• Tidak ada hasil yang ditemukan

JHTM Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol 05 No 02, November

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JHTM Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol 05 No 02, November"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

483 DETERMINAN STUNTING

Gusti Wangi Permana1, Dwi Septian Wijaya2

1Rumah Sakit Pertamina Jaya, Jakarta

2Prgram Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Corresponding Author: Gusti Wangi Permana, Rumah Sakit Pertamina Jaya, Jakarta E-mail: [email protected]

Received August 03, 2020; Accepted September 11, 2020; Online Published November 06, 2020

Abstrak

Stunting merupakan pertumbuhan linear yang gagal untuk mencapai potensi genetik sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit infeksi. Stunting dapatdi diagnosis melalui indeks antropometri tinggi badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai. Stunting merupakan pertumbuhan linear yang gagal untuk mencapai potensi genetik sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit infeksi. Balita yang mengalami stunting meningkatkan risiko penurunan kemampuan intelektual, menghambatnya kemampuan motorik, produktivitas, dan peningkatan risiko penyakit degeneratif di masa mendatang.

Keywords: Stunting, Tinggi Badan, Gizi

PENDAHULUAN

Balita pendek (stunting) merupakan keadaan tubuh yang pendek dan sangat pendek hingga melampaui defisit-2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan. Stunting dapatdi diagnosis melalui indeks antropometri tinggi badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai. Stunting merupakan pertumbuhan linear yang gagal untuk mencapai potensi genetik sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit infeksi (ACC/SCN, 2000).

Stunting adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Ada bukti jelas bahwa individu yang stuntingmemiliki tingkat

kematian lebih tinggi dari berbagai penyebab dan terjadinya peningkatan penyakit. Stunting akan mempengaruhi kinerja pekerjaan fisik dan fungsi mental dan intelektual akan terganggu (Mann dan Truswell, 2002). Hal ini juga didukung oleh Jackson dan Calder (2004) yang menyatakan bahwa stunting berhubungan dengan gangguan fungsi kekebalan dan meningkatkan risiko kematian.

Prevalensi stunting di beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Myanmar sebesar 35%, Vietnam sebesar 23%, dan Thailand sebesar 16%.

Prevalensi stuntingdi Indonesia Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013 sebesar 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 sebesar 35,6% dan pada tahun 2007 sebesar 36,8%. Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita sekitar 8 juta anak di Indonesia, atau satu dari tiga anak di

e-ISSN. 2541-5409 p-ISSN. 2541-4178

Open Acces

JHTM

Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol 05 No 02, November 2020

www.jhtm.or.id

(2)

484 Indonesia (Riskesdas,2013). Prevalensi stunting

bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan permasalahan gizi pada balita lainnya seperti gizi kurang (19,6%), kurus (6,8%), dan gemuk (11,9%). (Millennium Challenge Account Indonesia,2015).

Balita yang mengalami stunting meningkatkan risiko penurunan kemampuan intelektual, menghambatnya kemampuan motorik, produktivitas, dan peningkatan risiko penyakit degeneratif di masa mendatang. Hal ini dikarenakan anak stunting cenderung lebih rentan menjadi obesitas, karena orang dengan tubuh pendek berat badan idealnya juga rendah.

Kenaikan berat badan beberapa kilogram saja bisa menjadikan Indeks Massa Tubuh (IMT) orang tersebut naik melebihi batas normal.

(Astari,2015).

Kekurangan gizi pada masa golden period (0–2 tahun), akan menyebabkan sel otak anak tidak tumbuh sempurna. Hal ini disebabkan karena 80-90% jumlah sel otak terbentuk semenjak masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Apabila gangguan tersebut terus berlangsung maka akan terjadi penurunan skor tes IQ sebesar 10-13 point. Penurunan perkembangan IQ tersebut akan mengakibatkan terjadinya loss generation, artinya anak-anak tersebut akan menjadi beban bagi keluarga, masyarakat, dan pemerintah (I Dewa Nyoman,2002).

Konsekuensi defisiensi zat gizi makro selama masa anak-anak sangat berbahaya.

Kekurangan protein murni pada stadium berat dapat menyebabkan kwashiorkorpada anak-anak dibawah lima tahun. Kekurangan protein juga sering ditemukan secara bersamaan dengan

kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang dinamakan marasmus (Almatsier, 2004).

