pada kategori rendah sekali, rendah maupun sedang, sedangkan siswa yang berada dalam kategori tinggi sebanyak 15 siswa atau 85,00%, siswa yang berada pada kategori tinggi sekali sebanyak 3 orang atau 15,00%. Selama pelaksanaan siklus I yang berlangsung selama 4 kali pertemuan (tatap muka), tercatat perubahan mendasar yang terjadi pada siswa. Persentase kehadiran siswa pada Siklus I sebesar 95,00%, Keberanian siswa untuk bertanya dan menanggapi materi pelajaran yang disajikan mengalami peningkatan yang sengaja mengajukan pertanyaan serta memberi jawaban setiap pertanyaan lisan yang diajukan peneliti jika dibandingkan dengan sebelum penelitian ini berlangsung, dengan persentase 28,75%, Keaktifan siswa untuk terlibat dalam proses belajar mengajar meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin aktifnya siswa terlibat langsung dalam kelompoknya untuk menyelesaikan soal latihan yang diberikan, dengan persentase sebesar 21,25%, Siswa yang meminta bantuan dari teman pada saat kerja kelompok masih banyak dengan persentase sebesar 18,75%., Keberanian siswa untuk mengajukan pendapat atau menanggapi pendapat kelompok lain meningkat atau menanggapi pendapat kelompok lain meningkat. Siswa yang sengaja mengacungkan tangan untuk tampil ke depan mengerjakan soal yang diberikan atau menanggapi jawaban dari kelompok lain, dengan persentase 18,75%.

Pada Siklus II tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada siswa yaitu sebagai berikut.

³65 x

(5)

1. Persentase kehadiran siswa pada Siklus II meningkat menjadi 96,25%. Ini berarti banyak siswa yang mulai terbiasa dan tertarik untuk belajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT

2. Keberanian siswa untuk bertanya dan menanggapi materi pelajaran yang disajikan mengalami peningkatan dengan persentase 32,50%.

3. Keaktifan siswa untuk terlibat dalam proses belajar mengajar semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin aktifnya siswa terlibat langsung dalam kelompoknya untuk menyelesaikan soal latihan yang diberikan, dengan persentase sebesar 22,50%

4. Siswa yang meminta bantuan dari teman pada saat kerja kelompok semakin berkurang di tiap pertemuan dengan persentase sebesar 20,00%.

5. Keberanian siswa untuk mengajukan pendapat atau menanggapi pendapat kelompok lain meningkat atau menanggapi pendapat kelompok lain juga semakin meningkat. Siswa yang sengaja mengacungkan tangan untuk tampil ke depan mengerjakan soal yang diberikan atau menanggapi jawaban dari kelompok lain, dengan persentase 26,25%.

6. Persentase siswa yang mengerjakan tugas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru sebesar 93,75%.

7. Banyaknya siswa yang melakukan kegiatan lain seperti keluar masuk kelas, mengganggu teman atau melakukan kegiatan lainnya semakin berkurang yaitu dengan persentase sebesar 6,25%.

Pada awal tatap muka hingga pertemuan ke-2 umumnya siswa belum mampu mengikuti dengan baik materi yang disajikan. Hal ini disebabkan karena mereka masih berusaha beradaptasi terhadap suasana baru yang dialaminya. Dari pengamatan dan wawancara yang peneliti lakukan diketahui bahwa 4 hingga 5 orang siswa mengaku belum mampu menangkap/mengerti dengan baik materi yang dijelaskan. Kegiatan kelompok memecahkan setiap soal yang diberikan, umumnya siswa dalam kelompok tersebut hanya mengandalkan atau mengharapkan jawaban dari ketua kelompoknya saja tanpa ada usaha untuk memecahkan sendiri soal latihan yang diberikan. Akibatnya, suasana diskusi yang diharapkan terjadi dari tiap kelompok kurang tercipta, hanya dua kelompok saja yang sedikit aktif dalam kegiatan kelompoknya.

Selain itu, siswa yang memberikan tanggapan dan mampu mengajukan pertanyaan terbatas hanya satu atau dua kelompok saja. Demikian halnya dengan siswa yang berani tampil bekerja di papan tulis hanya terbatas satu hingga dua orang saja yang selalu mengacungkan tangan. Sedangkan yang lainnya merasa takut dan gugup untuk tampil ke papan tulis. Memasuki tatap muka ke-3 hingga akhir Siklus I, keaktifan siswa dalam kelompoknya belum menunjukkan kemajuan seperti yang diharapkan.

