STRUKTUR MAKRO, SUPRA, DAN MIKRO PADA ESAI KHILAFAH EMHA AINUN NAJIB DI CAKNUN.COM
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh M. Ilhamul Qolbi NIM 1113013000012
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
i
LEMBAR PENGESAHAN
STRUKTUR MAKRO, SUPRA, DAN MIKRO PADA ESAI KHILAFAH EMHA AINUN NAJIB DI CAKNUN.COM
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh M. Ilhamul Qolbi NIM 1113013000012
Menyetujui, Pembimbing
Dr. Makyun Subuki, M. Hum.
NIP 19800305 200901 1015
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
ii
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
Skripsi yang berjudul Struktur Makro, Supra, dan Mikro pada Esai Khilafah Emha Ainun Najib di Caknun.com disusun oleh M. Ilhamul Qolbi, NIM. 1113013000012, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.
Dr. Makyun Subuki, M. Hum.
NIP 19800305 200901 1015 Jakarta, 05 Mei 2020 Yang mengesahkan, Dosen Pembimbing
iii Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
N a m a : M. Ilhamul Qolbi
Tempat/Tgl.Lahir : Tegal, 28 November 1995
NIM : 1113013000012
Jurusan / Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia/ S-1 Judul Skripsi : Struktur Makro, Supra, dan Mikro pada Esai
Khilafah Emha Ainun Najib di Caknun.com Dosen Pembimbing : Dr. Makyun Subuki, M. Hum.
dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.
KEMENTERIAN AGAMA
FORM (FR)
No. Dokumen : FITK-FR-AKD-089
UIN JAKARTA Tgl. Terbit : 1 Maret 2010
FITK No. Revisi: : 01
Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia Hal : 1/1
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
iv
ABSTRAK
M. Ilhamul Qolbi (NIM: 1113013000012). Struktur Makro, Supra, dan Mikro pada Esai Khilafah Emha Ainun Najib di Caknun.com
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis struktur makro, struktur supra, dan struktur mikro yang mendasari Esai Khilafah Emha Ainun Najib di Caknun.com. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif.
Objek penelitian ini adalah kumpulan esai Emha Ainun Najib di laman Caknun.com yang bertema Khilafah. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode pencatatan dokumen. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan model analisis deskriptif kualitatif menggunakan teori analisis wacana Teun A van Dijk. Dari empat esai yang diteliti, hasil penelitian menunjukkan (1) Struktur makro atau tema pada wacana Esai tentang Khilafah Karya Emha Ainun Najib di Caknun.com terlihat pada topik, subtopik, dan fakta.
Tema yang disampaikan penulis dalam wacana masing-masing menunjukkan, (a) Esai KIKS bertema seorang muslim tidak harus mendirikan atau masuk ke Khilafah Islam, tetapi cukup masuk ke dalam Khilafah Silmi, (b) Esai KN bertema aplikasi Khilafah dalam NKRI, (c) Esai TPTM bertema HTI erlu engguliran diskusi publik tentang Khilafah, (d) Esai TSK bertema Khilafah adalah desain Tuhan yang tidak perlu ditakuti; (2) Struktur supra yang digunakan untuk mendukung struktur lengkap yang terdiri atas (a) pendahuluan, (b) kalimat tesis, (c) tubuh atau isi, dan (d) penutup; (3) Strukur mikro yang digunakan untuk mendukung struktur makro terdiri atas (a) latar; (b) rincian, (c) bentuk kalimat aktif dan kalimat pasif, (d) penanda kohesif dan koherensi; (e) pemakaian kata ganti, (f) pemakaian grafis, dan (g) metafora. Dari semua aspek mikro yang digunakan, penulis lebih dominan menggunakan grafis dan metafora.
Kata Kunci: Analisis Wacana, Emha Ainun Najib, Esai, Caknun.com, Khilafah.
v
ABSTRACT
M. Ilhamul Qolbi (NIM: 1113013000012). Macro, Supra, and Micro structurein Emha Ainun Najib's Khilafah Essay on Caknun.com.
This study aims to describe and analyze the macro structures, supra structures, and micro structures that underlie Emha Ainun Najib's Khilafah Essay on Caknun.com. The research design used is descriptive. The object of this research is Emha Ainun Najib's collection of essays on the Caknun.com pages with the theme of the Khilafah. The data collection method used was document recording method. The collected data were analyzed using a qualitative descriptive analysis model using Teun A van Dijk's discourse analysis theory. from the four essays researched, the results showed (1) The macro structure or theme of Emha Ainun Najib's essay on the Khilafah discourse on Caknun.com looks at topics, subtopics, and facts. The themes conveyed by the authors in their respective discourses show, (a) KIKS essays with the theme of a Muslim do not have to establish or convert the Islamic Khilafah, but simply enter into the Khilafah Silmi, (b) KN essays on the application of the Khilafah in the Republic of Indonesia, (c) The TPTM essay on the theme of HTI needs to roll out public discussions about the Khilafah, (d) TSK essays on the Khilafah theme are God's designs that need not be feared; (2) The supra structure used to support the complete structure consisting of (a) introduction, (b) thesis sentence, (c) body or content, and (d) closing; (3) the microstructure used to support the macro structure consists of (a) background; (b) details, (c) active and passive voice, (d) cohesive and coherence markers; (e) use of pronouns, (f) use of graphics, and (g) use of metaphors. Of all the micro aspects used, the author predominantly uses graphics and metaphors.
Keywords: Discourse Analysis, Emha Ainun Najib, Essays, Caknun.com, Khilafah.
vi
KATA PENGANTAR
Bismillah, Alhamdulillah segala puji ke Hadirat Allah swt. atas limpahan karunia, rahmat, nikmat, hidayah, serta inayah-Nya sehingga penulis dapat merampungkan skripsi ini. Selawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw. serta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya semoga mendapatkan syafaatnya kelak di hari akhir nanti.
Skripsi ini disusun guna untuk memenuhi salah satu sarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, petunjuk, motivasi, serta dorongan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Dr. Sururin, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Makyun Subuki, M.Hum. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pembimbing skripsi yang telah banyak memberi arahan dan masukan dalam penulisan ini.