Protein sendiri memiliki banyak fungsi, diantaranya membentuk jaringan tubuh baru dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh, memelihara jaringan tubuh, memperbaiki serta mengganti jaringan yang rusak atau mati, menyediakan asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolism (Karsin ES, 2004).

Pangan dan gizi merupakan salah satu faktor yang terkait erat dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat yang terpenuhi kebutuhan dengan mutu gizi seimbang lebih mampu berpartisipasi dalam pembangunan.

Masalah pangan dan gizi merupakan masalah yang kompleks dan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa metode pendekatan yang dilakukan dalam menentukan penilaian keadaan pangan dan gizi dapat dilakukan dengan cara menilai konsumsi dan kebiasaan makan serta menilai status gizi pada suatu daerah atau kelompok tertentu. Tiap daerah mempunyai masalah pangan dan gizi yang berbeda dengan daerah lainnya. Wilayah tempat penduduk bermukim turut menentukan pola konsumsi masyarakat tersebut (Augustyn, 2002).

Banyak faktor yang menyebabkan tingginya kejadian stunting pada balita. Faktor langsung yang berhubungan dengan stunting yaitu asupan makanan dan status kesehatan. Faktor tidak langsung yang berhubungan dengan stunting yaitu Pola pengasuhan, pelayanan kesehatan, faktor maternal dan lingkungan rumah tangga.

Akar masalah yang menyebabkan kejadian

(3)

485 stunting yaitu status ekonomi keluarga yang

rendah (Semba and Bloem, 2001).

Asupan zat gizi yang tidak adekuat, terutama dari total energi, protein, lemak dan zat gizi mikro, berhubungan dengan defisit pertumbuhan fisik pada anak. Protein merupakan zat pengatur dalam tubuh manusia. Protein pada balita dibutuhkan untuk pemeliharaan jaringan, perubahan komposisi tubuh, dan untuk sintesis jaringan baru. Selain itu, protein juga dapat membentuk antibodi untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap infeksi dan bahan-bahan asing yang masuk kedalam tubuh (Almatsier, 2001).

STUNTING

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan gizi.

Stunting terjadi mulai janin masihdalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tidak maksimal saat dewasa (MCA Indonesia, 2014).

Balita pendek (Stunting)adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Stunting adalah status gizi yang didasarkan pada indeks BB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak,hasil pengukuran tersebut berada

pada ambang batas (Z-Score)<-2SD sampai dengan-3SD (pendek/stunted) dan<-3SD (sangat pendek/severely stunted) (Trihono dkk,2015).

Masalah stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kesakitan, kematian dan hambatan pada pertumbuhanbaik motorik maupun mental. Stunting dibentuk oleh growth faltering dan catcth up growthyang tidak memadai yang mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai pertumbuhan optimal, hal tersebut mengungkapkan bahwa kelompok balita yang lahir dengan berat badan normal dapat mengalami stunting bila pemenuhan kebutuhan selanjutnya tidak terpenuhi dengan baik (Sembiring, 2017).

Ciri-ciri Stunting

Ciri-ciri fisik yang tampak pada anak stuntingantara lain : tinggi dibawah rata-rata, terjadi gagal tumbuh, perhatian dan memori rendah, menghindari kontak mata, dan lebih pendiam. Stunting juga diakibatkan oleh kondisi kurang gizi di usia balita dan berat badan lahir rendah (BBLR).

Pemberantasan masalah stuntingdi Indonesia penting dilakukan terutama untuk menekankan pada langkah-langkah pencegahan dini dengan gerakan perbaikan asupan gizi pada remaja, wanita usia subur, ibu hamil dan balita.

Upaya khusus pada balita meliputi pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, pemberian pola asuh yang baik, dan pemantauan status pertumbuhan dan perkembangan anak pada 1000 hari pertama kelahiran. Masalah gizi pendek diakibatkan oleh keadaan yang berlangsung lama, maka ciri masalah gizi yang ditunjukan oleh anak pendek

(4)

486 adalah masalah gizi yang sifatnya kronis (Gibney,

2009).