Di samping itu, terdapat dua kelompok yang kurang dapat bekerjasama dan berdiskusi secara baik sesama anggotanya yang menyebabkan kelompok tersebut sangat jarang memberikan respons terhadap soal-soal latihan yang diberikan. Namun demikian, kelompok yang lain sudah memperlihatkan keaktifannya walaupun yang terlibat dalam diskusi tersebut belum meliputi seluruh anggota kelompok.

(6)

Dijumpai juga adanya siswa dalam suatu kelompok yang kelihatannya tersisih serta tidak menunjukkan upaya untuk berpartisipasi aktif dalam kelompoknya. Dari pengamatan serta wawancara diketahui bahwa siswa demikian ini adalah siswa yang di samping berprestasi rendah juga kurang dapat bergaul dengan teman- temannya.Hingga pertemuan ke-5 pada Siklus II, kegiatan diskusi pada tiap kelompok telah menunjukkan kemajuan dibanding sebelumnya, meskipun tiap kelompok tersebut hanya mengandalkan satu atau dua orang saja untuk menjawab tiap latihan yang diberikan. Demikian halnya dengan siklus sebelumnya, masih jarang siswa yang mau tampil bekerja di papan tulis untuk menjawab soal yang diberikan dengan kamauan sendiri, umumnya yang tampil hanya ketua kelompok saja. Demikain halnya dengan pertanyaan yang diajukan kepada guru umumnya diajukan oleh ketua kelompok. Memasuki petermuan ke-6 hingga akhir Siklus II aktifitas kelompok mengalami kemajuan dari pertemuan ke pertemuan. Hal ini tidak lepas dari kesadaran siswa untuk menjawab dengan betul soal yang diberikan, utamanya jika soal tersebut akan dikerjakan di papan tulis, karena dengan menjawab yang benar menghindarkan kelompok tersebut dari sanksi yang diberikan oleh guru.

Walaupun yang mengacungkan tangan untuk tampil atau bertanya masih dimonopoli oleh beberapa siswa saja, namun sudah ada beberapa siswa yang telah berani untuk sengaja tampil ke depan atau mengajukan pertanyaan langsung pada saat penyajian materi. Pada siklus ini, kelompok siswa sudah menunjukkan kemajuan, meskipun terdapat tiga kelompok yang masih kurang mampu bekerja sama dalam kelompoknya. Pada kelompok yang terjalin kerja sama di antara anggotanya dapat terlihat dari adanya pembagian tugas untuk memecahkan soal-soal yang diberikan.

Demikian halnya, tutor sebaya (ketua kelompok) telah mulai kelihatan peranannya dalam membimbing anggota kelompoknya. Peranan guru dalam hal ini lebih banyak hanya mengarahkan saja selama berlangsungnya diskusi dalam suatu kelompok.

Namun demikian, dalam diskusi ini masih dijumpai adanya siswa yang bersikap negatif terhadap bahasa Indonesia. Siswa demikian ini hanya terlihat aktif jika guru mendekati kelompoknya dan akan pasif serta bersikap mengganggu temannya jika sudah tidak diawasi. Hal lain yang sempat terekam adalah timbulnya keberanian siswa untuk menyampaikan pendapat/jawaban di papan tulis tanpa ditunjuk. Bahkan tidak ada siswa yang menolak untuk mengerjakan soal di papan tulis. Untuk soal-soal latihan yang diberikan pada siswa umumnya tidak mengalami kesulitan-kesulitan dengan bekerja secara kelompok. Sebagian siswa menunjukkan kemandirian dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan tanpa terlalu tergantung kepada ketua kelompoknya maupun pada guru. Soal-soal yang tetap menjadi kendala bagi siswa adalah soal dalam bentuk cerita. Secara umum dapat dikatakan perubahan yang terjadi pada siswa dalam belajar pada siklus ini mengalami peningkatan di bandingkan dengan siklus sebelumnya.