3. Ibu Novi Diah Haryanti, M.Hum. selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
4. Dr. Elvi Susanti, M. Pd. selaku penasehat akademik yang selalu berhati baik.
5. Dosen penguji skripsi Ibu Dr. Nuryani, M. A. dan Bapak Dona Aji Karunia Putra, M. A. yang telah banyak memberikan saran guna perbaikan skripsi penulis.
6. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif
vii
Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan secara luas selama penulis menempuh masa studi.
7. Mama Maskunah yang selalu tabah dalam menghadapi anak bungsunya yang satu ini. Senantiasa memberikan pendidikan demokrasi dan kedewasaan berpikir. Selalu memanjatkan doa setiap dipenghujung malam demi anaknya sehat, selamat, dan sukses di perantauan Jakarta. Juga Abah Nuridin yang selalu peduli dalam diam. Terima kasih sudah memberikan dukungan dan kepercayaannya tentang bagaimana menjalani pendidikan di tanah rantau Ciputat. Kepercayaan yang diberikan sangat berarti hingga hari ini.
8. Mamas Biqih Zulmi yang sedang manjalankan studi di kota yang berbeda, semoga lekas selesai juga untuk tesisnya. Terima kasih atas dukungan dan pencerahannya yang tak henti.
9. Mba Iqi yang selalu memberikan kasih sayangnya secara penuh. Bahkan hingga hari ini walaupun sudah menjadi ibu.
10. Ketua STKIP Suar Bangli I Wayan Numertayasa, S. Pd., M. Pd. yang bersedia berbagi ilmu mengenai penelitian tesisnya. Semoga sehat selalu Guru.
11. Sedulur-sedulur dari Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat yang mengisi hari-hari selama ini. Terkhusus Mas Mahbub, Mas Subur, Mas Fakhrur, Darip, Idos, Andi, Ardi, dan masih banyak lagi.
12. Sahabat-sahabat Arman. Tri Puji Astuti, Fitrotullaeli, Istikomatullaeli, Retno Ayuningityas, Andriyanto, Ahmad Husni Akbar, M. Rizki Nailul Author. Semoga abadi.
13. Sahabat sekosan yang masih setia menemani, M. Syakir Niamillah Fiza.
Semoga lekas lulus dan meraih gelar magisternya.
14. Bapak Ibu dan Staff SMA Dharma Karya Jakarta. Khususnya Ibu Intan Nuridian Fauziyah, M. Pd. sebagai Pimpinan yang selalu mendukung dan melancarkan kelulusan S-1 ini. Juga Neng Wulan Meitri Nurjanah, yang sudah mendukung dan menemani dalam menyelesaikan skripsi. Bahkan sering sampai larut malam.
viii
15. Rekan-rekan satu kelas dan satu jurusan yang mengisi hari-hari ketika studi bersama. Teman-teman satu kampus yang memberi banyak warna dalam berkegiatan dan bermain.
16. Sahabat-sahabati PMII Ciputat, khususnya PMII Rayon PBSI. Satgas GAN UIN Jakarta. Sekolah Pengabdian Al Hakim. Teman-teman Sekolah Guru Indonesia (SGI) Literat, Sekolah Guru Siaga Bencana, Sekolah Guru Digital, Kelas Menulis NU Online, dan program-program lainnya yang menemani saya dalam pelarian skripsi. Namun sungguh, itu membawa saya hingga menyelesaikan studi.
Terima kasih tidak lupa saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat tersebutkan namun telah memberikan kontribusi yang sangat berharga hingga terselesaikannya skripsi ini. Akhir kata, harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi seluruh pembaca dan lembaga-lembaga pendidikan sebagai perbandingan maupun dasar untuk penelitian lebih lanjut. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun tetap penulis harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Jakarta, 05 Mei 2020
M. Ilhamul Qolbi
ix
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan Masalah ... 5
C. Rumusan Masalah ... 5
D. Tujuan Penelitian ... 6
E. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN TEORI ... 8
A. Pengertian Analisis Wacana ... 8
B. Analisis Wacana Teun A van Dijk ... 12
1. Struktur Makro ... 14
2. Struktur Supra ... 16
3. Struktur Mikro ... 18
C. Penelitian Relevan ... 33
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 37
A. Jenis Penelitian ... 37
B. Subjek dan Objek Penelitian ... 37
C. Wujud dan Sumber Data ... 38
D. Teknik Pengumpulan Data ... 38
x
E. Instrumen Penelitian ... 39
F. Teknik Analisis Data ... 41
G. Reduksi Data ... 41
H. Penyajian Data ... 42
I. Penyimpulan Data ... 42
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 44
A. Hasil Penelitian ... 44
B. Pembahasan ... 51
1. Analisis Wacana KIKS ... 44
2. Analisis Wacana KN ... 92
3. Analisis Wacana TPTM ... 122
4. Analisis Wacana TSK ... 159
BAB V PENUTUP ... 168
A. Simpulan ... 188
B. Saran ... 189
DAFTAR PUSTAKA ... 190
LAMPIRAN ... 203
RIWAYAT PENULIS ... 348
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Struktur Makro Wacana Esai Tentang Khilafah Karya Emha
Ainun Najib di Caknun.com ………….. ... 40 Tabel 3.2 Struktur Supra Wacana Esai Tentang Khilafah Karya Emha
Ainun Najib di Caknun.com ………….. ... 40 Tabel 3.3 Struktur Mikro Wacana Esai Tentang Khilafah Karya Emha
Ainun Najib di Caknun.com ………….. ... 40 Tabel 4.1 Struktur Makro Wacana Esai Tentang Khilafah Karya Emha
Ainun Najib di Caknun.com ………….. ... 44 Tabel 4.2 Struktur Supra Wacana Esai Tentang Khilafah Karya Emha
Ainun Najib di Caknun.com ………….. ... 46 Tabel 4.3 Struktur Mikro Aspek Semantik Wacana Esai Tentang
Khilafah Karya Emha Ainun Najib di Caknun.com ……… 47 Tabel 4.4 Struktur Mikro Aspek Sintaksis Wacana Esai Tentang
Khilafah Karya Emha Ainun Najib di Caknun.com ……… 48 Tabel 4.5 Struktur Mikro Aspek Sintaksis dan Retoris Wacana Esai
Tentang Khilafah Karya Emha Ainun Najib di Caknun.com
……….. ... ………….. ... 50
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Analisis Wacana Teun A van Dijk ... 13 Gambar 2.2 Pengacuan Persona ... ...……….. 24
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Sampel Esai
Lampiran 2 : Analisis Struktur Makro Lampiran 3 : Analisis Struktur Supra Lampiran 4 : Analisis Struktur Mikro Lampiran 5 : Riwayat Penulis
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Wajah masyarakat Islam di Indonesia sangat beragam. Keberagaman itu memunculkan banyak pandangan mau dibawa ke mana masyarakat Islam yang ada di Indonesia itu. Salah satu isu yang muncul akhir-akhir ini di Indonesia yaitu mencuatnya kembali seruan-seruan menegakkan khilafah sebagai bentuk pemerintahan umat Islam. Hal itu dimulai setelah dideklarasikannya Turki sebagai negara sekular yang menandai berakhirnya lembaga politik umat Islam setelah beberapa ratus tahun lamanya.