Faktor Risiko Stunting

Stunting pada balita merupakan konsekuensi dari beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan kemiskinan termasuk gizi, kesehatan, sanitasi dan lingkungan (KemenKes RI, 2013). Faktor utama penyebab stunting yaitu

a.Asupan makanan. Manusia membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Makanan merupakan sumber energi untuk menunjang semua kegiatan atau aktivitas manusia. Seseorang tidak dapat menghasilkan energi yang melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan kecuali jika meminjam atau menggunakan cadangan energi dalam tubuh.

Namun kebiasaan meminjam ini akan dapat mengakibatkan keadaan yang gawat, yaitu kekurangan gizi khususnya energi (Suhardjo, 2003).

b.Penyakit Infeksi. Rendahnya sanitasi dan kebersihan lingkungan pun memicu gangguan saluran pencernaan, yang membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi (Schmidt dan Charles, 2014).

Sebuah riset lain menemukan bahwa semakin sering seoranganak menderita diare, maka semakin besar pula ancaman stunting untuknya (Cairncross dan Sandy, 2013).

c.Pelayanan Kesehatan dan Kesehatan Lingkungan. Keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik memungkinkan terjadinya berbagai jenis penyakit antara lain diare, kecacingan, dan infeksi saluran pencernaan. Apabila anak menderita infeksi saluran pencernaan, penyerapan zat-zat gizi akan terganggu yang menyebabkan

terjadinya kekurangan zat gizi. Seseorang yang kekurangan zat gizi akan mudah terserang penyakit dan mengalami gangguan pertumbuhan (Supariasa, et.al.,2013).

Dampak Stunting

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi (Kemenkes R.I, 2016).

Penilaian Stunting Secara Antropometri

Untuk menentukan stunting pada anak dilakukan dengan cara pengukuran. Pengukuran tinggi bada menurut umur dilakukan pada anak umur diatas dua tahun. Antropometri merupakan ukuran dari tubuh sedangkan antropometri gizi adalah jenis pengukuran dari beberapa bentuk tubuh dan komposisi tubuh menurut umur dan tingkatan gizi, yang digunakan untuk mengetahui ketidakseimbangan energi dan protein.

Antropometri dilakukan untuk pengukuran pertumbuhan tinggi badan dan berat badan (Gibson, 2005).

Standar digunakan untuk standarisasi pengukuran berdasarkan rekomendasi National Canter of Health Statistics (NCHS) dan WHO.

(5)

487 Standarisasi pengukuran ini membandingkan

pengukuran anak dengan median, dan standar deviasi atau Z-scorea dalah unit standar deviasi untuk mengetahui perbedaan Antara nilai individu dan nilai tengah (median) populasi referent untuk umur/tinggi yang sama, dibagi dengan standar deviasi dari nilai populasi rujukan.

Beberapa keuntungan penggunaan Z- scoreantara lain untuk mengidentifikasi nilai yang tepat dalam distribusi perbedaan indeks dan peredaan umur, juga memberikan manfaat untuk menarik kesimpulan secara statistic dari pengakuan antropometri.Berikut Klasifikasi status gizi stuntingberdasarkan indikator TB/U yaitu.

a.Sangat pendek: Z-score< -3,0. b.Pendek: Z- score< -2,0 s.d Z-score≥ -3,0. c.Normal: Z-score≥

-2,0.

Upaya Pencegahan Stunting

Pemerintah indonesia berkomitmen untuk mengurangi stunting dengan bergabung dalam Scaling Up Nutrition (SUN) movement, SUN adalah gerakan global dengan prinsip semua orang di dunia berhak mendapatkan makanan dan gizi yang baik, selain itu upaya yang dilakukan pemerintah indonesia untuk mencegah stunting adalah dengan mengadakan gerakan 1.000 hari pertama kehidupan yang dikenal sebagai 1.000 HPK, gerakan ini bertujuan mempercepat perbaikan gizi untuk memperbaiki kehidupan anak-anak Indonesia di masa mendatang, gerakan ini melibatkan berbagai sektor dan pemangku kebijakan untuk bekerjasama menurunkan prevalensi stunting (Riskesdas, 2013).

