477 EKSTRAK DAUN SIRSAK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA HIPERTENSI
Hamdan1, Nia Musniati2
1Program Studi Kesehatan Masyarakat, STIKes Kuningan
2Prgram Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
Corresponding Author: Hamdan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, STIKES Kuningan E-mail: [email protected]
Received July 22, 2020; Accepted August 15, 2020; Online Published November 06, 2020
Abstrak
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menularyang menjadi masalah kesehatan sangat serius saat ini. Hipertensi disebut juga sebagai the silent killer. Hipertensi atau tekanan darah tinggi dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius bagi masyarakat apabila tidak terkendali. Salah satu cara pengendalian hipertensi yaitu dengan pengobatan herbal, seperti menggunakan daun sirsak. Sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman obat tradisional yang digunakan sebagai terapi hipertensi. Bagian yang digunakan sebagai obat herbal pada sirsak adalah buah, daun,dan biji. Daun sirsak mengandung senyawa flavonoid, tannin, alkaloid, kuinon, polifenolat,dan mineral seperti magnesium, kalsium,dan kalium.
Keywords: Ekstrak Daun Sirsak, Tekanan Darah, Hipertensi
PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menularyang menjadi masalah kesehatan sangat serius saat ini. Hipertensi disebut juga sebagai the silent killer. Hipertensi menurut kriteria The Seventh Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and treatment of High Blood Pressure (JNC VII) tahun 2003, didefinisikan sebagai tekanan darah sistol ≥140 mmHg dan tekanandarah diastol ≥90 mmHg, atau sedang dalam pengobatan anti hipertensi (JNC VII, 2003).
Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi diseluruh dunia, dan 3 juta diantaranya meninggal setiap tahunnya.
Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat (Ekowati
2009). Pada tahun 2000 sekitar seperempat (1miliar) dari populasi seluruh dunia mengalami hipertensi. Jumlah pasien dengan hipertensi meningkat setiap tahun, dan pada tahun 2025 diperkirakan akan meningkat menjadi 29% dari populasi (Denio A. Ridjad, 2007).
Faktor risiko hipertensi di Indonesia adalah umur, pria, pendidikan rendah, kebiasaan merokok, konsumsi minuman berkafein >1 kali per hari, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, obesitas dan obesitas abdominal (Ekowati, 2009).
Penderita hipertensi berisiko terserang penyakit lain yang timbul kemudian dalam jangka waktu panjang, jika hipertensi tidak dikendalikan akan berdampak pada timbulnya berbagai komplikasi seperti payah jantung, infark miokardium, stroke, gagal ginjal, komplikasi kehamilan,bahkan tak jarang dapat menyebabkan kematian mendadak
e-ISSN. 2541-5409 p-ISSN. 2541-4178
Open Acces
JHTM
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol 05 No 02, November 2020
www.jhtm.or.id
478 (Andreoli, 2001). Hipertensi atau tekanan darah
tinggi dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius bagi masyarakat apabila tidak terkendali. Salah satu cara pengendalian hipertensi yaitu dengan pengobatan herbal, seperti menggunakan daun sirsak.
Sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman obat tradisional yang digunakan sebagai terapi hipertensi. Bagian yang digunakan sebagai obat herbal pada sirsak adalah buah, daun,dan biji (Zubaidah, 2016). Daun sirsak mengandung senyawa flavonoid, tannin, alkaloid, kuinon, polifenolat,dan mineral seperti magnesium, kalsium,dan kalium (Mulyanti et al, 2015;
Usunomena & Okolie, 2015).
Kandungan potasium pada daun sirsak dapat menurunkan tekanan darah dengan stimulasi pompa Na+K+ATPase pada otot polos pembuluh darah yang menyebabkan vasodilatasi (Stone et al., 2016). Mekanisme lain potasium dalam menurunkan tekanan darah adalah dengan meningkatkan ekskresi sodium yang berkaitan dengan efek diuresis untuk menurunkan cardiac output (Nguyen et al., 2013; Rengarajan et al., 2014).
DAUN SIRSAK
Sirsak (Annona muricata Linn.) adalah tanaman yang berasal dari daratan Amerika Selatan, di daerah Amazon, Brasil. Berbagai negara di dunia, mengenal sirsak dengan nama soursop, guanabana, carossel, thurian-thet, dan graviola. Di Indonesia, nama sirsak berasal dari bahasa Belanda yaitu zuursak. Buah sirsak tidak mengenal musim dan selalu berbuah sepanjang tahun. Karena rasa buahnya yang lezat, sirsak
banyak dikonsumsi sebagai minuman jus maupun diolah menjadi makanan seperti dodol sirsak atau bahan tambahan makanan lainnya (Adi, 2011).