Saat ini, muncul beragam isu yang kembali mencuat mengenai khilafah. Munculnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 yang mengubah UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan menjadi alat untuk memukul mundur organisasi yang mendukung khilafah. Berdasarkan Perppu tersebut, melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM mencabut status badan hukum ormas Hizbut Tahrir Indonesia ( HTI) pada Rabu, 19 Juli 2017. Akhirnya, HTI resmi dibubarkan pemerintah pada saat itu.
Alasan pembubaran dipaparkan oleh Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto dengan tiga alasan. Pertama, sebagai ormas berbadan hukum, HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. Kedua, kegiatan yang dilaksanakan HTI terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, azas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas. Ketiga, aktivitas yang dilakukan HTI dinilai telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat
2
mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan NKRI. Ketiga alasan tersebut pada dasarnya berujung pada tujuan dasar HTI yang ingin mendirikan khilafah di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Secara bahasa, khilafah merupakan bentuk infinitive (masdar) dari kata khalafa-yakhlifu-khilafatan, yaitu menggantikan. Menurut istilah yang populer di tengah-tengah umat Islam, khalifah adalah orang yang datang kemudian dan posisinya menggantikan orang sebelumnya, baik yang digantikan itu masih ada maupun setelah tiada.1 Gelar ini muncul pertama kalinya untuk disematkan kepada Abu Bakar pasca pelantikannya oleh umat Islam untuk menjabat kepemimpinan setelah wafatnya Nabi. Dari sinilah khilafah membentuk makna sebagai sebuah institusi kepemimpinan pengganti Nabi.2
Sedangkan menurut Istilah, ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ulama terkait dengan khilafah sebagai sebuah kepemimpinan dalam Islam. Ibnu Taymiyah memandang praktik pemerintahan Islam harus berorientasi pada dua hal: memelihara eksistensi agama dan mengatur strategi keduniaan. Definisi tersebut senada dengan pendapat Al-Mawardi yang menyatakan bahwa khilafah merupakan sebuah topik bagi institusi ke- khilafah-an nubuwah yang bertugas memelihara agama dan mengatur dunia.3
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Alvara Research Center (ARC), sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) dan karyawan BUMN tercatat menginginkan perubahan ideologi Pancasila. Pada saat yang sama, ada pula dari mereka terafiliasi dengan ormas yang dianggap radikal.
1Muhammad Sofi Mubarok, Kontroversi Dalil-Dalil Khilafah, (Jakarta: Pustaka Harakatuna, 2017) h. 32
2Ibid., h. 33
3Ibid., h. 34
3
Dalam laporan ARC bertajuk Potensi Radikalisme di Kalangan Profesional Indonesia4 didapati bahwa 15,5% kelompok kelas menengah (PNS, karyawan BUMN, dan swasta) menginginan dasar negara berasaskan Islam. Jika diselami lebih dalam, ada 19,4% PNS dan 18,1% pegawai BUMN yang menginginkan Pancasila diganti.
Dari beberapa penelitian tersebut, menunjukkan bahwasanya masih banyak pendukung khilafah. Bahkan tidak tanggung-tanggung berani menginginkan untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara. Data penelitian yang menunjukkan terkait jihad dalam menegakkan negara Islam/khilafah, mayoritas profesional tidak setuju untuk berjihad menegakkan negara Islam/khilafah. Namun yang setuju untuk berjihad jumlahnya juga cukup besar (19,6%). Persentase PNS yang siap berjihad untuk tegaknya negara Islam/khilafah cukup besar, lebih besar dibanding swasta dan BUMN.
Dari terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 itu, dalam kalangan Islam sendiri muncul berbagai variasi dalam memandang permasalahan tersebut. Nahdlatul Ulama muncul di garda terdepan dalam mendukung sikap pemerintah tersebut. Hal itu menurutnya karena sistem khilafah yang sedang diperjuangkan oleh ormas Hizbut Tahrir Indonesia dipandang akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang majemuk. Namun, di lain sisi, ada juga beberapa kalangan yang menolak terbitnya peraturan tersebut. Di kalangan parlemen misalnya, tiga partai politik yang terdiri dari Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Gerindra menyatakan menolak terbitnya peraturan tersebut. Selain itu, dari berbagai tokoh juga muncul berbagai pandangan mengenai bagaimana menyikapi sistem khilafah dan terbitnya peraturan itu.
Salah satu tokoh tersebut yang perlu dipandang menarik yaitu Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).
4Samdysara Saragih, Pemerintah Diminta Bikin Perpres Penangkal Paham Radikal PNS &
BUMN, https://surabaya.bisnis.com/read/20171024/531/758502/pemerintah-diminta-bikin-perpres -penangkal-paham-radikal-pns-bumn, (diakses pada 01 Oktober 2020, pukul 12.34 WIB)
4
Cak Nun merupakan tokoh yang dikenal memperjuangkan kemoderatan. Ia mempunyai jamaah yang disebut dengan Jamaah Maiyah.
Tempat kajian rutinannya tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Cak Nun menyikapi khilafah dan terbitnya peraturan itu berbeda dengan teman-teman tokoh yang memiliki pandangan kemoderatan yang sama. Ia menilai Perppu Ormas yang diterbitkan oleh pemerintah sebab adanya ketidakberimbangan.