Pandangan siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia dapat dikatakan mengalami perubahan padangan ke positif. Jika pada Siklus I umumnya siswa beranggapan bahwa bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang paling manakutkan (90%), maka pandangan siswa berubah pada Siklus II, sehingga siswa yang beranggapan bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran yang menakutkan turun hingga 50%.Namun demikian, pandangan siswa bahwa bahasa Indonesia adalah

(7)

pelajaran yang sangat sulit tidak mengalami perubahan yang berarti. Hanya yang berubah adalah motivasi siswa untuk mempelajari bahasa Indonesia meningkat. Dari refleksi yang dituliskan umumnya siswa termotivasi untuk belajar bahasa Indonesia karena terdorong untuk memperoleh nilai tinggi, untuk diakui keberadaannya dalam kelompoknya, serta untuk menghindari kesalahan jika tampil dalam mengerjakan soal.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang berlangsung selama dua siklus, dapat disimpulkan bahwa tingkat hasil belajar bahasa Indonesia siswa Kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba pada Siklus I setelah diadakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT memperoleh skor rata-rata 64,60 dengan kategori sedang, Tingkat hasil belajar bahasa Indonesia siswa Kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba pada Siklus II setelah diadakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT memperoleh skor rata-rata 76,05 dengan kategori tinggi, Tingkat hasil belajar bahasa Indonesia siswa Kelas VI SD Negeri 329 Palambarae Kabupaten Bulukumba dengan diadakan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT siswa merasa manfaatnya yang besar dengan diadakannya bimbingan kelompok, karena dengan bimbingan kelompok kesulitan-kesulitan belajar yang dialami siswa dengan mudah dapat dipecahkan. Adapun sara-saran yang diajukan sebagai berikut.Agar Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT dapat diterapkan oleh pengajar bahasa Indonesia di sekolah lain dengan menyesuaikan kondisi sekolahnya. Disarankan pada peneliti lain agar dapat mengembangkan penelitian ini dengan meneliti pengaruh variabel bimbingan kelompok terhadap hasil belajar bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, dkk, 1990. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Amiruddin, 1998. Peningkatan peguasaan Materi Pelajaran Matematika Pada Pokok Bahasan Trigonometri Melalui Strategi Belajar Tuntas Siswa Kelas I.II SMP Negeri 28 Ujung Pandang. Skripsi FPMIPA IKIP Ujung Pandang.

Djaali,1992. Pengaruh Kemampuan Guru Terhadap Prestasi Belajar Matematika Alumni No. 1 – 2 Vol. 2, Ujung pandang.

Djamarah, Bakri, Syaiful, 1984. Prestasi Belajar dan Kompetisi guru. Usaha nasional: surabaya.

Hasibuan, dkk, 1998. Proses Belajar (Keterampilan Dasar Pengajaran Mikro).

Remaja Karya CV : Bandung.

Hudoyo, Herman, 1990. Belajar Mengajar Matematika Dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Dirjen Dikti: Jakarta

Idrus, H., A, 1990. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar. Rineka cipta: Jakarta

Mappa, Syamsu, 1997. Apresasi Pendidikan Lingkungan Sosial dan Prestasi Belajar.

IKIP Ujung Pandang: Ujung Pandang

Muhkal, Mappaita, 1997. Pengajaran Remedial Matematika Berdasarkan Hasil Diagnosis Kesulitan Belajar. IKIP Ujung Pandang.

Nasution, 1995. Didaktik Azas-azas Mengajar. Bumi Aksara: Jakarta.

(8)

Rasyid, Arviaty,1990. Pengaruh Instrumen Akademika Terstruktur Dan Mandiri Terhadap Prestasi Belajar Matematika Kelas I.B SMA Negeri I Ujung Pandang. Skripsi FPMIPA IKIP Ujung Pandang.

Slameto,1991. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta:

Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang telah diberikan

Sistem dapat digunakan untuk mempermudah HRD dalam menyeleksi calon karyawan dengan cara menetukan nilai bobot untuk setiap kriteria yang sudah ada, kemudian

Oleh karena itu segala tindakan penahanan yang dilakukan oleh Pejabat yang berwenang melakukan penahanan harus sesuai dengan KUHAP, hal ini untuk menghindari terjadinya

Governance dalam setiap kegiatan usaha Bank pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. 5) Direksi dalam penyelenggaraan tugas yang bersifat strategis

Grafik kesukaan panelis terhadap rasa nasi akibat perlakuan lama pemasakan dan konsentrasi air yang diberikan dapat dilihat pada Gambar 7 yang menunjukkan bahwa

Dengan hasil penelitian sebagian besar responden menilai kualitas produk yang dimiliki Honda Jazz baik, khususnya meliputi kinerja (performance), fitur (features),

1. Perusahaan dapat mengharapkan kelangsungan hidup sebagai tujuan utamanya jika terjadi kelebihan kapasitasnya, persaingan yang sangat sengit atau keinginan konsumen

Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlakuan lama marinasi 5 jam dengan ekstrak tepung batang kecombrang konsentrasi 6%, meningkatkan sifat fisik dan aroma subyektif filet