Daun sirsak memiliki panjang 6-18 cm, lebar 3-7 cm, bertekstur kasar, berbentuk bulat telur, ujungnya lancip pendek, daun bagian atas mengkilap hijau dan pucat kusam di bagian bawah daun, berbentuk lateral. Daun sirsak memiliki bau tajam menyengat dengan tangkai daun pendek sekitar 3-10 mm (Radi, 2001).
Sirsak (Annona muricataLinn) merupakan tumbuhan yang berbentuk pohon dengan tinggi ± 7 meter. Daun berwarna hijau agak pucat, berbentuk elip, dan bagian tepi tidak bergerigi.
Bunga besar, warna kuning atau hijau kekuningan.
Buah membujur dengan panjang ± 30 cm, warna hijau, rasa asam, dan daging buah berwarna putih (WHO, 2009)
Kandungan Kimia Daun Sirsak
Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, annonatacin, annonacatalin, annonahexocin, annonacin, annomuricin, annomurin, anonol, caclourin, genticidacid, gegantronin, linoleic aciddan muricapentocin.
Daun sirsak secara tradisional biasa digunakan untuk mencegah dan mengobati abses, arthritis, asthenia, bronkitis, kolik, batuk, diuretik, disentri, demam, gangguan empedu, infeksi, cacingan, kurap, kejang, tumor, borok, obat penenang, reumatik, malaria, gangguan hepar (Adi, 2009).
Annonaceous acetogeninsyang hanya ditemukan dalam keluarga Annonaceae.
Annonaceous acetogeninsyang ditemukan dalam tanaman sirsak antara lain annocatalin, annohexocin, annomonicin, annomontacin dan
479 masih banyak lainnya. Tanaman sirsak
menghasilkan senyawa alami ini dalam daun,batang, kulit kayu, buah, dan biji.Annonaceous acetogeninssecara umum telah dicatat memiliki sifat antitumor, antiparasit, insektisida, dan aktivitas antimikroba.
Annonaceous acetogenin setelah menunjukkan toksisitas selektif untuk sel tumor pada dosis yang sangat rendah (Zuhud, 2011).
Acetogenindalam daun sirsak mampu mengendalikan mitokondria yang berlebihan dalam melakukan kerja. Mitokondria merupakan organ sel penghasil energi berupa adenosin trifosfat (ATP) yang dibutuhkan sel kanker untuk berkembang. Jika mitokondria normal, maka pertumbuhan sel kanker dapat terkendali.
Acetogenin menyerang sel kanker secara selektif (Adi, 2009)
Manfaat Daun Sirsak
Daun sirsak dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif untuk pengobatan kanker, yakni dengan mengkonsumsi air rebusan daun sirsak. Selain untuk pengobatan kanker, tanaman sirsak juga dimanfaatkan untuk pengobatan demam, diare, anti kejang, anti jamur, anti parasit, anti mikroba, sakit pinggang, asam urat, gatal- gatal, bisul, flu, dan lain lain (Mardiana, 2011).
Beberapa manfaat daun sirsak bisa kita dapatkan untuk kesehatan tubuh antara lain 1.Menghambat mutasi gen, pertumbuhan bakteri, perkembangan virus, perkembangan parasit, dan pertumbuhan tumor. 2.Menurunkan kadar gula, demam, dan tekanan darah tinggi. 3.Membantu menguatkan syaraf, meningkatkan produksi asi pada ibu hamil, melebarkan pembuluh darah, menyehatkan jantung, meredakan nyeri,
mengurangi stess, serta merileksasi otot.
4.Menguatkan pencernaan dan meningkatkan nafsu makan. 5.Dapat menekan peradangan.
6.Membunuh cacing parasit dan sebagai anti kejang. (Mardiana, 2011).
HIPERTENSI
Hipertensi merupakan tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Seseorang dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90 mmHg (Elizabeth dalam Ardiansyah M., 2012).
Menurut American Heart Association atau AHA dalam Kemenkes (2018), hipertensi merupakan silent killer dimana gejalanya sangat bermacam-macam pada setiap individu dan hampir sama dengan penyakit lain. Gejala-gejala tersebut adalah sakit kepalaatau rasa berat ditengkuk. Vertigo, jantung berdebar-debar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdengingatau tinnitus dan mimisan.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri dimana kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolic tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole ). Tekanan darah normal pada istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100-140 mmHg dan diastolic 60-90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila
480 terus-menerus berada pada 140/90 mmHg
(Ramdhani, 2014).