Hal yang dinilainya tidak berimbang itu baik dari segi pemikiran hingga soal manajemen. Dari hal itu, akhirnya Cak Nun dianggap oleh beberapa kalangan sebagai tokoh yang pro terhadap sistem khilafah. Dari hal itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang pandangan Cak Nun terhadap khilafah yang sampai sekarang masih hangat diperbincangkan.
Penulis tertarik esai yang disampaikan atau ditulis Cak Nun melalui internet. Penulis memilih untuk meneliti website Caknun.com, situs resmi Emha Ainun Nadjib. Sebagai seorang tokoh yang mempunyai basis masa yang cukup besar, Cak Nun tentunya tidak terlepas dari kegiatan berpendapat.
Sekarang banyak sekali media-media online yang digunakan untuk menyampaikan gagasannya. Dengan mengandalkan teknologi yang ada sekarang, tidak sedikit orang berargumen melalui media online. Mulai dari situs majalah, koran, sampai situs milik pribadi juga banyak terdapat di internet. Seperti halnya situs Caknun.com ini. Situs ini mengatasnamakan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dan ditujukan khususnya untuk jamaah maiyah dan umumnya untuk masyarakat umum. Dengan memberikan pandangan berbeda melalui tulisan-tulisan karya Emha Ainun Nadjib dan beberapa orang lainnya termasuk pandangan mengenai khilafah itu. Maka dari itu peneliti ingin meneliti pandangan mengenai khilafah pada esai Emha Ainun Nadjib yang berada di situs Caknun.com.
Ada beberapa analisis wacana yang dikemukakan oleh para ahli, baik dari pandangan sintagmatik maupun paradigmatik, salah satu yang terkenal adalah analisis wacana yang dikemukakan oleh Teun A van Dijk. Ia merupakan tokoh analisis wacana yang melihat penelitian analisis wacana
5
tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi. Model analisis wacana van Dijk dalam buku Eriyanto bisa dikatakan yang paling lengkap karena mengelaborasi elemen-elemen wacana sehingga dapat digunakan secara praktis.5 Wacana oleh Van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi atau bangunan yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial.
Dalam meneliti website Caknun.com, peneliti memilih rubrik Tajuk dan Khasanah. Dalam rubrik ini terdapat banyak sekali esai, terutama esai Emha Ainun Nadjib dan beberapa orang lainnya. Alasan memilih kedua rubrik tersebut karena di dalamnya terdapat beberapa esai Emha Ainun Nadjib yang ditulis oleh dirinya sendirinya dan memberikan pandangan berbeda mengenai khilafah sehingga sangat menarik untuk dikaji. Untuk itu peneliti memilih untuk meneliti rubrik Tajuk dan Khasanah yang membahas tentang khilafah sampai pada bulan Oktober 2017. Peneliti sangat tertarik untuk meneliti pandangan khilafah yang disampaikan Emha Ainun Nadjib dalam esai karena ia sosok tokoh yang selalu berusaha berada posisi tengah.
B. Pembatasan Masalah
Penelitian tentang Struktur Supra, Makro, dan Mikro Pada Esai Khilafah Emha Ainun Najib di Caknun.com terfokus pada struktur supra, mikro dan makro dengan tidak dilakukan analisis sosial. Kajian terhadap struktur supra mencakup struktur yang melingkupi wacana, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup dengan pola kebahasaan dan muatan yang mempunyai karakter tersendiri. Kajian terhadap struktur mikro mencakup pola struktur gagasan, penggunaan piranti kohesif leksikal dan gramatikal, pola hubungan antar unsur berupa rujukan yang digunakan penulis dalam membentuk wacana yang kohesif dan koheren. Kajian terhadap struktur makro mencakup pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana.
5Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 221
6
Esai yang akan diteliti adalah esai yang ditulis Emha Ainun Nadjib di rubrik Tajuk dan Khasanah mengenai khilafah dari awal situs Caknun.com itu diterbitkan sampai pada bulan Oktober 2017. Hal itu dikarenakan jauh sebelum Perppu Ormas itu diterbitkan, Emha sudah menyinggung tentang khilafah, sehingga menurut peneliti nantinya ada keterkaitan antara tulisan- tulisan tersebut yang dapat ditarik kesimpulannya.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis menuliskan rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana struktur wacana esai yang dibangun Emha Ainun Nadjib mengenai khilafah dalam rubrik khasanah dan tajuk di Caknun.com?
1. Bagaimanakah struktur makro yang mendasari esai Emha Ainun Najib tentang Khilafah di website Caknun.com?
2. Bagaimanakah struktur supra yang digunakan Emha Ainun Najib untuk menyampaikan gagasan dalam esai tentang Khilafah di website Caknun.com?
3. Bagaimanakah struktur mikro yang digunakan Emha Ainun Najib untuk menyampaikan gagasan dalam esai tentang Khilafah di website Caknun.com?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur wacana esai yang dibangung Emha Ainun Nadjib mengenai khilafah dalam rubrik tajuk dan khasanah di Caknun.com.
1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis struktur makro yang mendasari esai Emha Ainun Najib tentang Khilafah di website Caknun.com.
7
2. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis struktur supra yang digunakan Emha Ainun Najib untuk menyampaikan gagasan dalam Esai tentang Khilafah di website Caknun.com.
3. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis struktur mikro yang digunakan Emha Ainun Najib untuk menyampaikan gagasan dalam Esai tentang Khilafah di website Caknun.com.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tentang analisis struktur wacana esai Emha Ainun Najib mengenai khilafah di Caknun.com ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, diharapkan dapat menunjukkan dan memberikan deskripsi tentang pandangan Emha Ainun Najib tentang khilafah. Penelitian ini juga dapat digunakan untuk menambah wawasan peneliti di bidang wacana, khususnya analisis wacana, yang tidak hanya melibatkan linguistik, melainkan juga melibatkan ilmu lain, seperti ilmu sosial politik, maupun keagamaan.
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran khalayak dalam menyikapi wacana-wacana yang disajikan.
Khalayak yang memiliki kesadaran kritis, diharapkan dapat menambah pengetahuan agar lebih bijaksana, cerdas, serta berpikir terbuka.