Upaya intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskanpada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaituIbu Hamil, Ibu

Menyusui, dan Anak 0-23 bulan, karena penanggulangan balita pendek yang paling efektif dilakukan pada 1.000 HPK. Periode 1.000 HPK meliputi yang 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi yang dilahirkan telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan. Oleh karena itu periode ini ada yang menyebutnya sebagai

"periode emas", "periode kritis", dan Bank Dunia (2006) menyebutnya sebagai"window of opportunity" (Pusdatin, 2016).

Upaya penanggulangan stunting menurut Lancet pada Asia Pasific Regional Workshop (2010) diantaranya a.Edukasi kesadaran ibu tentang ASI Eksklusif (selama 6 bulan). b.Edukasi tentang MP-ASI yang beragam (umur 6 bulan-2 tahun). c.Intervensi mikronutrien melalui fortifikasi dan pemberiam suplemen. d.Iodisasi garam secara umum. e. Intervensi untuk pengobatan malnutrisi akut yang parah. f.

Intervensi tentang kebersihan dan sanitasi.

Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungandengan caramelakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya.

Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI sajasampai umur 6 bulan (Eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita yang bersifat kronis seharusnya dapat

(6)

488 dipantau dan dicegah apabila pemantauan

pertumbuhan balita dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan pencegahan terjadinya balita stunting (Kemenkes R.I, 2013).

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.

Jakarta: Gramedia Pustaka

Cairncross, Sandy. (2013). Linking Toilets to Stunting. UNICEF ROSA 'Stop Stunting'.

Conference, New Delhi.

Gibson, R. S. 2005. Principles of Nutritional Assessment. Second Edition. Oxford.

University Press Inc, New York

I Dewa Nyoman Supariasa. Penilaian Status Gizi.

Jakarta. Penerbit Buku. Kedokteran EGC.

2002

Karsin, ES. 2004. Peranan Pangan dan Gizi dalam Pembangunan dalam. Pengantar Pangan dan Gizi. Penebar Swadaya. Jakara.

Kemenkes Ri. 2013. Riset Kesehatan Dasar;

RISKESDAS. Jakarta: Balitbang.

Kemenkes Ri.

Mann, J. dan Truswell, A, S. 2002. Essentials of Human Nutrition . Oxfod. University Press.

Millennium Challenge Account Indonesia. 2015.

Stunting dan masa depan. Indonesia.

Jakarta: MCA Indonesia.

PUSDATIN. 2016. Situasi Imunisasi di Indonesia.

Jakarta : Kementerian Kesehatan. RI.

Trihono, dkk. 2015. Pendek (stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Badan Penelitian dan pengembangan Kesehatan.

Jakarta : 23-37. Unicef,

Sembiring, J. (2017). Buku Ajar Neonatus, Bayi, Balita, Prasekolah (Pertama). Sleman: CV Budi Utama. Budiono

Referensi

Dokumen terkait

Terjadi stunting pada balita seringkali tidak disadari, dan setelah dua tahun baru terlihat ternyata balita tersebut pendek. Masalah gizi yang kronis pada balita disebabkan oleh

Pada saat kelahiran maupun sesudah kelahiran, bayi dengan berat badan lahir rendah kecenderungan untuk terjadinya masalah lebih besar jika dibandingkan dengan bayi yang berat

Pelaksanaan kegiatan PKM dengan judul Pemenuhan Kebutuhan Gizi Anak dalam Upaya Pencegahan Stunting Pada Balita di Posyandu Balita RW 2 Kelurahan Bangsal Kota

patan yang cukup tetapi memiliki balita berstatus gizi bu- ruk, kemungkinan disebabkan oleh faktor balita yang malas makan, pengetahuan ibu tentang gizi kurang, pem- berian makanan

Asupan protein yang berasal dari bahan makanan hewani pada anak balita stunting maupun gizi kurang lebih rendah dibandingkan anak balita dengan status gizi normal,

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis untuk sehingga anak lebih usianya disertai pendek masalah kesehatan dan kurangnya kemampuan

Pengertian stunting Stunting yaitu masalah kurang gizi kronis karena asupan gizi yang kurang dalam kurun waktu yang cukup lama diakibatkan oleh pemberian makan yang tidak sesuai

2.3.1 Pengertian Stunting Stunting atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh pada bayi 0 sampai 11 bulan dan anak balita 12 sampai 59 bulan akibat dari kekurangan gizi kronis