Hipertensi menyebabkan timbulnya suatu penyakit yang dibawa akibat tekanan darah yang tinggi dapat menimbulkan resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan gagal ginjal. Kondisi ini merupakan akumulasi dari tingginya darah yang tak terkontrol, sehingga merambat menjadi kronis dan menimbulkan berbagai kontraksi dalam tubuh. Komplikasi hipertensi dengan penyakit jantung koroner ini sebagai akibat dari terjadinya pengapuran yang terjadi pada dinding pembuluh darah jantung.
Klasifikasi Hipertensi
Menurut Tambayong (dalam Nurarif A.H.,
& Kusuma H.2016), klasifikasi hipertensi klinis berdasarkan tekanan darah sistolik dan diastolik yaitu
Manifestasi Klinis Hipertensi
Menurut Tambayong (dalam Nurarif A.H.,
& Kusuma H.,2016), tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi. 1) Tidak ada gejalaTidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan darahtidak teratur. 2) Gejala yang lazimSeing dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Patofisiologi hipertensi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak pada pusat vasomotor pada medulla di otak. Dari vasomotor tersebut bermula jaras saraf simpatis yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di thorak dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak kebawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetikolin yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. Dengan dilepaskannya norepineprin akan mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor (Ramdhani, 2014).
Faktor Risiko Hipertensi
Hipertensi dapat dipicu oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang memiliki potensi menimbulkan masalah atau kerugian kesehatan biasa disebut faktor risiko. Pada kejadian hipertensi, faktor risiko dibagi menjadi dua kelompok yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah (Bumi, 2017).
Faktor risiko kejadian hipertensi yang tidak dapat diubah terdiri dari usia, jenis kelamin, dan keturunan (genetik) (Bumi, 2017).
481 Komplikasi Hipertensi
Menurut Ardiansyah, M. (2012) komplikasi dari hipertensi adalah 1)Stoke. Stroke akibat dari pecahnya pembuluh yang ada di dalam otak atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh nonotak. Stroke bisa terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan pembuluh darah sehingga aliran darah pada area tersebut berkurang. Arteri yang mengalami aterosklerosis dapat melemah dan meningkatkan terbentuknya aneurisma.
2) Infark Miokardium Infark miokardiumterjadi saat arteri koroner mengalami arterosklerotik tidak pada menyuplai cukup oksigen ke miokardium apabila terbentuk thrombus yang dapat menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut. Karena terjadi hipertensi kronik dan hipertrofi ventrikel maka kebutuhan okigen miokardioum tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.
3)Gagal Ginjal. Kerusakan pada ginjal disebabkan oleh tingginya tekanan pada kapiler- kapiler glomerulus. Rusaknya glomerulus membuat darah mengalir ke unti fungsionla ginjal, neuron terganggu, dan berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Rusaknya glomerulus menyebabkan protein keluar melalui urine dan terjadilah tekanan osmotic koloid plasma berkurang sehingga terjadi edema pada penderita hipertensi kronik.
4)Ensefalopati. Ensefalopati (kerusakan otak) terjadi pada hipertensi maligna (hipertensi yang mengalami kenaikan darah dengan cepat).
Tekanan yang tinggi disebabkan oleh kelainan yang membuat peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertisium diseluruh susunan saraf pusat. Akibatnya neuro- neuro disekitarnya terjadi koma dan kematian.
DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah, M. 2012. Medikal Bedah.
Yogyakarta: DIVA Press
Bumi, M. (2017).Berdamai Dengan Hipertensi.
Cetakan I. Jakarta : Penerbit Buku. Bumi Medika
Ekowati R. dan Sulistyowati.2009.Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Artikel Penelitian. Jakarta:
Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
GunawanL,2001.Hypertensi (Tekanan Darah Tinggi).Kanasius. Yogyakarta.
Kementrian Kesehatan RI. 2018. Profil Kesehatan Indonesia 2017. Jakarta: Kemenkes RI.
Mardiana, L. (2011). Ramuan dan Khasiat Daun Sirsak. Jakarta: Penebar. Swadaya
Mansjoer. 2000.Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius FK UI
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan.
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC.
Jogjakarta
Notoatmodjo.2002.MetodologiPenelitianKesehata n,Jakarta:RinekaCipta.
482 Ramdhani. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi
Penderita Hipertensi Secara. Terpadu.
Graha Ilmu
Zuhud, E. (2011). Bukti Kedahsyatan: Sirsak Menumpas Kanker. AgroMedia.