8
BAB II KAJIAN TEORI
A. Pengertian Analisis Wacana
Kajian bahasa merupakan salah satu cabang tertua dalam penelitian sistematik. Hal ini tertelusuri dari zaman India dan Yunani kuno, dengan catatan keberhasilan yang begitu produktif dan kaya.6 Pengertian secara sederhana, bahasa dimaknai sebagai proses berkomunikasi yang dijadikan sebagai alat kendaraan. Dengan bahasa, kita membawa suatu pesan untuk mencapai tujuannya. Jika kendaraan itu tidak ada bensinnya atau bannya rusak, jelas perjalanan akan terganggu dan muatan kendaraan tidak dapat sampai di tujuan.7
Analogi bahasa sebagai kendaraan itu memunculkan pengertian bahwa bahasa tidak hanya terkait dengan bahasa itu sendiri. Hal itu sejalan dengan pendapat Saussure, suatu bahasa merupakan contoh suatu wujud yang menurut para ahli sosiologi tertentu disebut “fakta-fakta sosial”.8 Fakta sosial tersebut menunjukkan bahwa bahasa sangat terkait dengan kondisi realitas yang ada. Bukan hanya sebatas pada bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, dalam sebuah kajian bahasa ada yang disebut dengan istilah wacana.
Gorys Keraf dalam Alex Sobur mengemukakan bahwa pengertian wacana dapat dibatasi dari dua sudut yang berlainan. Pertama dari sudut bentuk bahasa, dan kedua, dari sudut tujuan umum sebuah karangan yang utuh atau sebagai bentuk sebuah komposisi.9
6Noam Chomsky, Cakrawala Baru Kajian Bahasa dan Pikiran, (Tangerang Selatan: Logos Wacana Ilmu, 2000), h. 5
7Dendy Sugono, Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani, (Jakarta: Progres, 2003), h. 66
8Abd. Syukur Ibrahim dkk., Aliran-Aliran Linguistik, (Surabaya: Usaha Nasional, 1985), h. 56
9Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015), h. 11-12
9
Oleh karena itu, kita perlu melihat pengertian wacana yang diungkapkan oleh Gee dalam bukunya yang membedakan discourse atau wacana dalam dua jenis seperti yang dikutip di bawah ini.
The distinction between “Discourse” with a “big D” and “discourse”
with a “little d” plays a role throughout this book. This distinction is meant to do this: we as “applied linguists” or “sociolinguists,” are interested in how language is used “on site” to enact activities and identities. Such language-in-use, I will call “discourse” with a “little d.” But activities and identities are rarely ever enacted through language alone.10
I will reserve the word “discourse,” with a little “d,” to mean language-in-use or stretches of language (like conversations or stories).
“Big D” Discourses are always language plus “other stuff”.11
The key to Discourses is “recognition.” If you put language, action, interaction, values, beliefs, symbols, objects, tools, and places together in such a way that others recognize you as a particular type of who (identity) engaged in a particular type of what (activity) here and now, then you have pulled off a Discourse (and thereby continued it through history, if only for a while longer).12
Dari teks di atas, dapat kita ketahui bahwa wacana yang dimaksud oleh Gee itu dibagi menjadi dua. Pertama, “discourse” (d kecil) yang melihat bagaimana bahasa digunakan pada tempatnya (“on site”) untuk memerankan kegiatan, pandangan, dan identitas atas dasar-dasar linguistik. Kedua,
“Discourse” (D besar) yang merangkaikan unsur linguistik pada “discourse”
(dengan d kecil) bersama-sama unsur non-linguistik (non-language “stuff”) untuk memerankan kegiatan, pandangan, dan identitas. Bentuk non-language
“stuff” ini dapat berupa kepentingan ideologi, politik, ekonomi, dan sebagainya. Komponen non-language “stuff” itu juga yang membedakan cara beraksi, berinteraksi, berperasaan, kepercayaan, penilaian satu komunikator dari komunikator lainnnya dalam mengenali atau mengakui diri sendiri dan orang lain.
10James Paul Gee, An Introduction to Discourse Analysis Theory and Method, (London: Taylor &
Francis e-Library, 2001), h. 6-7
11Ibid., h. 17
12Ibid., h. 18
10
Dari uraian tersebut, tampak bahwa baik “discourse” (dengan kecil) maupun “Discourse” (dengan D besar) adalah hasil dari pekerjaan si pembuat wacana memakai bahasa (verbal atau nonverbal) untuk mempresentasikan realitas karena memang pada dasarnya definisi kerja memandang bahwa wacana adalah penggunaan bahasa untuk menggambarkan realitas.
Secara singkatnya, wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa. Dengan kesatuan makna, wacana dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu.13 Kemudian, dalam konteks menggunakan, wacana menurut Brown and Yule adalah beberapa pernyataan yang digunakan dalam konteks tertentu.14
Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Michael Fairclough dalam Eriyanto yang mengatakan bahwa wacana tidaklah dipahami sebagai serangkaian kata atau preposisi dalam teks, tetapi sesuatu yang memproduksi yang lain (sebuah gagasan, konsep atau efek). Wacana dapat dideteksi karena secara sistemis suatu ide, opini, konsep, dan pandangan hidup dibentuk dalam suatu konteks tertentu sehingga memengaruhi cara berpikir dan bertindak sesuatu.15
Pembagian wacana pun beragam. Jika dilihat berdasarkan saluran komunikasi, wacana dibedakan atas wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan memiliki ciri antara lain adanya penutur dan mitra tutur, bahasa yang dituturkan, dan alih tutur (turn taking) yang menandai pergantian giliran bicara. Wacana tulis ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, bahasa yang dituliskan, dan penerapan sistem ejaan.16
Sebagai kesatuan yang abstrak, wacana dibedakan dari teks, tulisan, bacaan, tuturan, atau inskripsi, yang mengacu pada makna yang sama, yaitu
13Kushartanti dkk., Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2009), h. 92
14Brown and Yule, Discourse Analysis, (Cambridge: Cambrige University Press, 1983), h. 25-26
15Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 65
16Kushartanti dkk., Op. Cit., h. 94
11
wujud konkret yang terlihat, terbaca, atau terdengar.17 Secara lebih rinci, wacana dalam wujud tulisan/grafis yang disebut sebagai teks itu mempunyai berbagai macam bentuk antara lain surat, e-mail, berita, features, artikel opini, puisi, lagu, cerpen, novel, iklan cetak, komik, dsb.18
Baik wacana tulis maupun lisan, kedua-duanya tidak hanya semata- mata hanya data. Tetapi seperti yang diungkapkan Alex Sobur mengutip Heryanto yang mengatakan bahwa aturan-aturan kebahasaan di dalam wacana tidak dibentuk secara individual oleh penutur yang bagaimanapun pintarnya.
Karena menurutnya bahasa selalu menjadi milik bersama di ruang publik.19 Hal itu sejalan dengan pengertian wacana yang dikemukakan oleh Ibnu Hamad bahwa wacana (discourse) adalah susunan data dan atau fakta dengan memakai sistem tanda yang membentuk cerita dan mengandung makna.20
Oleh karena itu, dalam menganalisis wacana perlu melihat pendapat Littlejohn dalam Alex Sobur yang mengemukakan bawa analisis wacana lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan terbatas pada penggunaan kalimat atau bagian kalimat, fungsi, ucapan, tetapi juga mencakup struktur pesan yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana.21 Lebih jelasnya, Eriyanto mengutip dari Dennis McQuail yang menekankan analisis wacana lebih pada pemaknaan. Dasar analisis wacana adalah interpretasi, karena analisis wacana merupakan bagian dari metode interpretatif yang mengandalkan interpretasi dan penafsiran peneliti.22
Begitu juga Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang memperkuat pendapat di atas bahwa mengadakan pendekatan telaah bahasa sebagai wacana berarti memberi penekanan pada fungsinya. Ini berarti bahwa pertanyaan yang diajukan mengenai setiap bagian atau segmen bahasa
17Ibid., h. 92
18Ibnu Hamad, Wacana, (Jakarta: La Tofi Enterprise, 2010), h. 43-44
19Alex Sobur, Op Cit., h. 13
20Ibnu Hamad, Op Cit., h. 3
21Alex Sobur, Op Cit., h. 48
22Eriyanto, Op. Cit., h. 337
12
tertentu bukanlah melulu mengenai bentuk tetapi juga mengenai penggunaan atau pemakaiannya. Hal itu seperti mengenai apa yang ingin dicapai oleh si pembicara (atau penulis), dan apa sebenarnya yang diperolehnya, dengan bagian bahasa yang khas ini.23
B. Analisis Wacana Teun A van Dijk
Ada beberapa analisis wacana yang dikemukakan oleh para ahli, baik dari pandangan sintagmatik maupun paradigmatik, salah satu yang terkenal adalah analisis wacana yang dikemukakan oleh Teun A van Dijk. Ia merupakan tokoh analisis wacana yang melihat penelitian analisis wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi. Model analisis wacana van Dijk dalam buku Eriyanto bisa dikatakan yang paling lengkap karena mengelaborasi elemen-elemen wacana sehingga dapat digunakan secara praktis.24
Analisis wacana kritis berfokus pada 'hubungan antara wacana, kekuasaan, dominasi dan ketidaksetaraan sosial' dan bagaimana wacana menghasilkan dan mempertahankan hubungan dominasi dan ketidaksetaraan ini.25 Wacana oleh Van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi atau bangunan yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Penjelasan tersebut lebih mudahnya diilustrasikan dengan gambar model analisis Van Dijk di bawah ini.
23Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Analisis Konstrastif Bahasa, (Bandung: Angkasa, 1992), h.
200
24Eriyanto, Op. Cit., h. 221
25Van Dijk, T.A. Principles of Critical Discourse Analysis. Discourse and Society 4:249-83 (1993), h. 249
13
Dalam dimensi teks yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana digunakan untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada dimensi kognisi sosial, yang diamati adalah proses produksi suatu teks yang melibatkan kognisi individu penulis. Sedangkan pada dimensi konteks yang dipelajari adalah wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah.26 Namun, dalam pengkajian ini penulis hanya melakukan analisis teks pada esai Cak Nun tentang Khilafah di Caknun.com, tidak menyertakan kognisi sosial dan analisis sosial karena peneliti hanya ingin meneliti struktur wacananya saja.
Halliday dan Hasan menjelaskan bahwa teks memiliki tekstur dan inilah yang membedakannya dari sesuatu yang bukan teks. Tekstur teks dapat diamati dengan melihat ikatan kohesif yang mencerminkan keterhubungan.27. Sedangkan Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur atau tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Van Dijk melihat teks dari beberapa struktur yang saling membangun. Van Dijk membagi
26Ibid., h. 224-225
27Brown and Yule, Op. Cit., h. 191
Teks Kognisi Sosial Konteks
Gambar 2.1 Analisis Wacana Teun A van Dijk
14
cabang elemen wacana dalam tiga poin; yaitu struktur makro, suprastruktur dan struktur mikro.28
Jika digambarkan, maka struktur dan elemen wacana van Dijk adalah sebagai berikut.29
Tabel 2.1 Struktur Teks Wacana Model Teun A van Dijk.
Struktur
Wacana Hal yang Diamati Elemen
Struktur makro TEMATIK (Apa yang
dikatakan?) Topik
Superstruktur SKEMATIK (Bagaimana
pendapat disusun dan dirangkai?) Skema
Struktur Mikro SEMANTIK (Makna yang ingin ditekankan dalam esai)
Latar, detail, maksud, praanggapan,
nominalisasi
Struktur Mikro SINTAKSIS (Bagaimana pendapat disampaikan?)
Bentuk kalimat, koherensi, kata
ganti Struktur Mikro STILISTIK (Pilihan kata apa
yang dipakai?) Leksikon
Struktur Mikro
RETORIS (Bagaimana dan dengan cara apa penekanan
dilakukan?)
Grafis, metafora, ekspresi
Dari gambaran elemen wacana Van Dijk di atas dapat dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut.
28Van Dijk, News Analysis: Case Studies of International and National News in the Press, (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associate Publisher, 1988b), h. 17
29Alex Sobur, Op. Cit., h. 74
15
1. Struktur Makro
Menurut van Dijk dalam Rosidi30, struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana. Hal itu terlihat juga dari pandangan Teun van Dijk berikut ini.
“The meaning of discourse is not limited to the meaning of its words and sentences. Discourse also has more 'global' meanings, such as 'topics' or 'themes'. Such topics represent the gist or most important information of a discourse, and tell us what a discourse 'is about', globally speaking. We may render such topics in terms of (complete) propositions such as 'Neighbors attacked Moroccans'. Such propositions typically appear in newspaper headlines.”31
Van Dijk memperkenalkan istilah topik wacana untuk menunjukkan apa itu wacana. Topik wacana dapat didefinisikan sebagai inti atau ringkasan teks.32 Menurut Brown dan Yule, tema memiliki dua fungsi utama yaitu menghubungkan kembali dan menghubungkan wacana sebelumnya, dan untuk menjadi titik awal pengembangan wacana selanjutnya.33
Brown dan Yule juga menyatakan bahwa tajuk utama ini menciptakan beberapa harapan bagi pembaca tentang isi teks.34 Jadi, dengan tajuk utama ini, pembicara sudah bisa membaca ke mana ia akan dibawa oleh tulisan itu.
Topik kalimat di setiap paragraf akan membangun koherensi dengan topik wacana. Topik wacana ini diikuti oleh subtopik untuk mendukung topik umum. Di sisi lain, subtopik akan didukung oleh fakta kalimat yang
30Sakhban Rosidi, “Analisis Wacana Kritis Sebagai Ragam Paradigma Kajian Wacana,” Makalah disajikan pada Sekolah Bahasa, atas prakarsa Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, 15 Desember 2007, h. 22
31Teun A van Dijk, Ideology and Discourse: A Multidisciplinary Introduction, (Barcelona: Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOS), 2003), h. 45
32Van Dijk, (1988b), h. 13
33Brown and Yule, Op. Cit.,h. 133
34Brown and Yule, Op. Cit.,h. 139
16
berfungsi sebagai kesatuan dan koherensi informasi teks, selalu disebut sebagai co-text. Co-teks adalah teks koherensi. Ini membuat pembaca mengerti bahwa semua laporan berita bagus harus memiliki teks koherensi, baik tentang makna dan struktur yang diwakili dari penghitungan kalimat di setiap paragraf. Jadi, setiap kalimat memiliki tema sendiri atau topik kalimat di setiap paragraf.35 Dalam teori kognitif, para jurnalis membangun dan membuat judul yang bagus karena strategi untuk menarik pembaca dengan cepat mengetahui topik berita dari serangkaian kalimat.36
Hal ini dimungkinkan untuk merumuskan tema tidak hanya untuk kalimat secara individu, tetapi juga untuk keseluruhan teks. Van Dijk mengamati bahwa topik kalimat (tema kalimat) berbeda dengan topik wacana (tema teks wacana), tetapi tidak sepenuhnya independen darinya.
Setiap kalimat sederhana memiliki tema. Temanya sesuai dengan seperti apa kalimatnya. Ini biasanya merupakan titik awal ujaran dan hal lain yang mengikuti kalimat yang terdiri dari 'pembicara tentang' disebut "rheme".37
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, struktur makro dalam sebuah wacana dapat dilihat topik dan sub topik yang mendukung wacana.
2. Struktur Supra
Menurut van Dijk dalam Rosidi38 menyatakan bahwa struktur supra menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana.
35Brown and Yule, Op. Cit.,h. 46-48
36Van Dijk, (1988b), h. 13
37Brown and Yule, Op. Cit.,h. 126-127
38Sakhban Rosidi, Op. Cit., h. 11
17
Kalau topik menunjukkan makna umum dari suatu wacana, maka struktur skematis atau struktur supra menggambarkan bentuk umum dari suatu teks. Bentuk wacana umum itu disusun dengan sejumlah kategori atau pembagian umum seperti pendahuluan, isi, kesimpulan, pemecahan masalah, penutup, dan sebagainya.39
Teks wacana pada umumnya mempunyai skema atau alur dari pendahuluan serta akhir. Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian- bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga membuat kesatuan arti.
Skematik memberikan tekanan mana yang didahulukan, dan bagian mana yang bisa kemudian sebagai strategi untuk menyembunyikan informasi penting. Upaya penyembunyian itu dilakukan dengan menempatkan di bagian akhir agar terkesan kurang menonjol.40
Terkait dengan esai, menurut Freddy K. Kalijernih esai yang benar dan baik harus memiliki tiga paragraf yakni paragraf pengantar, paragraf tubuh, dan paragraf simpulan.41
a. Paragraf Pengantar (Introductory Paragraph atau Introduction)
Paragraf pengantar pada esai biasanya terdiri atas satu paragraf yang memperkenalkan topik yang akan dibahas dan sebuah gagasan sentral yang lazim disebut gagasan pengontrol atau pernyataan tesis (thesis statement). Oshima dan Houge dalam Kalidjernih mengungkapkan bahwa pernyataan tesis mirip kalimat topik yakin berisi suatu ekspresi tentang sikap, opini, dan gagasan tentang sebuah topik. Akan tetapi, kalimat tesis lebih luas dan menjadi gagasan pengontrol (controling idea) keseluruhan esai. Ada beberapa ciri pernyataan tesis, (1) berupa kalimat yang lengkap (2) mengekspresikan
39Alex Sobur, Op. Cit., h. 76
40Eriyanto, Op. Cit., h. 232-234
41Freddy K. Kalijernih, Penulisan Akademik, (Bandung: Widya Aksara Press, 2010), h. 40
18
opini, sikap, dan gagasan dan (3) mengekspresikan hanya satu gagasan.42
b. Paragraf Tubuh (Body atau Developmental Paragraph)
Paragraf tubuh sekurang-kurangnya satu, tetapi umumnya lebih dari satu paragraf. Paragraf-paragraf ini mengembangkan pelbagai aspek dari topik atau gagasan sentral yang disebut pada pernyataan tesis. Paragraf-paragraf ini dapat mendiskusikan sebab, akibat, alasan, proses, klasifikasi, contoh, dan perbandingan. Selain itu, dapat juga mendeskripsikan atau menarasikan sesuatu.43 Paragraf tubuh sebuah esai berfungsi untuk menjelaskan, mengilustrasikan, mendiskusikan, atau membuktikan pernyataan tesis.
c. Paragraf Simpulan (Concluding Paragraph atau Conclution)
Paragraf ini menyimpulkan pemikiran yang dikembangkan dalam esai dan berperan sebagai kata-kata penutup. Paragraf simpulan (konklusi) mengakhiri pembahasan dan semua paragraf isi.44
Berdasarkan paparan di atas, struktur supra wacana esai dapat dilihat dari komposisi esai. Jadi struktur supra wacana esai mencakup 1) Pendahuluan, 2) Kalimat tesis, 3) Inti atau tubuh, dan 4) Penutup.
3. Struktur Mikro a. Semantik
Tiap bahasa memiliki ciri-ciri yang khas dalam bidang semantik, sesuai dengan pengalaman-pengalaman ekstra linguistiknya, dan ciri- ciri yang khas itu dipengaruhi oleh struktur bahasanya masing- masing.45 Semantik dalam skema van Dijk dikategorikan sebagai makna lokal (local meaning), yakni makna yang muncul dari hubungan
42Ibid. h. 41
43Ibid. h. 40
44Ibid. h. 41
45Gorys Keraf, Linguistik Bandingan Tipologis, (Jakarta: Gramedia, 1990), h. 122
19
antarkalimat, hubungan antarpreposisi yang membangun makna tertentu dalam suatu bangunan teks.46 Elemen-eleman yang diteliti dalam bagian ini yaitu latar, rincian, maksud, dan praanggapan.
1) Latar
Latar dalam istilah kognitif, menginformasikan informasi yang diperlukan pembaca untuk mengaktifkan model situasi dari memori; Artinya, representasi akumulasi pengalaman pribadi dan pengetahuan tentang situasi yang bersifat konkret.47 Latar merupakan bagian berita yang dapat memengaruhi semantik (arti) yang ingin ditampilkan. Latar biasanya ditulis sebagai latar belakang suatu berita atau peristiwa. Latar yang ditulis tersebut menentukan ke arah mana pandangan khalayak dibawa oleh wartawan tersebut.48
2) Rincian
Rincian berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang. Elemen rincian merupakan strategi bagaimana wartawan mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Sikap atau wacana yang dikembangkan oleh wartawan kadangkala tidak perlu disampaikan secara terbuka, tetapi dari detil bagian mana yang dikembangkan dan mana yang diberitakan dengan detil yang besar, akan menggambarkan bagaimana wacana yang dikembangkan oleh media.49
3) Maksud
Maksud, hampir sama dengan elemen detil. Bedanya, dalam detil, informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan
46Alex Sobur, Op. Cit., h. 78
47Van Dijk, Episodic Models in Discourse Processing, (New York: Academic Press, 1985)
48Eriyanto, Op. Cit., h. 235
49Ibid., h. 238
20
dengan detil yang panjang. Elemen maksud melihat informasi yang menguntungkan keomunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraikan secara tersamar, implisit, dan tersembunyi. Tujuan akhirnya adalah publik hanya disajikan informasi yang menguntungkan komunikator.50 4) Praanggapan
Praanggapan (presupposition) merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Kalau latar berarti upaya mendukung dengan jalan memberi latar belakang, maka praanggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya. Praanggapan hadir dengan pernyataan yang dipandang terpercaya sehingga tidak perlu dipertanyakan.51
Grundy dalam Diemroh Ihsan mengatakan bahwa presupposition atau praanggapan diartikan sebagai informasi yang dimiliki oleh pendengar atau pembaca sebagai bagian dari latar belakang yang tidak bertentangan untuk membuat suatu ungkapan bermakna baginya sehingga dia dapat memberikan tanggapan yang tepat. Kadang-kadang pemahaman ini dipicu oleh pemahaman makna kosakata atau tata bahasa dan kadang-kadang oleh pemahaman situasi. Pemahaman jenis yang pertama yang membuat sebuah ungkapan bermakna disebut praanggapan makna (semantic presupposition) dan jenis yang kedua disebut sebagai praanggapan pragmatik (pragmatic presupposition).52
5) Nominalisasi
50Ibid., h. 240
51Eriyanto, Op. Cit., h. 256
52Diemroh Ihsan, Pragmatik, Analisis Wacana, dan Guru Bahasa (Palembang: Universitas Sriwijaya, 2011) h. 84
21
Nominalisasi merupakan salah satu bagian eksklusi yang merupakan strategi untuk menghilangkan sekelompok aktor sosial tertentu. Strategi ini berkaitan dengan pengubahan kata kerja (verba) menjadi kata benda (nomina). Umumnya nominalisasi dilakukan dengan memberikan imbuhan pe-an.53 Nominalisasi dalam wacana menurut pandangan wacana kritis dapat memberi sugesti kepada khalayak adanya generalisasi. Elemen yang hampir sama dengan nominalisasi adalah abstraksi- berhubungan dengan pertanyaan apakah komunikator memandang objek sebagai sesuatu yang tunggal berdiri sendiri ataukah sebagai suatu kelompok atau komunitas.54
b. Sintaksis
Kemudian aspek sintaksis suatu wacana berkenaan dengan bagaimana frase dan atau kalimat disusun untuk dikemukakan.
Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Strategi pada level sintaksis ini adalah dengan pemakaian koherensi, bentuk kalimat, dan penggunaan kata ganti.55
“Ideological discourse structures are organized by the constraints of the context models, but also as a function of the structures of the underlying ideologies and the social representations and models controlled by them. Thus, if ideologies are organized by well known ingroup-outgroup polarization, then we may expect such a polarization also to be coded in talk and text. This may happen, as suggested, by pronouns such as us and them, but also by possessives and demonstratives such as our people and those people, respectively.”56
53Aris Badara, Analisis Wacana: Teori, Metode, dan Penerapannya pada Wacana Media, (Jakarta:
Kencana, 2012), h. 40
54Alex Sobur, Op. Cit., h. 81
55Alex Sobur, Op. Cit., h. 80-81
56Teun A. van Dijk, Ideology and Discourse Analysis, (Journal of Political Ideologies, 2006), h.
126